Disclaimer: Masashi Kishimoto
AN: ini chapter terakhir, tapi nanti ada satu epilogue abis ini :)
MAKASIH MINNA-SAN ATAS SEMUA SUPPORTNYA! MUAAH MUAAH!
enjoy the last chapter :)
Chapter 12 (END)
.
.
.
.
.
09:15 AM
27th December 20XX
Sasuke Uchiha menyilangkan tangan, menyembunyikan kedua tangannya di balik lengan kimono hitamnya. Dia berjalan cepat ke arah dapur. Tadi dia sudah menyuruh salah satu pegawai untuk menyiapkan makanan untuk Naruko, tapi Itachi menghampirinya dan membawanya ke salah satu ruangan untuk meeting tentang pekerjaan di New York. Mata Sasuke melirik ke arah pegawai dapur yang sibuk menyiapkan bahan-bahan makanan untuk perjamuan makan siang nanti. "Sudah siap?" dia bertanya pada salah satu pegawai.
"Ya, Uchiha-sama?" dia balas bertanya pada Sasuke, membuat alis Sasuke berkedut.
"Sarapan," Sasuke mengerutkan kening. "Aku menyuruhmu untuk menyiapkan sarapan setengah jam yang lalu. Apakah sarapannya sudah siap sekarang?" Sasuke tidak mengerti kenapa pegawainya ini sangat lamban. Biasanya mereka sangat cepat karena sudah dilatih oleh tatapan membunuh klan Uchiha. Sasuke mengetuk jarinya dengan tidak sabar. Anak-anaknya di perut Naruko sudah merengek minta makan. "Jadi, di mana makanannya sekarang?"
Sang pegawai hanya bisa terbelalak. Dia terlihat bingung. "Sa-saya sudah mengirim sarapan tersebut ke kamar Nyonya Uchiha."
Kening Sasuke semakin berkerut. "Apa maksudmu? Kapan? Aku tidak melihatmu pergi dari dapur sama sekali."
"Ketika Uchiha-sama bercakap-cakap dengan Uchiha-sama, saya membawa sarapan itu ke kamar Nyonya Uchiha dengan perintah Uchiha-sama."
Sasuke menahan diri untuk tidak menembak mati pegawai ini. "Uchiha yang mana? Penghuni rumah ini semuanya Uchiha," dia menggeram, membuat sang pegawai melompat kaget.
"Emm," sang pegawai mulai panik. "Ketika S-Sasuke-sama bercakap-cakap dengan I-Itachi-sama, F-Fugaku-sama datang meminta sarapan itu dan menyuruh saya untuk mengantar sarapan itu ke kamar Nyonya Uchiha."
Sasuke terpaku. Fugaku? Kapan…
Matanya terbelalak. Ketika dia dan Itachi meeting? Tapi kenapa Fugaku bisa tahu kalau Naruko ada di rumah ini? Sasuke menggertakkan giginya, tangannya terasa dingin. Seingatnya, semalam dia dengan hati-hati menyelibungi Naruko dengan mantelnya ketika dia menggendong masuk Naruko ke dalam kediaman Uchiha. Dia tahu kalau ayahnya sudah masuk ke dalam kamarnya pada jam segitu. Jadi tidak seharusnya Fugaku tahu bahwa ada Naruko di rumah ini.
Selain itu, Sasuke sengaja menaruh Naruko di kamar ibunya karena tidak ada orang yang berani mendekati kamar itu. Sejak kematian Mikoto, tidak ada yang pernah menginjakkan di kamar itu kecuali para pembersih rumah.
Kenapa Fugaku bisa tahu?
Sasuke menggeram. Dia langsung berjalan cepat, bahkan berlari, mengabaikan tatapan para pegawai. Matanya menajam ketika dia melihat Itachi yang berdiri di luar kamar ibunya. Sebelum Itachi sempat menatapnya, Sasuke mencengkram kerah kimono kakaknya, membuat mata hitam Itachi menyipit. "Kau," suara Sasuke bergetar karena amarah. "Kau membocorkan rahasia Naruko pada Ayah."
Itachi balas mendelik. Ketika Sasuke mengayunkan tangan kanannya, Itachi langsung menepis pukulan Sasuke. "Kalau aku tidak melakukan ini," Itachi mendesis. "Kau akan dinikahkan dengan wanita-wanita berotak kosong itu."
"Bukan urusanmu," Sasuke menggeram. "Kau tidak tahu apa yang akan dilakukan Fugaku pada Naruk…"
"Kau tidak akan tahu apa yang terjadi pada Naruko kalau kau menikah dengan wanita lain," Itachi menggeram. "Dia memang tidak pernah berharap banyak. Tapi apa yang akan terjadi padanya kalau kau dinikahkan pada wanita lain? Apa yang akan terjadi pada Kyousuke?"
Sasuke menggertakkan gigi.
"Kau mengira kalau Naruko mau dijadikan sebagai selingkuhan?" Itachi tersenyum mengejek. "Tidak. Dia akan memesan tiket, pergi dari New York dan menetap di tempat lain bersama Kyousuke."
Sasuke ingin sekali menghantam Itachi, tapi ucapan tajam kakaknya itu membuatnya terbungkam.
Itachi benar. Jika dia dinikahkan dengan wanita lain, Naruko akan pergi dari kehidupannya. Wanita itu akan tetap mencintainya, dan Sasuke akan terus bertemu dengan Naruko, tidak peduli meski dia sudah menikah. Namun, Naruko pasti akan memilih untuk pergi karena Naruko bukan tipe wanita yang mau dijadikan selingkuhan.
Sasuke memejamkan matanya erat-erat, berusaha untuk mengusir bayangan itu.
"Ada bagusnya kau selama ini terus membawa Naruko ke pertemuan-pertemuan Uchiha Corp," Itachi berujar. "Mata-mata Fugaku bisa tahu akan kehadirannya dan semuanya berjalan dengan lancar."
"Begitu?" Sasuke mendesis. "Aku baru tahu kalau kau sendiri sudah menjadi mata-mata Ayah."
Senyuman mengejek Itachi mengembang. "Tenang, sudah kubilang sejak semula. Naruko tidak akan tunduk begitu saja. Bahkan tidak di hadapan Fugaku," sebelum Sasuke sempat bertanya apa, Itachi menunjuk ke arah celah pintu geser yang terbuka. Sasuke mengerutkan kening, menyipitkan mata dan mengintip ke dalam. Dia bisa melihat ayahnya dan Naruko yang duduk berhadapan. Dia tidak bisa melihat seperti apa ekspresi ayahnya, namun dia bisa melihat ekspresi Naruko.
Sasuke terpaku, menatap mata biru yang mendelik tajam itu.
"Apa kubilang, little brother," Itachi berbisik. "Aku yakin bahkan Madara yang bangkit dari kuburan saja tidak bisa membuat Naruko lari ketakutan."
Sasuke tidak bisa menahan senyumannya, membayangkan kakeknya yang bangkit dari kuburan. Senyumannya menghilang ketika dia melihat senyuman mengejek Naruko. Wanita itu membuka mulutnya lagi, berbicara dengan ekspresi tenang. Tangannya tetap mengelilingi Kyousuke, melindungi bocah itu.
"Apa yang dia bicarakan?" Sasuke mengerutkan kening, tidak bisa mendengar ucapan Naruko.
Tanpa bicara apa-apa, Itachi menyodorkan earphone pada Sasuke, membuat lelaki itu mendelik. Mau sampai kapan Itachi jadi mata-mata. Dia berani bersumpah kalau kakaknya itu sangat menikmati apa yang terjadi sekarang. Sambil menggeram, Sasuke menyabet earphone itu.
"… anakku sendiri tidak tahu berapa harganya. Sejak dia lahir, yang ada di otaknya hanyalah aku, Sasuke dan Itachi."
Sasuke mengerutkan kening, dia menoleh, menatap Itachi dengan bingung.
"Fugaku menawar Naruko uang," Itachi menjawab. "Dia ingin membeli Kyousuke dan bertanya pada Naruko berapa harga anaknya."
Mata onyx Sasuke menajam. Dia mengepalkan tangannya, nyaris mendobrak masuk. Namun, ucapan Naruko yang berikutnya membuatnya terbungkam.
"Jika kau bertanya padaku, berapa harga anak ini, maka harganya sama seperti Itachi dan Sasuke."
Sasuke terpaku.
"Sekarang aku bertanya padamu, Uchiha-san," waktu serasa terhenti begitu saja ketika Sasuke manatap mata biru yang mendelik tajam itu. "Berapa harga Sasuke dan Itachi?"
Itachi melontarkan senyuman mengejek, Sasuke terpaku, menahan diri untuk tidak menyeringai. Pertanyaan Naruko berhasil membuat ayahnya terbungkam. Fugaku Uchiha terbungkam? Keajaiban dunia telah terjadi.
"Kau tidak akan menjawab?" Naruko bertanya dengan nada bingung. "Kalau begitu, boleh aku makan dulu selagi menunggumu? Aku sudah sangat kelaparan," dengan santai Naruko meraih sumpit dan mengunyah nasi di depan Fugaku yang masih mematung.
Sasuke hanya bisa menatap Naruko dengan tatapan takjub. Wanita itu selalu bisa mengejutkannya sampai seperti ini.
"Kalau saja kau wanita biasa," suara dingin Fugaku membuat Sasuke menegang. "Di detik ini kau sudah tidak akan bernyawa lagi."
"Dan sayangnya, aku bukan wanita biasa bukan?" Naruko melontarkan senyuman. "Aku memang tidak mewarisi darah Uchiha, tapi anak ini mewarisi darah Sasuke," Naruko menyentuh pucuk kepala Kyousuke, membuat bocah itu berceloteh. "Dan aku adalah ibunya."
"Mamamam," Kyousuke melontarkan cengiran lebar.
"Aku akan melakukan apa pun untuk melindungi anak ini," mata biru Naruko mendelik dengan tajam.
Sasuke terdiam. Dia menggertakkan gigi.
Apa yang dia lakukan? Dia bersembunyi di belakang kamar sedangkan Naruko dan putranya ada di ruangan itu, menghadapi ayahnya. Dia nyaris saja mendobrak pintu kamar, namun Itachi kembali menghentikannya.
"Mikoto. Sejak lahir jantungnya sudah lemah," suara Fugaku terdengar. "Ketika dia hamil Sasuke, kondisi jantungnya makin parah."
Sasuke terpaku.
"Dokter menyarankan supaya dia menggugurkan anak di kandungannya. Supaya dia bisa selamat. Supaya dia bisa hidup setidaknya lima tahun lagi."
Itachi terdiam, Sasuke mematung. Dia tidak pernah mendengar cerita ibunya dari mulut Fugaku.
"Para tetua di klan Uchiha mengabaikan ucapan para dokter. Mereka menginginkan keturunan. Itachi sendiri tidak cukup. Harus ada 'cadangan'," Fugaku tertawa dingin. Mereka memaksa Mikoto untuk tetap mengandung Sasuke. Lagipula cepat atau lambat Mikoto akan tewas karena serangan jantung."
Naruko terdiam dan Fugaku melanjutkan ceritanya.
"Hanya aku yang memaksa Mikoto untuk menggugurkan Sasuke," suara dingin Fugaku membuat Sasuke mengepalkan tangannya. "Tapi seperti yang bisa kau lihat. Mikoto melahirkan Sasuke. Dia lahir tanpa cacat dan Mikoto meninggal sebelum dia sempat menggendong bayinya."
Suasana hening sejenak, yang terdengar hanyalah suara Kyousuke yang menyabet kaarage di piring Naruko, mengunyah ayam tersebut.
"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu," Fugaku kembali bersuara. "Aku ingin bertanya padamu. Kenapa Mikoto tidak mau mengorbankan Sasuke? Apakah karena desakan klan Uchiha atau karena dia memiliki insting keibuan yang membuatnya tidak tega mengaborsi anaknya?"
"Tidak dua-duanya," Naruko menjawab tanpa ragu. "Aku tidak tahu seperti apa kepribadian Mikoto-san," mata birunya melembut sesaat. "Tapi dari apa yang kulihat, wajah Sasuke tidak mirip denganmu, jadi dia pasti mirip Mikoto-san," Naruko tersenyum. "Apa aku benar? Sasuke mirip dengan ibunya?"
Fugaku tidak menjawab.
"Tidak semua ibu punya 'insting keibuan' seperti yang kau ucapkan," Naruko berbisik. "Banyak kasus di mana wanita mengaborsi anaknya tanpa berpikir dua kali. Tapi alasan kenapa Mikoto tidak mengarbosi Sasuke…" mata biru Naruko kembali menatap Fugaku dengan tajam. "Adalah karena anak di kandungannya adalah anakmu."
Sasuke terpaku.
"Ketika aku tahu bahwa aku hamil Kyousuke, aku sangat ketakutan," Naruko tertawa. "Banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku. Bagaimana jika kakakku tahu? Bagaimana jika klan Uchiha tahu? Bagaimana jika semua orang merendahkanku karena aku hamil di luar nikah?"
Sasuke kembali mengepalkan tangannya. Dia tidak tahu kalau Naruko merasakan semua itu.
"Tapi tidak pernah sekali pun pilihan seperti aborsi muncul di kepalaku," Naruko tertawa. "Karena anak ini adalah anak Sasuke, lelaki yang entah kenapa sangat kucintai, tidak peduli meski pun dia lelaki paling brengsek sedunia."
Sasuke mendengus ketika mendengar tawa pelan Itachi.
"Dan yang paling penting, dia anakku," Naruko menunduk, mengecup kening Kyousuke dan membersihkan mulut putranya yang belepotan. "Aku tidak akan membuang darah dagingku. Aku akan melindunginya, tidak peduli meski pun semua klan Uchiha menyerangku."
Lagi-lagi suasana menjadi hening. Sasuke bahkan bisa mendengar suara jantungnya yang sejak tadi berdetak kencang.
"Jadi Uchiha-san, aku yakin Mikoto-san sendiri sama. Dia melakukan semua itu karena dia mencintaimu dan mencintai bayi di kandungannya. Dan selain itu, aku yakin Mikoto-san sendiri adalah wanita yang keras kepala," Naruko menaikkan sebelah alis. "Toh kalian para Uchiha mewarisi sifat keras kepala yang sama."
Fugaku tertawa pelan, membuat Sasuke berkedip.
"Kau benar," Fugaku perlahan-lahan beranjak. "Beberapa jam lagi perjamuan makan siang akan dimulai. Kuharap kau akan hadir di sana," mata hitam Fugaku menatap Naruko dengan dalam. "Karena aku akan memperkenalkanmu sebagai calon istri Sasuke."
Naruko terpaku, namun dia tersenyum, mengangguk.
"Dan untuk jawabanmu, berapa harga Itachi dan Sasuke," Fugaku tiba-tiba bersuara. "Itachi tidak terhitung. Karena dia adalah penerus klan Uchiha dan dia berhasil memimpin perusahaan klan Uchiha sampai sejauh ini. Sedangkan Sasuke…" senyuman Fugaku muncul. "… cukup mahal sehingga aku bersedia untuk menikahkannya dengan wanita yang dicintainya, bukan wanita-wanita berotak kosong yang dibencinya."
Naruko tersedak, wajahnya terbakar. Wajahnya semakin menjadi merah padam ketika Fugaku dengan santai menggeser pintu, membongkar tempat persembunyian Sasuke dan Itachi. Mata biru Naruko langsung bertemu dengan mata hitam Sasuke.
"Kalian ada di sana?! Menguping sejak tadi?!" Naruko menjerit panik.
Itachi tersenyum mengejek, Sasuke mendengus, mendelik ke arah ayahnya yang memasang ekspresi santai.
"Ugege!" Kyousuke berseru girang, langsung melompat di pangkuan Naruko. Melihat itu, Sasuke langsung mengerutkan kening.
"Kyousuke," dia menghampiri putranya dan langsung meraup bocah itu. "Jangan menaruh beban pada tubuh ibumu. Sudah kubilang di dalam perutnya sekarang ada adik-adikmu."
Mendengar ucapan Sasuke, Fugaku langsung memutar tubuhnya, mendelik tajam. "Dia hamil?"
Naruko dan Sasuke berkedip, saling menatap. Mereka langsung menatap Itachi, menyipitkan mata.
"Ah," Itachi dengan santai memasukkan lengannya di balik kimono. "Sepertinya ada sedikit… 'masalah' pada rekaman di mobil kemarin."
"Kau sengaja memotong percakapan kami di bagian percakapan tentang Naruko yang hamil," Sasuke mendesis.
"Pantas saja ayahmu tidak ragu untuk membuangku. Dia tidak tahu kalau aku hamil anak-anak Sasuke," Naruko ikut mendesis.
"Anak-anak?" Fugaku kembali bersuara. "Kembar?" sang ketua klan Uchiha bertanya dengan nada menuntut, membuat Naruko melongo.
"Ada apa dengan kalian para Uchiha?" wanita itu menggeram. "Obsesi pada bayi kembar."
Dan tiga orang Uchiha di ruangan itu hanya bisa terdiam, langsung melirik ke arah perut Naruko dengan tatapan penuh harapan, membuat Naruko menjerit frustrasi.
xxx
12:26 PM
27th December 20XX
Jujur, Naruko berusaha untuk mengabaikan semua mata yang menatapnya itu. Ketika makan siang, semua mata tertuju padanya dan pada Kyou. Fugaku memberitahu semua anggota keluarganya bahwa dia adalah calon istri Sasuke. Di detik itu juga, dia melihat tiga wanita muda berambut hitam yang langsung menangis tersedu-sedu. Naruko menahan diri untuk tidak memutar bola matanya. Yang benar saja.
Sasuke yang duduk di sisi Naruko langsung mengerutkan wajahnya dengan ekspresi jijik, membuat Naruko mendengus geli. Naruko sendiri tidak bisa berkata apa-apa meski dia merasa kesal. Mau bagaimana lagi. Semua gadis-gadis itu dilahirkan hanya dengan satu tujuan; supaya mereka bisa dinikahkan pada putra-putra dari keluarga inti. Naruko mengusap perutnya, membayangkan kalau yang ada di perutnya ini adalah dua anak perempuan mungil.
Naruko mengerutkan kening. Dia tidak akan mau membesarkan putrinya hanya supaya putrinya bisa dinikahkan dengan putra Itachi di masa depan nanti.
Naruko menoleh, menatap beberapa gadis yang tersenyum lega melihat Naruko. Naruko balas tersenyum. Ternyata tidak semua orang dari klan Uchiha membencinya. Setidaknya masih ada gadis-gadis yang tidak ingin dijodohkan dengan Sasuke dan merasa lega bahwa mereka tidak lagi menjadi calon.
"Fugaku-san," salah satu dari para tetua beranjak, mengerutkan kening. "Apa-apaan ini? Menurut kabar, wanita itu hanyalah partner Sasuke belaka. Kenapa dia…" mata sang tetua terpaku pada Kyou. "Kenapa dia ibu dari…"
"Anak yang di pelukan Naruko Uzumaki adalah cucuku," Fugaku berujar dengan dingin, seakan-akan menantang orang untuk membantahnya. "Kyousuke Uchiha."
Kyou langsung menegadah. Dia mengulurkan tangannya, hendak menyentuh ujung kimono Fugaku. Kali ini, Naruko tidak melarang Kyou. Sejak tadi bocah itu sudah terlihat penasaran terhadap Fugaku, tapi karena Naruko melihat Fugaku sebagai 'musuh', dia tidak membiarkan Kyou untuk menyentuh Fugaku sedikit pun. Namun sekarang Naruko sudah bisa yakin kalau Fugaku tidak akan memisahkannya dari Kyou.
Sang tetua hendak membantah, namun para pelayan masuk ke dalam ruangan, membawa makanan. Di detik itu juga, Naruko langsung tidak peduli dengan semua mata hitam yang melotot ke arahnya. Ketika dia melepaskan pegangannya pada bayinya, Kyou langsung beranjak dari pangkuannya dan berlari ke arah Itachi. Bocah itu juga mendekati Fugaku yang duduk di sisi Itachi, menatap kakeknya dengan tatapan penasaran.
"Taci, capa?" Dia bertanya pada Itachi, menunjuk Fugaku dengan jarinya yang mungil.
"Jii-san," Itachi menjawab. Fugaku memperhatikan Kyou dengan seksama. Bocah itu balas memperhatikan kakeknya. Mata birunya menatap Fugaku dengan tajam.
"Dia memperhatikanku," Fugaku berujar takjub. "Mata biru yang dalam."
"Dia memang begitu," Itachi mengusap rambut hitam Kyousuke. "Sejak bayi. Selalu memperhatikan orang-orang yang menarik perhatiannya."
Fugaku menaikkan sebelah alis. "Menarik perhatiannya?" Mata Fugaku masih terpaku pada mata Kyou. Bocah itu masih memperhatikannya.
"Kyou-chan akan membuang muka kalau dia tidak tertarik pada seseorang," Naruko yang duduk di sebelah Itachi menjelaskan. Mata birunya melirik sesaat ke arah Kyou, memastikan kalau bayinya tidak apa-apa. "Kalau dia tertarik pada seseorang, dia akan memperhatikan seseorang itu dalam waktu yang lama."
Fugaku terdiam sesaat. "Kyousuke," dia memanggil cucunya.
Melihat itu, Itachi langsung meletakkan Kyousuke di pangkuan Itachi, membuat Fugaku terpaku. Namun, Kyou dengan santai berceloteh.
"Jiijiji," Kyou memilin ujung kimono Fugaku. "Aga-aga-agagaga?"
Fugaku menaikkan sebelah alis, mengusap rambut raven Kyou sambil menatap Itachi dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Dia minta agar-agar," Itachi menjelaskan.
Dan di detik itu juga, Fugaku langsung memerintah salah satu pegawai untuk membuatkan agar-agar.
"Agar-agar lagi?" Naruko menghela napas. "Tadi Itachi baru saja menyuapinya dengan agar-agar."
"Tidak apa," Sasuke menjawab. Lelaki itu duduk di sebelah Naruko mengunyah makanannya. Sesaat dia mendelik ke para sepupunya yang berani mencibir ke arah Naruko, membuat semua wanita-wanita itu meringkuk ketakutan.
"Nanti Kyou jadi gendut," Naruko bergumam kesal. "Tapi sepertinya ayahmu sudah berniat untuk memanjakan Kyou."
Sasuke cepat-cepat meletakkan makanan di piring Naruko, membuat wanita itu berhenti berceloteh. Dan benar saja, ketika Naruko sudah sibuk mengunyah, dia sama sekali tidak mempedulikan semua tatapan iri dan tatapan keji dari para anggota Uchiha.
Selain itu, karena ada kehadiran Fugaku di ruangan tersebut, tidak ada yang berani bersuara. Seusai makan siang, Fugaku langsung beranjak, diikuti oleh para tetua. Naruko menatap Fugaku dengan cemas, apalagi ketika para tetua menatap Fugaku dengan tatapan tidak setuju.
"Tenang saja," Sasuke berujar pelan. "Ayahku tidak akan tunduk dengan mudah, selain itu, aku dan Itachi akan ikut dengan mereka," di detik itu juga, Sasuke langsung beranjak, diikuti oleh Itachi. "Kembali ke kamar," Sasuke berbisik cepat. "Jangan dekati anggota Uchiha mana pun."
Naruko bergumam pelan, masih mengunyah agarnya. Kyou duduk di pangkuan wanita itu, membuka mulutnya berulang kali, meminta agar-agar. Mata biru anak itu terbuka lebar, berkedip beberapa kali, seakan-akan sedang memohon dan meminta agar-agar. "No no no," Naruko menggeleng. "Puppy eyes-mu tidak akan mempan, Kyou-chan."
Kyou mulai memanyunkan bibirnya, pipinya mengembung. "Ahh!"
"Tidak. Tidak," Naruko menggelengkan kepala, mengangkat agar-agarnya setinggi mungkin, mengabaikan Kyou yang menggapai-gapai. "Hanya Mama yang tidak akan memanjakanmu," Naruko mendengus, dengan segera menghabiskan agarnya sehingga Kyou berhenti merengek. "Lihat," Naruko beranjak, menggandeng Kyou. "Salju."
Mata biru Kyou terpaku pada salju di kebun. Tangan mungilnya menggapai-gapai, hendak meraih tetesan salju yang terjatuh di dekat perkarangan. Naruko tersenyum, mengenakan sarung tangan mungil pada tangan Kyou. Bocah itu meringis sesaat, dengan girang melompat keluar dan meraih salju terdekat. "Mamaa!" Kyou menjerit girang. Kaki-kaki mungilnya itu berlari ke Naruko, memamerkan salju di tangannya.
"Anak pintar," Naruko menyeringai, mengusap rambut hitam Kyou. Wanita itu menoleh sesaat, menatap anak-anak kecil Uchiha yang menatap Kyou dengan tatapan iri. Mereka semua berambut hitam. Ketika mereka ingin bermain di salju, ibu-ibu mereka langsung mendesis, membuat bocah-bocah itu duduk di kursi dengan diam.
Narukp hanya bisa mengerutkan kening. Tidak ada salahnya bermain dengan salju bukan? Cuaca di luar tidak begitu dingin dan perkarangan Uchiha sangat bersih. Kenapa para Uchiha segitu ketat dengan 'tata krama'? Naruko tidak bisa membayangkan dirinya yang melarang Kyou bermain salju. Dia tersenyum sesaat ketika melihat Kyou yang dengan kembali terpaku ketika melihat saljunya yang meleleh.
"Bocah yang unik."
Naruko menoleh, menatap gadis berambut hitam panjang. Alis Naruko langsung berkedut ketika melihat mata merah terang itu. "Terima kasih," dia tersenyum. "Uchiha-san."
"Oh please," gadis tersebut memutar bola matanya. "Jangan panggil aku dengan nama itu. Aku yakin kalau kau sudah tahu aku ini siapa."
Naruko tersenyum, secara refleks memeluk Kyou yang menatap Kyuubi dengan tatapan penasaran. "Kyuubi-san. Sejak kapan kau di sini? Aku tidak melihatmu."
"Aku?" Kyuubi menyeringai lebar, menatap bocah-bocah Uchiha yang ada di sekitar mereka. "Tentu saja kau tidak bisa melihatku. Aku sedang bersembunyi di atap-atap, mengintai bocah-bocah Uchiha yang… 'menggemaskan'."
Di detik itu juga, para ibu-ibu klan Uchiha langsung menjadi pucat, mempererat pelukan mereka terhadap anak-anak mereka.
"Kyousuke bukan? Itachi sering cerita tentangmu," Kyuubi meringis. "Aku punya hadiah untukmu," gadis itu merongoh kantongnya, mengeluarkan kulit ular.
Kyousuke langsung meraih kulit itu sedangkan para ibu-ibu langsung menjerit, cepat-cepat membawa anak-anak mereka pergi dari ruangan itu.
"Akhirnya mereka pergi juga,"Kyuubi meringis. "Berisik sekali. Sejak tadi kerjanya mengatai dan melotot ke arah kalian. Seakan-akan tidak ada kerjaan saja."
Naruko tersenyum. "Terima kasih."
"Karena kulit ular?" Kyuubi menyeringai. Naruko hanya bisa tersenyum, membiarkan Kyou bermain dengan kulit tersebut. Selama bocah itu tidak memasukkan kulit itu di mulutnya, dia tidak masalah.
"Pernikahanmu dengan Itachi… empat hari lagi bukan?" Naruko tertawa sesaat ketika melihat Kyuubi yang mendengus. "Kau tidak keberatan? Menikah dengannya?"
Kyuubi hanya bisa tertawa ketika melihat Naruko yang terlihat cemas. Gadis itu duduk di lantai, bersila, tidak peduli meski pun dia mengenakan kimono. "Aku harus berterima kasih karena kau. Kalau tidak, aku akan dinikahkan dengan Sasuke karena umurku lebih dekat dengan umurnya daripada Itachi."
"Kau tidak suka dengan Sasuke?" Naruko menaikkan sebelah alis.
"Dia membosankan," Kyuubi mendengus.
"Dan Itachi tidak membosankan?" Naruko tertawa.
"Tentu saja tidak," Kyuubi menyeringai lagi. "Contohnya, kemarin dia membiarkanku mendengarkan rekaman antara kau dan Sasuke."
Naruko melongo, sedangkan Kyuubi menyeringai lebar.
"Naruko," suara dingin Sasuke membuat wanita itu memutar kepalanya. "Sedang apa kau bersamanya?"
"Cih, si membosankan sudah datang," Kyuubi mendengus, beranjak untuk tersenyum mengejek ke arah Sasuke. "Hai adik ipar."
Sasuke mendelik.
"Tuh kan membosankan," Kyuubi kembali mendengus. Dia berjalan pergi, mengibas rambut hitamnya yang panjang. "Daah, Naruko. Sampai jumpa di makan malam nanti."
Naruko berkedip sedangkan Sasuke semakin mendelik.
"Jangan dekati dia, sudah kubilang," Sasuke menunduk, meraih Kyou yang sejak tadi melompat-lompat, minta digendong.
"Dia mengusir orang-orang yang melotot ke arahku dan Kyou, tentu saja setidaknya aku harus berterima kasih," Naruko tertawa. "Dia anak yang menarik."
Sasuke hanya bisa mendengus, berjalan pergi sambil menggendong Kyou.
"Mau ke mana?" Naruko berjalan di belakang Sasuke, sesekali menyeringai ke arah Kyou yang mengulurkan tangan ke arahnya.
"Ke kamarku," Sasuke menjawab singkat.
"Katamu di kediaman Uchiha wanita dilarang untuk tinggal di satu kamar bersama lelaki kalau mereka belum menikah?" Naruko menaikkan sebelah alis.
"Semua orang sudah tahu kalau kau akan menjadi istriku, jadi tidak masalah," Sasuke melirik ke arah Naruko sesaat, tersenyum mengejek ketika wajah wanita itu merah padam. "Atau kalau kau mau, kau bisa tetap tidur di kamar ibuku sampai hari pernikahan Itachi."
"Tidak," Naruko menggeleng. "Kami tidur di kamarmu saja. Aku yakin kalau kamarmu cukup besar untuk menampungku dan Kyou."
"Tidak malam ini," suara Itachi membuat Naruko memutar kepalanya. Dia menatap Itachi dan Fugaku yang berjalan menghampiri mereka. "Malam ini Kyou tidur bersamaku."
Naruko mengerutkan kening, namun Sasuke dengan santai memberikan Kyousuke pada kakaknya. "Kau mau bawa dia ke mana?" Naruko mulai waspada, nyaris saja merebut Kyousuke dari pelukan Itachi.
"Tenang saja," Itachi mendengus. "Dia butuh kimono untuk pernikahanku nanti."
Naruko berkedip. "Kalian akan membawanya ke toko pakaian?"
Itachi mengangguk. "Nanti sore pengukur akan datang untuk mengukurmu. Kau sendiri butuh pakaian."
"Kenapa aku tidak sekalian saja ikut bersama kali…"
"Naruko," Sasuke menariknya. "Biarkan Kyou ikut bersama ayahku dan Itachi."
Naruko mengerutkan kening. Namun dia mengangguk setelah sadar bahwa Fugaku mungkin ingin punya waktu sendiri bersama cucunya. Dia tersenyum, melambaikan tangan ke arah Kyou yang menatapnya. "Bye, Kyou-chan," dia menunduk, mengecup kening Kyousuke. "Mama loves you."
Kyou balas melambaikan tangan, merengek sesaat ketika Itachi membawanya pergi. Sasuke tersenyum, berjalan bersama Itachi sambil menghibur putranya. Naruko berdiri sendirian di lorong bersama Fugaku. Lelaki setengah baya itu terdiam, menatap Naruko.
"Kau memberikan Sasuke sesuatu yang tidak pernah bisa kuberikan padanya."
Naruko menengadah. Dia tidak menjawab, hanya memperhatikan Fugaku. Meski rambut lelaki itu sudah berwarna keabuan sekarang, matanya masih menatap dengan tajam. "Tidak," Naruko tersenyum. "Kau mengijinkan kami untuk tinggal untuk di sisi Sasuke. Kurasa Sasuke sudah cukup puas dengan itu."
Fugaku mendengus, membuat Naruko meringis. "Kapan kalian akan menikah?" pertanyaan Fugaku membuat senyuman Naruko menghilang. "Bersamaan dengan Itachi?"
Wajah Naruko langsung memanas. "Hmmm… tidak secepat itu?"
"Secepat mungkin," Fugaku berjalan pergi. "Selagi para tetua itu tutup mulut pada saat ini."
Naruko hanya bisa berkedip. Matanya terpaku pada Sasuke yang kembali mendekatinya. "Apa yang dia katakana padamu?"
"Ah… tentang tanggal pernikahan," wajah Naruko kembali memanas. "Emmm, Sasuke?"
Sasuke melirik sesaat ke arahnya, berjalan ke depan. Naruko mengikutinya dari belakang. "Apa?"
"Kau yakin kalau kau mau menikah denganku?"
Pertanyaan Naruko membuat Sasuke memutar bola matanya.
"Soalnya kau tidak mencintaiku bukan?" Naruko berujar lagi, tertawa pelan. "Karena itu aku…"
"Pernikahan tidak perlu didasarkan oleh rasa cinta," ucapan dingin Sasuke membuat Naruko terbungkam. Lelaki itu menggeser pintu kamarnya.
"Kau benar," Naruko berujar pelan, kembali tertawa. Dia masuk ke dalam kamar, memperhatikan sekeliling. Kamar Sasuke tradisional. Futon yang dilipat di ujung kamar. Meja mungil di pojok ruangan. Dia berjalan ke arah rak buku, hendak melihat buku-buku seperti apa yang dimiliki Sasuke, namun, tangan Sasuke yang tiba-tiba mencengkramnya membuatnya terhenti.
"Apa maksudmu dengan 'kau benar'?"
Naruko berkedip, menatap Sasuke dengan bingung. "Pernikahan tidak perlu didasarkan oleh rasa cinta kan? Kau benar. Aku setuju pada ucapanmu."
"Maksudmu?" Sasuke menyipitkan mata.
"Aku bukan wanita polos yang percaya pada hal-hal romantis di buku novel," Naruko mengerutkan kening. "Di mataku, pernikahan bisa dinilai sebagai keharusan. Tidak perlu rasa cinta. Yah… setidaknya kau harus 'tahan' untuk melihat wajah pasanganmu setiap hari," Naruko memutar bola matanya. "Aku sendiri pernah berpikir untuk menikah dengan Sai bukan? Dia sendiri pernah berpikir hal yang sama."
Mata Sasuke menajam. "Kapan?"
"Ketika kau masih sibuk mengejar kakakku," Naruko tersenyum sinis, menepis tangan Sasuke. "Jangan khawatir, Sasuke. Aku tidak akan berharap apa pun meski kita menikah," senyuman Naruko melembut. "Kau cukup jadi ayah yang baik pada Kyou dan dua bayi di perutku. Itu saja."
Sasuke tidak menjawab. Dia duduk di atas tatami kamarnya, sedangkan Naruko sibuk memperhatikan buku-bukunya.
"Aku tidak tahu apakah aku mencintaimu," bisikkan pelan Sasuke membuat Naruko terpaku. "Aku hanya tahu satu hal," mata hitamnya menatap Naruko dengan tajam. "Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa dirimu."
Naruko berkedip. "Itu…" dia tersenyum lebar. "Sama saja artinya dengan…" ucapan Naruko terputus. Wanita itu tiba-tiba tertawa kencang, membuat Sasuke mengerutkan kening.
"Apa yang lucu?" Sasuke mendesis, membuat Naruko tertawa semakin kencang.
"Tidak, tidak," wanita itu meringis. Mendekati Sasuke dan mengecup pelan kening calon suaminya. "Aku sendiri tidak bisa membayangkan hidup tanpamu."
Sasuke hanya bisa berkedip, menatap Naruko yang sekarang berbaring di pangkuannya, menatapnya dengan girang.
"Ayahmu bilang supaya kita menikah secepatnya."
Sasuke mengangguk. "Semakin cepat semakin baik."
"Bagaimana kalau kita menikah bersamaan dengan Itachi?"
"Aku tidak keberatan," Sasuke mengusap rambut pirang Naruko.
"Baiklah," wanita itu meringis. "Aku tidak bisa membayangkan seperti apa wajah nii-chan dan Sai nanti."
"Kau akan mengundang Sai?" Sasuke mengerutkan kening, membuat Naruko kembali tertawa.
"Tentu saja. Dia sahabatku sampai mati," Naruko berujar girang, mengabaikan Sasuke yang kembali mendengus. "Ngomong-ngomong, apakah kau ada ide untuk nama anak-anak kembar kita?"
Kerutan di kening Sasuke langsung menghilang. "Ada."
"Oh ya?" Naruko meringis. "Apa?"
"Harus tiga sylibus," dia memberitahu Naruko. "Orang-orang di klan inti Uchiha semuanya punya tiga sylibus."
"Kau benar," Naruko bergumam. "Sa-Su-Ke. I-Ta-Chi. Fu-Ga-Ku. Mi-Ko-To," dia memainkan jarinya. "Dan Kyuubi bukan dari keluarga inti?"
Sasuke menggeleng. "Dia sepupu jauh."
"Kyou-Su-Ke," Naruko kembali berujar. "Na-Ru-Ko," wanita itu tertawa, membuat Sasuke mendengus lagi. "Oke, apa idemu?"
"Shinobu dan Naoki kalau mereka kembar cowok."
Naruko menganggukkan kepala. "Kalau cewek?"
"Shinoko dan Naomi."
Naruko kembali tertawa. "Kau sudah memikirkan sampai sejauh itu?"
Sasuke mendengus, kembali memainkan rambut Naruko. Wanita itu memejamkan mata, mengusap perutnya sesaat. "Kau sendiri?"
"Aku belum memikirkan nama," wanita itu tersenyum. "Kita punya banyak waktu bukan? Kita bisa minta saran dari ayahmu juga."
Sasuke terdiam. Sesaat, dia mengulurkan tangannya, mengusap perut Naruko yang sedikit bundar. Jarinya bersentuhan dengan jari Naruko, membuat wanita itu membuka matanya. Mata biru itu menatap Sasuke, membuat Sasuke terpaku.
"Kenapa?" Naruko bertanya, menyentuh tangan Sasuke.
"Tidak," lelaki itu menggeleng. "Pertama kali aku melihatmu…" Sasuke memejamkan matanya sesaat. "Di balik kegelapan. Matamu terlihat terang sekali."
"Begitu?" Naruko tersenyum. "Kau suka dengan mataku? Kau tidak bisa hidup tanpa warna biru ini bukan?"
Sasuke tidak menjawab. Naruko kembali memejamkan matanya, memainkan kalung onyx di sekitar lehernya. Dia tidak pernah mengharapkan jawaban apa pun dari Sasuke. Dia tahu kalau Sasuke sulit untuk mengungkapkan perasaannya melalui kata-kata. Namun, ketika wanita itu merasakan sentuhan lembut bibir Sasuke di bibirnya, Naruko berusaha untuk menahan senyuman.
Semua perbuatan Sasuke melambangkan perasaan lelaki itu.
Ketika Sasuke menggenggam tangannya, dia tahu bahwa ya, Sasuke suka dengan matanya.
Dan ketika Sasuke mengecupnya, dia tahu bahwa ya, Sasuke tidak bisa hidup tanpa warna biru ini.
Naruko beranjak, menempelkan bibirnya di bibir Sasuke.
Dan tentu saja, ketika Sasuke menatapnya dengan lekat, dia tahu apa artinya.
Sasuke mencintainya. Dan mereka akan selalu bersama.
THE END
AN: aku berusaha nulis ending yang sweet tapi kayaknya susah nulis cerita yg sweet-sweet banget tanpa bikin si teme ini OOC #plak.
Di fiction ini, aku gak bisa bayangin Sasuke yang tiba-tiba berlutut kasih Naruko cincin lah. hahaha! Jadi kuharap reader sekalian puas sama endingnya.
Di chapter epilogue akan lebih menuju family genre. Aku sebenarnya pengen nulis adegan rate M di chap terakhir ini. Hahaha. Tapi kayaknya banyak readerku yang skip adegan2 rate M di fic ini. Jadi kayaknya kalau ada yang mau, aku bakalan tulis fic tersendiri. One shot setelah mereka nikah :)
Tapi itu oneshot setelah aku tulis epilogue dan kalau aku ada waktu pastinya. hahaha.
Makasih udah baca!
Sampai jumpa di chapter epilogue!
