Tapi, bagai manapun juga Sasori sudah bertekat akan membawa sakura kembali. Walaupun Sakura mengandung anak Sasuke sekali pun.
"Cih aku tidak peduli! Walaupun Sakura mengandung anak mu sekalipun! aku, akan tetap membawanya!" teriak Sasori penuh amarah.
"Lagipula semua keputusan tergantung pada Sakura. Bukan padamu Uchiha!"
"Hn walaupun keputusan nya berada di tangan nya, Sakura tidak akan mungkin mau memisahkan anak nya dari 'ayah kandung' nya kan? Lagipula Sakura itu hanya 'budak' ku"
"Dan bagaimanapun keadaan nya 'budak' haruslah menuruti semua perintah 'tuan' nya apa pun itu! Bukan begitu Akasuna?" tanya Sasuke menyeringai.
"Cih sialan kau Uchiha! Kalau kau memang mengangap nya sebagai budak lepaskan dia! Kembalikan dia padaku brengsek!" triak Sasori yang amarah nya semakin memuncak.
"Hn sayang sekali Akasuna, dia terlalu menarik untuk aku lepaskan!" ucap Sasuke menyeringai licik
"Kau-"
"Kalau hanya itu yang ingin kau ucapkan sebaiknya kau pulang saja, aku tidak ada waktu untuk bicara dengan mu!" ucap Sasuke memotong perkataan Sasori dingin, lalu dengan cepat menutup pintu itu tepat di depan wajah Sasori.
TOK...TOK...TOK...
"Hei buka pintu nya berengsek!" teriak Sasori di luar sambil mengedor-ngedor pintu Sasuke.
"Cih brisik" dengus Sasuke.
Lalu Sasuke bersiap pergi ke kamar nya dan Sakura untuk tidur. Meninggalkan Sasori yang masi mengedor pintu di luar sana.
"INGAT INI UCHIHA! BAGAIMANAPUN CARA NYA AKU AKAN MENGAMBIL KEMBALI SAKURA KU!" teriak Sasori yang terakhir dari luar.
Setelah itu suara Sasori dan gedoranpintu nya pun tak terdengar lagi.
"Hn menyebal kan. Mereka berdua pikir bisa merebut Sakura dari ku?"
"Cih jangan harap! Apa pun yang terjadi aku tidak akan melepas nya. Dan lagi, sekarang dia tengah mengandung anak ku, anak yang kelak akan menjadi pewaris kekayaan Uchiha. Jadi mana mungkin aku akan melepas nya!" ucap Sasuke sambil berlalu pergi ke kamar nya.
...
"Engh" leguh Sakura yang baru terjaga dari tidur nya.
Setelah menduduk kan tubuh nya di atas kasur itu, ia melihat Sasuke yang baru keluar dari kamar mandi hanya memakai selembar handuk.
"Ah se- selamat pa- pagi Sasuke-sama" sapa Sakura dengan wajah yang bersemu merah melihat Sasuke yang hanya memakai selembar handuk.
"Hn" balas Sasuke datar.
"Ano anda ingin makan apa untuk sarapan pagi ini Sasuke-sama?" tanya Sakura sopan.
"Kau tidak usah membuat kan aku sarapan. Karena aku akan makan di luar!" jelas Sasuke menjawap pertanyaan Sakura.
"Hari ini kau cukup istirahat saja di rumah. Dan jangan mengerjakan pekerjaan yang berat, kau mengerti?"tanya Sasuke pada Sakura.
"Tapi Sasuke-sama, saya baik-baik saja. Jadi saya tidak perlu istirahat" jawab Sakura.
"Hn kau memang baik-baik saja tapi, aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada 'anak ku' yang ada di perut mu itu!" terang Sasuke.
Mata Sakura terbelalak mendegar ucapan Sasuke.
"A- anak? A- ap- apa ak- aku ha- hamil?" tanya sakura terbata-bata sambil menahan tangis nya.
"Hn kau hamil anak ku. Tapi, kau tenag saja seminggu lagi kita akan menikah" ucap Sasuke sambil menatap Sakura dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Ini tidak mungkin hiks.. Kenapa harus aku hiks... Aku aku.. Belum siap hiks... Dan aku tidak mau menikah dengan mu!" teriak Sakura pada Sasuke sambil menangis sesegukan.
"Tidak mungkin? Kenapa tidak mungkin hn? Apa kau lupa apa yang telah kita lakukan seminggu yang lalu sehingga kau bisa hamil?" tanya Sasuke datar.
"Itu semua bukan kemauan ku! Hiks... Aku tidak mau menikah dengan mu! Hiks.." teriak Sakura tak terima.
"Kalau kau tidak menikah dengan ku lalu dengan siapa hn? dengan Sasori? atau Gaara? Walaupun mereka mau menikahi mu tapi, sampai kapan pun anak itu tetap lah anak ku! Apa kau tega memisah kan anak itu dari 'ayah kandung' nya hn?"tanya Sasuke dengan tatapan datar nya.
Mendegar perkataan Sasuke membuat Sakura tertegun. Sebenar nya Sakura bisa saja mengugurkan anak ini dan pergi bersama Sasori. Tapi Sakura adalah gadis yang berhati lembut dan mudah menagis. Dia tidak akan bisa melakukan lagi memisahkan anak yang tidak berdosa ini dari ayah nya membuat Sakura tak tega.
Ia tau bagaimana rasanya hidup tampa orang tua, bahkan ia sendiri tidak mengenal kedua orang tua nya. Ia tidak mau kelak anak ini akan bernasip sama seperti diri nya.
"A- aku tidak sangup melihat anak ini bernasip sama seperi ku hiks.." ucap Sakura sesegukan.
"Hn kalau begitu tidak ada pilihan lain seminggu lagi kita akan menikah" ucap Sasuke datar sambil berlalu keluar dari ruangan itu.
Meningal kan Sakura yang menagis sesegukan di kamar itu sendirian.
Setelah itu Sasuke berjalan keluar dari rumah itu dan segera menuju garasi untuk mengendarai mobil Lamborghini Veneno nya dan segera berangkat ke kantor.
Dalam perjalanan nya ke kantor, Sasuke terus memikirkan wajah Sakura yang tengah menangis tadi. Wajah itu kelihatan begitu menderita.
Apa sebegitu tidak ingin nya kah Sakura bersamanya? apakah sebegitu benci nya kah Sakura padanya karena telah membuat gadis itu mengandung benih nya? dan apakah sebegitu cintanya kah Sakura pada Sasori sehingga gadis itu sama sekali tidak mau melihat nya?
Apa pun itu Sasuke tidak peduli. Walaupun harus memakai cara kotor sekalipun ia tidak peduli. asalkan gadis itu bisa menjadi milik nya.
'walaupun aku harus mengotori tangan ku untuk mu aku tak apa, asal ada kau yang akan selalu membersih kan ku. Walau pun aku harus pergi ke dasar neraka sekali pun aku tak apa, asalkan ada kau yang akan selalu menunggu ku' batin Sasuke.
...
Sementara itu di suatu tempat di Konoha seorang pria berambut merah bertato 'ai' tengah berbicara serius dengan seorang wanita.
"Kau tau kan aku sudah tidak mau berhubungan lagi dengan nya! jadi tidak ada guna nya kau memaksa ku!" ucap wanita itu tegas.
"Hn aku tau kau masi mencintai nya kan?" tanya pria itu.
"Cih bersetan dengan ucapan mu itu! walaupun aku masi mencintai nya, dia tidak akan mau kembali padaku!" ucap wanita itu penuh penekanan.
"Ayolah Karin cobalah untuk mendekati nya sekali lagi!" ucap pria itu.
"Ku bilang 'tidak' Gaara!" ucap wanita yang di ketahui bernama Karin itu tegas.
"Kalau kau memang mencintai gadis itu dan ingin merebut nya dari Sasuke, harus nya kau menggunakan cara yang seportif Gaara! bukan dengan cara kotor seperti ini!" teriak Karin emosi.
"Cih bersetan dengan semua itu! kau pikir Uchiha itu memilikinya dengan cara yang jujur hn?" tanya Gaara dengan tatapan dingin nya.
"Bahkan dia lebih licik dari pada aku!" teriak Gaara tepat di depan wajah Karin.
Karin yang melihat Gaara seperti ini hanya bisa terdiam sekaligus prihatin.
Bagimana tidak. Ini pertama kali nya bagi Karin melihat seorang Sabaku Gaara yang biasanya berekspresi datar dan dapat mengontrol emosi nya, bisa meledak-ledak seperti ini.
Dan itu semua hanya karena seorang gadis?
Tapi, walupun Karin agak sedikit perihatin melihat keadaan Gaara yang seprti ini, dia tetap tidak mendukung cara licik Gaara untuk mendapatkan gadis itu.
Walaupun ia dikenal sebagai wanita yang tidak memiliki hati. Ia tidak mau menambah beban gadis itu.
Karin tau kalau gadis itu adalah gadis yang dibeli oleh sasuke dan sekarang gadis itu tengah di perbutkan oleh 3 pria dingin berhati iblis ini. Pasti sulit bagi gadis itu menghadapi semua ini di umurnya yang begitu belia. Dan di tambah lagi gadis itu kini tengah hamil muda.
"pokok nya aku tidak mau! terserah pada mu kalau kau mau marah tau apapun itu!"
"Tapi.."
"Kalau aku jadi kau Gaara, aku akan melepaskan gadis itu! dan tidak akan menabah penderitaan nya seperti ini!" ucap Karin sambil berlalu keluar dari tempat itu.
"Cih dasar wanita sialan! kau tidak akan pernah mengerti perasaan ku!" teriak Gaara.
"Terserah kau mau membantu ku atau tidak! aku tetap akan merebut kembali malaikat kecil ku. Dengan cara jujur atau cara kotor sekali pun! aku tidak peduli!" teriak Gaara penuh amarah.
...
Sementara tu di luar karin hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar teriakan Gaara.
Dia tak habis pikiri pria itu begitu merepotkan kalau sedang jatuh cinta.
"Hahh ku harap gadis itu baik-baik saja" ucap Karin yang teringat tentang gadis itu.
.
.
T*B*C
