I Saw Him Everyday [나는매일그를보고]
Cast: Park Chanyeol, Byun Baekhyun, and other EXO member
Pairing: ChanBaek
Length: Chaptered
Genre: BL/yaoi/boyxboy, romance, fluff, angst
Warning: typo, bahasa non baku
BAGIAN 2
Park Chanyeol tidak pernah mempercayai arti sebuah kebetulan atau ke-tidak sengajaan. Probabilitas yang muncul dalam universal begitu jarang dan hampir mendekati nol. Oleh karena itu iya sangat senang saat sebuah tokoh dalam film animasi Kungfu Panda mendukung teorinya bahwa di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Semua yang terjadi di dunia ini sudah terdaftar dalam sebuah catatan yang disebut takdir.
Sama halnya dengan malam ini. Chanyeol yang sedang mendudukkan dirinya di sebuah kursi penonton tercengang akan pertunjukan yang dihidangkan di hadapannya. Chanyeol sedang menonton sebuah pertunjukan musikal yang dimainkan oleh teman SMA-nya, tapi dia tidak pernah menyangka bahwa ia akan bertemu Baekhyun disini. Terlebih saat ini Baekhyun sedang menyanyikan sebuah lagu di depan sana. Chanyeol baru mengetahui bahwa Baekhyun bisa bernyanyi, dan ia bersumpah bahwa suara Baekhyun adalah suara terindah yang pernah ia dengar. Takdir telah membawanya mengenal Baekhyun lebih jauh.
Chanyeol seperti tidak berkedip selama empat menit dua puluh sembilan detik. Ia seakan tak mau melawatkan satu gerakan pun yang dilakukan oleh Baekhyun. Ia terpesona, Byun Baekhyun lebih dari sekedar sempurna menurutnya. Saat pertunjukan usai Chanyeol bergegas menuju ke belakang panggung. Awalnya ia berniat untuk menemui temannya saat pertunjukan usai namun setelah melihat pertunjukan Baekhyun ia berubah pikiran, prioritasnya kali ini hanya untuk bertemu Baekhyun.
Chanyeol berhenti di depan sebuah pintu bertuliskana 'staff and crew', ia sedang sibuk menyusun jawaban yang akan ia berikan saat Baekhyun menanyakan alasannya berada disini. Ternyata Chanyeol terlalu lama berfikir karena sekarang pintu hadapannya telah terbuka dan menampilkan sosok Baekhyun disana.
"Chanyeol hyung?" Baekhyun sama kagetnya dengan Chanyeol.
"Hai Baek. Pertunjukan yang bagus." Chanyeol menggaruk tengkuknya gugup.
"Terima kasih. Tapi kenapa hyung bias berada disini? Hyung ingin menemui seseorang?"
"Ya aku ingin menemui-"
"Chanyeol-ah!" belum sempat Chanyeol melanjutkan kalimatnya, seorang namja bertumbuh tinggi datang menghampirinya. Chanyeol diam-diam mengutuk dalam hati.
"Hyung ingin bertemu dengan Kris hyung?" entah kenapa suara Baekhyun terdengar lemah saat mengucapkan kalimatnya. "Kalau begitu aku pamit dulu."
"Ya aku ingin menemui Kris tapi aku ingin mengantarmu pulang." Chanyeol spontan melontarkan ajakannya tanpa berpikir panjang.
"Apa?" Baekhyun sedikit membulatkan matanya tak percaya.
"Baek, aku ingin pulang bersamamu. Please?" Chanyeol mengatakannya dengan sedikit berbisik, entah kenapa.
"Araseo araseo. Aku akan menunggu mu di lobi, hyung."
Selepas Baekhyun melangkah pergi, Chanyeol kembali menghadap Kris dan meninju pelan perut lelaki di depannya.
"How rude! Ini kah caramu menyapa teman lama?" Kris mendengus kesal sambil memegangi perutnya yang sebenarnya tidak terasa sakit.
"Kau menghancurkan semuanya Kris, thanks. Jadi apa yang ingin kau sampaikan? Cepatlah, aku tidak punya banyak waktu."
"Bagimana penampilanku tadi?" Kris bertanya dengan memsang ekspresi sekeren mungkin.
"Seriously, Kris. Aku tahu kau tidak ingin membicarakan tentang hal itu."
"Baiklah baiklah. Aku akan langsung ke intinya." Kris mengambil nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya "Pulanglah, yeol. Demi Tuhan, aku sudah hampir gila meladeni ocehan ibumu setiap hari."
"Kalau kau cuma ingin membicarakan hal itu sebaiknya aku pulang sekarang. Terima kasih karena kau telah merebut waktuku yang berharga." Chanyeol sudah melangkah pergi bahkan sebelum Kris menjawab kalimatnya.
Chanyeol sedang berada di mood yang buruk sekarang. Kris benar-benar menghancurkan semuanya. Chanyeol hampir saja melupakan seluruh masalahnya tapi keputusannya untuk menemui Kris malah membuatnya teringat kembali akan hal itu-ya, walaupun keputusannya menemui Kris tidak sepenuhnya salah karna dengan itu ia bisa bertemu Baekhyun.
Chanyeol kembali pada dunianya saat ia melihat sosok Baekhyun berdiri dengan gusar menanti dirinya. Ia langsung berlari menghampiri Baekhyun. Ia mengutuk dirinya sendiri bagaimana ia sampai lupa bahwa ia menyuruh Baekhyun menunggu dirinya seorang diri di lobi.
"Maaf sudah membuatmu menunggu lama."
"Tidak apa, ayo sekarang kita pulang." Chanyeol dapat melihat bahwa tubuh Baekhyun sedikit bergetar. Ia kedinginan.
Baekhyun mulai berjalan mendahului Chanyeol ke arah halte bus sambil memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana jins yang ia kenakan. Sampai ia merasakan sebuah mantel coklat melekat pada bahunya. Ia menoleh kepada seseorang yang memberinya mantel tersebut dengan tatapan bertanya.
"Pakailah. Aku seperti merasa bahwa sebentar lagi tubuhmu akan berubah menjadi es."
"Tapi bagaimana denganmu?" Hati Chanyeol menghangat saat mengetahui bahwa Baekhyun juga mengkhawatirkannya.
"Kau tahu, sebagian dari tubuhku terbuat dari api." Gurau chanyeol.
Baekhyun merespon gurauan tidak jelas dari Chanyeol dengan gelak tawa yang cukup keras. "Tentu saja aku tahu. Itu sebabnya mengapa rambutmu berwarna merah bukan?"
Kali ini, Chanyeol juga ikut tertawa bersama Baekhyun.
Chanyeol mengharapkan akan terjadi sebuah adegan romantis antara dirinya dan Baekhyun selama di dalam bus seperti yang selalu muncul dalam drama. Dimana Baekhyun akan mengantuk dan tertidur bersandar di bahunya. Namun kenyataannya Baekhyun sampai sekarang masi terjaga dan dengan semangat menceritakan berbagai cerita konyol kepada Chanyeol.
Baekhyun juga menceritakan bagaimana dia bisa bergabung dengan grup musikal tersebut. Baekhyun bukanlah pemain utama disana. Ia hanya menyanyikan dua buah lagu dan dibayar dengan gaji yang terbilang kecil, namun Baekhyun tetep menyukainya. Ia mengatakan tak peduli berapapun gaji yang ia terima selama itu adalah hasil jerih payahnya sendiri. Kadar ketertarikan Chanyeol terhadap Baekhyun bertambah.
Baekhyun mengtakan kepada Chanyeol bahwa ia juga mengenal Kris. Dari semua anggota musikal yang Baekhyun kenal, hanya Kris yang selalu bersikap baik padanya. Baekhyun mengaku dia menyukai bagaimana kepribadian Kris yang hangat dan sangat bertolak belakang dengan penampilan luarnya. Setelah mendengar semua itu, ingin rasanya Chanyeol lompat dari bus, berlari menghampiri Kris, dan melenyapkannya dari peradaban dunia.
"Jadi, apa yang akan kau lakukan dengan semua uang itu jika sudah terkumpl nanti Baek?" Chanyeol bertanya sekedar untuk memecah keheningan yang baru tercipta beberapa detik.
Baekhyun hanya diam. Ia bingung harus menjawab apa.
Merasa tidak mendapatkan respon, Chanyeol menghadap sang lawan bicara. Memandanginya dengan tatapan serius dan alis yang mengkerut. "Jangan bilang kau tidak tahu akan menggunakannya untuk apa."
Baekhyun buru-buru mengangkat wajahnya dan beradu pandang dengan Chanyeol. Namun setelah beberapa detik ia kembali menunduk dan bergumam pelan. "Aku tahu. Aku sangat tahu akan kugunakan untuk apa uang itu nanti."
"Untuk apa?" Tanya Chanyeol makin tak sabar.
"Nanti suatu hari di masa depan.." Baekhyun berhenti sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. "Suatu hari nanti akan tiba saat dimana orang tuaku akan mengeluarkan banyak uang hanya untuk membuatku tetap bernafas, dan aku harap sedikit uang ini bisa membantu mereka."
Chanyeol makin tidak mengerti tentang apa yang baru saja dikatakan Baekhyun. Namun sebelum ia dapat bertanya lebih lanjut, bus yang mereka tumpangi sudah berhenti di halte tujuan mereka. Chanyeol mengantar Baekhyun berjalan kaki tepat sampai di depan rumahnya.
"Terima kasih hyung. Kau sudah mau repot-repot mengantarku pulang."
"Tidak masalah. Disini aku yang ingin mengantarmu pulang." Chanyeol tersenyum lebar menampilkan deretan giginya yang tersusun. "Masuklah, hari sudah makin malam dan cuaca semakin dingin."
Baekhyun mengangguk. Sebelum ia berjalan memasuki rumah, ia mengembalikan mantel coklat milik Chanyeol. "Terima kasih juga untuk ini. Selamat malam hyung!"
"Selamat malam."
Chanyeol memakai kembali mantelnya. Ia memutuskan untuk pulang saat tubuh Baekhyun sudah menghilang di balik pintu rumahnya. Malam itu Chanyeol tidur dengan menggunakan mantel coklat yang memilik aroma sama seperti Baekhyun.
.
*O*
.
Ada beberapa kejadian dalam hidup Chanyeol yang Chanyeol sendiri tidak percaya bahwa itu bisa terjadi. Rasanya seperti mimpi. Seperti saat dimana Sandara 2NE1 tanpa sengaja berbelanja di minimarketnya, atau saperti saat otaknya yang pas pasan dapat membuatnya lulus kuliah dalam waktu singkat. Tapi tidak ada yang membuat Chanyeol lebih kaget dan tercengang dari hari ini. Hari dimana Byun Baekhyun meminta nomor ponselnya.
Tangan Chanyeol gemetar saat mengetikkan nomornya pada ponsel Baekhyun. Walaupun Baekhyun juga meminta nomer ponsel Luhan dan Jongin, tetap saja menurut Chanyeol ini adalah sebuah langkah besar baginya untuk lebih mengenal Baekhyun. Baekhyun berasalasan bahwa ia telah menganggap pegawai minimarket disini sebagai teman dan hyungnya sendiri.
Setelah Baekhyun pergi dari minimarket dengan membawa ponsel berisi 3 kontak baru, Chanyeol bergegas mengambil ponselnya yang ia letakkan di dalam loker pegawai. Setiap menit Chanyeol mengecek ponselnya, siapa tahu Baekhyun mengiriminya pesan. Tapi sampai jam kerjanya berakhir, tak satu pun pesan singkat mampir ke dalam inboxnya.
Dalam perjalanan pulang Chanyeol merutiki kebodohannya sendiri. Seharusnya ia tadi juga meminta nomor ponsel Baekhyun sehingga ia bisa mengirim pesan terlebih dulu. Tapi semua sudah terlambat. Chanyeol hanya bisa menunggu dan berdoa agar Baekhyun tidak lupa mengiriminya pesan malam ini.
Sudah hampir tengah malam dan Baekhyun belum mengiriminya pesan. Chanyeol hampir gila karena lama menunggu. Semenjak sampai di apartemen kecilnya, ponsel Chanyeol tidak pernah lepas dari genggamannya. Ia bahkan membawa ponselnya ke kamar mandi saat mandi. Tepat tengah malam Chanyeol tertidur dengan ponsel dalam genggamannya.
.
.
Chanyeol mengerang saat mendengar bunyi alarm dari meja nakasnya. Ia beranjak dari tempat tidur dan berjalan memasuki kamar mandi. Sesampainya di depan wastafel, Chanyeol baru sadar bahwa semalaman ia masih menggenggam ponselnya. Dengan mata setengah terpejam Chanyeol membuka sandi pada ponselnya dan detik berikutnya mata Chanyeol melebar karena melihat sebuah nomer asing meninggal pesan suara untuknya semalam.
Chanyeol menekan tombol dial untuk mengecek isi pesan suara. Setelah itu Chanyeol bisa mendengar suara yang akhir-akhir ini menjadi favoritnya melantun dari speker ponselnya.
'Chanyeol hyung, selamat malam.
Mungkin aku tidak sopan karena menelpon pada jam segini dan aku yakin kau pasti sudah tidur.
Aku hanya ingin memberi tahu bahwa ini adalah nomor ponselku.
Aku baru saja pulang dari makan malam bersama kru musikal, jadi aku tidak bisa menghubungimu lebih awal.
Tolong simpan nomorku ya! Aku menunggu pesan balasan darimu, hyung!"
PIIP.
Tepat setelah pesan suara dari Baekhyun berakhir, Chanyeol segara menghubungi Baekhyun. Ia bisa mendengar erangan dari sebrang sana menandakan lawan biacaranya baru saja bangun dari tidurnya. Chanyeol diam-diam tersenyum senang karena hari ini ia menjadi orang pertama yang membangunkan Baekhyun di pagi hari. Chanyeol mengucapkan selamat pagi dan mengutarakan permintaan maafnya karena tidak dapat menjawab telfon Baekhyun tadi malam. Chanyeol dan Baekhyun sedikit berbincang selama lima belas menit sebelum akhirnya Chanyeol menutup sambungan telfonnya diiringi ucapan 'semoga harimu menyenangkan.'
Chanyeol sempat tidak mengerti mengapa Baekhyun lebih memilih meninggalkan pesan suara daripada mengiriminya pesan singkat. Apakah Baekhyun sedang menghabiskan bonus bicara dari operator telfon selulernya atau sekarang biaya mengirim pesan singkat lebih mahal dibandingkan pesan suara? Chanyeol memilih meninggalkan pikiran-pikiran konyol tentang Baekhyun dan kembali memasuki kamar mandi dengan ponsel digenggamannya. Pagi ini Chanyeol mandi dengan memutar pesan suara dari Baekhyun berulang-ulang.
.
.
Baekhyun meletakkan telfon genggamnya di atas meja nakas. Mendapatkan telfon dari Chanyeol dipagi buta memang membuatnya senang tapi tetap saja tidak bisa menghilangkan rasa kantuknya. Baekhyun berjalan menuju kamar mandi dengan sempoyongan. Semalam ia tidur sangat larut. Ia harus menghadiri musikal dan setelahnya mengikuti makan malam bersama kru. Baekhyun tiba di rumah saat jarum pendek jam dindingnya hampir menunjuk angka 12. Sesampainya di kamar Baekhyun tidak langsung tidur. Ia menghabiskan tiga puluh menit waktu tidurnya untuk menulis dan menghapus kembali isi pesan singkat yang akan ia kirim kepada Park Chanyeol. Karena terlampau frustasi, pada akhirnya Baekhyun memutuskan untuk menekan tombol hijau pada nomor ponsel Park Chanyeol.
.
*O*
.
Chanyeol selalu memergoki Baekhyun beberapa kali tampil dengan penampilan aneh. Belakangan ia ketahui hal itu disebabkan karena Baekhyun kalah taruhan dengan Kyungsoo dalam skor nilai ujian. Baekhyun pernah mengganti warna rambutnya tiga hari sekali selama satu bulan, saat itu Chanyeol baru beberapa bulan sah menjadi pengagum Baekhyun. Chanyeol sempat khawatir rambut Baekhyun akan rusak, tapi nyatanya setelah satu bulan Baekhyun kembali normal dengan rambut hitam yang berkilau. Baekhyun juga pernah berdandan ala nerd selama tiga minggu. Tidak hanya saat bersekolah, tapi juga di rumah. Baekhyun kerap kali berkunjung ke minimarket Chanyeol dengan celana yang dinaikkan sebatas dada dan menggunakan kaca mata berframe bundar yang besar, tak lupa rambut hitam Baekhyun yang di belah tengah.
Kali ini berbeda. Baekhyun tidak mengecat rambutnya atau menggunakan kaca mata berframe besar. Jongin yang pertama kali menyadari kehadiran Baekhyun dan Kyungsoo sampai tertawa terpingkal-pingkal.
"Jongin diamlah! Kau sangat berisik!" Luhan tidak tahan dengan tawa menggelegar Jongin akhirnya menghampiri remaja yang memiliki status pekerja paruh waktu itu.
Luhan membuka mulutnya saat menyadari apa yang membuat Jongin tertawa begitu keras. "Astagah, Baekhyun kau tidak apa-apa?"
Chanyeol yang bertelinga lebar dengan sigap bergerak menghampiri Luhan saat nama Baekhyun disebutkan. Reaksi Chanyeol tidak jauh berbeda dengan Luhan saat melihat penampilan Baekhyun, ia terkejut dan membuka sedikit mulutnya. Namun bedanya, lidah Chanyeol ikut kelu dan tidak tahu harus berkomentar apa.
"Ada yang bias kami bantu, nona?" Jongin bertanya kepada Baekhyun dan memanggilnya dengan sebutan 'nona'.
Baekhyun mendengus sebal. "Diamlah Jongin. Aku bukan wanita."
"Yeah, katakana itu pada seseorang yang memakai rok, sepatu fantovel ber-hak dan sebuah jepitan rambut." Jongin kembali tertawa terbahak-bahak setelah menyelesaikan kalimatnya. Jangan lupakan kebiasaan Jongin yang akan memukul seseorang disampingnya saat tertawa dan kali ini korbannya adalah Kyungsoo.
Baekhyun semakin mengerucutkan bibirnya lucu. Ya, kali ini Baekhyun hadir sebagai sosok remaja wanita. Ia kembali kalah taruhan dengan Kyungsoo karena ia mendapat peringkat tiga dikelasnya sedangkan Kyungsoo meraih peringkat pertama. Baekhyun meminjam seragam pada teman wanitanya yang memiliki seragam ekstra dan mengenakannya saat ke sekolah. Untunglah hukuman dari Kyungsoo ini hanya berlangsung saat di sekolah.
Kyungsoo berlalu meninggalkan keempat pria tersebut untuk mengambil sebuah parfum wanita dan sepasang kaos kaki panjang yang juga biasa digunakan oleh wanita.
"Kenakan semua ini saat kau pergi ke sekolah besok." Titah Kyungsoo pada Baekhyun.
Baekhyun memlebarkan matanya tidak percaya. Kali ini Kyungsoo sepertinya sangat niat mengerjainya.
"Pakai saja, Baek. Lagi pula kau cocok mengenakan itu semua." Jongin kembali memberikan komentarnya.
"Berhentilam menggodaku, Jongin! Ini semua gara-gara ide aneh teman-sialanmu-Kyungsoo!." Baekhyun berteriak sambil menunjuk wajah Kyungsoo, dan Kyungsoo hanya membalasnya dengan cengiran seolah tidak terjadi apa-apa.
"Dan kau menyetujui ide aneh tersebut." Kata-kata Luhan barusan berhasil membuat Baekhyun terdiam.
Semuanya terkekeh-kecuali Baekhyun tentu saja. Chanyeol tiba-tiba berjalan mendekati Baekhyun. Jemari panjangnya meraih surai hitam Baekhyun dan membenarkan letak jepitan rambut yang sedikit tergeser.
"Jangan melipat wajahmu seperti itu." Chanyeol berkata pelan tapi masih cukup keras untuk di dengar oleh Baekhyun dan tiga orang lainnya. Nafas hangat Chanyeol juga tidak sengaja menerpa wajah Baekhyun dan entah mengapa itu membuat Baekhyun gugup setengah mati. "Kau terlihat cantik hari ini."-dan Chanyeol melanjutkan kalimatnya.
Selama delapan belas tahun hidup Baekhyun tak pernah sekalipun ia merasa tersanjung saat seseorang mengatakan bahwa dia cantik, termasuk orang tuanya sendiri. Ia membenci siapa saja yang mengatainya cantik. Namun kali ini saat Chanyeol yang mengatakannya rasanya berbeda. Baekhyun tidak marah. Baekhyun merasakan jantungnya berdebar kencang, kupu-kupu kembali berterbangan di lambungnya, dan pipinya bersemu merah memanas. Baekhyun menyukainya saat Chanyeol menyebut dirinya cantik. Dan hanya Chanyeol yang boleh mengatakannya.
.
*O*
.
Chanyeol sedang berpikir akan meminta beberapa hari libur kepada bosnya saat ponselnya kembali berdering. Seperti terjalin sebuah koneksi, saat itu Baekhyun mengiriminya pesan dan mengajaknya untuk berlibur ke Pantai Sangju. Baekhyun mengatakan bahwa disana sedang diadakan sebuh festival budaya yang selalu diadakan setahun sekali.
Chanyeol sempat terlampau bahagia saat Baekhyun mengajaknya untuk berlibur dan sempat membayangkan akan menghabiskan waktu hanya berdua bersama Baekhyun. Tapi semua kandas saat Baekhyun menyuruhnya untuk mengajak Jongin dan Luhan karena ia sendiri juga akan mengajak dua sahabatnya, Kyungsoo dan Sehun.
Keesokan harinya, Chanyeol berangkat menuju kantor pusat untuk meminta cuti selama beberapa hari ditemani oleh Luhan. Tentu saja sebelumnya Chanyeol sudah menyampaikan rencana Baekhyun kepada dua rekan kerjanya itu. Dan sesuai prediksi Chanyeol, Luhan dan Jongin sangat menyetujui ide Baekhyun tersebut.
Bos mereka mengijinkan mereka untuk libur selama tiga hari dan menutup minimarketnya. Chanyeol tidak menyangka akan semudah ini meminta cuti kepada bos mereka. Mungkin si bos sedang berada dalam mood yang baik, pikir Chanyeol.
Mereka berenam berangkat keesokan harinya. Chanyeol memutuskan untuk menyewa sebuah minu bus yang mampu memuat mereka berenam sekaligus. Chanyeol dan Luhan akan bergantian menyetir karena hanya mereka berdua yang sudah memiliki surat izin mengemudi. Jarak Seoul dan Pantai Sangju tidak bisa dikatakan dekat. Itu membutuhkan waktu sekitar lima jam jika ditempuh dengan mobil.
Saat diperjalanan, Baekhyun terlihat sangat bahagia. Ia tidak berhenti bernyanyi dengan suara keras bersama Kyungsoo, Jongin dan Sehun. Chanyeol berulang kali menyuruh Jongin dan Sehun untuk diam agar tidak merusak duet indah BaekSoo namun sepertinya kata-katanya tidak pernah diindahkan.
Chanyeol menyetir disebelah Baekhyun. Chanyeol mendapatkan fakta baru bahwa lelaki yang lebih muda tidak suka duduk di jok belakang karna hanya akan membuatnya mual. Kalau sudah begini, Chanyeol tidak akan menyerahkan posisinya sebagai sopir kepada Luhan.
Mereka berhenti di rest area untuk makan siang. Chanyeol dan Luhan merasa seperti orang tua yang mengajak dan mengurus keempat anaknya saat berlibur. Setelah selesai makan, Baekhyun, Jongin, Sehun, dan Kyungsoo langsung berlarian mengitari seluruh wilayah rest area. Mereka berempat kembali mengahmpiri Chanyeol dan Luhan sambil membawa seekor anak anjing yang tersesat. Baekhyun merengek sambil menarik-narik kaos Chanyeol agar diperbolehkan membawa anjing itu ikut berlibur.
"Ayolah hyung.." Baekhyun masih menarik-narik baju Chanyeol menggunakan tangan kanan sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk menggendong anjing temuannya.
"Tidak bisa, Baek. Penginapan yang kita pesan tidak mengizinkan kita untuk membawa hewan peliharaan." Chanyeol mengatakannya dengan nada sayang sembari mengelus rambut Baekhyun.
Baekhyun menggembungkan pipinya, matanya mulai berkaca-kaca seperti ingin menangis. "Kalau begitu kita antarkan saja anjing ini pulang."
"Baek, aku ingatkan sekali lagi bahwa niat kita datang kesini untuk berlibur, bukan untuk melakukan kegiatan sosial seperti mengantarkan anjing yang tersesat." Luhan mengatakan kalimatnya dengan nada yang sedikit ditinggikan. Mungkin Luhan sudah jengah melihat tingkah kekanakan Baekhyun.
Sedangkan Baekhyun, ia semakin erat mencengkeram ujung baju Chanyeol. Chanyeol yang menyadari hal itu merasa bahwa sebentar lagi lelaki yang berada disampingnya ini akan benar-benanr menangis. Chanyeol dengan telaten mengusap kepala Baekhyun dan berulang kali membisikkan kalimat penenang. Ia sedikit berdebat dengan Baekhyun sebelum akhirnya memutuskan untuk menitipkan sang anak anjing pada ahjumma penjual ddeokboki yang berada dir east area. Baekhyun berpesan untuk merawat anjing tersebut dan ia berjanji akan mengambilnya saat mereka pulang berlibur.
.
.
Mereka sampai di penginapan pukul tiga sore. Sehari sebelumnya Chanyeol telah memesan dua kamar untuk mereka. Setiap kamar berisi tiga single bed. Jongin, Luhan, dan Chanyeol akan sekamar sedangkan Baekhyun akan satu ruangan bersama Kyungsoo dan Jongin.
Chanyeol memutuskan untuk berkeliling penginapan setelah ia merapikan seluruh barang bawaannya. Ia menuju ke halaman belakang yang langsung menghadap ke pantai. Disana ia melihat baekhyun sedang duduk di sebuah ayunan panjang sambil memajamkan matanya. Ia berjalan mengahmpiri Baekhyun perlahan dan mendudukkan dirinya tepat di samping Baekhyun. Baekhyun membuka matanya saat iya rasa bahwa ia tidak sendirian lagi sekarang.
"Sedang apa Baek?" Chanyeol menanyakan pertanyaan bodoh yang jelas-jelas ia sendiri tahu jawabannya. 'Baekhyun sedang duduk dan menikmati angin.'
"Emm…. Sedang duduk dan menikmati angin." Tepat sekali.
"Kemana Sehun dan Kyungsoo?" Chanyeol kembali bertanya untuk menutupi kebodohannya.
"Mereka sedang membeli beberapa makanan ringan di minimarket ujung jalan."
Chanyeol hanya ber'oh' ria untuk menanggapi perkataan Baekhyun.
Mereka kembali terdiam. Baekhyun kembali memejamkan matanya. Chanyeol berfikir apakah Baekhyun benar-benar lelah? Atau ia masih dalam mood yang buruk akibat kejadian anak anjing tadi? Chanyeol ingin menyuruh Baekhyun untuk beristirahat di kamar apa bila merasa lelah, tapi sesuatu yang mengejutkan terjadi pada Baekhyun.
"Astagah Baekhyun!" Chanyeol berteriak keras, ia sunggu panik.
Baekhyun terkaget dan langsung membuka matanya, "Ada apa?"
"Kau mimisan!"
Chanyeol berlari menyusuri koridor penginapan sambil membawa Baekhyun dalam gendongannya. Sebenarnya Baekhyun masih bisa berjalan sendiri, tapi karena Park Chanyeol yang terlalu berlebihan tidak mengizinkan ia berjalan. Chanyeol membuka pintu kamar Baekhyun yang kosong dan mndudukan Baekhyun di salah satu ranjang disana.
Chanyeol panik, ia berlarian kesana kemari untuk mencari tisu. Setelah menemukannya, ia bergegas memberikan tisu itu kepada Baekhyun.
"Tenanglah, hyung. Ini hanya mimisan." Ujar Baekhyun yang terlihat santai. Chanyeol dapat melihat air muka Baekhyun yang perlahan berubah memucat.
"Tapi kau mimisan sangat banyak Baek."
Chanyeol benar. Baekhyun mimisan dan mengeluarkan banyak darah. Bahkan baju Chanyeol juga hampir semuanya tertutupi oleh darah Baekhyun. Jadi bisa dibayangkan separah apa keadaan Baekhyun sendiri.
Setelah beberapa menit akhirnya Baekhyun berhenti mimisan. Chanyeol menyuruhnya mengganti pakaian dan beristirahat. Baekhyun juga menyuruh Chanyeol untuk kembali ke kamar dan mengganti pakaiannya yang terlihat mengerikan.
Chanyeol seperti merasa ada yang salah dengan Baekhyun. Jadi sebelum membuka pintu kamar Baekhyun dan berjalan keluar, Chanyeol sekali lagi menoleh untuk mengecek keadaan Baekhyun. Kecerugiaan Chanyeol bertambah saat melihat Baekhyun mengeluarkan beberapa kaleng obat berukuran kecil dari dalam tasnya.
.
.
.
TBC
Anyeong yeoreobeun :D
terimakasi sekali lagi buat yang udah baca ff aku, udah follow, nge-fav, sama yang kasi review :D
kira2 udah bisa kebaca belum konfilknya apa? XD
last but not least, RnR juseyo?
Hawkx: tenang, Baekhyun gak jadi bad boy kok hehe :D di korea umur 18th itu udah wajar buat minum bir dan ngerokok. jgn di korea, menurutku di indonesia juga -_- aku gak janji ya di chapter awal bakal bikin chanbaek bersatu ;_; miannnn
Maje Jannah 97: Baekhyun separuh sadar separuh enggak/?
followbaek: ini aku udah update fast :D
