I Saw Him Everyday [나는매일그를보고]
Cast: Park Chanyeol, Byun Baekhyun, and other EXO member
Pairing: ChanBaek
Length: Chaptered
Genre: BL/yaoi/boyxboy, romance, fluff, angst
Warning: typo, bahasa non baku
BAGIAN 3
Pikiran Chanyeol tidak pernah segusar ini. Chanyeol masih ingat wajah gugup Baekhyun saat ia menanyakan obat apa yang sedang Baekhyun konsumsi. Baekhyun menjawab itu hanya sebuah vitamin karena ia sering jatuh sakit karena kelelahan saat melakukan perjalanan jauh. Dan terima kasih atas ketololan yang dimiliki Park Chanyeol, karena ia langsung percaya begitu saja tanpa harus repot-repot mengecek label obat tersebut dengan mata kepalanya sendiri.
Sesaat setelah Chanyeol membuka pintu kamarnya, Luhan dan Jongin langsung memberondonginya dengan jutaan pertanyaan tentang apa yang telah Chanyeol lakukan. Jongin mengira Chanyeol baru saja memutilasi seseorang di halaman belakang penginapan karena begitu banyak darah yang menempel di bajunya.
Chanyeol menceritakan semuanya kepada Luhan dan Jongin, semuanya tanpa terkecuali. Bagaimana wajah Baekhyun terlihat pucat, bagaimana cara Baekhyun mimisan dan mengeluarkan banyak darah, bagaimana wajah gugup Baekhyun saat Chanyeol menanyakannya tentang obat yang Baekhyun akui adalah sebuah vitamin, dan perasaan tidak tenang Chanyeol yang menganggap Baekhyun tidak hanya sekedar kelelahan. Chanyeol bahkan menanyakan kepada Luhan kemungkinan penyakit apa saja yang diderita seseorang yang sering mimisan-walaupun Chanyeol baru sekali melihat Baekhyun mimisan. Dan dua jawaban terakhir dari Luhan membuat jantungnya berhenti berdetak untuk beberapa detik, kanker darah dan kanker otak.
"Jangan terlalu dipikirkan yeol, aku yakin Baekhyun hanya kelelahan." Luhan mencoba untuk menenangkan Chanyeol.
Chanyeol menghela napas panjang dan merebahkan dirinya di atas kasur sambil menerawang langit-langit kamarnya, "Entahlah hyung, aku ingin berfikiran seperti itu tapi perasaanku tetap tidak tenang."
"Menurutku Luhan hyung benar. Kau tahu sendiri kan semenjaka awal kita berangkat Baekhyun yang paling aktif diantara kita. Jadi wajar saja kalau dia kelelahan." Kali ini Jongin yang memberikan komentar.
Jongin bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamar mandi, namun sebelum membuka pintu kamar mandi Jongin berdeham dan sedikit menoleh menghadap Chanyeol. "Dan menurutku, sudah saatnya kau berhenti mengurusi hidup orang lain, hyung."
Chanyeol sebenarnya bukan tipe orang yang gampang ikut campur atau ingin tahu tentang kehidupan orang lain. Tapi itu semua tidak berlaku jika berhubungan dengan Baekhyun, lelaki yang lebih muda dan telah merubah hidup Chanyeol lebih dari setahun terakhir.
.
.
Chanyeol baru saja menginjak alam mimpinya sampai ia mendengar sebuah suara pintu yang diketok dari luar. Chanyeol sedikit meregangkan tubuhnya dan melihat kasur Luhan dan Jongin yang sudah tidak berpenghuni. Chanyeol melangkahkan kaki secara ogah-ogahan menuju pintu, ia benar-benar lelah karena harus menyetir selama lima jam tadi. Pintu terbuka dan menampilkan sosok Baekhyun di baliknya.
"Ayo melihat matahari terbenam, hyung."
Chanyeol mengiyakan ajakan Baekhyun dan menyuruh pemuda yang lebih pendek untuk masuk dan menunggunya bersiap-siap. Chanyeol memasuki kamar mandi untuk membasuh mukanya dan keluar dengan bertelanjang dada. Ia mengambil sehelai kaus yang berada dalam tasnya kemudian memakainya. Chanyeol bersumpah ia baru saja melihat wajah Baekhyun memerah. Ia sempat khawatir jangan-jangan Baekhyun terserang demam mendadak atau Baekhyun sedang menahan marah karena terlalu lama menunggu. Namun persekian detik terakhir Chanyeol memikirkan kemungkinan lain, bahwa Baekhyun malu melihatnya bertelanjang dada.
.
.
Chanyeol dan Baekhyun berjalan berdampingan menuju pantai. Disana sudah terdapat dua rekan kerjanya dan kedua sahabat Baekhyun. Chanyeol sempat menanyakan bagaimana keadaan Baekhyun dan dijawab dengan gelak tawa oleh lelaki yang lebih muda.
"Ayolah, hyung. Aku hanya mimisan. Jangan berlebihan, oke?"
Ya, Chanyeol bisa melihat itu. Baekhyun saat ini terlihat sangat baik-baik saja. Wajah Baekhyun tidak pucat lagi, ditambah dengan seyuman Baekhyun yang tidak lepas dari bibirnya.
Mereka berenam duduk bersila di pinggir pantai. Mereka menikmati mata hari terbenam sambil melemparkan beberapa gurauan yang kebanyakan berasal dari mulut Baekhyun. Saat langit sepenuhnya berubah menjadi gelap, Sehun dan Jongin memutuskan untuk membuat sebuah api unggun, Luhan kembali ke penginapan untuk mengambil beberapa makanan dan minuman, sedangkan Baekhyun, Chanyeol dan Kyungsoo membeli beberapa ikan segar hasil tangkapan nelayan yang berada di sekitar sana.
Makan malam mereka berjalan lancar seperti yang mereka inginkan. Hari ini Chanyeol mendapatkan fakta baru tentang Baekhyun. Baekhyun akan lebih sering menggunakan gigi depannya untuk mengunyah makanan dibandingkan gigi grahamnya.
Tidak ada yang lebih baik dari ikan bakar dan sekaleng bir di pinggir pantai-sekaleng cider untuk Kyungsoo, karena ia satu-satunya yang tidak bisa meminum bir disana. Mereka duduk melingkari api unggun, menikmati dinginnya hembusan angin yang bercampur hangatnya asap yang muncul dari api.
"Mungkin kita harus melakukan sesuatu." Usul Luhan, sepertinya ia mulai bosan jika hanya duduk memandangi api unggun.
"Ya, kembali ke kamar dan tidur." Chanyeol mengatakan itu lebih tepatnya untuk kepentingan Baekhyun, ia tidak ingin Baekhyun lelah.
"Demi Tuhan, hyung. Hidupmu sangat membosankan." Sindir Jongin.
"Bagaimana jika kita menceritakan kehidupan dan keluarga kita masing-masing?" kali ini Baekhyun yang memberi usul. "Terlebih tentang kehidupan dan keluarga kalian." Kalimat terakhir Baekhyun di tujukan untuk Luha, Jongin, dan Chanyeol karena memang Baekhyun belum lama mengenal mereka.
Dan semua setuju. Mereka satu per satu mulai menceritakan tentang kehidupan masing-masing, dimulai dari Sehun. Chanyeol dari awal memang tidak tertarik dengan kegiatan mereka saat ini. Ia merasa tidak punya kepercayaan diri yang cukup untuk menceritakan tentang kehidupannya, menurutnya tidak ada sesuatu yang dapat dibangggakan dari sana.
Sampai tiba saatnya giliran Baekhyun. Chanyeol mengehmbuskan asap rokok dari mulut dan membuang putung rokoknya. Ia kembali dari lamunan konyolnya dan memfokuskan seluruh perhatiannya untuk mendengarkan Baekhyun bicara.
Baekhyun terlihat sangat bahagia saat menceritakan tentang keluarganya. Baekhyun merupakan anak kedua dan ia memiliki seorang kakak laki-laki yang tak kunjung menikah. Baekhyun di besarkan oleh keluarga yang penuh kasih sayang. Walaupun bukan berasal dari keluarga kaya seperti Sehun, Baekhyun sudah cukup merasa bahagia-Baekhyun sendiri yang mengatakannya.
Baekhyun bercerita sangat lama. Chanyeol diam-diam menyimpulkan bahwa hobi kedua Baekhyun setelah bernyanyi adalah bicara. Tapi walaupun begitu Chanyeol tetap menikmatinya. Ia tidak pernah melewatkan satu huruf pun yang keluar dari bibir tipis Baekhyun. Chanyeol merasa hatinya menghangat saat mendengar Baekhyun bercerita, ia merasa lega karena Baekhyun dibesarkan di dalam keluarga harmonis dan bahagia. Namun disisi lain Chanyeol tersenyum getir, semakin jauh Chanyeol mengenal Baekhyun, rasanya semakin tidak pantas apabila ia bersanding disisinya.
"Hyung, sekarang giliranmu." Baekhyun menggoyang-goyangkan lengan Chanyeol dan itu membuat Chanyeol tersentak.
Chanyeol sedikit berdehem dan mengubuh posisi duduknya agar lebih nyaman sebelum mulai bercerita. Ia sempat berfikir untuk beberapa detik sebelum akhirnya melontarkan sebuah kalimat singkat.
"Aku memiliki seorang ayah, seorang ibu, seorang kakak perempuan dan seekor anjing yang mati karena terlindas oleh ban mobil ayahku." Dan kemudian hening..
"Hanya itu?" Kyungsoo bertanya dengan alis yang menyatu.
"Ya, hanya itu."
Hampir semua yang berada disana menggeleng tidak percaya, kecuali Luhan. Karena memang hanya Luhan yang mengetahui latar belakang keluarga Chanyeol dan semua masalahnya.
"Hyung tidak akan bercerita lebih?" Kali ini Baekhyun yang bertanya.
"Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku bertemu keluargaku. Aku sampai lupa bagaimana rasanya memiliki keluarga haha" Chanyeol menambahkan tawa canggung di akhir kalimatnya.
Sesaat kemudian Baekhyun berhambur memeluk tubuh Chanyeol dan mengatakan kalimat yang membuat dada Chanyeol serasa diperas.
"Tenang saja hyung. Kau telah mendapatkan keluarga baru sekarang." Baekhyun berbicara di perpotongan antara pundak dan kepala Chanyeol, membuat Chanyeol tiba-tiba lupa akan cara bernafas. "Aku akan setia menjadi dongsaeng-mu selama jutaan hari kedepan. Terus, terus, dan terus. Aku akan terus menjadi adik laki-laki mu sampai kau sendiri merasa bosan."
Lebih dari itu, Chanyeol menginginkan yang lebih dari itu. Semalaman Chanyeol memikirkan bahwa ia hanya akan menjadi kakak laki-laki bagi Baekhyu seterusnya.
.
.
Pagi ini adalah hari dimana festival budaya Sangju diadakan. Baekhyun terlampau semangat sampai-sampai ia bangun pukul 6 pagi, sedangkan festival baru dibuka pukul 10. Chanyeol mau tidak mau menemani Baekhyun berjalan-jalan di sekitar area penginapan karena keempat orang lainnya tidak mau waktu tidur mereka diganggu.
Mereka kembali satu jam kemudian dan melakukan sarapan bersama yang lainnya. Setelah itu mereka semua bersiap-siap dan berangkat menuju festival budaya Sangju. Disana telah terpampang puluhan stan makanan dan beberapa atraksi tradisional.
Entah sejak kapan mereka berenam berjalan terpisah dan menyisahkan Chanyeol dan Baekhyun yang berjalan sendirian. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Chanyeol langsung menarik Baekhyun menuju salah satu stan yang menyediakan permainan lempar gelang. Baekhyun merengek pada Chanyeol untuk melemparkan gelang mainan tersebut tepat pada barang yang ia inginkan, yaitu sepasang gelang Luois Vuitton hitam. Chanyeol hampir menguras seluruh isi dompetnya karena lemparannya tak kunjung mengenai sasaran. Baekhyun yang menyadari itu meminta Chanyeol untuk berhenti, namun lelaki yang lebih tinggi tidak mengindahkan ucapannya. Chanyeol hampir menyerah saat melempar gelang mainan terakhirnya, namun sepertinya Tuhan mulai mengasihinya karena gelang tersebut berhasil mengenai Louis Vuitton incaran Baekhyun.
"I told you. The moment you're ready to quit is usually the moment right before a miracle happens." Chanyeol mulai mengeluarkan kata-kata mutiara yang ia dengar di TV beberapa hari yang lalu, diam-diam ia bangga akan usaha kerasnya.
Baekhyun hanya terkekeh gemas sambil memandangi pergelangan tangan Chanyeol dan miliknya sendiri yang mengenakan gelang serupa.
Sudah hampir dua jam Chanyeol dan Baekhyun mengelilingi arena festival. Mereka sudah memainkan banyak permainan, memakan banyak makanan, dan tentu saja telah menghabiskan banyak uang. Dalam perjalanan Baekhyun terus menggandeng tangan Chanyeol dan menariknya kesana kemari. Ia tidak tahu bahwa sang namja raksasa berusaha sekuat tenaga untuk mengontrol dirinya agar tetap tenang dan terlihat biasa saja.
"Kita harus kesini lagi tahun depan." Baekhyun berkata dengan senyum mengembang.
"Aku berjanji kita akan kesini lagi tahun depan" 'hanya berdua' Chanyeol diam-diam menambahkan dua kata terakhir dalam hati.
"Kau harus menepati janjimu, hyung"
"Tentu saja." Saat itu Chanyeol mempererat genggaman tangan mereka dan mengaitkan jemarinya diantara jemari Baekhyun.
Untuk sekarang, Chanyeol tidak bisa merasa lebih bahagia dari ini.
.
*O*
.
"Apa lagi kali ini, Baek?"
Semenjak pulang dari Sangju, Baekhyun mulai memperlihatkan sosoknya yang lain. Baekhyun terlihat selalu dalam mood yang buruk, berbanding dengan Chanyeol. Hampir setiap hari Baekhyun akan datang membeli es krim di tempat Chanyeol.
Beberapa hari yang lalu Baekhyun datang ke mini market dengan mata berkaca-kaca. Ia bilang orang tuanya tidak mengizinkannya memelihara Carol (nama anjing yang tempo hari dipungut Baekhyun). Baekhyun sampai menyeret Chanyeol menghadap orang tuanya agar bisa membujuk mereka, dan hal itu berakhir dengan Carol yang terdampar di apartemen mini Chanyeol.
Baekhyun juga menjadi gampang uring-ringan perkara hal sepele. Seperti karena Sehun terlambat lima menit saat menjemputnya sekolah, Jongin yang tidak sengaja menginjak kakinya, atau saat Chanyeol lupa mengenakan gelang couple mereka. Chanyeol mengetahui itu semua karena-entah sejak kapan-Baekhyun selalu melaporkan kejadian yang dialaminya setiap hari pada Chanyeol.
Hari ini Baekhyun kembali datang ke minimarket. Ia datang bukan untuk membeli es krim stroberrry ataupun papero stick, ia datang untuk menemui Chanyeol. Baekhyun menghampiri lelaki yang lebih tua dengan muka tertekuk.
"Pulsaku habis, jadi aku tidak bisa mengirimi hyung pesan." Baekhyun berkata dengan suara rendah yang terdengar manja di telinga Chanyeol. Oh, jangan lupakan bibir Baekhyun yang juga mengerucut lucu.
"Hanya itu?"
"Kyungsoo mengkhianatiku." Baekhyun meremas ujung bajunya sendiri. "Ia lebih memilih pergi dengan si-sialan-Jongin dari pada denganku. Padahal ia sudah berjanji akan menemaniku menonton, dan parahnya aku sudah membeli dua tiket bioskop untuk Sabtu depan."
Chanyeol tersenyum, "Kau ingin aku menemanimu? Itu pun jika kau mau."
.
.
Chanyeol datang lima belas menit lebih awal dari janji yang dibuatnya dengan Baekhyun. Rencananya sore ini mereka akan menonton 'The Fault in Our Stars'. Chanyeol sudah mepersiapkan diri untuk membawa tisu, siapa tahu Baekhyun akan menangis nanti. Beberapa menit kemudian Baekhyun datang dengan penampilan yang membuat Chanyeol ternganga untuk beberapa detik, Baekhyun terlihat sempurna hari ini.
"Sudah lama menunggu?" Baekhyun bertanya.
"Tidak, aku juga baru saja tiba. Ingin membeli pop corn?"
"Tentu saja. Apa inti dari menonton di bioskop tanpa popcorn dan soda."
Mereka membeli dua cup popcorn ukuran sedang, segelas soda untuk Baekhyun, dan kopi untuk Chanyeol. Chanyeol khawatir jika nanti ia akan tertidur saat menonton, dan itu akan merusak pandangan Baekhyun tentang dirinya.
Mereka mulai memasuki teater saat seorang wanita mengumumkannya lewat speaker. Perkiraan Chanyeol benar, Baekhyun menangis sepanjang film di putar. Itu membuat usahanya untuk membawa sebungkus tisu dari rumah tidak sia-sia. Sedangkan Chanyeol sendiri, ia sekuat tenaga menahan diri untuk tidak tertidur walaupun iya sudah menghapiskan satu cup kopi berukuran sedang. Ia mulai meragukan apakah ia masih memiliki hati nurani atau tidak.
"Hyung, aku ingin mengunjungi Carol."
Baekhyun mengatakan itu sesaat setelah mereka keluar dari teater. Chanyeol berpikir sejanak. Hari belum terlalu malam jadi mungkin tidak apa-apa untuk mengajak Baekhyun keluar lebih lama.
Jarak bioskop dengan apartemen Chanyeol tidak terlalu jauh. Mereka hanya perlu menaiki bus satu kali selama lima belas menit.
Dulu Baekhyun sempat mengira bahwa Chanyeol adalah anak orang kaya yang menyamar sebagai pegawai minimarket, karena dari sisi penampilannya Chanyeol terlihat seperti putra bangsawan. Ia membayangkan bahwa Chanyeol akan tinggal di rumah atau apartemen serba mewah. Namun Baekhyun salah. Sekarang ia berdiri di dalam salah satu apartmen dari gedung yang hanya memiliki enam lantai. Apartmen Chanyeol merupakan apartemen mini yang hanya memiliki sebuah kamar. Walaupun begitu Baekhyun tetap menyukainya, karna entah mengapa ia merasa seperti berada di 'rumah'.
"Hyung.." Baekhyun memanggil Chanyeol sembari bermain bersama Carol
Chanyeol hanya membalasnya dengan gumaman.
"Menurutmu, bagaimana film yang kita tonton tadi?"
"Cukup bagus." Chanyeol menjawab dengan sedikit berteriak. Ia berada di dapur saat ini, membuatkan segelas coklat hangat untuk Baekhyun.
"Bohong. Aku tahu hyung sama sekali tidak fokus tadi."
"Jangan sok tahu, Baek. Aku benar-benar menonton tadi."
"Kalau begitu ucapkan salah satu dialog yang diucapkan oleh Augustus Waters!"
Chanyeol mulai berkeringat dingin, mana bisa ia mengingatnya? Chanyeol berpikir lama sekali sampai ia memutuskan untuk balik menyerang Baekhyun.
"Memangnya kau sendiri masi ingat salah satu dialognya?" Chanyeol menyerahkan secangkir coklat hangat kepada Baekhyun.
"Tentu saja." Baekhyun meminum sedikit coklatnya kemudian meletakkannya di atas meja.
Chanyeol mendudukkan dirinya tepat di sebelah Baekhyun. Entah kenapa Chanyeol merasa bahwa Baekhyun tengah menatapnya dalam, dan sesaat kemudian ia mendengar Baekhyun kembali berbicara.
"I'm in love with you, and I'm not in the business of denying myself the simple pleasure of saying true things." Baekhyun mengambil nafas satu kali dan mulai meraih tangan Chanyeol. "I'm in love with you, and I know that love is just a shout into the void, and that oblivion is inevitable, and that we're all doomed and that there will come a day when all our labor has been returned to dust, and I know the sun will swallow the only earth we'll ever have, and I am in love with you."
"Baek…."
Bukan bermaksud untuk terlalu percaya diri, tapi Chanyeol bersumpah bahwa tadi Baekhyun seolah mengucapkan semua kata-kata itu untuknya.
"Hyung..." Baekyun kembali berbicara, manik matanya kembali bertemu dengan milik Chanyeol.
"Sepertinya aku menyukaimu."
Selama ini Chanyeol tidak berani memimpikan akan datang hari dimana Baekhyun menyatakan perasaanya pada Chanyeol. Namun saat ini Chanyeol mendengar dengan sepasang telinganya sendiri bahawa beberapa detik yang lalu Baekhyun mengaataka ia menyukainya. Ini terasa seperti mimipi, dan Chanyeol mengerjap beberapa kali. Sampai ia menyadari bahwa ini bukanlah mimpi. Baekhyun sungguh-sungguh mengatakannya, dan fakta bahwa sekarang bibir mereka telah menempel entah sejak kapan dan siapa yang memulai duluan. Chanyeol mengecup bibir Baekhyun lembut, hanya sekedar kecupan sederhana yang mampu membuat keduanya merasa nyaman.
"I enjoy looking at beautiful people, and I decided a while ago not to deny myself the simpler pleasures of existence."
Baekhyun terkekeh pelan, "Ternyata kau memang benar-benar fokus menonton tadi."
Mulai saat itu, 'The Fault in Our Stars' akan menjadi film yang akan mereka kenang seterusnya.
.
.
.
TBC
a/n: maaf banget gak bisa update cepet -_- hehehe maaf lagi klo chapter ini kurang memuaskan dan terdapat banyak sekali typo :_:
oiya, aku juga mau terima kasih buat yg udah baca ff aku, yg udah kasi review, yg udah ngefav sama nge follow.. gamsahamnida *ngebungkuk 90 derajat*
dan jangan lupa bat review ya bagi yg belum XD yang udah juga sangat dianjurkan buat ngeriview lagi XD
followbaek: waaah terima kasih ya :D ntar sakitnya dikasi tau di chapter selanjutnya :p hehe ..
maaf bgt kemaren gak bisa fast update -_-
ChanBaekLuv: iya ntar aku bilangin ke Baek biar berobat biar sakitnya gak tambah parah/?
Majey Jannah 97: aku gk bisa janji ;_; btw makasi udah review XD
ByunCaBaek: aaa pintar wkwkw tp maaf gak bisa janji happy end, tergantung mood/?gk ahahah btw makasi udah review
caa: iya, Baek sakit ;_;
noname: makasi buat sarannya :D judulnya udah aku ganti hehe
parklili: iya enak bgt :_: aku juga pengen dikagumi sama Chanyeol/?plak
hunhan: waaaah makasi banyak udah review :D semoga suka sama kelanjutan ff nya
