I Saw Him Everyday [나는매일그를보고]
Cast: Park Chanyeol, Byun Baekhyun, and other EXO member
Pairing: ChanBaek
Length: Chaptered
Genre: BL/yaoi/boyxboy, romance, fluff, angst
Warning: typo, bahasa non baku
BAGIAN 4
Sudah satu minggu sejak Baekhyun mengungkapkan perasaannya kepada Chanyeol. Banyak hal yang berubah dari hidup keduanya, terlebih untuk Chanyeol. Ponsel Chanyeol kini lebih terlihat berguna dari biasanya. Ia mulai menggunakan fasilitas panggilan cepat dan meletakkan nomor ponsel Baekhyun pada angka nomor satu. Galeri ponsel Chanyeol kini hampir semuanya dihiasi oleh wajah Baekhyun. Chanyeol juga mulai aktif kembali bermain SNS dan sering membuat status gombalan yang ditujukan untuk Baekhyun. Chanyeol berfikir bahwa ia juga harus membagikan kebahagiaan yang ia rasakan kepada dunia, dan cara membaginya yaitu melalu status SNS. Sedikit kekanakan memang, namun Chanyeol tidak memperdulikannya. Ia dengan senang hati menunjukkan kepada dunia bahwa seorang Park Chanyeol yang notabennya hanya lelaki dengan banyak kekurang masih cukup beruntung untuk mendapatkan hati seorang Byung Baekhyun yang begitu sempurna.
Dulu Chanyeol selalu mebayangkan wajah Baekhyun saat ia merindukannya, atau memutar pesan suara dari Baekhyun berulang-ulang, tapi sekarang berbeda, Chanyeol bisa kapan saja menghubungi Baekhyun-kecuali saat jam sekolah-dan dengan bebas mengatakan 'aku merndukanmu' yang kemudian akan dibalas dengan kalimat 'aku lebih merindukanmu' oleh Baekhyun. Chanyeol juga mulai membangunkan Baekhyun setiap pagi. Kini Chanyeol mengetahui bahwa Baekhyun adalah tipe orang yang susah dibangunkan. Sudah dua kali Baekhyun tertidur di kamar mandi saat sedang bertelpon dengan Chanyeol yang berusaha membangunkannya. Di malam hari, Baekhyun akan membalas perlakuan baik Chanyeol di pagi hari dengan menyanyi kan lagu singkat untuk si bayi besar agar ia tertidur dengan mimpi indah.
Chanyeol akan lembur pada hari Senin dan Selasa karena ia selalu akan pulang lebih awal pada hari Rabu dan Kamis. Chanyeol selalu menyempatkan waktunya untuk menonton musikal Baekhyun yang diaadakan setiap Rabu dan Kamis, kemudia setelah musikal berakhir mereka berdua akan pergi makan ddeokboki di pinggir jalan dan Chanyeol akan menemani Baekhyun pulang sampai rumah dengan selamat.
Baekhyun pernah mengatakan pada Chanyeol bahwa kunci dari sebuah hubungan adalah komunikasi dan frekwensi bertemu yang memadai. Oleh karena itu ia mengusulkan untuk pergi kencan setiap akhir pekan. Awalnya Chanyeol menolak ide tersebut karena Baekhyun sekarang sudah berada di tingkat tiga Sekolah Menengah Atas, Chanyeol ingin Baekhyun lebih fokus belajar. Dan seperti yang sudah-sudah, Baekhyun akan merengek sampai keinginannya terpenuhi. Jurus itu sangat ampuh karena pada akhirnya Chanyeol mengatakan 'ya'. Di sisi lain, Chanyeol juga menyadari bahwa bertemu Baekhyun setiap Rabu dan Kamis atau menunggu sampai Baekhyun mengunjunginya di minimarket masih sangatlah kurang.
Chanyeol begitu terang-terangan memperlihat bahwa ia sedang memiliki hubungan khusus dengan Baekhyun-walaupun ia tak pernah secara langsung mengumumkanya. Hampir semua orang terdekatnya mengetahuinya. Ya, hampir. Karena di dunia ini masih ada orang setolol Kim Jongin yang bahkan sangat tidak peka terhadap lingkungannya sendiri.
"Chanyeol, kalian merubah susunan letak barang-barang disini?" Baekhyun bertanya sembari memberikan sebotol shampoo, pasta gigi, dan obat kumur untuk di hitung oleh mesin kasir Park Chanyeol.
"Sedikit, Luhan hyung yang melakukannya. Bagaimana? Kau suka?"
"Aku lebih suka tatanan yang lama."
"Haruskah aku merubahnya menjadi seperti semula?" Chanyeol kembali bertanya dan menyerahkan kantong belanjaan kepada Baekhyun.
"Tidak perlu, lama kelamaan aku akan menyukainya." Baekhyun mengeluarkan beberapa lembar uang dari sakunya kemudan berlalu meninggalkan Chanyeol namun sebelumnya ia telah memberi syarat yang terlihat seperti 'aku akan menelponmu nanti'.
"Kau terlalu pilih kasih hyung." Jongin tiba-tiba saja datang menghampiri Chanyeol.
"Maksudmu?" kening Chanyeol berkerut tanda ia tidak faham dengan pernyataan Jongin.
"Maksudku, aku tahu kau sangat sangat menyukai Baekhyun. Tapi apakah itu tidak terlalu berlebihan membiarkannya memanggilmu tanpa embel-embel 'hyung' sedangkan kalian sendiri berbeda usia lima tahun? Dan aku yang lebih lama mengenalmu bahkan tidak pernah mendapatkan kesempatan seperti itu." Jongin mengomel panjang lebar.
"Tentu saja mereka harus seperti itu. Mereka bahkan sudah berciuman, berpelukan berkali-kali dan memiliki gelang couple super mahal. Akan terdengar aneh jika mereka masih menggunakan sufik 'hyung' saat berbicara." Luhan memberikan penjalasan karena merasa teman kerjanya mulai menunjukkan tanda-tanda ketololannya.
"Maksudmu?" kali ini Jongin yang balik bertanya tidak mengerti.
"Jangan bilang kau belum mengetahuinya."
Jongin melempar tatapan bingung kepada Chanyeol dan Luhan secara bergantian. "Ya, aku belum mengetahuinya. Dan bisakah salah satu diantara kalian menjalaskan apa yang sedang terjadi disini? Sekarang juga."
"Baekhyun dan Chanyeol," Luhan berhenti sejenak untuk menambah kesan dramatis. "Mereka sudah berpacaran."
"Holy broccoli!" Jongin membelalakkan matanya tidak percaya. "Sejak kapan? Kenapa kau tidak pernah bilang kepadaku, hyung."
"Seminggu yang lalu. Dan perlu kau ketahui aku tidak pernah secara langsung mengumumkannya, termasuk pada Luhan. Peka lah, Jongin. Tidak semua hal di dunia ini perlu diumumkan."
"Jadi selama ini status yang kau pasang di SNS itu untuk Baekhyun? Bukan untuk Carol?"
"Kau gila." Chanyeol tidak habis pikir dengan jalan pikiran Jongin.
"Oh ayolah. Maksudku, bahkan sampai sekarang saat kau mengatakannya langsung, aku masih tidak percaya bahwa kau mampu mendapatkan orang sekeren Baekhyun, hyung."
Chanyeol membuang nafasnya kasar. Jangankan Jongin, dia sendiri masih kerap tidak percaya bahwa sekarang ia resmi menjadi kekasih seorang Byun Baekhyun. Belakangan ini selalu akan datang hari dimana Chanyeol sangat takut untuk pergi tidur. Ia takut bahwa semua yang dialaminya selama ini, bahwa menjadi kekasih Baekhyun hanyalah mimpi, dan setelah ia bangun dari tidurnya mimpi itu akan hilang dan Chanyeol kembali menjadi kakak laki-laki untuk Baekhyun.
.
*O*
.
Baekhyun sedang melangkahkan kakinya menuju apartement Chanyeol. Chanyeol memberikannya sebuah kunci cadangan apartement agar Baekhyun bisa kapan saja berkunjung kesana, tanpa harus menunggu Chanyeol pulang kerja. Chanyeol memberikannya kunci, karena memang apatement mini Chanyeol bukanlah apartement mewah yang dibuka menggunakan kode password atau gesekan dari sebuah kartu.
Baekhyun sering sekali berkunjung ke apartement Chanyeol. Ia akan menghabiskan waktunya untuk bermain bersama Carol atau mengerjakan kumpulan soal-soal sambil menonton TV, jika Baekhyun dalam mood yang bagus ia akan memasakkan makan malam untuk Chanyeol. Baekhyun sedang mempraktekkan resep sup yang diajarkan Kyungsoo tempo hari saat ia mendengar bel apartement Chanyeol berbunyi. Baekhyun sempat mengernyit, selama ia berkunjung kesini belum pernah sekalipun ia melihat Chanyeol mendapatkan tamu. Baekhyun perlahan membukakan pintu dan mendapati sosok wanita tinggi dan cantik sedang tersenyum ke arahnya dari balik pintu.
.
.
Perasaan Chanyeol tiba-tiba menjadi gelisah. Baekhyun sama sekali tidak membalas pesannya semenjak ia berjalan meninggalkan minimarket. Baekhyun juga sama sekali tidak mengangkat panggilan dari Chanyeol. Perasaan gelisah Chanyeol sangat beralasan karena sekarang ia mendapati mobil noona-nya terparkir rapi di depan gedung apartementnya.
Chanyeol berlari menuju lantai lima dimana apartementnya berada. Ia segera membuka pintu dan mendapati Baekhyun dan noona-nya sedang duduk berdua di sofa depan TV.
"Chanyeol, kau pulang."
"Apa yang noona lakukan disini?" Chanyeol bahkan tidak repot-repot menjawab perkataan baekhyun dan langsung menghampiri noonanya. Entahlah, menurut Baekhyun mata Chanyeol saat itu terlihat menakutkan.
"Mengunjungimu, tentu saja. Kau seperti hampir dua tahun tidak mengunjungi rumahmu sendiri."
"Ini rumahku."
"Well, rumah yang lain. Yang lebih besar."
Baekhyun tidak ingin menjadi pengganggu dalam debat yang tengah diadakan oleh kedua bersaudara tersebut. Ia dengan perlahan meninggalkan ruang TV namun sebelumnya ia sudah membungkuk sopan kepada keduanya-tentu saja tidak ada yang menyadari itu. Baekhyun kembali ke dapur, ketempatnya semula dan mendudukkan diri di kursi meja makan. Dari sana Baekhyun masih bisa mendengar dengan jelas apa yang Chanyeol dan Yoora noona perdebatkan.
"Adik kecil yang lucu, yeol." Yoora mengucapkannya sambil menambahkan sedikit smirk di wajahnya.
"Dia bukan adik kecilku."
"Temanmu? Tapi dia seperti terlalu muda untuk pria yang berusia 23 tahun."
"Bukan. Dia kekasihku, dan usianya baru menginjak 19 tahun bulan depan." Chanyeol mengatakannya dengan bangga seolah dia baru saja mendapat nobel penemuan teknologi terbaru.
Yoora awalnya kaget dengan pengakuan Chanyeol, ia tidak menyangka bahwa adik kesayangannya akan berkencan dengan seorang laki-laki. Namun di detik berikutnya ekspresi Yoora mulai melunak, seolah ia bisa memahami perasaan adiknya sendiri.
Baekhyun mendengar semuanya. Ia diam-diam tersenyum kecil saat mendengan Chanyeol tanpa rasa malu mengakui bahwa ia adalah kekasihnya.
Baekhyun juga mendengar beberapa perdebatan lain. Seperti Yoora noona sedang berusaha membuat Chanyeol pulang, atau saat Yoora noona mengatakan bahwa orang tua Chanyeol sangat merindukan Chanyeol. Chanyeol tentu saja tidak mau di suruh pulang begitu saja dan itu membuat perdebatan kakak beradik itu berlangsung semakin lama.
Baekhyun hampir saja tertidur di atas meja makan saat Yoora noona datang menghampirinya.
"Baekhyun.." Yoora noona memanggilnya dengan nada suara yang teramat lembut.
"Ne, noona?" Baekhyun langsung berdiri dari tempatnya dan menghadapkan dirinya untuk melihat ekspresi Yoora.
"Tolong kau jaga adikku yang keras kepala ini, dan kalau bisa tolong bujuk dia untuk pulang." Yoora berhenti sebentar untuk mengubah posisinya menghadap Chanyeol. "Dan kau Chanyeol, kau juga harus menjaga Baekhyun. Kau sangat beruntung memiliki kekasih setampan dia dan itu membuatku iri."
"Tanpa kau suruh pun aku akan melakukannya." Kata Chanyeol dingin, Baekhyun hanya tersenyum.
"Tapi tunggu dulu. Apa kalian tinggal berdua disini?" Yoora memberikan ekspresi yang sulit diartikan. "Omo omo, jangan bilang kalau kalian sudah…." Yoora tidak melanjutkan kalimatnya, tapi itu tidak membuat Chanyeol dan Baekhyun kesusahan menangkap maksud dari perkataan Yoora.
"Noona, dia masih sekolah. Aku tidak akan melakukan apa-apa padanya."
Baekhyun tersenyum miris, Baekhyun merasa dadanya sakit saat mendengar Chanyeol mengatakan kalimat terakhirnya.
"Aku hanya bertanya. Aku tidak melarang kalian untuk melakukannya." Yoora pergi berlalu meninggalkan dapur yang diikuti oleh Baekhyun dan Chanyeol. "Aku akan pulang dulu, jaga diri kalian baik baik."
Chanyeol mengantarkan kepergian noonanya sampai ke depan pintu apartement. Ia kembali memasuki apartement dan mendapati tatapan menusuk dari Baekhyun.
"Kau berhutang satu penjelasan padaku, Tuan Park."
.
.
Chanyeol tidak punya pilihan lain selain berkata jujur pada Baekhyun. Di sisi lain Chanyeol juga merasa bahwa sekarang adalah saat yang tepat untuk mengaku. Chanyeol menceritakan semua, mulai dari latar belakang keluarganya sampai mengapa Chanyeol kabur dari rumah karena tidak mau menjadi pewaris. Chanyeol juga mengatakan bahwa slah satu alasan yang membuat Chanyeol betah menjadi pegawai minimarket adalah Baekhyun, dan itu berhasil membuat wajah Baekhyun memerah sempurna akibat mendengarnya.
Baekhyun dengan sabar mendengarkan cerita hidup Chanyeol yang panjang. Ia bahkan tidak berani memotong pembicaraan Chanyeol dan memilih mengangguk-angguk tanda bahwa ia mengerti.
"Kau tidak marah?" Tanya Chanyeol tiba-tiba.
"Untuk apa aku marah?" Baekhyun malah balik bertanya.
"Kau tidak merasa seperti aku telah membohongimu?" Chanyeol tampak sedikit ragu saat mengucapkan kalimatnya.
"Kau tidak berbohong padaku Chanyeol, kau hanya belum mengatakannya. Lagi pula aku sudah mengira dari awal bahwa sebenarnya kau adalah anak orang kaya."
"Benarkah? Bagaimana bisa?"
"Aku bukan orang udik yang buta akan brand barang terkenal, Chanyeol. Dan setauku tidak ada orang biasa yang mengoleksi Swarovski Fila, Tanino Crisci, dan Stefano Bamer di dalam rak sepatunya." Baekhyun menyebutkan satu per satu merk sepatu Chanyeol. "Dan lagi, tidak ada karyawan mini market mana pun yang mengenakan Breguet saat bekerja."
Chanyeol hanya terkekeh dan memeluk gemas pinggang Baekhyun. Untuk kesekian juta kalinya, Chanyeol kembali bersyukur karena memiliki kekasih seperti Baekhyun. Awalnya ia mengira Baekhyun akan marah dan bertindak yang aneh-aneh, namun faktanya Baekhyun dengan memudah bisa mengerti posisi Chanyeol. Saat itu Chanyeol merasa bahwa Baekhyun selangkah lebih dewasa dibandingkan dirinya.
"Kau membuat sesuatu di dapur, Baek?" Chanyeol bertanya, ia ingat semenjak pulang tadi ia bisa menghirup aroma masakan yang berasal dari dapur.
"Hmm." Baekhyun mengangguk. "Aku membuatkan sup, Kyungsoo yang mengajarkannya padaku. Kau belum makan malam kan? Aku akan memanaskan sup sebentar karena mungkin sudah agak dingin."
Chanyeol beranjak dari sofa dan mengikuti Baekhyun menuju dapur. Ia mendudukkan dirinya di salah satu kursi meja makan sambil menunggu Baekhyun membawakannya semangkuk nasi dan sup buatannya. Ini lah suasana rumah yang selalu diinginkan Chanyeol. Setelah pulang kerja ia akan disambut oleh orang yang dikasihinya, kemudian akan mengahbiskan makan malam bersama.
Mereka menghabiskan makan malam dengan damai. Keduanya sesekali saling bercakap-cakap saat makan tanpa peduli tindakan tersebut melanggar etika makan atau tidak. Baekhyun, seperti biasa, akan melemparkan candaan lucu yang membuat Chanyeol tertawa, kemudian Chanyeol akan membalasnya dengan gurauan aneh yang tidak masuk akal dan akan membuat perut keduanya kram karena tertawa sambil makan. Mereka berdua bahagia. Tidak ada percakapan yang lebih menyenangkan dari percakapan hangat yang terjadi di atas meja makan.
"Baeki, ini ranselmu?" Chanyeol bertanya ketika ia mendapati sebuah ransel menggembung dengan ukuran sedang tergeletak disamping sofa.
"Ya, itu milikku. Aku akan menginap disini selama dua hari karena sekolahku libur. Apakah tadi aku sudah mengatakannya?" Baekhyun sedang berbicara dari arah dapur. Ia sedang mencuci piring bekas makan malamnya bersama Chanyeol, kebiasaan baru yang akhir-akhir ini sering Baekhyun lalukan.
"Kau belum mengatakannya."
Chanyeol membawa ransel Baekhyun ke dalam kamar dan meletakkannya di atas ranjangnya. Ini bukanlah pertama kalinya Baekhyun menginap di apartement Chanyeol, dan Chanyeol sendiri sudah mulai terbiasa dengan hal itu. Baekhyun biasa menginap di akhir pekan, biasanya ia akan menginap saat Chanyeol mengajaknya kencan hingga larut malam.
Baekhyun telah mencuci semua piring kotor. Ia mengelap tangannya yang basah kemudian menghampiri Chanyeol yang berada di dalam kamar.
"Ayo kita menonton film dulu sebelum tidur. Film yang kubawa kali ini sangat bagus." Baekhyun berkata sambil mengeluarkan kaset DVD dari dalam ranselnya.
Chanyeol melirik jam dinding kamarnya sejenak sebelum ia berbicara, "Ini sudah ajm 10 malam, Baek. Kau tidak lelah?"
Baekhyun hanya menggelengkan kepalanya kemudian berlari menuju ruang keluarga, ia memasukkan kepingan DVD ke dalam DVD player milik Chanyeol.
Mereka berdua duduk berdampingan di atas sofa, berhadapan langsung dengan televise. Chanyeol meluruskan kakinya dan bertumpu di atas meja, dan sebelah lengannya memeluk pundak sempit Baekhyun. Sedangkan Baekhyun meluruskan kakinya dan meletakkannya di atas betis Chanyeol-kaki Baekhyun tidak cukup panjang untuk mencapai meja, kepalanya ia sandarkan di dada bidang Chanyeol. Posisi yang sempurna. Baekhyun juga sudah memangku satu kotak tisu, berjaga-jaga jika ia menangis saat menonton.
Film mulai di putar. Mereka berdua menonton film keluaran 2009 yang berjudul My Sister's Keeper (menceritakan tentang seorang gadis yang berjuang melawan kanker dengan bantuan saudari hasil cloning dirinya). Seperti yang telah diprediksikan, Baekhyun menangis sepanjang film diputar. Chanyeol sampai tidak habis pikir dengan selera film yang dimiliki Baekhyun.
"Jadi definisi 'film bagus' menurut Byun Baekhyun adalah film yang mampu membuatmu menghabiskan setangah dari isi kotak tisu?" Chanyeol bertanya sarkastik.
Film sudah berakhir dan Baekhyun sudah berhenti menangis. "Moral value, Chanyeol. Moral value. Tidak bisakah kau menangkap pesan yang disampaikan dalam film tadi?"
Chanyeol hanya mengangkat bahunya. "Initinya kau menangis sepanjang film, dan aku yakin barusan lebih parah di banding saat kita menonton The Fault in Our Stars."
"Sebenarnya inti yang kucari bukanlah moral value atau aku yang menghabiskan setengah isi dari kotak tisumu, melainkan kau yang bahkan tidak berkaca-kaca selama film di putar." Baekhyun nyengir dan mulai berjalan meninggalkan Chanyeol menuju kamar.
Chanyeol juga berjalan menuju satu-satunya kamar yang berada di dalam apartementnya. Ia berniat menurunkan kasur ekstra dari atas lemari namun tangan mungil Baekhyun mencegahnya.
"Hari ini…. Kau jangan tidur di bawah." Baekhyun berkata malu-malu.
Chanyeol mengerutkan kening tidak mengerti. Biasanya, setiap Baekhyun menginap Chanyeol akan tidur di bawah sedangkan Baekhyun akan tidur di atas ranjang.
"Jadi kau menginginkanku untuk tidur di sofa?"
Baekhyun mengerucutkan bibirnya lucu. "Tidur bersamaku…. Di atas." Baekhyun menarik baju belakang Chanyeol ke arah ranjang dengan kepala yang masih tertunduk malu.
Mereka berdua berbaring berhadap-hadapan, saling berbagi kehangatan. Chanyeol berulang kali mengecup kening Baekhyun dan dibalas dengan kekehen pelan oleh lelaki yang lebih muda.
"Chanyeol, katakana padaku salah satu dialog yang kau ingat dari film barusan."
Chanyeol mulai mengerti kebiasan aneh Baekhyun tersebut. Setiap kali mereka selesai menonton film, Baekhyun akan menanyakan pertanyaan tentang dialog yang ada di film tersebut. Pernah sekali Chanyeol tertidur saat mereka sedang menonton A Grave for Fireflies yang menyebabkan ia tidak bisa menjawab pertanyaan Baekhyun. Keesokan harinya Baekhyun sama sekali tidak mengirimi Chanyeol kabar, dan berakhir dengan si lelaki raksasa membelikannya tiga cup jumbo es krim stroberry.
"You don't love someone because they're perfect. You love them inspite of the fact that they're not." Chanyeol berkata sembari mempereart pelukannya terhadap Baekhyun.
"Yes, we are." Baekhyun tersenyum kemudian ia berbicara, "When you care more of someone else lives than you do about yourself, is that what love's like?"
"Yes, it is, baby." Chanyeol mengecup singkat bibir Baekhyun. Baekhyun kembali tersenyum.
"I loved the way he smelled whenever his head dipped close to hear what I was saying-" Baekhyun mengatakannya sambil merentangkan tangan untuk meraih wajah Chanyeol, " –like the sun striking the cheek of a tomato, or soap drying on the hood of a car. I loved the way his hand felt on my spine. I loved." Baekhyun membalas kecupan singkat dari Chanyeol dengan ciuman lembut yang panjang. Ciuman itu semakin lama semakin menuntut.
Baekhyun menurunkan tangannya dari wajah Chanyeol menuju ke cardigan tipis yang Chanyeol gunakan di atas kausnya. Dengan tangan gemetar Baekhyun berusaha melepaskan cardigan tersebut dari tempatnya. Chanyeol menyadari hal itu dan dengan segera melepas tautan di antara keduanya. Jarak keduanya masih sangat dekat sehingga masih mampun untuk merasakan deru nafas memburu masing-masing.
"Apa yang kau lakukan, Baek?"
Baekhyun menghentikan kegiatannya. Tangan mungilnya masi mencengkeram cardigan Chanyeol dengan erat. Baekhyun mulai membenamkan mukanya pada dada bidang Chanyeol, tubuhnya bergetar.
"Kau…" Baekhyun berhenti sejenak untuk menstabilkan suaranya. "Kau seperti selalu menahan diri saat bersamaku, Yeolli. Aku tahu aku masih anak sekolahan, tapi kau tidak perlu berperilaku seperti itu. Itu menyakitkan melihatmu selalu berusuha menjaga jarak."
"Baek.." Chanyeol tidak tahu harus melakukan apa, ia hanya mengsap sayang punggung Baekhyun agar lelaki itu menjadi lebih tenang.
"Aku mencintaimu. Aku juga tau kau mencintaiku. Aku ini milikmu, Yeolli. Perlakukan aku sebagai kekasihmu." Tubuh Baekhyun masih bergetar, "Kau ingat bukan kalau bulan depan aku berumur 19 tahun, aku sudah dewasa."
Chanyeol bukanlah orang bodoh yang tidak mengerti maksud dari perkataan Baekhyun. Kekasihnya sedang berusaha menghilangkan gap 5 tahun di antara mereka.
"Baiklah. Aku akan melakukan semuanya. Apa pun yang kau inginkan." Chanyeol kembali mempertemukan bibir mereka, membawa Baekhyun ke dalam ciuman lembut yang menuntut. Chanyeol akan melakukannya, selembut yang dia bisa, sesuai yang baekhyun inginkan.
Malam itu, Chanyeol menjadikan Baekhyun miliknya. Dengan arti yang lebih dalam.
.
.
Keesokan paginya, Baekhyun bangun pukul 9 dan mengeluh pada Chanyeol bahwa sekujur tubuhnya sakit. Alhasil Chanyeol pada hari itu melayani Baekhyun bagaikan ratu. Ia membuat sarapan untuk Baekhyun dan menyuapinya di atas ranjang.
"Ini semua gara-gara kau, Chanyeol." Untuk ke tujuh kalinya Baekhyun mengucapkan kalimat yang sama.
Chanyeol hanya mendengus. Ingatkan lagi siapa yang memulai duluan tadi malam.
.
.
.
TBC
a/n: Anyeong yeoreobeun :))
ini chap4 nya udh di update hehehe..
terimakasih buat yg ngeriview, ngefollow, dan ngefav :D buat yang pgn kenal lbh dekat ayo saling kirim PM..
saya ini sebenernya ELF, tapi suka sama EXO & BTS -_-wkwkwk..
semoga puas dgn chap kali ini, maaf klo banyak typo -_-
jgn lupa tinggalkan review yaa..
Thanks to:
Putri, Rnine21, followbaek,EyebrowYes, sycarp, ByunCaBaek, Shouda Shikaku, Hawkx,
, Majey Jannah 97, fafifufefoo, nenehcabill, CussonsBaekBy, sjvixx
Thanks a lot, tanpa review dari kalian saya tidak akan sanggup menulis chap ini T^T
CussonsBaekBy: wah seneng sekali dapet review dr kamu XD dulu aku suka baca terus riview ff buatan km terus skrg km ngeriview punyaku :") terhuraaa
iya, itu kalimat dr ff yg nggak sengaja kau baca di akun wp :_: kalimatnya cocok bgt, kebetulan pas stuck, jd itu aku pake buat mancing kalimat selanjutnya/?
maaf ya klo misal bikin kurang nyaman :(
