I Saw Him Everyday [나는매일그를보고]
Cast: Park Chanyeol, Byun Baekhyun, and other EXO member
Pairing: ChanBaek
Length: Chaptered
Genre: BL/yaoi/boyxboy, romance, fluff, angst
Warning: typo, bahasa non baku
BAGIAN 5
"Orang tuaku mengundangmu untuk berkunjung, Yeolli."
Satu kalimat yang dilontarkan Baekhyun barusan mampu membuat Chanyeol seolah tersambar petir di siang bolong. Orang tua Baekhyun mengundangnya untuk berkunjung? Itu artinya Baekhyun sudah menceritakan tentang hubungan mereka kepada orang tuanya. Chanyeol sebenarnya sangat senang, itu artinya Baekhyun serius dalam hubungan ini. Tapi Chanyeol juga belum siap, ini terlalu cepat menurutnya. Ia tidak tahu bagaimana harus bersikap nanti, ia takut jika orang tua Baekhyun tidak akan menyukainya.
Sesuai kesepakatan, makan malam antara keluarga Byun dan Park Chanyeol akan di adakan tepat di hari ulang tahun Baekhyun. Chanyeol berdiri lama di depan cermin untuk memperhatikan penampilannya, malam ini ia lebih kesusahan dalam memilih pakaian dibandingkan saat ia pertama kali pergi kencan dengan Baekhyun. Akhirnya ia memilih untuk berpenampilan seperti biasa. Chanyeol mengenakan celana jins biru tua dengan kaus yang dibalut kemeja kotak-kotak berwarna merah. Tak lupa Chanyeol juga mengenakan jaket hitam favoritnya karenan menurut ramalan cuaca suhu malam ini akan sedikit dingin.
Chanyeol menekan bel rumah Baekhyun dengan sedikit gemetar. Ia gugup. Chanyeol menduga-duga siapa yang akan membukakan pintu untuknya, Tuan Byun? Nyonya byun? Atau kakak laki-laki Baekhyun? Chanyeol memang sudah sering bertatap muka dengan mereka, namun dengan status sebagai pegawai minimarket, bukan sebagai kekasih dari anggota keluarga termuda mereka.
Chanyeol bisa mendengar suara pintu yang terbuka, disusul suara langkah kaki yang menghampiri pagar. Baekhyun yang menyambutnya malam ini.
"Chanyeol, kau datang." Pekik Baekhyun girang. "Masuklah, orang rumah sudah menunggumu."
Baekhyun menyeret sebelah tangan Chanyeol untuk memasuki rumahnya. Sebelumnya Chanyeol telah memberikan sebuah kotak kue kepada Baekhyun. Saat di jalan Chanyeol menyempatkan diri untuk membeli sebuah kue ulang tahun di toko kue favorit Baekhyun.
Rumah Baekhyun adalah rumah sederhana yang memiliki dua lantai. Rumah ini ditata sangat apik oleh pemiliknya dengan memadu padankan berbagai warna. Chanyeol bisa melihat berbagai bantal kursi warna-warni yang tertata rapi di ruang tamu dan cat dinding yang berbeda warna pada setiap ruangan.
Baekhyun menyeret lengan Chanyeol hingga memasuki ruang makan. Chanyeol bisa melihat bahawa semua anggota keluarga Baekyun telah berkumpul disana. Baekhyun berdehem sebentar untuk mengambil perhatian keluarganya, mengisyaratkan bahwa Chanyeol sudah berada disana. Semua menoleh ke arah Chanyeol, sang lelaki raksasa dengen sopan membungkukkan tubuhnya dan memperkenalkan diri.
"Selamat malam. Perkenalkan, saya Park Chanyeol. Kekasih Baekhyun."
Baekhyun tersenyum, tiga orang di hadapan Chanyeol juga ikut tersenyum. Mereka mempersilahkan Chanyeol untuk duduk. Chanyeol duduk berhadap-hadapan dengan hyung Baekhyun, sedangkan Baekhyun duduk tepat di sebelahnya. Sekarang Chanyeol tahu, dari mana senyum lembut dan sikap ramah yang Baekhyun miliki berasal.
Suasana tak secanggung yang Chanyeol bayangkan. Semua anggota keluarga Baekhyun memperlakukannya dengan sangat baik. Ibu Baekhyun berulang kali memuji ketampanan Chanyeol dan menanyakan bagaimana Chanyeol bisa mendapatkan tubuh yang begitu tinggi. Ayah Baekhyun ternyata memiliki selera humor yang sama seperti Baekhyun, banyak lelucon yang terlontar dari bibir berwarna merah tua itu dan akan selalu di sambut gelak tawa dari seluruh penjuru ruang makan. Chanyeol bahkan beberapa kali hampir tersedak.
Makan malam telah usai, ibu Baekhyun keluar dari arah dapur sambil membawa kue ulang tahun yang berhiaskan lilin angka '19' pemberian dari Chanyeol. Semua bernyanyi menyanyikan lagu ulang tahun untuk Baekhyun. Baekhyun tersenyum, matanya menyipit seperti bulan sabit, dan Chanyeol menyukainya. Chanyeol menyukai senyum Baekhyun yang seperti ini, ia berharap seturasnya Baekhyun akan tersenyum seperti itu.
Baekhyun berdeham sebelum menyampaikan pidato ulang tahunnya. Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada orang tua dan hyungnya karena sudah menjaganya selama 19 tahun terakhir, ia juga berterima kasih kepada Chanyeol karena telah mau menjadi kekasihnya dan membuat ia bahagia, terakhir Baekhyun berterima kasih kepada Tuhan karena masih diberi kesempatan untuk merayakan ulang tahunnya yang ke 19 dengan suka cita.
Baekhyun mengajak seluruh anggota keluarganya dan juga Chanyeol meniup lilin ulang tahun dan membuat harapan bersama-sama. Kue di letakkan di tengah meja makan, semua orang memajukan badannya mendekati kue. Mereke terdiam dan memejamkan mata, mulai membuat harapan. Chanyeol berharap agar bisa berada di sisi Baekhyun dan membahagiakannya untuk selamanya. Baekhyun berharap bisa berada di sisi orang-orang yang dikasihinya selama yang ia bisa. Kedua orang tua Baekhyun dan hyungnya diam diam membuat harapan yang sama,
"Tolong izinkan Baekhyun kami untuk menikmati ulang tahunnya yang ke-20 dan seterusnya, Tuhan."
.
.
Chanyeol sedang duduk dan bercakap-cakap dengan hyung dan ayah Baekhyun. Mereka baru saja bertemu tapi Chanyeol sudah langsung merasa nyaman. Hyung Baekhyun dan dirinya ternyata memiliki kegemaran yang sama, yaitu bermain gitar. Genre musik yang mereka nikmati juga sama. Chanyeol mendengarkan perkataan ayah Baekhyun sambil sesekali melirik ke arah dapur. Disana ia bisa melihat Baekhyun yang sedang membantu ibunya mencuci piring bekas makan malam mereka, namun saat itu pula Chanyeol tidak sengaja mendengarkan percakapan mencurigakan di antara keduanya.
"Sudah biarkan saja, Baek. Biar ibu yang mencucinya." Ibu Baekhyun berkata sambil merebut piring kotor dari tangan Baekhyun. "Kau, cepatlah minum obatmu. Ibu tidak ingin melihat darah keluar dari hidung dan mulutmu."
Chanyeol mengerutkan keningnya, Baekhyun sedang sakit? Ia tiba-tiba saja tidak fokus dengan apa yang ayah Baekhyun katakana. Ekor mata Chanyeol mengikuti tubuh Baekhyun yang perlahan keluar dari dapur dan menaiki tangga menuju salah satu ruangan disana-Chanyeol menyimpulkan bahwa ruangan itu adalah kamar Baekhyun. Chanyeol kembali melamun lama, ia mencoba menerka-nerka apa penyakit yang sedang diderita Baekhyun. Chanyeol terkesiap dari lamunannya saat ia merasakan sepasang tangan mungil merangkul lehernya dari belakang.
"Chanyeol, ayo kita ke kamarku."
Baekhyun menarik salah satu lengan Chanyeol agar lelaki itu berdiri dari tempat duduknya. Sebelum melangkah menuju ke kamar Baekhyun, keduanya membungkuk hormat kepada semua orang yang berada disana. Baekboom-kakak Baekhyun-juga berpesan untuk tidak melakukan hal-hal aneh di atas dan hanya dibalas dengan tatapan tajam oleh Baekhyun.
Baekhyun membuka pintu kamarnya, Chanyeol bisa mencium wangi lavender menguar dari sana. Kamar Baekhyun sangat rapi, bahkan lebih rapi dibandingkan kamar Yoora-menurut Chanyeol. Kamar itu tidak terlalu besar, hanya berisi satu buah ranjang berukuran queen size, sebuah lemari pakaian dua pintu, satu set meja belajar, dan sebuah rak buku. Kamar Baekhyun di cat menggunakan warna biru laut-warna favorit Baekhyun, dan semua dekorasinya didominasi dengan warna putih.
Baekhyun mempersilahkan Chanyeol masuk dan menyuruhnya duduk. Setelah menutup pintu, Baekhyun mengikuti Chanyeol yang kini telah terduduk manis di atas ranjangnya.
"Baek?" Chanyeol membuka suara untuk memulai percakapan.
"Hmmm?"
"Kau sedang sakit?" Chanyeol bertanya to the point.
"Tidak, memangnya kenapa?" Baekhyun menjawabnya dengan sangat santai.
"Jangan berbohong padaku Baekhyun. Aku mendengar ibumu menyuruhmu untuk meminum obat tadi. Dan kau, sepertinya sering mimisan?" Kalimat terakhir Chanyeol lebih terdengar seperti pertanyaan dibandingkan pernyataan.
"Chanyeol, tolong jangan berlebihan. Aku memang sering mimisan akhir-akhir ini. Teman-temanku yang lain juga. Aku hanya kelelahan, kau tahu, akhir tahun pelajaran sangat menyiksa fisik dan batinku."
Chanyeol tak bergeming, ia masih merasa Baekhyun menyembunyikan sesuatu darinya.
"Kau serius?"
"Sangat. Dan masalah obat, itu hanya suplemen."
Entah kenapa Chanyeol tak memiliki kekuatan untuk bertanya lebih lanjut. Ia dengan berat hati harus mempercayai Baekhyun kali ini.
"Ngomong-ngomong, kau memiliki keluarga yang keren." Chanyeol berkata untuk menghapus keheningan yang sempat terjadi beberapa detik.
"Ya, mereka sangat keren. Aku sangat bersyukur dilahirkan di keluarga ini." Baekhyun tersenyum, tapi senyuman itu terlihat aneh di mata Chanyeol.
"Aku jadi tidak sabar untuk segera menjadi bagian dari keluar Byun"
Baekhyun tertawa. "Aku juga tidak sabar menanti hari itu tiba."
Mereka terlibat dalam percakapan yang sangat lama. Lagi-lagi Baekhyun membuat lelucon yang akan membuat Chanyeol tertawa keras, ibu Bakehyun bahkan sampai menggedor pintu kamar Baekhyun karna takut terjadi apa-apa pada keduanya.
Hari sudah larut, Chanyeol sebenarnya masih ingin berlama-lama bersama Baekhyun namun ia masih memiliki etika untuk tidak bertamu hingga larut malam. Chanyeol berpamitan kepada seluruh anggota keluarga Baekhyun dan mengucapkan terima kasih karena telah menyambutnya dengan baik. Setelah itu Baekhyun mengantarkan kepergiannya hingga depan pagar.
"Kau bisa menginap disini kalau kau mau." Baekhyun mengerucutkan bibirnya, seolah masih tidak rela jika Chanyeol harus pulang.
"Aku harus pulang, Carol menantiku di rumah." Chanyeol terkekeh. "Aku akan menghubungimu begitu aku sampai."
Baekhyun tersenyum. Detik selanjutnya Baekhyun berjalan selangkah mendekati Chanyeol, ia sedikit berjinjit untuk meraih wajah pria di hadapannya, kemudian memberikannya kecupan singkat.
"Hati-hati dijalan, Yeolli."
"Terima kasih. Kau juga, jagalah dirimu baik-baik."
Chanyeol baru melangkahkan kakinya beberapa kali sampai ia mengingat sesuatu, kado ulang tahun Baekhyun. Ia segera berbalik dan berlari kembali menghampiri Baekhyun, beruntung namja kecil itu belum menghilang dibalik pintu.
"Baekhyun!" Chanyeol berteriak untuk menghentikan langkah Baekhyun.
"Chanyeol? Ada apa? Ada sesuatu yang tertinggal?"
"Ya, kado ulang tahunmu."
Baekhyun mengerutkan keningnya bingung. Namun tak berapa lama Baekhyun mengerti apa yang dimaksud Chanyeol. Ia kemudian tersenyum girang sembari menengadahkan kedua tangannya ke depan dan berkata, "Mana?"
"Kau bisa mendapatkannya minggu depan, Baek." Chanyeol tersenyum jahil.
"Mwoya! Kau tidak membawanya?"
Chanyeol hanya terkekeh. "Aku akan menepati janjiku setahun yang lalu. Hadiah ulang tahunmu tahun ini adalah wisata gratis bersama Park Chanyeol ke pantai Sangju."
.
*O*
.
Pukul Sembilan pagi Chanyeol sudah bersiap di depan rumah Baekhyun. Sesuai janji, ia akan membawa Baekhyun berlibur hari ini. Tak lama kemudian pagar terbuka menampilkan sosok Baekhyun dibaliknya, Chanyeol sedikit terkejut melihat penampilan Baekkhyun pagi itu.
"Kau memotong rambutmu?"
Baekhyun mengangguk sambil menampilkan cengiran khas di wajahnya.
"Kenapa?" Chanyeol kembali bertanya.
"Kau tahu, masalah rambut rontok itu benar-benar membuatku gila. Jadi aku memotongnya agar rambut rontokku berkurang."
Chanyeol tahu bahwa Baekhyun memiliki masalah rambut rontok yang serius. Setiap pagi, saat Baekhyun menginap di rumah Chanyeol, Chanyeol akan menumakan bantal yang digunakan Baekhyun semalam dipenuhi oleh rambut. Chanyeol khawatir tentu saja, ia menanyakan kenapa rambut Baekhyun bisa rontok sebanyak itu, dan Baekhyun mengatakan ini semua akibat karena ia salah menggunakan shampo.
Chanyeol membukakan pintu mobilnya-mobil Kris, ia meminjammnya karena terlalu gengsi untuk pulang ke rumah dan mengambil mobilnya sendiri-dan mempersilahkan Baekhyun masuk. Chanyeol juga ikut memasuki mobil setelah menutup pintu yang berada di sebelah kiri Baekhyun. Perjalanan panjang selama lima jam akan dimulai.
Perjalanan kali ini terasa hening. Baekhyun tiba-tiba saja berubah menjadi pendiam, ia tidak berbica ataupun menyanyikan lagu seperti biasanya. Chanyeol benci suasana seperti ini.
"Baek? Kau sakit?"
Baekhyun menoleh dan menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Chanyeol.
"Lalu kenapa kau diam saja?"
Daripada menjawab pertanyaan Chanyeol, Baekhyun malah menanyakan hal lain, "Kau tidak menyukai rambut baruku?"
"Tentu saja aku menyukainya, hanya saja kau sudah tak terlihat cantik seperti biasanya."
Baekhyun tiba-tiba menatap Chanyeol tajam.
"Jangan memandangku seperti itu, aku bahkan belum menyelesaikan kalimatku." Chanyeol bertingkah seolah ia bergidik ngeri kemudian ia tersenyum lembut. "Kau malah terlihat sangat tampan, aku sampai takut kau akan menyaingi ketampananku." Chanyeol terkekeh di akhir kalimatnya.
Baekhyun kembali tersenyum, namun kemudian ia kembali diam. Chanyeol beberapa kali berusaha memulai percakapan namun Baekhyun selalu menjawab dengan singkat dan sebuah senyuman tipis. Pada akhirnya Chanyeol mendiamkan Baekhyun selama lima belas menit dan menemukan namja yang lebih muda tertidur bersandar di kaca mobil. Chanyeol memperthatikan wajah Baekhyun. Saat itu Chanyeol merasa sangat menyesal karena mengajaknya berlibur hari itu. Baekhyun tidak terlihat sehat, wajahnya sangat pucat.
.
.
Mereka sampai di penginapan lebih awal dari yang diperkirakan. Jalanan tidak sepadat saat mereka pertama kali berkunjung kesana, di tambah lagi kali ini tidak ada inseden Baekhyun-menemukan-anak-anjing-dan-merengek. Baekhyun sudah terlihat lebih segar semenjak mereka meninggalkan rest area untuk makan siang. Kali ini Baekhyun secara terang-terangan meminum beberapa butir pil di hadapan Chanyeol setelah makan siang. Dan seperti biasa, saat Chanyeol menanyakan obat apakah itu Baekhyun akan menjawabnya dengan kata 'suplemen'. Chanyeol yang penasaran mencoba meraih sebuah botol obat milik Baekhyun, berharap menemukan petunjuk. Tapi ia tidak menemukan apa-apa selain nama Baekhyun dan dosis konsumsi yang tertera disana.
Kali ini Chanyeol hanya memesan sebuah kamar dengan satu kasur di dalamnya. Sesaat setelah Chanyeol membuka pintu kamar penginapannya, Baekhyun langsung berhambur masuk ke dalam. Ia melemparkan ranselnya sembarangan ke arah kasur dan tak henti-henti berkeliling ruangan sambil terus menggumamkan kata 'daebak!'. Sepertinya Chanyeol merogoh kocek agak dalam untuk memesan kamar tersebut.
"Woah, Chanyeol lihat!" Baekhyun berteriak dari arah kamar mandi. "Bahkan bath up ini ukurannya sangat besar, kurasa bisa dimasuki untuk tiga orang."
"Tentu saja. Aku sengaja memesannya agar kita bisa mandi berdua." Chanyeol berguarau. Tak selang beberapa lama, sebuah gulungan handuk putih yang disediakan oleh penginapan berhasil mendarat di wajahnya.
.
.
Liburan kali itu berjalan sesempurna yang Chanyeol bayangkan. Mereka menikmati makan malam berdua di dekat dermaga. Chanyeol sudah mempersiapkan sebuah makan malam romantis di alam terbuka. Baekhyun terlihat menikmati semua perlakuan romantis yang Chanyeol berikan hari itu. Tak ada sedetikpun Baekhyun melepaskan senyum bahagia dari bibirnya.
Keesokan paginya, mereka pergi ke festival budaya seperti yang mereka lakukan tahun lalu. Mereka juga memainkan permainan yang sama. Kali ini Baekhyun merengek meminta Chanyeol untuk mendapatkan sebuah couple phone case untuknya. Dan sepertinya Chanyeol sedang beruntung, karena dengan sekali lemparan gelang Chanyeol sudah bisa mendapatkan couple phone case yang Baekhyun inginkan. Ia bahkan mendapatkan sebuah kalung infinity saat melakukan lemparan ketiganya.
Baekhyun dan Chanyeol memasang phone case masing-masing pada ponsel mereka. Mereka berdua terkekeh pelan, bertambah satu lagi barang couple yang mereka miliki. Setelahnya, Chanyeol memasangkan kalung infinity yang tadi ia dapatkan ke leher jenjang Baekhyun. Kalung itu memang didesain untuk wanita, tapi masih terlihat sempurna saat dikenakan oleh Baekhyun.
Mereka saling manautkan jemari mereka selama perjalanan mengitari festival, tak perduli akan tatapan menilai dari orang lain. Chanyeol bahkan tak segan-segan mengecup wajah Baekhyun di depan umum apabila namja yang lebih kecil terlampau membuatnya gemas, dan Baekhyun tidak kebaratan akan hal itu. Saat sampai di penghujung hari, mereka memutuskan untuk kembali ke penginapan dan bersiap-siap untuk pulang.
"Terima kasih Chanyeol, ini sangat sempurna." Baekhyun berkata saat mereka dalam perjalanan menuju penginapan.
Chanyeol memandang wajah Baekhyun, ternyata Baekhyun sudah menangis. "Sama-sama." Hanya itu yang mampu Chanyeol katakana sebelum ia memluk erat tubuh Baekhyun.
"Aku begitu mencintaimu, Chanyeol. Sungguh." Baekhyun sedikit mengontrol suaranya yang bergetar kemudian melanjutkan, "Kau membuat semuanya indah."
"Aku lebih mencintaimu, Baek. Dan bukan aku yang membuat semuanya indah. Semua menjadi indah karna ada kau di dalamnya."
Mereka berpelukan dalam waktu yang lama ditemani angin dan gemuruh ombak pantai sore hari.
.
*O*
.
Delapan belas bulan bersama Baekhyun terlewati begitu saja tanpa terasa. Baekhyun kini telah resmi menjadi mahasiswa SNU dan mengambil prodi Management Bisnis Internasional. Hal serupa juga terjadi pada kedua teman Baekhyun, Kyungsoo dan Sehun, mereka juga berhasil menembus ujian seleksi SNU dan memasuki prodi yang mereka inginkan masing-masing. Jongin juga mulai memasuki masa kuliahnya, ia lebih memilih Kyunghee dibandingkan SNU. Walaupun begitu, Jongin tetap bekerja di minimarket sebagai pekerja paruh waktu.
Tentu saja keberhasilan Baekhyun ini tak lepas dari usaha keras Chanyeol. Selama beberapa bulan terakhir Chanyeol menjelma menjadi tutor privat bagi Baekhyun. Bukan rahasia lagi jika Chanyeol memiliki otak yang gemilang, ia menyelesaikan kuliahnya selama dua setengah tahun. Termasuk waktu yang singkat. Chanyeol sangat professional dalam melaksanakan pekerjaan barunya, ia bahkan tak segan membentak Baekhyun jika namja kecil itu tidak serius dalam belajar. Baekhyun tidak marah saat Chanyeol membentaknya, ia sadar bahwa Chanyeol melakukan itu untuk membantunya. Namun ada saat dimana mood Baekhyun sedang buruk dan Chanyeol makin memperkeruh suasana.
"Berhenti bermain bersama Carol dan kerjakan soalmu, Byun Baekhyun." Chanyeol mengatakan kalimatnya dengan penuh penekanan dan nada yang ditinggikan.
"Ayolah, Chanyeol. Aku lelah, aku sudah mengerjakan soal-soal darimu selama satu jam penuh. Dan kau tahu aku selalu mendapatkan nilai sempurna. Jadi berhenti menyuruhku mengerjakan soal-soal bodohmu ini dan biarkan aku beristirahat!"
"Aku tahu kau pintar, tapi masih ada kemungkinan kau akan gagal saat tes jika sikapmu terus meremehkan seperti ini, Baek."
"OH!" Baekhyun berdiri dari tempat duduknya. "Jadi kau mendoakan ku agar gagal dalam tes?" Baekhyun melemparkan buku tulisnya ke wajah Chanyeol dan berlalu pergi meninggalkan apartement Chanyeol.
"Kau sangat meyebalkan! Dasar Park Chanyeol BODOH!" Baekhyun mengatakannya sambil menendang pintu apartement Chanyeol dari luar.
Keesokan harinya Baekhyun datang pagi-pagi ke apatement Chanyeol sebelum ia berangkat ke sekolah. Ia malu-malu menekan bel pintu apartement Chanyeol. Chanyeol membuka pintu dengan keadaan mata setengah tertutup, khas orang baru bangun. Tanpa dipersilahkan terlebih dahulu Baekhyun langsung masuk kedalam, meletakkan ranselnya kesembarang arah.
"Mandilah, Chanyeol." Baekhyun menginstruksikan.
Chanyeol hanya mengangguk dan menurut, saat itu nyawanya memang belum terisi penuh. Setelah ia mandi, ia dapat mencium aroma masakan yang berasa dari dapur. Baekhyun membuatkannya sarapan, dan meninggalkan secarik kertas di atas meja makan.
'Chanyeol, mianhe. Aku sungguh tak bermaksud keterlaluan kemarin. Tolong mengertilah emosi kekasihmu yang masih labil ini.
Sarangahe… habiskan sarapanmu!'
Chanyeol tertawa saat Baekhyun menyebut dirinya sendiri labil di dalam surat tersebut. Dan dengan kecepatan kilat, Chanyeol menghabiskan sarapannya. Sedangkan Baekhyun, ia terlalu malu untuk meminta maaf sehingga ia lebih memilih meninggalkan secarik kertas berisi permintaan maaf dibanding mengatakannya langsung.
.
.
Baekhyun seolah membawa energi positif dalam hidup Chanyeol. Semua berjalan membaik dengan adanya Baekhyun di sampingnya, termasuk hubungan Chanyeol dengan kedua orang tuanya. Baekhyun berulang kali menyuruh Chanyeol untuk berkunjung ke rumah orang tuanya sedniri, dan akhirnya Chanyeol menurutinya. Dan benar saja, semua perkataan Baekhyun benar bahwa semua tidak seburuk kelihatannya. Orang tua Chanyeol sangat bahagia begitu melihat Chanyeol pulang. Tidak ada makian dan nada bicara yang tinggi terlontar dari mulut kedua orang tuanya, tidak seperti yang selama ini Chanyeol pikirkan. Ayah Chanyeol pun mulai melunak, ia mulai membiarkan Chanyeol melakukan apapun yang ia inginkan, ia juga tidak memaksa Chanyeol kembali ke perusahaan dan menjadi penerusnya-walaupun keinginan itu masih ada, ayah Chanyeol mencoba menekan egonya demi kebahagiaan Chanyeol.
Chanyeol bahkan telah memperkenalkan Baekhyun kepada kedua orang tua dan kakak perempuannya. Ia mengajak baekhyun makan malam, sama seperti yang Baekhyun lakukan padanya dulu. Tidak membutuhkan kekuatan ekstra bagi Baekhyun agar seluruh keluarga Chanyeol menyukainya. Dengan kepribadian yang ramah dan ceria, siapa saja akan takluk di bawah pesona sorang Byun Baekhyun.
"Adeul, apakah kekasihmu sedang sakit?" kata ibu Chanyeol sambil berbisik. Saat ini Chanyeol dan ibunya berada di dapur sendirian untuk menyiapkan hidangan penutup.
"Tidak. Hanya saja daya tahan tubuhnya sangat lemah"
"Kekasihmu itu," ibu Chanyeol berkata sambil menata beberapa hidangan ke atas nampan yang sedang dibawa Chanyeol. "terlihat kurus dan pucat,"
"Ia memang selalu terlihat kurus dan pucat."
.
.
Di hari ulang tahun Chanyeol, Baekhyun akan selalu berkunjung dengan membawa sebuah kue ulang tahun berukuran sedang dan dihiasi oleh lilin-lilin kecil sejumlah umur Chanyeol di atasnya. Mereka akan makan malam bersama di balkon apartement Chanyeol yang tidak bisa dikatakan luas. Baekhyun akan memasak semua makanan kesukaan Chanyeol pada hari itu, dan Chanyeol dengan senang hati akan menghabiskan semuanya.
Baekhyun menyalakan lilin ulang tahun Chanyeol. Ia meletakkan kue tersebut di tengah-tengah meja agar mereka berdua bisa sama-sama meniup lilinnya.
"Chanyeol, apa harapanmu?" Baekhyun bertanya saat Chanyeol mulai memejamkan mata.
"Bukankah itu rahasia? Itu lah mengapa kita selalu mengucapkannya dalam hati."
"Kali ini, kita mengucapkannya sungguhan saja." Baekhyun meminta dengan mata berbinar, tentu Chanyeol tidak akan menolaknya.
"Aku berharap bisa merayakan ulang tahunku bersama Baekhyun tahun depan, dan berpuluh-puluh tahun depannya lagi." Chanyeol mulai mengatakan harapannya, ia menggenggam erat tangan Baekhyun.
"Aku berjanji akan terus menemani Chanyeol merayakan ulang tahunnya. Selamanya." Baekhyun tersenyum penuh arti.
.
.
Kadang Chanyeol berfikir bahwa Tuhan terlampau menyayanginya. Tuhan mengizinkan hidupnya berjalan mulus akhir-khir ini. Hubungannya dengan Baekhyun, pekerjaannya, dan hubungannya dengan keluarganya sendiri juga mulai membaik. Namun belum lewat satu jam setelah Chanyeol mengucapkan rasa syukur, sebuah mala petaka mulai mengetuk kehidupannya.
Chanyeol tahu bahwa kekasihnya memiliki sifat yang sedikit emosional-dalam arti mudah menangis. Chanyeol tidak mau menyebut Baekhyun cengeng. Namun tidak pernah Chanyeol melihat Baekhyun menangis seperti saat ini. Baekhyun berdiri di depan pintu apartement Chanyeol dengan keadaan menyedihkan. Seluruh tubuhnya basah akibat menerjang hujan, matanya memerah mengeluarkan air mata, tubuhnya bergetar-antara mengontrol tangisannya sendiri dan menahan dingin, dan isakan-isakan halus meluncur dari bibir kecilnya.
Chanyeol menyuruh Baekhyun masuk, ia menyuruh Baekhyun untuk mengganti pakaiannya yang basah. Baekhyun menurut tapi ia tetap menangis. Chanyeol membuatkan coklat hangat kesukaan Baekhyun dan Baekhyun meminumnya sambil tetap menangis. Chanyeol menanyakan kenapa Baekhyun bisa seperti ini, tapi lelaki yang lebih kecil tidak menggubrisnya dan tetap menangis.
Chanyeol hampir saja menyerah kalau saja ia tidak ingat masih memiliki tiga cup berukuran sedang es krim stroberry kesukaan Baekhyun di dalam kulkasnya. Baekhyun langsung berhenti menangis saat Chanyeol menyajikan ketiga cup es krim tersebut di hadapannya. Chanyeol baru saja akan menanyakan sesuatu saat Baekhyun memakan suapan terakhir dari es krimnya, tapi Chanyeol terlambat karena Baekhyun kembali menangis tanpa mau memberitahukan alasannya.
Malam itu Baekhyun tertidur dalam pelukan hangat Chanyeol. Chanyeol menyadari bahwa tubuh Baekhyun yang ia peluk saat ini berbeda dengan saat pertama kali ia memeluknya, Baekhyun lebih kurus. Chanyeol mengusap sayang rambut Baekhyun yang akhir-akhir ini di selalu potong pendek.
"Apa yang terjadi denganmu, Baekhyun?" Chanyeol mengatakannya sebelum akhirnya ikut tertidur bersama Baekhyun.
Di tengah malam, Baekhyun mengigau tanpa sepengetahuan Chanyeol.
"Aku mencintaimu, Chanyeol. Sangat mencintaimu." Tetesan air mata ikut keluar mengiringi kalimat yang diucapkan Baekhyun.
Keesokan paginya Chanyeol mengantarkan Baekhyun pulang. Baekhyun tetap tidak mau bicara, ia hanya menggenggam erat tangan Chanyeol. Sesampainya di depan pagar, Baekhyun berbalik menghadap Chanyeol dan tersenyum.
"Terima kasih." Ucapnya lembut.
"Katakan padaku jika terjadi sesuatu padamu, Baek."
Baekhyun hanya mengangguk. Ia mendekat ke arah tubuh Chanyeol dan mulai mengecup lembut bibir raksasa tersebut. Chanyeol bisa merasakan bibirnya basah, bukan karena saliva melainkan air mata. Baekhyun kembali menangis di dalam ciuman panjang mereka.
"Chanyeol aku mencintaimu, jagalah dirimu baik-baik." Itu adalah kata-kata terakhir yang diucpkan Baekhyun sebelum tubuhnya menghilang di balik pintu.
Di sepanjang perjalanan pulang Chanyeol terus memikirkan kemungkinan apa yang membuat Baekhyun menangis semalaman dan apa arti di balik ciuman penuh air mata barusan. Dan dari semua kemungkinan yang dapat Chanyeol pikirkan, tak sekali pun terbesit dipikirannya bahwa ciuman tersebut adalah ciuman perpisahan yang diberikan Baekhyun kepadanya.
.
.
.
TBC
a/n: Maaf karena telat update buat chap ini -_- kayaknya di chap ini isinya agak padet dan terkesan dipaksakan/? aku sampe takut klo readerdeul bakal bosen bacanya :(( mian ya buat chap ini karena tidak seberapa memuaskan dan seperti biasa banyak typo, saya akan mencoba lebih keras di chap selanjutnya '-')9
buat yang tanya tentang penyakit Baekhyun kapan terbongkar, kayaknya di chap depan udah mulai ketahuan.. klo enggak ya berarti chap selanjutnya/?-_-
dan terakhir, terima kasih buat yg udh support ff ini melalui review, follow, maupun fav. :D dan tolong jgn berhenti ngereview ya hehe gamsaa
Thanks to:
, followbaek, Shouda Shikaku, kacangpolongman, CussonsBaekBy, park baekyeol, rillakuchan, Nenehcabill,
Chanbaekluv, Putri, hunhan, ByunCaBaek, Majey Jannah 97, isyarahfeni, PrincePink, Guest1.
Thanks a lot T^T tanpa kalian ff ini gak akan berlanjut T^T
