I Saw Him Everyday [나는매일그를보고]


Cast: Park Chanyeol, Byun Baekhyun, and other EXO member

Pairing: ChanBaek

Length: Chaptered

Genre: BL/yaoi/boyxboy, romance, fluff, angst

Warning: typo, bahasa non baku


BAGIAN 6

Baekhyun menghilang bagai ditelan bumi. Awalnya Chanyeol mengira bahwa Baekhyun hanya lelah karena menangis semalaman, jadi dia tak sempat mengabari Chanyeol seharian. Tapi kata sehari berkembang menjadi seminggu.

Chanyeol sudah berulang kali mencoba menghubungi Baekhyun namun ponsel lelaki tersebut selalu tidak aktif. Lebih dari itu, bahkan rumah Baekhyun pun seolah tidak berpenghuni. Pernah suatu hari Chanyeol mencoba untuk menunggu seharian di depan rumah Baekhyun, berharap akan ada seseorang yang keluar dari sana dan memberikan informasi, namun hasilnya nihil. Tak ada seorang pun yang keluar, bahkan lampu rumah Baekhyun tak menyala. Apakah keluarga Byun sudah pindah?

"Mungkin dia ingin putus denganmu, Chanyeol."

Mimik wajah Chanyeol menegang seketika setelah mendengar perkataan Luhan. Putus? Apa yang telah Chanyeol perbuat sehingga Baekhyun ingin putus dengannya.

"Jangan bercanda, hyung. Jika dia ingin putus denganku, dia pasti akan mengatakannya."

"Dia meninggalkanmu tanpa sebab itu artinya dia mengatakannya, secara halus."

"Tidak mungkin." Chanyeol mengusap wajahnya gusar, "Mungkin saja dia sedang sibuk bersama keluarganya dan tak sempat menghubungiku."

"Well, itu hanya menurutku saja. Tapi aku sangat yakin kali ini. Kita tunggu sampai dua minggu, jika dia masih tidak menghubungimu, itu artinya kau benar-benar dicampakkan Park Chanyeol."

Kemudian Luhan berlalu seraya menepuk pundak Chanyeol seolah mengatakan kata 'semangat'.

.

.

Chanyeol megikuti perkataan Luhan, ia menunggu selama dua minggu. Dan pada hari terakhir Chanyeol mendapatkan sebuah jawaban, bahwa Baekhyun benar-benar mencampakkannya. Hati Chanyeol masih belum mampu menerima kenyataan itu. Oleh sebabnya setiap hari Chanyeol masih mencari tahu dimana keberadaan Baekhyun dan berencana meminta penjelasan langsung dari lelaki yang lebih muda, dan sampai saat itu tiba, Chanyeol akan tetap menganggap Baekhyun sebagai kekasihnya.

Satu bulan. Sudah satu bulan hidup Chanyeol berantakan. Ia tidak melihat penyemangat hidupnya selama satu bulan dan itu membuatnya tersiksa. Chanyeol tidak ingin makan dan waktu istirahatnya terkuras hanya untuk mencari Baekhyun. Chanyeol bahkan hampir melaporkan Baekhyun ke polisi agar dimasukkan ke daftar orang hilang jika saja Luhan tidak mencegahnya. Chanyeol masih setia menunggu di depan rumah Baekhyun hingga larut malam, pergi ke tempat yang biasa Baekhyun kunjungi, dan mencari di Universitas. Kabar terakhir mengatakan bahwa Byun Baekhyun mengambil cuti kuliah selama dua semester. Chanyeol tidak bisa lebih hancur dari pada ini.

"Oh ayolah kawan, kau hanya dicampakkan oleh seorang bocah kuliahan biasa. Kau bisa mencari yang lebih dari Baekhyun." Kris menyampaikan pendapatnya. Kini ia dan Luhan sedang menemani sahabat tercinta mereka yang sedang rapuh untuk menikmati beberapa botol soju. Kris dan Luhan memang sedang dekat saat ini, entah sejak kapan, mungkin mereka sudah berkencan dan Chanyeol terlampau tidak peduli dengan hal semacam itu.

"Jaga ucapanmu Kris. Baekhyun bukan bocah kuliahan biasa seperti yang kau katakana." Chanyeol menenggak segelas soju untuk yang kesekian kalinya sambil tetap memandangi foto Baekhyun yang ada di ponselnya.

"Aku akan mengenalkanmu pada seseorang." Usul Kris lagi.

"Tidak perlu."

"Aku akan tetap mengenalkanmu."

Chanyeol tidak menggubris perkataan Kris. Ia masih sibuk memandangi ponselnya, kali ini dia membaca pesan-pesan yang pernah dikirimkan oleh Baekhyun. Ia tersenyum sendiri saat membaca, ia rindu Baekhyun yang setiap menit selalu mengiriminya pesan singkat. Chanyeol rindu bagaimana suara parau Baekhyun saat pagi hari-khas orang bangun, ia juga merindukan suara merdu Baekhyun yang akan menyanyikannya lullaby sebelum tidur. Dan tanpa Chanyeol sadari ia sudah menangis dari tadi.

Malam itu Chanyeol menghabiskan enam botol soju seorang diri. Luhan dan Kris harus mau bersusah-susah membopong tubuh raksasa Chanyeol menuju apartementnya, ditambah lagi Chanyeol yang meronta tidak jelas dan meminta untuk diantar ke rumah Baekhyun saja.

Chanyeol bangun dengan kepala pening keesokan harinya. Semalam, lagi-lagi ia bertemu Baekhyun dalam mimpinya. Ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Di dalam, seperti biasa, ia memutar pesan suara dari Baekhyun berulang-ulang hingga dia bosan. Chanyeol kemudian menuju dapur untuk memakan sarapnnya, segelas susu stoberry kesukaan Baekhyun dan dua lembar roti panggang yang ternyata juga kesukaan Baekhyun.

.

.

Kris dan Luhan ternyata benar-benar bersemangat untuk membantu teman mereka move on. Setiap hari mereka akan datang dengan daftar nama-nama lelaki tampan, kadang bahkan wanita, di tangan mereka. Chnayeol tentu saja tidak bisa menolak itikat baik sahabatnya karena mereka mengancam akan melaporkan bagaimana kacaunya keadaan Chanyeol sekarang sehingga orang tua Chanyeol akan memaksa Chanyeol pulang.

"Siapa lagi yang kau bawa kali ini, hyung?" Chanyeol bertanya pada Luhan yang terlihat berjalan dengan mata berbinar ke arahnya.

"Ini Suho, Yeol. Kau harus mendapatkannya, dia itu seperti Jackpot!"

"Jackpot?"

"Ya. Dia tampan, baik, dan kaya. Keluargamu juga pasti akan menerimanya karna aku yakin dia anak dari salah satu rekan bisnis ayahmu."

Chanyeol mengerutkan keningnya. Luhan selalu menyebutkan tiga kata tersebut, 'tampan, baik, dan kaya'. Dan terakhir yang Chanyeol dapat dari lelaki yang Luhan bilang 'tampan, baik, dan kaya' adalah seorang pria berperawakan sangar dengan tatapan menyeramkan ditambah lagi dengan sifat manja berlebihan yang tersembunyi di balik tampang sangarnya itu.

"Terserah apa katamu." Chanyeol kemudian berlalu meninggalkan Luhan yang ia yakini sedang meneriakkan alamat café untuk kencan butanya.

.

.

Chanyeol keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan sebuah handuk kecil. Ia berjalan menuju dapur, membuka lemari es dan mengeluarkan sekaleng hite. Chanyeol baru saja membuka membuka penutup kaleng saat bel apartementnya dibunyikan dengan tidak sabaran oleh seseorang. Dengan langkah ogah-ogahan Chanyeol membuka pintunya dan mendapati Luhan dan Kris dibaliknya. Chanyeol baru saja ingin menyapa mereka namun tangan Luhan dengan kasar mendorong dada Chanyeol hingga ia tersungkur kebelakang.

"Kau!" Luhan membentak Chanyeol dengan suara menggelegar dan muka yang memerah menahan marah. "Berhentilah mempermalukanku, dasar bodoh!"

Luhan hampir saja melayangkan tinjunya ke muka Chanyeol jika saja Kris tak menahan tangannya dan mengangkat tubuh kecilnya memasuki apartement Chanyeol. Chanyeol masih tidak mengerti dengan situasi ini, tanpa banyak berfikr ia langsung menutup pintu dan berlalu menyusul kedua sahabatnya.

"Jadi sebenarnya ada apa?" Chanyeol bertanya.

Luhan masih berusaha mengontrol emosinya, setelah dirasa cukup stabil ia pun mulai membuka suara.

"Kau meninggalkan Suho begitu saja di café? Kau hanya menghampiri Suho dan mengatakan bahwa kau sudah memiliki kekasih dan kemudian pergi, kau letakkan dimana otakmu Chanyeol?"

"Aku memang sudah memiliki kekasih."

"Berhenti bersikap delusional, Chanyeol. Baekhyun sudah meninggalkanmu dan ini bahkan sudah lebih dari tiga bulan!" Luhan kembali meninggikan suaranya. "Aku masih mencoba sabar saat kau memperlakukan Tao, Xiumin atau Zelo dengan sangat tidak sopan. Tapi ini Suho, Yeol. Demi Tuhan, apa yang kurang dari dia? Dia bahkan seumuran denganmu."

Chanyeol memejamkan matanya menahan pening. Ia tahu kemana alur pembicaraan ini akan berjalan. Dan secara tidak langsung emosi Chanyeol mulai tersulut semenjak Luhan mengatakan bahwa keeksistensian Baekhyun adalah delusional. Chanyeol kemudian perlahan membuka matanya yang memerah.

"Ini bukan tentang yang lebih tua, seumuran, atau yang lebih muda. Ini bukan tentang siapa yang lebih kaya atau siapa yang lebih tampan." Chanyeol berucap seraya menstabilkan suaranya yang mulai bergetar. "Ini tentang yang menyeimbangkan hidup dan yang bisa berjalan beriringan. Yang memberi kedamaian di hati, kenyamanan di sisi, dan kasih sayang tiada henti."

"Yeol.." Kris mencoba meraih pundak Chanyeol yang bergetar seperti akan runtuh.

Chanyeol tak bergeming. Ia masih menatap mata Luhan lekat-lekat seolah memberi penjelasan tentang semuanya. Sedangkan yang ditatap mulai merasa gusar.

"Ini tentang Baekhyun, Lu." Chanyeol bahkan tak repot-repot menambahkan sufik hyung saat menyebut namanya. "Baekhyun yang selalu tertawa bersamaku, saling mensuport mendoakan satu sama lain, berbicara lepas tanpa batas tak peduli itu pantas atau tidak. Ketika dunia begitu kejam, Baekhyun selalu menjadi tempat untukku pulang. Baekhyun yang membuatku sangat sabar dan berusaha mengerti meski sulit. Baekhyun yang menerimaku apa adanya meski aku cuma seadanya."

Semua yang ada di ruangan itu tercengan mendengarkan kata-kata melancholies dari bibir Chanyeol. Dan yang lebih parah lagi, sekarang Chanyeol sudah mulai menangis hingga jatuh terduduk di atas lantai.

"Aku tahu wajah Baekhyun mungkin tak setampan Suho, tapi kebersamaan dengannya itu sesuatu yang aku yakin harus aku perjuangkan." Chanyeol tersenyum getir saat mengucapkan kalimatnya.

"Chanyeol, maafkan aku." Luhan ikut terduduk memeluk tubuh Chanyeol yang bergetar. "Maafkan aku, aku tidak akan menyuruhmu melakukan kencan buta lagi." Chanyeol bisa merasakan bahwa tubuh Luhan juga bergetar, mungkin dia juga ikut menangis.

Chanyeol hanya mengangguk, namun kemudian Chanyeol melepaskan pelukan mereka setelah mendengar perkataan terakhir dari Luhan.

"Tapi sebelumnya kau harus datang menemui Yixing besok. Dia orang yang baik. Aku sudah membuatkanmu janji dengannya dan aku tidak mau membatalkannya."

Kris hanya menatap kekasihnya tidak percaya.

.

*O*

.

Chanyeol mengikuti kemauan Luhan, berhubung ini adalah kecan butanya yang terakhir, Chanyeol akan meluangkan waktunya sebentar untuk sekedar berbagi sopan santun pada siapapun teman Luhan itu.

Ternyata Luhan benar, Yixing orang baik. Sesaat setelah Chanyeol mulai mengebrol dengannya, ia merasa cocok dan alur pembicaraan mereka searah. Hobi mereka sama, yaitu bermain gitar. Dan Yixing adalah tipe pendengan yang baik, sangan cocok dengan kepribadian Chanyeol yang sesungguhnya sedikit berisik dan keras kepala.

Chanyeol mulai sedikit bersalah pada Luhan. Mungkin memang selama ini semua orang yang coba Luhan perkenalkan kepadanya adalah orang baik, hanya saja Chanyeol tidak mau mendengarkannya.

.

.

Chanyeol mulai berteman dengan Yixing. Ya , hanya berteman karena Chanyeol telah mengatakan pada Yixing bahwa ia sudah memiliki kekasih. Dan Yixing sama sekali tidak keberatan dengan hal itu. Mereka berdua bahkan sering bertukar pesan singkat atau minum kopi berdua di kedai kopi pinggir jalan, kedai kopi yang sama yang menjadi favorit Baekhyun dan Chanyeol untuk pergi kencan.

Hari ini Chanyeol mengundang Yixing untuk berkunjung ke apartement mininya. Ia berfikir bahwa mereka sudah berteman cukup dekat hingga ia memutuskan sudah saatnya mengundang Yixing untuk berkungjung.

Chanyeol membuka pintu apartementnya dan mempersilahkan Yixing masuk. Ia memsuki kamarnya untuk berganti pakaian dan membiarkan Yixing menjelajahi apartement sempitnya. Yixing berhenti di sebuah meja yang terdapat banyak frame foto di atasnya. Yixing mulai menganalisa, ia berfikiran bahwa laki-laki manis yang mendominasi semua foto disana adalah Baekhyun, kekasih Chanyeol.

"Ceritakan padaku tentang Baekhyun-mu, Yeol."

Chanyeol mengiyakan sesaat setelah ia keluar dari kamarnya. Ia kemudian mengikuti Yixing yang kini telah duduk di atas sofa. Chanyeol mulai bercerita. Ia menceritakan semua tentang Baekhyun, bagaimana mereka bertemu, bagaimana kepribadian Baekhyun, bagaimana wajah Baekhyun yang terlihat semakin lucu saat marah, dan lain sebagainya.

"Kau terlihat sangat bahagia hanya dengan membicarakannya, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika dia benar-benar berada disisimu saat ini."

Chanyeol tersenyum, karena memang hatinya selalu akan menghangat hanya dengan membicarakan tentang Baekhyun.

"Kau bilang Baekhyun suka menonton, genre apa yang biasanya dia tonton?"

"Realistic Drama, seleranya memang sedikit aneh untuk ukuran pria." Chanyeol sedikit terkekeh di akhir kalimatnya.

"Benarkah?" Wajah Yixing sedikit terlihat berbinar. "Apa kalian sudah menonton A Walk to Remember?"

"Hell. Jangan bilang kau juga menyukainya." Chanyeol sedikit tidak percaya untuk ukuran laki-laki seperti Yixing yang juga menyukai film penuh air mata, "Dan ya, kami telah menontonnya."

"Tidak ada yang salah dengan itu bukan? Ngomong-ngomong apa kau masih memiliki DVD nya?"

Chanyeol mengedikkan bahunya tak yakin "Entahlah, coba kau lihat saja disana." Chanyeol menunjuk sebuah rak yang berisi puluhan kaset DVD yang kebanyakan adalah milik Baekhyun. Baekhyun sering meninggalkan DVD nya di rumah Chanyeol setelah menonton, tapi dia juga akan membawa kaset itu pulang jika benda tersebut bukanlah milik pribadinya.

Yixing dengan semangat membara mulai beranjak dari sofa dan mengobrak-abrik rak DVD Chanyeol. Setelah mendapatkan benda incarannya, Yixing langsung meletakkan kepingan DVD itu ke dalam DVD player milik Chanyeol.

"Kau tidak keberatan jika aku menontonnya, disini?"

Chanyeol menggeleng, "Aku akan membuatkanmu coklat hangat."

Film baru beberapa menit di putar saat Chanyeol kembali menghampiri Yixing dengan membawa dua buah mug yang berisi coklat hangat. Chanyeol meletakkan kedua mug tersebut di atas meja kaca, dan tak berapa lama kemudian Yixing mengambil salah satu dan meminumnya.

"Woah, Chanyeol. Ini sangat enak." Yixing mengatakannya dengan ekspresi mendramatisir.

Chanyeol merindukan bagaimana seseorang akan memuji keahliannya dalam membuat coklat hangat, tapi Chanyeol lebih merindukan Baekhyun yang mengatakannya.

Chanyeol hampir meluruskan kakinya dan meletakkannya di atas meja jika saja ia tidak melihat kaki Yixing yang menggantung sopan di kaki sofa. Walaupun ini adalah rumahnya, tapi tetap saja Chanyeol tidak mau terlihat sebagai sosok lelaki yang tidak sopan di mata Yixing. Chanyeol mengambil sekotak tisu dan meletakkannya di tengah-tengah, kebiasaannya setiap kali menonton bersama Baekhyun. Namun sampai film berakhir tak ada satupun dari mereka yang menyentuhnya, diam-diam Chanyeol merindukan suara isakan Baekhyun saat menonton film.

"Aku pulang dulu, Chanyeol. Terima kasih atas coklat hangat dan fasilitas bioskop gratismu."

"Kau yakin akan pulang? Ini sudah jam sebelas malam, kau boleh menginap disini jika kau mau."

"Aku bukan lagi anak SMA , Yeol. Aku sepenuhnya laki-laki dewasa sekarang." Yixing sekali lagi melambai pada Chanyeol sebelum akhirnya ia benar-benar pergi.

Chanyeol merindukan Baekhyun yang selalu merengek minta menginap karena tidak berani pulang sendiri.

.

*O*

.

Hari demi hari Chanyeol lalui dengan susah payah. Semua tenaga dan auranya seolah menghilang mengikuti kepergian Baekhyun. Chanyeol masih susah makan seperti dulu, masih sering berkeliaran mencari Baekhyun, dan sekarang di tambah lagi Chanyeol yang selalu kehilangan semangat bekerjanya karena terlalu sibuk memikirkan Baekhyun. Chanyeol bahkan sudah empat kali mendapat teguran dari atasannya karena kinerjanya yang akhir-akhir ini kurang memuaskan.

"Chanyeol, antarkan galon ini!" pinta Luhan. Saat itu Chanyeol sedang asik melamun di balik meja kasir.

Chanyeol membuang nafasnya kasar, "Kenapa kau tidak meminta Jongin saja yang mengantarkannya?"

"Kau akan menyesal nantinya karena menolak ini, Chanyeol."

Chanyeol memberikan Luhan tatapan bertanya.

"Seseorang dari keluaga Byun yang menelpon dan meminta galon ini diantar ke rumahnya."

.

.

Chanyeol menekan bel rumah Baekhyun dengan perasaan campur aduk. Ia gugup dan juga tak sabar, ia bertanya-tanya siapa yang akan membukakan pagar untuknya. Ia berharap Baekhyun yang akan membukanya, seperti hari-hari sebelumnya.

"Chanyeol, masuklah. Bisakah kau meletakkan itu di dapur?" Ibu Baekhyun menyapanya seraya membukakan pintu. Chanyeol sedikit kecewa.

Chanyeol memasuki rumah Baekhyun. Rumah ini masih sama seperti terakhir kali Chanyeol melihatnya, bantal warna-warni di ruang tamu, cat dinding berbagai warna, dan perabotan yang tertata rapi di setiap sudutnya. Tapi Chanyeol merasa sedikit berbada, entah kenapa rumah itu sedikit terasa suram walaupun secara visual masih dihiasi berbagai macam warna. Dan, bau apa ini? Obat?

Chanyeol meletakkan galon yang di bawanya di dapur milik keluarga Byun, sesuai dengan permintaan sang tuan rumah. Chanyeol masih menimang-nimang apakah ia harus menanyakan keberadaan Baekhyun pada ibunya. Tapi sepertinya dia terlalu lama berpikir karena ibu Chanyeol mulai berbicara.

"Naiklah ke atas, Chanyeol. Baekhyun menunggumu di kamar." Ibu Chanyeol berucap dengan senyum hangat terlukis di wajahnya.

Chanyeol hanya mengangguk. Ia tak penah sebahagia ini selama tujuh bulan terakhir. Akhirnya dia bertemu dengan Baekhyun-nya, ia tidak sabar untuk memeluk dan mendengarkan suara Baekhyun yang memabukkan. Chanyeol dengn agak sedikit berlari mulai menaiki tangga, menyusuri koridor kecil untuk sampai di depan kamar Baekhyun. Chanyeol mengetuk pintu bercat putih itu sebanyak tiga kali sebelum akhirnya membukanya, menampilkan sosok rapuh yang ada di baliknya.

Chanyeol bisa melihat siluet seorang laki-laki yang sangat ia kenal sedang terduduk bersandar di kepala ranjang. Lelaki itu mengenakan sweeter rajutan yang terlihat kebesaran. Itu adalah Baekhyun, Baekhyunnya yang kali ini sangat terlihat rapuh di mata Chanyeol. Itu bukan sweeter Baekhyun yang terlalu besar, Chanyeol masih ingat Baekhyun pernah menggunakan sweeter itu dan terlihat sangat pas di tubuhnya, tubuh Baekhyun menyusut secara drastis. Chanyeol bisa melihat pipi Baekhyun yang semakin tirus, matanya yang semakin sayu. Baekhyun menggunakan penutup kepala rajutan yang senada dengan sweeternya, dan Chanyeol bisa melihat sebuah selang infus terpasang di lengan kirinya. Ia tidak pernah menyangka waktu tujuh bulan bisa merubah seseorang sejauh ini.

Baekhyun sedikit mengubah posisi duduknya ketika ia mulai menyadari keberadaan Chanyeol. Ia menatap Chanyeol sebentar sebelum akhirnya tersenyum, senyum manis yang selalu ia berikan kepada Chanyeol. Bukannya bahagia, Chanyeol merasa ingin mati saat itu juga karena menyadari betapa lemah senyuman Baekhyun barusan. Dan Chanyeol benar-benar ingin melompat dari balkon kamar Baekhyun setelah mendengan lelaki yang sangat ia rindukan mulai mengeluarkan suara, suara yang lemah selemah senyumannya.

"Hai, Chanyeol."

Chanyeol jatuh terduduk karena tidak kuat menahan kakinya yang tiba-tiba saja melemas. Ia meremas dadanya yang juga tiba-tiba terasa sesak. Chanyeol masih tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya sekarang. Bukan, itu bukan Baekhyun-nya.

"Baek." Chanyeol berucap dengan suara parau. "Apa yang sedang terjadi padamu?"

.

.

.

TBC


a/n: hohoho anyeong, sorry for late update ya -_- maklum lagi mudik dan ini ngetiknya tengah malem sambil makan sia-sia opor ayam/?

maaf kalo ceritanya makin aneh hehe, kayaknya chapter depan atau nggan chapter depannya lagi ini cerita udah end :( hehe

maaf klo banyak typo seperti biasa, dan maaf klo ending nya ntar bakal jadi aneh juga -_-

dan saya mengucapkan selamat hari raya buat siapa aja yang merayakan, mohon maaf lahir batin :) *tebar duit*/?

well, terakhir thanks buat yg udh suport ff ini melalui follow, fav, dan review.

tolong tinggalkan review kalian setelah membaca ini ya :))


Thanks to:

Dororong, followbaek, Putri, ChanBaekLuv, Shouda Shikaku, CussonsBaekBy, sjvixx, isyarahfeni, , nenehcabill, asdfghpcy, Majey Jannah 97, cici panda, Guest1, biezzle, Guest2

THANKS A LOT T^T tanpa kalian ff ini gak akan berlanjut

love you guys moah!