I Saw Him Everyday [나는매일그를보고]


Cast: Park Chanyeol, Byun Baekhyun, and other EXO member

Pairing: ChanBaek

Length: Chaptered

Genre: BL/yaoi/boyxboy, romance, fluff, angst

Warning: typo, bahasa non baku


BAGIAN 7

Chanyeol akhirnya mengetahui semuanya. Baekhyun telah difonis mengidap kanker darah semenjak SMP. Lelaki manis itu telah menjalani kemo bahkan sebelum ia dekat dengan Chanyeol. Mimisan, rambut rontok, berat bada menurun adalah beberapa efek samping dari terapi yang dijalani Baekhyun. Dan alasan Baekhyun menghilang selama tujuh bulan adalah karena Baekhyun harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit. Ya, penyakit itu semakin menggerogoti tubuhnya. Chanyeol sempat marah karena Baekhyun membohonginya selama ini. Tapi amarah tersebut terkalahkan hanya dengan melihat keadaan Baekhyun sekarang yang bisa remuk kapan saja.

"Aku tidak berbohong, Chanyeol. Aku hanya belum mengatakannya." Baekhyun berkata sambil menampilkan cengiran khas di wajahnya.

Chanyeol tak pernah sehancur ini ketika melihat Baekhyun tersenyum. Karena saat ini, Baekhyun terlihat seperti mengerahkan seluruh tenaga yang ia punya hanya untuk tersenyum ke arah Chanyeol. Ditambah lagi fakta bahwa Baekhyun sudah berhenti menjalankan terapinya sejak tiga minggu yang lalu membuat Chanyeol semakin susah bernafas. Bukan, Baekhyun bukan berhenti karena ia akan sembuh, melainkan karena keluarga Baekhyun sudah tidak sanggup membiaya seluruh biaya pengobatannya, dan uang yang Baekhyun tabung dari hasil jerih payahnya menyanyi di musikal sama sekali tidak membantu.

Chanyeol duduk di kursi yang terletak di samping ranjang Baekhyun, tangannya masih mengelus lembut punggung tangan Baekhyun dan matanya masih mengeluarkan air mata sama seperti setengah jam yang lalu. Chanyeol tidak peduli jika sekarang ia terlihat lemah di mata Baekhyun, karena memang ia sedang lemah saat ini. Lemah melihat Baekhyun-nya hancur.

"Ugh, dasar bayi besar. Berhentilah menangis, kau membuatku malu." Gurau Baekhyun. Chanyeol tak habis pikir bahwa Baekhyun masih sempat-sempatnya bercanda di saat seperti ini.

"Salahkan seseorang yang membuatku khawatir setengah mati kemudian muncul dengan keadaan- demi Tuhan aku tidak bisa menggambarkan bagaimana keadaanmu sekarang, Baekhyun."

"Kau terlalu mendramatisir." Baekhyun memukul dada Chanyeol pelan, sangat pelan hingga Chanyeol tak merasakannya. "Kau bahkan tidak menangis saat menonton My Sister's Keeper, dan seharusnya kau saat ini juga tidak menangis karena keadaanku sekarang tidak lebih parah dari Kate Fitzgerald."

"Jangan bilang karena ini semua kau selalu mengajakku menonton film seperti itu?"

Baekhyun mengangguk dan kemudian tersenyum menampilkan deretan giginya yang rapi, "Anggap saja sebagai Try Out."

"Jangan bercanda."

Baekhyun tertawa di awal kalimatnya, "Tapi aku memang menyukai genre film seperti itu." Kemudian ia menyadari tatapan Chanyeol yang seolah tidak percaya. "Sungguh."

"Apakah ada seseorang yang mengetahui keadaanmu sekarang selain diriku?"

Baekhyun menggeleng. "Tidak. Kau yang pertama."

"Benarkah?"

"Ya, karena kau kekasihku."

Chanyeol sangat lega karena Baekhyun selama ini masih menganggap dirinya sebagai kekasih.

.

*O*

.

Chanyeol meminta izin kepada orang tua Baekhyun untuk mengambil alih tanggung jawab atas biaya pengobatan putra bungsu mereka. Awalnya mereka merasa direndahkan dengan permintaan Chanyeol barusan, mereka seperti merasa tidak becus dalam mengurus anak mereka sendiri hingga orang lain harus turun tangan. Namun di sisi lain, mereka juga menginginkan kesembuhan untuk Baekhyun.

Chanyeol tak henti-hentinya meyakinkan orang tua Baekhyun bahwa memberikan tanggung jawab pengobatan Baekhyun kepadanya adalah pilihan yang tepat. Perdebatan mereka berlangsung semalaman, tentu saja tanpa diketahui oleh Baekhyun. Dan akhirnya, orang tua Baekhyun setuju dengan itu. Mulai besok, Baekhun akan kembali menjalani terapinya.

Belum genap sehari kebahagiaan Chanyeol setelah mendapatkan izin dari orang tua Baekhyun untuk mengurus putra mereka, saat ini Chanyeol sedang menerima lemparan puluhan benda kecil dari tangan mungil Baekhyun. Lelaki yang lebih muda marah dengan ide Chanyeol yang dianggapnya sia-sia.

"Berhenti menghabiskan uangmu untuk sesuatu yang sia-sia, bodoh!" Baekhyun kembali melemparkan botol obatnya yang sudah kosong tepat di kepala Chanyeol.

"Sesuatu yang bisa membantu kesembuhanmu itu bukan sia-sia!" Chanyeol mulai menaikkan nada bicaranya dan itu membuatnya menyesal di detik berikutnya.

Baekhyun menggigit bibir bawahnya dan berkata lirih, "Chanyeol, tidak ada sesuatu di dunia ini yang bisa membuatku sembuh."

Chanyeol tahu itu. Chanyeol bukan lah orang bodoh yang masih belum faham jika penyakit Baekhyun tidak bisa disembuhkan, tapi ia juga bukan orang yang tidak beragama dan tidak percaya akan keajaiban dari Tuhan-nya. Sekecil apa pun keajaiban itu, selama itu bisa membuat Baekhyun bernafas walau hanya sedetik lebih lama, Chanyeol akan mempertaruhkan semua yang ia punya untuk mendapatkannya.

Chanyeol berjalan menghampiri ranjang Baekhyun dan duduk disana, tepat di sebelah lelaki yang sedang meremas erat-erat selimut tebalnya. Chanyeol meletakkan lengannya di sekitar pundak Baekhyun dan sesekali mengelus kepalanya yang masih setia ditutupi penutup kepala rajutan.

"Kau masih ingat tentang sesuatu yang pernah ku katakana saat kita pertama kali ke Sangju?" Chanyeol berucap dengan lembut.

"Apa? Kau banyak sekali bicara saat itu."

"Sesuatu tentang keajaiban, saat aku memenangkan gelang ini untukmu." Chanyeol mengangakat lengan kanan Baekhyun untuk menunjukkan sesuatu yang melingkar disana.

Baekhyun mengangguk. "Aku selalu mengingat semua ucapanmu."

"Jadi ku mohon, jangan pasrah seperti ini. Keajaiban itu pasti akan datang tepat di detik terakhir saat kau mulai menyerah."

Baekhyun mulai tersenyum cerah ke arah Chanyeol, seolah memberikan sebuah pertanda bahwa lelaki mungil itu akan menyetujui idenya. Namun sepertinya perkiraan Chanyeol salah.

"Tapi Chanyeol,-"

Chanyeol mengangkat sebelah alisnya karena mendengar kata 'tapi yang keluar dari mulut Baekhyun.

"Aku sudah menggunakan keajaiban terakhir yang kumiliki untuk menemukanmu."

.

.

Baekhyun tetap tidak mau menjalani terapi menggunakan uang Chanyeol, ia hanya mau meminum obat yang biasa dia konsumsi. Namun hanya dengan meminum puluhan butir pil tidak dapat membuat tubuhnya membaik. Pernah suatu hari Chanyeol dengan mata kepalanya sendiri melihat Baekhyun sedang meronta kesakitan. Itulah pertama kalinya Chanyeol melihat Baekhyun yang sedang kambuh. Baekhyun akan memuntahkan seluruh isi perutnya dan bercampur darah, ia akan menjerit dengan keras merengek seluruh tubuhnya terasa seperti diremas, urat-urat di kesekitar kepalanya akan terlihat jelas menandakan seberapa keras ia menahan sakitnya, tangan-tangan kecilnya akan mencengkeram apapun yang ada di sana dan matanya tiba-tiba memerah seakan seluruh pembuluh di bola matanya juga ikut berdarah. Ibu dan ayah Baekhyun akan segera memegangi putranya agar tenang dan tidak terjatuh dari ranjang, sedangkan Baekboom akan bertugas menyuntikkan beberapa dosis obat penenang. Baekhyun beberapa kali melihat ke arah Chanyeol yang terpaku di dekat pintu, memberikannya tatapan seolah menyuruhnya pergi dari situ. Baekhyun malu karena Chanyeol melihat bagaimana keadaannya ketika hancur.

Setelah melihat semua itu, tidak ada alasan bagi Chanyeol untuk tidak membawa Baekhyun menjalani terapainya dengan atau tanpa persetujuan dari Baekhyun sendiri. Dan semenjak itulah Chanyeol keluar dari perkejaan lamanya sebagai pegawai minimarket untuk kembali bekerja di perusahaan ayahnya dan menelan harga dirinya mentah-mentah. Chanyeo sadar hanya dengan inilah ia bisa membantu Baekhyun-nya untuk tetap bernafas.

Chanyeol akan berangkat pagi ke kantornya. Ia pulang sebelum makan malam dan biasanya Chanyeol akan menghabiskan waktu makan malamnya di rumah Baekhyun. Di hari Selasa dan Jum'at ia akan keluar kantor pukul 11 untuk mengantarkan Baekhyun terapi di rumah sakit. Baekhyun sudah mulai mau di terapi namun dengan syarat tidak ingin di rawat di rumah sakit dan lebih memilih rawat jalan.

"Chanyeol, sebentar lagi ada festival budaya Sangju. Kau tidak ingin mengajakku kesana tahun ini?"

Chanyeol sedang berbaring di ranjang Baekhyun dan Baekhyun sedang memainkan rambut Chanyeol yang sudah berubah warna menjadi coklat gelap. Malam itu Chanyeol menginap.

"Dengan keadaanmu yang seperti ini? Jangan bercanda, Baek."

Baekhyun menarik rambut Chanyeol sebal dan mengerucutkan bibirnya lucu.

"Jika keadaanku membaik, apa kau akan berjanji mengajakku kesana?"

Chanyeol berpikir lama sekali. Bekhyun merasa kalau Chanyeol pasti tidak menizinkannya. Tapi beberapa saat kemudian Chanyeol mengangguk dan sedikit bangkit untuk meraih bibir Baekhyun.

.

.

Chanyeol sudah kenal betul bagaimana pribadi seorang Byun Baekhyun. Ia akan menepati semua yang ia katakana, termasuk perkataannya beberapa hari yang lalu saat ia mengatakan akan membuat keadaannya sendiri membaik agar Chanyeol mau mengajaknya berlibur. Baekhyun benar-benar terlihat segar walaupun masih dengan tubuh kurus dan pipi yang tirus. Chanyeol hampir tidak percaya bagaimana keadaan baekhyun bisa meningkat sejauh ini. Ia sempat berpikir akan mengiming-ngiming lelaki yang lebih muda liburan ke London agar bisa sembuh.

Rencana liburan mereka sudah jelas di tentang keras oleh kedua orang tua Baekhyun. Mereka tak henti-hentinya berkata bahwa sekarang Baekhyun memiliki kanker seakan anak itu lupa akan penyakitnya sendiri. Sedangkan Baekhyun juga tak mau kalah, ia mengatakan bahwa selama dua tahun yang lalu ia juga berlibur ke tempat yang sama dengan kanker yang juga melekat di tubuhnya, seperti sekarang.

Mereka akhirnya berangkat, namun kali ini tidak lagi berdua karena Chanyeol mengajak dokter yang selama ini menangani Baekhyun. Chanyeol juga membawa peralatan medis lengkap di jok belakang mobilnya.

Mereka tiba di penginapan yang sama seperti tahun lalu dan tahun sebelumnya. Baekhyun juga meminta Chanyeol memesan satu kamar yang sama seperti tahun lalu untuk mereka berdua.

"Tidurlah, Baek. Aku akan membangunkanmu saat makan malam."

Baekhyun menggeleng, namun ia takut memandang mata Chanyeol yang sepertinya jengkel setiap kali sikapnya seperti ini.

"Kenapa?" Chanyeol mendudukkan dirinya tepat disamping Baekhyun dan berkata dengan lembut.

"Aku hanya sedang tidak ingin tidur."

"Kau akan sakit nanti."

"Aku sudah sakit, Chanyeol."

"Berhenti bersikap seperti ini, Baekhyun. Atau kita pulang sekarang juga."

Baekhyun selalu takut menghadapi Chanyeol dengan versi seperti ini. Chanyeol yang tiba-tiba menjadi tegas dan menaikkan nada bicaranya.

Baekhyun mengangguk kecil dan berkata, "Tapi kau harus berjanji akan selalu membangunkanku."

"Aku janji."

Chanyeol memberikan sebuah kecupan hangat sebelum menemanin Baekhyun berbaring di ranjang hingga laki-laki itu tertidur.

.

.

Chanyeol tidak pernah membenci dirinya sendiri lebih dari saat ini. Seharusnya dia bisa lebih tegas, seharusnya dia tidak mudah terpengaruh, dan seharusnya dia tidak mudah mengatakan 'ya' untuk Baekhyun. Tapi semua sudah terlambat karena sekarang dia sedang berdiri di depan ruang ICU dengan keringat dingin yang mengucur di seluruh tubuhnya. Keadaan Baekhyun tiba-tiba menurun bahkan sebelum mereka sempat melakukan sesuatu saat liburan. Chanyeol tak henti-henti mengatakan bahwa semua ini salahnya dan mengulang kata-kata tersebut sampai tidak memiliki arti lagi.

Hal pertama yang dilakukan Baekhyun saat tersadar dari tidur panjangnya selama dua puluh delapan jam adalah menangis sambil meneriakkan nama Chanyeol. Lelaki mungil itu memaksa seluruh perawat untuk segera membawa raksasa yang dimaksud tepat ke hadapannya.

"Dasar pembohong!" Baekhyun kembali berteriak sembari menangis ketika ia melihat Chanyeol membuka pintu ruang rawat inapnya. Ia dengan sisa tenaga yang ia miliki melempar bantal besar milik rumah sakit tepat ke muka Chanyeol.

Chanyeol hanya melangkah mendekati Baekhyun dalam diam. Ia tahu betul bahwa semua ini salahnya, bahwa ia adalah laki-laki pembohong yang tidak bisa memegang janjinya.

Baekhyun menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan masih terisak.

"Kau berjanji akan membangunkan saat tidur bukan?! Tapi nyatanya kau membiarkanku tertidur selama lebih dari dua puluh empat jam."

"Maaf." Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun dan mengelus punggung lelaki itu penuh sayang.

"Kenapa kau tidak membangunkanku, Chanyeol?" Baekhyun masih menangis.

"Maaf."

"Aku benci tidur."

"Maaf."

"Chanyeol, aku takut."

"Maafkan aku."

"Aku takut aku tidak akan bangun jika terlalu lama tidur."

"Saat itu aku akan selalu ada untuk membangunkanmu, maafkan aku."

Entah sejak kapan Chanyeol juga ikut membenci 'tidur'. Karena setiap kali ia tidur, ia juga merasa takut. Ia takut tidak bisa melihat Baekhyun ketika dia bangun, ia takut bahwa memiliki Baekhyun disisinya hanyalah sebuah mimpi.

.

*O*

.

Chanyeol pernah menuliskan seratus cita-cita yang ingin dia raih di masa depan saat ia kecil. Ia menempelnya di lemari belajar agar setiap hari ia bisa membacanya dan dengan giat berusaha meraihnya. Namun dari semua cita-cita tersebut ia lupa menuliskan satu cita-cita yang sangat dia inginkan melebehi apapun saat ini. Chanyeol memiliki cita-cita baru. Dia ingin menikah, menikahi Byun Baekhyun.

Saat itu, Baekhyun dengan keadaan masih terlihat sehat sedang menunjukkan kumpulan video romantis yang baru ia lihat di youtube.

"Chanyeol, apa cita-citamu?" Baekhyun bertanya dengan mata yang masih terkagum-kagum pada layar laptop Chanyeol.

"Mendirikan bisnis sendiri? Mungkin." Chanyeol lebih terdengar seperti bertanya dibanding memberi jawaban.

"Kalau aku, ingin menikah di Belanda."

"Memangnya kenapa dengan menikah di Negara sendiri?"

"Legal, Chanyeol. Aku ingin pernikahanku denganmu legal di mata hukum."

Sejak saat itulah Chanyeol mulai memiliki cita-cita baru. Ia senang karena ada dirinya di rencana hidup Baekhyun.

.

.

Chanyeol hari itu kembali datang mengunjungi Baekhyun di rumah sakit. Ia menggunakan pakaian yang lebih rapi dari biasanya, membawa sebuah cup jumbo es krim stroberry favorit Baekhyun, dan sebuah box kecil berwarna hitam yang tersembunyi di balik blazer coklatnya.

Chanyeol membuka pintu kamar Baekhyun perlahan tanpa mengetuknya. Jika ia beruntung ia akan disambut dengan senyum hangat miliki kekasihnya, bukan ekspresi tenang Baekhyun yang sedang bermimpi. Chanyeol tersenyum saat menyadari bahwa sekarang adalah hari keberuntungannya, ia bergegas menghampiri Baekhyun dan mendaratkan kecupan sayang di dahi sang kekasih.

Baekhyun senang saat Chanyeol datang dengan membawa es krim, tapi Baekhyun jauh lebih senang mendengar perkataan yang terlontar dari bibir Chanyeol ketika lelaki tinggi itu membuka sebuah kotak hitam kecil yang berisi sebuah cincin.

"Menikahlah denganku, Baekhyun."

Bukannya menjawab lelaki mungil itu langsung berhambur memluk tubuh Chanyeol. Merasakan kehangatan dari sana, tempat favorit Baekhyun untuk bersandar. Ia menenggelamkan kepalanya di dada Chanyeol, menghirup aroma mint yang menguar dari sana dan samar-sama mendengar detak jantung Chanyeol yang seirama dengan miliknya. Chanyeol serius dengannya.

"Berhenti selalu menjadi sempurna, Park Chanyeol." Baekhyun memukul-mukul kecil punggung Chanyeol sambil tetap memeluknya. "Karena itu sangat menyebalkan."

.

.

Dua minggu kemudian Baekhyun bangun lebih awal dan setelah itu ia mandi dengan sabun lavender favoritnya, bukan hanya dengan air yang disekakan ke tubuhnya. Hari itu Baekhyun tampil berbeda, ia mengenakan setelan jaz yang di dominasi warna putih dan perak. Wajah tirusnya juga dibumbuhi sedikit make up. Ini adalah harinya, hari mereka, hari Park Chanyeol dan Byun-yang segera berganti menjadi Park-Baekhyun. Mereka menikah.

Senyuman bahagia itu tak pernah lepas dari wajah keduanya, semburat merah juga terlihat disana. Semua terpukau ketika Baekhyun mulai menyusuri jalan menuju altar dengan bantuan sang ayah yang mendorong kursi rodanya. Sebagian besar tamu undangan terkejut karena baru pertama kali melihat keadaan Baekhyun yang seperti ini, kebanyakan dari mereka baru mengetahui jika Baekhyun memiliki kanker. Namun Chanyeol berbeda, ia tak menyangkal bahwa dirinya sendiri juga terkejut, terkejut karena Baekhyunnya bisa tampil secantik dan sesempurna saat ini.

Ayah baekhyun menyerahkan pegangan kursi roda baekhyun kepada Chanyeol, dan membiarkan sang calon anak menantu membawa putranya ke altar dan tepat di hadapan pendeta. Mereka berdua saling mengaitkan jemari masing-masing ketika pendeta mulai membacakan sumpahnya. Dan sekali lagi Baekhyun terpanah pada pesona Chanyeol saat laki-laki itu berucap sumpah untuk menjalani sisa hidupnya bersama.

"Aku bersedia."

"Aku bersedia." Baekhyun bahagia seperti ia rela jika harus mati detik itu juga. Baekhyun merasa sempurna, bahkan dengan kanker yang mengalir di darahnya.

Ini jauh lebih indah dibanding harus menikah di Belanda. Mereka menikah sungguhan di hadapan Tuhan. Walaupun masih belum legal.

.

.

.

TBC

Spoiler last chapter:

Chanyeol sudah terbiasa menuruti semua permintaan Baekhyun namun tidak untuk yang satu ini, ketika Baekhyun meminta agar melepas semua alat bantu kesehatan yang melekat di tubuhnya.


a/n: maaf untuk chapter yang sangat pendek dan sebagai gantinya last chapter bakalan update cepet :D semoga kalian tetap suka dan menikmatinya

terima kasih buat kalian yang sudah mendukung ff ini melalui review, follow, fav :)) tapi walaupun begitu saya tetep nungguin reviw review terbaru dr kalian hehe :p

terakhir, maaf buat typo :((


Thanks to:

, kacangpolongman, followbaek, CussonsBaekBy, rillakuchan, ByunCaBek, park hyun in, endah. , Nenehcabill, Shouda Shikaku, Majey Jannah 97, Dororong, fidalicious, baguettes, svn

THANKS A LOT T^T Tanpa kalian ff ini gak akan berlanjut :* moah!