Boboiboy © Animonsta Studio, Malaysia

WARNING!
Fang x fem!Boboiboy
Gopal x Yaya
Stanley x Ying

Boi & Fani, Ling & Lee, Iqbal (OC) by me


Little Princess's Guardian

Apa yang paling disukai Fani ketika ia membuka matanya dari tidur pada pagi hari?

Senyuman dan sapaan ratu para bidadari negeri dongeng yang cantik dengan aroma mawar lembut, yang ia kenal sebagai mamanya tersayang.

"Selamat pagi, sayang..."

Fani tak pernah tidak tersenyum cerah membalas sapaan pagi yang begitu indah tersebut. Begitu sayangnya sang gadis kecil pada sang bunda. Fani begitu menyukai ketika ibundanya menempelkan hidungnya pada hidung kecil Fani dan menggesek-geseknya kecil, membuat geli sang gadis kecil. Keduanya tertawa-tawa kecil menyapa pagi hari yang cerah di Pulau Rintis.

"Mama...!" Fani meraih-raih ibundanya yang langsung memeluk dan menggendong tubuh mungil Fani sambil mencium pipi tembem sang gadis kecil dengan gemas, "Mandi dulu, yuk, sayang...," Fani tertawa-tawa geli ketika Boboiboy mencolek kecil hidung mungil anaknya

Sementara Fang membuka jendela membiarkan cahaya mentari masuk menyinari kamar dengan hangatnya, Boi yang baru selesai mandi masih dalam balutan handuk besar di tubuhnya yang tak berbusana, langsung menyambar pinggang Fang sambil tertawa-tawa. Fang membasuh tubuh anaknya sambil menghela napas dengan senyuman geli di wajah melihat anaknya yang hiperaktif itu.

"Boi, pakai baju dulu... nanti kamu masuk angin...," sayang sekali Boi justru asyik bermain-main dengan adiknya yang berada di gendongan Boboiboy. Fang akhirnya menggendong Boi dan menaruhnya di tempat tidur, dilanjutkan dengan anaknya melompat-lompat dengan seru.

"Nak... Boi... pakai bedak dulu sini...," dengan tangkas Fang langsung memeluk anaknya yang kelebihan energi karena semalam tidur dengan begitu pulasnya. Ia membedaki kemudian mengenakan baju pada tubuh Boi, lalu membiarkannya langsung melesat lari menuju pintu begitu sang ayah melepas pelukannya.

Tapi Boi berlari kembali masuk ke kamar menubruk pinggang Fang yang sedikit terbatuk karena benturan di perutnya, "Papa! Papa! Makan bareng Boi, yuuuuk! Makaaaan...!" Boi menarik-narik tangan ayahnya yang masih sibuk melipat selimut.

"Iya, sayang... sebentar... ini papa lagi... aduh..."

Boi langsung menggelinding ke tempat tidur membantu Fang merapikan tempat tidur... seadanya.

"Udah beres, papa!"

Fang geleng-geleng kepala melihat Boi yang hanya membereskan bantal dan membiarkan lainnya berantakan. Sang ayah gemas menggendong anaknya turun sambil menciumi perut dengan suara-suara lucu hingga Boi tertawa-tawa geli. Akhirnya anak lelaki yang begitu mengidolakan ayahnya tersebut bisa bersabar membantu ayahnya melipat selimut.

"Mamaaa... Faniii... Makan bareng, yuuuuk...!" Boi melongokkan kepalanya dari pintu kamar mandi. Boboiboy masih membasuh tubuh Fani dari busa sabun dengan air hangat, "Sebentar, ya, sayang... ini adek udah mau selesai mandinya... Kakak tolong ambilin handuk, sayang..."

Boi mengambil handuk dari koper lalu memberikannya pada sang bunda di kamar mandi. Boboiboy langsung menyelimuti Fani dengan handuk agar tidak masuk angin dan menggendongnya keluar kamar mandi.

"Kakak tolong siapin minyak telon sama bedak, ya..."

Boi langsung menurut.

Fang yang sudah selesai membereskan tempat tidur, tidak bisa berkata apa-apa begitu Boi naik lagi ke tempat tidur untuk mengambil tas kecil yang berisi bedak dan minyak telon khusus untuk adiknya di pojok tempat tidur. Boboiboy yang melihatnya hanya tersenyum lalu mencium bahu suaminya, "Terima kasih, papa... sudah bantu bereskan tempat tidur... jadi Fani bisa ganti baju di tempat tidur yang hangat..."

Fang menghela napas tersenyum kecil pada istrinya, mencium di bibir sebagai balasan.

Boboiboy membuat Fani duduk di pinggir tempat tidur masih dalam balutan handuk tebal hingga kepalanya. Fang membantu sang istri dengan mengeringkan rambut Fani perlahan, sementara Fani mulai mencari-cari boneka Dino-nya, "Papa... Dino mana...?"

Tiba-tiba kepala boneka kesayangan Fani muncul bergerak-gerak dari sisi lain tempat tidur, "Aku Dino! Dinosaurus paling kuat di dunia...! Grraaaoooo...!"

Fani tergelak melihat bonekanya bergerak-gerak dan mengeluarkan suara yang sebenarnya ulah abangnya yang bermain-main sambil mengisikan suara untuk Dino dari balik tempat tidur. Fang dan Boboiboy tak bisa menahan senyum melihat Boi yang menghibur adiknya.

Begitu Fani selesai berpakaian, keluarga tersebut menuruni tangga yang didahului oleh Boi. Sang bocah melompat lincah menuju dapur, di mana masakan wangi buatan sang bunda telah siap tersaji.

"Selamat pagi, Atoook!"

Sungguh rindu sang Atok mendengar kicauan anak dari cucunya menyapa dengan ceria di pagi hari. Boi menjatuhkan dirinya pada Tok Aba yang sedang duduk di sofa ruang tengah, "Selamat pagi, Boi...! Aduh, Atok kangeeen sekali...!"

"Boooi! Tos duluuu!" Probe muncul sambil mengangkat tangannya dan dibalas semangat oleh Boi yang memberikan tepukan pada tangan besi Probe lalu bergilir pada Adu Du.

Sementara Fani yang memeluk boneka kesayangannya, malu-malu berdiri di belakang kaki mamanya, mengintip para sahabat Fang dan Boboiboy.

"Hai, Fani...! Masih inget pakcik Probe, ga?" Probe mendekati Fani perlahan berusaha tak membuat gadis cilik itu takut karena semalam ia terus menangis hingga akhirnya sang bunda hadir memeluknya. Fani mengangguk kecil menjawab, membuat Probe senang.

Ochobot memanggil keseluruh keluarga di ruang tengah untuk sarapan bersama. Robot kuning bundar tersebut mengambilkan nasi untuk Tok Aba terlebih dahulu.

"Fani, sayang... sama papa dan kakak dulu, ya? Mama ambilkan sarapan...," Fani buru-buru turun mengikuti mamanya dengan menggenggam ujung rok sang bunda, "Fa, Fani mau sama mama...," rengekkan kecil Fani membuat Boboiboy tersenyum maklum. Meski sang gadis cilik selalu manja dan merengek untuk bersama-sama ibunya, ia tak pernah sama sekali merepotkan, maka Boboiboy membiarkan Fani mengikutinya sampai ke dapur, menyiapkan sarapan pada piring untuk Fang.

Boi yang selalu sigap menjaga adiknya turut mengikuti Fani dari belakang. Terutama jika Fani sedang berusaha menaiki bangku agar bisa duduk di atasnya, Boi selalu menjaga dari belakang agar adiknya tak jatuh. Fang menemani Tok Aba yang duduk di ruang tengah sambil menikmati sarapan. Tentu saja jika mereka makan di meja makan bersama-sama pasti akan berdesakkan, maka para penghuni rumah tua mungil tersebut menikmati sarapan di ruang tengah bersama-sama.

"Boi, nanti tolong bawakan piring untuk papa, ya? Fani... mau disuapin atau makan sendiri, sayang?"

"Mau makan sendiri... tapi duduknya sama mama...," Boboiboy mencium kening Fani dengan bangga, membuat gadis cilik itu senang bukan main.

Adu Du dan Probe duduk di sebelah Tok Aba dan Fang. Boi datang dengan membawa dua piring, salah satunya untuk Fang. Fani datang bersama ibundanya yang kemudian bergabung di ruang tengah.

Sungguh ramai rumah Tok Aba saat itu, penuh dengan canda tawa ceria yang hangat.


Begitu selesai sarapan, Boi tak hentinya mengajak Tok Aba untuk segera bergegas ke kedai Kokotiam. Probe satu-satunya yang bisa menemani semangat sang bocah, mengajaknya menuju kedai dengan memberi Boi tumpangan di kepalanya. Tentu saja Boi bersorak gembira karena diperbolehkan duduk di atas Probe dan melayang bagai piringan terbang, "Fani mau ikut juga?"

Boboiboy tersenyum kecil melihat Fani menggeleng menolak halus tawaran Probe sambil terus memeluk kaki ibundanya tersayang. Tok Aba diapit oleh Fang dan Boboiboy serta Fani yang terus menggandeng tangan mamanya, berjalan menuju kedai Kokotiam. Adu Du dan Ochobot hanya bisa menggeleng kepala melihat Boi dan Probe yang begitu akrab berputar-putar mengelilingi kedai, "Dua makhluk ini sepertinya punya energi nggak habis-habis...," komentar Adu Du.

Fang dan Boboiboy merasa begitu bernostalgia. Membantu sang kakek membuka kedai bersama Ochobot. Membersihkan piring dan gelas, mengelap meja dan kursi, menyiapkan air panas dan es, coklat, gula, krim, susu, dan sebagainya. Probe yang sudah terlatih tangkas dipuji Ochobot selaku karyawan lama. Adu Du duduk di samping Boi, membuat bocah tersebut begitu takjub mendengar cerita bahwa sang alien kotak tengah membuat sebuah mesin canggih.

"Boboiboy! Fang!"

Boboiboy membulatkan matanya dengan gembira, bergegas menghampiri para sahabatnya yang datang. Yaya dan Ying tak kuasa menahan diri mereka langsung berlari dan memeluk gadis berambut hitam pendek sahabat mereka. Gopal dan Stanley langsung merangkul dan menyalami Fang dengan akrab.

"Boboiboooooy! Aku kangeeeen!" Ying sudah tak bisa lagi menahan air mata rindunya, begitu pula dengan Yaya. Boboiboy tak merasa keberatan sama sekali dipeluk erat sedemikian rupa oleh kedua sahabatnya. Ada air mata rindu dan lega mengalir penuh suka cita di pipi ketiga wanita itu.

Tak kalah dengan para orang tua, anak-anak turut menyerbu Boi dengan semangatnya, "Boooooi! Horeee! Main, yuuuuk! Kangen niiih!"

"Iqbaaaal! Lee! Liiiing!"

Boi, Iqbal, Lee, dan Ling tertawa-tawa sambil saling merangkul, namun si kecil Fani jongkok bersembunyi di balik kursi kedai Tok Aba. Probe dan Ochobot berusaha mengajaknya keluar dari persembunyian, tapi gadis cilik itu terus menggeleng menolak sambil memeluk erat Dino.

"Ayo, Fani... tak apa-apa... Kan' senang bisa bertemu teman-teman yang lain..."

"Iya, Fani... itu ada tante Yaya dan tante Ying juga... Fani masih ingat mereka' kan?"

Boboiboy yang menyadari gadis kecilnya tak ada di samping dirinya, menemukan kedua sahabat robotnya berusaha keras membujuk Fani. Ibunda dari Fani tersenyum dan turut berlutut di dekat kursi persembunyian Fani. Semua sahabat Boboiboy geli melihat gadis kecil yang begitu pemalu panik tak mau keluar dari persembunyiannya.

"Fani, sayang... yuk, ketemu temen-temen papa dan mama..."

"Hai, Fani...! Ingat tante Ying dan Oom Stanley?" Ying melambaikan tangannya dari belakang Boboiboy ditemani Yaya, "Halo, Fani... Yuk, ngobrol sama tante Yaya dan Oom Gopal... Tuh, ada bang Iqbal, Kak Ling dan bang Lee..."

Fani tetap menggeleng sambil merengek kecil. Ia tak begitu bisa mengingat semua orang yang ada di situ. Terakhir Fani bertemu mereka ketika ia masih berusia dua tahun... tentu tidak banyak ingatan yang ada di kepalanya.

Boi menyadari adiknya tak mau keluar dari balik kursi. Sang bocah mendekati Fani dan ikut duduk di sampingnya menemani, "Fani, main sama kakak dan teman-teman, yuk... Kakak nggak akan ninggalin Fani, kok..."

Fani terdiam melihat ibu dan kakaknya tersenyum padanya. Akhirnya ia mau menjulurkan tangannya dan memeluk leher Boboiboy. Sang bunda langsung memeluk tubuh mungil yang akhirnya mau keluar dari persembunyian dan menggendongnya. Namun Fani masih belum berani mengangkat wajahnya menatap orang-orang yang ada di situ, "Mamaaa..."

"Oh, sayang... nggak apa-apa... yuk, salim dulu sama oom dan tante...," bujuk Boboiboy lembut. Fani akhirnya mengangguk kecil malu-malu sambil terus memeluk Dino dengan erat.

Ying dan Yaya begitu gemas pada gadis mungil yang amat sangat mirip dengan ibunya. Boboiboy menurunkan Fani perlahan di samping Boi, membimbing keduanya untuk salim pada para sahabatnya dan Fang di situ. Boi begitu semangat bertemu dengan teman-teman ayahnya, terbalik dengan Fani, yang merasa tak nyaman.

Akhirnya Beberapa teman Boboiboy dan Fang berdatangan kembali. Iwan, Siti, Ana, Amy, Suzy, Deep Amar, hingga Papa Zola dan Mama Zilla.

"Apa kabar, wahai para pembela kebenaraaaan!? Sungguh rindu hati ini pada kaliaaaan!"

"Fang! Boboiboy! Kapan kalian datang?"

"Sudah lama tak berkumpul begini...!"

"Aku bawa tikar, nih! Ayo kita piknik!"

"Aku bawa makanan kecil...!"

"Reuni begini benar-benar menyenangkan...!"

"Halo, Faniii... ingat kita, sayang?" Mama Zilla mengelus lembut kepala sang gadis cilik yang terus menggenggam ujung rok ibundanya. Gelengan kecil membuat semua orang tersenyum maklum. Fani mulai merasa terbiasa setelah Boboiboy mengenalkan kembali semua temannya pada sang gadis kecil. Bahkan ia menggendong Fani dan membiarkan teman-temannya mengelus atau mencubit kecil pipi tembem Fani yang terus bersembunyi di balik boneka Dino dalam pelukannya.

Semua orang langsung menyadari betapa pendiamnya gadis cilik tersebut dibanding abangnya yang ceplas-ceplos dan tak pernah bisa duduk diam. Fani terus menempel pada Boboiboy. Bahkan ketika ia sedang duduk di atas tikar bersama teman-temannya sambil menikmati makanan ringan melepas rasa rindu, Fani duduk dengan kalem sambil meminum pelan hot koko spesial buatan Tok Aba dan menikmati donat lobak merah dengan pelaaan sekali.

Boboiboy mulai khawatir kalau anaknya bosan, "Fani, sayang... kalau mau jalan-jalan sama kakak aja, ya? Nanti Fani ditemani...," Fani mengangguk dan melanjutkan mengunyah donat di mulutnya.

Sang bunda kembali khawatir, anaknya sama sekali tak merasa keberatan terus berada di sisinya meski tak mengobrol atau melakukan apa-apa selain menikmati hidangan, "Sayang... Bagaimana kalau Fani main sama kakak? Mama bawain bekal buat Fani, biar bisa main piknik-piknikan sama Dino..."

Yaya dan Ying turut memanggil anak-anak mereka agar menemani Fani bermain.

"Wah, tapi bunda... kita mau main di lapangan dekat pinggir perbatasan kota..."

"Jauh amat! Ngapain main jauh-jauh ke sana!?"

"Habis di sana luas ma... Tak ada kendaraan yang ganggu juga..."

Yaya dan Ying menghela napas, "Kenapa tak main di dekat sini saja? Kan lebih aman juga tak banyak kendaraan..."

"Kita mau main cari harta karun...! Lalu mau main bola biar leluasa di lapangan luas... Di sini' kan sempiiit...!"

Segala bujuk rayu para bocah akhirnya membuat orang tua mereka menyerah. Sebenarnya yang paling membuat khawatir para orang dewasa di situ adalah... Fani.

Entah bagaimana Boboiboy dengan santainya memasukkan bekal pada tas kecil Fani yang berisi perangkat main masak-masakannya, "Ini ada beberapa donat dan coklat panas untuk dibagi-bagi, dan ada dompet kecil untuk Fani bawa, yah? Jaga-jaga kalau Fani ternyata mau beli sesuatu... tapi jangan jajan sembarangan ya, sayang?" Boboiboy menunjukkan isi dompet tersebut pada Fani yang mengangguk kecil sambil terus memeluk Dino.

Lee dan Ling berpandangan, tapi mereka tak menolak keberadaan Fani di situ, hanya saja entah apa yang bisa mereka lakukan jika Fani rewel nanti. Iqbal hanya mengangkat bahu mengetahui arti pandangan si kembar padanya. Boi menggandeng Fani dan membantu adiknya membawa tas berisi bekal untuk mereka.

Para bocah akhirnya berpamitan dan mulai berjalan menjauhi kedai Tok Aba.

Gopal mendekati Probe diam-diam, "Hei, Probe... boleh minta tolong, nggak? Tolong awasin mereka dari jauh..."

"Eh? Kenapa gitu?"

"Aku khawatir kalau-kalau mereka tak menjaga Fani dengan benar..."

Yaya yang mendengar suaminya tengah berbisik-bisik dengan Probe turut menyetujui, "Ah, benar itu... Aku tak mengerti bagaimana Boboiboy bisa melepas anaknya begitu saja ikut bermain jauh... Tolong ya, Probe..."

Probe langsung bersemangat bertindak sebagai mata-mata yang melindungi gadis cilik anak dari sahabatnya. Dengan jaket dan kumis lengkap, Probe langsung menyetujui permintaan para klien-nya, "Serahkan pada Probe ini!"

"Loh? Kau mau ke mana Probe?" tanya Tok Aba yang melihat karyawannya dalam busana mata-mata. Ochobot hanya menggeleng kepalanya, "Heih... mulai lagi aneh-anehnya..."

Yaya menjelaskan pada Tok Aba, namun sang wanita berjilbab hanya mendapat tawa kecil sebagai jawaban dari Atok, "Kalian tak perlu khawatir... Fani akan baik-baik saja... Tapi kalau memang khawatir... Probe, tolong jaga Fani dari kejauhan, yah... Ochobot, kau di sini saja bantu Atok... sudah lama Atok tak bekerja denganmu, rindu rasanya...," Ochobot bersemangat dapat mengenakan celemek kedai kembali di tubuh bundarnya. Adu Du yang juga turut mendengar, langsung memberikan radio kecil pada Probe agar ia dapat menghubungi mereka kalau ada apa-apa.

Akhirnya Probe melesat terbang mengikuti para bocah dari kejauhan, mengawasi dan menjaga sang tuan putri kecil, Fani.


tbc...

.

NOTE

Setelah saya baca review, banyak yang berdoa agar bisa menjadi keluarga bahagia macam FangBoy di masa depan... saya Aaamiiin-kan semua doa kalian ^^ Saya pun juga menginginkan keluarga bahagia macam ini ^^ Fanfic ini merupakan sequel dari 'Alasan Terbesar', di mana semua karakter Boboiboy telah menemukan pasangan masing-masing dalam fanfic saya ini.

.

Saya memiliki kabar kurang baik...

Yakni ada yang mere-post fanfic 'Alasan Terbesar' saya di sebuah grup FB, TANPA mencantumkan nama saya sebagai author asli.

Mengetahui hal demikian, saya mulai berpikir untuk TIDAK AKAN melanjutkan 'Melodi Malam Hari', agar tidak terjadi hal yang sama.

Sungguh kecewa, marah, dan sedih mendapat perlakuan demikian.

Maaf telah mengecewakan para pembaca sekalian. Mohon maaf mengenai drama ini dan mungkin saya terlalu mengambil hati. Namun ketidak adanya kesadaran menghargai karya orang lain pada akhirnya membuat seorang artis / author menjadi malas berkarya lagi... seperti apa yang saya alami sekarang.

Ini bukan pertama kalinya ada yang mere-post karya saya. Banyak yang juga telah me-repost gambar-gambar saya. Tapi karena saya selalu menaruh watermark pada karya saya dan tidak terhapus selama re-post, saya bisa memakluminya.

Kali ini kasus fanfiction, di mana kita tak bisa menaruh watermark...

Namun, keputusan saya masih belum final. Jika sang pelaku menyadari apa yang telah ia lakukan dan menghapus re-post-nya, saya mungkin akan melanjutkan fanfic 'Melodi Malam Hari'...

Mohon kerja sama teman-teman, jika ada yang menyadari siapa pelaku ini dan jika memang benar-benar sudah dihapus re-post tersebut, tolong beritahu saya.

Terima kasih