Boboiboy © Animonsta Studio, Malaysia
WARNING!
Fang x fem!Boboiboy
Gopal x Yaya
Stanley x Ying
Boi & Fani, Ling & Lee, Iqbal (OCs) by me
Family and Friends
"Masih jauh, yah?"
"Sedikit lagi...!"
Lee dan Ling berjalan sambil mengobrol dengan Boi yang terus menggandeng adiknya. Iqbal tertawa-tawa begitu Ling heboh mengutarakan jadwal pentingnya yang tak boleh terlewat, yaitu... tidur siang.
"Masih lama, Ling...! Astaga... udah mikirin tidur siang pagi begini...! Anak perempuan kok suka banget tidur...!" ledek Iqbal
"Oi, kata papa... tidur itu penting untuk kesehatan! Kalo kita banyak tidur, akan lebih menghemat tenaga yang keluar ma...!"
Lee cekikikan. Ia sangat tahu saudari kembarnya begitu mirip dengan ayah mereka. Tak kenal di manapun dan kapanpun, keduanya dengan mudah tidur begitu kepala mereka terbaring.
Ling melirik pada Fani yang terus diam kalem di samping abangnya, anak perempuan berkuncir dua itu mulai khawatir kalau Fani lelah namun menahannya, "Fani cape...? Kalau cape nanti kita istirahat dulu aja..."
Fani menggeleng.
Suasana kembali diam, hingga Iqbal berseru, "Nah! Itu dia lapangannya...!"
Benar-benar lapangan luas dengan taman yang masih asri untuk bermain petak umpet di antara pepohonan rindang. Para bocah tersebut langsung berlari menuju tanah lapang yang dibatasi pepohonan rindang tersebut.
Fani berlari kecil dengan hati-hati mengikuti abangnya. Boi berulang kali memperhatikan langkah adiknya agar tak terjatuh hingga mereka sampai di titik tujuan.
"Main bola, yuuuk!" Iqbal langsung menendang bola ke tengah lapang diikuti Lee yang mengejar. Meski Ling anak perempuan, ia tak mau kalah dalam permainan sepak bola dan biasa bermain bersama abangnya yang lebih tua lima menit.
"Fani, kakak mau main sepak bola... Fani di sini aja, jangan ke mana-mana, ya? Nanti kalau mau pergi bilang dulu...," Fani hanya mengangguk sambil duduk di atas tikar yang disediakan Boi. Begitu Boi berlari menuju teman-temannya, Fani mengeluarkan cangkir dan piring mainan dari tasnya. Ia membantu Dino duduk di hadapannya dan memberi secangkir teh manis panas imajinasinya sebagai suguhan, "Silakan diminum, Dino..."
Probe yang melihat dari kejauhan jadi merasa kasihan pada gadis kecil yang bermain sendiri di bawah pohon. Namun Probe tak boleh turun lapangan karena tugasnya adalah sebagai mata-mata yang diam-diam menjaga Fani, "Aduh... kasihan sekali Fani... Padahal aku juga mau main masak-masakan sebagai Makcik Proooobe..."
Entah sudah berapa lama para bocah penuh energi yang asyik bermain sepak bola di lapangan luas menghabiskan waktu mereka hingga lelah mengejar dan menendang bola sepak.
"Aduh, cape, nih! Istirahat dulu, yuuuk...!"
"Laparnyaaa..."
Boi, Iqbal, dan si kembar berjalan gontai menuju pohon di mana Fani berteduh sambil menjamu Dino di atas tikar, "Kakak mau donat...?"
Mata anak-anak tersebut terbelalak melihat perangkat mainan Fani ternyata menyuguhi makanan dan minuman sungguhan. Dari bekal yang dibawakan Boboiboy untuk Fani dan teman-teman Boi, telah dibagi rata dengan membelah donat lobak merah kecil-kecil dan diletakkan di atas piring mainan Fani. Dari termos yang berisi koko spesial, dituang pada cangkir mainan Fani yang berjumlah sama dengan para bocah yang berkumpul di atas tikar itu.
Kini Boi dan teman-temannya menikmati piknik kecil yang diselenggarakan oleh Fani di bawah pohon. Fani begitu senang menuang koko spesial pada cangkir dan menyuguhi potongan donat di atas piring mainan untuk kawan-kawan barunya.
Tawa mungil Fani yang imut begitu menarik hati teman-teman Boi. Ling langsung menyukai Fani yang akhirnya ia anggap adik sendiri. Wajah manis Fani yang tersenyum amat sangat membuatnya ingin selalu memeluk gadis cilik itu.
Lee dan Ling ingat ibu mereka sering bercerita bagaimana ia begitu menyayangi sahabatnya yang bernama Boboiboy. Setiap Ying dan Stanley berselisih paham, Boboiboy selalu membantu menenangkan Ying dan membuatnya berpikir dengan kepala dingin, tak terburu-buru. Wajah Boboiboy tersenyum manis di foto-foto yang diperlihatkan Ying pada anak-anaknya begitu mirip dengan Fani. Wajah ibu dan anak bagai pinang dibelah dua dengan segala kemiripan mereka.
Tapi tentu saja Lee dan Ling hanya bisa melirik bingung pada ayah mereka jika Ying mulai bercerita bagaimana kesalnya ia ketika Fang selalu berusaha mencari perhatian Boboiboy dan merebut gadis bertopi itu berkali-kali setiap Ying tengah asyik menikmati waktunya dengan Boboiboy. Stanley hanya bisa menghela napas sambil mengangkat bahu.
Bahkan ketika hari pernikahan Fang dan Boboiboy, Ying tak lupa memberi Fang ancaman jika sahabat baiknya itu sedih karena Sang Penguasa Bayang. Ia tak akan memaafkan Fang meski sampai maut menjemput. Gopal dan Stanley hanya bisa merinding melihat Ying dengan sadisnya merenggut kerah Fang sambil tersenyum manis penuh aura gelap.
Ketika masih remaja, Stanley selalu menemukan Ying dan Fang berdebat hingga melakukan gerakan-gerakan silat yang dipertanyakan dari mana mereka menirunya. Sementara Boboiboy bingung di tengah. Gopal malah dengan serunya mendukung dari pinggir dan tentu saja kena omel Yaya. Stanley lebih suka menghindar jika ada perseteruan Fang dan Ying. Kenapa? Sederhana... karena nanti ujung-ujungnya mereka akan duel lomba lari mengantar pesanan koko Tok Aba untuk menunjukkan kemampuan mereka pada Boboiboy. Bagi Stanley olah raga adalah hal yang paling melelahkan sedunia, ia lebih memilih menghemat tenaga dengan tidur. Tentu saja Ying yang berbanding terbalik dengan Stanley selalu mengomeli kekasihnya.
Dan ketika Ying pertama kali tahu hobi pacarnya adalah tidur, di situlah awal mula penderitaan Stanley yang selalu dipaksa berolah raga oleh Ying. Namun ujung-ujungnya ia akan tidur di kelas dengan sukses membuat Ying uring-uringan. Tapi ada pelajaran bagus yang didapatkan Ying dari Stanley. Ying bisa lebih santai menjalani hari-harinya tanpa terburu berkat saran Stanley yang selalu memiliki motto hidup S3, singkatan dari 'Stanley Slow Selalu'.
Lee dan Ling melihat banyak kemiripan Fani dengan Boboiboy yang mereka lihat di foto. Dari rambut, wajah, hidung... namun mata Fani nampak menurun dari ayahnya.
Para bocah yang berusia lebih tua dari pada Fani benar-benar menikmati main masak-masakan bersama adik sahabat mereka. Tak pernah disangka ternyata mainan yang mereka pikir begitu keperempuanan itu sungguh menyenangkan.
Bahkan Probe yang tadinya khawatir, kini senang melihat Fani tersenyum ceria, "Eih... syukurlah mereka bermain bersama!"
Sudah mendekati waktu sore, para bocah tersebut memutuskan untuk pulang. Boi dan teman-temannya membantu Fani mencuci mainan yang telah mereka gunakan untuk menikmati bekal. Begitu selesai, mainan-mainan tersebut mereka masukkan tas yang dibawakan Boi untuk adiknya. Namun tak diduga... mereka tak hapal jalan pulang.
"Eh!? Kalian nggak hapal jalan pulang!?" Boi mulai panik. Lee dan Ling tak menyangka perjalanan mereka jauh sekali. Iqbal mulai ikut panik.
"Aiyo... Bagaimana iniii? Mama pasti marah sekali...!"
"Aduh, bunda bisa menghukumku nanti...!"
Boi berusaha tenang agar adiknya tak ikut panik. Fani tak bereaksi apa-apa sambil terus memeluk Dino. Sang gadis cilik mulai merasa haus setelah puas bermain masak-masakan. Koko spesial tadi membuat lehernya kering ingin dialiri air segar, "Kakak... Fani haus... boleh jajan...?"
Boi yang menenteng tas Fani berusaha tak memperlihatkan ekspresi khawatir dan tersenyum pada adiknya, "Oh, bo, boleh...! Ah, itu ada warung... Hei, ke sana dulu, yuk, teman-teman...!"
Iqbal, Lee, dan Ling juga mulai kehausan. Mau tak mau mereka mengikuti Boi dan Fani menuju warung. Fani mengingat pesan ibundanya agar tak jajan sembarangan dan berlebihan, maka ia hanya mengambil sebotol air mineral dan berbagi dengan abangnya. Sedangkan Lee dan Ling menegur Iqbal yang mengambil nyaris sekantong plastik besar jajanan, "Haiya... uangmu cukup, nggak?"
Fani mengambil dompet mungilnya dari tas dan mengeluarkan uang untuk membayar. Seorang ibu yang menjaga warung tersenyum menerima uang Fani dan memberikan kembaliannya. Fani melihat sebuah kertas yang diselipkan pada kantong dompet. Ia kembali mengingat ketika sang bunda menunjukkan isi dompet tersebut padanya sebelum pergi.
"Maaf, Makcik... Fani sama kakak-kakak mau pulang... tapi nggak tau ke mana... Mama kasih kertas ini kalau Fani nggak tahu jalan pulang...," Fani memberikan secarik kertas tersebut pada ibu penjaga warung. Boi dan teman-temannya keheranan melihat Fani yang malu-malu berusaha memberanikan diri bertanya pada ibu pemilik warung.
Ibu tersebut melihat alamat yang tertera pada kertas tersebut. Ia tahu benar di mana alamat itu berada, "Aduh, kasihan... kalian tersesat, ya? Biar suami ibu antarkan kalian pulang, yah?"
Ibu tersebut memanggil suaminya yang bersedia mengantar anak-anak tersebut dengan mobil. Betapa lega hati para bocah yang memang sudah kelelahan itu.
Tak diduga, sosok mungil pemalu dan pendiam yang duduk di tengah-tengah para bocah yang berusia lebih tua darinya justru menjadi pahlawan penyelamat hari. Probe yang terbang dari kejauhan tertawa kecil penuh bangga melihat kejadian tersebut.
Tentu saja para orang tua terkejut ada yang berbaik hati mengantar anak-anak mereka pulang dengan mobil sebelum sore. Fani berhati-hati dibantu Boi turun dari mobil setelah mengucapkan terima kasih pada bapak yang membalas senyuman mereka dengan ramah. Gadis cilik tersebut langsung berlari mendekati ibundanya. Boboiboy merentangkan tangannya dan menyambut Fani dengan pelukan erat serta ciuman sayang di pipi tembem empuk Fani.
Sementara, Probe yang sampai lebih dulu di kedai Tok Aba ternyata telah menceritakan seluruh kejadian pada Boboiboy dan teman-temannya, membuat Yaya dan Ying menasehati anak-anak mereka agar tak bermain jauh-jauh jika tidak hapal jalan.
"Fani, mama tahu Fani pasti bisa mandiri... Mama bangga sekali pada Fani...!" Fani tertawa riang dan penuh bangga memeluk bundanya. Boi, Iqbal, Lee, dan Ling mengakui bahwa Fani telah menyelamatkan mereka hari itu. Keempat bocah tersebut dengan seru menceritakan apa yang telah terjadi pada semua orang. Fani turut mendapat pujian dari Papa Zola dan Mama Zilla. Gadis kecil pemalu tersebut menyembunyikan wajahnya yang merona dalam pelukan sang bunda begitu semua teman Boboiboy memuji sambil bertepuk tangan.
Gadis cilik mungil pendiam yang ternyata bisa diandalkan, menjadi pahlawan cilik menyelamatkan Boi dan kawan-kawan.
Malam itu, semua teman Boboiboy sudah pulang, kecuali Yaya, Gopal, Ying, Stanley, dan anak-anak mereka. Tak cukup setengah hari untuk melepas rindu bagi para sahabat itu. Terlebih para bocah yang bagai tak ada habisnya energi mereka untuk bermain. Selepas mandi sore dan tidur karena kelelahan bermain di lapangan, para bocah tersebut kembali segar. Liburan itu benar-benar mereka manfaatkan untuk main seharian penuh.
Usai makan malam bersama yang dimasak beramai-ramai oleh Boboiboy, Ying, Yaya, dan Gopal, semua orang duduk santai di ruang tamu bersama anak-anak yang asyik bermain di belakang sofa. Yaya memang mengakui bahwa Gopal lebih pintar masak dibanding dirinya. Wanita berjilbab merah muda itu tersenyum geli pada dirinya sendiri begitu Boboiboy dan Ying tertawa kecil sambil merangkul Yaya.
Semua orang asyik mengobrol dan bercanda ria... kecuali si kecil Fani.
Fani hanya duduk sambil memeluk bonekanya di samping Tok Aba, sementara ibundanya tersayang sedang menikmati saat-saat kebersamaan dengan sahabat-sahabatnya. Fani tak ingin mengganggu papa mamanya yang begitu bahagia bisa berkumpul dengan sahabat lama mereka. Boi juga amat sangat senang bisa bermain dan bercanda dengan Iqbal, Lee dan Ling.
Tok Aba terdiam melihat cucunya hanya duduk sambil memeluk boneka di sampingnya, "Fani... tidak ikut bermain bersama abang...?" Pertanyaan sang buyut dijawab gelengan kecil. Tok Aba kembali terdiam. Senyuman kecil menghias wajah tua sang kakek sambil mengelus lembut rambut pendek Fani.
Di benaknya bagai memanggil bayangan masa lalu. Ketika Boboiboy masih kecil duduk di samping menemani orang tua yang biasanya tinggal sendirian. Kedatangan Boboiboy dan Ochobot begitu mewarnai masa tua Tok Aba. Cucunya setia dan begitu sabar merawat sang kakek yang tua namun bersemangat. Boboiboy berubah. Kemudian tumbuh remaja, hingga dewasa... dan kini ada seorang anak kecil yang lahir dari rahim cucu Tok Aba, begitu mirip dengan Boboiboy.
Tak lama Boi membujuk Fani untuk ikut bermain bersama teman-temannya. Tapi Fani menggeleng kembali.
"Kenapa Fani tak mau main bersama teman-teman...?" tanya Tok Aba. Boboiboy terdiam mendengar kakeknya tengah mengobrol dengan Fani, membuat Ying dan Yaya turut teralihkan perhatian mereka pada sang gadis cilik.
"Mama sedang mengobrol sama Makcik Yaya dan Makcik Ying... Papa mengobrol dengan Pakcik Gopal dan Pakcik Stanley... Kakak main sama teman-teman... Ochobot main sama Pakcik Probe sama Pakcik Adu Du... Fani mau temani Atok aja... Atok nggak boleh sendirian... nanti sepi..."
Semua orang terdiam. Atok tersenyum penuh haru menatap mata bulat tajam yang penuh kelembutan dan kepolosan seorang anak kecil. Boboiboy tersenyum dan mendekati Fani dan memeluk buah hatinya erat, "Fani sayang Atok, ya...?" Fani mengangguk dalam pelukan ibunya.
Tak ada yang tahu hingga akhirnya semua orang sadar, meskipun Fani terlalu kecil untuk mengingat semua orang... tapi di benaknya selalu ada wajah Tok Aba yang hangat memberinya hot koko special yang menjadi kesukaannya. Fani selalu menunggu hari di mana mereka berkunjung ke rumah Tok Aba untuk menemui kakek buyutnya tersayang yang telah menghangatkan hati sang putri kecil mungil dengan coklat panas nikmat, yang selalu diingatnya.
Fang tersenyum sambil mengelus kepala Fani.
Ia begitu mengerti perasaan anak bungsunya.
Ketika pertama kali dirinya datang ke Pulau Rintis, tinggal di rumah kosong yang besar bagai rumah hantu sendirian. Ketika semua orang mengelu-elukan Boboiboy dan mencurigai dirinya sebagai penjahat. Hanya Tok Aba yang tersenyum dan bersikap ramah padanya. Selalu menunjukkan senyuman hangat dan nada bersahabat setiap Fang mengunjungi kedai pagi-pagi sebelum berangkat sekolah untuk membeli biskuit Yaya yang akan ia berikan pada kucing sewel di gang menuju sekolah.
Begitu ia menjadi salah satu bagian dari sahabat Boboiboy, Fang merasa bagai memiliki seorang kakek. Terutama ketika Fang menjalani hubungan dengan Boboiboy, rasa kekeluargaan yang hangat selalu diberikan Tok Aba dan Boboiboy.
Tok Aba tersenyum lebih lebar sambil berdiri dan berjalan menuju lemari dekat televisi, "Bagaimana kalau Fani temani Atok bermain kembang api bersama teman-teman...?"
Boi dan teman-temannya berseru senang. Fani membelalakkan matanya yang bulat dengan binar-binar melihat beberapa bungkus kembang api di tangan Tok Aba.
Boboiboy dan teman-temannya turut menyiapkan lilin dan seember air di halaman rumah, membiarkan anak-anak mereka menikmati malam liburan bersama-sama. Tok Aba duduk di teras rumah sambil membantu Fani menyalakan kembang api. Fani menaruh Dino di sofa, kemudian dengan hati-hati mengenakan sandal agar ia bisa bermain bersama abangnya di halaman rumah.
"Seperti lagi lebaran, yah!" seru Boi. Ia tergirang begitu kembang api menyala bagai bunga-bunga api. Fang mengeluarkan smartphone-nya lalu merekam kegiatan anak-anak mereka yang begitu seru.
Bahkan Yaya dan Gopal tergelak melihat Iqbal yang langsung berlari pulang ke rumah mereka yang hanya berbeda beberapa rumah dari situ untuk mengambil kembang api miliknya di lemari. Akhirnya Iqbal memutuskan untuk membawa semuanya.
Lee dan Ling tadinya membujuk ayah mereka untuk mengambil petasan merah yang biasa mereka gunakan untuk imlek, tapi Ying melarang karena suara petasan tersebut terlalu keras.
"Yaaah... mama tak seru wo..."
"Ei, kalian mau bangunkan satu kampung ma...?"
Adu Du menepuk wajahnya, terheran pada sifat Probe yang tak akan pernah berubah. Robot ungu yang sangat menyukai keramaian kini begitu menikmati dirinya bermain kembang api seperti anak kecil. Bahkan Ochobot geleng-geleng melihatnya.
Boi memeluk kaki ayahnya setelah kembang api di tangannya habis, "Papa... lebaran nanti kita kemari lagi, ya... bawa kembang api yang banyak..."
Fang tersenyum sambil mengelus kepala Boi. Tubuhnya yang tinggi membungkuk dan meraih anaknya dalam gendongan, "Kita pasti kemari... Lalu bersenang-senang seperti ini setiap hari..."
Malam yang cerah dengan suara tawa ceria anak-anak menghangatkan hati seorang tua, yang duduk di teras bersama para cucunya. Fang dan Boboiboy duduk mengapit Boi dan Fani yang mengapit buyut mereka di tengah.
Iqbal tertawa-tawa dengan kembang api di tangannya bersama Yaya yang begitu gemas melihat anaknya berbinar senang bisa melepas rindu dengan sahabatnya. Gopal turut bergabung dengan sepiring makanan di tangannya, membuat Yaya berganti menghela napas melihat suaminya.
Lee dan Ling membantu Ying memaksa Stanley agar mengangkat bokongnya dari sofa empuk dan bermain kembang api bersama mereka. Pada akhirnya Stanley turut bergabung karena tak mau melewati saat-saat bahagia bersama keluarga dan sahabatnya.
Fani dengan semangat meminta Atok untuk menyalakan kembang api lagi setelah yang ada di tangannya telah habis. Boi dan anak-anak lain turut mengerumuni Tok Aba. Bahkan Probe ikut merengek.
"Ei, Probe! Kamu ini bukan anak-anak lagi...!"
"Haduh... tak pernah berubah memang dia ini..."
Semua tertawa mendengar keluhan Adu Du dan Ochobot, sementara Probe kegirangan karena Boi dan Fani memberikannya kembang api lagi di tangan robot ungu tersebut. Bahkan Tok Aba tertawa sambil mengelus rambut Boi dan Fani, bangga pada kedua anak dari cucunya. Terlihat jelas di wajah orang tua tersebut ia begitu senang bisa memanjakan para cucunya.
Fang tersenyum sambil merangkul Boboiboy yang menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya.
Dari bibirnya yang lembut, Boboiboy bergumam pada suaminya, "Saat-saat seperti inilah di mana aku ingin selalu mengenangnya... Wajah Atok nampak tak pernah terlihat tua..."
Fang mencium rambut istrinya menikmati aroma lembut sambil berbisik, "Terima kasih... telah memberikanku keluarga yang hangat, sejak aku bertemu denganmu..."
tbc
