Boboiboy © Animonsta Studio, Malaysia
WARNING!
Fang x fem!Boboiboy
Gopal x Yaya
Stanley x Ying
OOC alert! (you've been warned) I really love seme!Ying LOL! xD Fang versus Ying always be my fave all the time xDD
Boi & Fani, Ling & Lee, Iqbal (OCs) by me
Petals of Love - Fang vs Ying
Kembang api berwarna-warni begitu membuat mata para bocah berbinar sambil tertawa-tawa. Orang tua mereka amat sangat menikmati kebersamaan yang sangat mereka rindukan. Kenangan yang begitu dirindu oleh para sahabat yang kini berkumpul dengan keluarga mereka.
"Waaah…! Indah sekaliii! Makcik Ying keren!" Boi dan Iqbal memuji keahlian Ying memutar-mutar kembang api hingga membentuk garis terang berupa gambar di udara. Kecepatan tangan wanita itu tak pernah diragukan. Begitu terampil dan cekatan.
"Hahaha… hanya begini saja ma…!" seru Ying bangga.
Sementara Lee dan Ling mengagumi keberanian Fang menyalakan mercon yang bagai air mancur warna-warni, "Pakcik Fang hebaaat…!"
"Tentu saja…," bangga Fang.
Fani di tengah-tengah begitu mengagumi kehebatan ayah dan sahabat orang tuanya. Tentu saja gadis cilik itu begitu tertarik pada warna-warna cahaya gemerlapan di malam hari itu. Boboiboy tersenyum geli melihat anaknya terhipnotis pada keindahan kembang api yang dimainkan Ying serta Fang, "Fani, mama mau ambil minum sama cemilan sebentar… Fani jangan terlalu dekat sama api, ya, sayang…." Sang bocah cilik mengangguk nurut sambil menatap ibundanya. Boboiboy mencium kepala Fani dan berjalan masuk ke rumah meninggalkan para sahabat dan keluarganya yang masih asyik bermain kembang api di halaman.
Keempat bocah yang berumur sepantaran di halaman saling memuji keahlian Fang dan Ying, membuat Fani bertanya dengan polosnya pada teman-temannya yang lebih tua termasuk abangnya, "Papa dan Makcik Ying… mana yang lebih hebat…?"
Lee, Ling, Boi, dan Iqbal terdiam berpikir sejenak. Semua tertawa mendengar pertanyaan polos tersebut. Namun Tok Aba menyadari, bahwa akan terjadi sesuatu… karena pertanyaan tersebut memicu ego kedua sahabat yang rajin sekali bersaing.
"Tentu saja aku!"
Semua orang mendadak terdiam mendengar Fang dan Ying menjawabnya bersamaan. Terlebih ketika keduanya kini saling melirik tajam penuh persaingan yang dahsyat.
"Oh, tidak…," para bocah menyadari suatu hal yang akan terjadi jika Fang dan Ying memasang tampang demikian.
"Astaga…," Probe, Ochobot, serta Adu Du mundur teratur dari tempat mereka berdiri dekat Fang dan Ying. Hanya Fani yang tak mengerti situasi berbahaya apa yang akan terjadi.
Malam yang sunyi dengan hembusan angin dingin serta suara kembang api menambah suasana tegang persaingan yang tumbuh sejak lama di antara dua manusia yang dipenuhi aura gelap.
"Hoo… kau ngerasa hebat rupanya…?"
"Heh… sudah jadi ibu-ibu pun kamu tetap ngerasa bisa menandingiku…?"
"Hmph… Justru aku menjadi lebih kuat darimu sekarang ini, Fang…"
"Ada yang kau lupa, Ying… Bahwa Boboiboy telah menjadi milikku… SEUTUHNYA."
Yaya dan Gopal hanya diam berdiri. Sementara sang wanita berjilbab merah muda mengangkat tangan kirinya yang dilingkari jam tangan ke hadapan dada, suaminya memasukkan ujung peluit pada bibirnya, dan Probe yang tiba-tiba muncul di samping keduanya sudah menggenggam bendera kotak-kotak hitam dan putih.
"Jangan besar kepala kau, Fang! Pertandingan kali ini… Melukis Di Udara Langit Malam Dengan Kembang Api!"
"Siapa takut!? Stanley! Rekam kami di udara! Jadi semua orang bisa tahu siapa yang lukisannya paling indah!"
Stanley langsung mengangkat handycam yang sudah berada di tangan kanannya dengan santai begitu Fang memberi perintah. Ia tahu akan terjadi hal seperti ini.
"Oke, bersedia…," Yaya memasang timer pada jam tangannya, memberi aba-aba kapan Gopal boleh meniup peluit tanda mulai. Probe mulai mengangkat bendera tinggi-tinggi.
Anak-anak yang tak bisa berkata apa-apa melihat pertandingan tersebut hanya bisa diam dalam kekaguman bercampur ketakutan. Adu Du meminta mereka agak menjauhi kedua makhluk yang tak bosannya bersaing sejak kecil, "Dah… dah… kalian duduk bersama Tok Aba saja, ya…"
"Siap… YAK!" Aba-aba Yaya diikuti suara peluit Gopal dan kibaran bendera di tangan Probe. Kedua sahabat tersebut langsung melesat menggunakan kuasa mereka masing-masing, melompat ke udara dan mulai melukis sesuatu menggunakan cahaya kembang api di tangan mereka, membentuk garis-garis maya di udara dengan cepat. Stanley merekam dari bawah, berdiri di samping Gopal dan Yaya. Sementara anak-anak mulai bersorak kagum melihat Fang dan Ying melompat tinggi dan berputar-putar menggunakan kecepatan tangan mereka melukis sesuatu.
Fani sendiri tak mengerti apa yang sedang dilakukan ayahnya dan sahabat orang tuanya di angkasa sana dengan kilauan cahaya-cahaya kembang api yang dimainkan di tangannya. Ia berdiri dengan hati-hati dan berjalan masuk ke dalam rumah menuju dapur, di mana ia bisa menemukan bundanya tersayang tengah menyiapkan piring-piring kecil serta gelas pada nampan.
"Mama…"
Boboiboy sedikit terkejut mendapati putri bungsunya berdiri di samping sambil memeluk boneka Dino tersayang. Ia berlutut dan memeluk Fani, "Sayang, kok di sini…? Main kembang apinya sudah selesai…?"
Bocah cilik tersebut menggeleng kecil, "Fani mau sama mama aja…," Boboiboy tersenyum maklum. Ia mencium pipi anak tersayangnya gemas kemudian kembali berdiri dan menghadap meja, menata kue-kue kecil di atas piring. Fani memanjat kursi dengan hati-hati, penuh rasa penasaran ingin melihat apa yang ibunya lakukan. Tangan sang bunda memegangi punggung anaknya, menjaga agar ia tak jatuh hingga duduk dengan nyaman di kursi.
Suara riuh penuh semangat di luar begitu ramai hingga terdengar ke dapur, tanpa Boboiboy tahu apa yang tengah terjadi di luar, "Wah, sepertinya seru sekali ya, Fani…"
Fani tersenyum pada bundanya yang cantik terhias senyuman hangat di wajahnya. Suara teko air panas bertiup, menandakan air telah matang, "Nah, mama mau buat coklat spesial untuk semuanya… Fani mau bantu?" Sebuah anggukan penuh antusias menjawab tawaran tersebut.
Sementara di luar halaman, kedua manusia yang tengah seru bertarung di udara masih melukis-lukis dengan gerakan-gerakan lincah luar biasa ditemani suara petasan dan kembang api menggema di atas langit.
"Gopal, bisa tolong gantiin aku nggak…? Tanganku pegal, nih …"
"Oh, oke…," Gopal mengambil alih handycam dari tangan Stanley yang kesemutan, berusaha tak terlalu mengguncang agar gambar terambil baik.
Stanley duduk di samping para bocah yang mulai bosan memperhatikan entah apa yang dilakukan Fang dan Ying di atas sana.
"Papa bikin apa, sih… aku penasaran…," keluh Boi tak sabar. Iqbal sendiri menebak-nebak gambar apa yang dibuat oleh kedua teman orang tuanya itu. Lee menggerak-gerakkan lehernya yang mulai pegal karena terus mendangak. Sedangkan Ling sudah berulang kali menguap.
"Kenapa, ya… Mama dan Pakcik Fang selalu saja bersaing kalau bertemu…?"
"Iya, ya… Kira-kira Pakcik Stanley tau nggak?"
Yang ditanya hanya mengangkat alis sambil memandang para bocah yang memandangi dirinya penasaran. Ia menghela napas dan mengangkat bahu, "Entahlah… tapi memang keduanya punya sesuatu yang diperebutkan sejak dulu…"
Tak semua orang tahu dengan jelas… apa yang memulai persaingan kedua sahabat tersebut. Tak semua orang… kecuali Stanley.
Kejadian bertahun-tahun silam, sebelum munculnya cinta di antara Fang dan Boboiboy. Hanya ada rasa benci pada diri Fang yang menginginkan popularitas dari sahabatnya yang baru saja berganti predikat menjadi seorang gadis.
Ia ingat jelas, ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, ketika ia berjalan menuju sekolah sambil menguap berulang kali sampai gerbang sekolah. Begitu memasuki lorong sekolah, hendak memasuki kelas, Stanley menyadari Ying berada jauh di depannya dan memasuki kelas duluan. Namun suara bising dari kelas sedikit mengejutkan bocah tambun penidur tersebut. Agak malas, ia mendekati jendela di mana ia bisa melihat suasana kelasnya. Keberadaan Fang di dalam kelas membuat Stanley agak memundurkan tubuh, bersembunyi di balik jendela sambil mengintip apa yang terjadi… atau akan terjadi.
Fang jelas sedang menendang kursi hingga tergeletak jatuh, sengaja mengotori bangku tersebut agar yang mendudukinya terkena kotornya tapak kaki di alas bangku.
Kursi Boboiboy…
"Fang… apa yang kau lakukan?"
Kini mata Stanley teralih pada Ying yang berdiri di depan pintu kelas. Dari tempatnya bersembunyi, Stanley bisa melihat jelas kemarahan dari gadis cilik tersebut.
Cowok dengan jaket melingkar di pinggangnya hanya memberi dengusan tak peduli, "Bukan urusanmu…"
"Ini menjadi urusanku… Apa yang kau lakukan pada bangku sahabatku?"
Fang hanya diam tak menjawab. Juga dengan Stanley yang lebih tertarik menonton diam-diam daripada melerai.
Ying memicingkan mata di balik kacamata bulatnya, "Ooh, ya… tak perlu kau jelaskan… aku tahu…"
Fang hanya melirik diam.
"Sejak Boboiboy wujudnya berubah menjadi seorang perempuan… kau kehilangan rivalmu… Tapi sekarang semua orang lebih memperhatikan Boboiboy… Kau iri pada kepopulerannya' kan?" Ying terkekeh sinis. Tak disangka senyuman nan culas bisa nampak di wajah manis gadis cilik tersebut.
Fang memandang tajam Ying dengan penuh amarah. Ying semakin yakin, itulah alasan kemarahan Fang yang membuatnya merusak bangku Boboiboy. Gadis tersebut berhasil memancing amarah cowok penguasa bayang yang haus akan popularitas.
"Kasihan sekali kau, Fang… menusuk dari belakang seperti ini… Sementara orang yang kau benci itu sama sekali tak menyimpan emosi padamu…," Ying berjalan perlahan mendekati Fang.
"Diam, kau… Ini urusanku dengan Boboiboy… Dia mencuri segala popularitas dengan cara curang…"
"Curang? Curang bagaimana? Bukankah ia justru mengalami kecelakaan yang membuatnya berubah… dan ia sendiri tak menyukai perubahan itu… Kau membencinya karena ia mengalami perubahan yang tak diinginkannya, hah?"
Nada dingin terlontar dari mulut gadis bertubuh mungil, yang berusia lebih muda setahun dari teman-teman sekelasnya. Stanley hanya diam tak berekspresi apa-apa dalam persembunyiannya. Ia tahu jelas Fang benar-benar menginginkan popularitas, tapi dengan sikapnya yang seperti ini… siapa yang akan menghormatinya?
Stanley tak pernah tertarik dengan urusan yang terjadi di antara teman-temannya. Meski banyak kejadian besar seperti berubahnya wujud Boboiboy, terjadinya perpecahan kelas antara murid laki-laki dan perempuan, pertikaian para sahabat Boboiboy dengan Fang… Bocah Tionghoa dengan tubuh gempal tersebut lebih memilih damai dengan tidur.
"…asal kau tahu, Fang…," suara Ying membuat Stanley menaruh perhatian pada kedua temannya kembali. Namun tak pernah disangka gadis kecil itu akan meraih kerah Fang dengan kasar dan menariknya.
"Aku… mengenal Boboiboy lebih dulu darimu. Ia sahabatku. Meski ia berubah bagaimanapun… aku akan tetap menyayanginya…"
Kali ini Stanley mulai tertarik mendengar kata-kata Ying yang nyaris terdengar seperti bisikan. Tapi bocah yang masih bersembunyi di balik tembok tersebut bisa mendengarnya jelas, karena belum ada siapapun yang melewati lorong kelas tersebut. Sunyinya gedung sekolah membuat suara detak jam bisa terdengar jelas… termasuk ancaman Ying kepada Fang.
"… Kalau sampai aku melihat air mata sedih mengalir dari mata Boboiboy… Aku sendiri yang akan membukakan pintu neraka untukmu… Meski Boboiboy melarang, aku rela tanganku bermandikan darahmu, Fang…"
Stanley tertegun mendengar suara gadis cilik yang begitu dingin, bagai pedang es menggores kulit hingga ke organ terdalam. Gadis cilik yang ia kenal sebagai teman sekelasnya yang pemalu.
Ya, pemalu… sampai Boboiboy datang dan menjadi temannya…
Stanley menyadari, keberadaan Boboiboy sungguh mengubah Ying. Pertemuan mereka dengan Ochobot membawa mereka dalam petualangan ditemani jam kuasa. Namun senyum ramah dan sikap hangat Boboiboy pada teman-temannya, membuat Ying yang dahulu pemalu kini bisa berceloteh lepas pada siapapun. Semua orang sadar bahwa gadis itu amat sangat menyayangi sahabatnya. Bukan dalam hal romansa, tapi murni persahabatan yang erat.
Betapa gadis itu senang membantu sahabatnya mengurus kedai. Mengambil es hingga ke kutub dengan senang hati menggunakan kekuatannya.
Ying, gadis cilik dengan jiwa persahabatan begitu besar.
Setelah wujud Boboiboy berubah, rasa sayang padanya semakin besar. Ia merasa, kali ini giliran dirinyalah yang melindungi Boboiboy. Termasuk melindunginya dari gangguan Fang sang pengganggu… setidaknya itu yang Ying pikir tentang Sang Penguasa Bayang.
Tentu saja ia terkejut setengah mati melihat keakraban Boboiboy dan Fang kembali. Memang lega melihatnya. Apalagi senyum Boboiboy kembali menghias begitu hangat dan indah di mata Ying. Gadis itu hanya menginginkan kebahagiaan untuk sahabatnya.
Begitu kedua sahabatnya menjalin hubungan romantis, Ying mulai merasa agak risih, meski ia senang karena sahabat bertopinya itu juga nampak bahagia…
Tapi… Fang selalu merebut perhatian Boboiboy darinya.
Di mana seharusnya Ying bisa menghabiskan waktu dengan Boboiboy, Fang selalu datang mengajak gadis bertopi itu pergi entah ke mana. Janjian nonton, kencan, makan… Bahkan dahulu di mana Boboiboy selalu senang menerima bantuan dari sahabat kecilnya itu, kini ia nyaris selalu menolak dengan halus karena sudah ada yang membantunya, yaitu cowok berkacamata yang selalu nempel di samping Boboiboy… membuat Ying merasa bahwa ia bersaing ketat mencari perhatian sahabatnya dari serigala mesum bernama Fang.
Ya, itulah awal mula bagaimana mereka mulai bersaing hebat memperebutkan Boboiboy…
"Pakcik Stanley…?"
Panggilan Boi menyadarkan Stanley dari lamunannya. Barulah ia sadar tengah dipandangi para bocah di sampingnya yang penasaran padanya.
Stanley tertawa kecil sambil menggaruk belakang kepala membuat para bocah semakin penasaran.
Tapi suasana tenang yang tiba-tiba membuat semua orang memandangi langit yang kini sunyi senyap. Yaya dan Gopal berjalan mendekat dan duduk bersama-sama, meninggalkan Fang dan Ying yang tepar di atas rerumputan sambil ngos-ngosan, dengan batang-batang sisa kembang api berserakan meninggalkan asap mesiu.
"Baiklah… mari kita lihat gambar-gambar apa yang dibuat Fang dan Ying…"
Anak-anak bersorak mengikuti Gopal masuk ke rumah dan menyambungkan kabel handycam pada televisi. Sementara Boboiboy dan Fani yang baru saja menyelesaikan membuat camilan membawa makanan-makanan serta coklat panas ke meja tamu agar bisa dinikmati semua orang. Tentu saja makanan dan minuman tersebut disambut meriah, sembari menonton apa yang telah dilakukan Fang dan Ying bersaing ketat di atas langit.
"Woooow! Makcik Ying menggambar barongsai!" Anak-anak berseru begitu menonton aksi Ying dari kamera yang diperlambat dan dipercepat agar garis cahaya kembang api terlihat jelas. Tak disangka apa yang dilukis di langit begitu jelas terlihat dan detail.
"Wah! Papa menggambar naga! Keren!"
Anak-anak mulai ramai mengutarakan pendapat mereka. Kekaguman pada karya seni yang diciptakan dua jawara kini tengah dinilai para juri cilik.
Hanya Fani yang menikmati coklat panas di samping mama dan kakek buyutnya tersayang dengan kalem.
Boboiboy celingukan mencari suami dan sahabatnya yang baru ia sadari tak ada di situ, "Mana Fang dan Ying…?"
Gopal dan Yaya menyeruput coklat panas mereka bersamaan, membiarkan Stanley yang menjawab pertanyaan tersebut dengan santai, "Hangus karena mesiu di luar…"
Jawaban dari Stanley membuat Boboiboy bingung. Ia berdiri meninggalkan para bocah yang masih asyik melihat aksi kembang api luar biasa pada kamera dan para sahabat yang berkesan cuek pada para jawara di luar sana. Wanita berambut pendek itu melongokkan kepalanya mencari-cari di halaman. Kakinya mengenakan sandal dengan hati-hati, berjalan meninggalkan rumah dalam beberapa langkah… dan akhirnya ia menemukan dua makhluk yang tengah pingsan kelelahan berbau asap mesiu di halaman.
"Astaga… Fang, Ying… kalian sedang apa di sini? Nanti masuk angin… Ayo, masuk… aku sudah siapkan coklat panas…," perlahan Boboiboy mendekati keduanya dan berlutut di samping mereka dengan lembut.
"…Boboibooooy… Fang nyebelin, tuuuh…," rajuk Ying dengan manja sambil merayap di atas rerumputan dan memeluk Boboiboy.
"Apaan nyebelin… Kamu yang nyebelin, tau…," Fang ikut protes sembari kesal melihat istrinya dipeluk-peluk saingan terbesar abadinya.
Yaya ikut menyusul sambil menutup hidung, tak tahan bau asap kembang api yang begitu pekat. Ia mengantar Ying ke rumahnya yang hanya berjarak beberapa rumah saja untuk mandi dan ganti baju. Begitu pula Boboiboy meminta Fang membasuh tubuh di kamar mandi sementara ia menyiapkan baju yang bersih.
Begitu Ying telah mandi dan berganti baju, ia dan Yaya kembali ke rumah Tok Aba untuk mengetahui siapa jawara yang dipilih oleh para juri cilik.
"Jadi!? Siapa yang menang!?" seru Fang dan Ying bersamaan. Namun anak-anak tersebut kini tengah asyik menikmati kue-kue dan coklat panas yang disajikan Boboiboy, "Eh? Yang menang? Hmm…"
Fang dan Ying tak sabar menunggu hasil, dan akhirnya keempat anak yang duduk berjejer di sofa mengeluarkan keputusan, "Seri aja, deh! Sama-sama keren soalnya!"
Fang dan Ying akhirnya pingsan di tempat. Si kecil Fani yang sedari tadi duduk di samping kakek buyutnya berjalan mendekati ayahnya dan duduk di samping pria malang tersebut sambil menepuk-nepuk kepala Fang dengan begitu polos tanpa tahu apa yang terjadi, "Papa kenapa…? Lapar, ya? Mama udah buatin kue, tuh…"
Yaya, Gopal, Tok Aba, Adu Du, Probe, dan Ochobot tak bisa lagi menahan tawa mereka yang akhirnya memenuhi ruangan. Stanley hanya geleng-geleng kepala, dan Boboiboy memiringkan kepalanya bingung apa yang membuat kedua sahabat masa kecilnya pingsan begitu saja.
Malam yang penuh canda tawa dan suka ria menghias sebuah rumah tua di kota kecil yang penuh kenangan.
Hanya mereka, para sahabat, yang benar-benar merasakan betapa indahnya malam berbintang di Pulau Rintis, dengan kawan-kawan dan keluarga yang begitu mereka sayangi.
Boboiboy berdiri melihat pemandangan manis di hadapannya. Senyuman kecil nan hangat menghias wajah cantiknya.
Pemandangan terindah yang begitu disukainya di dunia ini, tak pernah ada keinginan dalam dirinya untuk membuang kenangan yang membuat hatinya begitu hangat mengingat…
Kenangan yang tak akan terlupa meski waktu terus berjalan…
Sahabat dan keluarga tercinta… meski kepolosan wanita berambut pendek tersebut tak pernah membuatnya sadar bahwa ada persaingan abadi yang tak kunjung padam di antara sahabatnya.
"Aku senang bisa selalu akrab seperti ini…!"
Tuturan manis Boboiboy hanya dibalas diam oleh Yaya, Gopal, dan Stanley, "Kapan dia akan sadar kalau Fang dan Ying masih memperebutkannya, ya…?"
tbc
GUUUUYS! Terimakasih banyak sekali buat yang sudah ke OTPcon kemarin! xD Saya senang bisa bertemu kalian, terutama amjihan ^^Saya benar-benar senang bisa bertemu teman-teman baru yang ternyata FangBoy Lovers! xD
Astaga, nggak menyangka ada pengunjung yang langsung hype begitu bertemu xD Saya benar-benar senang! xD Semoga lain waktu kita bisa bertemu lagi ^^7
Mungkin bagi yang ingin bertemu dan ingin membeli posternya (masih ada sisa kok xD) bisa bertemu di Popcon hari Minggu tanggal 9 Agustus nanti ^^ Saya akan ke sana ^^7
Sekedar pengumuman, Petals of Love akan tamat satu chapter lagi ^^ Dan saya sedang dalam proses fanfic baru! xD
Terima kasih banyak atas dukungannya selama ini pada keluarga-keluarga manis yang merupakan OTP dan anak-anak mereka yang adalah OC saya ini xD Senang sekali mendapat respon baik dari teman-teman sekalian ^^
