Boboiboy © Animonsta Studio, Malaysia
WARNING!
Fang x fem!Boboiboy
Gopal x Yaya
Stanley x Ying
OOC alert! (you've been warned)
Boi & Fani, Ling & Lee, Iqbal (OCs) by me
Flower Field of Love
Pagi datang menyapa dunia dengan cahaya matahari cerah menyelimuti rerumputan hijau segar di hari Minggu. Hari terakhir di mana keluarga kecil di rumah Tok Aba menikmati liburan di rumah kakek buyut tersayang mereka.
Seorang bocah laki-laki membuka jendela dengan begitu semangat. Adik perempuannya muncul malu-malu mengintip mengikuti abangnya sambil memeluk boneka Dino kesayangannya. Boi menghirup udara segar dan menghembuskannya dengan semangat, "Huaaaaaaaahhh!" Fani yang melihat abangnya kembali mengikuti dengan suara mungil, "Huaaah...!"
Setelah malam yang penuh canda tawa serta persaingan yang ramai, Boi menyadari hari itu adalah hari terakhir mereka menginap di rumah Tok Aba. Sayang, hanya ada libur tiga hari. Esoknya ia harus bersekolah kembali di Kuala Lumpur. Padahal ia begitu merindukan teman-temannya di Pulau Rintis dan ingin bisa selalu bersama mereka. Betapa menyenangkan bisa bermain bersama-sama, meski di tiap pertemuan anak-anak tersebut bersama orang tua mereka, selalu saja Fang dan Ying bersaing dengan beribu alasan. Hari pertama liburan, kedua, dan seterusnya... Sementara Stanley, Yaya, dan Gopal hanya menghela napas pasrah. Justru Boboiboy melihat 'perlombaan' antara Fang dan Ying begitu seru mewarnai hari. Bahkan Boi sampai berpikir, bahwa ibunya tersayang terlalu polos melihat persaingan tersebut sebagai perlombaan.
Pandangan kedua anak tersebut kini teruju pada ayah mereka yang baru memasuki kamar hanya dengan celana jeans yang menutupi pinggang ke bawah tanpa busana menutupi tubuh atletisnya. Sebagai seorang ayah dari dua anak yang masih kecil, Fang tak kehilangan kegagahannya. Handuk masih tergantung di kepala nyaris menutupi setengah wajah tampan Fang yang tak mengenakan kacamata.
"Papa! Papa! Pagi ini kita jalan-jalan, yuk! Ini' kan hari terakhir...! Kita udah harus pulang siang nanti...!" Boi melompat-lompat mendekati ayahnya yang terduduk di pinggir tempat tidur sambil membuka koper mengambil sehelai kaos, "Tentu saja... itu memang rencana papa...," Boi bersorak mendengar rencana ayahnya.
Si gadis cilik justru duduk dengan manis di samping ayahnya tanpa melepaskan pelukan bonekanya, "Fani mau temani Atok aja..."
"Eeeh...? Tapi Fani... mumpung kita lagi di sini kita jalan-jalan, yuk...!" Boi berusaha membujuk adiknya, namun gadis cilik yang lemah lembut dan pemalu itu ternyata memiliki hati yang keras bagai batu karang. Fani menjawab ajakan abangnya dengan gelengan. Boi menunduk kecewa sambil memeluk kaki ayahnya, "Yaaaah... ayo, dooong... Masa kita cuma diam di rumah Atoook...?"
Fang tertawa kecil sambil mengangkat tubuh Boi dan mendudukkannya di pangkuan, "Wah… sayang sekali… Padahal mama udah semangat mau ikut jalan-jalan…"
Fani sedikit tersentak mendengar kata 'mama' dari kalimat ayahnya. Ia mulai berpikir kalau ibundanya akan sedih jika ia tak mau ikut menemani. Fang menyembunyikan senyuman usil sembari mengenakan kaos di tubuhnya. Akhirnya Fani menarik-narik ujung kaos ayahnya, tanda setuju untuk ikut.
"HOREEEE...!" Boi bersorak kembali sambil memeluk leher ayahnya dengan semangat. Fang tertawa melihat anak sulungnya begitu bahagia. Pria itu membiarkan bocah berusia delapan tahun tersebut bergelantungan di leher sementara kedua tangannya menggendong si bungsu pendiam. Ia berhati-hati menuruni tangga, menghampiri istrinya tercinta di dapur.
Boboiboy menyeduh kopi untuk suaminya. Derap langkah terdengar menuruni tangga dan semakin mendekat memasuki dapur membuat wanita berambut pendek itu tersenyum. Begitu berbalik, Boboiboy tersenyum semakin lebar mendapati sang suami dengan kedua buah hatinya tertawa-tawa menyapa ibunda mereka.
"Selamat pagi, sayang..."
Ciuman mesra dari Fang disambut lembut oleh Boboiboy di bibirnya. Wangi segar dari tubuh Fang begitu disukai Boboiboy. Boi yang masih berada di punggung lekas menutup mata dengan salah satu tangannya melihat kemesraan Fang dan Boboiboy, sementara tangan yang lain masih menahan tubuhnya bergelantungan di belakang punggung Fang, "Ih, mamaaa... papaaa! Jangan mesra-mesraan di siniiii...!" Sedangkan Fani menutup wajahnya malu-malu dengan boneka Dino-nya dalam gendongan sang ayah.
Fang memutar matanya tanpa memprotes keluhan sang anak. Sementara Boboiboy tertawa sambil memeluk Fani dan menggendong dalam pelukan, membiarkan Boi bermanjaan dengan ayah idolanya. Fani menarik-narik kecil lengan baju sang bunda, meminta untuk didengar, "Mama… nanti papa sama abang mau jalan-jalan… mama ikut…?"
Boboiboy tersenyum kecil dan mengangguk sebagai jawaban, mencium pipi putrinya tersayang. Tentu saja gadis kecil itu tersenyum senang sembari memeluk bonekanya lebih erat.
"Nah, sekarang sarapan dulu, yuk...! Mama udah buatin roti isi mayonnaise dan telur, ada sayur-sayuran sehat di dalamnya juga, tambah keju leleh dan daging, juga ada mashed potato kalau mau pakai ayam cincang dan saus..."
Boi dan Fang tak bisa menahan suara gemuruh dalam perut mereka lagi. Santapan sedap dengan aroma wangi buatan sang bunda selalu dinanti-nanti keluarganya tercinta.
Usai sarapan, Boi langsung melompat turun dari bangku dan berhambur lari menuju kedai Tok Aba, di mana sang kakek buyut tengah menjaga kedai bersama dengan Ochobot, Probe, dan Adu Du sejak pagi tadi.
"Atoooook! Boi mau jalan-jalan sama papa-mama! Sama Fani juga!"
Kekeh kecil terdengar dari Tok Aba begitu Boi buru-buru mencium tangan buyutnya untuk pamit, sedangkan kedua orang tua sang bocah serta sang adik masih tertinggal jauh di belakang, baru saja keluar dari pagar rumah. Fang geleng-geleng menghela napas sambil merangkul istrinya yang menggendong si bungsu. Tentu saja Boboiboy mengajak Ochobot turut serta untuk ikut jalan-jalan, namun robot bundar yang begitu setia pada Tok Aba, meminta agar ia boleh lebih lama membantu di kedai sebelum kembali ke Kuala Lumpur.
Akhirnya keluarga kecil tersebut berjalan bergandengan meninggalkan kedai sambil melambaikan tangan mereka pada kakek tua serta alien dan dua robot yang tinggal di kedai.
Suasana di Pulau Rintis membuat kenangan dalam benak Boboiboy melayang. Ingatan ketika ia melewati perumahan berjalan menuju sekolah bersama teman-temannya. Keadaannya nampak sedikit berubah, seperti sebuah pohon yang kini telah tumbuh lebih rindang di balik pagar tembok, beberapa rumah yang telah berganti cat, tembok yang berganti pagar besi. Namun suasana yang damai dan asri tetap terasa begitu membawa rasa nostalgia.
"Papapapapapa! Kita mau ke mana, papa!?"
"Hmm... ke tempat kenangan papa pertama kali bertemu mamamu..."
Boboiboy sedikit terkejut. Memang, Fang sama sekali tak memberi tahu tujuan mereka berjalan-jalan. Tapi keputusan sang kepala keluarga membuat istrinya memandangi sang suami dengan tatapan agak heran, membuat yang dipandangi mengangkat alis sambil memasang senyum, "Kenapa, ma...? Tak suka...?"
"Bu, bukan itu... hanya saja... aku tak mengira kita akan ke rumah hantumu itu..."
Fang nyengir mendengar ledekan halus istrinya yang tak dapat menahan tawa kecilnya. Tak disangka, telinga bocah berusia delapan tahun yang berjalan di depan mereka menegak seketika, "Apa!? Rumah hantu!? Asyik! Ayo, cepat, pa! Ma!"
Fang menggeleng kembali sambil menghela napas melihat anaknya berlari duluan, "Anak ini... tempat apa sih yang bisa membuatnya tidak seheboh itu...?" Boboiboy tertawa kembali, "Aku tahu..., tempat kursus Bahasa Mandarin-nya...," tentu saja jawaban sang istri membuat Fang tertawa geli. Sedangkan si kecil Fani justru semakin mengeratkan gandengan tangannya pada sang bunda, "Mamaaa... Fani takut... Fani nggak mau ke rumah hantu..."
"Oh, sayang... Maafin mama, Fani... maksud mama bukan rumah hantu sungguhan...," tapi si kecil sudah terlanjur rewel tak mau melanjutkan perjalanan karena takut. Terpaksa Boboiboy menggendong anaknya yang merengek dalam pelukan sang bunda, "Nggak mau, mamaaa... Fani takuuut..."
"Fani, sayang... bukan rumah hantu, kok, sayang... Itu cuma rumah kosong yang nggak ditinggalin siapa-siapa... Nggak ada hantunya, sayang...," Boboiboy menenangkan sambil mengelus-elus punggung anaknya yang ketakutan meringkuk, memeluk erat boneka kesayangannya. Sementara si sulung sudah jauh di depan melambai-lambaikan tangannya penuh semangat, "Ayo, cepat! Rumah hantu! Rumah hantu! Horeee...!"
Boi menyadari adiknya rewel tak mau melanjutkan perjalanan. Ia menyusul balik menuju titik kedua orang tuanya dan sang adik, "Tenang, Fani! Nanti kalau hantunya ganggu Fani, abang pukul! Ayo, gandengan sama abang!"
Fani mengintip sedikit dengan matanya yang berkaca-kaca. Ia masih merasa takut melanjutkan perjalanan, namun uluran tangan dan tatapan mata sang kakak yang penuh semangat akhirnya membuat hati kecilnya memiliki sedikit keberanian.
Perlahan tangan sang gadis kecil terulur lembut dan menggenggam tangan abangnya penuh kepercayaan. Boboiboy menjadi tenang menurunkan Fani dari gendongan dan membiarkannya berjalan bergandengan tangan dengan Boi.
Setelah melewati beberapa belokan, Fang tersenyum lebih lebar, "Nah, itu yang pagar besi di sana itu tempatnya..."
Boi berhenti dan memperhatikan pagar besi rusak dari kejauhan sambil menggenggam tangan adiknya yang hanya diam kalem di samping. Boboiboy sendiri tersenyum geli mengenang pertemuan pertama dirinya dengan Fang yang diawali dengan pertarungan seru. Sementara Fang menyadari ada yang tak beres dengan anak sulungnya, "Boi? Kenapa, nak?"
"... Ng... nggak apa-apa...! A, ayo ke sana!"
Namun kurang dari beberapa meter jarak dengan pagar, suara benturan keras terdengar mengejutkan Boi... yang kemudian melompat ke belakang punggung adiknya. Sementara Fani justru hanya diam sambil memeluk Dino, kebingungan melihat abangnya yang berkeringat, "Abang, kenapa?"
"Eh, a, anu... nggak apa-apa, kok...!"
BRUUUM! BRUAK!
"GYAAAAAA!"
Fang nginyem, dengan anaknya yang kini bergelantungan di pinggang sambil bergetar, "Kamu tadi semangatnya membara, kok sekarang jadi penakut begini...?"
"Si, siapa yang takut!?"
Fani menjadi penasaran sedikit takut-takut menggandeng tangan ibundanya sambil berusaha mengintip dari balik pagar.
Pemandangan yang dilihat Boboiboy sungguh membuat dirinya terkejut tak percaya. Kakinya terdiam tak melangkah lagi. Fang mengikuti istri dan anaknya... dan akhirnya melihat jelas keadaan rumah kenangan mereka.
Mesin-mesin besar dan para pekerja tengah membobol tembok dinding rumah yang telah bobrok. Halaman luas tempat mereka pernah bertarung kini telah dipenuhi puing dan bebatuan serta kendaraan berat.
Rumah hantu yang menjadi kenangan masa lalu Fang dan Boboiboy kini telah berubah total menjadi reruntuhan. Entah apa yang akan dibangun di situ nantinya.
Boboiboy terdiam dengan wajah sedih. Ia menengadah memandang wajah sang suami yang tak berekspresi di sampingnya, hanya diam memandang segala yang terjadi di balik pagar besi tersebut.
"Mmm... Papa, mama... mana rumah hantunya...?"
"Mama... suara-suara tadi itu dari bukan suara hantu...?"
Boboiboy tertawa kecil berusaha menutup kesedihannya, "Bukan, sayang... itu suara... mesin-mesin yang sedang menghancurkan rumah hantunya..."
"Kok dihancurkan?" Pertanyaan polos Fani dijawab Boboiboy sambil berlutut memeluk buah hatinya, "Karena... mau dibangun rumah yang baru di situ..."
Boi menghela napas lega dalam hati karena tak perlu mengunjungi rumah hantu yang diceritakan ayahnya. Sementara Fani mulai merasakan bahwa ibundanya tengah bersedih entah karena apa, maka ia memeluk erat leher sang bunda tersayang.
Boboiboy terdiam membalas pelukan anaknya dan kembali memandang Fang yang masih tak bergerak di sampingnya, "Fang..."
Sang suami menoleh dan memasang senyuman kecil, "Kenangan yang indah maupun yang buruk akan selalu berada dalam ingatan kita... itu yang pernah kau katakan padaku, kan?"
Boboiboy berdiri membalas dengan senyuman kecil di wajahnya sambil mengangguk. Ia berusaha tak mengganggu suasana hati suaminya yang nampak sedang menghibur dirinya sendiri. Setidaknya itulah yang dipikirkan Boboiboy begitu melihat Fang yang kini memeluk erat bahu sang istri tercinta.
Meski sempat mengalami kejutan yang membuat hatinya sedih, Boboiboy berusaha tetap memasang senyuman agar tak merusak suasana hati suami dan anak-anaknya. Jalan-jalan dilanjutkan dengan berkeliling mengunjungi tempat-tempat kenangan pasangan suami-istri tersebut dengan kedua anak mereka hingga kembali ke rumah Tok Aba untuk bersiap-siap kembali ke Kuala Lumpur.
Tak hanya Boi yang rewel tak ingin kembali, Ochobot tak hentinya menangis dan merajuk ingin terus membantu Tok Aba. Probe justru menambah drama dengan tangisannya karena terharu dengan suasana perpisahan. Padahal Fang sudah berusaha menghibur bahwa mereka bisa kembali mengunjungi Pulau Rintis jika ada liburan lagi. Boboiboy tertawa kecil, namun mengerti perasaan Boi dan Ochobot.
Ying tak kalah rewelnya tak ingin Boboiboy pergi hingga Fang sewot melihat teman mereka bergelantungan memeluk istrinya, "Heh! Ini istri gue! Lu ke laut aja sono!"
"Bawel! Fang jelek!"
"Apa!? Berani lu!"
"Lu berani!?"
"Grrr... grrr...!"
Yaya dan Gopal serta Stanley menghela napas untuk kesekian kalinya, "Hhh... mulai lagi..."
"Boi... janji nanti kita main bareng lagi, ya...?" Lee dan Iqbal memberikan tos penuh keakraban dengan tangan mereka.
"Eh? Fani mana?" tanya Fang. Semua orang jadi celingukan mencari gadis cilik tersebut. Dan baru mereka sadari, Ling juga tak ada.
Sementara di rumah Ying, ternyata Ling tengah bersembunyi dalam lemari... penuh harap tak ada yang menemukannya. Sayang, Lee terlalu hapal pada saudari kembarnya, sehingga dengan mudah ia menemukan Ling yang terperanjat begitu pintu lemari geser terbuka, dan semua orang tengah menunggunya keluar.
Yang tak disangka adalah... Ling bersembunyi sambil memeluk erat Fani yang tak lupa boneka Dino dalam pelukannya.
"Ling!? Kamu ngapain ma!?"
"Fani...? Kok kamu sama Kak Ling?"
Ling terpaksa keluar dari lemari dan melepaskan pelukannya pada Fani. Semua bisa melihat mata gadis Tionghoa tersebut berkaca-kaca, "Aku... aku nggak mau Fani pergiiii...!" akhirnya tangisan pecah membuat suasana haru semakin kental.
Ling tak pernah menyangka dirinya begitu menginginkan adik perempuan yang mirip Fani. Ia jatuh cinta dan kasih sayangnya tumpah pada bocah cilik yang pendiam tersebut. Ying tersenyum maklum sambil memeluk anaknya. Sementara Fani tak mengerti apa-apa hanya diam dalam pelukan bundanya. Tapi, melihat Ling menangis tersedu membuat Fani merogoh-rogoh kantong bajunya dan menemukan sebuah permen.
"Kak Ling... ini buat Kak Ling... jangan nangis... nanti main lagi sama Fani, ya?"
Ling semakin tak sanggup menahan tangisnya. Ia menangis lebih keras sambil memeluk adik dari sahabatnya, membuat semua orang memasang senyum di wajah namun bulir air mata menetes di pipi mereka.
Para sahabat Boboiboy dan Fang melambaikan tangan mereka pada mobil yang mulai menjauh dari jalanan komplek rumah. Iqbal, Lee, dan Ling turut melambaikan tangan mereka penuh semangat membuat Boi tak berhenti menoleh ke jendela belakang mobil hingga akhirnya tak terlihat lagi.
Suasana dalam mobil menjadi sunyi. Fang terdiam sambil menyupir dengan hati-hati, sesekali mengintip melihat Ochobot dan anak-anak melalui kaca spion di depannya. Dan sesekali melirik, melihat istrinya yang duduk bersandar sambil menutup mata.
"Aku... masih merindukan mereka..."
Fang tersenyum mendengar suara lembut dari sang istri, "Aku juga..."
Perasaan rindu yang belum terobati dengan penuh justru menambah sedih sebuah perpisahan kecil, meski mereka tahu akan bertemu lagi...
Setahun kemudian, di kedai Tok Aba... sang pemilik tengah sendirian, mengelap meja kedai, membersihkan bekas cipratan coklat ketika ia membuat pesanan pelanggan.
Suasana pagi hari begitu tenang dan sejuk. Orang tua tersebut menghirup udara segar dan menghembuskannya. Tak bosannya ia mengenang suasana ramai para cucu dan anak-anak mereka selama berlibur ke Pulau Rintis. Dalam setahun hanya beberapa kali mereka bisa menyempatkan diri mengunjungi dirinya yang sudah tua.
Jiwa muda penuh semangat Tok Aba selalu bagai terisi kembali jika keluarga Fang dan Boboiboy mengunjunginya.
Probe tak pernah bosan berbuat ulah dengan Boi, hingga Adu Du pusing tujuh keliling. Tapi alien hijau tersebut begitu menyayangi Fani yang pendiam namun manis, dan selalu mengajaknya bermain masak-masakan... meski Probe tak mau kalah ikut bermain sebagai Makcik Probe.
"Ooh... aku rindu sekali pada anak-anak itu...," gumam Tok Aba sambil mencuci cangkir.
"Atok..."
Suara mungil terdengar memanggil menegakkan telinga sang orang tua yang tak disangka masih tajam mendengar dan mengenali pemilik suara manis tersebut. ia membalikkan badannya, menemukan pemandangan yang begitu mencerahkan hatinya.
Seorang gadis cilik berusia empat tahun tengah menggandeng tangan bundanya, tanpa melepaskan boneka Dino kesayangan di tangannya yang satu lagi.
Boboiboy tersenyum lebar menyapa kakek tersayangnya di ujung jalan setapak taman menuju kedai bersama Fani, sang buah hati.
"Bo... Boboiboy...? Fani...? Kenapa di sini...? A, apa ini sudah tanggal liburan...!?"
Kedua ibu-anak tersebut berjalan mendekati sang kakek yang langsung berlutut di depan kedai merentangkan tangannya memeluk Fani yang berlari kecil dan menjatuhkan tubuhnya pada kakek buyut tersayangnya.
Boboiboy menggeleng tanpa menghilangkan senyuman di wajah, "Tidak... Aku mau mengantar Fani ke Play Group di hari pertamanya..."
Tok Aba mengrenyitkan alis. Ia tak yakin bahwa dirinya mengerti apa maksud sang cucu tersayang. Dan sang kakek tak berani berharap tinggi menerima kabar dari wanita di hadapannya.
Boboiboy semakin melebarkan senyuman, "Setahun yang lalu... setelah kami kembali ke Kuala Lumpur, Fang ternyata memiliki kejutan yang tak pernah kusangka..."
.
Flashback
Makan malam terasa agak sepi setelah Fang dan Boboiboy sampai di rumah bersama anak-anak mereka serta Ochobot. Robot bundar kuning yang rajin melayang melayani keluarga tersebut nampak kurang bersemangat setelah pulang dari Pulau Rintis. Boboiboy tahu Ochobot berusaha menutupi, sayang tak berhasil karena berkali-kali ia menghela napas tanpa sadar. Bahkan kedua buah hati wanita berambut pendek tersebut mengunyah makanan mereka lebih pelan dari biasanya. Hanya Fang yang makan seperti biasa.
Boboiboy menarik napas panjang dan berusaha agar tak terbawa suasana. Ia tersenyum pada anak-anaknya, "Ada yang mau tambah...?" Boi dan Fani menggeleng kecil.
Fang meneguk habis air dalam gelasnya, kemudian mengelap mulutnya dengan serbet, "Masakannya enak sekali, ma... Terima kasih, ya...," Boboiboy tersenyum dan mengangguk, kemudian melanjutkan makannya.
"Boi, kalau tahun depan kamu pindah sekolah mau nggak...?"
Pertanyaan tiba-tiba sang kepala keluarga membuat istri dan anak-anaknya terdiam tak melanjutkan suapan sendok mereka ke mulut. Bahkan Ochobot yang sedang menuangkan air dalam gelas Fang turut terhenti bingung.
"Hah? Pi, pindah ke mana...? Kapan...?"
"Yah, kamu' kan mau naik kelas... Jadi nanti kamu lanjutin semester baru di sekolah lain...," ujar Fang santai. "Tadi papa ditelepon sama orang yang ngurusin rumah baru kita... katanya kira-kira selesai akhir tahun ini... Soalnya pas kita cek waktu liburan ke Pulau Rintis kemarin' kan baru dipugar... Jadi kalau sudah selesai nanti kita masih punya waktu pindah-pindahin barang sebelum mulai semester baru... Kamu selesaikan dulu semestermu di sini, nanti lanjut di Pulau Rintis..."
Boboiboy dan kedua anaknya berpandangan, "Ma, maksud papa...?"
Fang tersenyum kecil menekankan kata-kata yang menurutnya menjadi pokok persoalan, "Rumah kita yang baru... selesainya akhir tahun ini..."
Boboiboy semakin tak mengerti, "Tu, tunggu sebentar... Rumah baru yang mana?"
"Loh? Waktu ke Pulau Rintis' kan kita sempet lihat... rumah lama papa yang dulu lagi dipugar... Nah itu lagi mau dibangun baru... Nggak mungkin dong tinggal di rumah kaya' rumah hantu yang dindingnya sudah rapuh begitu..."
Sang istri terbengong mendengarnya. Ia baru mengerti maksud Fang saat itu mengajak keluarganya berjalan-jalan melihat tempat kenangan mereka bertemu. Ternyata rumah yang nampak seperti rumah hantu tersebut memang sengaja direncanakan Fang untuk membangunnya dengan yang baru agar lebih layak ditinggali. Pria bersurai biru gelap tersebut telah merencanakannya jauh hari.
"Ta, tapi... nanti kantor papa...," ujar Boi.
Setelah meneguk air dan menaruh gelasnya kembali, pria berkacamata itu tersenyum melanjutkan penjelasannya, "Kantor yang papa pimpin sekarang ini adalah kantor pusat perusahaan milik kakek kalian, alias ayahnya papa... Kakek memang berencana untuk membangun cabang di Pulau Rintis sejak lama dan membutuhkan orang untuk memimpin di sana, karena kakek sudah memiliki orang-orang kepercayaan yang bisa membantunya di sini... Papa merasa doa papa untuk tinggal di sana dikabulkan, jadi nanti segala pekerjaan papa pindah ke sana untuk memimpin di cabang perusahaan yang baru..."
Boboiboy dan anak sulungnya tak bisa menahan senyum. Sementara si bungsu meringkuk sembunyi di balik meja sambil merajuk dengan suara mungilnya, "Fani nggak mau tinggal di rumah hantuuu..."
Boboiboy tertawa kecil sambil berdiri dan kemudian memeluk si kecil, "Oh, sayang... itu bukan rumah hantu... itu rumah kenangan papa dan mama... yang ternyata hantunya adalah papamu yang lagi sembunyi mau ngagetin mama...," hibur Boboiboy, membuat si bungsu akhirnya mengerti kenapa julukan rumah hantu itu diberikan.
Fang tertawa kecil. Ya, istrinya tak berbohong. Saat itu Fang memang bersembunyi dan mengejutkan kawan-kawannya dengan menyerang tiba-tiba menggunakan Kuasa Bayang.
Boi masih tak percaya dengan apa yang ia dengar. Bagai impian yang terkabulkan, doa yang didengar dan langsung terwujud, "Papa! Ini beneran, pa!? Nggak bohong!?"
Fang tertawa, "Memang pernah papa bohong sama kamu?"
Boi langsung berhambur turun dari bangku dan memeluk erat ayahnya tersayang. Ia tak sanggup menutupi kebahagiaannya yang amat sangat. Fang sampe tak bisa bernapas dipeluk sedemikian rupa oleh anaknya, "Oufh... Boi senang?"
"Senang! Banget!"
End flashback
.
Tok Aba nyaris tak percaya dengan cerita yang didengar dari cucunya yang tengah duduk di bangku kedai menemani sang kakek. Sementara Fani menikmati sarapan roti isi dan coklat panasnya dengan kalem sebelum berangkat ke Play Group di mana ia akan bersekolah tingkat awalnya untuk pertama kali.
"Ja, jadi... kalian pindah kemari...? Tinggal di rumah Fang yang lama... yang sudah direnovasi...?"
Boboiboy mengangguk dengan senyumannya yang cantik. Betapa bahagia sang kakek memeluk cucunya. Tak ada yang bisa melukiskan kebahagiaan sang kakek mendapati keluarga cucunya kini begitu dekat sehingga ia bisa mendengar suara tawa para bocah kesayangannya.
Tak lama, Fani meneguk coklatnya sampai habis dan menaruh cangkirnya pada piring kecil di meja kedai, "Mama, Fani udah selesai..."
"Ooh, sayangnya mama pintar...! Nanti bisa main sama teman-teman baru dengan semangat, ya...," pelukan dan ciuman sayang dari sang bunda selalu memberi semangat yang lebih bagi bocah cilik tersebut.
"Atok, Fani mau pamit ke sekolah...," ciuman sayang pada punggung tangan dari Fani membuat Tok Aba tersenyum begitu lebar secerah pagi hari itu.
Boboiboy turut mencium tangan kakeknya dan berpamitan akan mengantar Fani.
Sementara di SD Rintis tempat Iqbal, Lee, dan Ling bersekolah... tengah terjadi kehebohan besar yang membuat ketiga anak tersebut menjerit girang mendapati sahabat mereka menjadi anak baru di kelas. Boi duduk di pojok kelas paling belakang dekat jendela. Tak kuasa ia menahan senyum bahagia.
Papa Zola yang setia menjadi wali kelas sempat mengucek-ucek matanya. Ia merasa ada pemandangan masa lalu yang begitu mirip dengan apa yang dilihatnya saat itu.
Seorang anak bersurai biru gelap duduk di pojok kelas dekat jendela. Hanya saja, kali ini bocah tersebut tak mengenakan kacamata dan lebih banyak memasang senyuman jahil di wajahnya yang penuh dengan semangat.
Tak kuasa guru nyentrik tersebut menahan tawa rindu dan berseru dengan khasnya menyapa para murid. Tahun demi tahun sama sekali tak membuatnya berubah.
Sore itu, para sahabat Boboiboy kembali berkumpul di kedai Tok Aba, mengelilingi sahabat mereka beserta dua buah hatinya yang telah usai sekolah siang tadi.
Yaya dan Ying tak kuasa menahan kebahagiaan mereka, terutama Ying yang terus memeluk Boboiboy. Boi bercanda ria dengan Probe, Lee, dan Iqbal, sementara Ling terus memeluk Fani dengan gemasnya. Adu Du, Probe, dan Tok Aba bisa melihat kebahagiaan Ochobot kembali di sisi sang pemilik kedai. Stanley dan Gopal mulai menanyakan di mana Fang.
Tak lama, sebuah mobil sedan hitam dengan deru mesin yang lembut berhenti, memarkir di samping taman. Boi dan Fani langsung tahu siapa yang mengendarai mobil tersebut.
Fang keluar dan menutup pintu mobil. Nampak ia mengenakan busana jas hitam, berdasi ungu gelap di balik kerah kemeja hitamnya yang tampak elegan dan rapi. Pria tersebut berlutut menangkap pelukan kedua anaknya tersayang yang berlari menuju dirinya dan memberi ciuman di pipi mereka masing-masing.
Sementara para sahabat yang duduk di kedai melihat pemandangan tersebut sambil tersenyum lebar. Sebagian dari mereka mulai melempari kekesalan mereka sambil tertawa pada Fang karena menyimpan kejutan besar.
Fang menggendong dua buah hatinya sambil berjalan mendekati istrinya yang telah berdiri dari bangku kedai. Ia menanggapi sahutan dari para sahabat sambil tertawa puas, "Kejutan...!"
Tok Aba tertawa begitu lepas sambil mendekati Fang dan menepuk-nepuk pundak pria tersebut, "Benar-benar kejutan yang amat sangat menyenangkan, Fang..."
Senyuman lebar nan hangat terlukis pada wajah para sahabat. Kenangan yang hanya dalam benak dan sanubari kini kembali menjadi sebuah kisah yang baru.
Kisah yang dimulai penuh rasa suka cita oleh para pelakon yang bahagia bisa berkumpul dengan sahabat dan keluarga mereka di bawah naungan langit sore nan cerah.
Rumah bergaya Eropa dengan warna dominan putih bersih berdiri anggun di balik pagar teralis hitam yang kokoh. Suasana seram nan dingin tergantikan dengan keindahan taman bunga di halaman yang menghias, serta kehangatan yang dipancarkan oleh keluarga yang menempatinya.
Malam berkunjung, membuat rumah tersebut bercahaya lembut bagai rembulan karena lampu yang menerangi.
Boboiboy tengah terbalut daster putih panjang, bersiap untuk tidur. Begitu ia berdiri dan menarik selimut sebelum membaringkan diri, sebuah pelukan hangat nan mesra melingkar pada pinggangnya. Fang tak kuasa menahan diri untuk mencium leher jenjang istrinya yang cantik. Wanita tersebut tersenyum dan perlahan keduanya menjatuhkan tubuh mereka pada ranjang lebar yang dibungkus sprei putih.
"Aku mencintaimu, Boboiboy..."
"Aku juga mencintaimu, Fang... Terima kasih telah memberiku rumah yang indah dipenuhi kenangan ini..."
"Kau juga... terima kasih telah memberiku keluarga dan kenangan yang begitu indah bila kuingat..."
Ciuman di bibir enggan lepas, merasakan manisnya cinta kasih suami istri yang bersinar bagai bintang-bintang terang di langit malam.
END
Terima kasih tak terhingga saya ucapkan pada teman-teman yang sudah mengikuti fanfic ini ^^
Saya senang sekali membaca review kalian semua yang ternyata memberi kesan positif pada para OC yang masih bocah-bocah ini, terutama Fani ^^
Saya berencana akan membuat satu chapter terakhir yang berisi dengan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang bebas kalian tanyakan pada saya mengenai fanfic ini ^^
Silakan tanya apapun yang kalian inginkan, namun saya tidak akan memberikan identitas lengkap, nomor, ataupun kontak saya di sini.
Saya sadar saya nyaris tak pernah menjawab segala review yang kalian berikan, saya benar-benar minta maaf. Maka itu di sini kalian bebas tanyakan apa saja... Saya tunggu sampai enam hari depan ^^ Lepas itu saya tutup chapter sesi pertanyaannya ^^
Terima kasih tak terhingga, akan selalu saya doakan kalian mendapatkan keluarga yang bahagia seperti dalam fanfic ini di masa depan kalian nanti... Aaamiiin.
