"Aku tidak bisa selamanya berpikir seperti anak kecil yang polos dan suci itu. Karena aku ini juga lelaki yang memiliki beribu-ribu pikiran mesum."
...
Childhood Harem!
Chapter 2
Naruto (c) Masashi Kishimoto
Childhood Harem (c) Margery Juga Manusia
Alternate Universe
May Contains - Harem, Lemon, Ecchi, Smut, OOC, Typo, Misstypo, etc.
Protagonist: Namikaze Naruto (17)
Childhood Friends (Females): Hyuga Hinata (17), Amaru (16), Koyuki (17), Sara (16), Shion (17), and Shizuka (18).
Again,
Don't Like Don't Read
...
By the way, pengarang cerita ini berjenis kelamin 100% seorang perempuan, 30% pikiran laki-laki, dan 0% seorang hode. #lupakan
Enjoy this second chapter, then!
...
Almost forgot
I.N.C.E.S.T
...
"Naruto-san, anda sudah bangun?" suara yang terdengar lembut terdengar di telingaku.
"Kalau masih pusing lebih baik kau tidur saja," saran suara lembut yang lain, memanjakan daun telingaku.
"Main dokter-dokterannya masih belum selesai, lho," suara lembut yang terdengar lain juga terdengar.
Lho? Memang bukan hanya satu orang disini? Tunggu. Apa? Dokter-dokteran? Aku mengucek mataku. Tak lama kemudian, pengelihatanku jauh lebih jelas dari sebelumnya.
Aku melebarkan mata saat melihat mereka disini. "AAAH!" teriakku ketakutan karena kaget.
|CUP|
Aku melebarkan permata safirku saat mulut mungil salah satu dari mereka membungkam mulutku untuk berhenti bicara, maksudku berteriak.
"S-Shion, apa yang kau..." aku memegangi pundaknya, bermaksud mendorongnya. Namun entah kenapa, tenagaku seolah lenyap tanpa sisa karena deep kiss-nya yang terasa...nikmat?
Tak lama kemudian, gadis berambut kuning pucat itu melepaskan pagutannya. Lalu memberikan cengiran usil padaku. "Bagaimana rasanya, Pasien? Apa layananku memuaskan?" tanyanya memiringkan kepalanya. Baju susternya yang berkerah rendah menampakkan belahan buah dadanya yang besar.
Aku menutup mulutku yang sedikit terbuka. Menelan ludahku yang sedikit tercampur saliva manis Shion. Ini ciuman pertamaku. Rasanya aneh sekali.
"Hei, Naruto-san?" Koyuki menutup mulutnya ketika melihatku yang terkapar tidak berdaya dengan pipi yang sepenuhnya berwarna merah. Koyuki memakai baju suster yang roknya sangat pendek dan atasannya yang berupa seragam tanpa lengan.
"Jangan-jangan anda merasa tidak suka?" tanya Amaru sambil menyipitkan mata. Baju susternya yang pendek hingga menampakkan sebagian celana dalamnya membuatku menelan ludah dengan susah payah.
Belum sempat mengatakan apapun, Hinata tiba-tiba muncul dengan pakaian suster ketat yang membuat lekuk tubuhnya lebih terlihat.
Dengan senyum yang tersungging di wajahnya, gadis itu melepaskan kancing bajuku satu per satu. "Kalau begitu, Naruto-san buka bajunya, ya. Saya akan memeriksa detak jantung anda dengan ini," kata Hinata meminta izin, meski dia sudah melepaskan seluruh kancingku sehingga menampakkan dadaku yang bidang. Hinata memegang stetoskop ditangannya.
"Hii..." aku gemetar saat ujung stetoskop yang dingin menempel pada dadaku.
"Hmm...detak jantung normal," kata Hinata sambil tersenyum lembut. "Baiklah. Suster Shizuka dan Suster Sara, saya membutuhkan sedikit bantuan disini," pinta Hinata setengah berteriak.
Lalu tak lama kemudian muncul Shizuka dan Sara yang memakai pakaian suster namun dengan gaya yang berbeda. Shizuka memakai baju suster berkerah rendah, sedangkan Sara memakai baju suster backless yang sehingga menampakkan lekukan tulang belikatnya yang indah.
'Sungguh, apa yang terjadi disini?!' batinku. Namun entah mengapa, diriku tidak menolak visual service dari baju yang dikenakan oleh mereka. Aku...menikmatinya?
"Ah!" pekikku saat tiba-tiba Sara dan Shizuka menjilati nippleku. "Apa yang kalian...lakukan?!" tanyaku setengah berteriak. Aku menggigit bibir agar desahanku tidak keluar. Tentu saja aku mendesah! Aku tidak pernah melakukannya sebelumnya!
Hinata melebarkan permata mutiaranya saat menempelkan ujung stetoskop pada dadaku. "Ah, detak jantungnya berdetak lebih cepat," ujarnya sambil terkekeh geli.
"Nah, sepertinya praktek kita berhasil, Suster Koyuki!" teriak Amaru semangat.
"Benar! Lihat, dia 'tegak' dengan sempurna seperti itu!" ujar Koyuki tak kalah semangat.
"Baiklah. Lepaskan celana dalamnya sekarang!" teriak Shion berapi-api.
"Ha'i!" yang lain membalas serentak.
Shizuka dan Sara memegangi kedua lenganku. Sedangkan Hinata memegangi kepalaku untuk berhenti menggelengkan kepala panik. Amaru dan Koyuki menduduki kakiku agar tidak berontak. Bahkan mereka sengaja menggerakkan pinggul mereka, sehingga belahan pantat mereka menggesek kakiku
Shion yang sudah memegangi karet boxer-ku siap menurunkannya. Astaga! Mereka akan melihat 'burung'-ku yang masih perjaka terbang dengan bebas didepan mereka. Aku tidak mau!
"Nah, bersiaplah!" teriak Shion dengan evil laugh-nya. Dia memegang gergaji yang entah dia dapatkan darimana. "Nah, saatnya belah 'pisang'-mu untuk dibagi-bagi!" tambahnya.
"TIDAAAAAAKKKKKKK!" jeritku dengan nada panjang saat gadis itu mulai menurunkan boxerku. Lalu tiba-tiba secerah cahaya datang menyinari bagian dalam celanaku.
...
"-AAAAAAAAAAKKKKKKKKK!" Naruto membuka matanya lebar-lebar. Nafasnya tersenggal. Wajahnya dibasahi keringat dingin. 'Apa yang terjadi sebenarnya?' batin Naruto masih ketakutan dengan mimpi yang baru saja didapatkannya. Naruto pun mendudukkan tubuhnya dan menyandarkan tubuhnya pada tembok.
'Ah,' Naruto mengerjap-ngerjapkan matanya saat melihat makhluk hidup yang tidak seharusnya disini sekarang.
"O, ohayou, Naruto," jawab makhluk hidup itu terbata-bata.
Butuh beberapa detik kemudian saat Naruto berteriak (untuk yang kedua kalinya) saat melihat makhluk itu sedang tengkurap di kasurnya. Beruntungnya orang itu langsung membekap mulutnya
"Sudahlah. Pagi-pagi jangan membuat keributan," katanya sinis.
"Naruko-nee kok ada disini?!" tanya Naruto menunjuk-nunjuk hidung gadis itu.
"Tak usah heboh begitu. Aku kakak kembarmu, 'kan? Lagipula menurutmu bagaimana?" tanya Naruko balik bertanya.
"Datang jam berapa kau, hah? Ini masih pagi!" jerit Naruto masih panik.
"Sudah 8 jam yang lalu. Kau sudah tidur ketika aku datang," jawabnya dengan cengirannya.
Kakak Naruto yang selisih lahirnya hanya berjarak 24 menit itu bangun dari pose tengkurapnya dan duduk menekuk kakinya.
"Kau sedang mengalami 'morning wood', ya? Mimpi basah apa, sih kamu? Wajahmu berubah-ubah setiap waktu tertentu. Pertama wajah kebingungan, lalu wajah mesum, lalu terakhir wajah ketakutan. Tuh, lihat. Alat kelaminmu tadi menegak seperti ini sekarang sudah melemas seperti itu," kata Naruko dengan wajah tanpa dosanya yang terkenal di kalangan orang-orang yang mengenalnya.
Naruto langsung menutupi daerah selangkangan dengan tangannya sendiri saat Naruko menunjuk-nunjuk daerah itu dengan wajah usil.
"Jadi mimpi apa? Mimpinya melakukannya dengan pacarmu atau diperkosa pembunuh sadis, sih?" tanyanya lagi.
"Sudahlah, Naruko. Aku minta kau jangan teruskan lagi," jawab Naruto menutupi tubuh bagian bawahnya dengan selimut. 'Lebih buruk lagi malah,' batin Naruto menelan ludahnya dalam-dalam saat mengingat mimpi paling indah juga paling menyeramkan yang baru dia alami.
"Soo ka," Naruko mengangguk-anggukkan kepala.
Naruto menghela nafas sambil mengurut dahinya menahan emosi karena perilaku sang kembaran. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa dia sangat merindukan kakak kembarnya tersebut.
"Nee-chan tambah cantik, ya," puji Naruto tanpa sadar.
Naruko melebarkan permata safirnya. Muncul semburat merah tipis di pipinya ketika mendengar pujian dari Naruto yang seolah dikatakannnya secara spontan dan tanpa sadar. "Hontou ni? Arigato gozaimashita kalau begitu," kata Naruko menggaruk pipinya dengan kuku jarinya canggung. "Kau juga tambah keren, kok," balas Naruko dengan suara pelan.
Naruto yang mendengar pujian Naruko mendadak merasa senang. Pujian-pujian yang dilontarkan teman-teman masa kecilnya itu terasa berbeda bila yang memujinya adalah saudaranya sendiri yang sudah lama terpisahkan.
Sebelumnya, Naruko merupakan kakak kembar Naruto yang diadopsi suami istri kakak Minato karena mereka tidak memiliki anak. Karena bibinya yang banyak membantu dalam proses kelahiran Kushina, Minato dan Kushina pun mengizinkan mereka untuk mengadopsi Naruko untuk waktu tertentu.
Namun jujur saja. Baik Naruto dan Naruko ingin tinggal bersama seperti seorang saudara (lagi) daripada sebagai seorang sepupu. Yang pasti mereka tinggal bersama itu hanya sebulan di inkubator bayi di rumah sakit yang sama, setelah tinggal di atap yang sama, sampai Naruko berumur setahun, mereka pun mengangkatnya sebagai anak tiri.
"Kau tahu? Paman dan bibi memintaku memilih pilihan yang mereka buat," kata Naruko memecah keheningan.
Mau tak mau, Naruto harus melebarkan indra pendengarnya mendengarkan gadis itu bicara. "Ap..."
"Mereka bilang ingin tetap bersama mereka atau kembali ke Tou-san dan Kaa-san," sahut Naruko dengan wajah lesu.
"Kok tiba-tiba begitu?!" tanya Naruto dengan suara meninggi.
"Bibi telah mengandung anak yang sekarang sudah mencapai umur 7 bulan. Jadi..."
"7 bu...kok aku baru tahu?!" sahut Naruto masih dengan suara meninggi.
"Sudahlah. Yang penting orangtua kita sudah mengetahuinya," kali ini Naruko yang mengurut dahinya menahan emosi. "Nah, jadi bagaimana?" tambah Naruko.
"Disini sajalah, Nee-chan. Kau tahu? Aku merindukanmu sejak lama," jawab Naruto menggaruk belakang lehernya gugup.
"O...oh," Naruko menunduk menyembunyikan pipinya yang memerah. Lalu mendongakkan kepala. Mata safirnya melebar ketika melihat Naruto yang tampak salah tingkah karenanya. 'Ini bisa jadi kesempatan,' batin Naruko dengan cengir jahatnya.
"Naruko?" tanya Naruto akan keadaan Naruko yang tengah terkikik jahat. Rasanya dia merasakan firasat buruk.
|BRUK|
Naruto yang semula memejamkan mata ketika merasakan tubuhnya didorong ke belakang. Beruntung bahwa yang ada di bawahnya merupakan kasur. Kalau tidak, tulang punggungnya bisa retak dan patah. Bahkan ranjangnya ikut berderit karena guncangan diatasnya.
Naruto membuka matanya dan melihat Naruko yang tengah berada diatasnya menatapnya dengan wajah jahatnya seperti biasa. Naruto menolehkan wajahnya ke samping karena tak kuat beradu tatapan dengan gadis itu.
"Mana tenagamu, Otouto? Bukankah kau ikut karate di sekolahmu?" tanya Naruko seolah menyindir.
"Kau juga mengikuti kempo, Nee-chan. Tapi dorongan yang kau lakukan padaku tidak ada hubungannya dengan dua beladiri itu. Aku hanya lengah, kau tahu?" jawab Naruto mencari alasan.
"Kau ingin aku memakai dougi tanpa dalaman satupun untukmu? Aku membawanya," jawab Naruko menjilat bibir atasnya.
"T-tidak, terima kasih," jawab Naruto dengan terbata-bata.
"Mau bantu aku melepaskan gelar perjakamu sekarang, hm?" tanya Naruko menurunkan wajah dan pinggulnya.
"T-tidak, terima kasih. Naruko, pinggulmu terlalu dekat dengan..." Naruto memegangi pundak Naruko sambil menunjuk-nunjuk jarinya ke bawah.
"Aku tahu," jawab Naruko mendekatkan wajahnya dengan telinga Naruto. Otomatis, Naruto pun memiringkan kepalanya ketika merasakan hembusan nafas gadis itu membelai daun telinganya. Lalu Naruko pun menggoda salah satu titik sensitif pemuda itu dengan menjilat ujungnya.
"Guh, Naru..." tubuh Naruto gemetar saat lidah gadis itu membelai daun telinganya.
Naruko menghentikan aksinya saat merakan getaran tubuh Naruto. Lalu gadis itu menjauhkan kepalanya dari daerah telinga Naruto, lalu ganti menatapnya dengan wajah heran.
"Apa?" tanya Naruto masih dengan nafas tersenggal-senggal.
"Kau benar-benar seorang perjaka, Naruto?" tanya Naruko terdengar tidak yakin. Tanpa perlu Naruto menjawab, sepertinya dia tahu jawabannya melalui reaksi Naruto. "Sungguh kau seorang perjaka?!" tanya Naruko terdengar menghina.
"Sudah, Naru..." Naruto memegangi pergelangan tangan Naruko.
"Aku pikir kau sudah melakukannya ratusan kali dengan mereka bersamaan!" jawab Naruko menepuk keningnya frustasi.
"Mereka? Memangnya aku sedang punya harem disini?" tanya Naruto heran.
"Aiisshh...! Tentu saja Shion-chan, Amaru-chan, Hinata-chan, Shizuka-chan, Sara-chan, dan Koyuki-dono!" jawab Naruko terdengar kesal.
Naruto tersedak ludah sendiri mendengarnya. Mereka selalu begitu padanya setiap hari. Entah menggodanya secara langsung maupun tidak langsung membuat Naruto harus melampiaskan nafsunya dengan permainan individu melalui film hentai dan video porno di laptopnya. Namun, Harem Sex tidak terlalu buruk juga.
"Sejujurnya aku ingin melakukan mmf threesome dengan kau dan pacarku," kata Naruko jujur. "Double penetration di dua lubang sekaligus itu, aah...aku tidak bisa membayangkannya! Diapit dua pria memang menyenangkan!" kata Naruko lagi.
Double penetration? Aneki satu-satunya ini benar-benar gila sekarang! Namun mmf threesome dengannya dan pacarnya tidak buruk juga. Yang jelas orang itu telah beruntung karena telah memacari kakak kembarnya. Harus diakui juga bahwa Naruto adalah seorang siscon sejak kecil.
"Ah, Naruko..." kata Naruto menggantung.
"Hm?" Naruko membersihkan air liur yang menetes di sudut bibirnya.
Naruto tertawa. "Aku sudah terlambat berangkat ke sekolah," kata Naruto dengan mata berkaca-kaca.
...
Naruto berlari sekencang yang dia bisa sebelum tertinggal pelajaran sekolah. Naruto berhenti berlari ketika mendengar bel sepeda dibunyikan di belakangnya. Naruto menolehkan kepalanya ke belakang.
"Hime-sama?" wajah Naruto mengerut ketika melihat seseorang sedang bersepeda kearahnya.
"N-Naruto-kun?" ujarnya tak kalah kaget. Hinata berhenti mengayuh pedal dan mengerem sepedanya. Berhenti di dekat Naruto berdiri.
"Kok terlambat?" tanya mereka tanpa sadar bersamaan.
"Kau duluan," kata mereka lagi bersamaan. Lalu keduanya berpandangan dengan wajah kikuk.
"Kembaranku sudah datang. Jadinya ya begitu. Bahkan aku harus bersikeras hanya untuk menuju ke kamar mandi karena dia tidak mau ditinggal sendiri," jelas Naruto dengan sedikit bumbu kebohongan. Tidak mungkin dia akan menjelaskan alasan sebenarnya sehingga akan mengungkap fakta bahwa kakaknya sangatlah gila setelah sekian lama tidak bertemu.
"Naruko sudah pulang?" tanyanya memiringkan kepala. Gadis itu turun dari sepedanya dan memilih berjalan sambil menggiring sepedanya.
"Kau?" tanya Naruto setelah mengangguk menjawab pertanyaan Hinata.
"Aku ketiduran karena menonton film dengan yang lain sampai larut," jawab Hinata terkekeh.
"Film apa?" tanya Naruto penasaran. Tidak pernah tahu bahwa Hinata mulai tertarik dengan sesuatu seperti film.
"Uuh..." Hinata berpikir keras. Mencari jawaban yang tepat. Yang jelas dia tidak mau jujur karena sebenarnya dia (terpaksa) menonton blue film koleksi Amaru dirumahnya sampai malam. "Hanya drama roman biasa, kok," jawab Hinata dengan senyum yang dipaksakan.
"Ooh..." jawab Naruto tanpa curiga. Lalu dia melirik jam tangannya. "Astaga! Sudah jam segini! Hei, Hinata! Biarkan aku menggoncengmu sampai ke sekolah!" pinta Naruto tergesa. Beruntung mereka berdua bersekolah di tempat yang sama.
"Eh, tapi..." Hinata menggigit bibir bawahnya panik.
"Apa, Hinata?" tanya Naruto berniat menaiki sepedanya.
"Kau tidak bisa mengendarai sepeda!" jerit Hinata. Benar saja, belum berjalan saja Naruto jatuh tersungkur di jalan dengan tertindih sepeda Hinata. Disusul dengan suara tepokan kening Hinata.
"Kau bisa membocengku?" tanya Naruto lesu. Beruntung seragamnya tidak kotor karena tadi.
"Bisa," jawab Hinata tidak yakin. Lalu dia menaiki sepedanya.
"Nah, tidak mungkin pasangan siswa teladan seperti kita terlambat ke sekolah, 'kan?" tanya Naruto mengingat dirinya dan Hinata dinobatkan sebagai siswa teladan di sekolah.
"Ooh..." jawab Hinata terdengar gugup. Lalu dia mengangguk mengisyaratkan bahwa Naruto boleh duduk di belakang.
"Nah, Hinata. Ayo berangkat," kata Naruto semangat. Dia menepuk-nepuk pundak Hinata.
"Iya," Hinata menganggukkan kepala lalu bersiap mengayuh sepeda.
Tak lama kemudian sepeda Hinata mulai melaju. Mulanya melambat, lalu kecepatan dinaikkan. Lalu perlahan, kecepatannya bertambah, dan bertambah seiring Hinata mengayuh sepedanya.
"Hinataaa! Kau terlalu cepat mengayuh sepedanya!" jerit Naruto ketakutan setengah menangis. Tanpa sadar dia memeluk tubuh Hinata dari belakang.
"Tidak sempat, Naruto-kun!" jawab Hinata masih serius mengayuh.
"Aaaaaaa-aaaaaaa!" jerit Naruto sepanjang perjalanan. Benar-benar tidak disangka. Hinata yang lembut ini memiliki kemampuan mengayuh sepeda dengan kecepatan cahaya seperti ini? Benar-benar tidak percaya. Dan Naruto, kau terlalu berlebihan dengan menyamakan kecepatan sepeda dengan kecepatan cahaya.
...
"Tadaima!" Naruto melepaskan sepatunya. Dirinya benar-benar lelah setelah berjam-jam menghabiskan waktunya di sekolah.
Naruto mengernyitkan dahi. Tidak ada yang menjawab salamnya? Bukankah di rumah ada Naruko?
"Naruko?" Naruto meletakkan tasnya diatas sofa ruang tamu dan mencari keberadaan gadis itu.
Naruto menghela nafas lega setelah menemukannya. Rupanya gadis itu tengah tertidur pulas diatas sofa yang terletak di depan televisi. 'Fuh, nyenyak sekali tidurnya,' Naruto terkekeh melihat pose tidur kakaknya.
Pipi Naruto memerah ketika melihat pakaian yang dikenakan Naruko. Naruko mengenakan tanktop hitam yang tersingkap menunjukkan perut ratanya bersama dengan hotpants berwarna biru kehitaman. Dan lagi stocking yang dikenakannya membuat Naruto meneguk ludahnya berkali-kali. Rambut Naruko yang sering sekali diikat, kali ini diurai. Rambutnya yang panjang itu bahkan menyentuh lantai dibawahnya.
"Kalau begini terus, dia bisa masuk angin," kata Naruto menelan ludah. Dia mengulurkan tangannya, berniat membetulkan pakaian Naruko yang tersingkap.
Naruto menelan ludah (lagi) ketika melihat belahan dada Naruko. Tidak peduli dengan resiko yang dihadapi, Naruto menarik pakaian Naruko keatas. Menunjukkan buah dadanya yang tidak ditutupi apa-apa. 'Astaga, dia tidak memakai bra?' batin Naruto. Baru pertama kali dia melihat buah dada perempuan secara nyata didepan matanya sendiri. Bahkan baginya, dada Naruko terlihat lebih indah daripada dada pemeran wanita di blue film yang sering dilihatnya..
"Dada Naruko," gumam Naruto dengan pipi yang memerah.
Naruto mulai berani memegangnya. Mulanya dia meraba, lalu meremasnya dengan pelan. Naruto berhenti melakukannya ketika mendengar lenguhan yang berasal dari mulut Naruko. Naruto pun melanjutkan kegiatan beresikonya itu. Bahkan dia berani memilin nipple Naruko.
Naruto gemetar saat sebuah tangan memegang pergelangan tangannya. Lalu menggenggam erat pergelangan tangan membuat Naruto memekik sakit.
"Sudah puas memegangi tubuh saudaramu sendiri, hm?" tanyanya sinis.
"N-Naruko?" Naruto gemetar. Hidupnya sudah berakhir sekarang.
Tiba-tiba Naruko mendorong Naruto kasar sehingga membuat pemuda itu terjungkal ke belakang. Naruko tampak tidak peduli bahwa dadanya masih terekspos sehingga membuat Naruto harus meneguk air liurnya sendiri.
Naruko memasang cengir rubahnya saat melihat Naruto menatapnya dengan wajah pucat. Naruko menaikkan dagu Naruto. Membuat permata safir mereka bertemu dan saling memantulkan cahayanya satu sama lain.
Naruto melebarkan safir miliknya saat sesuatu yang lembut dan basah membungkam mulutnya yang sedikit terbuka. Naruko menciumnya?
Naruko menciumnya. Ciuman pertamanya direbut oleh kembarannya sendiri!
"Naruko..." gumam Naruto memegangi pundak gadis itu. Makin lama, Naruko mendekatkan tubuhnya, Naruto pun otomatis memundurkan tubuhnya sehingga lengannya dia gunakan sebagai tumpuan diatas lantai.
Naruko mengulurkan tangannya dan memegangi kepala Naruto sehingga Naruto tidak bisa memundurkan tubuhnya seperti sebelumnya.
'Jadi inilah deep kiss itu? Lebih hebat dari yang kurasakan di mimpi,' Naruto mulai menikmati pagutan Naruko.
Tanpa sadar tangan Naruto terulur meraih buah dada Naruko yang menggatung. Namun tampaknya Naruko tak mau kalah. Bahkan dia melepaskan seragam Naruto dengan beringas hingga menampakkan dada atletis Naruto yang menggoda kaum hawa termasuk dirinya.
Naruko meraba nipple kemerahan Naruto lalu memilinnya sesekali membuat pemuda itu mendesah kecil disela-sela ciuman mereka. Disaat Naruto membuka mulut itulah, Naruko memasukkan lidahnya kedalam rongga mulut Naruto. Mengabsen giginya satu per satu.
'Mengapa Naruko seahli ini? Apakah karena dia sering melakukannya dengan pacarnya?' tiba-tiba pemikiran itu terlintas dibenaknya membuat Naruto lemas. 'Ah, masa bodoh dengan itu. Deep kiss benar-benar terasa enak,' Naruto tidak menepis pikiran itu.
Naruko melepaskan pagutannya ketika hampir kehabisan nafas. Tercipta benang saliva dari mulut mereka. Naruko terkekeh melihat mata Naruto yang terlihat sayu. 'Benar-benar masih perjaka. Tapi menjadi seorang dominan juga cukup menyenangkan,' batin Naruko menjilat bibir atasnya.
Naruko tidak mengatakan sepatah kata pun pada Naruto. Dia menarik kausnya ke bawah lalu berdiri.
"Naruko..." Naruto mengelap sisa saliva yang terdapat disekitar mulutnya.
"Incest itu dilarang, Otouto," sahut Naruko tersenyum.
Naruto melebarkan safirnya. Sedih sekali mendengar kenyataan bahwa gadis semenggoda ini harus menjadi saudaranya bahwa kembarannya.
"Tapi kau tadi..."
"Aku hanya menghukummu," sahut Naruko menjilat bibir bawahnya nakal.
Naruto pun berdiri dari tempat dia bersandar. Lalu memasuki kamarnya dengan lesu. 'Incest katanya. Andai aku dan dia bukan saudara, ini akan jadi lebih mudah,' batin Naruto membating tubuhnya diatas kasur.
Naruto melihat bagian bawah tubuhnya. Dia mengurut dahinya kesal dan menggeram. Dia pun mengambil laptop, menyalakan, memasang headphone, dan melaksanakan ritual pelampiasan nafsunya seperti biasa.
Bahkan di saat ini dia ingin mimpi aneh yang dialaminya tadi menjadi kenyataan. Mungkin akan terasa seru.
Mungkin. Kalau dia sudah mempersiapkan hatinya untuk mendapat serangan bertubi-tubi dari 6 gadis (diam-diam) buas itu.
...
Di luar rumah kediaman Namikaze, tampak segerombolan remaja tengah melihat atau tepatnya mengintip diam-diam melalui jendela.
"I-incest," kata Shizuka tergagap.
"Tidak bisa dipercaya," kata Shion menggelengkan kepalanya.
"Jadi dia yang jadi ciuman pertamanya Naruto?" tanya Sara bingung.
"Itu 'kan ciuman sayang. Apa salahnya?" tanya Hinata mencoba berpikir positif.
"Dada Naruko-chan besar, ya," kata Amaru mengemut jarinya iri. Mengingat dadanya yang tidak terlalu besar dan bahkan terbilang rata seperti papan tulis. Bahkan dia pernah dikira seorang laki-laki.
"Aku ingin melihat adegan romantis antara saudara kembar lagi!" jerit Koyuki dengan nafas memburu.
Sebenarnya mereka disini ingin mengajak Naruto bermain (lagi). Namun sudah berkali-kali mereka menekan bel pintu tidak ada balasan. Mereka berniat pulang sebelum mendengar suara desahan yang rupanya berasal dari mulut Naruto.
"Bagaimana kalau kita membuat Naruto mendesah seperti itu?" usul Koyuki polos.
"Setuju!" teriak Shizuka dan Amaru serentak.
"Kalian sungguh gila!" teriak Shion dengan perempatan di dahinya.
Sara dan Hinata hanya memasang wajah merah membayangkan adegan tadi berulang kali.
"Kita lakukan nanti malam! Atau besok!" tambah Amaru.
"Setuju!" teriak Koyuki dan Shizuka.
"Otak kalian kemana, sih?" tanya Shion mengurut dahinya mengontrol emosinya.
...
A/N:
Ahahahaha! Akhirnya chapter 2 selesai! Setelah dapet angpao banyak dari kerabat, saya jadi kepikir update lebih cepet dari target tanggal up saya dan jauh dari tanggal deadline. Wahahaha...!
Saya harap disini readers dapat menikmati chapter 2-nya. Untuk yang request lemon, saya bener-bener minta maaf karena nggak bisa memunculkan lemonnya. Kalau mungkin, saya akan memunculkan lemon di chapter depan. Soalnya 'kan baru selesai puasa. ^_^
Karena request dari teman saya, maka Naruko dimunculkan sebagai saudara kembar Naruto. Untuk menambah konflik, keseruan, dan kegregetan (?) dalam cerita, maka saya buat disini Naruto seorang siscon sejak kecil. Jadi mohon maaf kalau ada yang nggak suka incest.
Oh, ya untuk note gaje yang diatas, bener dan sumpah 3 jari, saya ini seorang perempuan. Jadi sense haremnya takutnya kurang mengena.
Btw, enaknya chapter depan, diantara Amaru, Shion, Naruko, Hinata, Sara, Shizuka, ama Koyuki mana yang bagus dijadiin pasangan lemonnya Naruto?
Selamat Idul Fitri, ya. Mohon maaf bila ada typo dan misstypo dalam cerita...
.
#RnR, plz?#
v
v
