"Aku tidak bisa selamanya berpikir seperti anak kecil yang polos dan suci itu. Karena aku ini juga lelaki yang memiliki beribu-ribu pikiran mesum."

. . .

Childhood Harem!

Chapter 3

Naruto (c) Masashi Kishimoto

Childhood Harem (c) Margery Maru no Date

Alternate Universe

May Contains - Harem, Lemon, Ecchi, Incest, OOC, Typo, Misstype, etc.

Again,

Don't Like, Don't Read!

Easy, isn't?

.

-Ah, saya baru ganti username-

. . .

. . .

Naruto menggaruk kepalanya bingung. Wajahnya pucat dan keringat dingin membasahi pelipisnya. Dia membuka semua laci dan lemari dikamarnya, membungkuk melihat kolong ranjang tidur, merapikan beberapa tumpukan bukunya, dan sebagainya hanya untuk menemukan benda yang paling disayangnya. Benda. Bukan, orang yang disayangnya kalau boleh ditekankan.

"Sial, laptopku dimana?" gumam Naruto kesal sendiri. 'Disaat yang dibutuhkan begini malah tidak ada,' batin Naruto tetap tidak menyerah mencari.

Sepertinya, Naruto membutuhkan laptopnya hanya untuk melampiaskan nafsu biologisnya, bukan untuk mengerjakan tugas lebih penting seperti membuat laporan perjalanan wisata maupun presentasi. Sungguh tidak disangka bahwa Si Cerdas yang merupakan salah satu siswa teladan di sekolah menyimpan banyak sekali blue film di memory card laptopnya. Benar-benar tidak disangka dan sulit untuk dipercaya. Namun Naruto merupakan manusia yang notabene tidak sempurna, dalam hal penampilan maupun pikirannya. Ah, tapi percayalah. Naruto terus menahan dirinya untuk tidak melihat koleksi film itu. Dia akan menjadi pria cabul nantinya karena terus menonton film itu. Apalagi impoten dan mandul yang (mungkin) akan dideritanya membuatnya tidak bisa memiliki keturunan lagi. Mengerikan? Tentu saja.

"Naruko, kau benar-benar kejam!" jerit Naruto, namun dengan suara kecil seperti berbisik. Takut bahwa kembarannya yang cantik itu akan mendengarnya.

Daripada itu, apa yang akan dilakukannya dengan 'anu'-nya yang berdiri itu? Tidak mungkin, 'kan dia berkeliaran disekitar rumah dengan 'anu' yang tampak tegang dan berdiri itu? Bagaimana kalau Minato dan Kushina melihatnya? Bisa habis dia dipukuli ibunya yang garang.

|TOK! TOK!|

"WAAAKKKHH!" teriak Naruto kaget sambil melompat keatas tempat tidurnya. "Siapapun saja tak apa! Asal jangan Tou-san atau Kaa-san sepulang kerja!" doa Naruto panik. Mengingat bahwa dua orangtuanya cepat marah bila sedang berada dalam kondisi lelah. Apalagi membuat marah Tou-sannya yang super sabar, sama saja dia akan mengundang dewa kematian.

"Naruto, ada apa?!" teriak orang yang mengetuk pintunya.

"Itu Naruko!" bisik Naruto ketika mendengar suaranya. Lagipula siapa lagi yang ada dirumah selain dia dan kakaknya? Orangtuanya saja biasa pulang larut malam karena kesibukan dunia kerja.

Daripada itu, lalu bagaimana dengan tegangnya 'ini'? Walaupun Naruko yang sengaja atau tidak, dialah yang membuat Naruto 'berdiri'. 'Berdiri' dalam arti lain maksudnya. Silahkan pikir sendiri kalau tidak tahu.

"Y-ya?" teriak Naruto didalam kamar. Menyahut ketukan pintu Naruko.

"Aku sudah siapkan air hangat untuk mandi. Aku yakin kau sangat lelah hari ini. Berendamlah disana, mungkin akan membuat otakmu segar kembali," kata Naruko memberi tahu dan memberi saran sekaligus.

Naruko menunggu Naruto untuk membalas perkataannya. Maka dia setia menunggu didepan kamar Naruto.

Tak lama kemudian, Naruto membuka pintu kamarnya dengan keadaan acak-acakan dan handuk yang melingkar di lehernya. Tiba-tiba Naruto memeluk Naruko.

"A-arigato, Onee-chan! Terima kasih atas kepedulianmu!" jerit Naruto senang.

Yang dipeluk hanya mematung. Dahinya berkerut, namun tampak rona merah dipipinya. "S-so ka...Lebih baik kau segera mandi, aku akan membuatkan makan siang untukmu." kata Naruko memegang pundak Naruto seolah mendorongnya untuk menjauh darinya. Namun perbedaan tenaga lelaki dan perempuan membuat tubuh Naruto tidak bergerak barang sesenti pun walaupun Naruko mendorongnya sekuat tenaga.

"Lagi, arigato gozaimashita, Nee-chan!" kata Naruto ceria, langsung pergi meninggalkan Naruko yang mematung dengan wajah merah, hidung kembang kempis, dan asap yang keluar ditelinganya.

'Naruto, menciumku?!' jerit Naruko dalam hati sambil memegang dahinya.

...

"Haah..." desah Naruto tenang ketika memasuki bathup yang sudah terisi dengan air hangat. Sudah lama dia tidak melakukan kegiatan berendam karena beberapa kesibukannya. Biasanya dia mandi hanya menggunakan shower saja.

Tiba-tiba Naruto menginjak sesuatu didalam bathup. Suaranya berdecit sehingga membuat Naruto nyaris melompat kaget. Naruto pun mengobok-ngobok isi bathup mencari benda itu.

"Gamo-chan!" jerit Naruto tidak percaya saat menemukan bebek karetnya yang tenggelam disitu. Ketika masih kecil, Naruto selalu mengajak Gamo-chan mandi bersama dan memainkannya. Ketika melihat benda itu lagi, rasanya Naruto merindukan masa kecilnya.

"Astaga, kangen sekali!" kata Naruto meremas-remas bebek karet itu gemas. "Aih, gemasnya!" kata Naruto terdengar seperti seorang perempuan. Sungguh, Naruto terlihat kekanakan bila melakukan hal ini. "Kalau begini jadi ingat Kyuu-chan yang masuk toilet," kenang Naruto akan rubah karet miliknya yang telah lama hilang.

Tiba-tiba Naruto teringat akan sesuatu. Lalu dia menepok keningnya. "Aku lupa besok ada penilaian voli secara tim lawan tim!" katanya mengurut keningnya kesal. Dia pun mengingat-ngingat siapa yang akan jadi lawannya.

. . .

[Beberapa jam yang lalu...]

"Ehem," Gai-sensei si guru olahraga berdehem memecah keheningan. "Jadi untuk penilaian, maka aku akan mengadakan pertandingan voli antar tim besok!" katanya dengan suara menggelegar.

"Apa?!" spontan semua murid berteriak termasuk Naruto.

"Besok itu terlalu mendadak, Sensei!" teriak Tenten sambil meletakkan tangannya di dada.

"Tenten benar. Kita harus mempersiapkan semuanya dengan matang jadi, aku sarankan kita laksanakan lusa atau minggu depan," kata Neji membenarkan.

"Neji-kun," Tenten menatapnya dengan pandangan penuh harap.

"Tidak bisa!" tiba-tiba Lee bersuara. "Kita disini harus menunjukkan kemampuan kita selama ini! Tunjukkan semangat kalian pada pertandingan besok, jangan mau menyerah dengan mudah hanya karena dilaksanakan mendadak!" Lee mulai berprovokasi.

Gai-sensei mengusap air matanya mendengar pidato dari murid kesayangannya tersebut. "Bagus, Lee! Kau akan mendapatkan nilai tambah nanti!" kata Gai-sensei mengacungkan jempolnya. "Nah baiklah, kita tentukan timnya. Karena disini lebih banyak murid laki-laki daripada murid perempuan, maka saya tentukan setiap tim berisi 2 laki-laki dan satu orang perempuan. Saya tentukan sekarang," kata Gai-sensei mengetuk-ngetukkan ujung spidol pada papan tulis,

Naruto melebarkan matanya tidak percaya karena harus setim dengan rivalnya, Sasuke dan Sakura. Ketiganya memang bersahabat sejak lama, namun mereka sering bersaing dalam segala hal. Mungkin susah untuk menemukan kekompakan dalam mereka bertiga. Apalagi Sasuke dan Naruto.

Lebih kaget lagi karena dia harus melawan tim Shino yang beranggotakan dirinya, Kiba, dan orang yang paling dia tidak ingin lawan. Hyuga Hinata!

"Ke-kenapa bisa begini?!" tanya Naruto melirik diam-diam kearah Hinata yang menyunggingkan senyum misterius.

. . .

Melawan Hinata. Itulah yang membuat tubuhnya melemas. Mengingat bahwa gadis sekalem Hinata merupakan orang yang mengerikan bila berurusan dengan olahraga. Apalagi service dan smash Hinata yang berkecepatan hingga 100 km/jam itu!

"Pokoknya tidak menembak kearah Hinata merupakan pilihan terbaik," kata Naruto sambil meraih handphone-nya yang dia taruh diatas wastafel yang berjarak dekat dengan bathup.

Naruto melebarkan mata ketika handphone-nya tiba-tiba bergetar sebelum Naruto mampu meraihnya.

"Dari Teme," gumam Naruto. "Moshi-moshi?" Naruto memulai percakapan.

"Dobe, maaf mengganggumu, aku hanya menyampaikan sesuatu yang penting perkara besok," kata Sasuke diseberang to the point.

"Apa?" Naruto mengangkat alis.

"Aku rasa kita bertiga tidak perlu latihan. Aku tidak bermaksud sombong atau menyanjungmu tapi, kita berdua sudah memiliki kemampuan voli yang nyaris sempurna. Namun, kuingatkan bahwa Sakura lemah dalam voli jadi..."

"Aku tahu dia..." sela Naruto sebelum Sasuke menyela perkataannya.

"Benar, aku putuskan dia berada di garis belakang. Toh tubuhnya juga lumayan tinggi. Aku akan serahkan dia untuk blocking. Ehem ... Lagipula aku khawatir dia terluka," Sasuke menghela nafas panjang diseberang. Dia berdehem sebelum mengucapkan yang jarang diucapkan seorang Uchiha sepertinya.

"Oh, ya. Aku mau menyampaikan..." kata Naruto sebelum Sasuke menyela perkataannya untuk yang kedua kalinya.

"Hinata-san memiliki kemampuan smash dan service yang mengerikan. Aku tidak bisa menebak kecepatannya dengan akurat tapi, sepertinya kecepatan smashnya paling tinggi mencapai 100 km/jam. Oke, begitu saja. Jaa." kata Sasuke mengakhiri telepon secara sepihak.

"Sasuke? Sasuke! Astaga!" Naruto menggaruk kepalanya frustasi. Sasuke benar-benar menyebalkan kalau menelponnya. Ingin sekali dirinya menelponnya balik, namun sayangnya pulsanya nyaris habis.

"Sudahlah, dengarkan rencananya sajalah, toh dia ahli strategi terhebat setelah Shikamaru." kata Naruto pasrah.

Naruto tidak menyadari bahwa Naruko tengah berdiri didepan pintu kamar mandi sambil berwajah sedih.

. . .

[Esok harinya, penilaian voli...]

Terdengar suara peluit tanda berakhirnya pertandingan voli antara tim InoShikaCho dengan tim NejiLeeTen.

"Pertandingan dimenangkan oleh tim Lee!" kata Gai semangat.

"Yeah!" Lee dan Tenten bersorak senang. Sedangkan Neji hanya tersenyum puas.

"Ini gara-gara Ino yang tidak bisa menyervis dengan benar!" tuduh Chouji kesal.

"Eh? Tentu saja karena kau lamban merespon bola yang datang!" kata Ino kesal tidak mau kalah. "Sai-kun, Chouji menuduhku!" adu Ino menatap pemuda berkulit putih pucat dengan memelas, sedangkan yang ditatap hanya melambaikan tangan meminta mereka berdua untuk tenang.

"Sudahlah, oi Gai-sensei! Boleh aku ke ruang UKS untuk tiduran sebentar?" tanya Shikamaru mengangkat tangan.

"Tidak, Nara! Kalau capek, lebih baik kau duduk disana saja!" jawab Gai sambil menunjuk deretan tempat duduk. "Oke, sekarang giliran tim Sasuke melawan tim Kiba!" seru Gai.

"Yosh! Aku siap!" Naruto merenggangkan ototnya.

"Jangan lengah, oi, Naruto!" Kiba menunjukkan seringai serigalanya bermaksud meremehkan.

"Kau melupakan ini, hah?" Naruto menaikkan lengan bajunya, menunjukkan lengannya yang keras penuh otot.

"Jangan sombong kau! Lihat ini!" kali ini Kiba menunjukkan abs di perutnya sambil menyeringai penuh kemenangan.

"Lho, Tamaki pingsan," salah seorang siswa menyeletuk. Kiba yang mendengarkannya hanya menggaruk pipinya malu.

"Baiklah, ayo kita mulai pertandingannya!" Gai memberi aba-aba.

Naruto, Sasuke, dan Sakura mengenakan ikat kepala berwarna merah, sedang tim Shino, Kiba, dan Hinata menggunakan ikat kepala berwarna biru. Ditengah mereka terdapat Sai yang sedang memegang koin yang akan dilemparkan.

"Kepala. Tim biru menang!" kata Sai memberikan bola kepada Kiba.

"Nah ini dia!" Kiba memulai dengan service atasnya.

Setelah bola melayang, Sasuke langsung memukulnya baik dengan cepat. Lalu giliran Shino yang memukul, Naruto membalikkan bola.

"Wah, tim merah dan biru kekuatannya seimbang, ya," komentar seorang murid.

"Benar. Tak kusangka Sakura juga mampu mengimbangi kekuatan Sasuke dan Naruto."

"Kiba juga. Dia benar-benar lincah. Aku tak yakin kalau tim merah akan mengalahkan tim biru. Shino cukup mengagetkan juga, ah jangan lupa. Hinata masih belum mengeluarkan kekuatannya!"

Naruto mengusap keringatnya. Sudah 25 kali mereka bertukar pukulan, tetapi masih belum ada tim yang sudah mencetak gol.

Naruto melebarkan matanya begitu bola melambung kearahnya. 'Akan kuselesaikan dengan ini!' teriak Naruto mengerahkan seluruh tenaganya. "SMASH!" teriaknya begitu bola itu dipukul kuat kearah lawan.

"Naruto, pukulanmu terlalu lemah!" teriak Sasuke panik.

Naruto melebarkan matanya kaget. Dia tidak sengaja melambungkan bola diatas Sang Ratu Voli yang sudah menyeringai!

"Gomen, Naruto-kun!" teriak Hinata pelan sambil melompat.

|BUAGGGHHH|

Suara pukulan Hinata terdengar sangat keras menuju kearah Naruto dengan kecepatan yang tidak bisa Naruto hindari.

|BUG|

Sasuke dan Sakura melebarkan mata mereka saat melihat salah satu rekannya perlahan ambruk dengan bola voli yang menempel pada wajahnya.

"Naruto pingsan!" Sakura menutup mulutnya tidak percaya.

"Astaga, ada yang mau mengantar Namikaze beristirahat di UKS?" tanya Gai mengurut dahinya kesal.

Hinata mengangkat tangan.

"Hyuga, kau seorang perempuan kau tidak..."

Hinata langsung menggendong Naruto bak putri dan pangeran tanpa mengatakan apa-apa.

"Karena saya membuatnya terluka, maka saya memiliki tanggung jawab menemaninya di UKS." kata Hinata mantap. Lalu mengambil tasnya dan tas Naruto dari tangan Gaara.

"H-Hyuga! Kau benar-benar hebat! Akan kutambah nilaimu nanti!" kata Gai semangat.

. . .

|BRAK|

Hinata menendang pintu UKS pelan, lalu mendorongnya dengan kakinya dan menghela nafas. Hinata mendekat kepada salah satu ranjang dan membaringkan Naruto disitu. Dia mengusap keringatnya.

"A-apa aku keterlaluan?" batin Hinata bingung. "Kemana Shizune-sensei? Apakah dia tidak berjaga disini?" Hinata menolehkan kepala kekanan dan kekiri.

Lalu Hinata ingat pesan Shizune kemarin. "Hinata-chan, esok hari aku harus absen sekolah. Sebagai ketua OSIS, aku serahkan kunci ini kepadamu. Nah, sepulang sekolah, jangan lupa menguncinya."

Hinata menepuk keningnya. Dia lupa mengunci UKS kemarin. Lagipula apa yang menarik dari UKS sehingga para murid ingin sekali mendatanginya? Melakukan 'itu'? Para murid lebih memilih melakukan 'itu' dibelakang sekolah, aula, ataupun love hotel di sepanjang jalan.

"Baiklah, rencanaku berjalan dengan sukses kalau begitu!" manik bulan Hinata bersinar menunjukkan semangat.

Hinata pun merogoh isi tasnya dan mengambil kunci UKS yang dititipkan Shizune padanya. Lalu dia mengunci UKS dan menutup semua korden yang ada disana.

Hinata membalikkan tubuhnya dan menyeringai buas menatap Naruto yang terbaring lemas disana.

Hinata pun berdiri disamping ranjang Naruto, lalu memegang wajahnya. "Astaga, kau masih pingsan Naruto-kun?" tanya Hinata dengan wajah prihatin.

Hinata membuka mulutnya dan menjilat darah Naruto yang sudah mengering tanpa ragu. Pipinya memerah menahan malu. Matanya terpejam, takut bahwa Naruto akan terbangun dan balik menatap matanya.

Hinata merasakan tubuh Naruto bergetar. "Aha..." Hinata menjauhkan lidahnya dari hidung Naruto begitu bersih dari noda darah. "Kau masih pingsan, Naruto-kun?" tanya Hinata, meski ia tahu Naruto tidak akan bangun dalam waktu dekat ini.

"Apa yang kau lakukan Hinata-chan? Seharusnya kau obati dia dengan benar..." tiba-tiba muncul Angel Hina dari atas kepalanya.

"Yang kau lakukan sudah benar, Hinata! Sekarang lepas bajunya sekarang! Lakukan rencana yang telah kau susun semalaman!" kali ini muncul Devil Hina disebelah Angel Hina.

"Kalau kau ingin melakukannya, setidaknya kau bangunkan dulu dia..." sahut Angel Hina lembut.

"Tidak! Jangan dengarkan dia! Dia diselimuti biji wijen!" seru Devil Hina tidak mau kalah.

"Daripada kau..." sepertinya Angel Hina kalah debat.

"Perkosa dia sekarang, Hinata! Buat dia mendesah dan meneriakkan namamu penuh nikmat!" jerit Devil Hina semangat.

"Baiklah. Kali ini aku alihkan kepribadiannya kepadamu, Devil Hina," Angel Hina menyerah lalu lenyap dibalik asap.

"Yosh! Untuk kali ini saja!" teriak Devil Hina dengan manik bulannya yang menyala.

"Kyaaahh!" jerit Hinata. "Naruto..." Hinata menyeringai jahat kemudian. Sepertinya Devil Hina sungguhan merasukinya.

Hinata menaiki tubuh Naruto, sehingga saat ini dia sedang duduk diatas tubuh Naruto yang terbaring. Dia menghela nafas, bahkan disaat seperti ini pun Naruto masih belum sadar juga. Ah, melihat kaus olahraga Naruto yang tersingkap sehingga menunjukkan perut berototnya, membuat tangan Hinata gatal ingin membuka kausnya.

"Puting susu Naruto!" jerit Hinata dengan tangan bergetar. Langsung saja gadis itu menjepitnya dengan jari tangannya.

"Anh~"

Hinata terkesiap mendengar suara desah dari mulut Naruto. Ingin sekali Hinata tertawa terbahak-bahak. 'Seperti seorang perempuan!' jerit Hinata mau menangis.

"Hinata?"

Hinata kembali terkesiap mendengar suara bariton dari seseorang. "K-kau sudah bangun, Naruto?" tanya Hinata tergagap. Dia tidak bisa menyembunyikan tangannya sekarang.

"Hinata, mengapa kau memegangku disitu?" tanya Naruto dengan wajah merah.

Hinata mengerti keadaannya sekarang. Naruto sedang menyudutkannya!

"Oi, Hinata?" Naruto mengangkat alisnya.

'Tidak ada pilihan lain!' batin Hinata. Langsung saja gadis itu memelintir puting Naruto.

"Agh!" Naruto memejamkan matanya. "Hinata, apa yang kau lakukan?" Naruto menggigit bibirnya.

"Jadi kau menyukainya, Naruto?" tanya Hinata dengan seringai iblisnya. Hinata menjauhkan tubuhnya dari tubuh Naruto. Hinata tersenyum misterius.

Naruto menelan ludah. "Hinata-chan..." kata Naruto tersenyum lemah. Dia tidak menyangka akan diperlakukan 'ini' oleh teman masa kecilnya.

"Apa kau mencintaiku, Naruto?" tanya Hinata.

Naruto melebarkan permata safirnya kaget. Tentu saja dia mencintainya! Mereka teman masa kecilnya, 'kan?!

Hinata menjilat bibir atasnya ketika melihat wajah bimbang Naruto. Gadis itu menurunkan celana luar dan celana dalam Naruto.

Hinata menelan ludah melihat kejantanan Naruto yang menegak. Hinata tidak percaya bahwa Naruto sudah setegang ini padahal dia hanya memegang dadanya saja. Sedangkan Naruto hanya terdiam. Pasrah apa yang akan teman masa kecilnya lakukan.

Hinata menurunkan tubuhnya. Kali ini matanya dapat melihat dengan jelas kejantanan Naruto yang sudah mengeluarkan cairan pre-cum dari lubang kemaluannya.

"Ahg!" Naruto membelalakkan matanya saat sesuatu yang lembab dan basah menyentuh kejantanannya. "Hinata apa yang kau lakukan?!" tanya Naruto setengah berteriak.

"Menjilatimu, kenapa?" tanya Hinata polos. Kali ini Hinata memasukkan seluruh batang kejantanannya. Dan lagi ujung lidahnya yang menggoda lubang urin Naruto.

"Hinata! Ahh...Hinata! Hinata...hentikan! Kalau tidak aku...ahh!" desah Naruto. Baru kali ini Naruto merasakan sensasi ini.

Naruto mengerutkan dahinya saat dia sudah mencapai batasnya. "Ahh!" Naruto mendesah panjang saat dia mengeluarkan spermanya kedalam tenggorokan Hinata. Hinata langsung menelannya tanpa sisa.

Hinata mengusap bibirnya dengan punggung tangannya. "Yum, creamy!" kata Hinata sambil menjilat sperma yang berada dipipinya dengan jari.

"Tidak, masih belum!" teriak Hinata lantang.

Gadis itu memasukkan jarinya ke dalan lubang anus Naruto, bermaksud mencari suatu tonjolan didalamnya.

"Aaaaggggh!" jerit Naruto mengangkat tubuhnya saat Hinata menyentuh salah satu titik rangsangnya dibawah sana. 'Dia ... menyentuh prostatku?!' batin Naruto pucat.

"Garuk. Garuk. Garuk. Garuk ... " kata Hinata dengan seringai iblis. Dia mengucapkan kata yang sama berkali-kali.

"Uwaaahhh! Henti..."

Namun Hinata tidak mendengar perkataan Naruto. Dia malah mempercepat gerakan jarinya.

"Aaaakkkkhhh!" desah Naruto panjang saat dia mencapai orgasme.

Hinata menyeringai puas. Lalu dia melepaskan celana olahraganya. Menunjukkan celana dalam berwarna hitam berenda kepada lawan jenis didepannya ini.

Naruto menutup mulutnya begitu Hinata menurunkan celana dalamnya perlahan dengan menundukkan kepalanya malu. Lalu dia melemparkan celana dalamnya didekat tasnya. Dia menutupi area kewanitaannya malu-malu.

Hinata memegang baju Naruto. "Aku...menginginkannya..." kata Hinata terbata-bata. Wajahnya seperti orang mau menangis. "Aku menginginkanmu, Naruto-kun..." kata Hinata mengarahkan kewanitaannya pada kejantanan Naruto.

Naruto menelan ludah mendengar perkataan Hinata. Jadi, dia kehilangan seluruh keperjakaannya ditangan Hinata. Naruto merasa bahagia. Hinata adalah orang yang dicintainya sebagai perempuan 'kedua' setelah Naruko yang merupakan cinta pertamanya.

.

Namun tidak dengan cara seperti ini!

"Hinata..." Naruto memejamkan mata saat ujung kejantanannya menyentuh kewanitaan Hinata. Naruto tidak berani menggerakkan tubuhnya. Bahkan dia tidak mampu mengangkat jari-jarinya. Tubuhnya kaku secara tiba-tiba. Apalagi Hinata yang menurunkan ikat kepalanya sehingga membuat pemuda itu tidak dapat melihat.

"Ahh...N-Naruto-kun..." desah Hinata sambil mencengkram punggung Naruto kuat. Air matanya menetes tanpa Naruto sadari.

"Ahh...ahh...ahh!" desah Naruto. 'Jadi beginilah rasanya berada didalam tubuh perempuan?' batin Naruto. Kali ini dia sudah tidak perjaka lagi.

Hinata mulai bergerak perlahan lalu perlahan mempercepat gerakannya. Membuat Naruto tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bersuara.

"Aah...Hinata! Jangan terlalu cepat aku masih...aah!" Naruto mengangkat kepalanya keatas.

"Masih apa, Naruto? Ini-terlalu-nikmat!" jerit Hinata memegangi pundak Naruto. Dia mengusap air mata yang menetes.

"Ooh...Hinata! Aku masih...ahh...belum...siapphh...ahh!" racau Naruto.

"Oh, aah...Naruto!" Hinata menggigit telinga Naruto sehingga membuat pemuda itu menjerit namanya lagi untuk yang kesekian kalinya. Apalagi suara decit ranjang membuat permainan mereka bertambah panas.

"Hinata...!"

"Ahh! Ini dia...!" desah Hinata penuh nikmat.

Hinata menjerit begitu sperma Naruto ditembakkan kedalam rahimnya.

Ikat kepala yang menghalangi penglihatannya melorot. Pandangannya mengabur.

Terbayang wajah Hinata yang tersenyum lembut padanya. Terbayang wajah Hinata yang menatapnya malu-malu. Terbayang pula wajah Hinata yang tampak kerepotan melerai teman-temannya bila mereka sedang ribut. Hinata hanyalah satu-satunya teman masa kecilnya yang tidak pernah membuatnya kesal. Bahkan baginya, seolah Hinata adalah kakak perempuannya yang selalu mengerti keadannya.

Naruto menelan ludah. Dia membuka matanya. Melihat Hinata yang menutupi matanya. Naruto kaget bukan main begitu melihat darah yang ada disekitar selangkangannya dan milik Hinata. Apalagi air mani Naruto yang meluber dari kewanitaan Hinata membasahi sprei ranjang dibawahnya.

"Hinata, jangan bilang kau..."

"Maafkan aku karena keegoisanku, Naruto."

Naruto melebarkan safirnya. 'Untuk apa dia meminta maaf? Seharusnya aku yang...'

"Aku tahu kau mencintai Naruko, tapi aku, malah memaksamu seperti ini..." isak Hinata masih menutupi wajahnya.

Naruto mendengarkan perkataan Hinata. Wajah Naruko yang telah menciumnya terbayang dibenaknya.

"Aku benar-benar egois, Naruto. Aku tahu yang lain juga menyukai dirimu tapi aku..."

Naruto mengerti apa yang dimaksud Hinata. 'Yang lain' adalah teman-teman masa kecilnya. Naruto tidak terlalu kaget. Dia tahu melalui tindak-tanduk mereka. Namun Naruto lebih memilih diam daripada harus menyakiti salah seorang yang lain.

"Terima kasih karena telah menerimaku sebagai teman masa kecilmu..."

Raut wajah Naruto berubah ketika mendengarnya. Langsung saja dia menarik pergelangan tangan Hinata. Menutup mata gadis itu, lalu menciumnya lembut penuh perasaan.

Ini memang bukan ciuman pertama Naruto, namun ciuman ini jauh lebih menenangkannya daripada ciuman dari Naruko.

"Jangan membuatku bahagia lebih dari ini, Hinata," kata Naruto dengan tulus. Dia menjauhkan tangannya dari mata Hinata sehingga gadis itu mampu melihat lagi.

Hinata tersenyum lemah. Namun raut wajahnya berubah ketika pemuda itu mendorongnya ke belakang.

"Untuk kali ini biarkan aku bergerak, Hinata!" kata Naruto dengan wajah serius.

Hinata melebarkan matanya kaget. Lalu tersenyum misterius. Dia menunjukkan seringai seduktifnya. "Biarkan aku keluar kali ini, Naruto! Kau keluar terlalu cepat tadi!" kata Hinata memancing semangat Naruto. Dia mengangkat kakinya dan memegang pahanya.

"Tentu saja, Hinata!" Naruto mencium pipi Hinata penuh kasih.

Naruto menggerakkan pinggulnya pelan-pelan, perlahan kecepatannya bertambah.

"Aah...aah...ahh...Naruto! Naruto...!" desah Hinata memegangi pundak Naruto.

Naruto senang mendengar desahan Hinata. Itu membuatnya bertambah semangat bergerak. Apalagi suara derit ranjang bercampur dengan suara becek dari tabrakan kemaluan mereka membuat keduanya semakin terangsang.

Naruto menyadari bahwa Hinata belum melepaskan kaus olahraganya, maka dia pun menaikkan kaus Hinata sehingga menunjukkan buah dadanya. Langsung saja dia melumatnya, membuat pemiliknya harus menggigit bibir menahan desahannya.

"Aku tak mau kalah, Naruto!" kata Hinata serius. Dia menaikkan kaus olahraga Naruto lalu meraba dada bidangnya seperti tadi.

Naruto dan Hinata saling berpelukan. Pinggul Naruto bergerak makin cepat. Ah, sepertinya dia sudah mau mencapai puncaknya.

"Hinata, aku...mau...keluar..." bisik Naruto dengan nafas tersenggal-senggal.

"Aku juga..." bisik Hinata memeluk tubuh Naruto makin erat.

"Aaaahh...ahhhh!" teriak keduanya setelah mencapai puncak.

Hinata mengelus punggung Naruto yang bergetar. Benih Naruto membasahi dinding rahim Hinata untuk yang kedua kalinya. Kali ini Hinata merasa penuh daripada sebelumnya.

Tubuh Naruto ambruk disebelah Hinata. Kedua mengatur nafas, lalu saling melempar senyum satu sama lain.

"Hinata..." Naruto memegang pipi Hinata.

Hinata memegang telapak tangan Naruto. Sedangkan tangan yang satunya memegangi perutnya.

"Terima kasih banyak, Hinata..." Naruto mengecup lembut dahi Hinata.

"Aku masih ingin lagi, Naruto!" Hinata memegang pipi Naruto.

Hinata menaiki tubuh Naruto. Diciumnya penuh nafsu pemilik seringai rubah itu. Mengajaknya bergulat lidah. Namun tetap saja, entah mengapa Naruto selalu kalah.

"Belajar ciuman darimana kau?" Naruto menggigit lidah Hinata yang terjulur.

"Umm...itu," setelah Naruto melepaskan lidahnya, ganti Hinata yang melumat bibir bawah Naruto gemas. 'Dari blue film Amaru,' batin Hinata.

Selama mereka berciuman, Naruto juga meremas bokong kenyal Hinata dan meraba-raba kewanitaan Hinata yang masih basah. Instingnya mengatakan bahwa dia harus memasukkan jarinya kedalam.

"Emmh..." desah Hinata pelan. "Su-sudah, Naruto ... " kata Hinata dengan wajah memelas.

"Belum."

Suara serak Naruto yang terdengar tegas itu sukses membuat tubuh Hinata bergetar. Karena takut dengan sesuatu yang akan terjadi padanya dan rasa nikmat pada kewanitaannya karena jemari Naruto yang bergerak liar didalamnya. 'Kenapa dia bisa sehebat ini?' batin Hinata menggigit bibir.

"Ooh ... keluar ... " desah Hinata mengangkat kepalanya. Dia mencengkram bahu Naruto kuat ketika orgasme yang dicapainya.

|BRUG|

"Nah, Hi-na-ta-chan!" kata Naruto dengan cengir rubah juga aura hitam yang menyelimuti tubuhnya.

"Hiiy ... " tubuh Hinata gemetar ketakutan dibawah tubuh manusia rubah diatasnya itu.

"Aku mau lagi!" kata Naruto menyeringai lebar.

Hinata terdiam. Lalu perlahan membuka mulut.

"Tidaaaaaaakkkkk!" jerit Hinata.

Ah, beruntung ruang UKS itu kedap suara. Apa yang akan mereka katakan nanti bila ada seseorang yang menangkap basah mereka karena mendengar suara deritan ranjang dan desahan?

. . .

[Beberapa jam sesudahnya...]

Naruko menggigit jarinya cemas. Sesekali dia melirik jam dinding. 'Sialan, sudah jam berapa ini?' batin Naruko khawatir. Sedangkan hujan diluar semakin deras, membuat Naruko terus memikirkan saudara kembarnya tersebut. Dia menelungkupkan kepalanya diatas meja dengan lengannya.

|CKLEK|

Naruko mengangkat kepalanya ketika mendengar suara pintu yang terbuka. Dia tersenyum lega melihat adiknya itu pulang dengan selamat. Apalagi seluruh tubuhnya yang basah karena hujan.

"Kemana saja kau?" tanya Naruko dengan nada mengintimidasi.

"Aku mendapat tugas lebih dari Asuma-sensei, Nee-chan," jawab Naruto berbohong. 'Sebenarnya aku ketiduran setelah melakukan kegiatan panas bersama Hinata,' batin Naruto.

Naruto melebarkan matanya saat Naruko tiba-tiba memeluknya erat. "B-Baka! Jangan buat aku khawatir lebih dari ini!" kata Naruko sambil menggegam kemeja Naruto yang basah.

"Nee-chan, jangan memelukku sekarang! Nanti bajumu basah..."

"Biar saja!" sahut Naruko kesal. "Sudahlah! Cepat pergi berendam air hangat yang sudah kusiapkan! Kalau kau flu, aku tak mau mengobatimu, baru tahu rasa!" kata Naruko ketus.

"Nee-chan kejam..." kata Naruto dengan nada merengek yang dibuat-buat bermaksud mengerjai Naruko. Namun Naruko sudah pergi menuju dapur.

. . .

Naruto menggeser fusuma yang berhubungan dengan kamar mandi. Naruto merasakan suhu hangat dari air panas. Tubuh Naruto menggigil karena kedinginan. Tak sabar dia untuk berendam di dalam bak mandi.

Dia bermaksud melangkahkan kakinya kesana, namun seseorang menahannya berjalan dengan memeluknya.

"Nee-chan?" Naruto menggelengkan kepala panik. "Naruko, aku hanya menutupi tubuhku dengan sehelai handuk untuk menutupi bagian bawahku, tahu!" teriak Naruto.

"Biar saja!" jawab Naruko ketus.

"Eh?" Naruto membuka telinganya lebih lebar.

"Tak akan kubiarkan kau mandi sendirian tanpa diriku," jawab Naruko.

"Tunggu, apa?" sepertinya Naruto harus memeriksakan telinganya di dokter THT.

"Ambil waktu pertamaku, Naruto," kata Naruko ambigu.

'Apa?!' batin Naruto kaget.

"Kumohon jadillah yang pertamaku, Naruto!" kata Naruko setengah berteriak. Dia memutar tubuh Naruto sehingga kali ini tubuh mereka saling berhadapan.

Naruto melebarkan mata kaget begitu melihat Naruko yang tengah memakai bikini. "Naruko, apa yang kau lakukan?" Naruto menutup matanya dengan telapak tangan.

"Maaf karena aku telah berbohong. Aku bohong karena memiliki pacar. Aku sekolah di sekolah perempuan, ingat? Nah, lupakan tentang kejadian kemarin, oke? Soal kemampuan menciumku? Aku hanya meniru dari video di laptopmu," jelas Naruko mengernyitkan dahinya.

Naruto menepuk dahinya. Rupanya Naruko-lah penyebab menghilangnya laptop kesayangannya itu?

Ah, mendengar sederet penjelas Naruko membuatnya sedikit senang hingga dia tidak dapat berkata apa-apa.

"Aku seorang perawan. Menyedihkan? Tentu saja tidak! Karena aku hanya mencintai adik kembarku," Naruko kembali melontarkan satu pernyataan yang membuat Naruto kaget.

"Masa bodoh dengan saudara! Aku hanya seorang perempuan dengan penyakit brocon yang dimilikinya! Aku memang seorang gadis rendah yang memang tidak normal! Kau boleh menganggapku gila, tapi inilah kenyataannya!" jelas Naruko sambil menatap kembarannya tajam.

Karena speechless, Naruto juga tidak menggerakkan anggota tubuhnya. Berdiri ditempat. Sampai dia lupa memegangi handuknya.

"Maaf!" Naruto mengambil handuknya yang jatuh ke lantai. Menutupi selangkangan dengan telapak tangannya, namun langsung ditepis oleh tangan Naruko sehingga membuat gadis itu dapat melihat kemaluan Naruto.

"Nee-chan..."

"Kau sudah mengerti apa yang akan kita lakukan sekarang, Naruto?" tanya Naruko dengan wajah serius.

Naruto menelan ludahnya saat Naruko menarik tali bikininya keatas. 'Tapi, aku sudah keluar berkali-kali siang tadi karena Hinata!' batin Naruto tidak menjamin kejantanannya akan kuat setelah ini.

"Bathroom sex." kata Naruko menggigit bibir bawahnya.

Cepat atau lambat, dia harus menemukan laptopnya sekarang juga. Um, atau nanti setelah 'ini'.

"Nah, ayo sabunan dulu, Otouto." kata Naruko dengan sorot mata taja.

Naruto tidak bisa menyembunyikan desahannya saat Naruko menyabuni tubuh sekaligus meraba kejantanannya yang telah menegak itu. Naruko yang menyabuni Naruto dari belakang meraba dada empuknya pada punggung Naruto. Sedangkan kedua tangan Naruko menyabuni dada Naruto dengan gerakan erotis. Apalagi kuku lentiknya yang sengaja di goreskan diatas kulit Naruto.

Dan, jangan lupa kedua kaki kakaknya yang tengah membersihkan kejantanannya dengan cara dijepit. Sebagai bonus, Naruko memberi rangsangan lagi dengan cara membisikkan kata-kata kotor di telinga Naruko.

"You dumb, Bro."

"You're so sexy, ya' know?"

"You lecher, i can't believe you."

"Look at this liquid. It's very sticky in my feet." kata Naruko sambil mengangkat kakinya, menunjukkan suatu cairan lengket disitu.

"Akh ... Akh ... Ah ...! Cum..." kata Naruto terdengar lirih sebelum dia menembakkan spermanya ke udara.

"Yeah, satu kosong!" kata Naruko menyeringai senang.

"Hentikan, A-NE-KI!" jerit Naruto dengan nafas tersenggal. Dia menatap kakaknya kesal.

Ah, sepertinya dia lupa kekeras kepalaan kakaknya itu. Naruto hanya menutup mata saat kejantanannya mulai memasuki kewanitaan Naruko yang masih suci itu.

"Ne, itadakimasu," kata Naruko sambil menunjukkan seringai rubahnya. Tak sadar, air mata kebahagiaannya keluar membasahi pipinya. Hari yang ditunggu telah tiba! Ah... meski ada sedikit paksaan disana.

'Kenapa harus aku yang menjadi seorang submissive disini? Aah ... !' jerit Naruto.

|SLEP|

Naruto melebarkan mata, Naruko meringis senang. "Aah ... ! / Yeah ... !" jerit keduanya bersamaan. Tak lama kemudian, darah mengalir di sekitar kewanitaan Naruto saat kejantanan Naruto menusuknya dari bawah.

"Ittai, ittai, ittai ... " ringis Naruko sambil menggigit bibirnya.

"Naruko-nee!" teriak Naruto sambil memegang kedua paha Naruko dan menggerakkan pinggulnya, menyodok kewanitaan Naruko dari bawah, sehingga membuat pemiliknya mendesah kencang.

"Bagus, Otouto! Lakukan seperti itu!" teriak Naruko senang.

"Nee-chan!" teriak Naruto memejamkan mata. "Aku mencintaimu ... " kata Naruto memeluk tubuh Naruko erat. Membuat Naruko mematung ditempat.

Sorot mata Naruko menghangat, lalu seringai rubahnya perlahan menjadi senyum lembut menenangkan. Dia balas memeluk Naruto. "Aku juga, Otouto."

"Aaahh...!" desah keduanya saat mengeluarkan benih didalam kewanitaan Naruko. Naruko hanya tersenyum lembut.

Dia berniat berdiri dari situ, namun pelukan Naruto meembuatnya susah bergerak.

"Aku ingin tetap seperti ini, seperti dulu," kata Naruto dengan wajah memerah.

Naruko melebarkan mata, lalu tersenyum. "Dasar," kata Naruko terkekeh.

Ketika mengecup dahi Naruto, pemuda itu tertidur dengan senyum yang tersungging. Membuat Naruko terkekeh geli karenanya.

"Merepotkan saja, Baka Otouto."

. . .

"Tadaima!" kata Kushina dan Minato membuka pintu rumah. Kushina melepaskan heels merahnya, diikuti Minato yang melepaskan sepatu pantovel hitamnya yang tengah menjinjing tas kerja ditangannya.

"Naruto? Naruko? Tadaima," kata Minato lagi karena tidak ada balasan dari keduanya.

"Mungkin sudah tidur," kata Kushina sambil menatap suaminya yang tampak kebingungan.

"Wah, tumben," kata Minato. "Kalau begitu aku mandi dulu, ya." kata Minato sambil menarik dasi kerjanya.

"Ok, Anata." jawab Kushina sambil tersenyum. Kushina berniat mengambil sesuatu dari lemari es.

"Wah,"

Kushina terperanjat mendengar suara kagum dari Minato yang tengah berdiri di ambang pintu kamar mandi.

"Ada apa, Anata?" tanya Kushina bingung.

"Kamar mandinya bersih sekali," kata Minato kagum.

"Wah, mungkin mereka berdua yang membersihkannya. Benar-benar sepasang kembaran yang rajin," kata Kushina bangga. "Ah, bagaimana kalau kita mandi berdua sekarang? Aku merindukan itu, Minato. Boleh, 'kan?" tanya Kushina sambil memasang wajah penuh harap pada Minato.

Minato terkekeh garing. "I-iya. Mumpung kamar mandinya sedang bersih," kata Minato menggaruk kepalanya.

"Hore!" sorak Kushina sambil mendorong Minato masuk ke dalam kamar mandi.

. . .

"Segarnya ... " Kushina keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di tubuhnya. Kushina melihat pintu kamar Naruto yang terletak tak jauh dari kamar mandi. Dia berpikir ingin mengintip wajah tidur anaknya itu.

|CKLEK|

Kushina mengintip dari balik pintu. Tak lama kemudian, cairan merah kental mengalir dari hidungnya saat melihat sesuatu di dalam kamar anaknya.

"Naruto ... Naruko ... " kata Kushina menutup mulut tidak percaya.

"Ada apa, Sayang?" tanya Minato bingung yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya.

"Me...mereka..." Kushina menunjuk isi kamar Naruto.

"Kok bisa mimisan begini?" tanya Minato heran. Lalu dia ikut mengintip isi kamar Naruto.

Tak lama kemudian, darah juga ikut keluar dari lubang hidung Minato.

"Naruto ... Naruko ... " kata Minato terbata-bata.

Sebenarnya apa yang mereka lihat didalam kamar Naruto?

. . .

See you next chapter!

. . .

. . .

A/N :

Finally, chapter 3 completed!

Hore! Hore! Hore! 2 adegan lemon dalam satu chapter. Gak nyangka saya bisa melakukannya. Terharu saya. Terharu! #hiks

Oke, menurut permintaan terbanyak minna-san, Hinata dan Naruko terpilih jadi pasangan lemon Naruto di chapter ini. Selamat, ya! Selamat buat mereka berdua...

BTW, karena Naruto perjaka yang suci dan polos, menurut saya dia pantas jadi submissive daripada dominant untuk saat ini. Saya juga suka karakter Naruko yang sok disini. Padahal sebelumnya gak terpikir kalau Naruko bakal jadi anggota harem Naruto. Haha...

Oke, next chap ffm threesome! Diantara cewek tersisa, readers mau yang mana?

v

v