Wing's Tales

.

.

.

Disclaimer: They are belongs to God, themselves, their family, their fans, and also SM Entertainment.

Cast: Cho Kyuhyun and Lee Hyukjae.

Pair: KyuHyuk

Genre: Romance, a bit Fantasy I think.

Rate: T

Warning: Maaf jika Anda yang membaca tidak menikmati tulisan ini. Maaf juga kalo ide pasaran. Terinspirasi dari Avatar: The Legend of Aang.

Don't like? I beg you to don't read!

.

.

.

Chapitre 2

"Hyukkie chagi, maafkan kami, Nak. Karena kami kau harus mengalami hal ini—"

Umma, ini bukan salahmu… jangan menangis, Umma…

"Maafkan kami karena kami terlalu lemah dan harus membuatmu mengorbankan diri, chagi. Seandainya Appa sedikit lebih kuat dan mampu mengalahkan mereka—"

Semua sudah terjadi, Appa. Daripada Appa terus berperang dan semua orang menderita, aku memilih untuk mengorbankan diriku saja, Appa… dengan begitu, semua orang akan bahagia, setidaknya…

"Hamba Jenderal Kim, utusan dari Kekaisaran Api. Atas persyaratan perdamaian perang, Kaisar Api telah memerintahkan saya untuk melamar putera Yang Mulia Jung Yunho, Pangeran Jung Hyukjae, menjadi permaisuri putranya—"

Ya, aku bersedia Jenderal Kim. Aku bersedia menjadi mempelai pangeranmu asalkan keluargaku selamat dan kalian menghentikan perang ini...

"Hyung! A-aku sebenarnya sudah tahu jika kelak takdir Hyung seperti ini... aku hanya tak menyangka ramalanku akan menjadi kenyataan! Maafkan aku, Hyung! Seandainya aku lebih cepat memberitahu semua orang mungkin Hyung sudah sejak lama menyelamatkan diri dari Kekaisaran—"

Jangan menangis, Minnie, ini sama sekali bukan salahmu. Lari dari kenyataan tak akan mengubah apapun. Jangan menangis, Taeminnie. Melihatmu menangis hanya akan menambah kebimbangangku…

"Tak bisakah Hyung menolak? Bagaimana aku dan Taeminnie jika Hyung pergi ke bangsa yang kejam itu?"

Jinki-ah, akupun sebenarnya juga tidak mau. Berhenti berkata seperti itu, Jinki-ah, berhentilah…

"Kau adalah milikku, Jung Hyukjae… sejak awal terbentuknya dunia hingga kiamat nanti, selamanya hanya milikku. Aku tak sabar untuk segera bertemu denganmu, kemudian menjadikanmu milikku, jiwa dan raga…"

"Aaah!"

Hyukjae tersentak. Dia langsung membuka mata dan langsung terlonjak bangun dari tempat tidurnya. Peluh jatuh bercucuran membasahi wajah cantiknya yang seputih susu. Matanya kosong dan terlihat menerawang bagaikan tanpa arah. Hanya satu yang ada di pikirannya. Suara siapa yang terakhir di mimpinya tadi? Hyukjae tahu betul semua suara di mimpinya. Tapi, tapi suara yang terakhir sangat asing dan mampu membuat Hyukjae ketakutan.

Kau siapa?

Mata bulat jernih yang tertutup dengan kelopaknya itupun langsung terarah ke pintu kayu di depannya yang terjeblak dan menghantam dinding di belakangnya.

"Hyung! Kau baik-baik saja? Aku tadi mendengar Hyung berteriak. Ada apa?" seru Jinki dan menghampiri hyungnya.

Air mata tanpa bisa dicegah meleleh di pipinya. Dia menggapai-gapai ke arah adiknya.

"Jin-jinki-ah…"

Jinki segera memeluk hyungnya. Tubuh Hyukjae bergetar dalam pelukan Jinki.

"Uljima, Hyung. Jangan menangis," bisik Jinki.

"A-aku takut, Jinki-ah…"

Pelukan Jinki di tubuh Hyukjae mengerat. "Takut pada apa, Hyung?"

"Ak-aku tak tahu… mimpiku buruk, ada suara seseorang yang membuatku takut. Di-dia berkata jika dia akan segera memilikiku…" bisik Hyukjae dan tangisannya mengeras.

Dada Jinki berdenyut sakit melihat hyung kesayangannya rapuh seperti ini. "Jangan takut, Hyung. Aku dan Taeminnie akan selalu menjaga Hyung."

Hyukjae memaksakan diri untuk tersenyum. "Gomawo, Jinki-ah."

Melihat senyum di wajah hyungnya, Jinki merasa lega, tetapi ada sesuatu di benaknya yang mengatakan jika Hyukjae sebenarnya sangat takut.

"Tidurlah lagi, Hyung. Kau masih pucat," kata Jinki sambil melepaskan pelukan di tubuh hyungnya.

"A-ani… apakah aku pingsan tadi malam karena terlalu lama berada dalam air?" tanya Hyukjae.

"Ne, Hyukkie Hyung. Sekarang sudah menjelang siang. Dan Hyung, jangan pernah ulangi perbuatan Hyung semalam! Hyung hampir membuat Umma dan Taeminnie khawatir karena Hyung pingsan!" seru Jinki.

"Ne, Jinki. Mianhaeyo sudah membuat kalian khawatir," ujar Hyukjae lirih.

"Kajja, Hyung. Aku akan menemani Hyung makan," ucap Jinki.

Hyukjae hanya mengangguk dan beranjak dari tempat tidurnya. Dia menuju pintu dimana kamar mandi pribadi berada. Setelah membersihkan diri dan berpakaian dengan pantas, Hyukjae menemui adiknya dan berdua menuju ruang makan.

.

.

.

Taemin dan ummanya, Jung Jaejoong, terlalu menyambutnya dengan berlebihan. Hyukjae hanya pergi semalam dan pulang dalam keadaan pingsan, tetapi reaksinya seolah-olah Hyukjae pergi bertahun-tahun.

Bagaimana jika aku pergi ke Kekaisaran Api kelak? Batin Hyukjae separuh miris separuh geli.

Sorenya, bersama Taemin Hyukjae berjalan-jalan ke taman bunga kediaman Jung. Hyukjae paling suka berada di dekat bunga dan pepohonan.

Dia berjalan cukup jauh sampai di tengah taman, dimana bunga-bunga rumput tumbuh dengan lebat. Dia pun berhenti dan memperhatikan sekitarnya. Tak ada siapapun disana, hanya dia dan Taemin seorang. Hyukjae melepaskan lapisan terluar bajunya, dia sekarang hanya mengenakan kimono putih dengan corak kupu-kupu biru. Rambutnya hanya diikat asal di punggung, membiarkan poninya jatuh menutupi dahi dan beberapa berkas rambut tak terikat dengan rapi. Hyukjae memandang ke bawah lalu mulai melepaskan alas kaki yang dikenakannya. Kali ini dia dapat merasakan rumput hijau yang sedikit kasar namun perlahan berubah lembut saat dia berdiri di atasnya.

Tak sadar dia menutup kedua matanya dan menarik napas dalam-dalam, mengangkat kepalanya ke atas membiarkan sinar matahari senja menembus permukaan kulit putihnya. Merentangkan tangannya bagai sayap merpati yang terbang bebas di langit yang luas, berharap dapat terbang ke mana saja. Perasaan ingin terbebas dari kungkungan beban yang dipikulnya begitu kuat, namun dia tak mampu melepaskannya.

Pikirannya menerawang jauh. Terbawa perasaannya, Hyukjae berlari kecil bagaikan seorang anak yang bermain di taman tanpa belenggu. Saat berlarian, sekelebat pikiran terintas di otak Hyukjae. Apakah kelak saat dia menikah dan tinggal di Kekaisaran Api, dia akan memiliki taman dan danau pribadi?

Saat merangkai beberapa tangkai bunga, Taemin yang sedari tadi hanya memandangi hyungnya yang begitu cantik berada di tengah bunga-bungaan memangilnya pelan.

"Hyung…" lirihnya pelan.

Hyukjae mendengarnya. Dia hanya menoleh ke samping dan tersenyum pada adik bungsunya. "Ne, Taeminnie?"

Taemin merasa bersalah saat melihat senyum tulus hyungnya yang kembali menghiasi wajah hyungnya setelah beberapa bulan belakangan ini lenyap. Hyukjae selama ini hanya diam, menyendiri dan murung karena memikirkan persyaratan dari Kekaisaran Api. Senyumnya yang menenangkan lenyap digantikan ekspresi sendu. Dan Taemin tahu, salah satu penyebabnya adalah ramalannya.

"Mian... saat Hyung tertidur tadi pagi, Jenderal Kim dan beberapa utusan Kekaisaran datang. Dua minggu lagi, akan ada pasukan yang akan menjemput Hyung untuk tinggal di Kekaisaran," lirih Taemin.

Secepat itu?

Taemin dapat melihat jika tubuh hyungnya membeku. Tetapi Hyukjae beranjak dari tempatnya terduduk di tengah-tengah bebungaan dan menghampiri adiknya yang duduk di bawah pohon sakura. Tak berkata apapun, tangan Hyukjae yang disembunyikan di belakang punggung bergerak, memasangkan sesuatu di kepala Taemin.

Taemin menyentuh suatu benda yang dipasangkan hyungnya.

"Mahkota bunga?" tanya Taemin.

Hyukjae tersenyum lagi. "Ne! Cocok untukmu, Minnie! Kau makin manis dengan mahkota itu."

"Hyung…"

"Untuk sementara, selama aku masih disini, Taeminnie, jangan singgung masalah itu. Aku ingin menikmati waktuku disini bersama kalian," bisik Hyukjae.

Taemin menangis. Dia langsung memeluk hyungnya.

"Hyung, mian… mian," bisik Taemin berulang-ulang. Hyukjae hanya mengelus-elus rambut adiknya.

"Kau tidak salah, Minnie. Aku rela menjadi mempelai Putera Mahkota Kekaisaran Api agar perang ini berhenti," kata Hyukjae.

"Lalu bagaimana denganmu, Hyung? Bagaimana dengan kami?"

Hyukjae tidak bisa menjawab. Dia hanya mengelus-elus rambut Taemin.

"Itu adalah konsekuensinya, Minnie," jawab Hyukjae akhirnya.

Taemin tak bisa berkata apapun lagi. Keputusan hyungnya untuk mengorbankan diri sudah bulat.

.

.

.

Dua minggu berlalu bagaikan angin. Selama dua minggu itu, Hyukjae hanya menghabiskan waktunya bersama keluarganya. Anggota inti Klan Pengendali Air merasa jika dua minggu ini Hyukjae nyaris kembali seperti Hyukjae yang dulu, murah senyum dan ceria. Hyukjae kembali menjadi dirinya yang dulu untuk meyakinkan keputusan bahwa jalan yang dia pilih benar.

Tetapi, selama dua minggu itu pula, suara orang asing itu selalu didengar Hyukjae dalam mimpi. Suara yang merdu, yang selalu menyatakan jika Hyukjae adalah miliknya. Membuat Hyukjae selalu terbangun dengan perasaan takut dan gelisah.

Siang ini utusan dari Kekaisaran akan menjemput Hyukjae. Hyukjae menunggu sembari mempersiapkan diri dan Jaejoong menemaninya. Jaejoong berusaha agar air matanya tidak tumpah saat melihat anaknya berkemas untuk menjadi mempelai bangsa yang menurutnya sangat kejam. Bagaimana perasaan seorang ibu saat melihat anaknya berpersiap untuk menikah dengan orang yang kejam dan tidak jelas seperti Putera Mahkota Kaisar Api itu?

Dewa… Hyukkie bahkan baru beberapa bulan menginjak kedewasaan, tangis Jaejoong dalam hati, mengingat beberapa bulan lalu Hyukjae merayakan ulang tahunnya yang kedelapan belas, usia kedewasaan. Kenapa nasibnya begitu berat?

"Umma…" lamunan Jaejoong terputus saat mendengar panggilan halus putera sulungnya.

"Ne, chagiya?" kata Jaejoong dan mendekat ke Hyukjae. Jaejoong meletakkan kedua tangannya di pipi Hyukjae. Hyukjae hanya tersenyum dan meletakkan tangannya di atas tangan Jaejoong.

"Aku akan baik-baik saja, Umma. Umma jangan menangis. Jika Umma dan Minnie menangis, itu hanya akan membuatku menyesali keputusanku ini," ucap Hyukjae lirih.

Jaejoong tak sadar jika air mata sudah meleleh di pipinya. Namja cantik itu segera mengusapnya.

"Hyukkie yakin dengan keputusan Hyukkie, Umma… jika Hyukkie menikah, Kekaisaran pasti mau menghentikan perang," kata Hyukjae tegas.

"Kumohon, Umma… relakan Hyukkie pergi. Ini untuk kebaikan dan kedamaian," kata Hyukjae lagi. Saat mengatakan itu, Jaejoong dapat melihat putera sulungnya yang selama ini lembut dapat berkata setegas dan seteguh itu. Jaejoong menatap manik mata Hyukjae. Hanya ada keyakinan dan keteguhan disana, meskipun ada kilat kesedihan.

Jaejoong langsung memeluk Hyukjae. "Umma merelakanmu menikah dengan Pangeran Api, Chagi… Umma selalu mendoakan kebahagiaanmu," lirih Jaejoong.

"Gomawo, Umma. Saranghae," kata Hyukjae.

"Nado, Hyukkie-ah, nado saranghae," balas Jaejoong.

Terdengar ketukan di pintu kamar Hyukjae. Hyukjae melepaskan pelukan ummanya.

"Masuk," kata Hyukjae. Pintu terbuka dan seorang dayang masuk.

"Jenderal Kim dan Yang Mulia Yunho telah menunggu di ruang utama," kata dayang itu sopan sambil membungkuk.

"Kami akan kesana," kata Jaejoong.

Hyukjae memeluk lengan Jaejoong saat mereka menuju ke ruang utama. Di ruang itu, semua anggota keluarga Jung sudah ada bersama dengan namja gagah yang memakai pakaian besi dengan jubah merah.

Mereka berempat serentak menoleh saat Hyukjae dan Jaejoong memasuki ruangan. Taemin, melupakan sopan santun, langsung memeluk Hyukjae. Sedang Hyukjae hanya tersenyum miris.

"Karena Yang Mulia Hyukjae sudah hadir, lebih baik kami berangkat sekarang," kata namja gagah itu, Jenderal Kim.

"Tak bisakah aku mengucapkan selamat tinggal dulu pada dongsaengku?" pinta Hyukjae lirih.

Jenderal Kim memandang Hyukjae. Dan jenderal muda itu terpesona.

Namja calon permaisuri pangerannya itu begitu cantik. Dengan rambut kemerahan yang sangat halus, kulit mulus seputih salju, bibir semerah delima, mata sebening air segar yang dibingkai bulu mata lentik seperti sayap kupu-kupu, dan hidung mancung nan lurus. Ini kali pertama jenderal muda itu melihat Hyukjae, dan seperti namja-namja lain yang pertama kali melihat Hyukjae, dia terpesona.

Neomu yeoppuda… pikir Kim Kyuhyun, sang jenderal muda Kekaisaran Api.

"Baiklah. Saya memberi Anda beberapa menit, Yang Mulia. Karena perjalanan ke Ibukota Hi'en memakan waktu berminggu-minggu," kata Kyuhyun.

"Gomawo, Jenderal," kata Hyukjae.

Hyukjae lalu mengusap-usap kepala Taemin sembari menenangkannya. Tak tahan melihat hyungnya yang sebentar lagi pergi—dan mungkin tak akan kembali, Jinki ikut memeluk Hyukjae. Dia lebih bisa mengontrol emosinya, dia hanya mendoakan agar hyungnya bahagia.

"Uljima, Minnie. Kuatlah, buat Hyung bangga. Dan Jinki—Hyung hanya berharap kau bisa menjaga Minnie dan Umma. Juga jadilah pemimpin yang bijak seperti Appa," kata Hyukjae. Tangis Taemin mengeras mendengar kata-kata Hyukjae.

Setelah puas berpelukan dengan kedua dongsaengnya, Hyukjae menghampiri appanya. Dia berdiri, lalu membungkuk dan melakukan penghormatan pada appanya. Setelah itu, Hyukjae menghambur memeluk appanya.

"Semoga kau bahagia, chagiya. Maafkan appamu yang lemah ini," bisik Yunho.

"Semua bukan salah Appa," kata Hyukjae menahan tangisnya.

Yunho hanya mengeratkan pelukannya pada putera sulungnya.

"Selamat tinggal, Appa. Semoga Appa dapat melindungi klan dan menjaga Umma juga Jinki dan Minnie. Aku selalu menyayangi Appa," kata Hyukjae sambil melepaskan pelukannya.

Appanya hanya bisa menangis dalam hati melihat puteranya yang lembut itu.

"Selamat tinggal, Umma, Jinki, Minnie. Semoga kalian selalu sehat dan Sang Dewa selalu melindungi keluarga kita," kata Hyukjae.

Setelah itu, untuk terakhir kalinya Hyukjae melambai dan tersenyum tulus, meyakinkan keluarganya jika ini adalah jalan yang tepat, untuknya juga untuk kedamaian dunia tempatnya hidup.

.

.

.

Kekaisaran Api telah mengirim lima ratus prajurit yang dipimpin Kyuhyun untuk menjemput Hyukjae. Dia hanya berangkat seorang diri, Putera Mahkota Kaisar Api tidak mengizinkan Hyukjae untuk membawa teman satupun, meskipun itu pelayan maupun pengawal pribadinya.

"Silakan masuk, Yang Mulia," kata Kyuhyun sambil membuka pintu kereta kuda khusus untuk Hyukjae.

Hyukjae tersenyum dan menaiki kereta itu. Karena melihat calon Puteri Mahkota negaranya itu kesusahan, Kyuhyun mengulurkan tangan. Hyukjae menerima uluran tangan Kyuhyun yang dilapisi sarung tangan dengan pelat besi, tetapi Kyuhyun merasa ada sengatan listrik saat menyentuh tangan halus Hyukjae. Mengalihkan rasa terkejutnya, Kyuhyun tetap menggenggam tangan Hyukjae hingga namja manis itu berhasil naik ke kereta.

"Gomawo, Jenderal Kim," kata Hyukjae lembut.

"Tidak perlu berterimakasih pada saya, Yang Mulia. Sudah tugas saya untuk melayani Anda," kata Kyuhyun.

Hyukjae hanya diam. Begitu dia duduk dengan nyaman di dalam kereta, Kyuhyun memerintahkan pasukannya agar berangkat ke Ibukota Hi'en.

Begitu kereta melaju, Hyukjae menangis dalam diam. Semoga—semoga keputusannya ini tepat.

Setelah keluar dari gerbang utama kota kelahirannya—Ibukota Klan Air, Ibukota Sui—terdengar ribut-ribut diluar kereta Hyukjae. Hyukjae bahkan bisa mendengar Kyuhyun berteriak kepada seseorang.

"Hyung! Hyukkie Hyung!" seru suara yang sangat dikenal Hyukjae. Hyukjae membuka jendela kereta dan melongokkan kepala keluar. Terkejutlah dia karena melihat dua dongsaengnya, berkendara dengan kuda, berusaha menyamai kecepatan kereta Hyukjae.

"Ji-jinki-ah! Taeminnie! Apa yang kalian lakukan?! Kalian bisa jatuh!" seru Hyukjae ketakutan. Tangannya mencengkeram jendela kereta karena angin berhembus kencang dan kereta melaju dengan cepat.

"Itu sekarang tidak penting, Hyung!" seru Jinki.

"Tidak penting? Tidak penting, katamu?! Kalian bisa jatuh!" seru Hyukjae karena baik keretanya maupun kuda Jinki melaju dengan kecepatan yang menakutkan.

"Hyung, kami hanya ingin memberitahu Hyung jika Minnie tadi mendapat penglihatan tepat setelah Hyung pergi! Dan penglihatan Minnie itu mengenaimu, Hyukkie Hyung!" seru Jinki, berusaha agar suaranya dapat didengar Hyukjae.

"A-aku?" kata Hyukjae.

Taemin, yang duduk di belakang Jinki, mengangguk kencang. "Ne! Hyung, meskipun kini kau mengorbankan diri demi semuanya, tetapi penglihatanku mengatakan jika kelak kau akan menemukan kebahagiaanmu di Hi'en, Hyung! Kau akan bahagia di sana!" seru Taemin dengan senyum lebar.

Hyukjae terbelalak. "Jin-jinjjayo?"

"Ne! Karena itu, bertahanlah, Hyung!" kata Jinki.

Setitik harapan tumbuh di hati Hyukjae. Hyukjae tersenyum tulus, senyum yang benar-benar senyumannya. "Aku akan bertahan dan tegar, Jinki-ah, Minnie," kata Hyukjae.

"Ini, Hyung! Ini dari kami dan dari Umma!" Jinki mendekatkan kuda mereka dan Taemin memberikan satu bungkusan pada Hyukjae.

Hyukjae menerimanya dan mendekapnya di dada.

"Sampai jumpa, Hyung! Semoga Hyung benar-benar menemukan kebahagiaan di Hi'en!" kata Jinki.

"Kami selalu mendoakan Hyung! Hyung harus tabah menghadapi semua ini!" seru Taemin. Sama seperti hyungnya, harapan tumbuh di hatinya, harapan jika hyung kesayangannya akan menemukan kebahagiaan di tempat yang dia tuju.

"Ne! Aku akan berjuang, Jinki-ah, Minnie! Semoga Sang Dewa melindungi kita!" kata Hyukjae sambil mengulurkan tangan. Taemin menautkan tangannya ke tangan hyungnya.

"Yang Mulia!" seru Kim Kyuhyun. Dia segera memacu kudanya agar mendekat ke kereta Hyukjae.

"A-ah… jenderal kaku itu datang. Kami pergi dulu, Hyukkie Hyung! Hyung harus bahagia!" seru Jinki dan menghentakkan kekang kudanya agar berputar, kembali lagi ke kediaman mereka.

"Sampai ketemu lagi, Hyung~!" seru Taemin sambil melambai.

Hyukjae balas melambai dan memberikan senyumannya yang terbaik. Hyukjae terus melambai hingga dua dongsaengnya itu tak terlihat, tak menghiraukan Jenderal Kim yang kini berkendara di sampingnya. Tak menghiraukan angin yang mengacaukan rambutnya hingga terurai. Tak menghiraukan debu yang membuat matanya perih.

"Apa yang kedua adik Anda lakukan? Mereka bisa membuat Anda bisa jatuh dari kereta, Yang Mulia," kata Kyuhyun.

Hyukjae malah tersenyum pada Kyuhyun, membuat jenderal muda itu merasa perutnya digelitik sesuatu.

"Aku tidak apa-apa, Jenderal," kata Hyukjae.

"Jika Yang Mulia berkata demikian," jawab Kyuhyun sambil menundukkan kepala dengan hormat.

"Gomawo, Jenderal," kata Hyukjae.

Hyukjae menarik tubuhnya agar masuk ke kereta, dan dia merapikan rambutnya. Senyum masih enggan meninggalkan bibir Hyukjae. Rambutnya yang panjang, yang selalu dipuji Taemin karena kehalusannya.

.

.

.

Februari 26

Rain drops lover,

Raito