Wing's Tales

.

.

.

Disclaimer: They are belongs to God, themselves, their family, their fans, and also SM Entertainment.

Cast: Cho Kyuhyun and Lee Hyukjae.

Pair: KyuHyuk

Genre: Romance, a bit Fantasy I think.

Rate: T

Warning: Maaf jika Anda yang membaca tidak menikmati tulisan ini. Maaf juga kalo ide pasaran. Terinspirasi dari Avatar: The Legend of Aang.

Don't like? I beg you to don't read!

.

.

.

Chapitre 3

Perjalanan dari Ibukota Sui ke Ibukota Hi'en yang seharusnya memakan waktu kurang lebih dua bulan hanya memakan waktu tiga setengah minggu, karena rombongan yang dipimpin Jenderal Kim Kyuhyun itu memacu kuda mereka dengan cepat. Hal itu membuat Hyukjae ketakutan karena kecepatan yang mengerikan itu. Belum lagi dia harus menyiapkan hati karena Kyuhyun mengatakan hari ini mereka akan tiba di Istana Utama Kekaisaran Api.

Kota Hi'en sebenarnya kota yang indah, tertata dan ramai, tetapi terlalu banyak warna merah yang melambangkan api. Hyukjae hanya pernah mendengar Kota Hi'en dari cerita appanya dulu, dan ini kali pertama Hyukjae mengunjunginya. Kata appa Hyukjae, meskipun banyak pohon dan taman juga danau buatan, tetap terasa kurang. Cinderamata dengan lambang burung phoenix, makanan khas yang berasal dari bara api, atraksi sirkus di pinggir-pinggir jalan yang menampilkan kehebatan pengendalian api, dan hewan-hewan unik yang dapat mengeluarkan api. Belum lagi penduduknya yang mengenakan warna merah sebagai identitasnya sebagai Klan Pengendali Api. Hal itu membuat Hyukjae yang dibesarkan di Sui yang penuh dengan perairan yang sejuk dan hutan-hutan mulai merasa gerah dan semakin menyadarkannya jika dia sudah tidak di Sui lagi. Bagaimana dia bisa tinggal di kota yang panas seperti itu?

Semakin ke selatan, wilayah yang dilewati Hyukjae semakin tandus dan sejak beberapa hari setelah melewati wilayah Kerajaan Bumi yang dipenuhi perbukitan berubah menjadi padang pasir. Kyuhyun memerintahkan agar semua pasukan untuk memakai pelindung wajah agar terlindung dari angin berpasir. Kyuhyun juga meminta Hyukjae untuk memakainya, meskipun beberapa jam lagi mereka akan sampai. Hyukjae memilih memakai kerudung yang menutupi rambutnya.

Saat hendak memasuki gerbang utama pertama (kota Hi'en memiliki lima lapis dinding pelindung yang mengelilinginya), tiba-tiba rombongan Hyukjae dihadang oleh segerombolan pasukan yang memakai pakaian gelap dan membawa senjata.

Hyukjae dapat mendengar teriakan Kyuhyun yang memerintahkan sesuatu ke pasukannya, dan serangan ini mulai membuat Hyukjae cukup takut.

Hyukjae membuka jendela kereta kudanya dan bertanya pada seorang prajurit yang paling dekat.

"Apa yang terjadi?" tanya Hyukjae.

"Juiseonghamnida, Yang Mulia... sepertinya ada gerombolan perampok gurun yang ingin menyerang kita."

"Perampok gurun? Apakah... apakah semuanya akan baik-baik saja?"

"Kami akan menjaga Anda, Yang Mulia. Saya harap Anda berlindung dan menutup jendela," pinta prajurit itu.

"Ne," dan Hyukjae kembali menutup jendela dengan rapat.

Lalu mulai terdengar teriakan.

Dentingan pedang, desingan anak panah, ringkikan kuda dan pekikan kesakitan dari manusia memenuhi pendengaran Hyukjae. Kedua pasukan saling menyerang. Dan baru kali ini Hyukjae mendengar suara perang sedekat ini, bahkan dia berada di tengah-tengahnya.

Hyukjae begitu takut dan hanya bisa mengatupkan tangan di dada. Lama kemudian suasana menjadi begitu hening. Tak terdengar lagi suara-suara dentingan logam atau teriakan lagi. Hyukjae memberanikan diri dan mendekat ke jendela. Saat hendak membukanya, jendela kereta Hyukjae terbuka dengan paksa oleh sebuah pedang yang mengarah ke lehernya. Jendela itu terbuka lebar.

Hyukjae terbelalak.

Di hadapannya berdiri seorang namja yang memakai penutup wajah dan berpakaian serba hitam dengan pedang tajam yang mengarah ke leher Hyukjae.

"Wah, wah... kami mengira jika isi dari kereta kuda yang begitu mewah ini adalah harta benda, entah emas maupun permata. Tak kusangka... kami mendapatkan yeoja cantik sepertimu," sapa sosok berpenutup wajah itu, menebak Hyukjae adalah yeoja, dilihat dari panjangnya rambut kemerahan Hyukjae dan figurnya yang feminin.

Mata Hyukjae melebar. Tiba-tiba Hyukjae panik.

"Jendera Kim! Jenderal Kim!" panggil Hyukjae putus asa pada jenderal yang mengawalnya.

Namja yang mengarahkan pedang ke leher Hyukjae terkekeh. Iris matanya yang berwarna cokelat gelap berkilat senang.

"Nee, semua pasukan penjagamu sudah mati dan walaupun masih hidup, mereka sekarat, Tuan Puteri," kata sosok namja itu lagi. Hyukjae bisa mendengar tawa dalam kata-kata sosok itu.

Namja itu mendekat, hendak melihat wajah Hyukjae yang tertutupi dengan jelas. Hyukjae menahan dirinya untuk tidak mendorongnya. Matanya masih menjelajah keluar, mencari sosok Jenderal Kim. Dan Hyukjae terkejut. Pasukan yang mengawalnya berjumlah lima ratus orang, dan hampir semuanya tumbang. Pasukan yang dipimpin Kyuhyun memang berjumlah banyak, tetapi mereka kelelahan karena menempuh jarak ribuan mil dalam waktu singkat dan dengan mudah dapat dikalahkan. Beberapa ada yang masih bertarung dengan pasukan berpakaian hitam, dan sejumlah lain mengerang kesakitan diatas tanah.

Mengapa tak ada yang menyelamatkan kami? Bukankah ini di depan gerbang utama? Pikir Hyukjae.

"Mencari dia, Tuan Puteri?" tiba-tiba dari sisi kanan namja berpenutup wajah itu, sosok berpakaian hitam yang lain mendorong Kyuhyun hingga terjatuh.

"Jenderal Kim!" teriak Hyukjae.

"Yang Mulia!" Kyuhyun hendak mendekat ke arah Hyukjae, tetapi tangannya terikat dan sosok berpakaian hitam itu memegangnya. Kyuhyun terluka di banyak tempat. Bahkan di sisi wajahnya dibanjiri darah.

"Tuan Puteri yang kutemukan ternyata benar-benar seorang puteri, eh?" namja yang masih mengacungkan pedang ke leher Hyukjae tertawa.

"Jangan sentuh dia, Perampok!" seru Kyuhyun memperingatkan. Pedang di leher Hyukjae mengoyak kain penutup Hyukjae dan semakin menekan ke permukaan kulitnya hingga menggores leher Hyukjae. Hyukjae mendesis karena perih. Tangannya memutih karena mencengkeram pinggiran jendela.

"Apa yang kau lakukan pada Yang Mulia Hyukjae?!" teriak Kyuhyun saat melihat darah mengalir di leher Hyukjae yang tak terlindungi kain pelindung wajahnya dan mengotori kimono birunya.

"Berani bergerak lebih dan Tuan Puterimu akan kubunuh," ancam namja yang masih mengarahkan pedangnya di leher Hyukjae.

"A-apa maumu?" tanya Hyukjae akhirnya.

Namja yang mengarahkan pedang itu tertawa keras. "HAHAHA! A-apa mauku, katamu, Tuan Puteri?"

Hyukjae mengangguk, berusaha terlihat setegas mungkin.

"Nah, karena di kereta ini tak ada harta apapun... maka aku memutuskan untuk membawamu bersamaku. Kau seorang puteri, kau cukup cantik, mungkin jika dijual ke rumah bordil aku akan mendapatkan ribuan keping emas," kata namja itu, mengejutkan baik Hyukjae maupun Kyuhyun.

"Kau tidak bisa membawanya, Perampok! Kau bahkan tidak tahu siapa dia! Dan singkirkan pedangmu dari Yang Mulia Hyukjae!" Kyuhyun sekali lagi mencoba berontak. Tetapi dengan mudah dia hentikan oleh beberapa sosok berpakaian hitam di sekelilingnya.

"Hmmm... menarik. Baiklah, kau ikut denganku, Tuan Puteri," namja itu menarik dan menyarungkan pedangnya, kemudian menarik tangan Hyukjae.

Hyukjae tertarik keluar. Karena dia hampir jatuh, namja yang menariknya segera menangkap tubuh feminin Hyukjae. Hyukjae terkesiap, lalu mendorong sosok berpakaian hitam itu, tak menyadari jika kerudungnya tertarik hingga terlepas dari wajahnya.

Saat melihat wajah Hyukjae secara utuh dan jelas, perampok yang masih menahan tubuh Hyukjae terpana.

Can... cantik... pikir sang perampok.

Wajah cantik Hyukjae, terutama matanya yang begitu indah, langsung memerangkap hati sang perampok bermata cokelat gelap.

Namja bermata cokelat gelap itu langsung menggendong Hyukjae di bahunya.

"Apa yang kau lakukan?! Turunkan aku!" Hyukjae tentu saja berontak, berusaha memukul dan menendang, tapi sia-sia, karena si perampok itu tak bergeming.

"Tangkap sisa pasukan yang masih melawan. Ambil senjata dan kuda mereka. Ikat jenderal itu dengan rantai besi bulan," perintah sang namja bermata cokelat gelap.

"Baik, Ketua!"

Hyukjae menyadari jika namja berpenutup wajah itu adalah kepala kawanan perampok ini.

Beberapa namja berpenutup wajah mendekati Kyuhyun, lalu mengikat tangannya. Kyuhyun mendesis kesakitan karena bahunya yang luka akibat serangan tadi. Hyukjae memalingkan wajah saat melihat Kyuhyun mendesis kesakitan, apalagi mereka sengaja menekan bahu Kyuhyun.

Hyukjae menoleh ke arah namja bermata cokelat gelap yang menggendongnya. Namja balik menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Kau cantik, terlalu berharga jika dijual ke rumah bordil. Kau ikut denganku," katanya acuh.

"Ap—"

"Bawa mereka ke karavan," perintah namja itu lagi, menunjuk pada prajurit yang sudah terikat. Dia lalu menuju sebuah karavan, dan menghempaskan Hyukjae ke sana. Setelahnya dia menaiki seekor kuda, memacunya, memimpin kawanan perampoknya kembali ke markas mereka.

Tak lama Kyuhyun juga dihempaskan dengan kasar di karavan yang sama dengan Hyukjae. Kyuhyun tak banyak bicara, tetapi wajahnya memucat.

"Jenderal Kim... apakah kau baik-baik saja?" khawatir Hyukjae.

Kyuhyun hanya tersenyum tipis. "Saya bisa bertahan, Yang Mulia."

Tak tahan melihat 'pelindung'nya melemah, Hyukjae segera memanggil seorang perampok yang terdekat dengan karavan.

"Chogiyo... apa aku boleh meminta tolong?" tanya Hyukjae.

Perampok itu sesaat terpana akan kecantikan Hyukjae. Tapi dia menjawab, "Tergantung pada permintaanmu, Tuan Puteri."

"Bisakah kau melepas ikatanku dan bolehkah aku meminta sekantung air?" pinta Hyukjae.

Perampok itu sesaat berpikir. "Kau mau apa dengan hal itu?"

"Kumohon..." pinta Hyukjae.

"Huh... baiklah. Kemari, Tuan Puteri," Hyukjae berbalik, dan ikatan tambang di pergelangan tangannya terpotong.

"Ini sekantung air yang kau minta."

Hyukjae menerimanya dengan senang. "Gamsahamnida, Tuan Perampok."

Pipi perampok itu merona, "Hn," gumamnya.

Karavan dan rombongan perampok mulai bergerak. Hyukjae beringsut mendekati Kyuhyun. Jenderal muda yang tampan itu memandangnya heran.

Hyukjae membuka kantung air itu dan menuangkan isinya di telapak tangannya dan menggerak-gerakkan tangannya, seperti menari. Tetapi Hyukjae sedang mengendalikan air, sehingga air tetap bertahan dan menyelimuti kedua telapak tangan Hyukjae. Namja berambut kemerahan itu mendekatkan tangannya ke arah Kyuhyun dan mulai menggunakan kemampuan yang sangat jarang dia perlihatkan pada siapapun, Penyembuhan.

Kyuhyun terkejut, tetapi karena terlalu lemah dia tak berkata apapun. Tangan Hyukjae yang diselubungi air mulai menyentuh anggota tubuh Kyuhyun yang terluka. Mula-mula luka di pelipisnya. Kyuhyun merasakan sejuk saat air itu menyentuh permukaan kulitnya, dan tanpa sadar dia menutup mata karena terhanyut rasa yang sangat nyaman.

Hyukjae agak panik saat melihat sang jenderal menutup mata. Dia juga menyadari jika sang jenderal sangat pucat karena kehilangan banyak darah. Dia dengan segera menyembuhkan luka-luka Kyuhyun yang berjumlah banyak, tetapi satu luka parah yang tidak bisa disembuhkannya, yaitu luka bekas tusukan pedang di bahu kanan Kyuhyun. Luka itu dalam, dan sedikit saja Hyukjae menekannya, Kyuhyun bergerak tak nyaman dalam tidurnya.

Hyukjae menggigit bibir. Dia membutuhkan tanaman obat, yang tak mungkin bisa didapatkannya dengan keadaan saat ini.

Terpaksa. Harus menggunakan cara itu, pikir Hyukjae.

Dia melihat betapa tak nyamannya sang jenderal dalam pakaian perang dari besi kemerahan yang dipakainya. Mula-mula Hyukjae melepaskan semua pelat-pelat besi itu hingga menyisakan tunik dan celana panjang hitamnya. Kemudian Hyukjae membersihkan debu dan darah dari wajah tampan sang jenderal. Namja cantik itu menyentuhkan tangannya yang sudah kembali diselubungi air, ke luka di bahu Kyuhyun. Dengan mata terpejam Hyukjae mengerahkan seluruh tenaganya, dan dia berhasil. Luka itu mulai mengering, sel-sel baru terbentuk, dan akhirnya kulit baru tumbuh seakan tak pernah ada luka. Penyembuhan dengan cara ini sangat berisiko, karena menyalurkan tenaga Hyukjae, berbeda dengan proses penyembuhan pada luka kecil yang tidak menguras tenaga.

Hyukjae terengah-engah. Tenaganya benar-benar terkuras habis. Setelah selesai, kegelapan langsung menyambutnya.

.

.

.

Istana Guren, Ibukota Hi'en

"Apa?! Pasukan yang dipimpin Jenderal Kim diserang tepat didepan gerbang pertama?!" kata Kaisar Api.

Kaisar Api itu baru menerima berita jika rombongan penjemput Pangeran Klan Air seharusnya tiba petang tadi, tetapi hingga malam tidak kunjung tiba dan sekarang seorang panglimanya mengabarkan jika rombongan Jenderal Kim diserang perompak gurun dan sekarang sang jenderal juga sang pangeran menghilang.

Sang Kaisar memijat pelipisnya, lalu menghembuskan napas perlahan.

"Panglima Yoon... aku tidak mau tahu, tetapi aku ingin kau mengerahkan pasukanmu untuk mencari Pangeran Hyukjae dan Jenderal Kim... akan lebih baik lagi jika kau menumpas perompak gurun itu... juga hukum penjaga gerbang pertama karena kelalaian mereka sehingga menyebabkan calon permaisuri Putera Mahkota diserang tepat di depan gerbang utama... kau mengerti tugasmu, Panglima Yoon?" perintah Kaisar.

Panglima yang berusia di pertengahan dua puluh itu itu mengangguk tegas. "Hamba mengerti."

"Bagus... sekarang jalankan tugasmu," kata sang Kaisar.

Panglima Yoon membungkuk, lalu keluar dari singgasana Istana Guren.

Sepeninggal Panglima Yoon, Kaisar Api kembali menghembuskan napas panjang.

"Apa yang harus kukatakan pada Putera Mahkota jika mempelainya menghilang?" tanya Choi Siwon, Kaisar Api ke seratus delapan belas, kepada dirinya sendiri.

.

.

.

Februari 26

Rain drops lover

Raito