Wing's Tales
.
.
.
Disclaimer: They are belongs to God, themselves, their family, their fans, and also SM Entertainment.
Cast: Cho Kyuhyun and Lee Hyukjae.
Pair: KyuHyuk
Genre: Romance, a bit Fantasy I think.
Rate: T
Warning: Maaf jika Anda yang membaca tidak menikmati tulisan ini. Maaf juga kalo ide pasaran. Terinspirasi dari Avatar: The Legend of Aang.
Don't like? I beg you to don't read!
.
.
.
Chapitre 4
Kota Io, kota kecil jauh di sebelah timur laut Gurun Ashura, gurun yang mengelilingi Kekaisaran Api
Kyuhyun terbangun karena silau akibat sinar mentari pagi. Membuka mata, jenderal muda itu mendapati dia tertidur sambil bersandar di dinding karavan asing. Dia tak yakin sudah berapa lama dia berada di karavan asing ini. Lambat laun ingatannya tentang kejadian yang membuatnya berada di karavan ini membanjir.
Dia merasa gagal karena tak bisa melindungi Hyukjae sampai ke Ibukota.
Menghela napas karena kesal, Kyuhyun merasakan beban di bahu kirinya. Namja tampan itu menoleh, dan napasnya tertahan saat mendapati wajah cantik sang keturunan Jung tertidur berbantalkan bahunya.
Kulit putih yang berpendar karena tertimpa sinar mentari pagi, rambut kemerahan sehalus sutera yang terjatuh hingga membingkai sisi wajah, bibir merah yang sedikit terbuka, bulu mata panjang yang menyentuh pipi di bawahnya, tubuh yang bergerak naik turun karena napasnya yang teratur, aroma samar bunga sakura yang tercium dari tubuhnya. Dan, Demi para Dewa, Kyuhyun ingin sekali menyentuhkan ujung-ujung jarinya, untuk merasakan apakah pipi halus Hyukjae yang disapu rona merah muda manis itu benar-benar sehalus apa yang dilihatnya.
Jung Hyukjae begitu cantik, hingga membuat Kyuhyun harus mengingatkan dirinya sendiri untuk bernapas.
Mata Hyukjae bergerak-gerak, menunjukkan bahwa sang pemilik mulai terbangun. Kyuhyun langsung menoleh ke arah lain.
Hyukjae membuka matanya perlahan, lalu menguap.
"Apakah Anda beristirahat dengan nyaman, Yang Mulia?" tanya Kyuhyun.
Dia baru sadar selama tidur dia telah menyandar ke jenderal yang ditugaskan untuk menjemputnya, langsung menarik kepalanya. Dia menyembunyikan wajahnya yang memerah dibalik helaian rambutnya yang tergerai.
"U-um... Mianhamnida..." kata Hyukjae.
"Sayalah yang seharusnya meminta maaf, Yang Mulia, karena telah menyebabkan anda berada dalam keadaan yang tidak menyenangkan ini," kata Kyuhyun.
"Aku tidak mempermasalahkannya. Da-daripada meributkan hal ini... apakah kau masih merasa sakit, Jenderal?" tanya Hyukjae.
Kyuhyun melihat bahunya, dan dia begitu terkejut saat melihat bahunya mulus, seakan-akan tak pernah ada luka disana.
"Ya-yang Mulia... i-ini—" Kyuhyun terlalu terkejut.
"Hanya itu yang bisa kulakukan, Jenderal," kata Hyukjae.
"Gamsahamnida, Yang Mulia. Apa yang Anda lakukan sudah lebih dari cukup," kata Kyuhyun.
"Be—" kata-kata Hyukjae terpotong.
"Sudah bangun, Tuan Puteri? Jenderal?" sapa seseorang. Namja bermata cokelat gelap, pemimpin perampok yang menculik Hyukjae datang dengan berjalan kaki.
Hyukjae langsung menarik kedua tangannya, agar si perampok tak tahu jika tangannya tak terikat.
Namja dengan penutup wajah itu tak menyadari pergerakan Hyukjae, "Kita akan beristirahat sebentar disini. Karena aku baik hati, aku membawakan kalian sarapan," matanya menyipit, menandakan jika dia tersenyum. "Setelah itu kita akan ke wilayah Kerajaan Baram."
Mata Kyuhyun melebar. "Wilayah Kerajaan Baram?!"
Namja bermata cokelat gelap itu tertawa. "Ne~ ada yang salah dengan hal itu, Jenderal? Ah, mau bilang apapun juga percuma, karena saat ini kalian tawananku~"
"Ketua!" panggil salah seorang berbaju dan berpenutup wajah hitam.
"Ah, tugas memanggil. Nikmati sarapan kalian, Tuan Puteri~" dan dia pergi.
Hyukjae terkesiap. "Ke Ke-kerajaan Baram? Ke timur?" gagapnya.
Kyuhyun memperhatikan keadaan sekeliling karavan mereka. Minim pengawasan. "Yang Mulia, saya memiliki rencana... tangan Anda tak terikat, bukan?" Hyukjae mengangguk.
"Tolong lepaskan rantai di tangan saya, dengan begitu kita bisa melarikan diri."
Hyukjae mengangguk, kemudian dia mendekat ke arah Kyuhyun. "Bagaimana caranya menghancurkan besinya?" gumam Hyukjae pada dirinya sendiri. Dia mendapatkan ide ketika melihat kantung unta tempat minum masih tersisa sedikit air. Tiba-tiba suhu udara di sekeliling mereka menjadi dingin. Dengan pengendaliannya Hyukjae menciptakan es tebal dan langsung membekukan rantai di pergelangan tangan Kyuhyun. Lalu rantai besi bulan, besi yang kebal api, remuk.
"Akhirnya..." kata Kyuhyun pelan.
"Setelah ini?" tanya Hyukjae agak kebingungan.
"Berlindung di belakang saya, Yang Mulia," Hyukjae langsung memenuhi permintaan Kyuhyun. Kyuhyun mengarahkan tinjunya ke pintu karavan yang terbuat dari besi. Tinjunya mengeluarkan api biru, dan melelehkan jeruji-jeruji besi itu.
Kyuhyun melompat keluar, diikuti Hyukjae. Mereka beruntung karena tak ada anggota kawanan perampok yang mengawasi mereka saat itu. Kyuhyun menggenggam tangan Hyukjae dan mengajaknya berlari, bersembunyi di rumah penduduk kota terdekat. Mungkin Kyuhyun tak tahu, tapi saat jenderal itu menggenggam tangannya, Hyukjae merasa detak jantungnya meningkat. Mengenyahkan pikiran anehnya, Hyukjae memilih balas menggenggam tangan Kyuhyun.
Setelah memastikan cukup lama dan tak ada yang membuntuti mereka, dengan mengendap-endap mereka menuju pusat kota kecil itu, untuk mencari kuda dan peta.
Kyuhyun bersyukur dia membawa beberapa keping emas, sehingga mereka dapat membeli seekor kuda, mantel yang melindungi dari ganasnya cuaca Gurun Ashura, pedang yang cukup bagus, bekal air dan peta.
Segera setelah mereka siap, mereka menuju ke selatan. Tetapi Hyukjae mendengar keributan. Di gerbang keluar kota itu, beberapa sosok yang memakai pakaian serba hitam menghadang.
Hyukjae, yang duduk di belakang Kyuhyun mencengkeram baju jenderal muda itu. "Jenderal Kim..." bisiknya cemas.
"Tenang, Yang Mulia. Sekarang, pakailah kerudung Anda," ucap Kyuhyun, Hyukjae segera memakai kerudungnya dan memastikan wajahnya tak terlihat.
Mereka berkuda dengan yakin hingga saat mencapai gerbang keluar dihadang oleh anggota kawanan perampok yang menyekap mereka.
"Tunggu!" seru salah seorang dari mereka. Kyuhyun berhenti, lalu menoleh dengan tatapan bertanya.
"Ada yang bisa kami bantu, Tuan-tuan?" tanyanya pelan, namun suaraya menembus cadar yang dia kenakan untuk penyamaran juga perlindungan.
"Mungkin ini mengganggu, Tuan. Tapi mohon jelaskan siapa Anda, asal Anda, dan tujuan bepergian Anda," perintah salah seorang anggota perampok itu.
Kyuhyun selama beberapa saat diam, lalu dia menjawab, "Nama saya Seungjo, sedangkan ini Yoojin, istri saya—" Hyukjae merona saat Kyuhyun menyebut dia istrinya, "—kami hanya sepasang suami istri miskin dari kota kecil di Timur. Kami ingin mengadu nasib ke Hi'en karena kami rasa kami akan memiliki kehidupan yang lebih layak di sana."
Selama sesaat anggota-anggota perampok itu berdiskusi. Kyuhyun berdoa agar mereka meloloskan dia dan Hyukjae.
"Baiklah. Seungjo-ssi, maaf telah mengganggu perjalanan Anda. Anda boleh lewat," putus si perampok.
Sebelum Kyuhyun memacu kudanya, dia sempat bertanya, "Kenapa Tuan-tuan sekalian mencegat setiap orang yang hendak keluar dari Io?"
"Ah, itu karena seorang yeoja cantik bernama Hyukjae, calon istri Nickhun-nim, ketua kami, menghilang," jawab si perampok acuh.
Hyukjae terkesiap. Ca-calon istri, katanya...? pikirnya terkejut, lalu pipinya menghangat.
"Begitu rupanya... baiklah, semoga beruntung Tuan-tuan sekalian. Sampai jumpa," Kyuhyun memacu kudanya keluar dari Kota Io.
Saat kuda mereka berjalan, angin berhembus dan menyingkap kain penutup wajah Hyukjae dan membuat wajahnya terbuka.
Seorang anggota perampok melihatnya.
"Itu Tuan Puteri! Namja itu bohong! Yeoja yang di belakangnya adalah Tuan Puteri Hyukjae!"
Teriakan itu memicu perampok yang lain. Kyuhyun langsung memacu kudanya agar berlari.
"Panggil Nickhun-nim dan anggota yang lain! Jangan biarkan mereka berdua lari! Yura! Hadang mereka dulu!"
Satu pria berpakaian serba hitam menaiki kuda dan mengejar Kyuhyun. Dia menghadang kuda Kyuhyun dan menghunus pedang. Kyuhyun juga menghunus pedang, sedang tangan kirinya mencengkeram kekang kuda.
Saat Kyuhyun berhasil mengalahkan perampok berama Yura itu, Hyukjae berteriak.
"Mereka mendekat, Jenderal Kim!" serunya panik.
Kyuhyun menoleh ke belakang, mendapati puluhan pria berpakaian serba hitam berkuda dan menghunus pedang mendekat.
"Jangan biarkan mereka lolos!" teriak Nickhun, sang pemimpin. Teriakan dibalas teriakan perampok lain.
Kyuhyun segera menghentak tali kekang dan kudanya. Tetapi Nickhun semakin mendekat. Kemudian, seakan membantu Kyuhyun, angin gurun yang cukup besar menerpa mereka. Kyuhyun memanfaatkan angin yang menerbangkan pasir-pasir itu untuk melarikan diri.
Angin gurun itu mulai mereda saat Kyuhyun dan Hyukjae berkuda cukup jauh dan Kota Io tidak kelihatan lagi. Terdengar samar-samar seseorang memaki.
"Syukurlan kita dapat selamat, Yang Mulia," ujar Kyuhyun.
"Ne..."
Lalu keduanya terdiam.
"Calon istri ketua kawanan perampok..." bisik Hyukjae tiba-tiba saat teringat perampok tadi.
Kyuhyun mengeluarkan suara seperti dengusan, "Itu tidak masuk akal, Yang Mulia. Anda adalah calon permaisuri Putera Mahkota Kekaisaran Api."
Tapi jantung Kyuhyun mencelos. Cemburukah dia?
Hyukjae hanya diam, tak menanggapi ucapan Kyuhyun.
.
.
.
Beberapa hari, mungkin sudah seminggu lebih, Kyuhyun dan Hyukjae menuju ke selatan, melewati padang pasir tandus. Selama perjalanan itu mereka berdua hanya berbicara seperlunya dan selebihnya diam. Hyukjae tak pernah merasa selelah ini, mungkin karena keadaannya tak cukup baik untuk bepergian sesudah tenaganya terkuras habis saat merawat Kyuhyun, juga keadaan Gurun Ashura yang memengaruhinya.
Sejauh mata memandang, hanya hamparan pasir keemasan dan langit biru tanpa awan. Hyukjae bahkan bisa melihat cakrawala yang jauh di segala arah gurun pasir itu seakan-akan menyatu dengan langit. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Burung-burung pemakan bangkai selalu terbang diatas mereka, seakan-akan menunggu kapan dua manusia di bawahnya akan mati kekeringan. Oasis pun jarang. Oasis terakhir yang mereka temukan tiga hari lalu. Dan, sekitar hari kelima belas sejak mereka mereka melarikan diri dari kawanan perampok yang menyerang mereka, Hyukjae jatuh sakit.
Kyuhyun sangat panik ketika Hyukjae jatuh dari kuda karena pingsan. Itu membuatnya sangat cemas. Dia akhirnya mendudukkan Hyukjae didepan dan sembari tangan kirinya memeluk tubuh ramping Hyukjae agar tidak jatuh lagi, tangan kanannya memegang kekang dan memacu kuda.
Mereka hampir kehabisan persediaan air, sedang Hyukjae memerlukan perawatan. Kyuhyun hanya bisa memaki saat melihat keadaan Hyukjae semakin hari semakin melemah. Bibirnya kering dan dia sangat pucat, keringat terus berleleran dan terserag demam.
Semakin bertambahnya hari, demam Hyukjae meningkat. Cuaca ekstrim Gurun Ashura juga memperburuk sakitnya. Panas yang menyengat di siang hari, dingin yang membekukan tulang di malam hari. Ditambah sejak pingsannya Hyukjae, namja cantik itu hanya beberapa kali sadar karena dibangunkan Kyuhyun untuk minum.
Kyuhyun mengamati peta. Jika perhitungannya benar, esok petang dia bisa sampai di gerbang utama Ibukota. Dia lalu kembali memacu kudanya.
"Jenderal Kim..." igau Hyukjae dengan pelan. Kyuhyun mematung saat namja cantik dalam dekapannya memanggil namanya. Lalu dia tersenyum. Dadanya menghangat karena Hyukjae memanggilnya alam tidur.
Tanpa sadar, Kyuhyun mengeratkan pelukannya, hingga dia dapat mencium aroma samar sakura dari tubuh Hyukjae.
"Bertahanlah sebentar lagi, Hyukkie... sebentar lagi, kita akan sampai di rumah..." gumamnya pelan.
.
.
.
Lembah Sora, jauh di sebelah barat daya Gurun Ashura, gurun yang mengelilingi Kekaisaran Api
Seorang namja tinggi bermata cokelat gelap tidur telentang dan menatap langit malam.
Bintang-bintang di malam musim panas selalu terlihat jelas dan sangat cantik... pikir sang namja.
Sesuai namanya, Lembah Sora terasa dekat dengan langit, apalagi di langit musim panas yang jernih membuat tempat ini bagaikan surga bumi.
Berbicara mengenai kecantikan, sang namja teringat akan seorang Tuan Puteri yang dia temukan hampir sebulan lalu.
Sebulan lalu, kawanannya melihat pasukan Kekaisaran yang mengawal sebuah kereta mewah menuju Ibukota Hi'en. Mengira jika kereta yang mewah itu berisi harta benda, maka dia memimpin kawanan perampoknya untuk menyerang pasukan Kekaisaran itu. Dengan mudah kawanannya mengalahkan pasukan Kekaisaran, meskipun jumlahnya lima ratus lawan seratus lima puluh orang. Saat dia hendak membuka kereta dan mengklaim hasil rampokannya, betapa terkejutnya dia karena bukan peti-peti permata yang dia temukan, melainkan seorang yeoja.
Kesenangnnya musnah, karena kenyataan tak sesuai harapannya. Tetapi dia mulai tertarik saat mengetahui betapa jenderal muda yang tampan itu begitu menjaga yeoja yang dia sandera.
Puteri dari kerajaan manakah dirimu berasal?
Dia hendak membawa sang puteri yang berambut kemerahan itu untuk dijual ke rumah bordil. Status puteri dan rambutnya yang unik pasti berharga ribuan keping emas.
Tapi saat melihat wajahnya dengan jelas untuk pertama kalinya, dia terjatuh.
Dia terjatuh dalam mata onyx yang indah itu. Kecantikan wajahnya membuatnya terpana, dan dia terperangkap di dalam matanya.
Nickhun Buck Horvejkul, sang pemimpin perampok gurun, menginginkan Hyukjae menjadi istrinya. Tak pernah seumur hidupnya Nickhun begitu menginginkan sesuatu seperti dia menginginkan Hyukjae.
Saat singgah sebentar di Io, karena kelalaiannya sendiri sang puteri dan jenderal itu melarikan diri. Kesempatan untuk kembali menangkapnya ada, tetapi angin gurun sialan yang biasa menjadi partner merampoknya mengkhianatinya, karena setelah angin gurun itu mereda, sang puteri cantik itu menghilang, bersamaan dengan jenderal sialan itu.
Nickhun tak henti-hentinya memaki, membuat anak buahnya cukup gentar. Sekarang yang tersisa hanyalah kain penutup yang digunakan sang puteri, tertinggal di karavan yang menjadi tempat tahanan sementara mereka. Kain itu halus, sutera berwarna biru pucat dan bercorak kupu-kupu putih yang samar-samar beraroma sakura.
Namja bermata cokelat gelap itu terus menciumi kain indah itu sambil memejamkan mata dan mengingat bayangan wajah Hyukjae yang terpahat sempurna di pikirannya.
Segera, Tuan Puteri... aku akan segera menemukanmu kembali...
.
.
.
Perkiraan Kyuhyun benar, karena petang ini dia bisa melihat gerbang utama Kekaisaran dari kejauhan. Dia senang sekaligus cemas, senang karena hampir sampai Hi'en, cemas karena Hyukjae tak juga membuka mata sejak kemarin pagi.
Saat semakin mendekat, beberapa ratus prajurit Kekaisaran, dilihat dari baju perang mereka, menghadang Kyuhyun. Kyuhyun bersyukur melihat prajurit Kekaisaran.
Sang panglima, Panglima Yoon Dujun, mengenali Kyuhyun dan segera menolongnya.
Kyuhyun melepas kain penutup wajahnya, dan Panglima Yoon terkejut.
"Anda—"
"Jangan berbicara apa-apa untuk sekarang, Panglima. Hyukjae butuh perawatan, dia sakit," kata Kyuhyun.
Kyuhyun menjelaskan keadaan Hyukjae yang tidak kunjung sadar. Para prajurit segera menyiapkan kereta kuda yang dapat menuju kota dengan cepat karena Hyukjae membutuhkan perawatan.
Setelah kereta yang membawa Hyukjae berangkat, tanpa mempedulikan tatapan tanya yang dilayangkan oleh Panglima Yoon Kyuhyun segera menyusul kereta Hyukjae.
Pasukan yang dipimpin Panglima Yoon memang untuk mencari Hyukjae. Dia telah melaksanakan apa yang diperintahkan Kaisar tapi belum menemukan gerombolan perampok yang melakukan penyerangan terhadap Hyukjae.
.
.
.
Februari 26,
Rain drops lover
Raito
