Wing's Tales

.

.

.

Disclaimer: They are belongs to God, themselves, their family, their fans, and also SM Entertainment.

Cast: Cho Kyuhyun and Lee Hyukjae.

Pair: KyuHyuk

Genre: Romance, a bit Fantasy I think.

Rate: T

Warning 1: Maaf jika Anda yang membaca tidak menikmati tulisan ini. Maaf juga kalo ide pasaran. Terinspirasi dari Avatar: The Legend of Aang. Oiya, Fem!Heechul.

Warning 2: Tekan back button. Please, please pleaseee. Chapter ini panjang, aneh, ngebosenin. Please, sebelum Anda kecewa.

Don't like? I beg you to don't read!

.

.

.

Chapitre 5

Istana Guren, Ibukota Hi'en

Sinar bulan menelusup masuk melalui kisi-kisi jendela yang terbuka. Angin yang masuk menerbangkan tirai-tirai dan kelambu tempat tidur tempat seorang namja cantik sedang terlelap dibuaikan mimpi.

Seseorang—namja—masuk ke ruangan dimana seorang namja berambut kemerahan terlelap. Ruangan itu gelap, penerangan hanya berasal dari sinar bulan yang menyelinap masuk. Di ruangan itu yang luas itu, hanya berisi sebuah tempat tidur dengan kelambu. Jendelanya terbuka lebar karena namja asing yang baru datang menggunakannya untuk masuk.

Tanpa suara dia melangkah, lalu setelah berada di tempat tidur namja berambut kemerahan tadi dia mengangkat tangan dan menyingkap kelambu transparan. Namja yang baru masuk itu kemudian duduk di samping sang namja yang terlelap.

Namja yang terlelap sangat cantik. Rambut kemerahannya yang panjang halus terurai di bantal sekitar kepalanya, kontras dengan seprai yang putih. Wajahnya yang manis sedikit tertutupi beberapa helai rambut. Kulitnya yang putih seakan berpendar keperakan karena tertimpa sinar bulan. Namja cantik itu terlihat tidak nyaman dalam tidurnya. Kelopak matanya bergetar, seakan bola mata di dalamnya bergerak-gerak. Dia mengerang pelan, dan keringat membasahi kimono tipis yang dia kenakan. Namja asing itu menyibakkan poni panjang namja yang tertidur yang menyembunyikan wajah manisnya.

"Hyukjae..." bisik namja asing yang mengelus rambut namja yang terlelap. Hyukjae, nama sang namja cantik, bergerak gelisah seakan dia bermimpi buruk.

"Ke-kenapa... harus ke Kekaisaran... tidak... mau," igau Hyukjae pelan, nyaris tak terdengar.

Tangan sang namja asing terus mengelus rambut kemerahan Hyukjae yang sepertinya tak terganggu akan pendatang asing itu. Namja asing itu lalu mengelus lembut dahi Hyukjae yang basah dengan keringat menggunakan kain yang dibasahi air. Demam Hyukjae belum juga turun, meski tabib telah merawat dan memberinya obat.

Itu membuat hati sang namja asing sakit, karena Hyukjae-nya tengah kesakitan karena demam dan tidak bisa terlelap dengan nyenyak.

Namja itu terus mengelap dan mengompres Hyukjae, hingga akhirnya demam Hyukjae sedikit reda dan namja cantik itu tidur dengan lelap.

Namja asing itu menunduk, lalu mengecup dahi Hyukjae dengan lembut.

"Cepat sembuh, mempelaiku," bisiknya.

.

.

.

"Demi Para Dewa... lihat wajah itu, benar-benar seperti boneka porselin dari negeri barat," bisik seorang yeoja. Bisikan itu terlalu keras untuk disebut bisikan, dan Hyukjae mulai terbangun karenanya.

Kelopak matanya bergerak, lalu perlahan kornea matanya menyesuaikan cahaya yang terang. Hyukjae menguap dengan tangan menutupi mulut, lalu dia mengucek matanya. Dia masih ingin tidur, tapi suara itu sangat mengganggu.

"Kyaaa~ Neomu kyeoptaaa~" jerit suara yeoja tadi.

"Yang Mulia, suara Anda terlalu keras," tegur seorang namja.

"Tapi dia imut sekali. Coba lihat, Yonghwa-ah, dia imut, kan? Dia terlalu cantik, puteri bangsawan Seo saja kalah. Tapi tetap saja... aku yang paling cantik," ujar sang yeoja.

"Ne, dia sangat cantik, Yang Mulia," kata sang namja, Yonghwa, yang mengiyakan.

"Kau tidak boleh jatuh cinta padanya. Dia calon istri Putera Mahkota," kata sang yeoja memperingatkan.

"Hamba mengerti," jawab Yonghwa ringan.

Lalu Hyukjae benar-benar terbangun. Di samping tempat tidurnya, ada seorang yeoja yang luar biasa cantik yang berambut hitam panjang memakai tunik panjang sutera transparan yang melapisi kemben keemasan, obi merah, dan rok sutera bermotif burung phoenix. Rambutnya ditata dengan rumit dan memakai perhiasan emas dan mutiara. Sedangkan yang namja, berambut cokelat terang, memakai tunik sutera untuk namja berwarna biru kehijauan. Namja itu menyandang pedang di pinggunya. Sang yeoja duduk di kursi bulat, sedang yang namja berdiri di sampingnya. Dilihat dari penampilan mereka, mereka bukan dayang atau pelayan.

Hyukjae hanya mengerjapkan matanya. Dia merasa tubuhnya lebih sehat. Lalu dia bangun dan menyender ke kepala tempat tidur.

"U-um... Selamat pagi?" sapanya tak yakin, bingung mengenai waktu.

Yeoja yang memakai pakaian merah-emas, kembali memekik. "Kyaaa~ suaranya bahkan imuuut~"

Yeoja itu hendak memeluk Hyukjae, tetapi namja tampan di sebelahnya, keburu menghadangnya.

"Yang Mulia Heechul, Pangeran Hyukjae baru sadar... Anda tak boleh langsung menyerangnya. Setidaknya biarkan Tabib Istana memeriksanya dulu," jelas Yonghwa.

Yeoja cantik itu, Heechul, menggembungkan pipi. "Tapi..."

"Tidak ada tapi-tapian," potong Yonghwa tegas.

Hyukjae hanya menatap bingung. Heechul lagi-lagi memekik mengenai betapa imutnya Hyukjae. Yonghwa keluar, lalu tak lama dia kembali masuk bersama seorang pria berumur yang memakai topi tabib. Sang tabib lalu menghampiri Hyukjae.

"Selamat pagi, Yang Mulia. Apakah Anda beristirahat dengan nyenyak?" sapa sang tabib sambil meraih tangan kiri Hyukjae dan meraba nadinya.

Hyukjae mengangguk. "Ne, saya beristirahat dengan nyenyak, gamsahamnida."

Tabib itu melanjutkan pemeriksaannya. Dia lalu melaporkan pada Heechul jika Hyukjae baik-baik saja dan sudah cukup sehat. Heechul mengangguk lalu menyuruh sang tabib pergi.

Setelah tabib istana pergi, Heechul menghampiri Hyukjae.

"Omona... Tabib Son bilang kau sudah sehat, chagi. Tapi, apakah kau baik-baik saja?" tanya Heechul sambil meraih tangan Hyukjae.

Hyukjae tersenyum. "Ne, saya baik-baik saja... Yang Mulia," kata Hyukjae.

Heechul tertawa. "Kau tidak perlu memanggilku 'Yang Mulia,' chagi. Memang aku permaisuri Kaisar Api tapi kau adalah calon istri anakku, jadi kau lebih baik memanggilku 'Eommoni'."

Hyukjae terkejut. Yeoja di depannya adalah Permaisuri Kaisar? Dia kemudian sadar dia sudah berada di Istana Kekaisaran Api.

"Ta-tapi... itu terlalu—"

"Tidak ada tapi-tapian. Nah, karena kau sudah lebih baik, bagaimana kalau kita menuju ke aula utama? Kaisar ingin bertemu denganmu sesegera mungkin," kata Heechul.

"Eh?" kata Hyukjae bingung.

"Tapi kau pasti lapar dan sebagainya... lebih baik kita makan dulu?" kata Heechul lebih pada dirinya sendiri.

"Ah, begini saja! Yonghwa-ah, tolong minta seorang dayang untuk membawakan sarapan kemari dan persiapkan pemandian untuk Hyukjae. Kau pasti ingin menyegarkan diri, kan chagi? Setelah tertidur selama itu," kata Heechul. Hyukjae hanya mengangguk dan Yonghwa keluar untuk melaksanakan perintah Permaisuri setelah membungkuk hormat.

Tak lama, dua orang dayang datang membawakan nampan sarapan. Hyukjae kemudian memakan sarapannya dengan disuapi Heechul yang gemas akan keimutan calon mempelai puteranya.

Setelah Hyukjae menghabiskan sarapannya, Yonghwa memberitahu jika pemandian di Paviliun Tabib Istana, paviliun Hyukjae berada saat ini, sudah siap. Heechul menarik tangan Hyukjae dengan lembut agar berdiri.

Tapi saat Hyukjae benar-benar berdiri di lantai, Heechul langsung menutup mata Yonghwa yang berdiri di sebelahnya.

"Tutup matamu, Yonghwa-ah! Hyukkie hampir telanjang dan kau dilarang untuk melihatnya!" seru Heechul.

Hyukjae merona, lalu dia menyadari jika dia hanya mengenakan kimono berwarna putih agak transparan, yang begitu longgar sehingga sebagian bahu dan dadanya terlihat. Hyukjae buru-buru menarik kimononya.

Heechul dan Hyukjae tak menyadari jika Yonghwa keburu melihat kulit Hyukjae yang mulus dan jujur dia agak tergoda melihat keadaan Hyukjae.

Tak lama Hyukjae selesai mandi. Dia kini berdiri di ruangan luas yang hanya berisi tirai-tirai sutera dan meja rias. Seorang yeoja berambut sangat terang membungkuk dan menyapanya.

Yeoja ini membantu Hyukjae berpakaian dan mengikat rambut. Setelahnya dia menuju ke gazebo di depan tempatnya tidur tadi untuk menemui Heechul dan Yonghwa.

"Maaf membuat Anda menunggu, Eommoni," kata Hyukjae sambil membungkuk.

Heechul melihat keadaan Hyukjae dan memekik. "Omona~! Hyukkie-ku cantik sekali~!"

Hyukjae merona akan pujian Heechul. Dia hanya memakai kimono merah terang bermotif bunga iris biru yang kontras. Warna merah itu begitu mencolok di kulit Hyukjae yang putih bersih. Rambutnya yang panjang hanya ditata dengan sederhana dihiasi dengan tusuk rambut perak. Dia bahkan tidak memakai perhiasan satupun karena tidak mau.

Penampilannya yang sederhana membuat Heechul memujinya dan Yonghwa terpana.

Calon permaisuri Putera Mahkota Kekaisaran Api itu memang secantik kabar anginnya.

Heechul kembali memekik lalu menghampiri Hyukjae dan menggandengnya. Pekikannya membuat Yonghwa tersadar dari keterpaannya terhadap Hyukjae.

Dia calon permaisuri Putera Mahkota, Jung Yonghwa... pikir Yonghwa mengingatkan diri.

Yonghwa segera berdiri dan mengikuti Permaisuri Heechul dan Hyukjae yang menuju Aula Utama. Sepanjang perjalanan, Yonghwa mendengar Heechul menjelaskan letak Istana Guren. Hyukjae sekarang tahu letak Paviliun Tabib Istana di bagian utara Istana Guren. Meskipun hanya digunakan oleh anggota keluarga Kekaisaran tetapi ukurannya sangat luas, seolah dapat menampung beberapa ratus pasien sekaligus. Heechul juga menjelaskan mengenai silsilah Kekaisaran, Menteri, dan bangunan-bangunan di Istana Guren. Dia jadi tahu bahwa Yonghwa adalah putera perdana menteri Kekaisaran. Kata Heechul, putera-puteri bangsawan banyak yang mengabdi di Istana karena itu memiliki kehormatan yang tinggi, terlebih jika dapat menjadi pengawal atau dayang pribadi anggota keluarga Kekaisaran. Hyukjae berusaha mengingatnya, karena mulai sekarang Istana Guren ini adalah rumahnya, meskipun dia dengan terpaksa datang kemari.

"Eommoni..." panggil Hyukjae pelan.

"Ne, Hyukkie?" jawab Heechul sambil tersenyum. Hyukjae membalas senyum calon ibu mertuanya.

"Bagaimana... um... Putera Mahkota Kekaisaran Api itu seperti apa?"

Heechul tertawa pertanyaan Hyukjae, tetapi dia menjawabnya.

"Putera Mahkota lebih muda darimu, Hyukkie," kata Heechul. Hyukjae cukup terkejut.

"Benarkah, Eommoni?"

"Ne. Dia baru saja merayakan ulang tahunnya yang ketujuh belas. Tetapi usia muda tak memengaruhi kemampuannya dalam menjalankan pemerintahan. Sejak usianya lebih muda anak itu sudah terjun langsung di politik untuk membantu Yang Mulia Kaisar. Putera Mahkota sering dipanggil anak jenius karena kecerdasannya," Heechul menjelaskan dengan kebanggaan seorang ibu.

"Apakah dia orang baik?" kata Hyukjae pelan.

"Anak itu bukan pribadi yang suka menunjukkan perasaannya, Hyukkie. Tetapi menurutku dia itu hanya manja, meskipun dikenal temperamen."

"Um... bagaimana dengan penampilannya?" Hyukjae agak malu saat menanyakan hal ini.

Heechul benar-benar tertawa lepas. Yonghwa bahkan membekap mulutnya karena menahan tawanya.

"Anak itu... hah... bagaimana ya? Dia seorang namja yang sering membuat yeoja menangis, Hyukkie chagi. Tapi semua keturunan Kekaisaran sangat rupawan. Kau tidak melihatnya padaku, chagi? Aku sangat cantik, kan?"

"Ne, Anda sangat cantik, Eommoni," kata Hyukjae jujur dan tulus. Heechul langsung memeluknya.

"Kau lihat, Yonghwa-ah? Hyukkie sangat imuuut!" seru Heechul gemas.

"Anda benar, Yang Mulia," kata Yonghwa.

"Kau dilarang jatuh cinta padanya, Yonghwa-ah," kata Heechul lagi.

"Hamba tahu, Yang Mulia," kata Yonghwa ringan.

Mereka berjalan melewati bangunan-bangunan Istana Guren yang benar-benar indah. Bangunannya yang kuno tapi megah, lorong-lorong panjang dengan pilar yang berornamen burung phoenix, dinding yang juga penuh dengan ukiran sejarah Kekaisaran Api, taman bunga yang begitu cantik, gazebo-gazebo di tengah kolam teratai, pintu-pintu ukiran besar yang menuju ke ruangan yang tak kalah indah, dan semua keindahan dan kemegahan itu tak mampu Hyukjae deskripsikan. Terlalu indah. Segala penjuru melambangkan Kekaisaran Api: merah, emas dan api berkobar dimana-mana. Tetapi itu semua tak mengurangi kemegahan Istana Guren, yang Hyukjae sayangkan hanya apakah di istana seluas dan seindah ini ada taman yang penuh dengan pepohonan dan danau.

Sepanjang perjalanan, dayang-dayang membungkuk hormat terhadap Heechul dan Hyukjae, tetapi ketika Hyukjae tidak terlihat, mereka memekik.

"Demi Para Dewa, yang bersama Yang Mulia Permaisuri itu siapa? Cantik sekali, seperti boneka porselin~"

"Mungkin kerabat Yang Mulia Heechul?"

"Bahkan puteri keluarga Seo yang katanya paling cantik se-ibukota kalah cantik..."

"Ah! Mungkin i-itu calon permaisuri Putera Mahkota? Yang katanya dari Klan Air..."

Terdengar gumaman mengerti dari para dayang. Yonghwa, yang mendengarnya, hanya tersenyum mendengar kata-kata dayang kurang kerjaan itu.

.

.

.

Heechul dan Hyukjae akhirnya di Aula Utama Istana Guren, yang sangat megah dan luas. Dia disambut puluhan prajurit yang menjaga aula utama, karena sang Kaisar berada di aula. Tak hanya Sang Kaisar, menteri, penasihat istana, jenderal dan semua petinggi di Istana Guren juga turut menyambut Hyukjae. Mereka penasaran seperti apa calon pendamping hidup Putera Mahkota mereka yang dipilih sendiri oleh sang calon kaisar.

Ditemani Heechul, Hyukjae berjalan dengan perlahan dan menampilkan ekspresi tenang dan datar. Dengan didampingi Heechul Hyukjae merasa lebih tenang. Tak dia pedulikan semua pandangan yang mengarah padanya: tatapan kagum dari namja dan tatapan iri dari yeoja. Meskipun hanya dia seorang Klan Air di istana ini, itu tak akan membuatnya kecil hati dan dia ingin menunjukkan pada para anggota Kekaisaran Api jika dia tak pantas diremehkan.

Sesampainya didepan Kaisar Api yang duduk di singgasananya yang megah dan keemasan, Hyukjae bersimpuh dan menundukkan kepala. Dengan suaranya yang halus dan lembut dia berkata, "Hamba Jung Hyukjae, siap melayani Yang Mulia Kaisar Choi Siwon."

Kaisar Api, Choi Siwon, hanya tersenyum dan beranjak dari singgasananya. Dia menghampiri Hyukjae yang masih menunduk dan menyembahnya.

Dengan lembut ditariknya lengan Hyukjae yang dilapisi jubah sutera biru agar namja cantik itu berdiri.

"Bangunlah, chagi, kau akan menjadi bagian dari keluargaku. Tak seharusnya kau menyembah seperti itu," kata Siwon dengan lembut.

Hyukjae terbelalak, tak menyangka jika Kaisar Api yang konon katanya kejam itu berlaku halus padanya. Hyukjae hanya mengangguk.

"Ne, Yang Mulia," kata Hyukjae.

Siwon hanya tertawa dan mengusap rambut Hyukjae. Hyukjae terkejut karena sentuhan yang tiba-tiba itu.

"Kau manis sekali, chagi," puji Siwon. Hyukjae menunduk dengan pipi merona.

"Iya, kan, yeobo? Hyukkie sangat manis," kata Heechul yang sudah berada di samping Siwon.

"Ga-gamsahamnida, Yang Mulia—"

"Jangan memanggilku Yang Mulia, Hyukkie Chagi. Kau akan menjadi anakku. Panggil aku Abeoji," pinta Siwon, membuat seluruh orang yang berada didalam aula itu terkejut.

Begitupun Hyukjae.

"Te-tetapi… Ya-yang Mulia… itu terlalu—"

"Abeoji," koreksi Siwon.

Hyukjae menelan ludah dengan gugup. "A-abeoji…"

Siwon langsung menarik Hyukjae ke dalam pelukannya, membuat Hyukjae kembali terkejut.

"Akhirnya aku mendapatkan anak yang cantik sepertimu, chagiya. Baiklah, sudah kuputuskan. Pernikahanmu akan dilangsungkan begitu Putera Mahkota pulang dari Kerajaan Bumi. Dan itu berarti tak lama lagi," kata sang Kaisar yang masih muda itu dan melepaskan pelukannya di tubuh Hyukjae.

Seluruh orang dalam aula kembali terkejut.

"Yeobo… kau terlalu terburu-buru. Pikirkanlah perasaan Hyukkie yang baru datang dan letih. Dia baru mengalami kejadian tidak menyenangkan saat kemari dan jatuh sakit. Ditambah kau langsung memutuskan tanpa memberitahu anak kita dulu..." kata Heechul.

Hyukjae tak sadar mengangguk-anggukkan kepala karena gugup.

Siwon hanya tertawa melihat tingkah calon menantunya. "Jangan gugup begitu, Hyukkie-ah. Pantas saja anak kami tergila-gila padamu dan memaksa kami untuk segera mengirimkan utusan untuk melamarmu. Kau sangat cantik dan menggemaskan," kata Siwon.

Tergila-gila? Putera Mahkota? Memangnya kami pernah bertemu? Pikir Hyukjae bingung.

Tak tahan dengan ekspresi Hyukjae yang menurutnya imut, Heechul memeluk Hyukjae.

"Aigooo! Puteriku ini imut sekali~! Sudah, kalian semua kupersilakan untuk meninggalkan kami! Aku ingin menghabiskan waktu bersama puteriku yang sangat manis ini," kata Heechul mengusir dengan halus semua orang dalam aula itu. Setelah dipersilakan permaisuri mereka, serentak semua bangsawan itu membungukkan badan dan meninggalkan aula.

Pu-puteri? Ak-aku namja… batin Hyukjae agak tak terima dengan panggilan Heechul padanya.

"Hyukkie chagi, ayo berkeliling istana yang mulai sekarang menjadi rumahmu ini?" kata Heechul. Hyukjae hanya bisa mengangguk.

"Nah, yeobo. Kurasa kau masih memiliki tugas yang harus kau kerjakan. Jadi pergilah dan jangan ganggu kami," usir Heechul pada suaminya.

"Waeyo? Aku juga ingin mengajak Hyukkie berkeliling…" kata Siwon.

"Tidak bisa. Ini khusus untuk aku dan Hyukkie," kata Heechul. Siwon akhirnya menuruti keinginan istrinya dan pergi menuju ke suatu ruangan untuk mengurusi pekerjaannya sebagai seorang Kaisar, setelah sebelumnya memeluk Hyukjae.

Melihat Kaisar Api yang terkenal kejam dan bengis itu begitu takluk pada istrinya, Hyukjae mulai merasa jika inilah sifat sebenarnya dari Kaisar yang ingin menguasai dunia itu. Lalu mengapa kaisar yang baik hati ini memulai perang yang mengerikan.

"Ayo, chagi! Kuantarkan kau ke paviliunmu," ucap Heechul.

Hyukjae hanya mengangguk. Mereka berjalan menuju sebuah paviliun yang akan menjadi tempat tinggal Hyukjae. Di belakang Heechul dan Hyukjae, Yonghwa dan enam orang prajurit senantiasa mengawal permaisuri dan calon pendamping pangeran mereka.

Sepanjang perjalanan semua orang yang Hyukjae temui menundukkan kepala dan berhenti sejenak saat mereka lewat. Itu membuatnya merasa jika dia disini cukup disambut kedatangannya.

"Chagi, mulai saat ini Paviliun Bulan itulah tempatmu beristirahat," ucap Heechul saat mereka sampai di bangunan megah yang dikelilingi kolam teratai.

Hyukjae terpesona, tak menyangka jika di Kekaisaran Api ini ada tempat yang begitu indah dan sejuk, hampir seperti kediamannya di Sui. Kompleks paviliun itu dibangun di tengah-tengah danau teratai kecil, terletak di wilayah paling timur Istana Guren, dan hanya ada satu jembatan yang menghubungkan paviliun Hyukjae dengan kompleks utama Istana Guren. Paviliun itu terbagi menjadi lima bangunan, dua di sisi kanan dan kiri bagian depan, dua lagi di sisi kanan kiri bagian belakang, satu yang cukup besar di tengah-tengah. Di tengah jembatan itu bercabang menuju sebuah gazebo. Kolam teratai itu dikelilingi berumpun-rumpun bambu dan taman.

Heechul tersenyum melihat Hyukjae yang terpesona melihat paviliunnya. Dengan lembut dia menarik tangan Hyukjae dan mengajaknya memasuki paviliunnya.

Pemandangan di kompleks paviliun baru Hyukjae itu juga membuat Hyukjae tercekat. Paviliunnya, tak terlalu luas tetapi megah, dengan warna biru dan putih mendominasi. Taman-taman bunga mengelilingi paviliun Hyukjae. Di depan bangunan utama, sebuah gazebo mungil dibangun di tengah-tengah pohon-pohon sakura pendek. Air yang dialirkan melalui bambu menimbulkan suara gemericik yang membuat Hyukjae nyaman.

"Eom-eommoni... ini—"

"Kami berharap kau menyukainya, chagiya," kata Heechul lembut.

Hyukjae tak bisa berkata apapun. Paviliun ini sama persis dengan paviliun yang diinginkan Hyukjae.

"Gamsahamnida, Eommoni," kata Hyukjae tersenyum manis.

"Anakku ini memang manis sekali~!" serunya gemas.

Tak memedulikan pengawal mereka, Heechul menarik Hyukjae menuju gazebo di tengah padang bunga iris. Disana sudah tersedia teh dan kue-kue teman minum teh.

Begitu duduk dan Hyukjae menyeduhkan teh untuk calon ibu mertuanya, Heechul memberi tanda agar Yonghwa untuk meninggalkan Hyukjae dan dirinya. Heechul membuka percakapan dengan menanyai keadaan Hyukjae selama perjalanan, dilanjutkan pembicaraan dengan topik ringan lainnya.

"Chagiya… kami—aku dan Siwon—tahu jika sebenarnya kau terpaksa menerima lamaran anak kami," kata Heechul melanjutkan percakapan dengan raut yang cukup serius, meskipun senyum tak meninggalkan wajahnya.

Tubuh Hyukjae membeku. Dengan takut-takut dia menatap Permaisuri Kaisar Api itu.

"Ba-bagaimana—?"

"Bagaimana kami tahu? Kami sudah berpengalaman, chagi. Kami tahu dari Peramal di kekaisaran ini 'melihat' jika putera kami kelak bersanding denganmu. Tak disangka, adikmu yang juga pelihat masa depan itu juga 'melihat' hal yang sama. Bagi kami dan anak kami, hal ini sangat menggembirakan, karena Kekaisaran ini akan mendapatkan calon Puteri Mahkota yang tersohor karena kecantikan dan keistimewaannya," kata Heechul. Heechul tersenyum melihat Hyukjae yang merona karena dipuji demikian rupa. Permaisuri itu mengambil cangkir berisi teh buatan Hyukjae dan menyesapnya.

"Ini enak, chagiya. Kami memang tak salah memilih calon menantu," ujar Heechul melenceng dari pembicaraan awal.

"Kami tahu kami telah membuat banyak orang menderita akibat perang yang kami lakukan. Oleh karena itu kami membuat persyaratan perdamaian perang dengan kau sebagai imbalannya, Chagiya. Karena kami tahu, melamarmu secara baik-baik pasti akan ditolak appamu," kata Hyukjae langsung pada inti permasalahan.

Hyukjae terkejut. "Kami juga lelah terus berperang. Aku sebenarnya tak tahu apa tujuan suami dan anakku dalam perang ini," lanjut Heechul. Rautnya yang cantik diliputi kesedihan.

"Kami juga lelah berperang, Eommoni. Jika Anda saja tak tahu apa yang dicari Yang Mulia dalam peperangan, kenapa tak sedari dulu dihentikan? Banyak orang yag menderita karena perang ini," kata Hyukjae pelan.

"Karena itu kau mengorbankan diri?"

Hyukjae selama beberapa saat terpaku, lalu dia mengangguk. "Ne," jawabnya tegas.

Heechul merasa miris dan kagum atas pengorbanan namja cantik di sampingnya itu. "Meskipun seandainya kau tak akan bahagia disini?" tanya Heechul.

"Itu konsekuensi yang saya terima. Jika dengan satu kebahagiaan seorang dikorbankan dapat membuat kebahagiaan ribuan orang lain tetap terjaga, saya rela tidak bahagia," kata Hyukjae setelah diam beberapa saat. Tangannya tak sadar menyentuh bahunya, dimana tanda-lahir sayap miliknya terletak. "Dan mengenai pasangan tanda-lahir dari Dewa juga... saya sudah menyerah."

Betapa Heechul terharu dan terpesona akan ketulusan dan kemurnian namja ini. Heechul segera menarik Hyukjae dan memeluknya.

"Semua akan baik-baik saja, chagi," kata Heechul yang prihatin melihat Hyukjae.

"Benarkah? Benarkah, Eommoni? Aku takut jika Kaisar dan Putera Mahkota tidak segera menghentikan perang…" kata Hyukjae dengan tubuh bergetar.

Heechul mengeratkan pelukannya pada Hyukjae. Dia sudah jatuh cinta pada kelemah-lembutan, kemurnian, dan kepolosan Hyukjae. Dan Heechul tak mau senyum terhapuskan dari Hyukjae karena perang yang disebabkan kaisarnya.

Hyukjae tak tahan lagi. Dia mulai terisak di pelukan Heechul. "Jangan menangis, chagiya… jangan menangis," bujuk Heechul.

Hyukjae terisak-isak dan memeluk Heechul dengan erat, menumpahkan segala kegelisahan yang selama ini selalu membuatnya takut. Hyukjae takut jika keluarganya, negeri kelahirannya, dan Koryo akan hancur karena perang.

Dalam hati, Heechul akan berusaha memastikan agar suami dan anaknya benar-benar menghentikan perang. Demi mengembalikan senyum puteri barunya.

.

.

.

Hai :)

Jangan pandangin saya... chapter ini memang chapter teraneh. Saya juga bingung mau lanjutinnya gimana. Pokoknya, saya udah kasih warning di atas. Jika kalian yang baca nekat baca dan pada akhirnya nyumpahin saya karena ini chapter aneh atau jelek, itu risiko Anda :D

Q: Pada nebak Puter Mahkota Kekaisaran Api siapa nih? Yang bener boleh request... kalo saya sempet. Eh, gak jadi aja ding. Yang bener boleh minta saya buat update ff saya yang laen. Itu juga kalo pada dibaca.

Oiya, saya baru liat video jadul di YouTube yang judulnya 'Why Kim Jaejoong Never Got Girlfriend.' Kocak banget deh. Disitu bintang tamu laen selaen DBSK (ini video jaman DBSK masih lengkap) bilang kalo si bintang tamu cewek ini gak suka cowok yang selalu benerin rambut dan bintang tamu cewek yang laen gak suka cowok yang make emoticon saat ngirim pesan. Jae disitu cute banget, dia nganggep si bintang tamu cewek pertama ngerujuk ke dia soalnya waktu itu Jae sering benerin rambut karena gak nyaman, sedangkan dia panik pas bintang tamu cewek kedua ngaku gak suka cowok pake emoticon, padahal Jae tergila-gila banget pake emoticon.

Beneran gak sih cewek gak suka cowok yang make emoticon? Emoticon kan lucu, saya sering make.

Balesan review.

ravenilu597: kalo deadline mepet en tugas banyak, dropout dari sekolah aja, dek. Kekeke :3 enggak bercanda... tapi kalo kamu masuk jurusan teknik pas kuliah, maka kamu bakalan nangis darah kayak saya TTATT

Makasih banget udah nyempetin review... pas Kyu mukul pake api emang saya keinspirasi Zuko kok :) Anak Kaisar Api masih jadi rahasia... tebak deh kalo tau. Kamu nanya kenapa saya selalu masukin Nichkun di tiap ff saya? Itu karena dia cakep, dan saya pernah baca ff KhunHyuk yang judulnya Stealing My Love Back dan Nichkun disitu charming bangeeet . gentleman banget dia ke Hyuk! Sempurna deh pokoknya! Saya kan jadi terpesona... dan dia jadi bias saya lama kelamaan. Gak tahan kalo gak masangin dia sama Hyuk.

Nah, seneng gak udah dibales? Saya kalo bales jarang make pm karena... yah, karena aja. Kurang panjangkah? Kalo kamu review lagi (kayak kamunya mau review lagi aja .), saya bakalan bales lebih panjang.

Oiya, kenapa pada kaget sih pas tahu saya bukan ELF? Saya emang bukan ELF, saya Jewel.

Polarise437: aduuh, pujiannya~ bikin saya melayang /geplaked/ ahaha... tapi, makasih ya udah review :*

chochor: ini dah lanjuuut... maaf kalo ngecewain, ne? Makasih udah review :*

Guest: Putera Mahkotanya siapa ya... tebak aja, kay ? . Makasih udah review :*

rheinakyuhae: kamu gak usah review di tiap chapter gak apa-apa... satu aja udah cukup banget .

Makasih pujiannya, ahaha saya jadi malu /tampol/ kalo bikin penasaran, berarti saya berhasil :) Makasih udah nyempetin review :*

azihaehyuk: ahahaha XD makasih~ ini udah lanjut... kalo ngecewain, saya minta maaf. Gak baru review sekarang, ada yang baca aja saya bersyukur banget kok. Makasih udah review :*

NovaVishy: ini dah lanjut :) KyuHyuk momen-nya bukannya udah banyak? Di chapter2 awal kan mereka semua XD kamu penasaran siapa yang jadi suaminya Hyukkie? Saya juga :) soalnya kandidatnya banyak. Punya usulan gak? Makasih ya udah review :*

OceanBlue030415: ini dah lanjut... jangan kecewa, yaaak~ makasih udah review :*

isroie106: berasa nonton drama korea kolosal? Aduh, bisa aja kamuuu . padahal saya jarang nonton drama korea lho. Yang saya tonton sampe abis tu cuman drama jadul kayak Jewel in the Palace sama Goong sama Full House 1. Drama terbaru saya tau cerita sama pemainnya gimana, cuma saya tu gak bakat nonton drama. Anyway, amaksih udah review :*

Maret 1

Rain drops lover,

Raito

Ps: rumah saya panas banget sekarang... dan senin saya udah masuk kuliah... mana kampus saya panas gila... saya bisa gila beneran kalo panas lama-lama.

Pps: Makasih buat yang review dan ngasih tau saya mengenai typos kata Zero dan Kibum... Ya, awalnya saya make Kibum buat jadi Permaisuri, tapi gak cocok image-nya dan saya ganti Hechul. Sdangkan Zero... ff ini say bikin remake-nya buat KanaZero, mungkin karena otak saya kecampur jadi saya salah ketik. Makasih buat yang ngasih tau, mian buat typo-nya. sumpahsayamalubanget.