Wing's Tales

.

.

.

Disclaimer: They are belongs to God,themselves, their family,their fans, and also SM Entertainment.

Cast: Cho Kyuhyun and Lee Hyukjae.

Pair:KyuHyuk (main)

Genre:Romance, Fantasy

Rate: T

Warning: Maaf jika Anda yang membaca tidak menikmati tulisan ini. Maaf juga kalo ide pasaran. Terinspirasi dari Avatar: The Legend of Aang. Oiya, Fem!Heechul.

Now playing: All Alone by Kim Jaejoong. The Time by Lyn. Snow Flower by Gummy. Gone by Jin. The Boy's Letter by JYJ. No by Yang Yoseob. The Time by Infinite's Woohyun. Between Heaven and Hell by BoA, both version (male and female).

Don't like? Just don't read!

.

.

.

Chapitre 6

Malam ini malam gelap, karena bulan tidak bersinar dan enggan menyinari langit kelam.

Hyukjae menutup buku yang dibawakan Hyoyeon—seorang dayang yang menemaninya di Paviliun Bulan—yang dibacanya sebagai hiburan di sini.

Kamar Hyukjae di Paviliun Bulan sangat istimewa, terletak paling belakang bangunan utama, menghadap ke arah barat. Dinding yang paling belakang, yang menghadap ke luar, berupa jendela-jendela lebar yang dapat dibuka sehingga seakan-akan tidak ada dinding. Sehingga Hyukjae dapat melihat pemandangan danau dan langit di malam hari.

Hyukjae sedang duduk di beranda, kaki terjulur ke bawah keluar dari pembatas balkon. Angin berhembus begitu sejuk, menerbangkan rambut Hyukjae yang terurai dan tirai jendela di belakangnya, membawa aroma samar teratai yang mekar. Angin juga mengajak menari tangkai teratai yang mekar, membuat bunga cantik berwarna merah muda itu bergoyang.

Di kejauhan, Hyukjae bisa melihat pepohonan yang mengelilingi danau teratainya dan dinding pembatas Istana Guren.

Hening sekali, pikir Hyukjae.

Biasanya terdengar nyanyian rakyat yang dinyanyikan prajurit penjaga sambil membuat api unggun atas di dinding pembatas. Hyukjae suka mendengarkan mereka, karena mereka terdengar begitu riang.

Mendengarkan keriangan orang lain sedikit mengalihkan rasa rindunya pada rumah.

Hyukjae mengalihkan mata, berganti memandang langit yang gelap, hanya bintang-bintang yang bersinar, bulan sedang menikmati siklus matinya hari ini. Danau begitu hitam, permukaannya mulus bak cermin. Satu-satunya penerangan hanya dari lentera bangunan Paviliun Bulan.

Seandainya malam ini bulan penuh bersinar, maka akan menyempurnakan malam Hyukjae. Musim panas beranjak pergi, menyihir pepohonan hijau menguning menyambut datangnya musim gugur. Dia sudah sebulan di Hi'en... jadi sudah hampir tiga bulan dia meninggalkan tanah kelahirannya. Hyukjae sangat merindukan keluarganya.

Bagaimana keadaan Umma? Apa Appa menjaga semuanya dengan baik? Apakah Jinki masih nakal? Bagaimana dengan Taeminnie? Masih cengengkah dia? Pikir Hyukjae dengan rindu memuncak.

Dia tak sadar jika Hyoyeon sudah berdiri di belakangnya.

"Yang Mulia... malam semakin larut, sebaiknya Anda beristirahat," kata Hyoyeon halus, berusaha tidak mengejutkannya.

Hyukjae menoleh. Dia melemparkan senyum. "Jinjjayo? Baiklah... aku akan tidur."

Hyukjae beranjak. Hyoyeon hendak menutup jendela Hyukjae, tapi Hyukjae melarangnya.

"Jangan tutup jendelanya, aku suka memandangi langit saat hendak tidur," kata Hyukjae.

"Tapi angin malam bisa membuat Anda sakit, Yang Mulia. Ditambah sekarang sudah memasuki musim gugur," kata Hyoyeon.

"Aniyo, gwaenchana. Kau boleh beristirahat, Hyoyeon-ah," kata Hyukjae.

Hyoyeon membungkuk. "Anda masih menginginkan sesuatu, Yang Mulia?" kata Hyoyeon lagi.

"Tidak, terimakasih. Kau boleh pergi, Hyoyeon-ah," kata Hyukjae sambil tersenyum.

Hyoyeon membungkuk dan meninggalkan Hyukjae. Yeoja itu menutup pintu dan mematikan semua lentera di lorong depan kamar Hyukjae. Hyukjae juga meniup semua penerangan di kamarnya dan menuju tempat tidur.

Angin sisa musim panas berhembus lagi.

Suara air di danau yang berkecipak memecah keheningan membuat Hyukjae kembali teringat akan Sui, negerinya. Teringat negerinya yang damai membawanya teringat keluarganya lagi, dan air mata menetes tanpa dia sadari. Dia begitu merindukan orangtua dan dongsaengnya.

Kapan dia diperbolehkan pulang? Apa Putera Mahkota tidak memperbolehkan dia pulang? Apakah dia diperbolehkan setidaknya untuk mengirim surat?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu selalu memenuhi benak Hyukjae tiap saat. Dia ingin menemui Sang Putera Mahkota, sumber dari segala hal pahit yang dia alami. Sedangkan selama dia disini, Permaisuri Kaisar tidak pernah sekalipun memperkenalkan kepada Hyukjae namja yang merupakan Putera Mahkota.

Lelah karena menangis dan terbuai angin, Hyukjae tertidur.

Tak lama, tirai jendela Hyukjae tersibak. Seorang namja melangkah memasuki kamar Hyukjae.

"Kau begitu suka tidur dengan jendela terbuka seperti ini, Hyukkie... bagaimana jika kau jatuh sakit lagi?" kata namja asing itu pelan. Dia kemudian berjalan dan menutup semua jendela kamar Hyukjae.

Namja asing itu mendekat ke tempat tidur Hyukjae dan duduk di pinggirannya. Matanya yang cokelat gelap mematri tiap senti wajah Hyukjae yang manis. Dia menyadari sesuatu. Bekas air mata di pipi calon mempelainya.

Namja asing itu begitu sedih melihat namja yang dicintainya menangis. "Apakah berada disini seburuk itu sehingga kau menangis, Hyukkie?" bisik sang namja asing sambil menyapukan jemari tangannya di pipi Hyukjae.

Merasakan sentuhan asing, Hyukjae sedikit bergerak. Namja itu segera menarik tangannya.

"Umma... appa... Jinki-ah, bogoshippo... Taeminnie..." igau Hyukjae nyaris berbisik.

Namja asing itu lalu menggenggam tangan Hyukjae. Dia juga mengelus lembut kepala Hyukjae.

"Kau merindukan keluargamu, chagi?" kata namja asing itu.

Hyukjae sedikit menggeliat. Namja itu mengecup tangan Hyukjae yang berada di genggamannya.

"Mianhae, Hyukkie... bersabarlah sebentar lagi, aku akan membawamu kembali pulang," bisik namja itu.

Dia mengecup kening, lalu mengecup kedua kelopak mata Hyukjae.

"Jangan menangis lagi, mempelaiku," bisiknya.

.

.

.

Esoknya Hyukjae terbangun dengan perasaan aneh. Dia merasa tadi malam seseorang datang ke kamarnya, dan duduk di pinggir tempat tidurnya.

Hyoyeon-kah? Pikir Hyukjae. Tapi itu tidak mungkin. Untuk apa yeoja dengan rambut terang itu datang malam-malam ke kamarnya? Mengenyahkan rasa penasarannya, Hyukjae memilih untuk segera mandi dan berganti pakaian yang khas Negara Api. Hyukjae kembali sedih, karena perbekalan yang dia bawa dari Sui, terutama kotak yang diberi Jinki dan Taemin, hilang akibat serangan oleh perampok gila yang ingin menjadikan Hyukjae sebagai istrinya—tapi Heechul memberinya banyak hanfu yang sangat cantik.

Seperti biasa, dia sarapan pagi sendirian di ruang makan bangunan utama Paviliun Bulan. Selama tiga minggu pertama Hyukjae di Hi'en, Heechul selalu mengajaknya kemana saja, memperkenalkan Hyukjae pada semua bangsawan di Hi'en, dan berjalan-jalan di Hi'en. Lalu, merasakan jika calon istri anaknya itu tampak tidak tertarik dan mengiyakan semua ajakan Heechul demi menyenangkannya, Heechul akhirnya memperbolehkan Hyukjae untuk melakukan hal yang dimauinya.

Ini membuat Hyukjae bingung. Dia mau melakukan apa di istana yang asing ini? Ditambah dia tak mengenal siapapun kecuali sang Permaisuri, pengawalnya dan Hyoyeon. Akhirnya Hyukjae memilih untuk membaca buku, meminta Hyoyeon untuk mengajarinya lagu atau tarian bangsa Api, menanami paviliunnya dengan bebungaan, mengunjungi Heechul, dan akhirnya, melatih kemampuan panahannya.

Hari ini dia berencana untuk kembali berlatih panahan, karena tak ada lagi Jenderal Kim yang akan melindunginya.

Teringat namja tampan bergelar jenderal itu, detak jantung Hyukjae meningkat.

Mengapa aku malah memikirkan Jenderal Kim? Pikir Hyukjae dengan pipi menghangat.

Entah mengapa, sejak mereka diserang dan ditawan oleh perampok gurun yang gila itu, Hyukjae selalu merasa aneh ketika mengingat jenderal itu. Apalagi saat memikirkan senyum tipisnya, mampu membuat jantungnya berdegup luar biasa cepat dan rasa menggelitik yang aneh timbul di perutnya.

Hyukjae tiba di dojo berlatih yang cukup luas di sebelah timur paviliunnya. Kata Hyoyeon, sudah tak ada lagi anggota keluarga Kekaisaran menggunakan dojo ini karena letaknya paling pojok Istana Hi'en dan sudah dibangun dojo baru.

Meski lama tak dipakai, kondisi dojo itu cukup bagus. Peralatan untuk mempersenjatai diri dirawat rutin, kuda-kudanya juga terurus dengan baik, dojo yang selalu dibersihkan, dan yang membuat Hyukjae bersyukur, segala jenis senjata ada di dojo ini.

Hyukjae berangan-angan... seandainya Jenderal Kim mengajarinya bela diri disini. Sadar yang dipikirkannya sejak pagi adalah jenderal muda itu, Hyukjae mulai bersiap untuk memanah.

Suasana Dojo Timur yang hening membuat konsentrasi Hyukjae meningkat.

Posisinya yang stabil siap untuk menembak, matanya pun sudah mengincar target di boneka jerami. Jari Hyukjae akhirnya melepaskan anak panah dari tali busur. Dengan sempurna anak panah itu menancap tepat di tengah papan target boneka jerami.

Tepuk tangan terdengar saat anak panah Hyukjae menancap dengan sempurna.

"Tidak saya sangka Tuan Puteri seperti Anda begitu mahir dengan busur dan panah, Yang Mulia," sapa seseorang.

Hyukjae menoleh. Di belakangnya, berdiri namja yang lebih tinggi dari Hyukjae. Senyum menawan terpasang indah di wajah tampannya. Tanda-lahirnya, terletak di pertemuan tulang selangka yang sedikit tertutupi kerah zhiju, berbentuk seperti pola geometri.

Dilihat dari zhiju-nya yang bercorak burung phoenix yang merupakan simbol anggota keluarga Kekaisaran, dia pasti bukan orang biasa.

"Terimakasih atas pujiannya. Dan maaf jika saya lancang, saya ingin meluruskan satu hal. Saya namja, Tuan... dan Anda siapa?" kata Hyukjae.

Namja itu tersenyum. "Ah, maaf karena telah salah memanggil Anda Tuan Puteri... Anda Jung Hyukjae-ssi, benar?" kata namja itu.

Hyukjae meletakkan busur dan tabung anak panahnya di dojo.

"Ya. Dan Anda?"

Namja jangkung itu membungkuk.

"Choi Minho imnida," katanya dengan sopan disertai senyum menawan.

Hyukjae juga membungkuk. "Jung Hyukjae imnida."

Namja itu, Minho, meluruskan kembali punggungnya. "Ada urusan apa Minho-ssi dengan saya?" tanya Hyukjae.

Minho tersenyum lagi. "Bisakah Anda memanggil saya Minho saja? Saya dengar Anda hanya lebih tua beberapa tahun dari saya."

"Baiklah, Minho."

Minho tersenyum. Rupanya namja di depannya ini suka sekali memamerkan senyumnya. Atau itu memang kebiasaan alaminya? Senyumnya itu membuatnya terlihat begitu polos.

"Saya adalah sepupu Yang Mulia Putera Mahkota. Saya diberi tahu Permaisuri jika calon Puteri Mahkota kami telah tiba... dan sebagai dongsaeng yang baik, saya hanya ingin menjenguk keadaan calon kakak ipar saya, ne?" godanya.

Hyukjae mau tak mau merona. "A-ah... meskipun saya memang akan menikah dengan Putera Mahkota, tetapi sampai saat ini saya belum pernah bertemu dengan beliau," aku Hyukjae.

Minho tampaknya cukup terkejut. "Jeongmal? Setahuku Putera Mahkota tidak setertutup itu... apalagi terhadap calon istrinya yang dia pilih sendiri."

Hyukjae hanya bisa tersenyum. Dia lalu menawari namja sepupu Putera Mahkota ini mampir ke paviliunnya. Minho, sembari tersenyum mengiyakan ajakannya.

Sifat alami Minho yang ramah membuat Hyukjae mau berbicara panjang lebar. Mereka membicarakan banyak hal hari itu, sebagian mengenai Putera Mahkota, tentu saja. Saat sang Pangeran pulang siang harinya, Hyukjae merasa rasa sepinya cukup terobati, karena akhirnya dia memiliki teman selain Hyoyeon. Sifatnya yang ceria sedikit mengingatkannya akan Jinki. Apalagi Minho juga berjanji untuk datang esok harinya lagi, meski hanya sekedar untuk menemani Hyukjae. Hyukjae merasa dia memiliki dongsaeng di Hi'en.

Malam itu, Hyukjae bisa tertidur cukup nyenyak karena akhirnya dia tidak kebingungan dan memiliki seseorang untuk ditunggu esok harinya.

.

.

.

Minho yang datang hampir tiap hari membuat kesepian Hyukjae sedikit berkurang. Setiap hari, Minho membawa Hyukjae pergi. Entah berkeliling Istana Guren, mengunjungi taman, atau sekedar berjalan-jalan di kota. Pembawaan namja tinggi dengan rambut cokelat ikal itu tenang dan membuatnya nyaman, membuat Hyukjae selalu teringat pada Jinki.

Mungkin jika mereka berdua bertemu kelak, mereka bisa akrab, pikir Hyukjae saat diajak Minho menyelinap dari istana dan pergi sebentar ke kota.

"Lihat, Hyung! Hi'en sedang mempersiapkan Festival Momiji~" kata Minho yang menggandeng tangan Hyukjae sembari menunjuk ke orang-orang di kota yang sibuk mempersiapkan sesuatu.

Entah memasang ribuan lampion, memasang bendera warna-warni, membuat replika raksasa burung phoenix, menghiasi jalan atau sekedar merapikan rumah atau toko mereka.

"Festival Momiji?" tanya Hyukjae. Jika hanya berdua dengan Minho seperti ini, namja sepupu Putera Mahkota itu seakan berubah seperti anak-anak, berlawanan dengan pembawaannya yang terkesan tenang dan dewasa.

Minho memamerkan senyumnya. "Ne! Tiap tahun, sebagai bentuk ucapan terimakasih Klan Pengendali Api kepada Dewa atas hasil panen yang diberi, kami selalu merayakan datangnya musim gugur. Karena bertepatan dengan pohon momiji yang sedang indah-indahnya, maka festival ini dinamai Festival Momiji," jelas Minho.

Minho menarik Hyukjae menghampiri sebuah kedai yang menjual aneka manisan Klan Pengendali Api. Minho mengambil satu tusuk kue warna warni yang dibalut madu. Tangannya terjulur ke Hyukjae, lewat pandangan matanya, dia meminta Hyukjae mencoba kue itu.

Hyukjae membuka mulut dan menggigit bola-bola warna warni itu. Rasa manis langsung lumer dan menyebar di mulutnya.

"Um~ mashiseo~!" seru Hyukjae takjub. Matanya yang bulat makin membulat dengan tangan yang tak digandeng Minho menutupi mulut karena takjub.

Minho tertawa melihat tingkah imut hyung-nya. Melihat senyum di wajah sang keturunan Jung membuatnya merasakan sebuah percikan sesuatu di hatinya.

"Enak, Hyung?" tanya Minho. Dia juga ikut mencicip kue itu.

"Ne! Aku akan meminta Hyoyeon untuk mencari resepnya, aku ingin membuatnya sendiri. Apa nama kue ini, Ahjusshi?" tanya Hyukjae pada sang penjual manisan.

Ahjusshi itu tersenyum. "Namanya kue madu, Agashi," jelas sang ahjusshi.

Hyukjae mengangguk-angguk, tampak tak peduli dengan panggilan sang ahjusshi. Hyukjae melihat ke aneka manisan yang dijual ahjusshi itu, dan mencoba beberapa kue. Minho segera menarik tangan Hyukjae, mengajaknya pergi dari kedai mungil itu setelah membayar.

"Kenapa kau menarikku pergi, Minho-yah?" rajuk Hyukjae seperti anak kecil. Kentara sekali dia tak rela meninggalkan kedai itu tanpa mencoba tiap kue yang ada.

Minho tertawa. "Kita tak akan menghabiskan waktu seharian hanya di kedai itu dan melewatkan kesenangan yang akan kita dapat setelah berkeliling kota, Hyung," candanya.

Hyukjae hanya memajukan bibir merahnya, membuat Minho tertawa.

Minho mengajaknya mengunjungi kedai-kedai lain yang menjual aneka benda. Dia bahkan ikut membantu persiapan festival musim gugur. Para penghuni kota Hi'en nampaknya tak mengenali Minho yang merupakan anggota keluarga Kaisar. Namja yang lebih muda dari Hyukjae itu bahkan ikut tertawa-tawa saat warga kota yang sedang beristirahat dan bercanda.

Minho bisa menjadi Kaisar yang baik nantinya jika dia adalah pewaris takhta... pikir Hyukjae.

Hyukjae memutuskan untuk berjalan-jalan sendirian di kota. Penduduk Klan Pengendali Api tak sekejam yang dia dengar selama ini ternyata. Perang memang hanya membuat segala hal menjadi lebih buruk.

Saat melintasi persimpangan jalan yang terbuat dari bata berwarna merah, Hyukjae melewati seorang peramal jalanan. Dia duduk di tanah, dengan meja rendah yang penuh dengan benda-benda aneh. Pakaiannya yang serba hitam dan wajahnya yang tertutupi tudung hitam tipis memberinya kesan suram.

Hyukjae tak berniat mendatangi peramal itu.

Tapi saat berjalan di depannya, tangan Hyukjae dicengkeram. Hyukjae yang terkejut menyadari jika peramal itu menggenggam tangannya terlalu keras.

"Satu dua kalimat untuk membuka tabir masa depanmu, Tuan?" bisiknya dengan suara yang mampu membuat Hyukjae merinding.

Hyukjae berusaha menepis tangan yang pucat seperti tulang itu. Apalagi jemarinya yang kurus makin membuatnya terlihat seperti belulang.

"Jwesonghamnida... tapi aku sedang terburu-buru," kata Hyukjae mengarang alasan. Lagipula, peramal ini pasti peramal jadi-jadian yang hanya ingin menguras uang dengan memberi ramalan palsu.

"Saya hanya ingin meramal Anda, Tuan... aura Anda yang unik membuat saya tertarik... Anda tak perlu membayar saya, sungguh," bisiknya lagi.

Ketakutan dan tangan yang mencengkeramnya makin erat, Hyukjae akhirnya duduk di depan peramal itu. Namja manis itu menggigit bibir.

"Ba-baiklah... karena kau orang pertama yang benar saat memanggilku 'Tuan,' kau boleh melakukannya," kata Hyukjae.

Lewat tudung tipisnya Hyukjae mendapati wajah seorang yeoja yang memamerkan seringaiannya. Matanya yang dalam terlihat begitu purba bagi Hyukjae.

"Anda bukan berasal dari sini... Anda berasal dari tanah yang jauh, Tuan," tebak peramal itu.

"Nah, kau benar Nona. Saya berasal dari Sui," jawab Hyukjae.

"Klan Air, eh? Apa yang Anda lakukan di kota musuh klan Anda?" kekeh peramal itu.

Hyukjae terkesiap. "Ce-ceritanya panjang..."

Sambil terkekeh, peramal itu membalikan tangan kanan Hyukjae yang masih dia genggam. Saat telapak tangan Hyukjae menengadah, peramal itu terkesiap.

"An-Anda—"

"Ne?" kata Hyukjae cemas.

"Anda adalah Puteri Mahkota Kekaisaran Api, Pangeran dari Klan Air yang terkenal itu. Bagaimana Anda bisa bepergian seperti ini tanpa membawa pengawal satupun?" kata peramal itu cukup panik.

Sang calon Puteri Mahkota terkejut. Dia hanya memakai hanfu sederhana, bagaimana peramal ini mengetahuinya? Apa peramal ini memang peramal asli?

"Saya bukan Puteri Mahkota, setidaknya belum. Dan saya memang meyelinap pergi, makanya tidak membawa pengawal," kata Hyukjae.

Peramal itu kembali melihat telapak tangan Hyukjae. Tangannya yang tidak menggenggam pergelangan tangan Hyukjae menelusuri garis-garis di telapak tangannya.

"Anda mengalami hal yang cukup berat, Yang Mulia... Anda ingin mendengarnya atau Anda akan memilih pergi?"

Hyukjae kembali menggigit bibir. "Dongsaengku juga bisa melihat masa depan, dia memberitahuku salah satu ramalannya. Kurasa mendengar milikmu tak akan mengubah apapun."

Matanya yang purba kembali menatap tepat ke mata Hyukjae. "Adik Anda memang memiliki bakat, Yang Mulia. Sayang sekali bakatnya belum terasah. Dan ramalan saya memang berbeda dengan ramalan adik Anda."

"Tolong ceritakan padaku," pinta Hyukjae.

Mata sang peramal kembali pada telapak tangan Hyukjae. "Saya aka menceritakan tiga hal paling besar."

"Yang pertama, Anda akan menghadapi jalan yang berat, membuat Anda harus meninggalkan segala yang Anda cintai demi kebaikan bagi orang lain."

"Itu benar. Aku menyetujui menjadi mempelai Pangeran Kekaisaran ini demi menghentikan perang, karena aku-lah yang diminta menjadi imbalannya jika mereka menghentikan perang," kata Hyukjae dengan suara bergetar.

Peramal di depannya terdiam. "Tapi hal yang Anda alami saat ini belum ada tandingannya dengan apa yang akan Anda hadapi kelak, Yang Mulia," bisiknya hingga Hyukjae tak mendengarnya.

"Lalu? Yang kedua?" kata Hyukjae.

"Yang kedua adalah kelak Anda akan membuat satu keputusan besar, yang tidak hanya menentukan masa depan Kekaisaran ini, tetapi juga bagi Klan Anda. Keputusan ini akan mengubah hidup Anda selamanya," kata sang peramal.

"Benarkah?" bisik Hyukjae.

"Ne. Dan yang terakhir," peramal itu tersenyum. Bukan seringaian seperti tadi, tetapi murni senyuman tulus.

"Anda akan menemukan pasangan tanda-lahir Anda. Dengannya-lah, Anda akan menemukan kebahagiaan sejati," kata peramal itu.

Hyukjae tertegun. "Tapi aku akan menikah dengan Putera Mahkota! Aku dan pemilik tanda-lahir pasanganku tak akan pernah bisa bersatu!" ujarnya setelah dia menemukan suaranya.

"Anda ingat perkataan dongsaeng Anda? Anda akan menemukan kebahagiaan Anda disini. Bukan hanya kepahitan yang akan Anda dapatkan, tetapi kebahagiaan juga," jelasnya lembut.

Hyukjae teringat perkataan Taemin di hari dia meninggalkan Sui. Tanpa dia sadari air mata meluncur membasahi pipi.

"Kata-katanya-lah yang membuatku bertahan menjalani semua ini, Nona Peramal... Aku tak tahu lagi jika seandainya hari itu dia tak mengatakan padaku hal tersebut," kata Hyukjae di sela isak tangis.

Peramal di depan Hyukjae hanya diam sambil menyapukan tangannya yang seperti tengkorak di pipi halus Hyukjae.

"Anda lebih kuat dari yang Anda kira, Yang Mulia. Dewa tak akan memberikan cobaan pada kita jika kita tak mampu menghadapinya," kata sang peramal.

Hyukjae hanya mengangguk sambil berusaha menghentikan tangisnya.

"Hyukjae Hyung!" panggil seseorang. Baik Hyukjae maupun yeoja peramal itu menoleh ke asal suara, mendapati Minho setengah berlari menghampiri Hyukjae.

Tanpa berkata apapun Minho langsung menarik Hyukjae hingga berdiri dan memeluknya.

"Hyung, mengapa kau menangis?" panik Minho.

"Aku baik-baik saja, Minho-yah..." kata Hyukjae.

Minho tidak bertanya lagi. Dia hanya memandang seseorang dengan pakaian serba hitam yang menengadah memandangnya.

Peramal jalanan... pikir Minho. Apa dia yang menyebabkan Hyukjae Hyung menangis?

"Anda harus sadar jika apa yang Anda rasakan saat ini salah, Pangeran Minho. Orang yang mengisi hati Anda sudah ditakdirkan untuk orang lain," kata sang peramal tiba-tiba.

Minho cukup terkejut. "Bagaimana kau tahu siapa aku? Dan aku tidak paham maksudmu," sergahnya.

Sang peramal hanya menyeringai. "Anda paham maksud saya, Yang Mulia. Dia sudah ditakdirkan untuk saudara Anda. Jika Anda terus memaksakan kehendak Anda padanya, itu hanya akan menyakiti diri Anda sendiri nantinya," jelasnya lagi.

Sambil mengusap punggung Hyukjae, Minho hanya menatap tajam peramal itu.

"Aku tidak paham maksudmu dan aku tidak menyukai apa yang kau katakan karena itu menggangguku. Ditambah, aku menemukan Hyukjae Hyung menangis disini, yang bisa dipastikan itu karena ulahmu," desis Minho.

"Di-dia tidak salah, Minho-yah... aku saja yang—"

Sang peramal memotong perkataan Hyukjae. "Tidak apa-apa, Yang Mulia. Memang benar jika Anda menangis karena saya."

Minho menggeram. Dia lalu mengajak Hyukjae pergi dari tempat sang peramal tanpa membalas perkataannya.

Hyukjae hanya bisa memandang ke wajah tertutup sang peramal. Sang peramal juga balas memandang Hyukjae.

"Maafkan aku karena akulah yang menyebabkanmu berada disini, Yang Mulia..." bisiknya pada angin.

Sang peramal hanya bisa menggigit bibir, teringat ramalan darinya untuk anggota keluarga Kekaisaran dulu.

Ramalan yang menyatakan jika Jung Hyukjae adalah pasangan yang paling sempurna untuk sang Putera Mahkota.

.

.

.

Minho berusaha membuat Hyukjae tertawa lagi setelah kejadian dengan peramal tadi. Dia mengajak Hyukjae kembali mengunjungi kedai-kedai. Dia juga menceritakan kisah-kisah lucu yang dia dapatkan dari membantu penduduk kota.

Akhirnya, Hyukjae bisa tertawa dan dalam hati dia bertekad untuk melupakan ramalan yeoja tadi.

Melihat Hyukjae tertawa, Minho tersenyum lega. Dengan semangat dia mengajak Hyukjae bergabung dengan beberapa remaja di kota untuk menari tarian tradisional Pengendali Api.

Hyukjae tertawa sisa hari itu. Untuk pertama kalinya selama hampir empat bulan terakhir, dia bisa tertawa lepas tanpa beban.

"Apa kau bahagia hari ini, Hyung?" tanya Minho saat mereka pulang.

Hyukjae menganggukkan kepala dengan semangat. Minho terkekeh.

"Kalau begitu, Hyung mau pergi ke festival bersamaku besok malam?" tanya namja tampan itu.

"Ne, aku mau," jawab Hyukjae memamerkan senyum manisnya.

Minho tersenyum mendengar jawaban Hyukjae. Bahkan sampai mereka tiba di Paviliun Hyukjae pun, Minho tak hentinya tersenyum.

.

.

.

"Hyoyeon-ah, Hyoyeon-ah!" panggil Hyukjae saat dayang pribadinya di Paviliun Bulan itu sedang mengganti bunga di ruang tamu.

Yeoja berambut terang itu menghentikan gerakan tangannya. Dia meletakkan sebatang kamelia dan menatap Hyukjae.

"Ada yang bisa saya bantu, Yang Mulia?" tanyanya sopan.

Hyukjae duduk di seberang yeoja itu. Hyoyeon menyadari jika sejak kemarin petang calon Puteri Mahkota negaranya itu tak henti tersenyum. Itu membuat Hyoyeon turut bahagia, karena semenjak Pangeran Klan Air itu menginjakkan kaki di Guren, dia hanya menunjukkan senyum sopan dan tak pernah benar-benar tertawa.

Ini membuat Hyoyeon yang telanjur menyayangi Hyukjae seperti keluarganya sendiri cukup sedih, dan berusaha menyemangati sang keturunan Jung. Hingga akhirnya Pangeran Minho datang dan membuat sedikit awan kelabu di hati Hyukjae terangkat karena akhirnya Minho dapat membuat Hyukjae tersenyum sepanjang hari.

"Apakah kau besok malam akan datang ke Festival Momiji?" tanya Hyukjae sambil meraih setangkai kamelia putih di meja.

"Ne, saya akan datang bersama keluarga saya, Yang Mulia," kata Hyoyeon.

Hyukjae mengerucutkan bibir. Dia tidak suka mendengar Hyoyeon memanggilnya Yang Mulia, padahal sejak awal Hyukjae meminta yeoja di depannya ini untuk memanggilnya 'Oppa.' Dan Hyoyeon selalu menolaknya.

"Kau boleh memanggilku Oppa, Hyoyeon-ah... aku tidak suka panggilan itu," gumam Hyukjae.

"Kita sudah sering mendiskusikan soal panggilan ini, Yang Mulia. Dan Anda tahu jawaban saya," jawab Hyoyeon tenang.

Hyukjae hanya memajukan bibir. Hyoyeon tersenyum. Jika Yang Mulia-nya sedang seperti ini, dia seperti anak kecil yang menggemaskan.

Lalu sang calon Puteri Mahkota Kekaisaran Api teringat apa yang ingin dia utarakan pada Hyoyeon. "Hyoyeon-ah, bagaimana jika kau pergi ke Festival bersamaku?" pinta Hyukjae.

Hyoyeon menatap wajah manis Hyukjae. "Hamba tidak bisa pergi bersama Anda, Yang Mulia."

"Ta-tapi... aku ingin bersama-sama denganmu... kurasa Minho tak akan menolak jika kita pergi bertiga," kata Hyukjae.

Hyoyeon kembali meletakkan kamelia yang dia pegang.

"Anda akan pergi bersama Pangeran Minho?"

Hyukjae menganggukkan kepala. "Ne. Waeyo?" tanyanya halus.

Sesaat Hyoyeon bingung, antara ingin mengatakan sesuatu dan tidak. Dia hanya menggigit bibir sambil terus meremas zhaoshan bermotif bunga plum-nya.

"Hyoyeon-ah? Ada yang salah?" tanya Hyukjae. Tak biasanya dayangnya yang tenang ini gelisah. Apa ada yang salah? Pikir Hyukjae.

"Hamba kurang tahu jika ini buruk atau baik... tetapi, dalam kebudayaan kami, jika seorang namja mengajak namja atau yeoja yang belum menikah, itu artinya namja itu meminta orang yang diajaknya untuk menjadi kekasihnya atau setidaknya menghabiskan malam Festival Momiji bersama-sama... dalam artian saling memadu kasih," jelas Hyoyeon.

Hyukjae terkejut mendengar penjelasan Hyoyeon. Sekuntum kamelia terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai. Itu artinya... Minho—

"Aku akan menolak ajakan Minho," kata Hyukjae.

"Yang Mu—"

"Aku merasa bersalah karena telah menerima ajakan Minho dan kini menolaknya... tapi aku tak bisa..."

Hyukjae hendak keluar ketika prajurit yang menjaga paviliun Hyukjae mengumumkan jika Yang Mulia Permaisuri Kaisar datang.

Heechul masuk diikuti pengawal pribadinya, Yonghwa. Wajahnya yang cantik memamerkan senyum riang, terlebih ketika melihat Hyukjae yang berdiri dengan Hyoyeon di belakangnya, Heechul langsung melompat dan memeluk Hyukjae.

"Hyukkie~ bogoshippo~" ujarnya gemas.

Hyukjae hanya balas memeluk calon ibu mertuanya itu dengan canggung karena terkejut.

"Ada apa gerangan Eommoni mengunjungi saya?" tanya Hyukjae.

Heechul melepaskan pelukannya dan menatap calon menantunya. "Nanti malam adalah Festival Momiji, Hyukkie-ah. Sebagai puteriku, kau tentu saja akan datang ke festival itu bersama kami," jelas Heechul ceria.

"Eh? Saya?" bingung Hyukjae.

"Ne~! Aku, Siwonnie dan anak kami akan sangat senang jika kau pergi bersama kami. Terlebih anak nakal itu... hah~ makin dewasa dia makin nakal. Jika saja tidak kularang mati-matian tadi, dia pasti akan langsung datang kemari," kata Heechul.

Anak Eommoni? "Itu artinya... Putera Mahkota—"

"Ne~ Putera Mahkota sudah pulang, Hyukkie," kata Heechul.

Hyukjae sesaat merasa limbung mendengar kabar itu.

.

.

.

Hyukjae sangat gugup. Dia tak mengira jika dia akan bertemu Putera Mahkota nanti, saat mengunjungi festival.

Heechul memaksanya datang ke paviliun Permaisuri agar Sang Istri Kaisar itu bisa mendandani Hyukjae. Alasannya, dia ingin memakai baju yang senada dengan Hyukjae dan agar anaknya nanti jatuh cinta pada Hyukjae meski Heechul tahu anaknya sudah tergila-gila pada sang keturunan Jung.

Setelah Heechul secara paksa meluluri semua permukaan kulit Hyukjae dengan lumpur yang katanya bagus untuk kulit, Hyukjae ingin mandi. Dia kadang-kadang tak mengerti pola pikir yeoja, mereka menggunakan berbagai macam benda demi kecantikan.

"Yang Mulia, pemandian sudah siap," kata seorang dayang pada Hyukjae.

"Ne… gamsahamnida, Dayang Park," kata Hyukjae.

Dayang itu menunduk hormat. Hyukjae segera menyambar mantel untuk menutupi tubuhnya yang masih tersisa sedikit lumpur. Membiarkan rambut panjangnya tergerai, Hyukjae dibimbing Dayang Park menuju sebuah ofuro alam yang berada di bagian paling belakang paviliun Permaisuri.

"Maaf… bisakah kalian meninggalkan saya sendiri?" kata Hyukjae sambil menunduk karena malu.

"Kalian dengarkata-kata Yang Mulia," kata Dayang Park. Semua dayang langsung meninggalkan pemandian alam itu. "Kami mohon undur diri, Yang Mulia," kata Dayang Park dan mengikuti kawan-kawannya.

"Gomawo," bisik Hyukjae.

Yakin semua dayang sudah meninggalkan dirinya, Hyukjae melepas semua pelindung tubuhnya dan berjalan menuju ofuro. Hyukjae masuk ke air hangat dengan kedalaman sedadanya, mendapati jika ofuro itu telah diberi kelopak-kelopak mawar dan di beberapa sudut diberi heharuman kayu cendana.

Hyukjae merasa rileks setelah tubuhnya tersentuh air hangat. Sedikit bermain-main, dia menggunakan pengendaliannya, membuat gelembung-gelembung air di udara. Seperti anak kecil, Hyukjae berenang dan memecahkan gelembung-gelembung itu. Tawa sesekali keluar dari bibirnya yang semerah cherry. Hyukjae sangat menikmati kegiatan mandinya, hingga tak menyadari sepasang iris berwarna karamel menatapnya dari tadi.

Seseorang—namja—tanpa suara telah masuk ke dalam ofuro. Senyum tak lepas dari wajahnya yang tampan. Melihat pemandangan di depannya, namja asing itu tak sabar untuk memiliki namja yang begitu berharga seperti permata itu. Dia bahkan bisa melihat tanda-lahir berbentuk sayap, dengan aksen lembut, di punggung kiri Hyukjae. Tanda yang sama dengannya, tetapi tanda miliknya berkesan tegas dan terletak di punggung kanan.

Namja asing itu melangkah mendekat ke Hyukjae.

Hyukjae masih tak menyadari keberadaannya. Tangannya terangkat untuk membersihkan rambut panjangnya sembari bersenandung kecil, membuat tanda-lahir istimewa miliknya semakin terlihat jelas. Matanya terpejam, menikmati berkas-berkas sinar mentari yang melewati celah-celah dahan-dahan gundul pohon yang mengelilingi ofuro alam itu.

Namja asing itu terpesona pada apa yang dia lihat. Bertahun-tahun tak bertemu ternyata membuat cinta pertamanya itu bertambah cantik.

Lihat kulitnya yang putih, lalu rambut panjang dan wajah itu. Kata cantik tak cukup mengungkapkan keindahan Hyukje.

"Hyukkie," panggil namja asing itu.

Terkejut, Hyukjae berbalik dan reflek menciptakan tombak-tombak es dari air yang dia bekukan. Tombak-tombak es itu melayang kearah yang Hyukjae yakini adalah arah suara tadi berasal.

Tapi tombak es Hyukjae hanya menembus angin, dan tertancap di dinding bebatuan.

Itu tadi... apa? Pikir Hyukjae.

.

.

.

Festival Momiji memang seindah namanya.

Hyukjae, yang datang ke festival bersama Sang Kaisar dan Permaisuri dengan diiringi puluhan prajurit. Bertiga mereka menaiki kereta kuda yang terbuka, sehingga Sang Kaisar dan Permaisuri bisa menyapa rakyatnya, dan Hyukjae bisa melihat kota Hi'en yang begitu ramai.

Sebenarnya Hyukjae ingin menggunakan kereta yang berbeda, tetapi Heechul memaksanya dan jadilah Hyukjae duduk dengan Sang Pemimpin Klan Pengendali Api.

Hyukjae berharap agar kota Hi'en yang malam itu begitu indah dapat mengalihkan kegugupannya, karena dia akan bertemu dengan calon suaminya. Hyukjae bertanya-tanya kenapa Putera Mahkota tidak mengendarai kereta yang sama, namun dia tak cukup berani untuk menanyakannya pada Heechul.

Kota menjadi begitu indah daripada kemarin yang kulihat... pikir Hyukjae.

Ribuan lampion merah terpasang sepanjang jalan, menyinari jalan dan bangunan dengan sinar oranye kemerahan. Para penyihir jalanan yang juga pengendali api menunjukkan kehebatannya dengan membuat kupu-kupu atau burung walet dari api yang bisa beterbangan, yang sesaat memudar di langit. Pohon-pohon momiji yang menjadi simbol festival dihiasi puluhan lampu kaca, membuatnya seperti dihinggapi puluhan kunang-kunang. Nyanyian yang tawa riang menjadi latar belakang, dengan sayup-sayup terdengar alunan musik yang mengingatkan Hyukjae akan musim gugur. Aroma manis dari sirup pohon momiji menguar dari penjaja jajanan khas Hi'en di musim gugur. Penduduk kota yang sebagian besar mengenakan hanfu merah menari-nari, sesekali saling menggoda dan menunduk hormat ketika rombongan Kekaisaran melewati mereka. Segalanya menjadi berpendar kemerahan malam itu.

Sepanjang jalan dari Istana Guren menuju alun-alun kota yang merupakan tempat teramai saat festival Hyukjae tak hentinya terpesona. Festival di Hi'en ini benar-benar indah... semua terlihat melupakan masalah sejenak dan bersenang-senang.

"Bagaimana menurutmu, Hyukkie?" tanya Siwon menyadarkan Hyukjae dari keterpanaannya akan keindahan malam itu.

Hyukjae tersenyum riang. "Kota Anda sangat indah, Abeoji," pujinya tulus.

Siwon tertawa. Dielusnya kepala Hyukjae dengan sayang. "Sekarang Hi'en juga menjadi rumahmu, chagi."

Hyukjae hanya tersenyum. Perlakuan Sang Kaisar mengingatkannya pada sang ayah.

Tak lama rombongan Kekaisaran tiba di alun-alun utama kota. Alun-alun kota juga ditata sedemikian rupa. Rangkaian ratusan lampion di langit berasal dari segala arah, dan berkumpul manjadi satu di tengah-tengah tepat di atas panggung. Siwon dan Heechul turun, kemudian menuju panggung di tengah-tengah alun-alun. Hyukjae menolak ikut dengan mereka.

Semua penduduk kota segera memadati alun-alun untuk mendengarkan pidato Sang Kaisar yang berisi ucapan terimakasih kepada rakyatnya dan ucapan terimakasih pada Sang Dewa atas berkah yang diterima negara ini.

Hyukjae tersenyum melihat Sang Kaisar terlihat berwibawa. Beliau begitu dicintai oleh rakyatnya. Setelah pidato Sang Kaisar selesai, Hyukjae memilih berkeliling sejenak, meski alun-alun sangat padat oleh penduduk Hi'en.

Entah mengapa, perasaan Hyukjae malam itu sangat aneh. Tanda-lahir di punggungnya juga berkedut lembut. Dia merasa harus mengikuti instingnya. Dia merasa dia harus pergi ke suatu tempat. Mengikuti insting, Hyukjae bergegas menuju ke pinggiran alun-alun yang lebih sepi. Di sana, di antara puluhan bangunan yang mengelilingi alun-alun, terdapat taman kecil dengan pohon momiji muda yang menjulang. Hyukjae terpesona. Batang utamanya tak begitu besar, kira-kira masih sebesar kaki Hyukjae. Yang membuat taman itu indah adalah juntaian lampu-lampu kaca kecil dari pohon momiji itu. Ratusan kupu-kupu api hasil penyihir jalanan banyak beterbangan di antara dahan-dahan pohon, memercikkan bunga api.

Hyukjae tersenyum. Dia tak menyangka jika api bisa menjadi seindah itu. Selayaknya anak kecil, Hyukjae berjalan memutari tiap-tiap pohon, sesekali menyentuh kupu-kupu api yang tidak melukai tangannya.

"Cantiknya..." desah Hyukjae.

"Hamba senang Anda menyukainya," kata seseorang.

Hyukjae menoleh, dan napasnya tertahan saat melihat sosok itu.

Jenderal Kim Kyuhyun, dengan senyum menawan di bibirnya, berjalan mendekati Hyukjae. Dia terlihat begitu tampan dengan menggunakan zhiju berwarna merah polos dengan zhaoshan bermotif phoenix emas. Rambutnya yang ikal dan sedikit menyentuh bahu diikat separuh, dihiasi tali emas berbandul ornamen phoenix dari giok. Dia tak menggunakan pakaian besi ataupun menyandang pedang, melainkan hanya membawa kipas. Kulitnya yang pucat berpendar akibat lampu-lampu kaca. Penampilannya yang seperti ini membuat napas Hyukjae tertahan dan otomatis detak jantungnya menggila.

Hyukjae tak mempercayai matanya. Tetapi Sang Jenderal yang berjalan semakin mendekat ke arahnya membuat Hyukjae tersadar jika dia memandang Kyuhyun terlalu lama.

"Apa kabar, Yang Mulia?" sapa Kyuhyun dengan suaranya yang dalam.

Senyuman masih betah menghiasi bibir Kyuhyun.

Hyukjae tergagap. Rasa panas yang dia rasakan di wajah membuatnya tahu jika wajahnya pasti merona hebat.

"A-ah... kabarku baik-baik saja, Jenderal Kim," kata Hyukjae akhirnya.

Kyuhyun semakin mendekat dan akhirnya berdiri di depan Hyukjae. Senyum masih enggan meninggalkan wajah tampan itu, membuat jantung Hyukjae bekerja lebih.

"Maafkan hamba jika sejak Anda tiba di Istana hamba tidak pernah mengunjungi Anda, yang Mulia. Protokol setelah kembali dari tugas menyita waktu hamba," kata Kyuhyun lagi.

"Gwaenchanha, Jenderal. Dan, terimakasih telah menjaga saya saat saya... jatuh sakit..." ujar Hyukjae pelan.

Dia hanya bisa menunduk, karena tatapan yang Kyuhyun berikan padanya membuat dadanya seakan membuncah.

Tolong hentikan memandangiku seperti itu... pikir Hyukjae. Entah kenapa, dia begitu gugup berdekatan dengan Kyuhyun.

Kyuhyun tidak membalas ucapan Hyukjae. Namja tampan itu tersihir oleh kecantikan calon Puteri Mahkota di depannya.

Sejak dia kecil, Kyuhyun selalu didongengi oleh orangtuanya mengenai Dewi Suzaku, seorang dewi penjelmaan burung phoenix. Dewi Suzaku terkenal akan kecantikannya. Dan melihat Hyukjae sekarang, Kyuhyun seperti melihat Sang Dewi keluar dari legenda.

Kulitnya yang seputih salju yang berpendar. Bibirnya yang merah terlihat sehalus kelopak mawar. Pipinya yang merona sewarna dengan senja. Dengan wajah yang menunduk, membuat poninya trejatuh hampir menutupi mata dan bulu matanya yang panjang menjadi berbayang di pipi. Hidungnya yang mancung membuat Kyuhyun ingin mencubitnya. Tubuh feminimnya dibalut ruqun sutera berwarna merah lembut dengan bixi merah bermotif kupu-kupu emas. Pinggangnya yang ramping makin terlihat ramping dengan untaian pendant berwarna emas berbandul kupu-kupu. Malam itu memang tidak dingin, tetapi Hyukjae menggunakan zhaoshan sepanjang kaki berwarna merah marun.

Tetapi yang membuat Hyukjae terlihat seperti dewi adalah rambutnya. Rambutnya dibiarkan tergerai, dengan kepangan kecil di kedua sisi yang bertemu di belakang kepala. Warnanya yang kemerahan entah kenapa malam itu terlihat sangat merah, bagaikan api yang meleleh melewati pundaknya yang mungil dan meluncur sepinggang. Angin malam yang sesekali menerbangkan helaiannya membuatnya benar-benar terlihat seperti lidah api.

"Cantik," gumam Kyuhyun tidak sadar.

"Eh?" kata Hyukjae sambil mendongakkan kepala.

"Anda sangat cantik," puji Kyuhyun.

Kyuhyun dalam hati bersorak gembira karena kata-katanya menyebabkan rona di pipi Hyukjae memekat. "Um... terimakasih?" kata Hyukjae malu.

Kyuhyun tak tahan lagi. Namja secantik dewi ini telah mencuri hatinya sejak Kyuhyun menaruh pandangan pertama padanya. Melihatnya sedekat ini hanya membuat jantungnya berdebar hingga dadanya berdenyut sakit.

Jemarinya menyentuh telinga Hyukjae. Hyukjae terkesiap karena kontak fisik yang tiba-tiba.

"Helaian rambut Anda terlepas dari ikatannya," gumam Kyuhyun.

Tanpa sengaja jemari Kyuhyun menyentuh pipi halus Hyukjae. Sengatan listrik menyerang kedua insan itu saat sentuhan itu terjadi.

Tapi Kyuhyun tidak mau melepaskan jemarinya dari pipi Hyukjae. Sedangkan Hyukjae juga tidak berusaha menepis tangan Kyuhyun. Sang Jenderal memberanikan diri, dia menggerakkan ibu jarinya dengan halus di pipi sang keturunan Jung. Hyukjae yang menutup matanya karena sentuhan itu begitu menenangkan membuat Kyuhyun hampir lepas kendali.

Sayangnya keintiman keduanya terusik.

"Chagi?" panggil Heechul.

Spontan Kyuhyun melepaskan tangannya dari pipi Hyukjae dan Hyukjae membuka matanya. Keduanya terlihat terkejut mendapati Sang Permaisuri telah berdiri beberapa meter dari mereka.

Heechul mendekati keduanya. Hyukjae mulai panik. Apa komentar Sang Permaisuri nanti saat melihatnya disentuh oleh Jenderal Kim?

Senyum di wajah cantik Heechul membingungkan Hyukjae. Heechul dengan segera melingkarkan tangannya di lengan Kyuhyun. Perkataan sang Permaisuri selanjutnya membuat Hyukjae terpana.

"Hyukkie chagi, perkenalkan. Dia ini adalah Choi Kyuhyun, Putera Mahkota Kekaisaran Api yang juga akan menjadi suamimu."

.

.

.

Jangan bunuh saya karena saya telat apdet. Saya masih pengin hidup TTATT

Balesan review.

Polarise437: ahu~ makasih pujiannya /merona, digampar/ dan tebakan Anda benar~! Si Kyu adalah Putera Mahkotanya~ anyway, makasih udah review :)

Youmustbeknowme: kalo nyesel, kamu harus baca mpe abis en ninggalin review! /geplaked/ ahahaha :D udah ketahuan, kan, Putera Mahkotanya? Anyway, makasih udah review :)

Guesty: lanjutnya mian lama. Saya abis ujian soalnya. Ayway, udah tahu kan siapa Putera Mahkotanya? Makasih udah review :)

Eunfa Lee: gampang ditebak, kok. Udah saya kasih hint dari awal kalo Putera Mahkotanya Kyu :D jangan bacok saya karena saya apdet-nya lama. Makasih udah review :)

Kyuhyuk07: sori kalo apdet-nya lamaaaaaaaaaaa~ TT^TT

Iekha12693: kalo nyesel, kamu harus baca mpe abis en kudu ninggalin review kekeke /dilempar golok/ buat identitas Putera Mahkotanya udah ketahuan... makasih udah review :)

rheinakyuhae: saya puas-puasin momen KyuHyuk di bagian akhir chapter ini. Sori kalo ngecewain en ceritanya pasaran. Putera Mahkotanya udah ketahuan lalalala~ :D dan soriiiii banget kalo apdet-nya lama. Kamu boleh siksa Kyu /sodorin Kyu, dikejar-kejar Hyukkie/ makasih udah review :)

Kim Lonely: ini review kamu dah masuk... jangan nangis /freepukpuk/ identitas Putera Mahkotanya dah ketahuan, kan? makasih udah review :)

Kim Hyun Soo: salam kenal jugaaaa~ makasih buat pujian kamu :) dan, yap! Putera Mahkotanya emang si Kyu~ sori apdet-nya lama en makasih udah review :)

NovaVishy: nasib mereka kayak gitu tuh. Dan, Hyukkie deket sama Heechul, kan dia calon emaknya XD lagian itu bukan salah Heechul, salah Hyukkie kenapa dia imut abiiiis. Aniway, makasih udah review :)

Hyona: duuh tebakan kamu tepat banget dah! Makasih ya udah review :)

chochorhyukie: ini udah liat, kan? gua enggak pelit! Gua males apdet aja! Kekeke X3 makasih udah review :)

Augesteca: pokoknya udah ketahuan siapa Putera Mahkotanya titik. Makasih udah review :)

novaanchofishy: sori baru apdet sekarang TTATT Kyu udah saya munculin tuh. Makasih udah review :)

Saya pokoknya minta maaf readernimdeul. Selain karena saya lagi ujian (Ujian praktek en teori yang baru kelar tanggal 18 Juli lalu), saya bingung soalnya ini FFn kagak bisa dibuka. Setelah searching, saya baru tahu kalo FFn ini udah kena badan sensor Indonesia. Saya baru tau cara bukanya make Hola... ada yang bisa nyaranin cara laen supaya lebih cepet en praktis?

Pas tau gak bisa dibuka itu, saya mikir buat pindah ke AO3, AFF, Wordpress bahkan Wattpad. Soalnya mau buka FFn ribet banget sekarang. Tapi sayang banget kalo pindah, soalnya disini tu ngeposting ceritanya gampang.

Ps: kalo ada yang nunggu Now and Forever, itu lagi proses dibikin. Tapi saya lagi debat sama diri sendiri... itu mau saya bikin tetep KyuHyuk ato KhunHyuk, soalnya ada loncatan besar di jalan ceritanya.

Catatan:

Hanfu: cara berpakaian orang Cina zaman dulu, bukan Cheong sam, tapi yang kayak kimono berlapis-lapis itu. Saya adaptasi ke Kekaisaran Api soalnya dalam benak saya tu

1. Kekaisaran Apiàadaptasi budaya Cina

2. Klan AiràJepang sama sedikit campuran suku Air yang di Avatar

3. Kerajaan BumiàKorea dengan sedikit campuran Mongolia

4. Suku Nomaden Angin en Kerajaan BaramàMongolia dengan campuran Cina

Sori kalo bikin pusing.

Zhaoshan: mantel yang depannya kebuka, jadi tanpa kancing ato ikatan.

Shenyi: baju dasar dari sistem pemakaian hanfu. Kayak kimono punyanya Jepang. Bentuknya tuh yang baju panjang mpe kaki dengan lengan panjang. Kalo nonton film kolosal Cina pasti tau.

Zhiju: shenyi buat laki-laki. Bentuknya ada yang lengannya gede kayak kimono, ada yang biasa aja.

Bixi: baju luar berupa rok yang dipake dari pinggang, panjangnya bisa mpe paha aja ato bisa mpe mata kaki. Umumnya dipake perempuan.

Ruqun: shenyi yang biasa dipake perempuan, bisa terusan mpe kaki maupun cuman sepinggang.

Sori lagi kalo catatan ini bikin tambah pusing.

Anyway, thanks udah baca mpe sini.

July 23,

Rain drops lover,

Raito^^