A/N : makasih buat Sniper Elang en Hanazawa Yuki alias Furusawa kyoudai ,kok ganti penname sih :" :" haha maap itu kepencet kemarin/?/ terimakasih sudah mengingatkan :"
balesan ripiu : Sniper Elang(haha maaf mz khilaf aku kemarin :" arigatou), Hanazawa Yuki(arigatou udah ngingetin itu udah dijelasin*nunjuk atas*makasih mau mampir di fic nista ini)(makasih sebelumnya, ampun mak jangan dinaekin biaya kos saya u.u*sungkemin*/no)(emang dicepetin mbak*ditebas*), LenkaHime02(kalo chap ini kuat gak? Hati2 klo nemu fik saya yang humor nanti kamu bisa gila/?/ makasih udah nyempetin baca :"), Rika Miyake. (Yabisa dong sistah emang ganteng rajanya-uhuk. Waduh bersinnya bisa gitu rekam dong trus upload ke youtube biar panda liat /o/ /gak/ oh, itu karena jangkrik akhir2 ini kurang job jadi panda kasih job kemarin(?) Oke nanti bisa di nego kalo mau menyewa jasa Cinderella sebagai pembasmi hama :"/no )
Miss Take or Mistake : Cinderella
Tambahan :
Sakine Meiko : Sharon
WARN : Humor gagal, eyd gak sesuai kaidah, parodi kurang memuaskan, verba non baku, alur sesuka hati author, dll
Giovanni sedang sibuk menyalami tamu yang berkunjung ke open house keluarga kerajaan. Kaya acara halal bi halal aja. Salahkan kenapa ayahnya batuk kronis berkelojotan dan ibunya menemani.
Kali ini ia menyalami dua orang gadis berbeda warna. Gadis yang satunya berambut biru panjang-mengingatkan Giovanni akan air di sumur belakang kerajaan-, sedangkan yang satunya berambut magenta.
"Selamat malam, pangeran." Sapa mereka. Sang pangeran hanya tersenyum dan membalas dengan sapaan serupa. "Selamat malam juga, gadis-gadis..." Giovanni kemudian beralih kepada tamu lain.
Maria dan Ellies saling melempar pandang. Kemudian mereka melihat ayah mereka sedang berbincang dengan seseorang.
"Tuan Caester, kau memang suka bercanda." Seorang wanita bergaun merah tampak tertawa dengan Tuan Caester. Caester sendiri hanya tersenyum mengejek,
"Nona Sharon yang memancingku." Caester tergelak. Digoyangkannya gelas minum yang sedang dibawanya.
"Ayah!"
Caester menoleh seusai minum, ketika mendengar kedua anaknya memanggilnya.
"Ada apa, Maria? Ellies?" Tanya Caester.
"Kami boleh makan opornya, kan? Ellies lapar.." Kata Ellies sembari menunjuk perutnya. Sebenarnya ini negeri letaknya dimana, kok nyampur semua. Ah, sudahlah.
"Boleh, tapi jangan banyak-banyak." Caester mengingatkan.
.
.
Cinderella menghembuskan nafasnya. Ia harus bisa mencegah ayah tirinya untuk berbuat balas dendam. Balas dendam itu gak varokah soalnya. Dan jika ia terlambat mencegah...
...Siapa yang mau kasih makan dia kalo bokap tiri dan kedua saudari tak sekandungnya ditangkep?
Tikus-tikus yang kini berubah jadi kuda pun berbicara satu sama lain menggunakan bahasa mereka. Lihat deh, surai mereka warna-warni kaya di kartun mai litel poci. Oke, abaikan. Di jaman ini belum ada teve.
"Eh.." Si kuda bersurai ungu memanggil.
"Apa Rion? Kau punya keju?" Tanya kuda di sebelahnya yang memiliki warna putih.
"Enggak, Piko. Rion pasti pengen pulang. Ibu peri sih main tarik kita aja pas bawa keju. Kalau sampai Cinderella tahu kita yang suka ngambil keju dari lemari, matilah kita." Ucap kuda bersurai biru, Aoki. Kuda-kuda (baca : tikus) ini memang anu sekali.
"Bukan itu maksudku...itu Cinderella roll-nya belum dilepas. Bukannya kaya pahlawan bertopeng, tapi nanti dikira orang gila." Sahut Rana, di sebelahnya.
"Permisi.."
Cinderella terjengit melihat seorang anggota pasukan kerajaan menghampirinya. Garis wajahnya begitu tegas dan terkesan bengis. Seperti tampilan pemeran antagonis -ya begitu kira-kira wajah ayah tirinya ketika marah. Persis codet.
"I-iya, tuan?"
"Sebaiknya kereta anda diletakkan disana.." Orang itu menunjuk sebuah arah. Cinderella mengangguk dan mengisyaratkan dengan tangannya kepada para kuda jejadian itu agar pergi ke arah yang dimaksud.
Kuda-kuda jejadian itu langsung manut, dan pergi ke direksi yang telah ditentukan.
Cinderella yang mau mengibas rambut, gagal melancarkan aksinya ketika sadar ada sesuatu bergelung di atas rambutnya. Tangannya meraba untuk mengecek.
"ASTAGANAGAH ROLL GUE."
Pasukan kerajaan itu ngempet tawa. Cinderella ngacir nyari toilet di pom bensin terde- enggak. Ini settingnya jaman baheula.
Beberapa rakyat jelata yang kebetulan mendengar teriakan Cinderella jadi salah dengar.
"Egg roll?"
Giovanni bosen. Tangannya udah kapalan nyalami satu per satu tamu -yang sebenarnya rakyat negerinya sendiri- dari tadi. Ia ngarep supaya bonyok (bokap-nyokap) dia keluar dan bantuin nyalamin.
Tapi sepertinya sudah gak ada tamu tambahan lagi. Gio menghela nafas lega. Ia mau nyari kresen dulu karena lapar.
Loh? Kenapa ga ikut makan bareng disini aja? Simpel. Makanan untuk tamu itu jangan dimakan sendiri -wangsit emak tercin(/nis)ta. Nanti rejeki kita hilang. Wah kayanya Giovanni udah megang tiket shinkansen (?) menuju neraka. Oke, ini ngaco. Dan lagi makanan di dapur sudah habis, jadi...dia mau nyari asupan pengganjal perut dengan mencari buah kresen.
Caester melirik cari kesempatan. Ia melihat pangeran Giovanni berjalan terseok- maksudnya mengendap kaya maling pakaian dalam keluar istana -persetan mau apa, yang jelas Caester bisa lebih leluasa melancarkan aksinya tanpa dipergoki pewaris tahta itu. Maria dan Ellies dikode semaphore sama bapak tercinta untuk segera beraksi. (Padahal gak ada benderanya. )Kakak-beradik itu segera mengambil mercon yang mereka sembunyikan di bawah meja dekat mereka.
A..aku ngerti kodemu..
B..bergegas melakukan..
C..cepat laksanakan..
Lewati tantangan di aksi bocah tiri -gak. Ini salah. Bocah tirinya Caester kan Cinderella.
Ehem. Lupakan narasi di atas.
Cinderella gak nemuin toilet. Dia juga gak dapet pecahan beling buat ngaca, apalagi dimakan (?).
Ia menemukan sebuah tempat jauh dari keramaian -di bawah pohon kresen ia bernaung. Melepas roll yang menyangkut. Karena gak bawa sisir, rambutnya jadi kusut banget. Terpaksa Cinderella sisir manual pakai jari. Buku panduan dia letakkan di dekat kakinya.
Giovanni yang mulai lapar -dengan mupeng plus ilernya- tengah bersemangat menuju pohon kresen besar yang agak jauh dari istana. Saliva menetes sedikit pertanda ia tak kuat menahan nafsu makan yang membuncah.
Malam ini, karena semua rakyat ke istana, jadi tempat ini sepi. Biasanya ada bocah-bocah yang balapan naik ke puncak pohon itu.
Giovanni sudah mempersiapkan perbekalan -satu karung goni untuk mewadahi kresennya nanti. Hm..Giovanni bahkan sudah bisa membayangkan rasa kresen yang kemerah-kemerahan ..manis..
"AARRGGHH!"
Imajinasi pangeran uhukgantenginiuhuk runtuh tatkala melihat seorang berbaju putih panjang serta berambut pirang nongol di bawah pohon kresen.
Cinderella noleh, mau tau siapa yang panggil dia -bukan geer, hanya ada dirinya, bukan? Tenang, yang manggil bukan Tuhan YME, kok.
Hah?
Itu cowok siapa?
Kok bawa karung?
Pemulung ya?
Poin terakhir itu salah, Cinderella. Dia sebenarnya pangeran tamvan berkuda putih -tapi kudanya lagi cuti hamil, jadi gak ikut.
Kekejaman sang ayah tiri yang tak pernah mengijinkannya melihat dunia luar membuatnya bahkan tidak mengenal tetangga sendiri. Ketika ibunya masih hidup, ibunya juga melarangnya keluar. Kenapa? Padahal Maria dan Ellies saja boleh main lompat tali atau lempar kreweng[1] dengan anak tetangga. Ia begitu iri kepada dua saudara tirinya.
Bedanya cuma satu; sekarang dia jadi PRT tanpa imbalan apa-apa selain makan minum tiap hari.
Cinderella di rumah dirodi oleh ayah tiri serta kedua saudara tak sekandungnya. Ia disuruh ini-itu, cuci baju, cuci piring, nyapu, ngepel, seterika, jemur nasi kerak di halaman belakang yang telah dipagari tinggi -kecuali belanja ke pasar wage. Entah mengapa ayah tirinya tak memperbolehkannya melihat dunia luar. Untuk masalah belanja, Maria dan Ellies bergantian melakukannya.
Kekejaman sang ayah tiri tak berhenti sampai disitu. Pernah suatu kali Cinderella berusaha kabur dari rumah karena kokoro gak kuat. Dia juga ingin hidup bebas. Ia tak merasa masalah diperlakukan seperti babu di rumah -asalkan dia boleh melihat dunia luar. Tapi, sekali lagi ayah tirinya berhasil menahannya dengan menjegal kaki Cinderella ketika gadis itu hendak melewati pintu -ini gak elit, tapi itulah yang terjadi.
Sejak ibunya meninggal, Cinderella sudah biasa jadimaso.
Dan sekarang, dia keluar rumah demi menyelamatkan kerajaan -dia gak sok, niatnya memang tulus. Ahem.
"KUNTILANAK!" Pemulung -menurut opini sepihak- itu berteriak.
Cinderella mingkem gak bersuara. Pemulung itu mencari sesuatu di semak-semak sebentar. Ia kemudian kembali membawa segenggam bunga melati -katanya kuntilanak doyan melati. Loh?
Giovanni nyaris kencing di celana melihat rambut pirang panjang itu menjuntai ke depan menutupi pandangan. Giovanni dengan cepat melempar bunga melati,
"Ambillah, kuntilanak!"
Cinderella yang manusia awam dan jarang -nyaris gak pernah- baca buku pengetahuan dunia gaib, bukannya gak ngerti apa maksud pemulung itu. Sang ibu sempat mengajarinya nama-nama makhluk astral serta cara memanggilnya. Dalam konteks ini..mungkin ibu peri bisa disebut begitu. Bedanya, ibu peri yang tadi itu makhluk supernatural mata duitan. Mungkin tadi Cinderella salah memilih agen peri/?
Cinderella diam saja, lagian dia gak kenal sama pemuda yang mau mulung itu. Eh, tapi bajunya bagus...bisa dijual gak ya?
Giovanni makin pucet. Makhluk di depannya sama sekali gak bereaksi. Gio makin yakin apa yang dilihatnya itu beneran makhluk halus. Ia menyentuh keningnya sendiri.
Apakah ini bukan mimpi?
Kuntilanak itu mendekat, Giovanni mundur.
Tapi, kemudian Giovanni tersadar, kata babah cenayang kerajaan, kuntilanak itu rambutnya hitam, bukan pirang. Lalu...siapa dia? Setan bule? Spesies baru kah?
Pangeran shota yang unyuk-unyuk, itu manusia, bukan hewan. Meski manusia masih tergolong hewan juga sih...
Cinderella -yang rambutnya udah disisir manual sebagian- mengibaskan rambutnya bak model iklan shampo.
Jaman segini udah ada iklan shampo?
Ada.
Shampo ular.
Efek slow motion mendera kala itu. Giovanni bisa melihat kilau-kilau juga diantara helai pirang itu.
Ia terpaku menatap kejernihan safir di hadapannya. Mencoba mengingat bahwa tadi ia sempat takut pada sosok itu.
Para pengiring musik pun berganti lagu. Suara mereka terdengar hingga kemari -meski sedikit karena distan ini.
"Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga~ah begitulah kata para pujangga~"
Akhirnya Cinderella (Rosalinda) dan (Fernando) Giovanni dipertemukan oleh Tuhan di bawah pohon kresen.
"PANGERAN!"
Bersambung dengan cepatnya/?/
Maaf kalo garing
Note :
Hm kebanyakan parodynya/nodnod/
Panda Dayo, de wa.
