Hunt in
.
.
don't like don't read!
Genre : Romance, Humor, dan tentukan sendiri
WARNING : OOC(akut). . baca mengganggu sistem akibatkan mata buram. .EL
Tik Tok Tik Tok Tik Tok . . . . . . .
Suara dentingan jam dinding mendominasi keadaan. Sunyi sepi tak ada yang berani menyeruakan suara nya. Hasrat ingin bertanya mereka telan kembali bulat-bulat, mengingat sekarang adalah pelajaran matematika yang di pimpin oleh Mei Terumi-sensei.
Banyak pandangan yang mengekor sesekali kearah pojok kelas dari murid-murid, kenapa? Karena mereka tak tahu siapa murid itu, dan sejak kapan ia berada di pojok kelas?
Naruto datang pagi-pagi hanya untuk menghindari sesi perkenalan dan juga untuk mengambil buku paket pelajaran yang belum sempat ia ambil. Dan kini, ia memasuki kelas 2D tanpa permisi atau salam apa-pun. Jujur saja, bukanya ia sombong atau bagaimana, dari apa yang ia tahu dari sebuah anime atau manga, sesuatu hal yang merepotkan pasti akan ia rasakan dengan adanya pertanyaan aneh, pekikan keras dari murid perempuan yang berbinar karena kegantengan nya ( author: Pede banget Lu Nar *Naruto: kan gue emang ganteng )
nah, karena alasan itu juga ia tak ingin itu terjadi. Makanya ia berusaha untuk melewatkan sesi perkenalan, tak peduli para siswa yang menatapnya heran.
"Sekarang buka halaman 35 dan tolong isi pertanyaan yang ada. Tak ada yang boleh bertanya, karena sensei sudah mengajarkan semua nya tentang bab II. Dan sensei akan memilih beberapa dari kalian untuk maju kedepan. "
'Are ? Maju ke depan? Tak boleh bertanya? Nande ore wa! Aku tak mengerti sama sekali ttebaayo!'
Naruto membatin frustasi setelah mendengar apa yang sensei katakan. Tapi setelah ia melihat beberapa soal, ia cukup yakin dengan kinerja otak nya terbilang luar binasa !
"Dan kau pirang, kau pasti murid dari sekolah elite itu, dan untuk menguji bahwa kau memang dari Horikoshi Gakuen, kau harus maju kedepan setelah semua soal selesai kau isi. Mengerti?" Terumi-sensei mengeluarkan suaranya seraya menatap Naruto dengan dingin. Seolah pandangan itu adalah pandangan malaikat maut yang siap mencabut nyawa kapanpun, setidaknya itu lah anggapan Naruto.
"Ha-hai !" jujur saja, kegugupan terbesit ketika melihat pandangan menusuk itu. Bukan nya takut, Naruto malah Bersemu merah dengan fantasy gila nya yang ia pikirkan sekarang
'Mwehehe sensei no sexy ice ! '
tersadar dari fantasy gila nya, Naruto pun membuka buku paket nya.
'Nde, mana yang ku selesaikan terle-'
batin Naruto terhenti ketika melihat Soal No 5 yang begitu membingungkan pikiran nya.
05 : Hitunglah sebuah volume lingkaran dengan objek yang ada di sekitar mu.
Kedua alis Naruto bertaut pertanda ia benar-benar tak mengerti. Tak ingin tambah bingung, ia pun mengedarkan atensi nya kearah seluruh kelas. . . .
"Hoo ! Kore wa...(Ini) wakatta! Ini tak begitu sulit!" dengan semangat 45 ia pun langsung menggorerkan pensil nya pada buku catatan dengan kepalanya sesekali menengok ke atas dan kemeja nya. . . . . .
"keliling lingkaran 78cup , berdiameter 22/7 x 14 dan . . . . Wahahaha ini mudah!"
semua murid yang mendengar teriakan kegirangan dari pojok kelas pun menatap penuh kagum pada Naruto yang terlihat begitu paham akan soal-soal yang mempuyengkan (bahasa nih?) kepala mereka.
"Tak heran jika ia dengan mudah memahami nya, ia kan murid pindahan dari sekolah berstandar tinggi."
"Blonde-kun memang Kakoii~"
"Tcih, sombong sekali dia."
"Kyaa~ aku tak percaya murid pindahan itu ada di sini!"
berbagai komentar berbisik pun terdengar, Namun Naruto tak begitu menghiraukan nya. Ia lebih memilih fokus pada soal-soal di depan nya ini.
Matsuri Kazegawa, ia menatap berbinar dengan bahagia nya. Duduk di baris ke 3, ia bersyukur bisa melihat Naruto yang notebane nya duduk paling pojok dekat jendela. Walaupun terhalang oleh Shikamaru Nara yang pemalas itu, ia tetap bersyukur. Kyaaa~ apa lagi blue sea yang tenang itu menunjukan pancaran kelembutan pada setiap atensi yg di alihkan, uuhh~ kami-sama... Pangeran ku kakoii~ !
(Note! Matsuri di sini sama dengan matsuri yang ada di Naruto, Hunt hanya mengubah Nama marga nya aja )
mari kita tinggalkan Matsuri yang masih terhanyut oleh fantasy nya.
"Hmm ? " Shikamaru Nara, bergumam dengan alisnya bertaut pertanda ia bingung. Shikamaru menyampingkan urusan soal yang merepotkan di depan nya ini, mendengar gumaman Naruto sedari tadi akhirnya membuatnya sedikit tertarik, atau mungkin ia penasaran?
'Ck, sial, tangan nya menghalangi.' berdecak kesal Dalam hati, Shikamaru tak dapat melihat apa yang sedang Naruto kerjakan. Lagi pula kenapa harus tanganya menghalangi buku sih? Dan juga kenapa ada smart phone di atas meja Naruto? Untuk apa dia membawa itu? Dan tunggu dulu!
'Hoo! I-iiiittu ! Huwaaaa ! Itu limited edition yang sangat langka! Ba-ba-bagaimana ia bisa memilik itu dan membawa nya ke sekolah? Dan juga ia melihatnya saat pelajaran berlangsung! Tapi mungkin itu menimbulkan ketegangan tersendiri ! Hooo~ pria kuning ini ternyata pro !'
expresi Shikamaru saat ini seperti orang yang menonton bola di tv ketika pemain nya ingin mencetak gol! Tangan nya mengepal di depan dada, bibirnya terbuka seperti ingin berteriak menyemangati!
Hanya 1 penyebabnya Shikamaru bisa sangat out charakter seperti ini yaitu . . . . .
"Hoi~ , bagaimana bisa kau melihat majalah poxxxx itu saat pelajaran?"
akhirnya Shikamaru berbisik pelan kearah Naruto yang tetap fokus dengan Soal nya.
"Untuk penelitian." jawab Naruto singkat, padat dan cair , eh salah maksudnya jelas.
"Penelitian? Nani kore?" Shikamaru kembali bergumam tambah tak mengerti, apa katanya penelitian? Jangan bercanda! Ia anak baru, sudah berani melakukan penelitian terhadap kelas 2D yang notebane nya memiliki aset di atas Rata-rata ! Hoi, hoi . . . . ! Setidaknya beri tahu aku hasilnya!
Ck ck, Shikamaru kini bertambah salah paham dengan asumsinya yang terlalu liar.
Menit demi menit pun berlalu tanpa di rasa, 25 menit lagi istirahat. Ahh~ waktu sangatlah cepat jika kita melakukan sesuatu yang mampu menyenangkan hati kita. Tapi itu pendapat untuk seseorang yang beranggapan Study is fun ! Dan tidak untuk orang yang beranggapan Study is Killer ! Seperti author ...
"Ok, untuk yang sensei panggil, tolong maju kedepan. Mika Hanase, Shikamaru Nara, Naruto Uzumaki, Suigetsu Hayamoto, dan Neji Hyuuga."
Hyuuga ?
Hyuuga ?
Hyuuga ?
Hyuu. . . .
"Se-seperti nya aku tak asing dengan Nama itu. . . . ."
keringat dingin mulai merembes menuruni pelipis dan wajah Naruto ketika Tahu Orang yang di panggil itu kini berdiri dan maju ke depan!
"Eh. . . . Huuwwaaaa ! I-itu Hyu-hyuuga-san berdada rata ! Dan juga kenapa kau memakai baju laki-laki ! " Naruto berteriak sambil berdiri, jari telunjuknya tepat mengarah ke arah Neji yang merasa di rinya di panggil.
"Bwahahahaha..."
Gelak tawa pun terdengar setelah pengakuan konyol dari Naruto yang dengan Innocent nya berteriak seperti itu.
"Apa maksud mu dengan memanggil ku berdada rata? DAN AKU INI LAKI-LAKI ! JANGAN ASAL BICARA KAU, BAKA !"
"SALAH KAN DIRIMU YANG BERWAJAH MANIS DAN BERAMBUT PANJANG SEPERTI IKLAN SAMPHO ! aku nyaris saja menyukai Hyuuga versi laki-laki. Hiiiii mengerikan!." Naruto membalas teriakan Neji dan bingo ! Ungkapan itu tepat membuat Neji bungkam! Kalau saja Neji mendengar teriakan terakhir dari Naruto, mungkin Saja Neji akan melemparkan Naruto dari lantai 2 . . . . .
"Sudah hentikan ! Cepat kerjakan, dan pilih soal masing-masing lalu tuliskan jawabanya di papan tulis, sebentar lagi waktu istirahat akan tiba."
perdebetan singkat itu mampu mengalihkan perhatian seluruh pasang mata yang ada di dalam kelas termasuk Terumi-sensei.
Akhirnya mereka semua kembali diam, dan untuk mereka yang di panggil maju kedepan dan berbaris berbagi ruang untuk nya mengisi soal yg mareka pilih untuk di tulis.
Suara gesekan spidol terdengar jelas dari arah ujung dan ternyata yang terlebih dahulu menyelesaikan soal adalah Mika Hanase, tak heran jika gadis bersurai hitam kelam dan lurus panjang bagaikan sadako (julukan hantu dari film jepang) itu begitu cepat menjawab soalnya, karena ia adalah siswa yang berperingkat 3 sesekolah ini. Mika Hanase pun kembali duduk di bangku yang teletak paling depan dekat pintu masuk.
"Aaaarrrrgggg ! Masa bodo! Mau salah kek, mau bener kek, aku tak mau ambil pusing!." bergumam kesal, Suigetsu Hayamoto pun selesai dan kembali berjalan menuju bangku nya, ia tak peduli dengan benar atau salah dari apa yang ia kerjakan, yang penting dia sudah memenuhi kewajiban nya !
Setelah Suigetsu, kini Neji yang kembali ke meja nya, sepetinya ia sudah selesai. Dan wajahnya kini lebih datar sedatar jalan aspal! Ia masih tak terima dengan pengakuan Naruto! Ia benci mengakuinya, tapi mau bagaimana lagi, rambut panjang ini adalah aset berharga milik Hyuûga. . . . . Lagi pula, ia memang pernah membintangi iklan Shampo di salah satu majalah yang cukup nge-tren. Bukanya malu, justru ia bangga . Walaupun terkadang ia sering di bilang laki setengah perempuan, ia tak peduli. Anggap aja mereka hanya iri dengan Style nya.
"Ck, mendõ nã...(merepotkan)" Shika pun akhirnya selesai dengan di akhiri decakan malasnya. Sejujurnya ia ingin sekali cepat-cepat minggat dari kelas, ia sudah terlalu lapar karena ia tak sempat sarapan pagi, salahkan saja Okaa-san yang membangunkanya telat, jadinya ia harus ngebut melakukan aktivitas paginya. (Author: kamu nya aja pemalas Shika: ck, Urusaii ! " )
Terumi-sensei pun melihat hasil kerja murid nya dari Hasil Mika yang dilihatnya pertama. "Hmm, seperti biasa, Kau selalu bisa Hanase-chan." jemari Mei-sensei menopang dagu nya ala detektive yang sedang berpikir. Ia cukup puas dengan hasil Mika yang benar semua.
"Dan seperti biasa pula, Murid bodoh ini tak belajar dari pengalaman!." komentar pedas pun di lontarkan pada Suigetsu setelah melihat hasil kerja nya , dan bisa kita tebak, jawabanya... Salah semua!
BUAAK !
"I-iittai ! Sial! Ini sakit sekali!"
Tak di sangka pula penghapus papan tulis pun melayang dan tepat menghantam kepala Suigetsu! Ck ck sekali nasibmu bro. . . .
"Cukup memuaskan, ternyata wajah sombong mu bukan sekedar bohong. " memberi komentar pada hasil Neji, Mei pun cukup puas. Karena Neji menjawabnya dengan benar.
"Untuk seorang pemalas, ternyata cukup pintar. Terus pertahankan pemalas." Mei-sensei pun kembali mengalihkan atensi nya pada hasil kerja Shikamaru dan sekalian memberi komentar nya.
Dan ini dia yang terakhir.
"Ada apa dengan mu bocah? Kau lama sekali mengerjakan Soal no 5, apa begitu su-..."
"Yosh ! Akhirnya selesai."
ucapan Mei-sensei terpotong oleh suara lega Naruto yang baru selesai mengisi jawabanya.
setelah itu, Naruto pun kembali berjalan kearah bangku nya. Mei-sensei terkagum ketika menatap sekilas jawaban Naruto. Jawaban Naruto berbeda dengan pada umum nya. Cara yang Naruto gunakan adalah cara yang rumit dengan pembagian, perkalian, kuadrat, sampai akar-akar nya pun ia tulis. Wow sugoi ! (emang ada ya rumus kek gtu dalam mencari volume? '_' ? )
"Apa maksudnya ini ?"
Mei-sensei berteriak kesal ketika melihat dua Huruf yang bertuliskan 83Ccup, ia tak begitu asing dengan huruf tersebut. Bagaimana bisa?
"Oh, itu adalah ukuran dasar dari 3 ukuran yang ada, dan aku mengambil Sample dari sensei. Dan jawabanya benar kan? 3 dari ukuran Sensei ternyata 83Ccup! Aku sempat terkejut juga, habis belum pernah ku melihatnya setelah kepala sekolah tentunya. Mwehehe."
"Wohhoooo~ Ukuran Sensei ternyata Big ! "
"Suuuuiiiit !(SFX siul) yo pirang! Ilmu mu sangat bermanfaat ! Ajari aku Nanti !."
"Aku jadi iri dengan sensei, miliku selalu saja di katai papan gilesan . "
Berbagai komentar pun keluar dari mulut masing-masing. Entah apa yang terjadi, yang pasti kini Mei Terumi menatap kesal dengan wajah merah padam menahan malu kearah Naruto yang kini tak mengerti keadaan.
Mei pun berjalan kesal kearah Naruto dengan hentakan kaki yang terdengar pertanda bahwa ia sedang kesal.
"Kau... !"
SREET ! (menarik kerah Naruto)
BUAAAGH
PRAAANK
"MENJIJIKAN! MATI SANA! DASAR BOCAH TAK BERGUNA! SAMPAH !"
"HUWAAAAA APA SALAH KU~" Jelas bukan? Bahwa Naruto tak bersalah? Ia kan hanya mengisi pertanyaan? Tapi kenapa? Kenapa! Apa yang terjadi?
Dan Naruto pun berakhir jatuh dari lantai 2 ! Bayangkan! Lantai 2 ! Lantai 2 ! XD
"Semoga kau tenang di alam sana Pirang..." Dan Suigetsu pun berdoa dengan bersyukur bahwa ia tak bernasib lebih parah dari Naruto.
BUAAGH !
"Ah~ ini nikmat sekali... Tapi tetap sakit ttebayõo ! Aarrgg, sepertinya tulang punggung ku... "
KREEK
"Aa-..."
Naruto mencoba bangun namun bunyi tulang dari punggungnya membuatnya berhenti bergerak sementara.
"hah~ terkadang sinar mentari pagi begitu hangat, awan yang bergerak pun mengalir searah angin berjalan."
Akhirnya, Naruto kembali berbaring dan bergumam sembali menatap biru nya langit. Menjelang musim dingin terkadang begitu menyiksa. Namun cahaya mentari mengurangi dingin nya angin yang bersemilir.
"Eh? Chotto..."
pandangan Naruto teralihkan dari langit kearah atap di seberang gedung yang baru saja Naruto tempati. Ya, dia melihat seorang gadis yang sedang melamun menatap jauh entah kemana, dengan rambut pirang sedikit pucat tergerai indah searah angin. Tapi kenapa wajahnya murung seperti itu? Dan juga kenapa dia mencoba melewati pagar besi pembatas? Eh ? Eeeeeehhhh !
"Oi oi ! Joudan desu yo ! (ini bukan lelucon) ! Apa yang kau lakukan! Bunuh diri itu tidak baik!"
Ia segera bangun dari tidurnya, tak peduli rasa sakit menerjang karena baru saja ia jatuh dari lantai 2, Naruto berlari kearah lobi dan langsung menuju tangga untuk menuju keatap di gedung sebelah (ingat, denah Sekolah ini Seperti Huruf " H " ada 2 sisi gedung yang berlawanan, dan jembatan penghubung sebagai jalan alternative untuk menuju gedung seberang di lantai 2)
Apa yang dia pikirkan sih? bagaimanapun caranya! Ia harus menyelamatkan nyawa gadis itu !
Nafas terengah di pacu langkah panjang menaiki anak tangga menuju atap, keringat dingin menuruni pelipisnya. Tak peduli rasa sakit menerjang bukan main. Ia terus berlari, cepat! Cepat! Cepat! Itu lah yang ada di pikiran Naruto sekarang.
BRAAAKK !
Pintu tak bersalah pun ia tendang saking kalutnya, bias cahaya menyeruak masuk membuta sementarakan atensi nya, setelah terbias akan cahaya, dia pun kembali berlari menerjang kearah Gadis berambut pirang pucat yang sedang menatap jauh ke langit.
GREEB!
"Oi oi, tenanglah! Tenaaang! Jangan kau sia-sia kan hidup mu! Jika ada masalah, setidaknya selesaikan dengan benar!"
ne, seharusnya kau yang tenang Naruto.
Gadis mungil yang di peluk dari belakang oleh Naruto terlonjak kaget akan tindakan Naruto. Dan gadis itu tersadar dari lamunanya ketika sebuah tangan meraba daerah...
"Are? I-ini bu-bukan maksudku ! Sumpah! Walaupun ini kecil, aku tetap menyukai nya!"
empat perempatan hinggap dikepala sang gadis mungil itu.
"Dasar bajingan Mesum, MATI KAU HENTAI !"
tak seperti kelihatanya, ternyata gadis mungil dari tahun pertama itu mempunyai tenaga yang cukup besar untuk mengangkat tubuh Naruto dan kini...
"Eh ? HEEEEEEEEH ! ! ! Aaaaaarrrggggg~"
BRUUK
"AA-..."
cukup sudah, ini yang kedua kalinya! Dan ini dari atap! Bukan dari lantai dua lagi.
Berteriak kencang, dan berhenti berteriak ketika punggungnya kembali mencium tanah dengan indah. . . .
"Maaantaaapp~~~" dengan suara bergetar pilu, akhirnya kegelapan merenggut kesadaranya.
Walaupun kesehatanya di atas normal, tetap saja bukan, ia memiliki batas? Hey, lihat saja, jatuh dari lantai dua bukanlah hal yang biasa untuk manusia pada umum nya. Jika manusia normal yang jatuh dari ketinggian seperti itu, sudah di pastikan. Pasti akan cedera. Dan juga Naruto jatuh 2 kali, dua kali !
"Ara? Ngomong-ngomong, serangga kuning tadi siapa? Apakah ia masih hidup?"
dengan tampang watadosnya, gadis mungil itu melihat ke bawah dan ia pun melihat Naruto terlentang dengan efek tanah sedikit amblas mengikuti lekuk gadis mungil itu melupakan 1 fakta bahwa dirinya sendiri pun berambut kuning.
Ck ck ck, naas sekali nasib mu naak~
: : :
Melangkah dengan santai dan sedikit bergaya berharap itu akan menambah kegantengan nya. Uchiha Sasuke berjalan menyusuri lorong menuju kelasnya, sungguh ia sudah kehilangan selera untuk mencicipi pelajaran hari ini. Berniat ingin membolos, ia pun berinisiatif melangkah menuju belakang sekolah. Dengan senyum tipis memikirkan ia akan mendapat ketenangan ia pun berjalan dengan tenang.
"Heh?."
Mata sipit nya semakin menyempit berharap ia lebih jelas melihat fenomena(?) yang terpampang di depan nya tak jauh dekat dengan tangga jembatan alternative. Rasa penasaran pun menjalas di hati Sasuke, dengan cepat ia melangkah mendekat kearah dimana mahluk kuning terkapar tak berdaya.
"...?"
Yakin, ia sangat yakin ia tak pernah melihat Mahluk pirang ini. Kenapa dia tidur di sini? Apa karena nyaman kah ? Atau karena alasan lain? Tapi apa?. Otaknya yang terbilang jenius itu memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
Sasuke lalu jongkok di hadapan mahluk kuning itu. Mengambil ranting pohon di sekitar nya, ia pun menusuk-nusukan ranting itu kearah wajah pemuda kuning itu. Dahi Sasuke bekedut ketika tindakan nya mendapat respon, lalu pandangan teralihkan oleh tanah yang sedikit amblas ke dalam.
Mengangguk dua kali dengan tangan di letakan di dagu nya ala detektive, ia pun mendongak keatas untuk mencari jawabanya.
"Naruko?"
Bola bohlam 5 wat melintas di kepala Sasuke, sekarang ia tahu penyebabnya mahluk pirang ini terkapar tak berdaya. Dan kini ia harus meyakinkan dirinya sekali lagi. Jangan pernah mengganggu gadis loli dengan kekutan monster itu.
Menggangguk dua kali lagi, dengan face yang seperti mendapat ilham, ia pun berdiri.
Pelajaran #1 bab 2 ayat 23 dari Baka-aniki 'Belajarlah dari penderitaan orang lain'
"Hm, terima kasih Aniki."
Sasuke mengangguk mantap meyakinkan keputusan apa yang baru saja terlintas di benaknya.
Walaupun dia mengaplikasikan pelajaran dari Aniki nya dengan salah.
"Hm, lebih baik ku bawa saja mahluk kuning ini."
Ia pegang kakinya, menatap kanan dan kiri untuk memastikan sebelum melangkah. Lalu ia pun berjalan dengan santai sembari menyeret mahluk kuning itu.
"Setidaknya aku adalah orang baik."
Ia tersenyum bangga karena ia berpikir ia adalah orang yang baik. Padahal kenyataanya kebaikan yang ia anggap sangat lah tak patut untuk dikatakan kebaikan.
Sang mentari kini bergerak mencapi puncak tertinggi nya, menandakan bahwa waktu istarahat kini telah tiba. Para siswa berhambur keluar daridalam kelasnya untuk melepas penat yang hinggap di kepala mereka, menjelang semester akhir memaksa mereka untuk mempekerjakan kinerja otak mereka secara nonstop.
"Nara-san! Hyuuga-san! Kenapa kalian diam saja hah? Dimana letak pri-kemanusiaan kalian? Seharusnya kalian membantuku Mencari Uzumaki-kun, jangan hanya diam dan tidur saja. Dan Hyuuga-san! Berhentilah berkaca."
Matsuri kazegawa, ia mencekoki pemuda berambut Nanas yang kini nyawa nya entah terbang kemana, dan Pemuda berambut panjang yang menyembunyi kan kaca di bawah meja nya.
"Kazegawa-san, mengapa aku harus menolong mahluk pirang mesum yang tak punya pikiran itu?."
"zzzZZ~"
berbeda dengan kedua teman sekelasnya, Shikamaru lebih memilih tak menyadarkan dirinya.
"Pokoknya Harus! Aku tak mau tahu, dan-"
BRAAK!
"HOAH! Okaa-san!"
"- Jangan Hanya tidur saja pemalas! Aku tak mau tahu, kalian harus membantu ku mencari Uzumaki-kun!."
"Heh?."
Shikamaru celingak-celinguk masih mengumpulkan nyawa nya yang masih berterbangan di atas kepalanya. Dan ia menatap tajam kearah satu-satu nya wanita di hadapan nya yang sedang melipatkan tangan di dada dengan expresi kesal.
"Hoi, apa maksud mu Kazegawa? Tak tahu kah kau aku sedang melakukan perjalanan panjang nan in-"
"Sudahlah, ayo bangun dan ikut aku."
Matsuri memotong protesan dari Shikamaru yang setengah ngantuk, lalu menyeret mereka berdua dengan menarik tangan mereka. Jujur, ia tak mengerti kenapa ia begitu peduli pada seorang yang bahkan baru ia lihat beberapa jam yang lalu? Entahlah, dirinya pun bingung. Namun yang pasti sekarang perasaan kawatir lah yang mengganjal di hati nya.
Sedangkan kedua orang yang di paksa, dengan amat sangat enggan mereka menemani wanita merepotkan ini.
: : :
Langit, langit berawan yang cerah mendominasi pemandangan yang tertangkap oleh ke dua bola mata senada dengan langit. Ia bingung, apa yang terjadi selagi kesadaran nya hilang? Ahh~ ia ingat, ia baru saja di lemparkan dari lantai dua oleh Terumi-sensei. Dan juga ia kembali di lemparkan lagi oleh gadis loli bertenaga monster.
Pandangan nya enggan teralih, meski hanya sekedar untuk melihat sekitar dimana ia berada. Yang ia rasakan adalah rumput yang sedikit menusuk kecil kulit nya. Ia tersenyum, dua hari ia berada di sini, ia merasakan apa yang tidak di rasakanya saat di sekolah nya dulu.
Ia angkat perlahan tangan nya keatas untuk sedikit mengecek apakah masih berfungsi dengan benar?
Ahh~
Sensasi ini, sensasi yang berdesir nyeri adalah sensasi kesukaan sekaligus hal yang paling ia benci. Ia sadar, tubuhnya merasakan nyeri di bagian punggung dan persendian tulang nya, seakan kaku tak tertahan.
"Oi, kau ini manusia apa mahluk astral sih?"
Pertanyaan yang sebenar nya sudah tahu jawaban nya pun tertangkap indra pendengaran nya. Naruto menengok kearah samping nya. Ia melihat pemuda berambut Raven yang sedang memakan O-bentõ nya dengan pelan.
"Memang mata mu melihat ku sebagai apa? Hewan berkaki empat?."
jawaban yang terdengar kesal keluar dari pemuda pirang yang masih terbaring. Ia mencoba bangkit untuk sekedar menjajarkan posisi nya dengan pemuda Raven itu.
"Dima-."
"Kutemukan tubuhmu tergeletak tak berdaya dekat jembatan penghubung gedung sekolah. Ku pikir menyeret mu ke sini adalah keputusan yang tepat. Mengingat kau dan aku membolos pelajaran dan kini sudah waktunya istirahat."
"Heh?."
Menyeret katanya? Apa yang ia maksud mengangkat tubuh nya? Lantas, kenapa sekarang pakainya lusuh dan berdebu seperti ini? Setelah berhasil duduk dengan sedikit susah payah, Naruto pun melihat blazer nya kini kotor dari bagian siku dan punggung nya. "Kau serius menyeret ku? Bukan memapah ku?." Kesal, ya kesal adalah yang kini Naruto rasakan.
"Hei, aku sudah berbaik hati menyeretmu kesini, bukan nya berterima kasih kau malah marah padaku. Kau pikir aku akan membopong mu dengan bridal style ? Jangan bercanda bung, aku masih normal. Maaf saja ya a-."
"Normal gundul mu! Kau menyeretku, karena itu membuat seragam ku kotor brengsek! Dan jangan berpikir aku ini seorang Yaoi."
Naruto memukul kepala pantat bebek itu. Ia tak habis pikir, apa pemuda ini tak punya prikemanusiaan?
"A-aduwh. Hwoi! Kwenapha kwau mwhemhukulkwu?"
"Itu karena kau tak punya pikiran."
"Bwahh brengsek, aku sudah berbaik hati menolong mu dan sekarang ini ucapan terima kasihmu?." Menenggak air setelah ia menelan isi makananya, ia pun meletakan O-bentõ nya untuk menatap tak terima kearah pemuda kuning ini. Apa-apaan dia? Seenaknya saja memukul ku, padahal aku ini orang yang kece , ganteng, baik hati pula.
"Oh ya, kita dimana?" Tak ingin berdebatan jadi panjang, Naruto mengalihkan topik pembicaraan dengan melontarkan pertanyaan yang lain.
"..."
Kesal karena protesan tak terima nya tak di anggap, Sasuke kembali mengambil kotak makan siang nya, lalu kembali memakan burger extra tomat nya.
"Whoi! Kwenhapha Kwhau mwhemhukulkwhu lhwagi?"
Kembali, Naruto menjitak kepala Sasuke karena pertanyaanya ia abaikan. Kami-sama~ walaupun ia berbeda dengan manusia pada umum nya, kenapa ia selalu bertemu dengan Manusia se'jenis' dirinya sih?
"Brengsek! Apa masalahmu sih? Ngajak bertantem hah?." cukup sudah, ia kini sudah terlalu Naik pitam. Selera makan nya pun sudah menguap bersama amarahnya yang mulai mengoar. Membuang sembarang kotak makanan yang ia pegang, lalu ia tatap pemuda kuning itu dengan tajam, setam silet.
"Kau tak menjawab pertanyaanku~"
Dahi Sasuke berkedut tak terima, kuning brengsek!
"Waduwh! Hei kenapa kau juga memukulku?."
"Kau juga tadi tak menjawab pertanyaan ku brengsek! Tapi aku tak memukulmu, dan kenapa kau memukulku hanya karena ku tak menjawab pertanyaan mu hah? Begini saja, berhubung kau sudah membuat selera makan ku menghilang dan kau sudah dua kali memukul ku. biar adil, kita berantem aja yuk?"
Naruto melongo tak percaya, benar juga apa yang di katakan pemuda di samping nya ini. Rasa kesal akibat dia di seret lah yang membuatnya tak berpikir kembali.
"Maaf saja, tubuh ku sudah di ambang batas. Jika kau yang menyeretku, pasti kau tahu kan? Pendirataan macam apa yang ku terima?." Otak licik nya memang hebat, dengan apa yang Naruto katakan tadi, pasti bisa membuat Sasuke mereda dari amarahnya.
Sasuke ingat, ia juga berpikir mengulang kejadian pagi dimana ia menemukan Naruto. Dan itu menambah asumsi nya mendekati kebenaran.
"Kau serius jatuh dari atap? Oleh gadis loli itu?." Emosinya memudar di gantikan rasa tak percaya dengan apa yang barusan di katakan oleh Naruto
"Kau pikir aku terkapar tak berdaya karena apa? Aku tak habis pikir dengan gadis kecil itu, aku pikir ia akan bunuh diri, dan aku pun langsung berlari dari jatuhku untuk menolong nya. Saat ku peluk dia, tak sengaja aku me- me- gah! Pokok nya tahu-tahu aku sudah di lempar dari atap dan aku pun jatuh untuk kedua kalinya, begitu deh."
"Jatuh dua kali? Dan kau sekarang masih hidup dengan tenang? Astaga, manusia macam apa kau ini."
Sasuke berpikir keras, dan Naruto juga demikian sama hal nya dengan Sasuke.
Mereka tak sadar bahwa mereka duduk bersamaan dengan mesra nya~
: : :
"Jadi ? Sebenarnya kamu ini siapa?"
"Heh?."
"Jangan pasang tampang polos kuning brengsek! Itu menyakiti mata ku."
"Hah?"
"Kita berantem aja yuk? Aku udah cape ngadepin mahkluk macem dirimu."
"Oh."
BUAGH
BUAGH
BUAGH
"Ittai ittaii! Yamete Ahhoo!."
Sasuke yang naik pitam akhirnya sudah tak bisa lagi menahan gejolak jengkel dalam hati nya akibat manusia kuning di samping nya. Alhasil, ia pun dengan membabi buta menghajar Naruto dengan seringai iblis terpampang jelas karena Naruto tak mampu membalas perbuatan nya. Bwuahahahaha~ ia tertawa dengan puas. Sangat puas saat melihat mahkluk kuning itu terkapar tak berdaya... Lagi.
"Cih, rasakan itu brengsek! Itulah ganjaran nya jika membuat orang kece nan ganteng ini marah."
Berlenggang pergi, Sasuke membalikan tubuh nya. Baru juga beberapa langkah ia berbalik meninggalkan Naruto yang terkapar pingsan lagi, di taman belakang sekolah dekat pohon, ia di kejutkan oleh 3 orang dengan 2 pemuda dan 1 orang gadis yang menatap tajam seakan ia mangsa.
"Heh? Shikamaru? Neji? Dan...-"
BUAGH
"U-ugh~ bu-burung ku."
"Dasar brengsek! Bukanya menolong, malah menghajar nya."
Dengan penuh kekesalan, Matsuri menendang selangkangan Sasuke dengan penuh amarah. Ia tak menyangka, mencari kesana kemari hampir ke seluruh Sekolah, dan saat ia menuju taman belakang sekolah, ia sangat kaget bukan main ketika orang yang ia cari telah di hajar sampai terkapar. Jelas bukan jika ia marah? Ya walaupun ia sendiri tak tahu mengapa dan alasan apa ia bisa marah.
"Aku turut berduka untuk 'KING' mu bung." Shikamaru berkata seolah ia tahu penderitaan macam apa yang sekarang sasuke rasakan.
"Bodoh." Neji pun hanya memberi umpatan pada Sasuke pertanda apa yang ia lakukan adalah tindakan orang bodoh. Ya walaupun sebenarnya ia sangat bersyukur karena Pemuda kuning yang menghina bahwa dirinya adalah wanita berdada rata pagi tadi kini telah terkapar tak berdaya. Tapi cukup simpati juga ia melihatnya, menyaksikan sendiri bagaimana proses 'pelepasan' dari lantai dua menuju tanah, ugh~ ia tak bisa membayangkan bagaimana rasayanya mencium tanah dari ketinggian lantai 2.
"Brengsek! Aarrrggg." Sasuke terus menggeram, menahan mules yang tak terhingga rasanya. Memegang erat KING nya berusaha menenangkan rasa perih bagai luka yang di taburi garam. Ia tak habis pikir, apa salah nya coba? Pemuda kuning brengsek itu yang membuatnya marah, dan kini? Kenapa ia yang terkena 'Derita' dunia ini? Terkutuklah kalian~ !
"Nara-san, Hyuuga-san. Bantu aku mengangkat Uzumaki-kun." Di pandangi wajah yang kini lebam di sana sini. Ia mengelus pelan pipi dengan 3 garis tipis itu. Mengangkat kepala penuh rambut kuning itu di pangkuan nya, ia kembali pandangi wajah lebam itu dengan sedih.
"Ck, ini merepotkan. Tapi lebih merepotkan jika tak menurutiny." Malas sebenarnya, Namun pilihan apa lagi yang ada untuknya? Hahh~ ia tak sabar untuk mempingsan kan diri nxa lagi.
Tak ada komentar protes dari Neji, ia lebih memilih diam dan mengangkat tubuh Naruto dari pangkuan Matsuri untuk memapah Naruto. Shikamaru pun membantu memapah Naruto di bagian kanan, karena bagian kiri telah di isi oleh Neji. Matsuri pun mengiri 3 pemuda di depan nya yang mulai melangkah meninggalkan Sasuke yang masih guling-guling memegang selangkangan nya.
: : :
"Seito-Kaicho, bagaimana ini?."
seorang gadis bertubuh mungil berambut pirang bertanya pada gadis yang duduk diam menautkan kedua lenganya di hadapan wajahnya menandakan ia berpikir keras.
"Aku heran dengan kõchõ, kenapa beliau menyuruh kita untuk merekrut makhluk pirang mesum itu." gadis berambut hitam kebiruan mengeluh dengan nada datar senada dengan expresi yang ia tunjukan. Bola mata light moon itu menatap malas kearah map yang berisikan fropile seseorang.
"Kesehatan di atas normal? Alamat tak diketahui? Asal-usul belum jelas? Data apa ini coba?." lagi, ia mengeluh sembari membantingkan map di meja yang dikelilingi para anggota gadis lain nya.
"Tenanglah Hinata-san, aku tahu itu tidak masuk akal. Untuk seorang siswa pindahan yang penuh mistery di terima di sekolah ini. Aku yakin kõchõ memperbolehkan Dia karena mengingat sekolah ini belum pernah ada murid pindahan dari Horikoshi Gakuen, alasan tersebutlah yang membuatnya dengan mudah menerima makhluk aneh bin mesum itu di terima di sini." Ayame Hyousaki tahu, lebih dari tahu mengingat ia pernah melihat dengan mata kepala sendiri, betapa senangnya ketika Pemuda kuning itu di siksa oleh kepala sekolah. Hiiii~ mengingat kejadian itu, membuatnya merinding. Awal nya ia terpesona dan terlena oleh kharisma pemuda itu, dan ketika ia mengetahui sisi lain dari pemuda itu, pupus sudah kekagumanya. Walaupun tak mengelak bahwa ia penasaran tentang Pemuda yang ia ketahui Naruto Uzumaki itu.
"Aku juga tak habis pikir, pagi tadi saja aku di peluk oleh Pemuda yang kita ketahui Naruto itu di atap, dan saat itu pula dengan seenak jidat nya, ia meremas dadaku. Jangan salahkan aku kalau ia cedera karena ku lempar dari atas atap." kini gadis mungil berambut pirang tergerai yang duduk di samping Hinata ikut menambah kan keluhan nya. Dan itu mampu membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu melongo tak percaya. Satu kata yang ada di benak mereka, yaitu...
"Hiiidooiiii~"
.
.
.
.
To be continue
A/N
hehe gimana? menghiburkah?
gomen jika ini pendek. dan maaf jika humornya garing. sekali saya lagi minta pendapat kalian dengan mereview fanfic ini...
oh ya, semua chara di sini sama sprti di canon , cuma saya mengubah nama marga nya saja.
ok, tinggalkan jejak kalian ... ^.^
sampai jumpa~
hunt out
