Masochist Love

Chapter 3 update!

Disclaimer : Yang pasti Naruto bukan punya Hunt. Hunt cuma minjem karakternya aja.. XD

.

.

.

.

.

Lagi...?

Untuk kedua kali nya Naruto berakhir di UKS. Tempat pertama pula yang kini ia tempati, tempat

dimana ia tak sadarkan diri akibat siksaan dari kõchõ. Entah karena sial atau memang ia telah di

kutuk atau bagaimana, sepertinya takdir senang sekali mempermainkan dirinya. Bayangkan saja, saat pertama kali Naruto masuk saja ia sudah di siksa setengah sekarat, bangun dari koma sementara nya ia kembali di siksa setelah kejadian yang bisa di bilang berkah atau mala petaka yang dengan tidak sengaja ia berciuman dengan Nona yang kejam. Di sekap dan di ikat sampai ia tertidur, ia berakhir di gantung dahan pohon yang cukup tinggi. Ahh~ entah setelah hari ini berakhir, apa lagi yang akan dia terima? Naruto tidak tahu. Tapi dalam hati yang sedalam-dalam nya, Ia berharap akan mendapat ketenangan lahir dan batin. Terlelap dalam sekarat, wajah tan nya itu berkeringat dingin, kadang kedua alisnya bertaut seakan raut takut akan suatu hal.

Entah mimpi apa yang membuatnya seperti ini, tapi yang pasti itu bukanlah mimpi yang mampu ia hadapi dengan tampang polos sedikit bego nya. Ya itu semua hanya lah untuk menciptakan asumsi kepada mereka yang mengenal nya tanpa tahu seperti apa yang sebenarnya.

"Ku... ra-"

Bergumam pilu, suara itu bukanlah suara lengkingan atau teriakan yang biasa Naruto lontarkan ketika ia kesal atau marah. Karena dalam diri nya yang asli, itu bukanlah dirinya. Walaupun memang sebagian kecil itu masih bagian dari dirinya.

"Kumohon... Hen... -Tikan... -ugh."

Nafas nya berat, menderu seakan ia berlari, berlari dalam kegelapan yang kelam akan masa yang tak ingin ia ingat kini hadir dalam bunga tidur nya. Menghampiri seakan itu tanda bahwa hal yang juga menjadi salah satu alasanya berada di sini. Hyuuga Hinata. Ia yakin, sangat yakin ketika ia berniat menemui Naruto untuk menanyakan atau lebih tepat nya mengintrogasi pemuda kuning yang kini berbaring dengan balutan gips pada lengan kanan nya. Beruntung kini adalah jatahnya menjadi perawat di UKS. jangan tanya mengapa atau apa alasanya ia bisa memakai jaz putih sebagaimana mestinya seperti dokter. Itu adalah hoby nya, walau memang ia akui bahwa dirinya mempunya sifat yandere, bukan berarti ia suka menyiksa atau melukai seseorang hanya karena ia ingin mendapatkanya. Ia juga punya nurani sebagai manusia, suka menolong dengan mengobati luka siswi atau siswa di sekolah. Hinata menempelkan punggung tangan nya pada kening penuh rambut kuning itu. Sedikit menyibakan helaian kuning itu, ia pun merasakan

panas yang bukan main. Hinata heran, bagaimana mungkin pemuda ini demam sedangkan penyebab Naruto tak sadarkan diri adalah tindak penganiayaan?

Tak ingin membuat pasien nya bertambah buruk keadaanya, ia pun bangun dari duduk di samping ranjang Naruto untuk mengambil air dingin dan kain untuk mengompres Naruto.

"Aku akan menanyakan Kurenai-sensei tentang hal ini."

berjalan sembari bergumam, ia pun mengambil beberapa es batu lalu ia masukan dalam wadah seperti rantang namun sedikit besar. Lalu ia mengambil kain di kotak P3K yang menempel di dinding dekat prezzer. Berat, sangat berat hanya untuk membuka kelopak matanya. Sekujur tubuhnya seakan ngilu, ia sadar namun tak sepenuhnya sadar. Sadar akan kondisinya yang mengenaskan dan sadar akan hal apa yang membuatnya seperti ini. Dingin yang menenangkan dirasa di kepalanya, ahh~ kain basah ini menempel di keningnya membantu sedikit memulihkan kesadaran nya. Ia tak memikirkan siapa yang merawat atau pun membersihkan luka goresan atau lebam di wajahnya. Untuk sekedar memaksa pun sangatlah sulit.

"Kau ini sebenarnya cukup tampan, tapi tingkah mu merusak cover mu." pertanyaan dengan nada sedikit datar dengan suara halus namun berat itu terdengar seiring Naruto merasakan goresan kain dan tangan menempel di sekitar pipi dan pelipisnya. Ahh~ ia kenal suara ini, suara yang dulu pernah ia dengar ketika ia di siksa oleh pemilik suara ini- tunggu dulu, di siksa?

Kaget dalam benaknya ketika ia mengetahui fakta bahwa pemilik suara itu lah yang merawat nya, ia pun sekuat tenaga berusaha keras untuk membuka kedua kelopak matanya.

"Hyu- ... Hyuuga-san..."

Tangan putih mulus itu berhenti meremas kain kompresan ketika ia mendengar gumaman berat dari pasien nya. Sedikit terkejut memang, namun ia berhasil menyembunyikan raut wajahnya dengan senyum manis yang terkesan sedikit di paksakan, ingat! Hanya sedikit.

"Ara? Makhluk kuning-san ternyata sudah sadar."

Hinata kaget, kaget bukan main ketika tatapan sayu tertuju padanya dengan wajah yang di hiasi rona merah dan sedikit keringat dingin akibat demam itu membuatnya seperti melihat sebuah penomena yang absurd, menurutnya. Namun sekali lagi, untaian kata yang ia ucapkan

sangatlah bertolak belakang dengan apa yang ia rasakan.

"K-kenapah..."

Suara terkesan penuturan menanyakan dengan nada sekseh menurut Hinata akhirnya keluar dari Naruto. Dirinya bingung, kenapa orang yang dulu menyiksa nya kini merawat nya?

"Ini adalah tugas ku sebagai salah satu petugas UKS."

tak ingin ia kalut dengan Naruto, ia pun kembali menempelkan kain dingin nan basah itu di kening Naruto. Lalu ia beranjak menuju tempat dimana ia bisa duduk tenang tanpa mengganggu pasien. Ia hanya perlu mengawasi dan merawat. Untuk urusan pribadi, mungkin nanti saja. Ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengintrogasi orang yang sakit.

"Hahh~ sepertinya aku akan melewatkan pelajaran lagi, Kurenai-sensei takkan datang hari ini.." sebelum ia benar-benar meninggalkan Naruto untuk membiarkan nya istirahat ia mendengar penuturan Naruto.

"Terima kasih..."

Lemas, rasa gersang panas namun dingin menjalar tubuh nya. Panas di kedua kelopak matanya seakan enggan untuk tetap terjaga barang sekejap pun. Dengan lirih ia berterima kasih tulus, dan tak di buat-buat. Sampai sebelum indra pendengaranya mendengar balasaran dari sebrang sana, pandanganya mulai menggelap perlahan, dan gelap.

"Hm, masih terlalu dini untuk itu makhluk kuning- san, tapi sama-sama." berjalan lagi menuju mejanya, Hinata tersenyum mendengar itu. Duduk dengan tenang di temani secangkir tea hangat dan beberapa cake serasa kedamaian sejati kini dirasanya, ahh~ harus ia akui, iaharus 0berterima kasih nanti pada Kurenai-sensei. Dan kini, ia akan melewati pelajaran sampai usai.

.

.

.

.

"Kaichô, Hyuuga-san kemana? Apa ia tak akan mengikuti pelajaran?" Sasuke yakin, tak seperti biasanya Hyuuga-san tidak mengikuti pelajaran. Ia pikir Hyuuga-san bolos, tapi kenapa?

"Seperti nya hari ini adalah jadwalnya menjaga UKS. dan jika ia sampai melewatkan pelajaran, berarti ia sedang merawat seseorang."

'walaupun ku tahu siapa orang itu.'

ya, Ia sangat yakin. Dari apa yang dikatakan oleh salah satu Anggota Dewan Mahasiswa atau lebih tepatnya anggota nya. Ia percaya bahwa salah satu anggota berambut pirang tergerai panjang itu tidak pernah main-main dengan ucapan nya. Sifatnya yang sedikit Tsundere pun tak pernah ia permasalahkan. Bahkan jika di teliti lagi, mungkin beberapa dari anggota nya memiliki sifat yang unik. Sifat mereka bagaikan warna yang berbeda namun jika bersama akan memiliki satu warna. Yaitu, pelangi.

"Eh? UKS...? I-itu berarti si brengsek kuning itu sedang di rawat oleh Hyuuga-san?." tergagap sedikit tak menerima, karena dari apa yang pernah di alaminya ketika sakit d UKS.

Hyuuga-san yang kejam dan sadist pun bisa berubah menjadi bidadari bak malaikat. Ia tak terima kalau si kuning brengsek itu mendapat perawatan dari nya. Sebut saja ia sedikit iri, atau

mungkin cemburu? Entahlah. Mendengar itu, Hyousaki Ayame yang memandang keramaian murid dikelas karena menunggu guru nya datang pun menoleh kearah Sasuke. Pendengaranya sedikit terganggu ketika mendengar kata 'kuning' . Mengingatkan akan orang yang selama ini bisa membuat konsentrasi dalam kinerja nya down.

"Kuning brengsek?" kembali Ayame mengulang umpatan Sasuke. Ia meminta jawaban dari Sasuke apa arti dari umpatan atau julukan yang Sasuke katakan tadi.

"A-ah tidak apa-apa, lupakan saja Kaichõ." ia sedikit tersentak karena Hyousaki Ayame menatapnya dengan pandangan meminta jawaban. Bagus, guru mereka pun datang. Dan pembicaraan kecil pun berakhir.

Waktu berlalu tanpa terasa, dengan penuh mood yang anjlog akibat di cekoki pelajaran rumit. Akhirnya bel tanda pelajaran hari ini telah usai pun terdengar. Berbondong-bondong mereka keluar kelas, ada yang menuju klub mereka untuk melakukan kegiatan seperti biasanya. Banyak juga yang memilih pulang untuk secepat mungkin melepas penat mereka dengan beristarahat.

"Kazegawa-san, ayolah~ kita kan jarang berkumpul bareng. Megu dan teman-teman lain nya sudah setuju untuk datang ke karaoke setelah pulang. Onegai~"

"Tapi, A-aku ada urusan. Sumimasen megu-san. Lain kali saja ya."

"Hiks, (puppy eyes no jutsu!) onegai... Ini untuk meraya- hiks -kan, ulang tahunku~" Bagaimana ini? Itulah pertanyaan yang kini ia pikirkan. Matsuri tak tega melihat teman sekelas nya yang menangis di depan nya. Walau ia tahu itu adalah air mata kadal(?) tapi tetap saja, ia tak tega.

Setelah memikirkan segala kemungkinan, ia pun mendesah pelan dengan gerak tubuh yang me- rilex.

"Baiklah, aku ikut." sejujurnya ia tak ingin, ia ingin menjenguk Uzumaki-kun. Ia kawatir akan keadaan nya. Entah perasaan seperti apa yang membuatnya memberi perhatian lebih pada Uzumaki-kun. Tapi yang pasti itu bukanlah karena hanya covernya yang kharismatik dan sebagai nya. Ia tahu dan mengerti, sangat mengerti dengan rasa apa yang di alaminya. Bukan cinta atau pun rasa sayang, namun rasa kasih saat melihatnya. Ya kasih yang lebih besar dari Cinta ataupun Sayang. Namun, ia juga tak mengelak jika suatu saat perasaan itu berubah.

"Yokatta ne~! Arigatou ya matsu-chan, bolehkah ku panggil seperti itu?" senang, ya senang kini

menjalar pada Megu Homura. Gadis berambut coklat yang di ikat pony tail namun kesamping

kanan. Ia berteriak gembira ajakan nya di setujui anggukan oleh Matsuri.

Hahh~ mungkin nanti besok aku akan menemui Uzumaki-kun. Setidak nya ia meyakinkan dirinya atau lebih tepatnya menyemangati dirinya agar suasana hatinya tenang.

.

.

.

.

4 gadis berkumpul mengelilingi Meja yang cukup panjang lebar 3x2 meter di dalam ruangan yang lumayan besar. Ruangan Dewan Mahasiswa, yang biasa kita kenal Osis kini tengah mengadakan rapat privasi dadakan meskipun salah satu anggotanya tak ada, itu tak mempengaruhi keadaan yang sangat sangatlah mendadak ini.

"Jadi, bagaimana pendapat mu Naruko-chan?" Sang ketua Dewan Mahasiswa kembali mengubah topic dengan meminta pendapat salah satu anggota nya.

"Jalan yang terbaik adalah, mau tak mau kita harus menerima Uzumaki Naruto sebagai salah satu anggota Dewan Mahasiswa... walau-sejujurnya- enggan... Dan aku menyarankan, kita harus mencari tahu tentang semua hal apa-pun mengenai Makhluk kuning itu tanpa di sadari oleh target kita." ini adalah cara yang terbaik, men-stalk Uzumaki Naruto untuk mengetahui asal usul nya yang tak jelas. Ia tak akan menerima begitu saja mahkluk mesum yang seenak jidatnya mengatakan 'mune' nya 'pettan' setelah me-meremas nya. Ia tak terima, sungguh tak terima!

"Hm, itu cukup logis. Aku setuju dengan Naruko- chan. Menyeleksi dahulu jati diri calon anggota

dengan mengintai nya. Aku menambahkan saran, kita bagi tugas untuk mencari tahu tentang Uzumaki-san. Kaicho sebagai ketua akan menerima data-data dari masing-masing dan menyeleksi nya. Aku akan menginvestigasi nya nanti dengan Hinata-nee sebagai introgator. Naruko-chan akan men-stalk nya. Dan Sara-senpai akan menyamar dengan mendekati Uzumaki-san bertujuan menjadi teman dekatnya. Dan nanti kita kumpulkan semua data yang kita dapat dan kita rundingkan, terima atau tidaknya Uzumaki-san. Bagaimana?"

"Mengesankan, aku setuju dengan Hanabi-chan." Naruko angkat tangan.

"Sejujurnya, mendengar Kalian yang pernah bertemu dengan Makhluk kuning mesum yang di sebut Uzumaki Naruto itu. Aku sedikit enggan menerima gagasan dari Hanabi, tapi berhubung

kelangsungan Anggota Dewan Mahasiswa yang terancam. Mau bagaimana lagi, aku akan berusaha." Sara mengeluarkan pendapatnya, sejujur nya ia tak mau menerima tugas dari gagasan Hanabi, menurutnya itu terkesan dirinya yang memberi nyawa kepada mahkluk buas nan mesum yang rekan nya sebutkan. Tapi mau bagaimana lagi?

"Hm, menarik. Sudah di putuskan, demi kenyamanan dan masa depan Dewan Mahasiswa, Ayo kita berjuang!"

"Yeeaaahhh!"

.

.

.

.

Aku tahu semua ini salah, jalan hidupku ku langgar dengan menutupi kebenaran. Ini semua di mulai saat ku masih berada dalam apa itu yang nama nya kebahagiaan.

Seorang anak kecil hanya mampu diam dalam dinginya air yang berjatuhan dari

menggigil tak mampu untuk tidak mengeratkan pelukan pada tubuh mungil nya. Uap dari setiap

hembus nafasnya menandakan betapa dingin nya malam ini. Entah untuk keberapa kalinya anak kecil ini mengalami hal seperti ini. Namun yang pasti,

dalam usia nya yang hanya bocah berumur 6 tahun itu, mengalami berbagai derita seperti ini

bukanlah yang pertama. Dari serangan fisik, caci dan maki-an. Bahkan sampai ia sempat menyerah karena hati kecil nya tak mampu bertahan. Namun, di usia nya yang belia yang cukup mengalami apa itu kata susah, ia tak begitu menyerah dalam keterpurukan. Namun saat dimana ia tak menyerahlah, sesuatu yang membuat nya berbeda dengan orang lain pun lahir.

"Pergi dari toko ku bocah! Sampah masyarakat sepertimu hanya aka merusak pandangan orang

terhadap toko ku!." Tubuh mungil nya terlempar ke tepian jalan sehabis pemilik toko tempat dimana ia meringkuk melihatnya dan menendang bagian perut nya. Jika di bilang jujur, bocah itu selalu tak mengerti dengan dunia ini. Untuk sekedar memahami jati dirinya pun ia tak bisa. Lantas, dirinya itu siapa? Ia tak mengelak atau melawan ketika tubuh ringkih nya sekali lagi mendapat luka memar. Sudah terlalu sering ia mendapat luka, dan karena itu pula ia sampai tak bisa membedakan mana yang sakit dan mana yang ia tak mengerti.

Bocah kecil itu diam dan tak bergerak dalam jatuh tersungkurnya. Membiarkan sekujur tubuh

kecilnya di basahi oleh air dari langit. Pandangan nya tak bisa ia melihat dengan jelas karena air

merembes membasahi tubuh termasuk wajahnya. Bangun dengan perlahan, ia duduk dan tetap diam.

Lalu ia melihat kesekeliling nya. Orang yang lebih besar berbisik pada rekanya yang berjalan melewati dirinya. Ia tahu mereka membicarakan dirinya, namun juga ia tak peduli.

Segala rasa malu atau pun benci tak bisa ia bedakan. Yang ia rasakan adalah sebuah kekosongan bagaikan kepongpong kosong yang telah di tinggalkan tuan nya. Tak ingin berdiam diri terus menyiksa tubuh pucatnya, ia pun berdiri dengan bergetar menahan rasa lapar dan dingin yang tak tertahankan. Di umurnya yang belia memaksa nya untuk berpikir logis untuk kepentingan hidupnya. Berjalan melewati pertokoan, ia terus melangkah sejauh mana ia bertahan untuk menggerakan tubuhnya. Kadang cipratan air yang menggenang di tepian jalan menerjangnya saat mobil melintas .

Ia tak peduli, sangat tak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Segala sesuatu yang dialami terlalu sulit untuk di terima dan di mengerti bocah itu. Ia hanya ingat tentang nama nya. Selebihnya ia tak tahu. Bahkan ia tak ingat sejak kapan dirinya menjadi 'sampah' masyarakat yang mereka panggil saat mencaci dirinya.

Kini lemas dan panas menerjang kembali tubuhnya, ia jatuh tersungkur di depan sebuah gang kecil yang gelap, bau tak sedap di rasa indra penciumanya. Menatap sayu bertahan agar kedua matanya selalu terbuka, ternyata tak jauh dari jatuhnya, ia melihat tempat sampah di antara dua gedung itu.

Tak ingin mati karena ia sadar tubuhnya tak akan bertahan lama, ia pun mendekat dengan menyeret paksa tubuhnya berjalan dengan kedua tangan yang mengais mencari tumpuan agar bisa menarik raga nya di ambang batas. Sampai akhirnya ia sampai di celah antara dua gedung, akhirnya ia dapat berteduh sejenak dari liar nya sang hujan yang mengguyur dirinya.

"Hehe, dunia ini terlalu kejam untuk bocah seperti ku..." Ia tertawa pelan dengan miris, merayap mencoba mendudukan dirinya bertahan pada tembok gedung dekat kotak besar tempat sampah berada, ia pun menyenderkan punggung lemah nya.

"Sampah seperti ku pantas berbaur dengan sampah." Gumaman terakhir ia lontarkan seiring pandangan nya yang tak bisa lagi bertahan. Tembok di depanya seakan menghitam, tanganya mulai terkulai lemas. Sebelum kesadaran hilang merenggut dirinya, ia menarik kardus yang berada di samping kanan nya untuk menutupi tubuhnya agar menghalangi air hujan yang berjatuhan dari sela celah gang yang beratap kan sebuah asbes kecil.

Dan akhirnya kegelapn mengeuasai bocah itu sepenuhnya

.

.

.

Putih, adalah hal yang pertama ia lìhat ketika kelopak matanya terbuka. Dan merah kekuningan

adalah hal yang kedua saat menyadari jendela di samping nya terbuka.

"Senja ya..." Gumam nya ketika melihat awan yang tak lagi biru. Menggerakan tangan kirinya, kini rasa nyeri dan ngilu tak lagi separah saat pertama ia rasakan. Namun ia juga tak mengelak bahwa rasa nyeri masih ia rasakan.

"Ini bukanlah yang pertama dari sekian banyaknya luka. Hehe."

Naruto Uzumaki bangun dengan tangan kiri memegang sisian ranjang sebagai tumpuan untuk

nya bangun. Berhasil mendudukan dirinya, ia melihat lagi kesekelilingya. Ia masih ingat dengan jelas siapa yang merawatnya. Ya Nona Hyuuga yang kejam dan tega karena di hari pertama menyiksa nya lah yang kini berbalik menolongnya. Untuk ukuran manusia normal mungkin tak akan bisa bangun dan sadar secepat ini. Di lihat dari segi medis atau mana pun, kau tak akan sadar saat tubuhmu melawan gravitasi dari lantai dua menghantam tanah dan jatuh lagi dari ketinggian yang lebih dari lantai dua. Setidaknya butuh 1 atau 2 minggu untukmu bisa sembuh sepenuhnya. Itu pun jika tak ada luka cedera atau luka fatal yang kemungkinan ada. Namun, bagi Narto itu adalah hal yang biasa.

Melepaskan balutan kain dari gips yang menggapit erat lengan kananya agar tetap lurus. Dengan lengan kirinya ia mengambil kain yang melingkari lengan nya. Berhasil membuka semua balutan dari gips itu, rasa ngilu bercampur keram adalah hal pertama yang di rasakanya. Namun untuk seorang masochist seperti dirinya. Rasa sakit dari tubuhnya adalah sebuah kenikmatan bagai zat adiktif.

"Wow, aku tak menyangka, merasakan lagi sekarat setelah sekian lama menikmati kebosanan yang mereka anggap kebahagiaan ternyata cukup mengagumkan." Meregangkan kecil tubuhnya yang masih lemas dengan pelan, ia menurunkan kakinya lalu duduk di samping ranjang menghadap jendela yang terbuka, hembusan angin menerpa wajahnya. Setelah yakin semua anggota tubuhnya kembali berfungsi walau tak semaksimal saat ia 'sehat', Naruto pun memantapkan hati nya untuk berdiri, berjalan, lalu pulang.

"Sepertinya aku akan telat sampai rumah." Ia sadar, tubuhnya masih lemas. Dan itu membuat fakta bahwa ia tak bisa secepat mungkin sampai di rumah. Lihat saja sekarang, untuk berdiri dan berjalan saja kakinya bergetar. Seharus nya ia kini sudah masuk rumah sakit, Namun ia enggan untuk melakukan nya. Matanya memandang seseorang yang terlelap dengan kedua tangan sebagai bantalan kepalanya. Ya Hyuuga Hinata tertidur.

Sekelebat Asumsi langsung terpikirkan oleh Naruto.

Ia tahu, jika Hinata sampai tertidur dan masih memakai Jaz putihnya berarti ia di sini semenjak

Naruto tak sadarkan diri. Yang berarti juga Hinata melewatkan semua sisa pelajaran sehabis istarahat.

"Menarik, gadis dengan sifat iblis dan hati bagai malaikat ada di depan ku. Hehe setidaknya hanya ini dulu aku bisa membalasnya." Naruto tertawa dengan senyum asli nya, dirinya tak menyangka akan menemukan 1 orang lagi yang memiliki kepribadian unik.

Berjalan pelan mendekati Hinata yang masih Terlelap. Ia yang hanya memakai kemeja putih pun

memberikan blazer nya menutupi punggung dan setengah kepala Hinata agar ia bisa merasakan kehangatan lebih.

"Arigatou ne, Hinata-chan." Sebuah bisikan dan panggilan baru pun di lakukan Naruto. Mendapat moment yang baru tak kelak ingin menggoda orang yang terlelap. Tentu saja Hinata tak menanggapinya karena ia tak sedikit pun terusik.

Melangkah pelan, akhirnya ia berjalan keluar dari UKS. Naruko Namikaze yang mendapat tugas mengintai pun mendapat informasi bahwa 'Target' nya berada di tempat yang telah ia pikirkan sebelum nya.

Niatan untuk melihat pun ia urungkan ketika target nya kini telah hadir di depan mata dan baru saja menutup pintu?

'Lelucon macam apa ini?.'

Bersembunyi di balik tembok persimpangan lorong menuju tangga lantai atas. Dirinya membatin tak percaya. Memang benar ia sangat yakin bahwa pasti target nya mendapat luka serius dari apa yang ia lakukan padanya. Tapi secepat inikah ia sembuh dan bisa berjalan? Atau mungkin ada sesuatu hal yang membuatnya tak mendapat luka serius? Atau Target nya memiliki kekuatan supranatural? Ie ie ! Ia tolak asumsi terakhir. Itu sungguh tak masuk akal bagi dirinya. Tapi bagaimana bisa? Mengelak segala asumsi yang tak logis, Naruko lebih memikirkan alasan yang jelas dan terbukti.

Naruto berjalan merayap pada tembok lorong menuju tangga lantai satu. UKS memang berada di lantai 2. Sehingga mau tak mau Naruto harus bertahan extra agar ia dapat pulang.

BRUUK!

Naruto terjatuh dan menopang tubuhnya dengan kaki dan tanganya. Keram, nyeri , kesemutan

bercampur dirasanya. Namun, ia tak begitu peduli. Naruto kembali meraih tembok di samping nya untuk sekedar menopang tubuhnya untuk berdiri, akhirnya kembali berdiri lalu berjalan menuju tangga untuk turun ke lantai satu yang langsung mengarah pada pintu utama dan loker tempat dimana ia bisa mengganti Uwabaki nya.

"Hehe, hampir sama dengan mimpi tadi, Seperti dejã vu." Naruto bergumam, ya ini seperti dimana ia bermimpi tentang dirinya sewaktu kecil. Tertawa pada dirinya mengetahui ia akan mengalami hal yang sama membuatnya untuk tidak tersenyum menertawakan dirinya yang sekarang.

Perasaan iba, simpati, dan kesal bercampur jadi satu menerjang hati Naruko. Dilain sifat Tsundere nya, dirinya adalah orang yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Naruto. Ia tahu ini bukan sepenuhnya salah Naruto. Dirinya lah yang dengan cepat tak memberi Naruto untuk sekedar memberi kesempatan untuk Naruto menjelaskan apa yang ia lakukan terhadap dirinya. Dan ia pun kembali mengingat dimana saat dirinya melempar Naruto.

"Hei tenanglah! Jangan kau sia-sia kan Hidupmu, jika kau memiliki masalah setidaknya hadapilah dengan benar. Bunuh diri bukan lah jalan yang baik!"

"I-ini tidak seperti yang kau bayangkan, sungguh! Walaupun kecil, aku tetap menyukai nya kok."

Naruko menutup mulutnya menyadari bahwa pemuda itu menyangka bahwa dirinya akan bunuh diri, namun dengan amarah hanya karena pemuda itu melakukan sebuah kesalahan yang tak sengaja, ia malah melemparnya dari atap.

Air mata merembes dari sudut kelopak matanya, hatinya ngilu karena rasa bersalah menjalar di

hatinya. Apa lagi melihat orang yang berbaik hati ingin menolongnya meski pun salah paham kini berusaha sekuat mungkin untuk berjalan.

"B-bodoh! Bodoh!." ia mengumpat kecil untuk mengatai dirinya yang bodoh. Bodoh karena sudah mengira bahwa Naruto adalah orang jahat, apa lagi ia mencap Naruto sebagai orang mesum.

Namun, baru saja ia melangkahkan kaki untuk menapaki anak tangga ya pertama, tiba-tiba saja

tubuhnya kehilangan keseimbangan.

'Sial!.'

adalah kata yang langsung ia lontarkan dari benaknya saat ia menyadari bahwa tubuhnya kini

kian condong ke depan. Dengan berat hati ia memejamkan matanya bersiap untuk merasakan benturan dengan lantai kayu dan anak tangga. Mau bagaimana lagi, pasrah adalah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaanya sekarang. Untuk sekedar berpegangan pun ia tak mampu karena ia tahu betul tubuhnya terlalu lemas. Dan ia hanya bisa menutup rapat kelopak matanya.

Suara langkah berlari terdengar jelas menuju arah Naruto, ia menyadarinya namun untuk sekedar menoleh agar tahu siapa itu pun ia tak bisa.

GREEB!

"Go-gomen... Hountoni gomen... "

Tubuhnya di peluk dari belakang, lalu di susul dengan suara lembut nan bergetar menahan tangis. Matanya yang terpejam perlahan terbuka kembali.

Ahh~ selamat, dirinya tak jadi menimpa tangga. Dan ia menyadari bahwa orang yang memeluknya lah yang menolongnya agar ia tak terjatuh. Menoleh kebelakang, ia melihat rambut pirang tergerai dihias bando hitam dengan pernik devil di atas kepalanya. Ah ia kenal gadis ini.

"Ehehe arigatou."

Naruto tertawa seraya bersyukur. Untuk kedua kalinya, ia di tolong oleh orang yang lagi lagi pernah menyiksa nya. Menarik, sungguh menarik. Ia tak salah dengan keputusanya berada di Konoha International High School.

"Baka! Kenapa malah tertawa? Kau baru saja ingin terjatuh!" Dirinya bingung dengan orang yang di peluk nya ini. Masih sempat ia tertawa? Padahal bisa saja hal tadi akan membuat pemuda berambut sama dengan nya jatuh dan meregang nyawa. Tapi kenapa?

"Uhm, hanya saja aku tak bisa tidak tertawa mengetahui fakta bahwa kau lah yang menolong ku. Keadaan kita sama seperti sebelum kau melempar ku dari atap. Dan untuk itu arigatou ne." Naruko tertegun ketika kini ia berhadapan dengan Naruto. Ungkapan dan keadaan wajah Naruto yang lebam membuat hati Naruko kembali mencelos ngilu di rundung penyesalan. Separah ini kah akibat perbuatanya?

"O-oi? Kenapa kau memunggungi ku? Apa kah ada yang salah.? Gome-"

"Baka! A-akulah yang seharusnya minta maaf. Ini semua salahku, a-andai saja aku tak melemparmu dari atap, kau tak akan terluka seperti ini. A-aku... Aku sungguh bodoh tak memberi mu kesempatan untuk berbicara. Dan lihat apa akibat yang telah kuperbuat terhadapmu? A-aku...-"

"Yosh~ yosh~ , aku memaafkan mu. Sudahlah jangan menangis lagi."

"Ta-tapi...-"

GREEB

kini keadaan kembali berbalik. Jika tadi Naruko yang memeluk Naruto, kini Naruto lah yang memeluk Naruko dari depan dan mengelus lembut rambut pirang yang tergerai lurus itu dengan lembut.

"Aku baik-baik saja kok, jadi tenanglah. Aku sepenuhnya memaafkan mu." Perlakuan Naruto yang selayaknya kakak 0memanjakan adiknya membuat hati Naruko menghangat.

Dirinya baru tahu bahwa di peluk oleh seseorang dengan ketulusan itu senyaman ini.

Ke-Tsunderean nya entah mengapa menguap begitu saja. Bahkan untuk sekedar menjawab atau protes pun seakan ia tak bisa mengeluarkan suaranya. Ia lebih memilih merapatkan wajahnya pada dada Naruto yang hangat. 1 orang lagi dengan kepribadian unik telah Naruto temukan. Ia tak bisa untuk tidak tersenyum tulus dalam dekapanya pada Naruko. Entah kenapa, perasaan aneh yang hangat dan belum pernah ia rasakan pun kini menjalar di hatinya.

Butuh beberapa menit mereka akhirnya melepaskan pelukan itu. Wajah bersemu merona adalah hal pertama yang tercetak di wajah Naruko.

"Baiklah, agar kau merasa bersalah lagi, bagaimana kalau kau menolongku dengan memapahku

sampai depan gerbang dan mencarikan taxi ? Jujur, tubuhku masih terasa lemas dan kaku."

"H-huhh, ini bukan berarti ku p-punya rasa atau apa-pun terhadapmu. Aku hanya bertanggung jawab atas tindakanku. Jadi jangan berpikir yang tidak tidak." Ahh~ Tsundere nya kembali lagi seperti semula.

Mendengar itu, Naruto hanya bisa tersenyum kecil. Hehe di luar dugaan. Dirinya bisa bertemu dengan orang-orang berkepribadian yang jarang ia temukan. Mereka pun berjalan menuruni tangga dengan Naruko yang memapah Naruto.

Setelah sampai di depan gerbang, rona merah di kedua pipi Naruko tak bisa hilang entah kenapa. Dirinya merasa begitu aneh saat lengan lemas nan besar itu merangkul bahunya. Hangat. Adalah kata yang mungkin bisa ia untaikan dari banyaknya rasa yang belum ia ketahui.

"T-tunggu di sini, aku akan mencarikan taxi." Melepaskan rangkulan Naruto, Ia pun berjalan ketepian jalan menoleh ke kanan dan ke kiri.

"Aku baru tahu jika jaguar itu adalah taxi." ya, jelas bukan? Melihat Jaguar hitam dorp yang mewah bukanlah hal yang biasa ia lihat sebagai mana taxi biasa nya. Ahh ia tak begitu memperdulikan itu, yang pasti ia tak ingin membuat orang yang membutuhkan menunggu.

"A-aku sudah berbaik hati, jadi dengan ini kita impas." Ujarnya seraya membuang muka ke samping di hadapan Naruto. Pintu Taxi itu terbuka dengan sendirinya tanpa di pegang. Naruto pun berjalan pelan diiringi senyum senang terkesan menahan tawa.

"Hai~ terima kasih banyak, Oujo-sama. Setidaknya tatap lah lawan bicara mu agar ia tahu wajah

manis mu, ehehe." Naruto tak bisa menahan untuk tidak menggoda wajah lucu Naruko. Malu tapi mau, ya itu adalah sikap yang jarang sekali ia temui.

"H-hhmmp."

Semakin merah! Naruko tak mengerti kenapa perasaan aneh berdesir berpacu aneh dalam dirinya mendengar penuturan Naruto. Dan ia pun hanya bisa membuang wajahnya kesamping berharap untuk bisa menjaga image yang bertolak belakang dengan hatinya.

"Sa, jaa matta attode~" memberi salam sebelum ia masuk, ia berhenti sejenak di hadapan Naruko yang menurut pandangan nya memasang fose mengundang.

Lihat saja, tangan nya melipat di depan dada. Wajah merona nya yang terlihat angkuh itu menoleh kesamping memejamkan matanya. Bukan kah itu mengundang sesuatu? Naruko terjengit pelan dengan mata yang langsung terbuka. Sesuatu yang hangat dan lembab baru saja menempel di pipi kanan nya?

Dan lihat apa yang pemuda itu lakukan dengan cengiran khas nya?

"Arigatou~"

Setelah mengecup pipi chuby nya Naruko, ia pun dengan tergesa memasuki mobil lalu menutup

nya.

Dirinya tak bisa berhenti tertawa melihat expresi Naruko yang terbengong memegang pipi nya dari balik kaca mobil.

"Itu tidak sopan, Goushujin-sama." komentar sedikit tak suka di keluarkan sang supir yang memakai pakaian formal ala pegawai kantoran.

"Eh? Benarkah Haku? Tapi aku menyukai nya."

"Jika Goushujin-sama menyukainya, Goushujin- sama bisa melakukanya terhadapku sesuka hati Goushujin-sama."

"Kau laki-laki kan? Mana bi-"

"Sudah kubilang aku ini perempuan Goushujin- sama!."

"A-aa... G-gomen gomen, ahaha wajah mu yang feminim dengan pakaian khas laki-laki terkadang membuatku lupa akan jati dirimu."

"Huh, Walaupun Goushujin-sama sering melihatku te-telanjang pun tetap saja Goushujin-sama

mengacuhkan ku. Apa karena dadaku yang rata seperti jalan aspal ini ?" Haku kecewa dengan Tuan nya, tangan kanan nya memegang setir sedangkan tangan kirinya memegang Mune nya dengan meremas pelan memastikan bahwa asetnya tak sebesar yang di ingin kan pemuda pada umum nya.

"O-oi ! Perhatikan Jalan mu! Gyaaaa. Haku, konsentrasi! konsentrasi!" Naruto panik bukan main saat Haku yang down tiba-tiba dalam menyetir mobil. Hampir saja mobil yang di tumpangi nya menabrak mobil yang berlawanan arah.

.

.

.

.

"KUNING BRENGSEEEEEK~!" Naruko berteriak histerys dengan wajah yang memerah padam setelah ia menyadari bahwa pipinya telah di nodai(?) dan lagi ia tak menyadari bahwa dirinya pun berambut kuning.

Berlari secepat mungkin menuju UKS. Dirinya begitu bodoh karena melupakan tujuan utama nya yang membuat dirinya belum pulang sampai saat ini.

"Naruko no baka! Baka! Baka!." ia terus berlari menaiki tangga sembari merutuki dirinya yang begitu bodoh karena lupa akan tujuan utama nya. Hanya karena rasa bersalah sampai membuat tujuan yang sudah sedemikian rupa ia rencanakan, dan hanya karena tak tega kini malah membuat nya gagal, Gagal!

BRAAK!

"Huwaa Hinata-senpai~ hiks..."

Hinata sampai terjengit kaget dalam tidurnya karena mendengar dobrakan pintu dan di susul tangisan getir nan pilu. Ia menengok kearah pintu yang terbuka lebar. Terlihatlah Naruko yang menutupi wajah merah nya dengan berlinang air mata.

"Naruko-chan? Ada apa?." ia lebih fokus melihat keadaan Naruko ketimbang dirinya. Hinata masih belum sadar akan blazer yang menempel di punggung nya.

"Ma-makhluk kuning itu... Hiks- dia telah mencium pipi ku!."

Heh?

Menyadari apa yang dimaksud Naruko, Hinata langsung menuju tempat ranjang paling akhir

dekat jendela.

Kosong.

"Mustahil..."

Hinata tak percaya dengan apa yang ia lihat, ranjang itu kini kosong dan hanya meninggalkan sebuah Gips dan kain yang memajang tergeletak di atas kasur ranjang.

Hinata kembali tersadar ketika tangan nya memegang blazer yang hampir jatuh itu di pundaknya. Pemikiran yang cepat pun langsung ia Asumsi kan, bahwa Naruto lah yang telah melakukan ini.

"Bagaimana ia bisa berjalan?."

"Aku membantunya sampai depan. Melihat ia berjalan tertatih bahkan jatuh beberapa kali aku pun tak tega lagi saat melihat ia akan terjatuh menimpa tangga."

Hinata sungguh terkejut mendengar penuturan Naruko. Dengan kondisi seperti itu ia mampu berjalan?

Ia sangat yakin bahwa saat ia merawat Naruto, Naruto mengalami demam yang

mengkhawatirkan. Tapi bagaimana bisa ?

"Ne, Naruko... Tak mungkin kan seorang yang sekarat bisa berjalan?."

"Heh?. HEEEEEH?!"

Dan akhirnya, teriakan tak percaya pun menggelegar di ruangan UKS . Sedangkan Hinata sendiri berpikir keras memikirkan apa yang terjadi.

.

.

.

.

Sang mentari kembali menampakan keindahan nya. Dingin nya angin yang bersemilir menerpa

kulit berkurang oleh sinar hangat sang mentari. Pemandangan yang lumrah di setiap pagi pun tak lupuk mewarnai pagi ini.

"Ohayou~!" Tersentak kaget, sang seitô-kaichõ sampai terjengit kecil karena pikiranya yang sedikit melayang buyar begitu saja. Juga keadaan nya yang sedikit lelah nan ngantuk di sebabkan tugas menumpuk. Dirinya tak bisa bersantai saja begitu memiliki waktu luang.

"Ah, ohayou sarã-chan." membalas sapaan paginya pada gadis berambut merah yang kini berjalan di samping nya. Ia menghela nafas tanda bahwa ia sedikit merelax-an tubuhnya.

"Ara? Apa kaicho habis masturbasi semalam?"

"Na-na-nani ? Ja-jangan mengatakan yang tidak- tidak Sarã-chan!"

"Hee~ habis nya wajahmu seperti habis merasakan klimaks sih."

"Mou~ tak bisa kah kau bicara dengan benar Sarã- chan? Ini masih pagi dan kau selalu bicara yang ngeres terus."

"Hm~ hm~ aku punya vibrator milik okaa-chan. Mau?" Dirinya hanya bisa menghela nafas pasrah, tak ada guna nya berdebat dengan Sarã-chan yang selalu saja seperti ini.

"Aku tak menyangka sang Seitõ-kaichõ ternyata mesum." Seketika Ayame dan Sarã berhenti dari langkahnya. Baru saja mereka memasuki gerbang dan mereka mendengar bisikan penuh penuturan namun juga sindiran.

Wajah sang ketua Dewan Mahasiswa tak kelak kini kian memerah mendengar seseorang berbicara.

"Ara? Apa kah kau si kuning brengsek yang masokis mesum dan menjijikan itu?."

Ahh~ kimochi...

"Nde, berapa ukuran penis mu?"

"Heh?."

Ayame Hyousaki menepuk kening nya sendiri saat mendengar penuturan Rekan nya. Sungguh pertanyaan yang menyimpang!

Naruto bahkan sampai mengalami stroke mendadak ketika ditanya seperti itu. Berapa ukuran milik nya? Bibirnya terbuka sedikit dengan sorot mata yang terbelalak kaget tak percaya.

Sungguh, dirinya bahkan tak mengetahui seorang yang memberi pertanyaan yang menyangkut hal seksual seperti itu. Dan satu pemikiran di kepala Naruto.

"Apa kau waras?"

Sarã tersenyum manis seakan pertanyaan dari pemuda kuning didepan nya adalah hal rumah sebagai mana biasanya. Dengan tampang watados nan innocent nya ia menjawab...

"Hai~ aku sangat waras untuk bisa tahu bahwa semalam kau ber-onani sembari melihat majalah

porno di atas kasur mu."

JDUAAAARRR!

Suara petir terdengar jelas dalam benak Naruto. apa dia gila?

"ie, aku tak melakukan hal rendah seperti itu. Aku lebih suka melakukan nya di wc." Nyengir lebar bermaksud memahami topik dan sedikit berbohong demi menyambungkan pembicaraan nya. Ia tak menyadari salah seorang dari mereka bergerak mundur sembari menunjukan wajah ketakutan.

"Entah akan jadi seperti apa jika Dia berada di dalam anggota dewan mahasiswa." ia tak menyangka, bahwa Sarã dan Naruto ternyata Bisa nyambung begitu saja. Ahh lebih baik ia segera pergi menuju loker nya untuk mengganti sepatunya dengan uwabaki.

"Hoo~ souka na? Aku punya vibrator berbentuk kodok, kau mau? Kau bisa memasukan nya di lubang mu."

"TIDAK TERIMA KASIH!" Orang macam apa ini? Naruto langsung saja memucat mendengar penuturan Sara, membayangkan apa yang akan terjadi jika benda itu memasuki nya saja sudah membuat nya merinding.

"Are? Kau mau kemana Kuning-Brengsek-san?"

ia tak peduli! Lebih baik ia pergi menuju kelasnya. Baru kali ini ia menemui seorang gadis yang seperti ini. Sungguh gila!

Aneh, sungguh aneh. Baru kali ini Naruto bertemu dengan orang-orang yang aneh, terlebih lagi, mereka yang aneh adalah seorang gadis! Apa jangan-jangan seluruh gadis di sekolah ini selalu berkepribadian aneh? Arrrgh! Naruto bingung, tapi juga senang entah kenapa. Bagaimana mungkin ia tidak bingung seperti ini jika ia bertemu dengan orang-orang seperti ini?

Pertama, ketua Dewan Mahasiswa yang aneh dan expresionalisme yang tinggi serta sifat nya yang aneh.

Kedua, Nona bermata unik yang kejam seenaknya memberi siksa beruntun berawal dari sebuah kejadian yang mungkin menjadi sebuah pengalaman terindah sekaligus terburuk yang ia rasaka, denan sifat bak iblis dan hati semurni malaikat menambah nilai 'unik' yang di berikan Naruto padanya.

Ketiga, bocah kecil atau gadis loli yang bertubuh mungil dengan kekuatan yang terlampau jauh dari cover nya dengan sifat Tsundere yang menggemaskan namun juga 'sedikit' berbahaya dan baik hati secara bersamaan.

Keempat, gadis berambut merah yang tergerai indah yang ia ketahui bahwa gadis itu menjabat sebagai Fukü-kaichõ dengan lidahnya yang 'lues' dan pintar memainkan kalimat 'kasar' yang mampu membuatmu tersedak angin jika berkomunikasi dengan nya. Sadar bahwa gadis ini terbilang innocent dan sedikit 'linglung' mungkin?

Ahh salahkan dia jika Naruto sampai salah menilai gadis berambut merah itu seperti demikian.

Apa yang kau lakukan jika di tanya:

"Berapa ukuran penis mu?."

Naruto cukup yakin, hanya orang abnormal lah yang akan menjawab nya dengan seksama.

"Hahhh~ entah jenis mahkluk apa lagi yang akan ku temui."

Dirinya hanya bisa menghela nafas, entah harus bersyukur atau mendesah protes. Namun demi meoyembuhkan pengaruh sakit bersifat adiktif yang melekat pada dirinya, ia rela akan melakukan apapun.

Pernah dengar istilah M dan S? Ya M untuk masokist dan S untuk Sadist. Dirinya tak mau lagi bertahan hidup dengan Penyakit seperti itu. Orang-orang selalu beranggapan bahwa orang yang mengidap penyakit semacam itu pasti orang yang kelewat mesum.

Padahal dirinya bukanlah orang yang mesum, dirinya hanya kecanduan akan rasa nyeri yang tiap kali dirasa pada fisik dan batin itu bagaikan narkoba. Itu adalah salah satu alasan dari banyak nya spekulasi yang ia pikirkan bagaimana ia bisa berada di sini.

"Hei kuning brengsek mesum!"

Tuh kan? Baru saja ia berpikir demikian dan sekarang, baru juga ia melangkah menuju lorong setelah mengganti sepatunya dengan uwabaki kini lagi-lagi ia berhadapan dengan gadis tahun pertama berambut coklat yang tergerai sepinggang dengan poni yang merata menutupi kening nya.

Ahh jangan lupa pula mata putih tanpa pupil itu menatap nya tajam.

Eh? Mata putih?

"Hyuuga?"

Naruto menebak, ia yakin. Karna dari apa yang ia ketahui dari Hyuuga yang kejam sampai Hyuuga wanita versi laki-laki itu, satu kesamaan dari Hyuuga ini.

Mata amethys nya yang unik.

"Kau!..."

Ada jeda sedikit lama dari nada terkesan memaksa meminta pertanggung jawaban entah karena apa yang pasti Naruto mulai bingung.

"...-Apakan Hinata-nee sampai-sampai dia terus melamun sesampai nya di rumah?."

Dahi Naruto menyernyit bingung. Hinata? Melamun?

Tunggu dulu memang nya ada apa dengan nya? Terus hubungan Dirinya apa?.

Ia kembali ingat kejadian kemarin sore.

Ah dia ingat! Pasti Hinata bingung karena ia pergi begitu saja meninggalkan UKS .

Sedikit G-R juga mengetahui Hinata ternyata memikirkan nya, sampai ia tak sadar ia telah membeberkan senyum senang namun di anggap seringai mesum oleh Hyuuga Hanabi yang memandang menyipitkan matanya menajam.

"Jangan bilang kau sudah memperkosa kakaku dengan menusukan benda kecil mu yang layu layaknya jamur kekurangan nutrisi itu pada tubuh kakaku ?."

A-apa? Apa dia bilang? Apakah baru saja ia mendengar sesuatu yang menyinggung tentang 'adik'nya... Lagi?

"A-a-aa..."

Ingin sekali dirinya membantah kalimat teramat pedas yang menyakitkan hati nya karena 'adik' kembali lagi di singgung oleh gadis lain dan lagi, 'adik' nya bahkan di samakan dengan jamur layu ?. Alhasil dirinya hanya mampu megap-megap tidak jelas bingung darimana dulu ia ingin membantah.

"Huh, dasar makhluk mesum! Punya penis kecil saja sombong. Awas saja kalau kau mengganggu kakaku lagi, akan ku potong penis cungkring mu itu."

"H-hoi! Yang benar saja! Aku bahkan tidak tahu siapa kau dan tahu dari mana punyaku kecil hah? Tahu aja belum, maen cap aja punya ku kecil. Huh dasar bocah kerdil mesum! Sudah kecil bicaranya mesum pula, a-..."

"Tonjolan di selangkangan mu hanya sekepalan tanganku, itu menunjukan bahwa punya mu kecil."

Mendengar penuturan demikian, Lantas Naruto langsung menutupi bagian selangkangan nya. Astaga~ kami-sama... Kenapa kau suka sekali mempertemukanku dengan makhluk sejenis dengan diriku sih?

Hanabi berlenggang pergi meninggalkan Naruto yang masih meratapi nasibnya yang teramat pedih. Satu lagi, ia menemukan seorang dengan kepribadian yang unik. Gadis Hyuuga dari tahun pertama. Memiliki sifat keras, to the point, dan sekali bicara langsung nge-jleb ke hati !

Dan yang berarti dia adalah gadis ke kelima yang masuk daftar nama siswi 'abnormal' yang ia buat di dalam otak nya.

Tak ingin menjadi beban pikiran, lebih baik ia pergi ke kelasnya. Ia akui kejadian kemarin masih meninggalkan bekas nyeri yang berdenyut cukup sakit saat ia menggerakan anggota tubuhnya.

Tapi ia juga punya kewajiban untuk mempertanggung jawabkan jabatanya sebagai siswa.

"Kenapa kau masih bisa hidup dengan tenang dan seolah kau tak pernah sekarat seperti kemarin?."

Cukup!

Ini sudah di ambang batas kewajaran nasib sial yang ia terima. Kenapa nasib sial selalu saja menghampiri dirinya sih? Pertama ia udah kejer batin di cekoki pertanyaan pribadi dan tawaran untuk sebuah benda sakral yang bergetar.

Kedua, ia kembali bertemu adik dari Nona kejam dan baik secara bergantian yang bahkan masih saja menanyai nya tentang 'adik' kecil nya yang selalu di maki dan di caci dengan menuduhnya bahwa ia telah berbuat tindak kriminal yang dikenal sebagai pelecehan seksual dan di beri lebel 'memperkosa' oleh gadis dari adik nona kejam.

Dan sekarang?

Malah kakak nya yang berdiri di tengah-tengah tangga yang baru saja ia naiki, melipat tangan di depan dada dan Naruto paham betul dengan pose yang sudah memasuki fase meminta keterangan. Ya tidak jauh beda dengan adiknya yang meminta pertanggung jawaban tadi.

"puja kerang laut ajaib! Kenapa aku selalu bertemu makhluk yang menguji kesabaranku, kami-sama~"

Hinata menautkan kedua alisnya menatap bingung pada Pemuda kuning yang berjongkok dan membenturkan kepala nya sembari berdoa entah untuk apa.

Apa pertanyaan yang ia lontarkan salah?

Hinata kembali mengoreksi pertanyaanya barusan. Tak ada yang ganjil dan tak ada yang salah menurutnya. Jelas pertanyaan seperti demikian adalah hal yang lumrah bukan? Mengingat kau merawat seseorang yang sekarat terus kau tinggal tidur, dan ketika bangun. Kau sudah tak lagi melihat orang yang sekarat itu di tempatnya.

"Naru-to-kun~ ada apa dengan mu? Membenturkan kepala itu tidak baik loh~."

Ok, ini sangat melenceng dengan rencana awal yang ingin ia lancarkan. Namun mengingat melihat keadaan yang teramat menyedihkan di depan nya ini. Ia tak ingin menambah beban Pemuda kuning ini.

"Humm, terima kasih atas pengertian anda Ojou-sama. Saya mohon undur diri."

Alih-alih mencairkan suasana, kini malah berubah total! Naruto yang baru saja membungkukan tubuhnya ala buttler itu langsung berlenggang pergi meninggalkan Hinata yang cengo sesaat.

"Eh lihat, anak baru itu memanggil Hinata-senpai dengan sebutan oujo-sama. Kudengar, hanya orang-orang yang sudah merasakan derita dari Hinata-senpai lah yang bersikap demikian."

"Iya benar, Hinata-senpai memang hebat ya, sudah menjadi anggota osis, tegas, dan tak mudah takluk pula. Kyaaa~ Hinata-senpai memang kakoii~ ne."

tersadar setelah mendengar bisikan dari siswa-siswa yang menonton nya. Akhirnya ia sadar, bahwa kini ia berdiri di tengah-tengah tangga dan itu membuat beberapa siswa dan siswi menonton acara meminta ketengan nya pada Naruto

.

"Hm, aku akan meminta nya lain kali~." Hinata tersenyum polos sebelum berbalik lalu menaiki tangga. Tapi itu bukanlah yang terjadi seharusnya.

KLONTANG

Terlihatlah minuman kaleng yang jatuh dari atas menuruni tangga remuk akibat di remas terlalu keras. Dan itu adalah milik Hinata.

"Hiiiiii kowai desu~"

Puja kerang laut ajaib~ ! Demi celana dalam ibu pearl! Apa lagi ini? Baru saja dirinya lolos dari duo Hyuuga, kini tengah berdiri manis di samping pintu kelas sang kepala sekolah yang menyenderkan tubuhnya pada dinding dengan bersidekap ala seorang yang sudah lama menunggu.

"Ikut, jangan membantah, jangan protes, dan jangan melawan!."

"Oh tuhan yang adil dan baik hati~ terima kasih engkau telah memberiku kesialan beruntun di pagi hari ini."

Dirinya hanya pasrah ketika kerah belakang nya di tarik kasar oleh sang kepala sekolah. Dengan kata lain, ia di seret bagaikan sampah yang akan di buang. Yang bisa ia lakukan hanya bisa merana dalam derita nasib sial pagi nya.

.

.

.

.

Bel tanda pelajaran dimulai sudah terdengar sedari tadi, begitu pula aula atau halaman dan lorong kelas di sekolah mulai sepi karena penghuni nya sudah memasuki kelas masing-masing. Pagi ini, pagi yang mungkin akan menjadi awal dari terciptanya sejarah yang berbeda dari tahun sebelum nya.

Berjalan santai, blazer khas musim dingin berwarna biru tua di padu rok saylor sepaha dan tak lupa pula rambut merah nya tergerai indah, sebagian rambutnya ia biarkan tergerai menutupi hampir sebagian wajah ayu nya dan mata senada delima itu menatap gerbang sekolah yang sedang di dorong pelan bertanda bahwa security sekolah ingin menutup nya.

Sesaat sang security yang bernama izumo memandang takjub pada mahkluk tuhan yang terbilang sampurna itu sebelum ia...

DUAAK!

"Kau menghalangi jalan saja, cih."

Izumo jatuh terjembab setelah ia di tendang pas di bokong nya oleh gadis yang baru saja ia anggap malaikat itu. Dan sekarang, label yang Izumo berikan pada mahkluk merah itu telah berganti dari malaikat menjadi iblis.

"Apa? Belum pernah lihat cewek sexy ya?."

Glek!

Izumo menelan ludah melihat gadis itu berkaca pinggang dengan menatap nya garang. Satu pikiran yang terlintas di kepalanya.

Pelajaran Jiraya-sensei #42:ayat 6 : jangan pernah menatap macan betina dengan buas, karena itu akan membuat mu terluka batin.

"A-anda bukan murid dari sekolah ini, ada keperluan a-..." Gugup sebenarnya, Izumo tak tahu kenapa. Tapi ketika gadis itu menatap tajam pada nya lagi seraya mendekat kearahnya dan ucapanya pun terhenti dan...

"...-Pa Whuuaaaarrrrgggg Adiku! Adiku! Gyaaaaaa anjrit sompret!"

Sungguh naas nasibnya, Gadis merah itu menendang tepat diarah selangkangan Izumo. Dan itu mampu membuat Izumo meraung dan berguling-guling seraya memegangi adiknya di iringi tangis derita penuh siksa yang merana tiada reda saat dirasa.

"Hmmp."

Mendengus puas, ia pun berlenggang pergi menuju kedalam sekolah, tepatnya aula halaman depan sekolah.

.

.

.

.

Air mata pilu mengalir deras di kedua pipinya. Duduk dengan tenang sembari menahan isak kecewa akan dirinya yang di rundung nasib sial sedari pagi, ia tak bisa berhentai merutuki kesengsaraan nya.

Menatap garang pada makhluk kuning di depan nya, Tsunade mulai membuka suara.

"Mau tidak mau kau harus menjadi anggota dewan mahasiswa." Tsunade akhirnya mengerti penderitaan macam apa yang Naruto rasakan setelah dirinya di beri tahu oleh pemuda di depan nya ini. Dirinya tak menyangka bahwa Naruto pindah dari sekolah yang elit dan memilih sekolah yang ia pimpin hanya untuk bisa mengobati penyakit bersifat adiktif itu.

"Saya... Hanya ingin bersekolah dengan normal... hiks." Belum cukup kah derita yang ia terima kemarin-kemarin kami-sama?

"Dan anda jangan bercanda! Anggota dewan mahasiswa berisikan orang yang abnormal! Kalau itu terjadi, sama saja bohong." Naruto membantah, apa jadinya jika dirinya bergabung kedalam sekumpulan mahkluk yang abnormal semacam dirinya? Bukannya menyembuhkan yang ada mungkin dirinya malah terjerumus jurang yang baru.

"Justru mereka yang tidak normal lah yang hanya bisa membantu mu. Dengan di kelilingi mereka, sedikit demi sedikit pemikiran normal akan muncul di kepala mu karena ketidak normalan mereka. Aku tak habis pikir, kau membuang apa yang akan menjadi title mu demi menyembuhkan penyakit mu. Kadang ku berpikir, kehidupan macam apa sih yang dulu kau jalani sehingga membuatmu mempenyai penyakit masokist yang akut itu?."

Naruto tersenyum simpul setelah mendengar kalimat terakhir dari sang kepala sekolah.

Tangis derita nya pun sudah hilang berganti menjadi sebuah raut senyum tanpa beban. Beban yang tak terlihat.

"Baik~ baik~ aku akan menjadi anggota dewan mahasiswa. Terima kasih sebelum nya karena anda sudah memberi kemudahan bagi sa-..."

Handphone nya berbunyi, memotong sederet kalimat yang ia utarkan.

"Moshi mo-..."

'Goshujin-sama! Cepat bersembunyi! Aku melihat dia bergerak memasuki sekolahan Goshujin-sama di GPS !.'

Handphone jatuh begitu saja dengan raut wajah yang terkejut bukan main. Bibirnya sedikit terbuka memandang jauh kearah jendela di belakang Tsunade yang kini memandang Naruto bingung.

"Ada apa Uzu-..."

"Naruto~ dimana kah dirimu~"

Tanpa pikir panjang, matanya memandang sekeliling mencari tempat dimana ia bisa bersembunyi.

Lemari piagam, lemari buku, horden, bawah meja, sofa, belakang pintu, langit-langit, jendela.

"Hei? Ada apa denganmu?."

Tak ia hiraukan pertanyaan itu, ia memilih mondar mandir tak jelas mencari tempat bersembunyi.

Dan hasilnya, hampir tak ada celah di ruangan ini untuknya bersembunyi.

"Aku memilih terjun bebas dari pada bertemu mahkluk merah itu! Hyaaaaa~"

PRAANK!

Tsunade melongo tak percaya dengan apa yang dilihat nya. Bagaikan seorang menonton film action secara live, ia hampir tak bisa mengedipkan mata begitu melihat Naruto berlari sembari melempar kursi kearah jendela dekat dengan dirinya dan di susul oleh Naruto setelah kursi itu sukses merusak kaca dari jendela.

"Hhuuuuwwaaaaa~."

BUUGH !

"Manttaaaapp~."

Di akhiri jeritan pilu dan suara bedebum yang cukup nyaring, aksi terjun bebas tanpa pengaman dari lantai dua pun berakhir.

Tsunade masih diam karena shock, tanpa menyadari sesosok gadis berambut merah menyembulkan kepalanya dari balik pintu masuk.

"Are? Ada aksi perampokan kah?."

Tsunade terjengit pelan dan kembali mengatupkan bibirnya yang tadi melongo tak percaya. Ia tersadar setelah mendengar seseorang bicara di belakang nya.

Ia sangat yakin, bahwa tadi yang di dengar dari teriakan Naruto pasti berkaitan dengan gadis merah ini.

Dan ia sekarang tahu mengapa Naruto terjun bebas dari lantai dua tanpa sebab.

Karena alasanya ada tepat di hadapan nya.

"Uhm. sumimasen, apa anda tahu dimana Naruto-kun berada?."

Gadis itu sepenuhnya masuk saat lawan bicaranya tahu akan keberadaan nya.

Sedikit lama lawan bicara nya itu menatap dirinya dari bawah sampai atas berulang kali, dan itu membuatnya risih.

"Perasaan tak ada yang aneh."

Tsunade lebih memilih bergumam akan pemikiranya terhadap gadis di depan nya ini. Tak ada yang mencurigakan menurutnya, lantas kenapa Naruto bisa bertindak demikian ya?

"Heh oppai gede! Aku tanya dimana Naruto, dan kenapa kau memandang ku seperti itu? Apanya yang aneh? Tubuhku sexy, pinggul ku ramping, betis ku tak ada lemak, wajahku cantik, rambutku indah, dan oppai ku pas dan padat tidak seperti milikmu yang seperti pepaya yang matang."

Gadis itu seketika berkacak pinggang menatap tak suka pada Tsunade.

Sumpah! Seumur hidup, baru kali ini dirinya di caci begitu lantang oleh seseorang yang baru saja ia temui.

Brengksek! Dasar tidak sopan! Apa-apaan oppainya di samakan dengan pepaya?

Kurang ajar!

"Heh makhluk cungkring berdada cup ramen, punya dada sekepalan tangan saja sudah sombong. Apa? Mau berantem hah?."

"Cu-cup ramen? Enak saja! Dada indah seperti ini lah yang langka! Tidak dada yang lempeoran seperti jelly itu! Ngajak berantem nih orang, ok ku ladenin."

Nyuut

Nyuut

"A-apa... -Hei ! Lepaskan tangan mu dari dadaku makhluk jalang!."

"Tuh kan, oppai lempeoran gini aja sombong, huh dan ku ya- Akhh! H-hei! Lepaskan tangan mu dari selangkanganku!."

"Masa bodoh! Kau yang memulai, dan aku yang mengakiri!"

Aakhh

Uughh

"Ja-jangan di sana~."

"Hhm, Hhm, enak bukan?."

jiraya, wakil kepala sekolah yang kini melongo tak percaya di iringi darah mengucur deras di kedua hidung nya.

Mendengar suara desahan dan raung kenikmatan dari balik pintu ruang kepala sekolah membuatnya melupakan tujuan utamanya Untuk memeriksa keadaan setelah ia mendengar keributan dari sebelah ruangan nya.

Dan kini, yang ia jumpai malah suara yang seperti sedang melakukan adegan erotis dan sebagainya.

Sebagai hasilnya, ia pun terjerat dengan fantasy liar yang kelewat mesum nya.

"Mwehehehe lumayan untuk adegan chapter depan!."

Menyeringai mesum karena dirinya baru saja mendapat ilham untuk pekerjaan selingan nya, yaitu: membuat Novel 18+ sebuah maha karya yang agung!

.

.

.

.

"Khu khu khu, ketemu lagi kau~ ck ck, keadaan yang sama seperti kemarin ne."

Sasuke bergumam demikian setelah melihat pemuda kuning terkapar lagi ditanah.

Ia alihkan atensi nya keatas, dan ia pun melihat jendela kaca yang pecah.

"Kau selalu saja berhadapan dengan mahkluk kuning yang buas bung. Dan itu dari lantai dua, lumayan cukup. Mwuahahahahah"

Tertawa puas, Pilihanya untuk kekantin membeli cemilan dan melewatkan pelajaran pertama ternyata bukanlah pilihan yang buruk. Siapa sangka ia akan bertemu lagi dengan orang yang membuat 'KING' nya merasakan apa itu derita dengan keadaan yang sama persis sewaktu ia pertama kali bertemu?

Ini adalah waktu yang pas untuk balas dendam!

Dengan santai nya, Sasuke kembali menarik kaki Naruto yang tak sadarkan diri atau lebih tepatnya. Menyeretnya kearah halaman belakang sekolah.

.

.

.

.

"3 hari berturut-turut anak baru berambut kuning itu tidak mengikuti pelajaran. Ada yang tahu makhluk itu kemana?."

Terumi-sensei yang menjadi wakil guru di kelas 2-D pun bingung, pertama kali ia bertemu dengan murid baru nya ia maklumi lah bahwa mahkluk kuning itu di izinkan karena 'kecelakaan' yang di buatnya.

Jangan salahkan dia, salahkan Makhluk kuning itu yang melencengkan kepintaranya dan malah mengukur anggota tubuhnya yang sakral. Sedikit kagum sih mahkluk kuning itu dengan tepat menebak ukuran aset nya dengan bermodalkan sederet rumus matematika yang sederhana. Tapi kekaguman nya langsung lenyap ketika anggota tubuhnya yang sakral itu di umbar begitu lantang.

"Mungkin dia 'lepas landas' lagi sensei, bukankah sensei mendengar suara jendela pecah tadi?."

Shikamaru mengangkat tangan nya menyeruakan pemikiranya.

"Benar juga, tadi aku juga mendengar suara itu. Dan itu pasti dari ruangan kepala sekolah."

"Hee? Padahal aku ingin belajar tentang menghitung karunia agung darinya, ahh sangat di sayangkan sekali."

"Aku bahagia."

Ok, Bisikan terakhir itu sungguh sangat berbeda. Ya itu adalah Suara Hyuuga Neji yang seperti nya sangat senang akan spekulasi bahwa makhluk kuning yang dulu mengejeknya jatuh... Lagi.

Dan Terumi Mei hanya bisa menepuk keningnya pasrah.

"Bertambah satu lagi yang seperti itu, stress akan membuatku cepat pensiun dari pekerjaan ini."

Itu lah gumaman terakhir yang ia lontarkan sebelum kembali mengabsen lagi.

Sial bagi Shikamaru, tahu begini ia tak akan pernah mengeluarkan pendapatnya tentang Naruto, lihat apa yang ia dapat? Kertas yang di remas?

'Kau harus membantu ku!'

itulah isi dari kertas kecil itu. Hanya satu orang yang ia tahu jika sesuatu hal berhubungan dengan Uzumaki Naruto. Matsuri menatap tajam dan kawatir secera bersamaan kearah shikamaru.

"Hahh~ ya tuhan... Aku memang bodoh!."

"Nara! Benturkan kepalamu ketembok sekalian! Jangan diatas meja." Mei Terumi yang melihat Shikamaru membenturkan kepalanya pada meja nya pun membentak Shikamaru.

sungguh naas sekali nasib Shikamaru~

Dan Naruto kembali berakhir di seret oleh Sasuke.

Seorang gadis berambut crimson pun telah tiba, siapa kah ia? Mengapa Naruto sebegitu enggan nya untuk bertatap muka dengan nya?

Bagaimana Nanti Nasib Naruto setelah ia sudah di suruh untuk bergabung dengan anggota dewan mahasiswa yang hampir semua nya cewek abnormal?

Ok, tunggu chapter berikutnya! Mwuahahahahahaha ohokohok!

TBC

A/N

ok, mohon maaf jika rate nya sudah berubah jadi M, dan mohon maaf bila sifat chara d sini sangat melenceng, itu sudah keptusan author untuk mendapatkan alurnya.

Untuk rahasia Naruto pun, sdikit demi sedikit sudah mulai terkuak.

Oh ya, di sini tidak begitu menonjolkan tentang cinta monyet atau sbgainya tntang anak sekolahan. Tapi lebih mementingkan friend ship di bumbui feel like for protagonis .

Dan chara Naruto di sini sangatlah kental.

Ok, mohon maaf atas segala kekurangan Hunt yang hanya manusia biasa ini. Terima kasih sudah membaca fic Hunt yg abal ini.

Hunt hanya minta jejak kalian, itu adalah suport yg Hunt harapkan. Karena dengan itu, Hunt semangat untk melanjutkan nya.

Dan mohon maaf bagi riveuw yg gak Hunt bls . . . .

Akhir kata, Jaa matta atode minna-san XD .

Hunt Houtarou Sign Out.