Author : Amilia Marisca Kyumin Shipper
Cast : kyumin, sibum, dll
genre : family
warning : maaf kalo pendek,banyak typo, dll. Maklum masih pemula.
.
.
..
-Kyumin-
.
Kyuhyun pov
PLAK!
"YA! Apa yang umma lakukan?!" bentakku saat umma menampar pipiku keras.
Kuelus pelan pipi putih yang tak halus ini. Aish, sakit sekali. Dapat kupastikan pipiku ini memerah.
"Kenapa baru mengatakannya?! Waktu di panti kau diam saja. Dasar anak bodoh!" kesal umma menatap tajam padaku.
"Mana mungkin umma!" ujarku kesal.
"Umma tahu. Harga dirimu itu setinggi matahari. Cih! Penakut" ejek umma blak-blakan.
Memang sih yang dikatakan umma kalau harga diriku itu setinggi matahari. Tapi, aku ini bukan penakut. Mana mungkin seorang Cho Kyuhyun ini penakut. Tadi aku hanya belum siap saja.
"Aku bukannya takut umma!" belaku.
"Penakut tetaplah penakut" ejek umma.
Aish! Umma suka sekali mengejek anaknya yang tampan ini.
"Lalu? Apa rencanamu sekarang?" tanya umma.
Wanita yang berada dihadapanku ini terlihat begitu antusias.
"Mollayo umma" jawabku singkat.
Memangnya apa yang harus kulakukan sekarang?
"Apa-apaan kau ini?!" ujar umma dengan nada kesal.
"Seharusnya kau sudah punya rencana untuk mendekatinya" tambah umma dengan senyum yang mengerikan.
"Mendekatinya bagaimana?" tanyaku polos.
Hei, bahkan kami belum saling mengenal. Bahkan, namanyapun aku tak tahu.
"Kau ini bodoh atau apa sih?!" omel umma dengan nada kesalnya.
"Aku bahkan tak tahu nama janda itu, umma" ujarku.
"Aish, kenapa tak tanya dari tadi?! Namanya Sungmin, dulu Choi Sungmin, dan sekarang kembali menjadi Lee Sungmin. Umurnya umma tidak begitu mengerti, yang jelas dia lebih tua darimu" jelas umma.
Ah, Sungmin rupanya. Nama yang cantik, secantik orangnya. Tapi, mana mungkin dia lebih tua dariku?! Dilihat dari wajahnya, dia begitu manis, dan juga tingginya juga yah begitulah, hehehe.
"Apa dia tengah dekat dengan seseorang?" tanyaku.
"Mana umma tahu hal yang sejauh itu" jawab umma.
"Umma payah" gumamku pelan.
"Apa kau bilang?!" kesal umma seraya memukul kepalaku.
Ah, ternyata sakit juga.
Ting Tong~
Untung saja ada bel berbunyi, penyiksaan umma padaku berhenti.
"Siapa ya?" gumam umma pelan yang masih dapat kudengar.
Akupun hanya mengangkat bahuku, pertanda tak tahu.
"Bukakan!" perintah umma kejam.
"Kan ada pembantu umma" ujarku beralasan
Tepat setelah aku mengatakannya, seorang pembantu tiba-tiba datang.
"Ada nona Song bertamu" ujarnya sopan.
Ah, ternyata Qiannie yang datang.
"Suruh saja kesini" perintah umma.
Pembantu itupun undur diri. Tak lama kemudian terdengar suara yang begitu khas di telingaku.
"AHJUMMAAA!" teriak Qian keras.
Aish, bisakah dia itu tidak berteriak.
"QIANNIIIIE!" teriak umma tak mau kalah.
Hhh... Beginilah kalau dua yeoja bar-bar seperti mereka bertemu. Kau harus bersabar Cho Kyuhyun!
Ummapun berdiri kemudian menerima pelukan Qian dengan lapang(?).
"Ahjumma rindu!" ujar umma.
Rindu, ya rindu, umma, tak perlu keras-keras juga.
"Qiannie juga rindu!" ujar Qian tak kalah keras.
Merekapun duduk di sofa, berhimpitan denganku.
"Qiannie akan menginap disini kan?" tanya umma antusias.
"Tentu saja. Aku sudah membawa koperku ahjumma" jawab Qian tak kalah antusias.
"Lalu, dimana kopermu itu?" tanya umma seraya celingukan.
"Masih di bagasi mobilku ahjumma" jawab Qian.
"Ah, begitu rupanya. Kyu, ambilkan koper Qiannie ne!" perintah umma tanpa kata 'tolong' atau apa.
Aish, daritadi aku didiamkan, tak dianggap. Dan sekarang malah menyuruhku dengan seenaknya.
"Tapi kan ada pem..."
"Tak ada tapi-tapian. Umma menyuruhmu, bukan pembantu!" ujar umma seraya menatapku tajam.
Akupun menghembuskan nafas kasar. Aish, selalu saja begini.
Kuulurkan tanganku ke depan Qian, "Kuncinya" ujarku.
Qianpun merogoh saku kemeja yang dikenakannya, kemudian mengeluarkan sebuah kunci, "Tolong ya, Kyunnie sayang" ujarnya semanis mungkin seraya meletakkan kuncinya di telapak tanganku.
Akupun hanya mendengus kesal, kemudian beranjak dari tempat itu, berjalan menuju depan rumah, tempat mobil Qian berada.
Dengan langkah berat, tibalah aku didepan mobil Qian. Kubuka pintu bagasi menggunakan kunci tentu saja, kemudian mengambil sebuah koper besar yang lumayan berat dari sana.
Akupun kembali masuk ke rumah dengan membawa koper milik Qian. Huh, baru juga datang, sudah menyusahkan saja.
Kuedarkan pandanganku ke segala arah, tepatnya ke seluruh penjuru ruang keluarga. Kemana mereka? Kenapa sekarang sudah hilang saja?
"Kyu, cepat kemari! Makan malam!" teriak umma keras.
Kuletakkan begitu saja koper itu di ruang keluarga, kemudian berjalan menuju ruang makan.
Disana sudah terlihat appa, umma, dan Qian duduk mengitari meja makan.
"Kau lama sekali Kyu" ujar appa sesaat setelah aku duduk di kursi sebelah Qian.
"Ahjussi pasti sudah lapar, ne?" tebak Qian yang kurasa memang benar.
Appa hanya tersenyum malu. Ckckck, ada-ada saja appa ini.
Kamipun menikmati makan malam dengan tenang. Tak ada teriakan dari umma maupun Qian. Huh, damai ne?
Setelah makan malam, kami berempatpun berkumpul di ruang keluarga.
"Bagaimana keadaan orang tuamu Qiannie?" tanya appa mengawali perbincangan.
"Baik ahjussi. Mereka menitip salam pada kalian" jawab Qian dengan senyum yang tak pudar.
"Lalu, pekerjaanmu?" tanya umma seraya mengelus puncak kepala Qian.
Aish, sebenarnya yang anaknya itu siapa sih?!
"Berjalan lancar, ahjumma. Bahkan aku sekarang sudah menjadi manager" ujarnya bangga.
"Lalu, kau tinggalkan pekerjaanmu?" tanya appa.
"Aniyo. Aku hanya sedang mendapat liburan" jawabnya.
Ah, aku diabaikan lagi. Bersabarlah Cho Kyuhyun!
"Sudah berniat untuk menikah?" tanya umma.
Aku hanya mendengarkan saja, tak berminat ikut dalam perbincangan.
"Aku kan hanya menunggu Kyunnie, ahjumma" ujar Qian seraya menoel pipiku.
Dia selalu saja mengatakan itu kalau ditanyai tentang pernikahan. Apa tak ada alasan lainnya? Bilang saja kalau tak laku. Hahaha.
"Sayangnya dia sudah mulai melupakanmu" ujar umma dengan nada dibuat sesedih mungkin.
"Jinja? Bagaimana bisa? Apa ada yeoja lainnya?" tanya Qian dengan nada kecewa yang kuyakin 10000% dibuat-buat.
"Kan sudah kukatakan tadi di telpon" ujarku datar.
"Ah, yeoja yang di panti yang kau ceritakan tadi? Memangnya seperti apa yeoja itu sehingga membuat Kyunnieku berpaling dariku?" tanya Qian mendramatisir.
Aish, dia cocok menjadi aktris. Mudah sekali bermain peran.
"Dia janda" ujar umma singkat.
"MWO?!" teriak Qian kaget.
Aish, berteriak lagi. Memang apa yang begitu mengejutkan dari ucapan umma?
"Jinjayo? Kyunnieku menyukai janda?" tanya Qian dengan nada tak percaya.
"Jinja?" tanya appa ikut kaget.
Kukira umma sudah bercerita pada appa.
"Ne, Hannie. Anakmu ini menyukai janda beranak satu" ujar Heechul.
Kenapa sebutannya tak enak sekali? Janda beranak satu.
"Ah, aku pusing!" ujar appa seraya memegang kepalanya.
Qian memelukku dengan erat dari samping.
"Kyunnieku tak boleh melupakanku!" ujarnya manja.
Aish, mulai lagi.
.
Kyuhyun pov end~
...
.
-KYUMIN-
.
.
"Kibummie, perkenalkan. Ini Sangyoonnie" ujar seorang namja tampan pada seorang yeoja cantik yang berada di hadapannya.
Sang yeojapun terlihat begitu antusias mencari perhatian bayi bernama Sangyoon itu.
"Eungg...~" Sangyoon bukannya merespon sang yeoja, malah mengabaikannya. Lebih memilih mainan yang digenggamnya.
"Yoonnie sayang, ini Bummie umma" ujar Siwon, sang namja, dengan sabar.
Sang bayi merespon ucapan ayahnya dengan gelengan kepala. Entah mengerti atau tidak apa yang diucapkan sang ayah.
Kemudian bayi itu kembali bergelung dengan mainannya.
"Sepertinya dia tak menyukaiku, Wonnie" ujar sang yeoja bernama Kibum murung.
"Dia kan baru melihatmu, mungkin dia merasa kurang familiar denganmu Bummie. Jangan bersedih begini" ujar Siwon menenangkan sang kekasih.
Dibelainya rambut panjang Kibum yang tengah di kuncir kuda itu.
"Kalau sudah mengenal, pasti Yoonnie bisa menerimamu" lanjutnya dengan pelan.
Didekatkan kepalanya kearah kepala sang kekasih. Kemudian mengecup singkat pipi putih bersih Kibum.
"PAAAA!" teriak sang bayi mungil.
Bayi itu terlihat jelas tidak suka dengan apa yang dilakukan ayahnya pada yeoja asing didekatnya itu.
Sangyoonpun memukul-mukul paha Kibum yang duduk didepannya dengan mainan yang dipegangnya.
"Jangan begitu, Yoonnie. Yoonnie tak boleh nakal" nasehat Siwon seraya menghentikan tangan mungil itu.
Namun, nasehat dari sang ayah dianggap sebagai bentuk rasa marah oleh sang bayi.
"Hiks... Hiks..." isakan mulai keluar dari bibir mungil itu.
"Jangan menangis Yoonnie" ujar Kibum seraya mengulurkan tangannya, ingin membelai pipi bulat itu.
Uluran tangan Kibum ditepis oleh Sangyoon dengan kasar.
"HUEEE!" pecah sudah tangis sang bayi.
Suara tangisan itu terdengar begitu keras.
Siwonpun mengangkat tubuh sang anak, menimang-nimangnya dengan berdiri.
Kibum yang merasa bersalahpun juga ikut berdiri. Namun, yang dilakukannya hanya melihat saja, tak melakukan apapun.
"Yoonnie kenapa?" tanya sebuah suara yang tiba-tiba muncul dari dapur.
Yeoja itupun mengambil alih tubuh kecil bayi yang menangis itu.
"Ada apa sayang? Umma disini. Ssss~" ujar sang yeoja seraya menimang-nimang sang bayi.
"Hiks.. Hiks... Papapapa" tangisan bayi itu kini berubah menjadi isakan.
Sang bayi menunjuk-nunjuk dua orang yang berdiri dihadapannya.
"Ada apa oppa?" tanya Sungmin, sang yeoja.
"Dia tak menyukaiku" ujar Kibum menjawab pertanyaan Sungmin.
"Eh? Kenapa?" heran Sungmin seraya menatap bayi yang digendongnya.
Siwonpun hanya mengangkat bahunya saja, pertanda kalau dia juga tidak tahu.
"Yoonnie sayang, ini Bummie umma. Yoonnie tak boleh bersikap nakal pada Bummie umma" ujar Sungmin lembut.
Sangyoonpun menenggelamkan kepalanya di dada Sungmin. Menolak kehadiran yeoja cantik yang berada di sebelah ayahnya.
"Aish, kenapa dengan anak ini?" gumam Sungmin bingung.
"Mungkin Yoonnie mengantuk oppa, unnie. Jadi rewel begini" ujar Sungmin sambil menimang bayi yang digendongnya.
Siwonpun memeluk yeoja yang lebih pendek darinya itu dari samping, berusaha memberi pengertian.
"Eum, mianhae unnie" ujar Sungmim merasa tak enak.
"Tak apa. Yoonnie mungkin hanya butuh waktu saja untuk mengenalku" ujar Kibum dengan senyum yang dipaksakan.
"Ne. Mungkin seperti itu. Kalau begitu, Minnie ke kamar dulu, ne?" pamit Sungmin kemudian berlalu menuju kamar.
Siwonpun melepas pelukannya, kemudian memutar tubuh Kibum agar berhadapan dengannya.
"Semua butuh waktu" ujarnya seraya mengecup puncak kepala sang kekasih.
"Kaja, kita pamit ke ahjumma dan Minnie" lanjutnya setelah selesai mengecup(?).
Merekapun berjalan beriringan dengan saling bergandengan tangan, benar-benar romantis sekali.
Sesampainya di dapur, merekapun melihat sesosok wanita paruh baya yang terlihat sibuk dengan masakannya.
"Ahjumma!" ujar Siwon seraya menepuk pelan bahu sang wanita.
"Ne?" tanya sang wanita paruh baya setelah mematikan kompornya.
Wanita bernama Leeteuk itupun menoleh, dan membalikkan tubuhnya.
"Kami mau pamit pulang" ujar Siwon sopan.
"Eh, tidak makan siang dulu?" tanya Leeteuk seraya mengusap-usapkan telapak tangannya dengan apron yang dikenakannya.
"Aniyo, ahjumma. Kami makan siang di rumah saja" tolak Siwon dengan ramah.
"Arra. Kalau begitu hati-hati dijalan, ne?" ujar Leeteuk seraya mengantar Siwon dan Kibum kedepan bangunan panti.
"Titip salam untuk Minnie dan Yoonnie, umma" ujar Siwon.
"Pasti, titip salam untuk umma dan appamu juga ya!" balas Leeteuk.
"Ah, kalian seperti pengantin baru saja" tambah Leeteuk setelah menyadari kalau Siwon dan Kibum masih bergandengan tangan.
Kibumpun menarik paksa telapak tangannya yang digenggam sang kekasih sambil tersenyum malu.
"Tak usah malu pada ahjumma, Kibummie" goda Leeteuk seraya mengusap puncak kepala Kibum.
"Kami pulang dulu, ahjumma" ujar Siwon.
Setelah itu, dua insan itu berjalan beriringan tanpa bergandengan tangan kearah mobil mewah yang terparkir manis didepan pekarangan panti.
"Mereka terlihat serasi" gumam Leeteuk sebelum masuk kedalam rumah panti.
.
.
_
.
Suasana di ruang makan itu terlihat begitu mencekam. Hanya suara piring serta sumpit yang beradu yang memenuhi ruang makan itu.
"Umma, tadi kami ke panti" ujar Siwon mengawali.
"Oh" ujar Jaejoong singkat tanpa minat.
Kembali suasana sunyi itu tercipta. Kibum yang berada disamping Siwonpun hanya mampu menunduk seraya menikmati makan siangnya.
Kesunyian itu berlanjut setelah mereka menyelesaikan makan siang mereka.
Dengan malas, Jaejoong berjalan menuju halaman belakang.
Siwon dan Kibumpun mengikutinya.
"Umma" panggil Siwon setelah mereka berada di halaman belakang.
Jaejoong terlihat duduk santai seraya menatap tanaman-tanaman yang bersinar karena adanya cahaya matahari yang begitu terang itu.
"Hm?" tanya Jaejoong dengan nada malas.
"Kami mau berbicara sesuatu pada umma" ujar Siwon.
Sedangkan Kibum hanya diam saja, seraya tangannya memainkan ujung pakaian yang dikenakan Siwon. Yeoja itu benar-benar gugup rupanya.
"Bicara saja" balas Jaejoong ketus.
"Kami meminta restu dari umma untuk menikah" ujar Siwon mantap.
"Aku tak perduli lagi. Percuma saja, kau tak mau mendengar ucapan umma. Kalau ingin menikah, menikah saja" ujar Jaejoong dingin.
Kibumpun mencengkram kuat ujung pakaian Siwon. Penolakan kembali menghampirinya.
"Kami memerlukan restu dari umma juga" ujar Siwon.
"Kau tak membutuhkannya" bantah Jaejoong masih tetap dingin.
"Umma, jangan begini" rengek Siwon dengan nada memelas.
"Sudah kukatakan lakukan apa maumu! Aku tak perduli lagi!" bentak Jaejoong kemudian kembali masuk kedalam rumah, ke kamarnya lebih tepatnya.
Siwonpun menatap nanar punggung ibunya yang menjauh.
Kemudian, tatapannya beralih pada kekasihnya yang terlihat begitu sedih mendapat perlakuan tak menyenangkan dari ibunya.
Siwon mengelus pelan bahu mungil sang kekasih, memberi kekuatan agar tetap bersabar menghadapi perlakuan ibunya.
.
-KYUMIN-
.
Kyuhyun pov~
Hari sudah sore, waktu yang tepat untuk berjalan-jalan.
Kulangkahkan kakiku menuju garasi, tempat mobilku berada.
"Kyunnie mau kemana?" tanya seseorang tiba-tiba saat aku masih berdiri disamping mobilku, Qiannie.
"Hanya jalan-jalan. Mau ikut?" tawarku pada Qian
Mungkin dia membutuhkan istirahat dari pekerjaannya yang kurasa berat itu. Tak ada salahnya bukan kalau aku mengajaknya berjalan-jalan?
"Ne! Aku ambil tasku dulu" ujarnya kemudian berlari menuju kamarnya.
Memang keluarga kami menyediakan kamar untuknya. Dia benar-benar spesial bukan?
Akupun masuk kedalam mobilku, kemudian mengendarainya menuju depan rumah.
Kutekan klakson mobil dengan membabi buta, sekedar agar Qian lebih cepat.
TINN~ TINN~ TINN~
Bukankah katanya tadi hanya mengambil tasnya saja? Kenapa lama sekali?!
Beberapa saat kemudian, terlihat Qian tengah berlari kearah mobilku.
Diapun membuka pintu mobil disebelahku, dan masuk kedalam mobil, kemudian menutup pintu mobil kembali.
"Lama sekali" gerutuku yang ditanggapi dengan cengirannya saja.
"Kaja! Jangan buang-buang waktu!" ujar Qian tak tahu diri.
Akupun hanya menghembuskan nafas pasrah, kemudian melajukan mobilku dengan kecepatan sedang.
Disinilah kami, duduk berdua di bangku taman. Melihat sekeliling taman kota yang tengah sedikit ramai.
"Kyu, aku mau ice cream" ujar Qian sambil menarik-narik lengan pakaian yang kukenakan.
"Beli saja sendiri" ujarku kejam.
"Belikan" ujarnya tak kalah kejam.
Dua detik kemudian, kami tertawa bersama entah karena apa.
"Tunggu disini dulu" ujarku dengan senyuman.
Akupun berjalan menjauhi Qian, mencari tukang ice cream.
Setelah menemukannya, akupun membeli dua cup ice cream dengan rasa vanila, kemudian kembali lagi ketempat yang tadi.
Kulihat Qian tengah bermain dengan sesosok bayi yang ada dipangkuannya.
Siapa bayi itu? Aku tak bisa melihatnya karena bayi itu memunggungiku.
Kulangkahkan kakiku mendekat, kemudian duduk di sebelah Qian.
Sang bayi yang merasakan kehadiranku itupun menolehkan kepalanya.
Tunggu dulu, sepertinya aku mengenal bayi ini. Wajahnya sudah tidak asing lagi bagiku.
Kutatap intens bayi yang tengah menatap ingin pada cup ice cream yang ada di tanganku.
Ah, aku ingat sekarang! Ini bayi yang ada di panti, bayi janda itu!
Siapa ya namanya? Kuputar kembali otak jeniusku ini, mencari sebuah nama yang pernah disebutkan oleh gadis kecil yang ada di panti.
Yoonnie! Ya, namanya Yoonnie! Kau memang jenius Cho Kyuhyun!
"Yoonnie mau ice cream?" tanyaku seraya menyodorkan satu cup ice cream ke hadapan bayi itu.
"Kau mengenalnya, Kyu?" tanya Qian takjub.
"Tentu saja" jawabku dengan nada sedikit sombong.
"Bagaimana dia bisa disini?" tanyaku heran.
Kusuapkan sesendok kecil ice cream pada bayi itu. Setelah melahapnya, bayi itu terlihat menutup kedua matanya, menggerak-gerakkan mulut kecilnya, serta membuka tutup kedua telapak tangannya. Aigoo, lucu sekali!
"Aku juga tak tahu. Tiba-tiba saja dia ada di kakiku, dan menarik celanaku, jadi kupangku saja. Bagaimana kau mengenalnya?" ujar Qian.
Kudekatkan jarak diantara kami.
"Dia ini anak janda yang kusukai itu" bisikku tepat di telinga Qian.
"MWO?!"
.
-KYUMIN-
.
TBC?/END?
Mian updatenya lama+pendek+ngebosenin... #bungkuk2
makasih sama yang udah RnR!
n jangan lupa RnRnya!
