Author : Amilia Marisca Kyumin Shipper
Cast : kyumin, sibum, dll
genre : family
warning : maaf kalo pendek,banyak typo, dll. Maklum masih pemula.
.
.
..
-Kyumin-
.
Sungmin pov~
Hari ini, kami-aku, Sangyoon, dan Jungmo- tengah berjalan-jalan di taman kota. Kami terlihat seperti keluarga bahagia, bukan? Hehehe.
Biar kujelaskan terlebih dahulu. Jungmo, Kim Jungmo, adalah rekan kerjaku di perusahaan. Kami memang dekat sejak kuliah dulu hingga sekarang. Kami seumuran, namun dia belum menikah.
Kalau semasa pernikahanku dulu, Siwonnie oppa memiliki Kibummie unnie sebagai tempat selingkuhannya, akupun juga memiliki selingkuhan, Jungmo orangnya. Selain tampan, namja ini juga pintar dan memiliki hati yang baik serta lembut.
Namun sayangnya, Kim Jungmo ini hanya menganggapku sebagai adik kecilnya saja, dia bilang wajahku memang pantas bila menjadi adiknya. Berbeda denganku yang memiliki perasaan yang spesial untuknya. Hei, mana ada yeoja yang tidak luluh saat seorang namja tampan, kaya, berpendidikan, baik, selalu memperhatikanmu saat tengah sedih dan terpuruk?
Ya, memang aku menyukainya sejak dia dinyatakan sekantor denganku. Melihat wajahnya setiap hari merupakan candu tersendiri bagiku. Apa ini dikatakan sebagai cinta? Ah, aku tak perduli dengan itu.
"Kenapa melamun?" tanya Jungmo sekembalinya dari penjual balon.
Ditangannya terdapat sebuah tali yang bersambungan dengan balon.
"Tidak, siapa bilang aku melamun?" sangkalku tak terima.
"Tidak melamun? Yakin?" godanya seraya duduk di sebelahku.
Ah, digoda seperti ini saja olehnya membuat wajahku memerah.
Sangyoon, bayi yang ada di pangkuanku terlihat begitu antusias saat melihat balon yang ada didekatnya.
Untuk menyembunyikan kegugupanku, akupun mengalihkan perhatianku pada bayiku.
"Ini namanya balon" ajarku pada bayi yang tengah kupangku seraya menunjuk balon.
"Yanyanyanya!" ujarnya antusias sambil berusaha meraih balon.
Telapak tangan kecilnya dibuka lebar dengan gaya menggapai, tubuh kecilnya bahkan ikut bergoyang, seakan ingin berdiri.
"Ini" ujar Jungmo seraya menyerahkan tali yang digenggamnya pada telapak tangan kecil Sangyoon, kemudian menutup telapak tangan itu.
Sangyoon hanya memperhatikan telapak tangannya yang diberi seuntai tali.
"Nyanyanyanya!" ujarnya tak terima.
Aku tahu, yang diinginkannya balon, bukan tali.
"Bagaimana menjelaskannya?" tanyaku pada diri sendiri.
"Biarkan saja, nanti juga dia mengerti sendiri saat balon itu mengikutinya ketika dia membawa talinya" jawab Jungmo santai.
"Ah, benar juga" ujarku membenarkan.
"Uuugh..." gumam bayiku.
Sangyoon berusaha turun dari pangkuanku.
Akupun dengan santai menurunkannya diatas rerumputan. Hhh~ tak apalah kotor sedikit, berani kotor itu baik. #korban iklan
Saat dia merangkak, pandangan matanya dipusatkan pada balon yang ada diatasnya.
Ah, dia seperti membuktikan apa yang dikatakan Jungmo. Lucu sekali!
Setelah beberapa detik, diapun berhenti dan duduk diatas rumput.
Kuperhatikan saja setiap gerakan yang dilakukannya.
"Yoonnie benar-benar menggemaskan ya" ujar Jungmo.
"Ne, dia menggemaskan sekali" ujarku membenarkan.
"Dia mirip denganmu" ujar Jungmo.
Akupun diam, tak mengatakan apapun. Setiap orang yang melihat tingkah Sangyoon pasti mengatakan hal yang sama. Mendengarnya saja sudah membuatku senang, aku sudah menjadi ibu yang baik bukan? Walaupun sebenarnya akupun bingung, bagaimana bisa Sangyoon mirip denganku? Apalagi wajahnya sama tampannya dengan Wonnie oppa. Bagaimana bisa? Apa ini yang namanya kebetulan?
Untungnya Jae umma mau menerima Sangyoon layaknya cucunya sendiri, aku jadi tak merasa tertekan.
"Lihat, kau melamun lagi" tegur Jungmo seraya menepuk dahiku pelan.
Kutolehkan kepalaku padanya, "Siapa yang melamun?!" sangkalku tak terima sambil membalas tepukan dahinya di dahiku dengan mencubit hidung mancungnya.
"Lalu yang tadi apa namanya?" ejeknya dengan tangan yang mencubit pipi tembamku.
"Jangan dicubit! Sakit tahu!" sungutku kesal.
"Jinja?" tanyanya dengan nada dibuat-buat, namun tangannya tetap mencubitku.
Kupegang pergelangan tangannya, kemudian melepaskannya dari pipiku.
"Kau pikir aku ini boneka apa?!" sungutku sebal.
"Memang kau bukan boneka ya?" godanya.
Pipi tembamku kugelembungkan, bibirku kukerucutkan.
"Lihat! Yang seperti ini bukan boneka?" ujarnya seraya mengusap-usap poniku.
Ah, sentuhan lembutnya membuatku melayang!
"Jangan menggodaku!" seruku dengan menutupi kegugupanku.
"Adik kecilku ini lucu sekali. Hahahaha" ujarnya seraya mengusap kepalaku lembut.
Lihatkan?! Dia menganggapku hanya sebatas adik saja, tak lebih! Apa aku tak boleh berharap?
"Aku bukan adik kecil! Bahkan umur kita sama!" sungutku.
"Jinja? Aku tak yakin, kupikir kau memalsukan akta kelahiranmu" ejeknya.
"Aish!" gerutuku.
Kutolehkan kembali kepalaku kearah depan. Mencari-cari keberadaan Sangyoon.
Tunggu, bukankah tadi bayiku duduk di rumput yang ada di sebelah sana? Tapi, sekarang dia kemana?
"Jungmo-ya!" ujarku dengan nada sedikit panik.
"Waeyo?" tanyanya santai.
"Yoonnie kemana?" tanyaku dengan nada bergetar.
Ingin menangis rasanya.
"Bukankah dia ada di..." perkataannya terputus saat tak mendapati siapapun diarah yang ditunjuknya.
Ya Tuhan! Kemana Sangyoonku? Kenapa dia suka sekali hilang seperti ini?!
Memang ini bukan pertama kalinya Sangyoon hilang, tapi tetap saja aku merasa begitu khawatir dengan bayi aktifku itu. Walaupun dia namja, tapi tetap saja dia masih bayi yang masih belum bisa berjalan ataupun berbicara.
Setetes air mataku keluar dari pelupuk mataku. Lee Sungmin baboya! Merawat dan menjaga bayi saja tak becus begini!
Kulihat Jungmo menggenggam telapak tanganku, "Jangan mengangis, aku yakin kalau dia masih berada di sekitar sini " ujarnya dengan sebelah tangannya menghapus air mataku.
"Kaja, kita cari bersama" ujarnya meyakinkanku seraya berdiri dan menarikku serta.
Kamipun berjalan beriringan, mencari Sangyoon di area taman kota ini.
"Permisi, apakah anda melihat bayi laki-laki yang tengah merangkak di sekitar sini? Dia memakai baju warna biru dan memegang balon" tanya Jungmo pada seorang pejalan kaki yang lewat.
"Aniyo, saya tidak melihatnya" ujarnya ramah.
"Terima kasih" ujar Jungmo dengan membungkukkan badannya sedikit. Sopan sekali namja ini.
Kamipun kembali berjalan, meneliti setiap sudut taman. Pandangan mata kami tertuju kearah bawah. Tentunya Sangyoon hanya bisa merangkak, dan tingginya tidak mencapai lututku bila merangkak.
Lima belas menit kami mencari, namun tak ada hasil apapun. Sangyoon bak hilang di tengah taman kota.
"Apa kita perlu mencarinya di tempat sampah?" tanya Jungmo dengan nada bercanda.
"YA! Kau pikir anakku itu apa?!" sungutku kesal.
"Ukuran tubuhnya kupikir muat untuk masuk ke bak sampah" ujarnya lagi.
"YA!" seruku tak terima.
Walaupun Jungmo membuatku kesal, paling tidak dia mencoba untuk mengurangi rasa sedihku, dan kupikir itu berhasil.
"Eh? Tadi Sangyoon benar memakai pakaian biru kan?" tanya Jungmo.
"Ne, seingatku sih begitu" jawabku yakin.
"Dan sepatu merah?" tanyanya lagi
"Iya" jawabku.
"Jika dilihat, tak serasi sekali. Apalagi kaus kaki yang dikenakannya berwarna kuning, dan dia mengenakan syal berwarna hitam" ujarnya.
Memang kalau dipikirkan, tak serasi juga. Tapi aku senang memakaikannya seperti itu, seperti aku, fashion teroris. Hehehe
Tapi, tunggu dulu...
"Darimana kau tahu?" tanyaku heran.
Apa dia mengingatnya hingga sedetail itu?
"Lihat itu!" ujarnya seraya mengarahkan kepalaku kearah yang dari tadi ditujunya.
Disana, ada sesosok bayi yang tengah kucari dari tadi tengah tertawa lebar di pangkuan seorang yeoja.
Benar, itu Sangyoonku!
"Ayo kita kesana!" ujarku bersemangat.
Kutarik paksa pergelangan tangannya kearah Sangyoon berada.
"Permisi" ujarku sopan saat sudah berada dihadapan dua orang yang terlihat sedang asyik dengan bayiku.
Ketiga orang itupun menoleh bersamaan.
.
.
Sungmin pov end~ .
.
.
Kyuhyun pov~
.
.
"Permisi" ujar sebuah suara yang benar-benar nyaring di telingaku.
Kutolehkan kepalaku kearah asal suara, dan kulihat wajah yang selalu bertebaran di otakku sejak pertama kali aku melihatnya.
"MAMAMAMAMA!" teriak bayi yang ada dipangkuan Qian semangat.
Bayi itu terlihat begitu bahagia saat menatap wajah ibunya, sama sepertiku yang juga bahagia. Namun, tak mungkin bukan kalau aku memperlihatkannya seperti cara yang dilakukan Yoonnie? Harga diriku bisa hancur seketika.
Bayi itu mengangkat-angkat tangannya keatas, ingin digendong Sungmin.
"Jadi, ini ummamu, Yoonnie?" tanya Qian sebelum bayi itu berpindah kearah Sungmin.
"Ne, saya ibunya. Tapi, bagaimana anda mengenal anak saya?" tanya Sungmin heran.
Apa yang kau katakan Qiannieku sayang?!
"Ah, kekasih saya yang memberitahukannya. Iya kan jagi?" ujar Qian dengan nada manis.
Aish, kekasih katanya?!
Dia selalu mengatakan kalau aku ini kekasihnya pada teman-temannya. Kurasa itu wajar, Qian kan yeoja kesepian yang tak punya namjachingu. Membantunya seperti itu tak ada salahnya juga.
Tapi, kenapa mengatakan aku kekasihnya saat ada dihadapan Sungmin?!
"N..Nee.." jawabku gugup.
"Dia pernah melihat anda dan bayi anda saat di panti asuhan" ujar Qian dengan senyuman.
"Jinja?" tanya Sungmin agak bingung.
Apa dia melupakanku? Setidakberartinya kah diriku?
"Ne, baru kemarin. Apa anda tidak mengingatnya?" tanya Qian.
Aish, tatapanku kini beralih pada namja yang tidak setampan diriku ini yang berdiri disamping Sungmin.
Pandanganku turun kearah tangan mereka yang bertautan.
Apa-apaan ini?!
Siapa dia?! Beraninya menyentuh calon istriku!
"Ah, anak nyonya Cho yang kemarin?" ujar Sungmin.
"Ne, benar sekali" ujar Qian.
"Maaf kalau saya tak mengenali anda. Dan juga maaf sudah merepotkan, pasti anak ini nakal sekali" ujar Sungmin tak enak seraya menggendong Yoonnie.
"Tidak, Yoonnie tidak nakal sama sekali. Anda beruntung memilikinya" ujar Qian yang disambut dengan senyum tipis Sungmin.
Kenapa dengannya?
"Ya sudah. Kami permisi dulu. Terima kasih sudah menjaga Yoonnie" pamit namja yang tak setampan diriku itu.
"Ne, tak masalah. Kami malah senang bisa membantu" ujar Qian sebelum tiga orang itu pergi dari hadapan kami.
"Manis sekali" ujar Qian tiba-tiba.
"Apanya yang manis?" tanyaku bingung.
"Tentu saja yeoja tadi. Kau harus merebutnya" jawab Qian.
"Merebut? Dari siapa?" tanyaku polos.
Qianpun memukul kepalaku, sama seperti yang biasa umma lakukan.
"Tentu saja dari namja tadi, bodoh!" ujarnya kesal.
"Memangnya tadi siapa yang mengatakan kalau aku ini kekasihnya?!" ujarku tak terima dikatakan bodoh.
Qianpun hanya menyengir garing.
"Maaf, kebiasaan" ujarnya dengan senyum garing.
"Makanya, carilah namja yang mau menjadi kekasihmu. Jangan jadikan aku sebagai tumbalmu" ujarku kejam.
Qianpun merengutkan bibirnya kesal.
"Bagaimana dengan namja yang disamping Sungmin tadi?" tawarku dengan nada menggoda.
Kulihat wajah putihnya itu memerah sempurna, "YA!"
.
.
Kyuhyun pov end~
.
.
.
"Kurasa namja Cho tadi menyukaimu" ujar seorang namja yang tengah fokus menyetir.
"Maksudmu?" tanya seorang yeoja bingung.
Sang yeoja tengah duduk di jok sebelah sang namja dengan sesosok bayi yang ada di pangkuannya.
"Kau tak melihat bagaimana cara menatapnya padamu?" ujar Jungmo, sang namja.
Sungmin, sang yeoja, mengerutkan dahinya bingung.
"Aku tak mengerti" ujar Sungmin jujur.
"Adik kecilku ini masih polos ternyata" ujar Jungmo menggoda.
"Aku bukan adik kecilmu Kim Jungmo!" sangkal Sungmin tak terima.
Tes~ Tes~
Setetes demi setetes air liur membasahi tangan Sungmin yang diletakkan di perut Sangyoon.
"Aish, kenapa masih berliur juga?" ujar Sungmin seraya mengambil tisu yang ada didalam tasnya.
"Memang masih wajar bukan kalau seorang bayi itu mengeluarkan air liur? Kalau adik kecilku yang berliur itu namanya tak wajar" ujar Jungmo masih menggoda Sungmin.
Sungmin tak berkata apapun, tangannya sibuk mengusap air liur yang ada di tangannya, serta di wajah sang anak.
"Kau tidak berfikir untuk menikah lagi?" tanya Jungmo tiba-tiba.
'Aku berfikir untuk menikahimu' batin Sungmin.
"Memangnya ada namja yang mau menikah dengan janda beranak satu sepertiku?" tanya Sungmin merendah.
"Tentu ada. Kau cantik, manis, baik, kaya, cerdas, perhatian. Apa itu kurang?" ujar Jungmo.
"Dan kupikir namja tadi cocok untukmu" lanjutnya.
'Kenapa kau mengajukan namja lain? Kenapa bukan kau saja?' batin Sungmin.
"Jangan bercanda. Dia itu namja terhormat, mana mungkin mau dengan janda sepertiku. Dan lagi, dia sudah punya kekasih" ujar Sungmin masih merendahkan dirinya.
"Kenapa tidak? Bahkan kau itu mendekati sempurna untuk dijadikan istri, namun sayangnya kau galak" ujar Jungmo.
"YA!" Sungminpun memukul kepala Jungmo.
"Mamamama?" tanya Sangyoon.
"Tak apa sayang" ujar Sungmin.
.
.
-KYUMIN-
.
.
"Ahjumma, tadi aku dan Kyunnie jalan-jalan ke taman kota" ujar seorang yeoja pada wanita paruh baya yang duduk di sebelahnya.
"Lalu? Apa menyenangkan?" tanya sang wanita paruh baya seraya menolehkan kepalanya ke samping.
"Yang menyenangkan adalah kami berjumpa dengan janda yang Kyunnie suka itu" jawab sang yeoja, Qian, antusias.
"Sungmin maksudmu?" tanya Heechul, sang wanita, terkejut.
"Ne" jawab Qian pasti.
"Bagaimana bisa?" tanya Heechul penasaran.
"Anak dari janda itu tiba-tiba merangkak kearah kami. Dan umma bisa lanjutkan sendiri kan?" jawab Qian.
Mereka berdua, kini tengah duduk di sofa ruang tengah. Hanya berdua, sedangkan Kyuhyun memutuskan untuk berdiam diri di kamarnya saja.
"Lalu? Bagaimana?" tanya Heechul antusias.
"Sayangnya janda itu menggandeng namja lain. Jadi, kuputuskan saja mengklaim Kyunnie sebagai kekasihku" ujar Qian yang dilanjutkan dengan tawa.
Heechulpun ikut tertawa. Membayangkannya saja sudah membuat perutnya tergelitik.
"Pasti anak itu kesal sekali" tebak Heechul di sela-sela tawanya.
"Ne, umma benar. Kyunnieku lucu sekali kalau sedang marah begitu" ujar Qian membenarkan, namun masih tertawa.
"Ternyata selera Kyunnieku itu yang manis-manis ya" ujar Qian setelah tawanya berhenti.
Heechulpun menghentikan jawanya.
"Mungkin untuk memperbaiki keturunan. Ahjumma tak mau kalau cucu ahjumma nanti seperti dirinya" ejek Heechul kejam.
Qianpun mengangguk, membenarkan ucapan Heechul.
"Yeoja itu terlampau manis ahjumma. Aku ingin mencubit pipinya" ujar Qian jujur.
"Ne, kau benar. Ahjumma saja juga gemas melihatnya" ujar Heechul membenarkan.
"Apa dia mau ya dengan namja cepat tua seperti Kyunnieku?" tanya Qian.
"Mau tak mau, Sungmin harus mau. Karena ahjumma mau Sungmin menjadi menjadi menantu ahjumma" jawab Heechul penuh keyakinan.
"Tapi, kupikir namja yang bergandengan tangan dengan Sungmin itu memiliki hubungan spesial dengan Sungmin, ahjumma" ujar Qian.
"Namja? Apa mantan suaminya?" tanya Heechul.
"Kata Kyunnie bukan" jawab Qian.
"Lalu? Namja mana lagi? Apa mungkin Sungmin sudah punya kekasih? Kenapa Leeteuk tak memberitahukannya padaku?" tanya Heechul pada dirinya sendiri.
Qianpun juga tak mengerti.
"Namja itu tampan, ahjumma" ujar Qian dengan cengiran.
Heechulpun memandang aneh pada Qian.
"Kau menyukainya?"
.
-KYUMIN-
.
TBC?/END?
Mian pendek dan ngebosenin. Tapi udah kilat kan updatenya? :-D
makasih sama yang udah RnR!
n jangan lupa RnRnya!
