Author : Amilia Marisca Kyumin Shipper
Cast : kyumin, sibum, dll
genre : family
warning : maaf kalo pendek,banyak typo, dll. Maklum masih pemula.
.
.
..
-Kyumin-
.
Leeteuk pov~ .
.
flashback~
Hari ini adalah hari dimana Sungmin kecilku masuk ke sekolah. Umurnya memang sudah cukup, namun tubuhnya yang kecil itu tak sepadan dengan anak-anak lainnya.
Ah, aku hanya bisa memandangnya dari jauh. Mendekatpun percuma, Sungminku tak akan mengenaliku. Seperti ini lebih baik untuk saat ini, hanya mengawasinya dari kejauhan.
"Mommy, Minnie takut" ujar Sungmin yang terdengar begitu pelan di telingaku karena jarak yang tak dekat.
Wanita yang dianggap 'ibu' oleh Sungminku itu menyejajarkan tingginya dengan Sungmin.
"Anak Mommy tak boleh takut, tak ada yang perlu ditakutkan" ujar wanita itu seraya mengelus puncak kepala Sungmin kecil.
Cup~
Dikecupnya pipi tembam Sungminku dengan lembut.
"Kaja, sekarang kita masuk kedalam" ujar wanita itu seraya menuntun Sungmin kedalam sekolahnya yang baru.
Ah, Sungminku bisa sekolah dengan baik saja membuat senyum merekah di bibirku.
Sungmin beruntung memiliki ibu yang kaya, serta perhatian padanya. Apapun yang diinginkannya pasti dipenuhi dengan cepat oleh 'orang tua'nya itu.
Hatiku terasa lega jika Sungmin bahagia. Tak ada sesal yang terselip di dadaku sedikitpun sudah memberikan Sungmin kecil untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Kulangkahkan kakiku menuju panti asuhan. Ya, memang aku dan suamiku mengurus sebuah panti asuhan. Dengan pekerjaan suamiku yang hanya sebagai pegawai rendahan, sebenarnya masih kurang untuk menghidupi beberapa anak yang membutuhkan itu.
Apalagi, aku hanya bekerja sebagai tukang cuci pakaian saja. Tak ada apa-apanya.
Namun, untung saja, masih ada uluran tangan manusia yang berhati mulia. Setiap bulan atau bahkan minggu, ada saja donatur yang menyumbang di panti asuhan.
Dengan langkah lunglai, kubuka pintu bangunan yang sudah beberapa tahun ini kutinggali.
"Umma..." panggil sesosok namja kecil padaku.
"Ada apa?" tanyaku pada sosok itu.
Memang setiap anak disini memanggilku umma, dan suamiku appa. Benar-benar seperti keluarga bukan?
Mereka yang membutuhkan kasih sayang dari orang tua, serta aku dan suamiku yang merindukan sesosok anak di kehidupan rumah tangga kami. Ya, saling melengkapi.
"Jungmo lapar!" ujar anak itu.
Anak ini seumuran dengan Sungmin, membuatku selalu teringat akan Sungmin.
"Umma masak dulu, ne?" ujarku seraya menggiringnya kearah dapur.
"Panggil anak-anak yang lain kemari. Ini waktunya sarapan, bukan?" ujarku memerintah Jungmo.
Ah, aku jadi merasa bersalah pada mereka. Seharusnya mereka bisa sarapan lebih pagi lagi, tapi karena aku mengikuti Sungmin terlebih dahulu, mereka jadi terlambat sarapan.
Sebelum namja kecil itu berlari keluar dapur, aku segera menarik kerah pakaian yang dikenakannya terlebih dahulu.
"Appa sudah berangkat?" tanyaku padanya.
"Ne, appa sudah berangkat" jawabnya sambil menganggukkan kepalanya.
Kemudian kulepaskan tarikanku, diapun dengan cepat berlari.
Hhh~ anak itu sudah berumur empat tahun. Ini berarti sudah saatnya orang tua kandungnya menjemputnya. Aku heran, orang tua macam apa yang dengan teganya 'menitipkan' anak sebaik dan setampan Jungmo?
Tapi, itu lebih baik, daripada beberapa orang tua yang memang dengan teganya 'membuang' anaknya sendiri, tanpa mau mengakuinya, ataupun mengambilnya kembali.
Ah, apa yang kupikirkan. Aku sendiri juga 'membuang' anak kandungku. Ibu macam apa aku ini.
Sebelum anak-anak kemari, segera saja kumasak beberapa bahan makanan yang tersedia di kulkas.
Apa yang harus kumasak ya? Pancake kentang serta ramyeon kurasa tak buruk.
Dengan cepat, tanganku mengolah beberapa bahan makanan.
Tiga puluh menit kemudian, semua masakanku sudah siap. Hebat bukan?
Kubalikkan tubuhku dan sedikit terkejut mendapati anak-anak sudah duduk dengan rapi di kursi yang mengelilingi meja makan. Bisa dibayangkan seberapa besar meja itu.
Akupun tersenyum melihat anak-anak yang sudah siap dengan piring dihadapan mereka, serta sendok di tangan masing-masing.
Kapan mereka datang? Dan kapan pula mereka menyiapkannya?
Tanpa membuang waktu, kuangkat mangkuk-mangkuk besar yang berisi ramyun satu persatu, kemudian meletakkannya ditengah meja. Setelah itu, pancake kentang yang kuletakkan dibeberapa piring.
Setelah meletakkannya di meja makan, aku juga ikut bergabung dengan mereka.
"Berdo'a dulu" ujarku sebelum anak-anak menikmati sarapan mereka.
.
flashback off~
-KYUMIN-
.
"Umma, kami pulang!" teriak dua suara yang dapat kupastikan adalah suara Sungmin dan Jungmo.
Segera saja aku beranjak kedepan, menyambut kedatangan mereka.
"Aigoo... Sangyoonnie tidur, ne?" ujarku saat melihat Sangyoon terlelap nyaman di dada Sungmin.
"Ne, umma. Kalau tidur dia pulas sekali" ujar Sungmin membenarkan.
Akupun tersenyum saja menanggapinya.
"Biar dengan umma saja. Minnie dan Jungmo makan malam saja, sudah umma siapkan tadi" ujarku.
Sungminpun mengangguk setuju seraya memindahkan tubuh kecil Sangyoon kedalam pelukanku.
"Minnie dan Jungmo makan malam dulu ya, umma" pamit Sungmin seraya menarik lengan Jungmo ke dapur.
Hhh~ anak itu benar-benar serius dengan ucapannya kalau dia menyukai Jungmo ternyata.
Kulangkahkan kakiku menuju kamar Sungmin. Setelah masuk, kubaringkan tubuh kecil Sangyoon diatas kasur. Tak lupa kuberi beberapa bantal guling di sekelilingnya. Anak ini kan aktif sekali, bisa-bisa dia jatuh.
Setelah merasa jika posisinya sudah aman, akupun mengedarkan pandanganku kesekeliling kamar Sungmin.
Setiap kali melihat dekorasi kamar Sungmin, entah kenapa hatiku sedikit sakit.
Di setiap dinding kamar, terdapat beberapa figura foto yang menampilkan fotonya, foto Sangyoon, foto Jungmo, foto keluarga Choi, serta foto orang yang dianggapnya sebagai orang tuanya.
Memang, Sungminku hanya menganggapku sebagai ibu angkatnya saja setelah dia dibawa kemari karena kematian orang yang dianggap orang tuanya.
Rasanya begitu sakit setiap kali melihat Sungmin memandang figura foto orang tuanya, memeluk, serta mencium foto itu.
Seringkali Sungmin mencurahkan isi hatinya jikalau dia merindukan orang tuanya. Memang aku tak pantas marah, aku sendiri yang melakukannya, aku juga yang mendapatkan akibatnya.
Tapi, melihat Sungminku yang sekarang, membuatku bisa tersenyum cerah setiap hari. Tak apalah kalau aku hanya sekedar orang tua angkatnya, jika itu bisa membuatnya bahagia.
Agar tak mendapat kecurigaan karena terlalu lama, akupun berjalan menuju ruang makan setelah menutup kembali pintu kamar Sungmin.
Kududukkan diriku diatas kursi yang bersebelahan dengan Sungmin.
"Bagaimana jalan-jalannya, heum?" tanyaku.
"Seperti biasa umma, Sangyoon hilang" jawab Jungmo setelah menelan makanannya.
Aku sebenarnya ingin tertawa mendengar jawaban santai yang dilontarkan Jungmo. Bagaimana bisa raut wajahnya sesantai itu saat mengatakan anak hilang?
"Bagaimana bisa?" tanyaku.
"Umma tak perlu menanyakan hal yang sama setiap hilangnya Yoonnie, karena jawabannya tetap sama umma" jawab Jungmo dengan raut wajah yang sama.
Aigoo, apa hilangnya Sangyoon sudah menjadi kebiasaan untuknya? Ah, kurasa bayi itu memang tumbuh lebih cepat dari bayi seusianya, sehingga rasa keingintahuannya juga besar.
"Lalu, dimana Sangyoon ditemukan?" tanyaku lagi.
"Sama saja, berada dipangkuan orang asing yang untungnya bukan orang jahat" jawab Jungmo.
"Tapi, kurasa orang tadi bukan orang asing" lanjutnya.
Akupun mengernyit bingung dengan ucapannya.
"Bukan orang asing?" tanyaku.
"Ne umma. Kali ini, yang menemukan Yoonnie adalah namja Cho yang kemarin kemari dan pacarnya" kali ini Sungmin yang menjawab.
Tunggu dulu, namja Cho yang kemarin kemari itu berarti anak Heechul kan? Tapi kenapa ada yeojachingu? Bukankah Heechul berniat menjodohkan anaknya dengan Sungmin? Atau kemarin dia hanya main-main saja mengenai perjodohan? Ah, aku tak tahu.
"Pacar? Umma kira dia masih single" ujarku jujur.
"Tapi, kelihatannya namja Cho itu menyukai Minnie, umma" adu Jungmo padaku.
Akupun semakin bingung saja.
"Jinja?" tanyaku memastikam.
"Tidak, umma. Kim Jungmo ini hanya mengada-ada saja" ujar Sungmin tak terima.
"Kalau benar juga tak apa" gumamku lirih.
"Ne?" tanya Sungmin yang tak mendengarku.
"Tak ada" jawabku seraya tersenyum saja.
Kamipun terdiam, Jungmo dan Sungmin sibuk dengan makan malam mereka, sedangkan aku hanya mengamati mereka saja.
.
Leeteuk pov end~ .
-KYUMIN-
.
.
Siwon pov~ .
.
"Siwonnie!" sapa umma ceria saat aku menuruni tangga.
Apa yang membuat umma bisa seceria ini? Bukankah kemarin wanita ini mendiamkanku sejak kedatangan Kibummie?
Kulangkahkan kakiku mendekat kearah umma.
"Waeyo umma?" tanyaku dengan nada penasaran.
"Hari ini umma akan pergi ke tempat reunian teman umma sewaktu SMA. Kau mau ikut?" tawar umma sambil menggiringku ke ruang makan.
Disana ada appa yang duduk dengan santainya sambil membaca koran pagi serta ditemani kopi paginya.
"Reunian? Kenapa mengajakku? Biasanya juga mengajak appa" ujarku heran.
Kutarik salah satu kursi, kemudian mendudukinya.
"Apa salah jika umma mengajak anaknya? Umma kan juga ingin mengenalkanmu pada teman-teman umma" ujar umma yang kini tengah duduk disamping appa, dihadapanku.
Akupun terlihat berfikir sejenak sambil mengambil menu sarapan dan meletakkannya diatas piringku.
"Teman umma itu Leeteuk ahjumma dan Cho ahjumma bukan? Bahkan Wonnie sudah mengenalnya" ujarku asal.
Kulahap sarapanku dengan tenang setelah membaca do'a.
"Kalau Teukkie dan Chullie, kau memang sudah mengenalnya. Tapi yang lainnya kan belum" ujar umma masih bersikukuh.
Akupun hanya menatap umma sekilas, kemudian melanjutkan sarapanku.
"Memangnya kapan?" tanyaku akhirnya.
Tak ada salahnya menuruti permintaan umma yang kupikir tak terlalu berat ini.
"Nanti malam" jawab umma singkat.
"Arraseo" ujarku yang membuat senyum di bibir umma mengembang.
.
.
Kubuka dengan perlahan pintu apartemen kekasihku yang dapat kubuka dengan mudah. Kenapa begitu? Karena aku sudah hafal kode pintunya, kekekeke.
Ruangan bagian depan terlihat begitu rapi, mencerminkan bagaimana kekasihku ini hidup sendiri.
Terdengar suara wajan yang tengah beradu dengan spatula. Ah, kekasihku ini tengah memasak rupanya.
Kulangkahkan kakiku lebih kedalam apartemen yang tidak kecil ini, lebih tepatnya berjalan kearah dapur.
Dugaanku tepat, disana, tengah berdiri sosok yang begitu kucintai. Dengan melihat punggungnya saja sudah membuatku mengenalinya.
Dengan perlahan kudekati dia, kemudian memeluknya dari belakang dengan lembut. Kepalaku kuletakkan di bahu kanannya, sedangkan lenganku sudah melingkar nyaman di pinggangnya.
Kurasakan tubuh kecilnya berjengit, sepertinya terkejut akan kedatanganku.
"Mengagetkan saja" sungutnya tanpa mengakhiri pekerjaannya.
"Tapi Bummie menyukainya kan?" godaku diiringi tiupanku di telinga kanannya.
Tubuh kekasihku ini terlihat menggeliat. Aku tahu seluruh sisi sensitivenya.
"Menyesal aku memberitahumu kode pintunya" sungutnya kesal.
Akupun hanya terkekeh pelan saja. Sembari menunggunya selesai memasak, aku masih setia memeluknya dengan posisi yang sama.
"Kalau kau terus seperti ini, akan lebih susah untukku bergerak" ujar Kibummie.
"Biarkan saja. Kita seperti pasangan pengantin baru, bukan?" godaku lagi.
Ah, lihatlah! Wajahnya kini telah memerah sempurna. Ingin sekali kuraup, namun aku harus bersabar sampai waktunya kami menikah nanti.
"Sudah, diam saja. Lebih baik, kau duduk saja" ujar Kibummie mengusirku.
Akupun kembali tersenyum.
"Ye, nyonya Choi" ujarku setelah mengecup pipinya sekilas, kemudian menjalankan perintah kekasihku itu.
"Mau sarapan?" tawar Kibummie di sela-sela kegiatannya.
"Memangnya Bummie memasak apa?" tanyaku.
"Hanya nasi goreng kimchi saja" jawabnya.
"Boleh" ujarku.
Walaupun aku sudah sarapan dirumah tadi, tak ada salahnya kan kalau sarapan lagi dengan masakan kekasih sendiri?
Setelah beberapa menit, Kibummiepun menghampiriku dengan dua piring berisi nasi goreng kimchi yang dimasaknya di kedua tangannya.
Yeoja cantikku itupun meletakkan piring-piring itu diatas meja.
"Mau minum apa?" tawarnya sebelum kembali ke tempat memasak.
Memang dapur dan ruang makan Kibummie dibuat menjadi satu tempat. Untuk seseorang yang hidup sendiri kurasa memang desain yang tepat.
"Cappucino kurasa tak buruk" ujarku.
Kulirik sekilas masakan Kibummie yang membuatku lapar lagi itu. Aku tentu saja tak mau sarapan terlebih dahulu. Sarapan bersama Kibummie kurasa akan lebih romantis.
Kibummiepun kembali dengan secangkir cappucino serta segelas air hangat di tangannya.
"Eh? Kenapa air hangat?" tanyaku saat Kibum sudah duduk di kursi yang ada disampingku.
"Tadi pagi aku muntah-muntah, sepertinya kurang enak badan" jawabnya.
Memang kalau diperhatikan, wajah putih Kibummie kini terlihat lebih pucat.
"Apa karena kelelahan?" tanyaku khawatir.
"Mungkin" jawabnya asal.
"Mau kutemani ke dokter?" tawarku masih dengan rasa khawatir.
"Terserah" ujarnya singkat.
Memang Kibummie adalah seorang pekerja keras, bahkan selalu melupakan kesehatannya sendiri. Aku juga sering marah padanya karena selalu lupa waktunya makan. Hidup jauh dari orang tua membuatnya lebih bersikap mandiri.
Kamipun menikmati sarapan pagi kami dengan tenang.
.
Siwon pov off~
.
-KYUMIN-
.
Kyuhyun pov~
.
"Umma sudah yakin kan kalau Sungmin juga datang?" tanyaku entah sudah yang keberapa kalinya pada umma.
"Ne, Kyunnie sayang. Kalau kau tanya hal yang sama lagi, kutelan kau bulat-bulat" ujar umma kejam.
Hh~ kalau bukan karena iming-iming Sungmin juga datang, mana mungkin aku mau menghadiri acara reunian para orang tua ini.
Kutatap Qian yang tengah sibuk berbincang dengan yeoja yang baru dikenalnya.
Aku heran, bagaimana bisa yeoja dengan cepat mudah bergaul dengan orang yang baru dikenalnya?
Akupun berjalan lunglai menuju tempat dimana deretan makanan disajikan.
Kucicipi beberapa makanan yang menarik bagiku.
"Tak buruk juga" gumamku.
Kurasakan sesuatu yang membasahi celana bagian bawah yang kukenakan.
Akupun menatap kearah bawah.
"Aigoo, kau lagi rupanya" ujarku seraya mengangkat sesosok yang telah membasahi celanaku dengan air liurnya.
"Bagaimana bisa kau disini?" tanyaku padanya yang kurasa tak mungkin dimengertinya.
Yoonnie. Yah, bayi ini kembali lagi menemuiku. Ah, apa ini yang dinamakan jodoh? Maksudku, jodoh antara ayah dan anak.
Tunggu dulu, kalau ada Yoonnie, berarti Sungmin juga berada disini bukan? Ah, rasanya dadaku bergemuruh cepat.
"Ummamu kemana, Yoonnie?" tanyaku pelan pada bayi yang kugendong.
Terlihat bayi itu yang hanya mengerutkan keningnya, bingung dengan apa yang kukatakan mungkin.
"Mamama" ujarku menirukannya bila memanggil Sungmin, terlihat konyol memang.
"MAMAMAMA!"
Berhasil! Yoonnie sepertinya mengerti dengan apa yang kukatakan.
Bayi mungil itu dengan semangat menunjuk-nunjuk sebuah arah.
Akupun melangkahkan kakiku, mengikuti arah yang ditunjuknya.
Ternyata anak ini cerdas juga, cocok menjadi anakku. Buktinya, sekarang aku dapat melihat dengan jelas sosok yang kukagumi itu tengah tertawa renyah dengan seorang pria yang kuyakini adalah mantan suaminya.
Apa dia tak khawatir dengan hilangnya anaknya?
"Mamamama" ujar Yoonnie menunjuk kearah Sungmin, namun wajahnya menatap kearahku.
Memberitahuku kalau yang ditunjukkan oleh jari kecilnya itu adalah ibunya.
Kuturunkan tangannya yang menunjuk kearah Sungmin.
"Kita kesana" ujarku seraya mengecup pipi gembulnya.
Setelah sampai disana, Sungmin terlihat terkejut dengan kedatanganku. Ah, maksudku dengan adanya Yoonnie di gendonganku.
"Eh? Yoonnie!" ujarnya spontan.
"Mamama" ujar Yoonnie kembali menatapku dengan jari yang menunjuk-nunjuk Sungmin.
"Ne, samchon tahu itu ummamu" ujarku seraya kembali menurunkan lengannya.
Samchon? Terdengar tidak enak, lebih enak Appa. Tapi, perlu proses untuk membuatnya memanggilku appa.
"Eum, aku mengambil makanan dulu" ujar mantan suami Sungmin tiba-tiba.
Dan dalam sekejap, lelaki itu sudah pergi. Apa dia memberiku kesempatan untuk mendekati Sungmin?
"Eum.. Maaf, selalu merepotkan anda" ujarnya dengan rasa sungkan.
"Tak usah terlalu formal begitu" ujarku mencairkan suasana.
"Kyuhyun. Cho Kyuhyun" ujarku mengenalkan diriku seraya mengulurkan tanganku.
"Sungmin. Lee Sungmin" ujarnya menyambut uluran tanganku. Telapak tangannya begitu lembut.
Tapi, bukankah marga suami teman umma itu Kim? Kenapa marga Sungmin Lee? Ah, tak penting juga kupikirkan.
Sungminpun melepaskan jabatan tangan kami, ah kenapa begitu cepat?
"Apa Sangyoon merepotkanmu?" tanya Sungmin.
Jadi namanya Sangyoon. Cho Sangyoon, cocok bukan?
"Aniyo, dia anak yang tidak nakal" jawabku jujur.
"Sama umma ya?" ujar Sungmin seraya mengulurkan tangannya.
Sangyoon hanya diam, tak merespon uluran tangan Sungmin.
"Tumben sekali dia mudah dekat dengan orang yang baru ditemuinya" ujar Sungmin heran setelah menurunkan uluran tangannya.
"Jinja? Apa dia anak yang tertutup?" tanyaku.
"Tidak juga. Tapi, kalau dengan orang dewasa yang baru ditemuinya, dia tidak akan cepat bergaul seperti denganmu" jawabnya.
Sangyoon terlihat tengah bersandar nyaman di dadaku. Ah, untung saja air liurnya tak dikeluarkannya saat ini.
"Ah, begitu rupanya. Boleh aku bertanya?" ujarku.
"Tentu" ujar Sungmin sinkat.
"Apa Sangyoon suka merangkak sendiri?" tanyaku.
"Kalau soal itu, lebih tepatnya, Yoonnie suka menghilang" jawab Sungmin dengan raut wajah kesal.
Eh? Suka menghilang? Aneh sekali.
"Tadi saja, sebenarnya aku tidak tahu kalau dia hilang" lanjutnya.
Oh, rupanya Sungmin bisa sesantai itu karena tak tahu soal hilangnya anaknya.
"Lalu? Selalu ketemu?" tanyaku lagi.
"Untungnya seperti itu" jawabnya masih sedikit kesal.
Akupun hanya tersenyum saja melihat ekspresinya saat ini.
"Eh, Kyunnie chagi!" ujar seorang yeoja yang membuatku kesal setengah mati.
Apa-apaan Qiannie ini, datang disaat yang sama sekali tidak tepat!
Apa dia sengaja?!
.
-KYUMIN-
.
TBC?/END?
Mian pendek dan ngebosenin. Tapi udah kilat kan updatenya? :-D
makasih sama yang udah RnR!
n jangan lupa RnRnya!
