THAT BABY / KYUMIN / GS / CHAPTER 7

Author : Amilia Marisca Kyumin Shipper

Cast : kyumin, sibum, dll

genre : family

warning : maaf kalo pendek,banyak typo, dll. Maklum masih pemula.

.

..

-Kyumin-

.

.

Siwon pov~

Hhh~ kalau dilihat dari bagaimana cara si Cho itu memandang Sungmin, sepertinya dia menyukainya. Dan kurasa, berada diantara mereka bukan ide yang bagus. Jadi, kuputuskan saja untuk meninggalkan mereka.

Walau acara ini ramai oleh para orang tua serta anak-anak mereka, tapi bagiku tetap saja sepi. Karena tak ada satupun yang kukenal. Andai saja Bummie ada disini, pasti aku tak kesepian begini.

Kudekati saja meja yang dipenuhi berbagai macam makanan itu, tak ada yang menarik. Dari semua makanan itu, kurasa aku sudah pernah mencoba semuanya. Tentunya dimasakkan oleh ummaku yang jago memasak dan yang pasti Bummieku.

Aku jadi teringat Bummie. Tadi, aku mengantarnya ke rumah sakit, dan ternyata setelah diperiksa, asam lambungnya meningkat, membuatnya muntah-muntah. Pasti dia tak menjaga kesehatannya dengan benar. Andai saja kami menikah nanti, aku berjanji akan mengontrol pola makannya, apa yang dimakannya serta kegiatan yang dilakukannya. Hidup sendiri membuatnya lebih mandiri dan sedikit workaholic, mungkin hanya untuk melampiaskan rasa kesepiannya saja. Hei, aku tak bisa selalu berada disampingnya, aku juga perlu bekerja.

Jadi rindu Kibummie. Padahal baru tidak ketemu beberapa jam yang lalu.

"Melamun, eoh?" ujar umma tiba-tiba.

Membuat kaget saja.

"Aniyo" sangkalku.

"Jangan membohongi umma. Kaja, ikut umma. Umma punya kejutan untukmu" ujar umma seraya menarik tanganku seenaknya.

Hhh~ umma ini selalu melakukan apapun yang diinginkannya sesuka hati. Pasrah saja yang bisa kulakukan agar tak mendapat omelan istri appaku yang kalem ini.

Ditariknya tanganku menjauhi keramaian yang tercipta di tempat tadi. Sebenarnya umma menarikku kemana?

"Umma, kita mau kemana?" tanyaku penasaran.

"Sudah, diam saja. Jangan berisik!" jawab umma yang sama sekali tak menjawab pertanyaanku.

Umma menarikku kearah bangku yang ditempati dua yeoja yang membalikkan badannya.

Tunggu dulu, sepertinya aku mengenal postur tubuh yeoja yang tengah duduk di sebuah bangku bersama yeoja lainnya itu.

"KIM JUNSU!" pekik umma keras.

Salah satu dari yeoja itupun menoleh. Siapa ahjumma ini? Aku tak pernah melihatnya datang ke rumah. Semua teman umma yang datang ke rumah, sudah kuhafal benar bagaimana wajahnya. Dan ahjumma ini, sepertinya tidak pernah.

"CHOI JAEJOONG UNNIE!" pekik ahjumma itu.

Aigoo, ternyata ada juga yang seperti ummaku ini, selain nyonya Cho tentu saja.

Segera saja umma melepaskan tautan tangan kami, dan berlari kearah 'Kim Junsu' itu.

Selalu saja begini, tak pernah mengingatku kalau sudah bertemu temannya. Kalau tahu begini, kenapa selalu mengajakku kalau akhirnya mengabaikanku juga.

Mereka berpelukan, seperti teman lama yang sudah lama tak bertemu. Tapi, kurasa itu benar.

Kulangkahkan kakiku mendekati tiga yeoja itu. Dan mataku melotot hebat ketika melihat siapa yeoja yang postur tubuhnya kukenal itu. Dia KIM KIBUM, Bummieku.

Bummiepun terlihat sama terkejutnya sepertiku, matanya yang indah itu juga terlihat membesar.

Tapi, dari ujung kaki hingga kepala, dia terlihat begitu cantik. Sepatu tanpa hak yang begitu pas terpasang di kaki jenjangnya, gaun selutut berwarna cream yang melekat sempurna di tubuh langsingnya, polesan make up tipis yang terlihat natural, serta rambut yang digerai indah.

Kini, tatapan melototku berubah tujuan, dari yang tadinya terkejut, kini berubah menjadi tatapan kagum. Bahkan, tanpa kusadari 'smirk'ku muncul.

Plak!

"Jangan memandanginya begitu, tidak sopan bodoh!" maki umma setelah menempeleng kepalaku.

Sakit sekali. Akupun mengusap kepalaku. Tenaga umma memang tak pernah main-main, pantas saja appa tunduk pada umma.

Kibummie segera menyadarkan keterkejutan, kemudian berdiri dan membungkuk, memberi salam pada umma.

Ummapun tersenyum. Wait, tersenyum?! Pada Kibummie?! Bagaimana bisa?! Selama ini, hanya kata-kata pedas yang keluar dari bibir umma untuk Bummie, tapi sekarang SENYUMAN?!

"Duduk!" perintah umma setelah menarikku ke bangku yang bersebrangan dengan bamgku yang Kibummie duduki.

Jadi begini, ada dua bangku panjang yang saling berhadapan, namun terpisah oleh sebuah meja kayu besar.

"Jadi, bagaimana kabarmu di Amerika?" ujar umma membuka suara.

Akupun masih memandang Kibummie dengan sedikit 'nafsu'.

"Tak begitu baik pada awalnya. Kau tahu sendiri kan bagaimana kemampuan berbahasa asingku. Tapi, dengan seiringnya waktu berjalan, semua hal sudah tak menjadi masalah, unnie" cerita ahjumma itu.

"Kau sih, sombong sekali berkelana hingga Amerika" ejek ummaku.

"Salahkan saja jidat lebar itu!" sungut ahjumma 'Junsu' itu.

"Oh ya, ini anakku, Siwonnie" ujar umma yang akhirnya memperkenalkanku.

"Aku tahu unnie. Unnie sudah tahu yeoja disebelahku ini kan?" ujar Junsu ahjumma.

"Tentu saja. Dia sering datang ke rumah" jawab umma santai.

"Lalu, dia bagaimana?" tanya Junsu ahjumma.

Apa yang sebenarnya sedang mereka perbincangkan sih?! Ah, menatap Kibummie yang hanya diam saja itu kurasa lebih penting dilakukan.

-

Siwon pov End~

-

-KYUMIN-

-

Kyuhyun pov~

"Apa maksudmu?!" bisikku pada yeoja yang ada disampingku ini.

Aish, seenaknya saja gadis ini. Kucoba untuk melepaskan rangkulan tangannya di lenganku.

"Biarkan seperti ini" bisik Qian balik.

Kalau aku banyak bergerak, nanti Sangyoon terganggu. Kubiarkan saja yeoja ini.

"Aku belum memperkenalkan diriku, ya. Namaku Qian, Song Qian. Aku kekasihnya Kyuhyunnie" ujar Qian seraya mengulurkan tangannya kearah Sungmin yang hanya diam saja.

"Sungmin. Lee Sungmin" ujar Sungmin seraya menyambut uluran tangan Qian.

Senyum merekah diwajah cantiknya. Aigoo, benar-benar manis!

"Nama yang manis" gumam Qian.

Sungmin hanya mengulum senyumnya saja menanggapi gumaman dari Qian.

"Kyunnie ada hubungan apa dengan Sungminnie?" tanya Qian dengan nada dibuat sedih dan apa katanya? Sungminnie? Sok akrab sekali.

"Dh, aniyo. Kami tidak memiliki hubungan apa-apa" jawab Sungmin sungkan.

Hhh~
Kenapa hatiku sakit ketika Sungmin yang mengatakannya. Seharusnya tidak begini. Kata 'tidak' seharusnya diganti dengan 'belum'. Kita pasti akan memiliki hubungan, Sungmin!

Ah, apa ini? Kenapa rasanya dadaku dingin begini?
Langsung saja kualihkan pandanganku pada makhluk kecil yang kugendong. Dan benar saja, dia yang membasahi dadaku, ah lebih tepatnya dia mengeluarkan air liurnya, dan bagaimana bisa sampai merembes begini?! Aish, sabar Cho Kyuhyun! Sebagai calon appa yang baik, kau harus bisa menjadi ayah yang pengertian!

Sangyoon menatapku balik, kemudian melayangkan senyuman padaku.

Tak kudengarkan obrolan Qian dan Sungmin. Yang menjadi pusat perhatianku kini adalah calon anakku ini.

Kurogoh sapu tangan yang berada di saku celanaku. Kemudian mengelap air liur yang berada disekitar bibir Sangyoon.

"Tatatatatataaaa!" ujar Sangyoon menepuk-nepuk tanganku yang tengah memegang sapu tangan.

Kuberikan saja sapu tangan bekas air liurnya itu. Dan dengan tragisnya, Sangyoon melakukan hal yang sama kepadaku, mengelap daerah sekitar bibirku menggunakan sapu tangan itu. Yaiks!

Sabar Cho! Sabar!

"Aigoo, akrab sekali!" celetuk Qian yang kupastikan mengandung unsur mengejek.

"Benar juga, Qiannie" sahut Sungmin.

Wait, sejak kapan mereka jadi akrab begini? Sungminnie-Qiannie, aigoo benar-benar seperti teman yang sudah lama berkenalan saja.

"Ternyata Kyuhyun-ssi menyukai anak-anak ya" ujar Sungmin memujiku.

Hei, kenapa memanggilku dengan embel-embel 'ssi', sedangkan dengan Qian tidak. Yah, memang Qian kurasa seumuran dengan Sungmin, lebih tua dariku.

"Kata siapa? Itu tak benar" sangkal Qian.

Apa sebenarnya yang gadis ini inginkan?! Berusaha membantuku atau malah menjatuhkanku?!

"Jinja?" tanya Sungmin heran.

Tatapannya kini beralih padaku dan Sangyoon yang terlihat akrab.

"Betul. Dia ini lebih mencintai game-nya ketimbang apapun, kekanakan sekali bukan?" jawab Qian santai.

Hhh~ menyangkalpun tak ada gunanya, karena itu memang benar. Diam adalah emas. Hehehe~

Sungminpun tersenyum kearahku, yang kubalas dengan senyum kikuk. Aish, manis sekali, rasanya dadaku bergemuruh cepat. Hingga bayi yang meletakkan kepalanya di dadaku ikut terkejut.

"Hiks... Hiks... Mamamama" Sangyoonpun mengangkat kepalanya dari dadaku, kemudian menoleh kearah ibunya, menjulurkan kedua tangan mungilnya.

Sungminpun semakin melebarkan senyumnya, namun kali ini kearah Sangyoon.

Dengan senang hati, diraihnya tubuh kecil bayinya, memeluknya dengan hangat.

"Hiks... Hiks..." lirih Sangyoon pelan.

"Ah, sepertinya dia rewel. Kami permisi dulu" pamit Sungmin, kemudian melangkah menjauhiku dan Qian.

Kutolehkan kepalaku, dan menunjukkan raut wajah kesal kearah Qian.

"Apa?" tanyanya dengan nada tak berdosanya.

Segera saja, kucubit pipinya dengan 'sepenuh hati'ku.

"Ya! Aku ini sepupumu! Dan yang terpenting, aku ini lebih tua darimu! Berani-benaninya mencubit pipi mulusku!" ujarnya tak terima seraya melepaskan tanganku yang masih mencubit pipinya.

"Bukannya kau ini kekasihku ya?" tanyaku dengan nada sinis.

Kulihat Qian yang merubah raut wajahnya, kini dia cengengesan, pura-pura menjadi innocent.

"Itukan tadi" jawabnya masih cengengesan.

"Sekali-kali, panggil lah aku nuna Kyunnie baby!" lanjutnya dengan nada merajuk.

"Nuna? Tak mau!" ujarku seraya berbalik dan pergi meninggalkannya.

"Ya! Kyunnie! Tunggu aku!" teriak Qian yang masih bisa kudengar dengan jelas.

-

Kyuhyun pov End~

-

flashback~

"Umma, appa, apa maksudnya ini?!" sungutku kesal seraya melemparkan sebuah koran keatas meja yang ada dihadapan umma dan appa.

Umma dan appa pun terlihat heran atau lebih tepatnya bingung dengan ulahku.

Merekapun menatap koran yang kulempar kemudian appa mengambilnya. Aku hanya melipat tanganku kehadapanku dan duduk di salah satu sofa dengan merengut.

Setelah membaca beberapa saat, appapun tersenyum, kemudian meletakkan kembali koran itu. Umma terlihat bingung, kemudian mengambil koran itu.

"Apa yang salah?" tanya appa enteng.

"Tentu saja itu salah besar, appa" ujarku dengan kesal.

Ummapun meletakkan koran itu seraya mendekatiku dan duduk disampingku.

"Kami hanya ingin yang terbaik untukmu" ujarnya sambil membelai lembut kepalaku.

"Seharusnya appa dan umma memberitahuku terlebih dahulu. Tidak seenaknya saja menyebar berita seperti ini!" ujarku masih dengan nada yang sama.

Ummapun tersenyum saja, tangannya masih nyaman mengelus kepalaku.

"Memangnya kau tidak setuju?" tanya appa kini juga beralih duduk disampingku. Jadi, posisinya sekarang, aku berada ditengah mereka.

"Tentu saja tidak setuju" jawabku tegas.

"Kenapa?" tanya umma dengan nada lembutnya.

Akupun memutar otakku, mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan umma.

"Tak bisa menjawab, kan?" ejek appa karena aku tak kunjung menjawab.

"Aish, terserah umma dan appa saja! Percuma saja kalau aku menolak!" kesalku seraya berdiri dan pergi meninggalkan mereka.

Kulangkahkan kakiku menuju kamar, kemudian mengunci pintunya rapat-rapat. Kurebahkan tubuhku diatas kasur empukku.

Bagaimana mereka bisa seenaknya begini?! Memangnya aku apa?! Boneka?!

Kuambil ponselku yang kuletakkan diatas nakas, kemudian mencari sebuah nama yang sudah kukenal baik.

"Yobboseo, oppa!" panggilku setelah telpon tersambung.

"Ah, ne. Waeyo?" tanya Siwon oppa.

Aish, bagaimana bisa dia setenang ini?! Sedangkan aku?! Apa dia tidak tahu kabar yang beredar?!

"Oppa sudah membaca koran pagi ini?" tanyaku balik.

Aku tahu benar bagaimana kebiasaan pagi Siwon oppa, membaca koran pagi ditemani dengan secangkir kopi. Benar-benar menandakan seperti orang kaya saja. Ckckck.

"Sudah. Lalu?" ujarnya masih dengan nada tenang.

Eum, bagaimana memulainya?

Akupun terdiam cukup lama.

"Tentang perjodohan itu?" tanya Siwon oppa karena tak ada balasan dariku.

Akupun mengangguk pelan.

Aish. tak ada gunanya juga aku menggangguk, toh dia tak bisa melihat apa yang kulakukan.

"Ne" cicitku pelan.

"Lalu, kenapa?" tanyanya lagi.

Siwon oppa sudah tahu, lalu kenapa bisa setenang itu? Berbeda sekali denganku.

"Oppa... Eum, oppa... " aku bingung harus mengatakannya bagaimana.

"Iya?" tanyanya diseberang sana.

"Oppa menyetujuinya?" tanyaku balik.

"Hh... menurutmu?"

flashback off~

-

-

-KYUMIN-

-

-

-

"Sangyoonnie main sama nuna dan hyung ya, umma kerja dulu" ujarku seraya mengecup pelan pipi gembul putraku ini.

Akupun menegakkan tubuhku yang tadinya berjongkok, kemudian hendak berjalan kearah dapur, berpamitan pada umma.

"Mamamamama!" teriak Sangyoon.

Kulirik sekilas pergelangan kakiku yang dipeluk oleh bayi namjaku ini.

Ada apa dengan anak ini? Tidak biasanya merajuk seperti ini.

Akupun berjongkok kembali, menatap kedua bola matanya yang hampir mengeluarkan air mata itu.

"Waeyo?" tanyaku pelan sambil mengelus rambutnya yang halus itu.

"Yun mamamama" jawabnya yang tentu saja tak kumengerti.

Akupun mengerutkan keningku, bingung dengan ucapannya.

"Yunmamamama" ujarnya terlihat ngotot.

Dengan perlahan kulepaskan kedua tangan kecilnya yang melingkar dikakiku.

Sangyoon dengan cepat pula kembali melingkarkan kedua tangannya di kakiku.

"Ada apa Minnie?" tanya umma yang tiba-tiba datang menghampiri kami.

Akupun menunjuk Sangyoon sebagai jawaban.

Umma langsung mengerti dan segera berjongkok disamping Sangyoon.

"Yoonnie, main sama halmonie saja" bujuk umma yang sepertinya tak membuahkan hasil.

Terlihat kini bayi kecil itu menenggelampkan kepalanya dikakiku.

"Ajak saja ke kantor" usul umma.

Terang saja kubulatkan kedua bola mataku lebar. Membawa Sangyoon ke kantor? Bisa-bisa dia hilang lagi.

"Tapi umma, bagaimana kalau Yoonnie hilang?" sanggahku dengan nada khawatir.

Ummapun menghela nafasnya, "Memang kenapa kalau hilang? Nanti juga kembali sendiri" ujar umma dengan nada menggoda.

Akupun mengerucutkan bibirku, pertanda kesal. "Umma sama saja dengan Jungmo" sungutku.

"Memang benar kan? Nanti juga Yoonnie kembali lagi. Dia hanya ingin mengetahui sesuatu saja, hanya itu" ujar umma santai.

Karena tak mau membuat bayiku sedih, akupun memutuskan untuk mengajaknya ke kantor.

Kupersiapkan dahulu perlengkapan yang harus dibawa dan meletakkannya di tas bayi milik Sangyoon. Sedikit repot, karena aku harus melakukannya dengan menggendong Yoonnie.

Setelah semuanya siap, akupun beranjak menuju mobilku setelah berpamitan dengan umma.

"Cha, Yoonnie duduk disini, ne?" ujarku seraya mendudukkan bayiku di tempat duduk khusus bayi yang kuletakkan disampingku.

Dengan patuh, Sangyoonpun melepaskan rangkulannya padaku.

Kuberikan mainan di tangannya agar dia tak merasa bosan.

Kamipun berangkat dengan kecepatan sedang.

-

-

"Uwaa! Yoonnie sama nuna, ne?" ujar seorang yeoja yang tiba-tiba berlari menghampiriku ketika dia masuk ke ruanganku.

Aku kini tengah berdiri menimang-nimang bayi kecilku yang tak mau kuturunkan ini.

Yeoja itu terlihat begitu antusias. Kedua bola matanya berbinar menatap bayi yang kugendong. Bahkan kedua lengannya sudah terulur kearah Sangyoon.

Namun, sayangnya Sangyoon terlihat asyik sendiri dengan mainan yang ada di tangannya. Kasihan sekali kau, Lee Taemin.

"Yoonnie-ya, lihat nuna" seru Taemin seraya menepuk-nepukkan kedua tangannya pelan dihadapan Sangyoon.

"Sebut dirimu immo atau ahjumma, Tae" ujarku membenarkan ucapan 'nuna' yang dikatakannya.

Taeminpun mendongak, menatapku malas, "Aku ini masih muda, unnie. Tak pantas jika disebut immo atau ahjumma" ujarnya percaya diri.

"Ah, terserahmu saja. Ada apa kau kemari?" tanyaku.

"Aku kan sekertarismu, sajangnim. Wajar kalau aku kemari" ujarnya dengan sebutan formal padaku.

Ya, yeoja dihadapanku ini memang sekertarisku. Namanya Lee Taemin. Dia tidak seumuran denganku, yah lebih muda dua atau tiga tahunan lah dariku.

"Sebentar lagi ada rapat antar perusahaan. Unnie juga harus datang. Untuk itu aku kemari mengingatkan unnie, semua berkasnya sudah kusiapkan" lanjutnya.

Aish, bagaimana bisa aku melupakan jadwal rapat penting pagi ini?! Apalagi aku sedikit terlambat datang, karena menyiapkan perlengkapan Sangyoon.

Tapi, kalau aku rapat, bagaimana dengan Yoonnie?

"Eum, Tae. Bisa kau antarkan Yoonnie ke ruangan Jungmo?" ujarku.

Yah, tak apa kan kalau aku sedikit membuatnya repot?

"Tentu" balasnya girang.

"Yoonnie-ya, main dengan samchon dulu, ne?" ujarku seraya memberikan Sangyoon ke Taemin.

Bayi kecil itu terlihat tidak terima karena aku memberikannya pada Taemin. Tangan yang semula memegang mainan, kini melambai-lambai kearahku. Mainan tadi sudah dibuangnya ke lantai.

"Mamama" ujarnya dengan nada sedih.

Kupungut mainannya, kemudian meletakkannya di tas bayi yang kubawa tadi.

Kuberikan tas Sangyoon pada Taemin. "Cepatlah kemari lagi" ujarku sebelum Taemin beranjak pergi.

Hhh~ Segera saja aku melangkahkan kakiku kearah meja kerjaku, meneliti apa-apa yang harus kubawa. Tentu saja aku yakin kalau Taemin yang menyiapkannya pagi-pagi sekali. Anak itu memang pekerja keras sekali.

-

-

"Hhh... Akhirnya selesai juga" ujarku pada diri sendiri. Kusandarkan punggungku pada kursi yang kududuki ini.

Terang saja aku lega begini, dari dua jam yang lalu, aku harus duduk diam di kursi ini dan mendengarkan banyak hal yang kurasa begitu membosankan, serta sesekali berkomentar sedikit.

"Eoh, Sungmin-ssi?" ujar seseorang yang tadi juga ikut rapat, menghampiriku.

Akupun sontak berdiri dan sedikit membungkukkan badanku, sekedar memberikan salam padanya.

"Kyuhyun-ssi" ujarku pada namja dihadapanku.

Aku tak menyangka kalau dia bekerja di perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan kami.

Kamipun bertukar senyum, kemudian dia mengulurkan tangannya yang kubalas dengan senang hati.

"Senang bisa bekerja sama denganmu" ujarnya.

"Ne" balasku sekenanya.

Akupun melepaskan jabatan tangan kami. Kamipun terdiam.

"Ehem..." deheman Taemin berhasil membuat kami tersentak

"Ada apa Tae?" tanyaku bingung.

"Jungmo oppa mengirimiku pesan" jawab Taemin.

"Apa isinya?" tanyaku penasaran.

Sedangkan aku tak tahu apa yang ada dipikiran Kyuhyun-ssi sekarang.

"Yoonnie hilang" jawabnya tanpa ekspresi.

"MWO?!" teriakku dan Kyuhyun-ssi, reflek.

Akupun menatapnya, dan dia juga balik menatapku.

"Kaja, kita cari bersama" ujar Kyuhyun-ssi seraya menarik paksa tanganku.

Karena pikiranku juga tengah kacau sekarang, akupun hanya diam saja, membiarkan tanganku berada di genggamannya, kemudian mengikuti langkahnya, meninggalkan Taemin yang kuyakin benar-benar bingung dengan situasi saat ini.

.

-KYUMIN-

.

TBC?/END?

Mian updatenya lama+pendek+ngebosenin... #bungkuk2

makasih sama yang udah RnR!

n jangan lupa RnRnya!