Author : Amilia Marisca Kyumin Shipper
Cast : kyumin, sibum, dll
genre : family
warning : maaf kalo pendek,banyak typo, dll. Maklum masih pemula.
.
.
..
-Kyumin-
.
"Bagaimana ini?" lirihku pelan, benar-benar pelan.
Walaupun bukan kali pertama, namun entah mengapa kepanikanku tak pernah pupus, selalu saja muncul. Bagaimanapun juga aku ini seorang ibu yang diberikan Tuhan tanggung jawab merawat bayi kecil yang dititipkanNYA padaku.
"Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja" ujar Kyuhyun-ssi menenangku.
Dia memelukku dengan hangat. Rasanya nyaman, dan entah kenapa aku merasa kata-katanya benar, semuanya akan baik-baik saja. Aku percaya pada orang yang baru saja kukenal, benar-benar aneh bukan?
"Kaja, kita cari dulu" ujarnya melepas pelukannya.
Hhh, kenapa aku jadi merasa tak yakin lagi begini? Apa maksudnya?
Lelaki itu menggapai telapak tanganku, menggenggamnya erat. Rasanya hangat.
Kemudian aku mengikuti langkah kakinya yang terkesan tak terlalu cepat ataupun lambat.
"Apa kita perlu mencarinya di kamar mandi?" tanyanya saat kami menjumpai kamar mandi.
Akupun mengangguk. Otakku rasanya sudah terhipnotis untuk melakukakan apapun. Kenapa denganku?!
"Eum, apa tidak sebaiknya Kyuhyun-ssi saja yang masuk?" tanyaku saat kami akan memasuki kamar mandi pria.
"Ah, benar juga" ujarnya.
"Kau yang kesana" lanjutnya menunjuk kamar mandi wanita.
Kuanggukkan kembali kepalaku, menyetujui ucapannya.
Dilepaskannya tautan tangan kami, membuatku tak nyaman kembali. Sepertinya setiap sentuhannya sudah melekat nyaman dalam diriku, huh!
"Tidak ada" ujar kami bersamaan setelah mengecek kamar mandi.
"Kita cari di tempat lain" ujar Kyuhyun-ssi seraya kembali menggenggam telapak tanganku.
...
Sungmin pov End~ -
-
-KYUMIN-
...
-
...
"Apa yang kau pikirkan, Bummie?" tanya Siwon yang seperti biasa masuk ke apartemen gadis itu tanpa permisi.
Kibum kini tengah duduk melamun di kursi meja makan. Tangannya mengaduk-aduk makanan ringan yang berada di mangkuk di hadapannya.
"Eum?" tanya Kibum balik.
Siwonpun mencubit gemas pipi tembam kekasihnya, merasa gemas akan wajah polos yang disuguhkan dihadapannya.
"Kibummieku melamun. Ada apa?" ujar Siwon tanpa melepas cubitannya.
Kibum melepas tangan kekar Siwon yang berada di pipinya, kemudian memberikan senyuman manisnya.
"Tentang kemarin..." ujar Kibum menggantung.
Siwon mengerti apa yang dipikirkan Kibum sekarang. Namja tampan itu duduk di salah satu kursi yang ada di dekat Kibum.
Dielusnya pipi tembam nan putih milik sang kekasih. Lembut dan hangat.
"Aku... aku..." ujar Kibum tergagap.
Kibum memandang wajah tenang Siwon yang berada tepat di hadapannya.
"Apa lagi yang kau khawatirkan sekarang, heum?" tanya Siwon dengan lembut.
Kibum menyentuh tangan besar Siwon, mengecupinya dengan sayang.
"Aku hanya belum bisa mempercayainya, hanya itu saja" jawab Kibum.
Kini telapak tangan lembut Kibum memainkan tangan besar Siwon.
Siwonpun hanya tersenyum samar, kemudian menggenggam tangan lembut Kibum, membuat yeoja cantik itu menghentikan aktivitasnya.
"Lalu?" tanya Siwon lagi.
Kibumpun mengernyit heran akan pertanyaan kekasihnya.
"Lalu, apa lagi?" tanya balik Kibum.
Siwonpun terkekeh pelan, kekasihnya ini benar-benar polos ternyata.
"Umma menitipkan salam untukmu" ujar Siwon.
Kibumpun menarik bibirnya, membuat sebuah senyuman. Jika disuruh untuk mengingat apa yang terjadi tadi malam, rasanya membuat Kibum hanya bisa melamun, dilanjutkan dengan senyuman aneh.
"Hanya itu?" tanya Kibum.
"Sebenarnya tidak" jawab Siwon.
Siwonpun melepas genggaman tangannya, kemudian beralih untuk mengambil sebuah tas kertas yang berada dibawah kursi.
Kibum heran, bagaimana dia tidak tahu menahu mengenai datangnya tas itu? Apa dia sudah seperti orang bodoh? Katakan saja iya.
"Ini" ujar Siwon seraya meletakkan tas itu diatas kedua paha Kibum.
"Titipan dari umma" lanjutnya singkat.
Kibumpun hanya membulatkan bibirnya saja. Lalu, tatapannya beralih pada tas kertas yang berada dipangkuannya.
Jemari lentik Kibum dengan perlahan membuka tas itu. Penasaran tentu saja.
"Apa ini?" tanya Kibum bingung.
Dikeluarkannya sebuah mini dress dari tas tersebut.
Gaun berwarna dasar cokelat itu sederhana, namun terkesan mahal. Gaun selutut itu berlengan pendek, dan terdapat kerutan kecil dibawah bagian dada. Tak lupa renda bermotif bunga kecil yang menghiasi bagian bawah gaun itu. Juga di bagian belakang, terdapat sebuah pita sederhana yang berfungsi sebagai asesoris saja.
"Indah.." gumam Kibum lirih tanpa sadar.
"Ne, tentu saja. Umma sendiri yang memilihkannya. Katanya, gaun yang kau kenakan semalam benar-benar kuno" ujar Siwon seraya mengingat kembali apa yang dikatakan ibunya tadi.
Kibumpun menatap Siwon dengan raut wajah ingin tertawa.
"Itu umma yang memberikannya padaku" ujar Kibum.
"Ternyata benar, kata umma, ummamu memiliki selera fashion yang buruk" ujar Siwon.
Kibumpun hanya terkekeh saja. Menyangkalpun tak ada gunanya. Kibum akui, apa yang dikatakan ibu Siwon seratus persen akurat. Kim Junsu, ibunya, memang tak pandai memilih dan mencocokkan pakaian dengan tepat. Kalau semalam Kibum terlihat cantik, salahkan saja pada wajah dan tubuhnya yang memang cocok-cocok saja jika dipakaikan apapun itu.
Kibum kembali memandangi gaun yang masih dipegangnya.
Kemudian, gaun itu diletakkannya di meja, setelah menyingkirkan makanan ringannya entah kemana.
Tangan lembutnya kembali dimasukkan kedalam tas kertas yang masih berada di pangkuannya.
"Sepatu?" ujarnya bingung seraya menunjukkan sepatu berwarna cream kepada kekasihnya.
Siwonpun ikut memandang kearah sepatu berheels pendek itu, tak terlalu tinggi, sekitar empat sampai enam sentimeter.
Kibum meletakkan sepatu itu ke lantai, kemudian mencobanya.
"Woah! Ini pas di kakiku! Bagaimana kau tahu ukuran sepatuku?" ujar Kibum kagum.
Ya, walaupun Kibum memang kekasih Siwon. Namun, Siwon tak terlalu memikirkan hal-hal yang menurutnya tak penting seperti ukuran sepatu, dan lainnya.
"Kukatakan sekali lagi, ini bukan dariku. Jadi aku tak ambil andil sama sekali" ujar Siwon santai.
Kibumpun semakin menampakkan raut wajah kagumnya. Yang benar saja, kakinya yang terkesan kecil ini terlihat begitu nyaman menggunakan sepatu cream itu.
"Sebenarnya umma sempat bertanya, tapi aku jawab saja kalau aku tak tahu" ujar Siwon jujur.
Kibum memukul pelan lengan kekar kekasihnya, "Dasar, tidak perhatian" sungut Kibum kesal.
Siwonpun meringis pelan, menampakkan raut wajah kesakitan yang memang hanya pura-pura saja.
"Kalau aku ingin membelikanmu sepatu, kau hanya perlu ikut bukan? Jadi untuk apa aku perlu tahu ukuran sepatumu" ujar Siwon enteng.
Kibumpun mengerucutkan bibirnya saja, tak mau membalas lebih ucapan kekasih tampannya.
Kembali, tangannya mengeluarkan isi dari tas kertas itu. Namun, sepatu cream itu tak lepas dari kakinya.
"Eh? Bando? Gelang? Cincin? Anting-anting? Kalung?" heran Kibum setelah membuka sebuah kotak yang sebelumnya ada di tas.
"Eh?" Siwonpun ikut kaget melihat sebuah cincin yang ada di kotak itu.
Kibum menatap Siwon bingung. Seharusnya lelaki itu sudah tahu apa yang ada didalam tas kertas itu, kenapa jadi ikut terkejut?
Siwon mengambil cincin polos namun antik itu, karena motifnya mungkin.
"Ini kan cincin umma" ujar Siwon lirih.
Setelah itu, tanpa pikir panjang, Siwon memeluk erat tubuh ramping Kibum, benar-benar erat.
"Eung~ Se... saakk..." ujar Kibum.
Siwon melepas pelukannya, kemudian merampas tas kertas yang ada dipangkuan kibum. Mencari sesuatu yang benar-benar ingin diketahuinya.
Sebuah kertas!
/Umma merestuimu. Puas, kau?!/
Hanya satu kalimat, membuat dada Siwon bergemuruh cepat. Ini kertas untuknya, bukan Kibum.
Ada satu kertas lagi, dan dapat Siwon yakini ini untuk Kibum.
"Ini" diserahkannya kertas yang dilipat itu pada Kibum.
"Gunakan untuk acara pertunangan kalian minggu depan" ujar Kibum membaca isi dari kertas itu.
Mata Kibum berkaca-kaca, dibacanya tulisan hangul itu berulang-ulang. Sempat tidak mempercayai apa yang tertulis di kertas itu.
"Ini nyata?" tanya Kibum linglung.
Otak cerdasnya kini serasa mati total, tak mau diajak untuk bekerja sama sekali. Sedangkan mata indahnya sudah siap kapan saja meneteskan air mata kebahagiaannya.
Tanpa sadar, Kibum menepuk kasar pipi tembamnya. Sekedar untuk membuktikan kalau ini NYATA.
Isakan lolos begitu saja dari bibir merahnya. Dan dengan sigap, Siwon memeluk tubuh ramping yeoja yang akan menjadi tunangannya itu.
'Gomawo, umma'
...
-
...
-KYUMIN-
...
-
...
"Ah.. ah.. ah.."
Terdengar suara imut keluar dari sesosok bayi mungil yang berusaha menaiki sebuah tangga.
Bayi kecil itu terlihat mengembangkan senyum lucunya ketika melihat sebuah pintu terbuka. Memang tak terlalu jauh, namun sedikit susah untuknya yang hanya bisa merangkak saja sejauh ini.
Selama lima menit lamanya, akhirnya bayi itu berhasil mencapai pintu yang terbuka.
Karena merasa kelelahan, bayi itu bersandar di balik pintu untuk sesaat, kemudian kembali merangkak.
Dari mata bulat kecilnya, bayi itu melihat ada sebuah benda yang menarik perhatiannya. Sebuah gantungan yang lumayan besar, tergantung di handphone seorang pegawai.
Gantungan itu berbentuk sebuah animasi kelinci putih yang terlihat benar-benar lucu.
Diikutinya kemana arah karyawan wanita itu. Pasalnya, ponsel itu berada di saku celananya, dan gantungannya berada di luar.
"Hah..Hah..Hah..."
Perjalanan bayi mungil itu kembali dimulai. Dengan semangatnya, bayi itu mengikuti sang kelinci putih, tanpa melihat sekelilingnya, hanya melihat sang kelinci incarannya.
Tak tahu saja bayi itu, kalau ada dua orang yang terlihat kalang kabut mencarinya.
"Tae, katakan pada seluruh karyawan untuk memberitahuku kalau melihat Sangyoon" ujar Sungmin pada ponselnya.
Kyuhyun, hanya menatap sekelilingnya saja. Mana tahu kalau tiba-tiba saja Sangyoon terjungkal dan masuk ke dalam pot besar yang dari tadi ditemuinya.
Hhh~ tapi mustahil juga. Jangankan terjungkal, menjangkaunya saja mungkin Sangyoon tak sanggup. Pemikiran orang yang tengah panik memang pendek.
"Apa kata Taemin-ssi?" tanya Kyuhyun.
Sungmin hanya menjawabnya dengan gelengan kepala saja, kemudian kembali memasukkan ponselnya ke saku pakaian yang dikenakannya.
"Seharusnya aku tak mengajaknya kemari tadi" gumam Sungmin lirih.
Kyuhyun yang mendengarnya hanya tersenyum saja. Genggaman tangannya pada Sungmin semakin dieratkannya.
"Tak perlu menyesal begitu. Tak ada gunanya juga" ujar Kyuhyun.
"Tidakkah kita ke lantai tempat Sangyoon tadi?" lanjut Kyuhyun memberikan pendapatnya.
"Ah, benar juga. Lantai Jungmo berada dua lantai dari sini" ujar Sungmin.
Mendengar nama namja lain disebut, Kyuhyunpun mengerutkan dahinya pertanda tak suka.
"Apa aku belum memberitahumu kalau tadi aku menitipkan Sangyoon di ruangan Jungmo saat kita rapat tadi?" tanya Sungmin melihat raut wajah Kyuhyun yang berubah.
Kyuhyun hanya memberikan gelengan kepalanya saja.
Dilangkahkan kakinya menuju lift, diikuti dengan Kyuhyun yang memang menggandengnya.
"Tunggu dulu, bagaimana Sangyoon bisa tahu cara menggunakan lift?" gumam Kyuhyun tanpa sadar saat mereka sudah berada dalam lift.
Dan memang dugaan Kyuhyun benar, Sangyoon menggunakan tangga darurat yang justru lebih menguras tenaganya yang tak seberapa itu.
...
-
-KYUMIN-
-
-
...
Siangpun telah tiba, namun bayi kecil itu belum juga ditemukan keberadaannya, ajaib bukan?
"Mamamama... hiks...hiks... mamama!" isakan kecil mulai terdengar di sebuah ruangan yang disebut ruang Office Boy.
Ternyata bayi kecil nan menggemaskan itu berada dibawah meja yang tertutup sempurna dengan sebuah kain sebagai 'taplak'nya.
Sebenarnya bayi itu ingin keluar dari ruangan itu, dan kembali ke tempat Jungmo, namun dia tak tahu bagaimana caranya membuka pintu. Dan menurutnya, tempatnya sekarang sudahlah aman.
"hiks...hiks...hiks..."
Ini pengalaman pertamanya berkelana dalam jangka waktu selama ini, dan dalam tempat seluas(pikirnya) ini.
Apalagi sekarang waktunya makan siangnya dilanjutkan dengan tidur siangnya.
"HUEEEEE!MAMAMA!" pecah sudah tangis bayi itu.
Dia kini tengah duduk dalam kegelapan. Parahnya, ini waktunya makan siang, sang Office boy tentu saja juga tengah menikmati makan siangnya di kantin kantor.
"HUEEEE!" tangis itu tidak berhenti begitu saja. Malah semakin kencang saja.
Cklek~
"Huh, untung saja masih ada" gumam seorang OB yang baru saja masuk.
"HUEEEE!"
OB itu mengambil ponselnya diatas meja, "Bayi?" gumamnya antara yakin atau tidak.
Pandangan namja itu beralih kearah bawah, tepatnya pada sebuah telapak tangan kecil yang menyentuh pergelangan kakinya.
Matanya membulat lebar, pikirannya sudah parno saja.
"HUEEE!"
Sejenak, OB itu merasa tenang karena kepala sang bayi juga muncul. Itu berarti bayi itu nyata.
Digendongnya bayi kecil yang masih menangis heboh itu.
"Mana orang tuamu?" tanyanya.
Tentu saja dia belum mengenal sang bayi, dia ini pegawai baru.
Bayi mungil itu hanya menjawabnya dengan tangisan serta tarikan pada pakaian yang dikenakan sang OB.
"Ah, sebaiknya kita keluar dan mencari orang tuamu" ujar namja itu karena merasa jika pertanyaannya sia-sia saja.
"Mamamama! HUEEE!"
"Sudah, jangan menangis lagi. Kita cari ummamu" ujar sang namja berusaha mendiamkan tangisan bayi itu.
Merekapun keluar dari ruangan itu dengan sang bayi yang tak mau diam, menuju ke resepsionis.
"Tenanglah sebentar" ujar sang namja yang mulai jengah mendengar tangisan bayi itu.
"Permisi, boleh saya..."
Belum sempat sang namja melanjutkan perkataannya, sang resepsionis sudah memotongnya terlebih dahulu.
"Darimana kau mendapatkannya?!" ujar sang resepsionis cepat. Namun, terdapat raut kelegaan yang teramat ditunjukkan di wajah cantiknya.
Resepsionis itu langsung saja mengambil telpon yang berada disana, menghubungi seseorang.
"Ne, tuan muda Choi berada di tempat resepsionis" ujarnya pada orang diseberang telepon.
"Ne, saya pastikan" ujarnya lagi.
Setelah menutup telpon tersebut sang yeoja mengambil alih tubuh kecil sang tuan muda.
"Anak anda?" tanya sang OB ingin tahu.
"Kau tak mengenal tuan muda? Tuan muda ini putera Presdir Lee" jawabnya menggebu-gebu.
Sang OBpun menatap tak percaya pada bayi kecil yang masih menangis itu.
"Jin...ja?" ujar sang namja gagap.
"HUEEEE! MAMAMAMA!" bayi kecil itu terus menangis, bahkan sekarang tangan mungilnya menarik-narik rambut sang resepsionis yang tergerai itu.
"Sebentar lagi presdir datang" ujar sang resepsionis seraya melepaskan tangan mungil itu dengan lembut.
Benar saja, tak lama kemudian, muncullah sosok yang tengah dinanti sang bayi.
"YOONNIE!" ujar Sungmin sambil berlari mendekati sosok mungil anaknya.
Dengan cepat, bayi kecil itu sudah berada di pelukan hangat sang ibu.
Sedangkan Sangyoon mengeratkan pelukannya pada sang ibu.
"Yoonnie darimana saja, eoh?" tanya Sungmin seraya mengecupi pipi gembul bayinya.
"Hehehe" tangisan yang tadi terdengar membisingkan itu, kini berganti dengan tawa senang tanpa menyisakan isakan sedikitpun.
Kini Sungmin mengecupi seluruh wajah bulat anaknya dengan gemas. "Gomawo" ujarnya pada resepsionis yang berada dihadapannya.
Kyuhyun, namja yang sedari tadi mengikuti Sungmin itu hanya tersenyum saja.
Melihat raut wajah bahagia dari ibu dan anak itu, membuatnya ikut melengkungkan bibirnya membentuk senyuman.
...
-
...
-KYUMIN-
...
-
...
flashback~
"Sudah kukatakan berhenti melakukan hal seperti itu!" ujar seorang wanita pada namja berstatus suaminya itu.
Sang suami hanya menatap sendu pada istrinya yang terlihat benar-benar marah.
"Hanya ini yang dapat kulakukan" ujarnya lirih.
Sang istripun langsung saja berlutut, air mata yang sejak tadi ditahannya, kini mengalir begitu saja.
"Kumohon, hentikan! hentikan!" ujarnya dengan kedua lengan yang memeluk lutut sang suami.
"Aku tak mau terjadi sesuatu padamu" lanjutnya.
"Umma! Shin Hae mau makan!" teriak seorang anak kecil tiba-tiba.
Sang namja kecilpun kaget melihat air mata sosok yang dianggapnya sebagai 'umma' itu. Apalagi posisi sang 'umma' yang terlihat tak biasa itu.
"Panggil Ai Mee nuna dulu, suruh nuna memasakkannya untukmu" ujar sang namja menjawab ucapan anak kecil itu.
Sang namja tahu kalau istrinya pastilah tak sanggup menjawab ucapan anak kecil itu.
"Tapi Ai Mee nuna belum pulang sekolah" ujar namja kecil itu, terkesan merengek memang.
Perut kecilnya sudah ingin diisi rupanya.
"Biar appa saja yang memasakkannya" ujar namja dewasa itu.
Dilepasnya perlahan rangkulan istrinya di kakinya.
"Anak itu sudah lapar" ujarnya lirih tepat ditelinga istrinya.
Namja itu kemudian pergi dengan menggandeng tangan mungil anak kecil tadi.
"Kenapa kau selalu saja melarikan diri seperti ini dariku, Kangin-ah?" ujar sang wanita lirih.
Flashback End~ ...
-
...
-KYUMIN-
...
-
...
TBC?/END?
Annyeong, Chingudeul~
Mian updatenya lama, pendek, ngebosenin...
Yang cast anak-anak panti itu cuma nama ngarang aja, dan buat tambahan aja...
Oh ya, Lia mau ngucapin
Minal Aidzin Walfaidzin "Mohon Maaf Lahir dan Batin"
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H
Makasih sama yang udah RnR. Dan jangan lupa RnRnya~
