Kyuhyun tengah sibuk melamun, matanya tertuju pada ponselnya yang masih tetap menunjukkan tulisan yang sama sejak lima menit yang lalu.
To : Sungminnie 3
Dan selanjutnya, hanya ada layar kosong berwarna putih saja. Tangannya sudah bersiap akan mengetikkan sesuatu, namun hingga lima menit berlalu, layar itu tetap sama saja.
Ia bingung akan mengirimkan pesan bagaimana, ia hanya ingin mengajak Sungmin makan malam, hanya itu saja. Namun, ia tak tahu harus memulainya darimana.
"Sungminnie, aku mengajakmu makan malam nanti" ujarnya.
"Ah, tidak-tidak. Itu terlalu frontal kurasa" balasnya pada kalimatnya sendiri.
"Ayo kita makan malam"
"Ah, tidak. Terlalu konyol"
"Bagaimana dengan makan malam?"
"Bukan gayaku sama sekali"
Kyuhyunpun memutuskan untuk mengetikkan beberapa kata di ponselnya, tentunya dengan pertimbangan yang sangat matang menurutnya.
Setelah mengirim pesan tersebut, Kyuhyunpun meletakkan ponselnya di atas meja. Kemudian ia kembali menggeluti pekerjaannya.
Berkali-kali ia menoleh kearah ponselnya, memastikan apabila Sungmin membalas pesannya atau tidak. Namun, hanya layar hitam yang ia dapatkan.
"Aish! Aku bisa gila sendiri rasanya!" ujarnya karena ia benar-benar tidak berkonsentrasi penuh pada pekerjaannya.
Hatinya benar-benar gelisah sekarang.
THAT BABY / KYUMIN / GS / CHAPTER 12
Author : Amilia Marisca Kyumin Shipper
Cast : kyumin, sibum, dll
genre : family
warning : maaf kalo pendek,banyak typo, dll. Maklum masih pemula.
..
-Kyumin-
.
Sungmin hari ini memutuskan untuk pulang siang hari. Ia sudah menyerahkan sisa pekerjaannya pada sekertarisnya.
Dan kini ia sudah berada di panti asuhan tempatnya tinggal. Duduk di samping Sangyoon yang masih tidur siang di atas karpet, ruang tengah.
Sungmin membelai rambut halus Sangyoon yang tidur dengan posisi tengkurap. Ia terkekeh pelan mendapati air liur Sangyoon yang membasahi bantalnya.
"Nyenyak sekali, eoh?" bisiknya pelan.
Tangannya kini melepaskan telunjuk Sangyoon yang berada di mulut mungilnya.
"Sudah pulang?" tanya Leeteuk yang baru saja dari kamar anak-anak.
"Ne, umma. Minnie merindukan Yoonnie" jawab Sungmin dengan senyum manisnya.
"Sudah makan siang?" tanya Leeteuk lagi, dengan nada keibuannya.
Sungmin menggeleng sebagai jawaban. Setelah itu, Sungmin menggandeng Leeteuk menuju ruang makan. Ia tahu jika Leeteuk pasti sudah memasak, karena sebelum anak-anak tidur siang, mereka makan siang terlebih dahulu.
Leeteuk hanya tersenyum kecil saja mendapati sikap manja Sungmin. Sebelum menuju ruang makan, ia melirik singkat pada Sangyoon. Nampaknya bayi itu baik-baik saja, tidurnya sangat nyenyak sekali.
-0000-
"Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" tanya Leeteuk perhatian.
Setelah makan siang, kemudian dilanjutkan membersihkan diri sebentar, kini Sungmin tengah duduk-duduk di tempatnya tadi bersama Leeteuk. Sangyoon masih tetap tidur, namun kini posisinya terlentang dengan mulut yang terbuka.
"Tak ada masalah yang berarti, umma" jawab Sungmin ringan.
"Kalau Kyuhyun, bagaimana?" tanya Leeteuk lagi.
Sungmin menatap Leeteuk dengan pandangan bingungnya, "Maksud umma apa?" tanyanya.
Leeteuk menggapai kepala Sungmin, merebahkan ke pangkuannya. Sedangkan Sungmin hanya menurut saja, tanpa mengeluarkan protesnya.
"Hubungan kalian? Apa Minnie tak merasakannya?" ujarnya lembut.
Sungmin hanya diam saja, mendengarkan apa yang akan Leeteuk katakan selanjutnya.
"Apa Kyuhyun tak pernah menghubungimu? Mengajak makan siang mungkin?" lanjutnya.
Sungmin tertawa dengan menutup bibir manisnya menggunakan telapak tangannya, nampak malu rupanya.
"Kalau itu sih sering umma" ujar Sungmin.
"Hanya itu?" tanya Leeteuk.
"Memangnya apa yang umma pikirkan?"
"Eum... berkencan misalnya?" ujar Leeteuk ragu-ragu.
Sungmin membelalakkan kedua bola mata bulatnya, "Mana mungkin, umma!" ujarnya dengan suara yang agak keras.
Dan suara Sungmin berhasil membuahkan rengekan dari bayi yang tengah tidur di depan mereka.
Sangyoon berguling ke kanan, membuatnya kini berada dalam posisi tengkurap. Kepalanya ia edarkan guna mencari-cari sosok yang ia kenal setidaknya. Namun rengekan tak berhenti ia lantunkan.
Pandangan dua yeoja berbeda generasi itupun kini mengarah pada sosok kecil yang juga tengah menatap mereka itu.
"Kemari, sayang" ujar Leeteuk lembut.
Sangyoon tetap pada tempatnya, ia kini menggapai-gapai dua sosok yeoja yang berada di depannya itu.
Sungmin tak membantu sama sekali. Ia hanya diam saja, menunggu apa yang akan dilakukan puteranya selanjutnya.
"Hik.. hiks... mamamama!"
"Kemarilah, baby. Halmonie tahu kalau Yoonnie kangen umma bukan?" ujar Leeteuk dengan menekankan kata 'umma'.
Sangyoon yang melihat Sungmin tak menghampirinya dan menggendongnya itupun akhirnya merangkak mendekati ibunya.
"Mamamama!"
Sangyoon duduk diatas perut Sungmin, membuat Sungmin sedikit kegelian karena pergerakan bayi gemuk itu.
"Lalu, bagaimana mengenai Kyuhyun?" tanya Leeteuk kembali ke perbincangan mengenai namja bermarga Cho itu.
"Umma, tak mungkin kami berkencan" sungut Sungmin dengan bibir yang dipoutkan, manis.
"Kenapa tidak mungkin? Kalian sama-sama masih 'single' kan sekarang?" ujar Leeteuk.
"Tapi aku janda, umma. Dan dia juga sudah memiliki wanita lain" ujar Sungmin lirih.
Leeteukpun menghela nafasnya berat, "Memang apa yang salah dengan itu? Dan, yeoja lain yang belum menikah dengannya begitu. Tak masalah menurut umma" ujarnya.
'Kurasa ada sedikit kesalah pahaman disini' batin Leeteuk.
"Tentu saja salah, umma"
"Tapi, bagaimana kalau Kyuhyun menerimamu apa adanya? Meninggalkan yeoja lain itu? Apa itu juga masih salah?"
Sungmin terdiam, menatap kearah Sangyoon yang kini sudah menyandarkan kepalanya diatas dada Sungmin, mencari kehangatan.
Dielusnya punggung rapuh itu dengan sangat lembut, "Meskipun begitu, Sangyoonnie..." ujarnya terputus.
Leeteuk menangkup tangan halus Sungmin, "Kau juga harus mendapatkan kebahagiaanmu sendiri, Minnie. Kali ini saja, umma mohon" ujarnya dengan nada memohon.
"Minnie sudah bahagia bersama Sangyoon, umma, dan anak-anak disini" balas Sungmin dengan senyumnya.
Leeteuk hanya menatap prihatin pada yeoja di pangkuannya itu. Leeteuk hanya ingin Sungmin memiliki seseorang yang menjaganya, melindunginya, membuatnya bahagia. Menyayangi Sungmin sebagai pendamping hidupnya dan juga Sangyoon seperti anaknya sendiri.
"Ah, umma tak melihat tas Minnie, apa sudah ada di kamar?" tanya Leeteuk mengalihkan pembicaraan.
Sungmin menepuk pelan kening putihnya, "Masih di mobil, umma" ujarnya.
Dengan lembut, diangkatnya Sangyoon dan menggendongnya menuju tempat dimana mobilnya terparkir.
"Ah, bagaimana sampai bisa lupa begini?" tanyanya pada diri sendiri.
Diraihnya tas kerjanya yang tergeletak di kursi penumpang, kemudian kembali masuk ke panti.
"Minnie sangat merindukan Yoonnie, umma. Jadi langsung mencari Yoonnie" ujar Sungmin seraya meletakkan tas kerjanya diatas karpet.
Leeteuk hanya manggut-manggut paham saja, kemudian mengambil alih Sangyoon dari pangkuan Sungmin, karena dilihatnya sang yeoja yang tengah mencari-cari sesuatu dari dalam tasnya.
"Ah, dapat juga" ujar Sungmin dengan nada lega.
Sebuah ponsel kini telah berada di tangannya. Sungminpun segera membuka kunci ponselnya, siapa tahu ada yang menghubunginya atau mengiriminya pesan mengenai hal penting seperti pekerjaan.
"Eoh? Kyuhyun?" gumamnya pelan karena nama 'Cho Kyuhyun'lah yang mengiriminya pesan singkat.
Leeteuk yang mendengar nama yang tadi mereka debatkan itupun berangsur mendekat kearah Sungmin, ingin tahu hal apa yang membuat Sungmin menggumamkan nama itu.
Tanpa prasangka buruk apapun, Sungmin membuka pesan yang Kyuhyun kirimkan.
From : Cho Kyuhyun
Apa kau nanti malam ada acara? Aku hanya ingin menawarkan makan malam bersama
"Ah, apa itu bisa dikatakan ajakan kencan?" goda Leeteuk setelah ikut membaca pesan dari Kyuhyun.
Wajah Sungminpun berangsur memerah mendengar godaan dari Leeteuk, "Apa yang umma katakan?! Ini hanya makan malam" bantah Sungmin dengan nada malu-malunya.
"Sebentar lagi Yoonnie akan mendapatkan appa baru" ujar Leeteuk seraya mengarahkan kepala Sangyoon menghadap padanya.
"Appa" eja Leeteuk mengajarkan pada sang bayi.
"Ap... paaa..." bayi berumur sebelas bulan itu nampaknya cukup pintar mengikuti kata yang halmonienya ajarkan.
"Umma..." rengek Sungmin karena Leeteuk terus saja menggodanya.
Leeteuk hanya terkekeh saja menanggapi rengekan Sungmin, ia mencium pipi bulat bayi yang tengah tersenyum lebar itu.
"Cepatlah dibalas" perintah Leeteuk.
Sungminpun mengangguk, menuruti apa yang Leeteuk katakan.
To : Cho Kyuhyun
Tidak. Kurasa makan malam bersama bukan ide yang buruk.
Leeteuk tersenyum senang. Melihat puterinya bahagia pastilah membuatnya ikut bahagia juga.
-KYUMIN-
Sungmin kini sudah rapi, duduk di sofa ruang tengah, menunggu Kyuhyun menjemputnya untuk makan malam.
"Apa Sangyoonnie juga akan ikut?" tanya Leeteuk ketika dilihatnya Sangyoon duduk di pangkuan Sungmin dengan penampilan tak kalah rapinya dari Sungmin.
Penampilan bayi gemuk itu sudah seperti orang dewasa saja. Kemeja biru laut dengan lengan pendek, rompi hitam, serta celana panjang hitam sudah melekat di tubuh gempalnya. Ah, jangan lupakan dasi merah berbentuk kupu-kupu di lehernya.
"Tentu saja, umma" jawab Sungmin seraya mencium gemas pipi kemerahan bayinya.
"Aigoo, Yoonnie akan makan malam dengan appa, ne?" ujar Leeteuk tepat di depan wajah bundar Sangyoon.
"Umma..."
Leeteuk hanya cekikikan saja mendengar rengekan Sungmin yang menurutnya sangat manis dan menggemaskan itu.
Tok~ Tok~ Tok~
"Ah, sepertinya Kyuhyun sudah menjemput" ujar Leeteuk antusias.
Sungminpun berdiri, sedikit merapikan pakaian yang ia kenakan, meraih tasnya, kemudian berjalan menuju kearah pintu depan.
Dan benar saja, Kyuhyun sudah berdiri tegak di depan pintu saat Sungmin sudah membuka pintu depan.
Dengan tatapan gugup karena berusaha menutupi kekagumannya pada penampilan Sungmin, Kyuhyunpun mengulas senyumnya, seolah mengatakan salam padanya.
"Kita langsung berangkat saja" ujar Sungmin. Karena jika Kyuhyun masuk kedalam, Leeteuk pasti akan menggodanya lagi.
Kyuhyun hanya mengangguk saja, mengikuti Sungmin yang sudah berjalan terlebih dahulu.
Kyuhyun sedikit terkejut karena Sangyoon ikut serta. Maksud dari kata 'bersama' tadi seharusnya hanya berdua, bukan bertiga seperti ini.
Tapi, namja itu sedikit bersyukur karena Sangyoon bukanlah bayi yang rewel. Itupun saat bersamanya, jika tidak bersama dengannya, Kyuhyunpun tak tahu.
-0000-
"Apa kau menyukainya? Maaf jika aku sudah memesannya terlebih dahulu, aku tidak mau kau menunggu lama" ujar Kyuhyun.
Setelah sampai di restoran yang Kyuhyun pesan, mereka bertiga langsung saja menuju ke ruangan V.I.P. Dan tentunya Kyuhyun juga sudah memesan makanan yang akan mereka nikmati.
"Gwenchana, aku bukanlah pemilih untuk hal makanan" ujar Sungmin ramah.
Kyuhyunpun mengangguk pelan, kemudian meraih sebuah makanan berbahan dasar labu menggunakan sumpit, meletakkannya pada piring Sungmin.
"Kuharap kau menyukai ini" ujar Kyuhyun.
"Ah, aku sangat menyukai labu. Bagaimana kau tahu?" ujar Sungmin antusias.
Iapun melahap makanan yang Kyuhyun berikan padanya, "Enak sekali" komentarnya setelah makanan itu melewati lidahnya.
"Ini pesanannya" ujar seorang pelayan yang baru saja tiba, membawakan pesanan Sungmin.
Sungminpun mulai membuka tas yang ia bawa, mengeluarkan susu instan bubuk dalam botol bayi yang sengaja ia bawa.
Sangyoon yang memang duduk sendiri di kursi khusus bayi di sebelah Sungmin itupun tersenyum cerah saat botol susunya terlihat oleh mata bulatnya.
"Ah, susunya nanti saja ne, baby" ujar Sungmin.
Dan untungnya pelayan tadi membawakan termos kecil untuk tempat air hangatnya, jadi air yang dipesan Sungmin akan tetap hangat.
"Aaa" Sangyoonpun kecewa saat Sungmin kembali memasukkan botol susunya ke dalam tas.
"Aaa" Kyuhyun menyodorkan buah pisang pada Sangyoon, agar perhatian bayi itu teralih.
Sungmin yang melihatnya, menunjukkan senyum manisnya, "Sepertinya kau sudah siap menjadi ayah?" ujarnya.
Kyuhyunpun menatap kikuk kearah Sungmin, "Ah, tidak juga" bantahnya.
"Aku hanya... yah naluri saja mungkin" tambahnya asal.
Sungmin kini beralih kearah puteranya. Sangyoon nampaknya sangat menikmati pisangnya. Bayi itu terlihat sangat lahap.
"Jinja? Naluri seorang ayah?" ujarnya seraya membersihkan noda-noda di sekitar wajah Sangyoon menggunakan tangannya.
"Eum... yah... aku juga tak tahu. Aku bahkan belum menjadi ayah" ujar Kyuhyun.
"Ah, benar juga. Tapi kurasa kau harus lebih dekat lagi dengan wanita yang kau cintai, agar hubungan kalian semakin dekat, dan kalian menikah. Memiliki anak-anak yang lucu, menjadi seorang ayah yang sesungguhnya" ujar Sungmin panjang lebar.
Ia jadi ingat pada wanita yang kata Kyuhyun sedang ia 'dekati'. Entah kenapa ia sedikit tak rela mengucapkan kata 'menikah' tadi. Tapi mau bagaimana lagi, kata itu sudah terlanjur keluar dari bibirnya.
"Menikah ya? Kurasa masih terlalu terburu-buru untuk sampai ke jenjang itu" ujar Kyuhyun pesimis.
Sungmin menatap kearah namja itu, "Kenapa? Kurasa tidak. Ah, tapi jika wanita yang kau maksud umurnya 'kurang' untuk menikah, mungkin harus menunggu dulu" guraunya.
Kyuhyun bukannya marah, ia malah terkikik kecil mendengar gurauan Sungmin yang menurutnya kurang 'masuk di akal seorang Cho Kyuhyun'.
"Ternyata kau lucu juga" ujarnya.
"Kau baru tahu? Bahkan aku sudah membuat Yoonnie tertawa berulang kali" balas Sungmin.
Kyuhyun kembali terkekeh pelan atas apa yang Sungmin ucapkan.
"Iyakan, sayang?" ujar Sungmin seraya menatap wajah sang buah hati serta mengelus rambut halusnya.
"Ah, aku lapar. Sebaiknya aku makan dulu" ujar Sungmin yang membuat Kyuhyun terkikik lagi.
Dan merekapun makan malam dengan tenang. Walaupun sesekali Sangyoon akan meminta makanan ini-itu dengan menunjuknya dengan jemari pendeknya.
-0000-
"Selamat malam!"
Sungmin melambai-lambaikan tangannya kearah mobil Kyuhyun yang berangsur menjauh dari panti asuhan.
Sangyoon sudah terlelap di pelukan hangatnya. Tidur dengan bersandar pada dada sang ibu.
"Masuklah Minnie! Udara malam tak baik untukmu dan Yoonnie!" teriak Leeteuk dari dalam.
Sungminpun tersenyum senang, mendapatkan perhatian, kasih sayang dari Leeteuk. Iapun masuk kedalam, tak lupa menutup dan mengunci pintu depan terlebih dahulu.
Setelah itu, Sungmin membaringkan Sangyoon di kasur tidurnya, memberinya beberapa bantal besar di sekitarnya. Kemudian menghampiri Leeteuk di kamarnya.
"Ada yang ingin kau ceritakan?" goda Leeteuk setelah Sungmin duduk di atas kasur, di sebelahnya.
"Umma, sudah kubilang bukan kalau Kyuhyun sudah memiliki yeoja lain?!" sungut Sungmin seraya meluruskan kakinya.
"Apa mereka memiliki hubungan?" tanya Leeteuk.
"Eum... tidak juga sih. Baru pendekatan katanya" jawab Sungmin ragu-ragu.
Leeteukpun tersenyum, kemudian mengangguk, 'Pasti maksudnya adalah dirimu sendiri, Minnie' batinnya.
Sungmin tak sengaja menatap sebuah figura foto. Ia yang penasaranpun mengambil figura itu.
Ini memang bukan kali pertama Sungmin masuk ke dalam kamar Leeteuk. Mungkin ia tidak terlalu teliti saja akan barang yang kini membuatnya penasaran.
"Ini siapa, umma?" tanyanya seraya menunjukkannya pada Leeteuk.
Leeteuk nampak sedikit terkejut tatkala Sungmin menyadari benda itu. Seharusnya ia menyimpannya saja.
"Apa dia juga anak di panti ini?" tanya Sungmin lagi karena Leeteuk hanya diam saja.
Leeteukpun meraih figura foto itu, mengelus sebuah foto bayi yang tengah tertawa cerah.
"Bukan. Ini puteri umma" jawab Leeteuk.
"Ah, mian. Minnie tidak tahu kalau..." ujar Sungmin tak enak hati.
Leeteukpun tersenyum lega karena Sungmin tak menyadari siapa yang ada dalam foto itu.
"Kalau boleh Minnie tahu, kemana puteri umma itu?" tanya Sungmin sedikit ragu.
Yah, ia hanya tak ingin membuat Leeteuk bersedih. Tapi apa mau dikata, ia sendiri sangat penasaran. Ia memang tak tahu mengenai puteri Leeteuk itu.
"Dulu umma dan appa memiliki seorang puteri. Namun, kami mengalami keterbatasan biaya ekonomi dan anak-anak panti juga memerlukan dana" mulai Leeteuk.
Sungmin hanya diam saja, mendengar bagaimana cerita selanjutnya.
"Suatu hari, sepasang pengusaha kaya datang ke panti. Mereka mencari anak untuk mereka jadikan anak angkat mereka. Dan perhatian mereka tertuju pada puteri kami. Yah, memang dia masih berumur tiga bulan saat itu. Kamipun memutuskan untuk memberikan puteri kami pada mereka. Kami hanya berharap jika puteri kami nanti mendapatkan apa yang tidak ia dapatkan, apa yang seharusnya ia dapatkan" lanjutnya.
"Lalu, dimana puteri umma sekarang?" tanya Sungmin penasaran.
Leeteukpun sedikit ragu untuk menjawab pertanyaan Sungmin kali ini.
"Umma... tak tahu" jawabnya akhirnya.
Berbohong di akhir cerita Leeteuk kira pilihan terbaik untuk saat ini. Walaupun pada akhirnya Sungmin akan tahu dengan sendirinya, setidaknya ia sudah menceritakan bagian awalnya.
Sungmin menatap iba pada Leeteuk. Walau bagaimanapun juga ia tetaplah seorang ibu, walapun Sangyoon bukan darah dagingnya sendiri.
"Mian jika Minnie membuat umma jadi ingat pada puteri umma" ujar Sungmin dengan nada menyesal.
"Gwenchana, sekarangkan ada Minnie. Sama saja bukan?" ujar Leeteuk semangat.
"Ne. Minniekan puteri umma juga" ujar Sungmin.
'Kau memang puteri umma, sayang' ujar Leeteuk dalam hati.
-0000-
Siwon kini mengusap kasar pada wajah rupawan yang Tuhan berikan padanya.
"Apalagi sekarang?" gumamnya pelan.
Sedangkan Kibum sendiri, kini sudah sibuk sendiri bolak-balik ke sofa yang ada di kamarnya dan kasur yang ada di kamarnya.
Wanita itu menata bantal yang ada di kasur ke sofa yang lumayan besar itu. Menatanya senyaman mungkin.
Siwon hanya menatapnya dengan pandangan 'malas'. Yang benar saja, Kibum membangunkannya yang sedang menyelami mimpi indahnya. Dan hal tak logis menurutnya Kibum lakukan.
Setelah semuanya siap, Kibumpun berjalan menuju kearah Siwon yang dari tadi duduk di kursi depan meja rias.
Ditariknya tubuh berotot sang suami menuju sofa, kemudian ia sendiri memposisikan dirinya senyaman mungkin, posisi tidur.
"Kaja, kemarilah!" ujarnya dengan suara semanis mungkin.
Siwonpun mengalah untuk yang kesekian kalinya, dan ikut berbaring di samping tubuh sang istri.
"Sekarang kita tidur kan?" tanya Siwon penuh harap.
Kibum mengangguk dengan lucunya, kemudian menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut.
"Bagaimana denganku?" tanya Siwon lagi.
Sang istripun membuka kembali selimutnya, kemudian menyelimuti dirinya dan sang suami dalam satu selimut yang sama.
"Sudah, jangan banyak tanya lagi. Aku sangat mengantuk" ujar Kibum dengan nada marah.
Hei, Siwon baru bertanya dua kali. Dan seharusnya siapa yang harus marah disini? Kibum ataukah dirinya?
Dan dengan sadisnya, istrinya itu kini berbalik membelakanginya, memeluk bantal guling, bukan dirinya.
Dengan kepasrahannya, Siwonpun memeluk guling lainnya, kemudian memejamkan kedua matanya, ingin cepat segera kembali ke mimpi indahnya yang sempat diinterupsi tadinya.
-KYUMIN-
"Apa hari ini ada hari penting?" tanya Sungmin saat ia baru saja keluar dari kamarnya.
Dan Leeteuk sudah rapi dengan pakaian dan make-up tipisnya. Duduk sambil menyisir rambut salah satu anak asuhnya.
"Hari ini umma akan mengantar anak-anak bersekolah. Ini hari pertama untuk Heojoo dan Saera di taman kanak-kanak" jawab Leeteuk semangat.
Sungminpun juga ikut antusias. Iapun juga ikut membantu anak-anak memakai seragam sekolah mereka. Merapikan penampilan mereka dengan menyisir rambut mereka atau memakaikan bedak.
"Tolong Minnie jaga anak-anak yang lainnya, ne?" pesan Leeteuk sebelum mereka berangkat.
Memang tidak semua anak-anak panti sudah mencapai umur dimana mereka pantas untuk mendapatkan pendidikan di sekolah. Ada yang masih berumur dua atau tiga tahun. Dan yang paling kecil di panti ini memanglah Sangyoon.
"Ah, apa umma sudah menyiapkan sarapan untuk mereka ya?" tanyanya pada diri sendiri seraya beranjak menuju dapur, memastikan saja.
Sungmin menyukai anak-anak. Jadi ia tak keberatan sama sekali jika Leeteuk mempercayakan anak-anak padanya. Sungmin sudah menganggap anak-anak di panti sebagai anaknya sendiri.
Ting~ Tong~
Suara bel pintu depan menggema saat Sungmin selesai mengecek sarapan untuk anak-anak.
Dilangkahkan kedua kakinya menuju pintu depan, kemudian membukanya.
"Ah, selamat pagi oppa, unnie!" sapa Sungmin ramah.
-0000-
"Yang ini namanya Jihoon, Jieun, dan Jiwoon. Mereka kembar tiga" ujar Sungmin mengakhiri acara perkenalannya.
"Aigoo, mereka lucu-lucu sekali. Bagaimana bisa mereka terdampar disinii?!" ujar Kibum gemas.
Ingin rasanya ia mencubit pipi mereka bertiga. Namun, ia cukup sadar jika hal itu akan membuat mereka terbangun dari tidur mereka.
Sungmin hanya mengangkat bahunya saja, pertanda iapun tak mengerti.
Setelah itu, Sungmin menarik pelan pergelangan tangan Kibum untuk keluar dari kamar anak-anak.
Ia hanya tak ingin membuat mereka terbangun dan menangis pada akhirnya.
"Apa Yoonnie juga masih tidur?" tanya Kibum, berharap jika bayi gempal itu sudah bangun.
"Sayangnya iya, unnie. Bagaimana kalau kita sarapan terlebih dahulu?" tawar Sungmin ramah.
Kibumpun mengangguk, "Ah, aku terlalu pagi kemari. Belum sempat sarapan" ujarnya.
Sungmin menatap horor pada Kibum. Jika ia saja belum sarapan, itu berarti Siwon juga belum sarapan bukan? Dan lagi, Siwon sudah berangkat ke kantornya tadi, setelah mengantarkan Kibum ke panti asuhan. Kasihan sekali dirimu, Choi.
Merekapun kini sarapan dengan tenang.
"Jadi, unnie akan membantu menjaga anak-anak hari ini?" tanya Sungmin semangat.
"Eum. Aku bosan hanya sendiri di rumah. Siwonnie mungkin akan pulang larut" jawab Kibum santai.
Sungminpun mengangguk paham.
"Ah, kalau begitu, aku juga akan disini saja hari ini" ujarnya antusias.
"Benarkah? Kau tidak akan bekerja hari ini?"
"Eum, tak masalah kurasa. Akan kuhubungi sekertarisku nanti"
"Ah, senangnya memiliki adik seperti Minnie. Seharusnya sejak dulu aku kemari"
"Hehehe. Unnie bisa saja"
Dan percakapan ringan itupun terus berlangsung mengiringi acara sarapan mereka.
-KYUMIN-
TBC?/END?
Note(Read please~) :
Lupakan Jungmo! Ok! Saya gak mau Jungmo terus jadi bayang2 Sungmin! dan anggep aja Jungmo udah bahagia sama Song Qian(gak penting juga ngejelasin gimana detailnya) :-D , dan sungmin udah ngelupain Jungmo! Udah gitu aja~ :-D
Sebenarnya lia lupa gimana cerita sebelumnya, maklum udah lama banget ini. :-D
Jadi maaf kalo ceritanya semakin ngaco dan gak jelas , dan juga semakin pendek. #bungkuk2
Mian juga kalo kyuminnya dikit. :-)
Kalo sempat+ada ide, lia bakal nulis lanjutannya dan update, walopun itu lama. :-D
Makasih buat RnRnya di chap2 sebelumnya~
And
RnR please~
