Dua minggu dan saatnya Juliett menuju ke hadapan klien sebagai bodyguard yang serba sempurna. Syarat kali ini yang dipenuhinya adalah selain sebagai bodyguard, ia harus menyamar dengan multitalenta seperti seorang butler. Wanita muda itu tidak bertanya banyak seputar permintaan tersebut, ia hanya menghabiskan dirinya dalam latihan singkat dan cukup keras dari koleganya.

Kini sang agen, dengan kepasrahannya, harus menceburkan dirinya sendiri ke jurang sosialita. Segalanya demi misi, dan menurutnya misi adalah segalanya.

Mengendarai sepeda motor hitam kesayangannya, ia memarkinkan diri ke apartemen Stohess yang disebut sebagai milik sang klien—yang hanya menghuni seluruh lantai enam dari sepuluh lantai apartemen. Untuk pekerjaan kali ini, sang agen menggunakan pakaian serba hitamnya; jas, sepatu, dasi, terkecuali kemejanya yang berwarna abu-abu kelam. Surai pirangnya ia ikat seperti biasa, dengan separuh matanya sejenak tertutup dalam perspektif berbeda.

Historia Reiss; turunan bangsawan Reiss yang memiliki gudang besar Reiss Pharmaeuticals dan penguasa separuh saham di bidang farmasi dan farmakokinetika negara. Wanita muda yang terkesan di luar polos, ramah, dan bersahabat;—lagi intel menyebutkan bahwa sang wanita muda adalah seorang yang manipulatif lagi memiliki banyak koneksi dunia bawah.

Perlahan tapi pasti imej wanita muda itu sedikit memburam di ingatan Juliett; yang masih terbingung dengan alasan sang 'matahari' mencumbu 'rembulan'.

Mengabaikan retorsi pemikirannya, ia melangkah dengan tegap menelusuri lantai enam setelah beberapa saat menjajaki lift. Kosong, sepi sempurna tanpa penjagaan, hanya ada sebuah pintu agak di tengah lantai.

Kekuasaan borjuis, eh?

Juliett menekan bel dua kali, sebelum akhirnya suara kunci terdengar membuka. Dipikir oleh sang agen yang membukakan pintu untuknya rentetan maid, atau mungkin penjaga lain di rumah itu, tetapi yang tampil ketika pintu terbuka adalah wanita yang ia temui di pesta itu; berbalut hanya handuk bahkan dengan surai pirang pucat yang masih basah.

"Kaukah yang dikirim untuk menjagaku?"

—ekspresi Juliett memudar, sedikit.

"Pakai saja dulu bajumu, nona"

.

.

.

"Jadi," wanita muda itu menjeda, kini lengkap dengan bathrobe berwarna satin dan ia menyuruh Juliett masuk ke rumahnya. Sang klien tengah memegangi kertas-kertas berkas. "... kau yang bersedia menerima tawaranku?"

Annie mendengar namanya dipanggil, menunjukkan sedikit gestur membungkuk hormat. "Hamba bersedia."

Yang Annie sendiri heran dari pribadi wanita itu, ia benar-benar berbeda ketika ia ada di pesta dansa; seperti mereka sama sekali belum pernah bertegur sapa lagi bertatap mata. Manik birunya memperhatikan sang klien melempar kertas di tumpukan lain meja kerjanya, sebelum akhirnya keluar ruangan menuju apa yang terlihat seperti ruang tamu. Satu lantai itu telah dimodifikasi sebagai singgasana seorang Historia Reiss; sebuah ruangan kantor, ruang tamu, dapur, ruang tidur; bisa disebut, segalanya ada dan terangkum.

"Kau pasti tahu namaku," wanita itu berucap. "Tapi aku memintamu untuk memanggilku Krista."

Annie merendahkan dirinya untuk berlutut, kepalanya dengan tegas menghadap bawah, sementara tangannya ia gunakan untuk meraih jemari pucat milik sang majikan. Kecup halus di punggung tangan, tanda loyalitas dan kepatuhan ia curahkan.

"Atas daulatmu, Lady Krista."


{I. Konjungsi}


Pekerjaan baru Annie adalah butler dengan bidang kerja 24/7. Kesibukan seorang Krista Lenz membuatnya harus siap sedia kapan saja. Untungnya dengan pendidikan keras dari Kilo dan Lima, setidaknya ia bisa menjadi seorang butler tanpa jeda. Mulai dari mengingatkan jadwal setiap hari, membuatkan kopi, berjaga, menyupir, meng-handle tamu penting yang menghubungi juga menyortir surat-surat yang masuk.

Yang bisa Annie tangkap, ia adalah satu-satunya pegawai di sana; terkecuali maid yang datang dengan frekuensi tidak terlalu sering untuk melakukan bersih-bersih dan mengurus cuci-mencuci. Di antara padatnya jadwal, tidak ada yang mencurigakan dan selebihnya cenderung aman dan bersih. Rekan-rekan kerja juga pesta pora yang ia temui dan datangi tidak ada yang menuai bau amis.

"Hari ini anda akan bertemu dengan pemilik saham untuk PVC, sir Reiner Braun." Annie membaca buku catatannya ketika sang tuan rumah tengah menyesap tehnya. "Ia akan datang kemari tepat pukul delapan malam."

"Satu jam lagi, bukan?" Krista meletakkan cangkirnya. "Waktu yang cukup untuk sekedar melepas penat."

"Apa maksudmu, m'lady?"

Krista Lenz melonggarkan pakaian yang ia kenakan, dengan senyum seduktif juga ia membalas pertanyaan Annie Leonhardt dengan sedikit gestur mengajak.

"Bagaimana kalau kita bicara sejenak, membuang waktu santaiku?"

.

.

.

[Annie kebingungan,]

"Akhirnya kau ada di genggamanku, rembulan." Krista bersuara rendah. "Ternyata memang benar kita ditakdirkan untuk berjumpa lagi."

Ia sang matahari—matahari yang berlawanan arah dengan rembulan.

Kenapa—ia menggunakan pranala simbolis?

"Namamu?"

"—Annie Leonhardt, lady."

Pertama, jarak mereka terlalu dekat, bahkan kepala sang majikan bersender ke pundak wanita yang lebih tinggi. Bajunya, setelan blus mahal berwarna putih yang sepadan dengan warna kulitnya, sengaja dilonggarkan. Juga, aroma sitrus mulai menusuk penciumannya, agak mengganggu sinapsisnya dan ikut merileks.

Ya, wanita itu memang yang mencuri bibirnya. Annie paham betul sebenarnya sang tuan rumah masih ingat kejadian tersebut dan perilakunya kini tampak ingin dimanjakan.

"Mudah sekali dihafal."

Annie memandang sang majikan dengan lirikan datar, tentu wajahnya tak terlihat jelas dari sana dikarenakan kepala majikannya bersandar, sulit memprediksi bagaimana ia sebenarnya hanya dengan manis deru suaranya.

Ia tidak mengenal Krista Lenz—Historia Reiss—sama sekali selain dari dokumen-dokumen yang dikumpulkan oleh Kilo dan Lima. Wanita muda itu dikenalnya sebatas kata, sementara kata-kata itu membentuk kalimat dan paragraf hingga halaman, Annie tidak mendapat satupun poin mengenai siapa pengusaha wanita itu sebenarnya. Sosoknya rapuh, lagi ternyata tangguh; pribadinya halus, lagi ternyata haus; tidak ada fabrikasi jelas seakan dirinya dapat dilambangkan dengan ribuan warna.

Lagi, tujuannya ke sana adalah dengan maksud infiltrasi; membongkar keterikatan antar orang kaya dalam pembunuhan berantai dengan menjadi sudut pandang di mana hampir seluruh yang kaya berada.

Daftar yang ia curigai cukup panjang, dan segalanya tergantung dari bagaimana kapalnya akan berlabuh.

"Umm."

"Ada apa, m'lady?"

"Boleh aku memanggilmu Annie?"

Sejenak bulir keringat turun. Kalimat barusan terasa begitu—datar, lagi mengusik telinganya. Tak banyak yang memanggilnya dengan nama itu, terutama semenjak dirinya berada di kantor intelijensi; kerap mereka memanggil dengan nama lengkap, tidak akrab dengan nama panggilan. Mendengar namanya yang dipanggil dengan cara biasa terasa mengalir, biasa dan tidak biasa melebur menjadi sensasi.

"... Terserah nona saja."

Krista membetulkan posisi duduknya, meninggalkan bahu Annie. Wanita itu menatap wajah sang pelayan, disertai seutas senyum sederhana. Sebelum akhirnya, kepala itu kembali bersandar—kini di atas pangkuan—seraya Krista memejamkan mata.

"Nona, tidak sampai setengah jam lagi waktu pertemuan anda."

Manik biru tersingkap, "Ah, sayang sekali. Andai ini bisa berlanjut untuk waktu yang lama, rembulan."

Perlahan jemari kecil itu meraih kontur dagu Annie yang dapat ia gapai, manik birunya terasa dalam menusuk dirinya. Annie mengernyitkan dahi, tidak menjawab kata kias di sana. Semenjak pertemuan pertama mereka, tidak ada satupun kalimat terlontar dari mulut sang nona kaya itu dapat diartikan olehnya. Sosoknya seperti hendak menggodanya untuk masuk dan tenggelam dalam dunianya, namun di satu sisi perilaku Krista Lenz jauh dari perawakan normalnya yang terpoles oleh warna 'kaya, wibawa, dan hawa ratu'.

Nona muda itu berdiri dari pangkuan Annie dan membetulkan posisi pakaiannya yang berantakan. Sorot safirnya kembali lurus tanpa jeda, layaknya menyiapkan diri untuk tamu yang luar biasa penting.

"Tolong ambilkan pakaian formalku, Annie."

"Atas daulatmu, Lady Krista."

x x x

Petra Ral mendengus, lagi-lagi mejanya penuh dengan kliping-kliping berisi kata-kata basi. Pemilik surai jingga itu tengah mengumpulkan informasi dari beberapa ningrat yang bisa dikeruknya, tetapi yang ia temui hanya sebuah kebohongan yang sama.

Kami tidak tahu.

Bukan berarti Petra mencurigai mereka, tetapi cerita yang mereka lontarkan kelewat manis seputar ada atau tidaknya motif dan bahkan orang untuk dicurigai. Ia bisa saja menyuruh semua agen dibawahnya untuk mengunjungi toko-toko kimia atau black market yang menjual perlengkapan yang membuat pembunuhan dan pencurian itu tidak meninggalkan jejak satu atau apapun.

Korban terakhir, Milius Zermusky, darinya tidak bisa ditilik apapun selain korban terjatuh dari lantai tujuh, tepat di gedung yang bersebelahan dengan acara pesta milik Mikasa Ackerman kemarin. Tampak tidak ada tanda-tanda perlawanan atau yang aneh dari tubuh korban, organnya telah berhamburan di jalanan.

Masih ada yang belum terhubung di sini.

"Wakil Inspektur?"

"—sudah kubilang untuk mengetuk pintu, eh, Alfa?"

Di ambang pintu ruangannya telah berdiri seorang pria dengan fedora coklat tua yang sewarna rompi dan celana yang ia pakai, kerah pada kemeja putihnya rapi, dan di tangannya terdapan sebuah buku hitam.

"Maaf, tapi sudah kuketuk puluhan kali dan tidak ada respon." komentarnya cukup singkat. "Aku membawa berita dari Lima dan Golf, seputar usaha sampingan Milius Zermusky."

Alis sang Wakil Inspektur sontak naik sempurna. Ia tidak membiarkan sang agen duduk di kursi untuk menjelaskan duduk perkara, Petra Ral hanya berpangku tangan, berkontemplasi.

"Tampaknya ia ikut memegang saham dalam sebuah perusahaan botani," pemilik fedora paham betul Petra mulai menghela nafas kecewa, tetapi informasi yang ia bawa bukanlah yang biasa. "Perusahaan botani ini membudidayakan Datura dalam jumlah besar untuk kebutuhan ekspor dan impor."

Datura, atau lebih dikenal dengan sebutan angel's trumpet, adalah genus dari kelompok bunga yang masuk dalam famili terung. Datura terkenal karena menghasilkan banyak sekali tipe alkaloid, terutama pada Datura adalah zat racun atropin yang menghambat saraf parasimpatetik.

Iris hazel mengilat tajam, "Jadi dia ambil andil di pembunuhan nomor tiga dan sembilan—yang meninggalkan residu atropin?"

Alfa mengangguk, seringai lebar menguar. "Apa kita sepikiran, Wakil Inspektur?"

"Ya, pencurian ini memiliki pola," Petra menggebrak mejanya. "Dan dari pola itu kita bisa tahu siapa target selanjutnya."

x x x

Pertemuan singkat dengan pemilik saham PVC berlangsung cepat, Annie berada di dekat sisi tempat Krista mengambil posisi duduk, memerhatikan lamat-lamat dengan siapa sang nona bermitra dan menyimak betul pembicaraan. Mereka berdua berdiri di ruang tengah, dengan perbedaan tinggi yang mencolok. Lagi, sang direktur muda perusahaan farmasetika itu tidak goyah atau merasa kalah, kesetaraan strata terpancar di sana.

Pembicaraan berkutat seputar plastik yang akan Krista—Reiss Pharmaeuticals —gunakan untuk membungkus obat inovasi baru mereka. Krista mencoba mencari bahwa Reiner Braun akan menerima permintaannya atau mengalihkannya ke koleganya.

Isi obat yang hendak diluncurkan tidak di sebutkan, satu kata pun.

Menjelang pukul sepuluh malam tepat jam di ruang tengah berdentang, sang direktur perusahaan plastik itu undur diri.

"Akan kupikirkan tawaran yang menggiurkan ini, Nona Reiss." Reiner melayangkan tangannya untuk berjabat.

"Senang bekerja sama dengan anda, Tuan Braun."

Pembicaraan sedikit berlanjut, mulai dengan basa-basi.

"Matamu sangat indah, Nona Reiss," tangan Reiner menyisir surai keemasan Krista, menyapunya untuk melihat jelas kedua pasang mata bola tersebut.

Manik biru Annie menyipit sejenak. Sejenak gerak-gerik Reiner Braun terlihat sedikit—tertarik dengan sang nona. Bukan berarti ia peduli dengan siapa kaum borjuis bergaul,

"Mulut anda terlalu manis, Tuan Braun." Krista berkomentar. "Keindahan itu relatif; semua bisa memiliki permata walau mereka adalah rakyat jelata."

Jarak mereka mendekat, Reiner Braun, yang kala itu mengenakan sehelai kemeja putih polos ditutupi oleh jas hitam, mengecup lembut punggung tangan sang nona. Tangan kecil tersebut seakan tidak ingin sang pria lepaskan malam itu.

"Kau tinggal sendiri di apartemen ini?"

"Seperti yang anda lihat," senyumnya tampak menawan. "Atau, kau ingin meminta sesuatu dariku, hmm?"

Reiner dengan mudah membawa sang wanita ke dalam peluknya, tak henti-henti sang pria memandang keindahan yang tersaji, terutama pada iris safir yang seakan ingin membawanya pergi. Untai senyum tak juga lari dari kanvas sang nona yang sekilas tahu dirinya akan diajak melangkah menuju serenada klasik.

Candaan, rayuan, cumbuan, dan pinangan—sebuah drama sosialita yang selalu di angkat ke permukaan.

Namun, kali ini interupsi telah jatuh ketukan.

"Maaf mengganggu kalian, Tuan dan Nona." Annie membungkuk. "Supir anda telah menjemput di lantai bawah, Tuan Braun."

Mungkin, sedikit candaan telah membuat mereka berdua lupa akan kehadiran orang ketiga yang notabene muncul sebagai latar. Reiner melayangkan senyum sarkastis terhadap eksepsi sang pelayan sebelum akhirnya ia memberikan kembali satu kecupan di punggung tangan sang pemilik rumah, seraya mengucap tanda perpisahan.

"Guten nacht, meine Saphir."

Annie mengantarkan pria itu hingga menuju pintu keluar, memastikan ia tidak melakukan hal-hal aneh lainnya. Ketika merasa pria tersebut sudah jauh adanya, ia mengunci pintu. Begitu ia kembali ke ruangan, di sana terdapat Krista dengan sorot yang tak biasa.

(Annie anggap ia tengah bahagia, atau bahkan merasa bersalah.)

"Jadi, kau cemburu?"

"Tidak," penolakan keras. "Saya hanya melakukan tugas, lady."

Krista terkekeh, tampak ia telah mengekspektasi jawaban tersebut keluar dari bibirnya.

Tentu, di sana Annie tidak mau diperlakukan demikian—berada di latar belakang seakan tiada—dan ia sekadar menyelamatkan sang nona, tidak kurang, tidak lebih. Namun, pertanyaan tersebut membuatnya menggali alam sadarnya untuk mencari jawaban.

"Kau lucu, Annie." tutur Krista. "Sentuhan yang dekat adalah bagian yang lumrah di kehidupanku, maaf aku membuatmu tidak senang."

Annie memang tidak senang dengan perilaku tamu barusan, tetapi—

(Apa itu sama dengan 'cemburu'?)

[ ]