DANDELION

Chapter 1

Genre : Romance, Angst

Rated : T

Main cast : Xi Luhan, Oh Sehun

Other cast : Find it ^^

Length : Chaptered

Disclaimer :

Genderswitch! Pemeran merupakan milik Agensi, Orang tua mereka, dan Tuhan. Aku hanya meminjam nama. FF ini murni buatanku sendiri.

"Sehunnie, ayo cepat! Kau lambat sekali" Seru yeoja bermata rusa itu. Ia sedang menyuruh seorang namja di belakangnya untuk lebih cepat. Ia ingin menunjukkan sesuatu kepada namja itu.

"Aish, Luhannie, tunggu aku! Kau makan apa sih, sampai larimu cepat sekali. Hey, tunggu aku!" Namja itu—Sehun terlihat lelah karena Luhan berlari cepat sekali. Dan, hey! Jarak dari tempat Sehun memarkirkan mobilnya ke wilayah perbukitan itu tidak dekat!

"Ayo Sehunnie, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. Kau pasti menyukainya" Kata Luhan sambil menghampiri Sehun, kemudian memegang tangan Sehun dan berlari menuju kaki bukit.

"Kau ingin menunjukkan apa, sih? Kau bersemangat sekali"

"TADAAAA! Ini sungguh indah, bukan? Kemarin, Kyungsoo eonni—kakak sepupu Luhan— mengajakku ke sini, dia bilang bunga Dandelion di sini sangat indah. Dan ternyata benar. Aku ingin ke sini setiap hariii" Seru Luhan ketika mereka sudah sampai di kaki bukit. Di sana terhampar ratusan bunga Dandelion yang bergerak kesana-kemari tertiup angin musim semi. Sehun akui, tempat ini memang indah. Suasananya juga tenang.

"Sehunnie, ayo duduk di sini" Kata Luhan yang sudah duduk beberapa meter dari tempatnya berdiri. Sehun menghampirinya.

"Kau suka Dandelion? Kenapa?" Tanya Sehun duduk di samping Luhan sambil menatap sahabatnya.

"Uhm, aku juga tidak tahu aku suka dandelion atau tidak. Tapi, kemarin Kyungsoo eonni bilang, meskipun angin sering membawanya ke tempat yang baru, tempat yang tidak ia kenal sama sekali, dandelion tetap akan tumbuh dan memulai kehidupan barunya di tempat tersebut sampai angin kembali membawanya ke tempat lain lagi. Entah tempat baru ataupun tempat lama. Mereka tidak pernah membenci angin. Karena menurut mereka, angin membawa mereka ke tempat-tempat yang indah dan tak terduga. Keren, ya?" Jelas Luhan panjang lebar. Sehun hanya mengangguk saja meskipun ia tidak terlalu paham apa maksud Luhan.

"Sehun-ah…" Panggil Luhan sambil menatap Sehun.

"Hm? Ada apa?" Sehun menjawab sambil mengusap pelan surai lembut berwarna kecokelatan yang panjangnya sampai beberapa centi di bawah bahu.

"Aku ingin bertanya. Bolehkah?"

"Tanyakan saja. Ada apa?"

"Kita sudah bersahabat sejak sekolah menengah pertama. Sebenarnya… aku ini, siapamu? Sahabat atau…"

"Maksudmu?" Tanya Sehun tak mengerti.

"Maksudku, kita sudah bersahabat selama lima tahun. Sikapmu kepada yeoja lain dan kepadaku sungguh berbeda. Sikapmu terhadap Baekhyun—sahabat Sehun dan Luhan— berbeda dengan sikapmu kepadaku. Aku merasa… aneh" Keluh Luhan. Sebenarnya, ia ingin menanyakan hal ini beberapa hari yang lalu. Namun, tidak pernah bisa terucap karena selalu saja ada yang menggagalkannya. Baru kali ini ia dapat mengatakannya karena mereka benar-benar hanya berdua kali ini, tak ada gangguan dari siapapun.

Sehun nampaknya baru memahami arah pembicaraan mereka kali ini. Memang, Sehun menyukai Luhan. Entah sejak kapan. Dan dia menunjukkan sikap perhatiannya kepada Luhan sejak mereka akan melaksanakan ujian nasional pada saat sekolah menengah pertama. Entah Sehun sadar atau tidak, Luhan merasakan perbedaan sikap Sehun terhadap dirinya dan terhadap sahabatnya yang lain. Dan Luhan merasa bingung, bukankah Sehun bersikap lebih-dari-sekedar-sahabat terhadap dirinya?

"Kita hanya sahabat, Lu. Tidak lebih. Aku menjadi lebih perhatian terhadapmu karena eommamu yang meminta. Kau jangan salah paham. Selamanya kita akan bersahabat. Arrasseo?"

"Ne. Arrasseo" wajah Luhan seketika berubah muram. Hatinya terasa remuk. Asal kalian tahu, Luhan sudah mencintai Sehun sejak pertama kali mereka bertemu. Pernyataan Sehun barusan membuatnya terpukul. Bisa saja ia menangis sekarang, tapi apa komentar Sehun nanti? Menganggap hubungan mereka lebih dari sahabat? Yang benar saja! Sehun pasti menertawakannya. Dan Luhan juga tidak tahu apa yang dipikirkan Sehun saat itu, Sehun juga tak menyangka akan mengucapkan kalimat itu tanpa berpikir. Ia merasa menjadi orang yang paling pengecut karena tidak dapat mengungkapkan apa yang sebenarnya ia rasakan karena ia takut Luhan akan menjauh setelah ia mengungkapkan perasaannya.

"Ayo pulang. Eommamu pasti khawatir karena kita pulang terlambat" Kata Sehun sambil menggenggam erat tangan Luhan yang terasa dingin. Suasana agak canggung ketika mereka menaiki mobil Sehun yang diparkirkan dekat salah satu warga yang tinggal di sana.

.

.

.

"Eomma, aku pulang!" Sapa Luhan sambil menutup pintu rumahnya. Ia melepas sepatu dan meletakkannya ke rak sepatu.

"Eoh, wasseo? Di mana Sehun? Kenapa dia tidak masuk ke rumah dulu? Biasanya dia menyapa eomma dulu sebelum pulang"

"Tadi eomma Sehun menelpon, ada urusan penting katanya. Jadi dia tidak sempat menemui eomma. Dia hanya menitip salam" Kata Luhan lesu kemudian beranjak menuju kamarnya di lantai dua.

"Lu, kau mandi dulu, ya. Kita makan malam bersama. Appa baru pulang dari Jepang satu jam yang lalu"

"Tumben sekali? Biasanya appa tidak suka pulang ke rumah?" Kata Luhan dengan nada tak percaya. Appanya yang seorang pebisnis handal, yang selalu sibuk mengurus perusahaan dan jarang sekali mengurus keluarga kecilnya, sedang berada di rumah? Ck, sungguh tak disangka.

"Jaga bicaramu, Xi Luhan! Walau bagaimanapun aku orang tuamu! Appa tidak pernah mengajarimu berkata seperti itu terhadap orang yang lebih tua" seketika ayah Luhan datang dari arah dapur. Wajahnya terlihat sangat murka. Namun, itu tidak membuat Luhan takut.

"Memangnya appa pernah mengajariku apa? Appa bahkan jarang berada di rumah! Appa lebih mementingkan perusahaan dibanding dengan aku yang setiap hari selalu tumbuh! Yang mengajariku hanya eomma, Do ahjumma, dan Kyungsoo eonni. Di mana peranmu sebagai ayah, appa?" Luhan berseru. Nafasnya memburu, matanya memerah. Terdengar isakan kecil dari mulutnya. Tidak. Ia tak ingin menangis sekarang.

"Sudahlah! Aku tidak ingin bertengkar saat ini. Cepat mandi dan ke ruang makan untuk makan malam" Ayah Luhan pergi dengan wajah menaham amarah. Air mata pun mengalir dari mata rusanya. Sial, mulai dari Sehun yang hanya menganggapnya sahabat, dan sekarang ia bertengkar lagi dengan ayahnya? It's a good day for you, Luhan!

"Sebaiknya kau mandi, eomma tunggu di ruang makan" Kata ibunya mengelus pelan bahunya kemudian menyusul ayahnya ke ruang makan. Dengan berat hati ia beranjak menuju kamarnya.

.

.

.

"Hei, Lulu. Selamat pagi" sapa dua orang yeoja ketika Luhan baru saja mendaratkan dirinya di bangku kelas. Luhan melirik sejenak, kemudian tersenyum.

"Selamat pagi Baekhyun. Selamat pagi Xiumin"

"Kau tak apa? Wajahmu terlihat muram" Ungkap Xiumin terheran-heran.

"Aniya, gwaenchana. Aku hanya kelelahan belajar. Uminnie, kau terlihat bahagia. Ada apa? Eommamu memberi banyak bakpao kemarin?"

"Aniya. Ayo tebak lagi, Lu" kata Xiumin bersemangat. Luhan harus tahu ini! Namun, Luhan yang memang tidak bisa gigih dalam menjawab pertanyaan dari orang-orang di sekitarnya, dan ia pun menyerah.

"Molla, ada apa?"

"Kau tahu Chen oppa, kan? Seonbae kita di kelas XII-2? Ketua klub vokal? Dia akan mengajak Xiumin kencan hari minggu nanti!" Jerit Baekhyun tertahan.

"MWO?! Kau serius? Chen seonbae? Bagaimana bisa? Aku tak menyangka Chen seonbae yang suka nge-troll orang akan mengajakmu berkencan. Kau harus berhati-hati, Uminnie. Siapa tahu dia hanya mengerjaimu" Tanya Luhan dengan wajah shocknya. Dia tahu sifat Chen karena ia sendiri mengikuti klub yang diketuai olehnya.

"Aku serius! Kau kira aku bercanda, huh? Aku harus bagaimana, Lu? Aku gugup"

"Kau tampil seperti biasa saja. Tidak usah berlebihan. Kesan pertama! Jangan membuat Chen oppa illfeel melihat kau berdandan menor. Kkk~~" Komentar Baekhyun yang disetujui oleh Luhan. Baekhyun dan Xiumin memang sahabat yang sering membuat mood Luhan kembali baik.

"Kau ikut ya, Lu?" Pinta Xiumin dengan wajah memelasnya.

"Ikut? Ke mana?" Tanya Luhan penasaran. Perasaannya mulai tak enak.

"Ikut denganku dan Chen oppa. Kami akan ke Lotte world"

"Ani. Aku tidak mau jadi obat nyamuk. Kau berdua saja dengan Chen oppa. Apa-apaan…"

"Ayolah, Lu. Sekali saja. Setahuku biasanya kau selalu berada di rumah setiap hari minggu. Atau kalau tidak di rumah, kau berada di rumah Sehun. Ayolah, ikut aku. Baekhyun tidak mungkin, dia pasti kencan dengan Chanyeol oppa…"

"Tidak bisa, aku dan Luhan ada acara hari minggu ini"

"Kalian berdua mau ke mana, Sehun-ah? Kalian kencan juga? Sejak kapan kalian pacaran? Aish, kenapa kalian tidak memberitahuku, huh?" kata Baekhyun sambil menatap curiga ke arah Luhan dan Sehun.

"Pokoknya aku akan mengajak Luhan ke suatu tempat. Kau berdua saja dengan Chen hyung tak apa kan? Setahuku, kencan itu seharusnya untuk dua orang, satu namja dan satu yeoja. Tidak ada sejarahnya kencan untuk bertiga. Kau ini bagaimana? Dasar tukang makan" Maki Sehun.

"Mwo? Aish, kau menyebalkan. Dasar albino"

"Sudahlah. Kalian sudah tujuh belas tahun, kenapa bersikap seperti anak kecil berumur tujuh tahun, eoh? Sehunnie, kau mau mengajakku ke mana? Kenapa memberitahunya mendadak sekali?"

"Aku hendak memberimu kejutan. Hari minggu, kujemput kau jam tujuh pagi. Jangan lupa" Kata Sehun kemudian menuju bangkunya di pojok kelas dekat jendela. Luhan hanya mendengus sebal. Sudah terbiasa dengan sikap Sehun yang kemauannya harus selalu dituruti.

"Lu, kau pacaran dengan Sehun? Sejak kapan?" Tanya Baekhyun sambil berbisik.

"Ani. Kau salah paham. Aku dan Sehun hanya sahabat. Kau ini, jangan cerewet seperti itu" Maki Luhan pelan.

"Tapi, Lu. Menurutku, Sehun sepertinya menyukaimu. Kau tembak saja dia. Sekali-sekali yeoja yang mulai duluan kan tak apa" Kata Xiumin yang duduk di belakang Luhan dan Baekhyun.

"Xiuminnie, berbicaralah yang benar! Aku dan Sehun kan memang bersahabat! Wajar saja kan kalau sahabat sering jalan bersama? Sudahlah, aku tak ingin membahasnya"

"Ekhemm, Baekhyun-ah. Sepertinya ada yang salah tingkah, ya? Wah, jangan-jangan mereka berdua sama-sama suka tapi tak ada yang mau mengungkapkannya terlebih dahulu?" Tanya Xiumin berbisik namun masih bisa didengar oleh Luhan.

"Ne, Xiumin-ah. Aigoo, pasangan ini imut sekali. Kapan kalian akan jadian? Kami tunggu traktirannya, ya!" Kata Baekhyun bersemangat.

Ting nong, ting nong (?)

It's time to first lesson. All students hopefully to enter the class.

It's time to first lesson. All students hopefully to enter the class.

Ting nong, ting nong

"Aish, kalian jangan membahas itu lagi! Awas saja kalian! Huh" Maki Luhan. Ia melirik ke arah Sehun di sudut kelas. Sehun sedang meneliti buku tugasnya. Hufftt.. sepertinya Sehun tidak mendengar. Untunglah.

.

.

.

Seusai jam pelajaran berakhir berbunyi, Luhan segera memutuskan akan berkumpul di rumah Xiumin bersama Baekhyun.

"Baekkie, kau duluan saja dengan Xiumin. Aku harus menyelesaikan catatanku ini dulu…" Kata Luhan sambil terus menyalin apa yang tertulis di papan tulis.

"Baiklah, jangan lama-lama. Aku dan Xiumin menunggumu di parkiran. Sehun-ah. Tolong jaga Luhan yaaa"

APAAA?!

Luhan membalikkan tubuhnya. Ia kira hanya mereka bertiga yang masih berada di kelas. Ternyata ada Sehun juga? Ia juga masih mencatat materi di papan tulis. Sekilas Sehun menatap Luhan, kemudian tersenyum.

"Oke. Kalian duluan saja. Luhan akan aman di tanganku" Katanya sambil tertawa. Astaga… Luhan sungguh malu dibuatnya. Ck, dasar Baekhyun! Awas saja nanti kalau mereka sudah berada di rumah Xiumin!

"Oke. Kami duluan ya. Sehun, kau jangan macam-macam terhadap Luhan! Jangan kira kau kami tinggal berdua, kau jadi melakukan hal yang macam-macam. Kau akan habis di tangan Chanyeol oppa. Arrasseo?"

"Ya, ya, ya. kau cerewet sekali, Baekhyun-ah. Aku tidak sejahat itu terhadap sahabat sendiri. Pergi sana, kalau kau terus mengoceh, catatanku tidak akan selesai"

"Baiklah. Kami tunggu di parkiran ya, Luhannie"

TBC

Hai… Ada yang nungguin FF ini? Hehehe.. Mian baru bisa update :v Chapter awal memang aku buat untuk pengenalan dulu ya. Di chapter awal ini aku ingin menjelaskan karakter-karakter cast FF ini. Baru setelah dirasa pas, di chapter 6 atau 7 konfliknya aku munculin. Tapi nggak tau juga sih konfliknya aku munculin mulai chapter 6 atau enggak :v

Aku nggak tau FF ini banyak yang suka dan nungguin chapter selanjutnya atau enggak. Yang pasti, aku akan tetap ngelanjutin FF ini sampai end karena hobi dan mengisi waktu libur sehabis UN. Jadi, kalo kalian suka, bisakah meninggalkan review di kolom review? Atau kalau tidak mau meninggalkan jejak di kolom review, kalian bisa mengobrol denganku lewat bbm 7CC256A2 atau lewat twitter dianputridsmt.

Sekali lagi, terima kasih buat yang nungguin dan menyukai FF ini ^.^ *bow*