"Oke. Kalian duluan saja. Luhan akan aman di tanganku" Katanya sambil tertawa. Astaga… Luhan sungguh malu dibuatnya. Ck, dasar Baekhyun! Awas saja nanti kalau mereka sudah berada di rumah Xiumin!
"Oke. Kami duluan ya. Sehun, kau jangan macam-macam terhadap Luhan! Jangan kira kau kami tinggal berdua, kau jadi melakukan hal yang macam-macam. Kau akan habis di tangan Chanyeol oppa. Arrasseo?"
"Ya, ya, ya. kau cerewet sekali, Baekhyun-ah. Aku tidak sejahat itu terhadap sahabat sendiri. Pergi sana, kalau kau terus mengoceh, catatanku tidak akan selesai"
"Baiklah. Kami tunggu di parkiran ya, Luhannie"
.
.
.
DANDELION
Chapter 2
Genre : Romance, Angst
Rated : T
Main cast : Xi Luhan, Oh Sehun
Other cast : Baekhyun, Xiumin, eomma Luhan
Length : Chaptered
Disclaimer :
Genderswitch! Pemeran merupakan milik Agensi, Orang tua mereka, dan Tuhan. Aku hanya meminjam nama. FF ini murni buatanku sendiri.
.
.
.
"Kalian mau minum apa? Biar kuambilkan ke dapur" Kata Xiumin ketika mereka sudah sampai di kamarnya. Baekhyun dan Luhan langsung rebahan di kasur Xiumin yang berukuran besar. Mungkin muat apabila mereka bertiga tidur di kasur yang sama.
"Terserah saja. Yang dingin sama yang banyak minumannya ya" Kata Luhan.
"Cemilannya juga jangan lupa. Yang banyak" Tambah Baekhyun. Xiumin hanya memasang wajah -_- mendengar permintaan kedua sahabatnya itu.
"Ya sudah. Kalian tunggu dulu" Kata Xiumin sambil menutup pintu kamarnya kemudian pergi ke dapur.
"Lu, aku mau tanya…" Kata Baekhyun sambil bersandar di kepala ranjang. Luhan yang sedang tengkurap kemudian berbalik dan memandang Baekhyun dengan penasaran.
"Ada apa?"
"Begini. Kita kan udah sejak lama, udah hampir lima tahunan. Seingatku, kau tidak pernah bercerita tentang orang yang 'menarik' perhatianmu. Aku dan Xiumin kan sudah sering cerita tentang Chanyeol oppa dan Chen oppa. Kalau boleh tahu, kau sedang menyukai seseorang atau tidak? Sehun misalnya… Kau kan sangat dekat dengannya" Pancing Baekhyun. Wajah Luhan mendadak pucat.
"Aniya. Tidak ada. Aku dan Sehun kan memang sahabat. Seperti aku denganmu. Apa yang salah?"
"Ya! Aku tahu kau suka Sehun, kan? Kenapa tidak mengaku pada Sehun sih? Aku yakin seratus persen Sehun juga menyukaimu"
"Ani. Sehun tidak menyukaiku. Dia hanya menganggapku sahabat"
"Kau ini keras kepala sekali! Kau tidak akan tahu apabila kau tidak menyatakannya!"
"Haruskah aku dulu yang memulai? Aku malu!"
"Ya! Xi Luhan! Jadi kau benar-benar menyukai Sehun? Kau ini… kenapa tidak dari tadi saja sih kau jujur? Oke, jadi… sejak kapan kau suka Sehun?"
"Mwo? Kau jangan salah sangka. Aku tidak—"
"Sudahlah, tidak usah mengelak lagi. Tadi kau bilang kau malu kalau kau yang memulai, kan? Jangan berbohong padaku lagi. Jadi, sejak kapan kau suka Sehun?"
Skakmat!
Luhan tak dapat mengelak lagi.
"Xi Luhan kalau aku bertanya, tolong dijawab! Aish, kau ini…" Maki Baekhyun sambil melempar wajah Luhan dengan boneka Doraemon ukuran jumbo milik Xiumin.
"Kau benar-benar ingin tahu, Baek?" Sungut Luhan. Wajahnya memerah. Astaga, ia benar-benar malu kalau Baekhyun tahu semuanya.
"Makanan dan minuman datang… eh, ada apa ini? Lu, kenapa wajahmu memerah?" Tanya Xiumin memasuki kamar dengan membawa senampan cemilan dan minuman untuk mereka bertiga. Diletakannya nampan itu di nakas samping kasurnya, kemudian ikut duduk di antara mereka berdua.
"Luhan menyukai Sehun. Anak ini akhirnya mau mengaku juga kalau dia suka Sehun. Ck"
"Mwo? Kau benar-benar menyukai Sehun? Sejak kapan? Ceritakan pada kami, Lu! Ceritakan!" jerit Xiumin heboh (?). Baekhyun pun ikut heboh dengan Xiumin dan menarik-narik lengan Luhan agar Luhan bercerita.
"Kalian berdua tenanglah. Aku tidak bisa menceritakan kalau kalian seperti ini? Keluh Luhan.
"Ups, mianhae. Hehe. Ceritakan Lu" Kekeh Xiumin sambil melepaskan tangannya dari lengan Luhan.
Flashback
Hari ini hari pertama Luhan sekolah di sekolah menengah pertama. Ia merasa setingkat lebih dewasa karena ia bukan anak kecil yang suka usil seperti saat sekolah dasar dulu. Ia menatap kagum bangunan sekolah di depannya, kemudian memasuki lingkungan sekolah tersebut.
Ia menengok ke arah kiri dan kanan untuk mencari kelasnya, VII-3. Ia berjalan sampai akhirnya di dekat tangga menuju lantai dua, ia menemukan kelasnya.
Ketika memasuki kelasnya, ia terkejut. Hampir seluruh bangku di kelasnya sudah terisi oleh murid baru lain. Masih ada satu yang tersisa, di barisan kedua dekat meja guru. Ia merasa canggung karena di sebelah bangku kosong itu seorang namja.
DEG!
Hati Luhan serasa berhenti berdetak ketika tatapan mata namja itu mengarah ke arahnya yang masih berdiri di depan pintu. Namja itu tersenyum, kemudian melambai tanda agar Luhan menghampirinya. Dengan kikuk, Luhan menghampirinya.
"Kau masuk kelas ini? Sudah punya tempat duduk? Kalau belum punya, kau bisa duduk di sebelahku. Kebetulan di sebelahku kosong" Katanya sambil tersenyum manis.
"Ah, ne. Aku akan duduk di sini. Kamsahamnida"
"Namaku Oh Sehun. Panggil saja Sehun" katanya sambil mengulurkan tangannya. Luhan menyambut uluran tangan tersebut dengan gugup.
"Aku Luhan. Xi Luhan"
"Xi? Kau bukan orang Korea?"
"Ne. sebenarnya aku blasteran Cina-Korea. Appaku orang Cina sedangkan eommaku orang Korea"
"Oh, begitu. Sejak kapan kau tinggal di Korea?"
"Aku lahir di Beijing. Tapi aku besar di Korea"
"Ah, ne. Senang bertemu denganmu, Luhan"
"Senang bertemu denganmu juga, Sehun"
"Annyeong. Bisakah kita berkenalan? Namaku Baekhyun. Byun Baekhyun" Kata Yeoja di depan bangku Sehun dan Luhan.
"Aku Sehun"
"Aku Luhan"
"Aigoo. Apakah kalian kembar? Wajah kalian terlihat mirip" mata Baekhyun bersinar. Ia suka sekali melihat orang-orang yang kembar.
"Aniyo, Baekhyun-ah. Kami baru saja saling mengenal beberapa menit yang lalu" kekeh Luhan.
"Benarkah? Mianhae. Aku salah sangka. Hehehe. Kalian terlihat mirip, makanya kukira kalian kembar"
Flashback off
"Jadi kau sudah menyukai Sehun sudah lima tahun, Lu? Astaga!" Baekhyun terkejut mendengarnya. Luhan menghela napasnya, sudah tahu bagaimana reaksi yang diberikan oleh sahabat-sahabatnya ini. Xiumin hanya diam, karena ia baru bertemu dengan Luhan, Sehun dan Baekhyun ketika memasuki Sekolah menengah atas.
"Kau tidak lelah memendam perasaanmu sendiri selama lima tahun? Kalau aku jadi kau, aku pasti sudah bunuh diri karena cinta yang tak tersampaikan" Cetus Baekhyun. Luhan meneguknya kasar. Untung saja Luhan bukan Baekhyun, jadi ia tak perlu bunuh diri segala hanya karena cinta yang tak terungkapkan. Mengerikan sekali.
"Jadi bagaimana?" Tanya Xiumin memecah keheningan yang beberapa saat tadi tercipta. Baekhyun mengangkat bahunya pelan kemudian melirik Luhan.
"Semua tergantung Luhan. Kalau Luhan merasa nyaman seperti ini, mau bagaimana lagi. Aku hanya merasa kasihan denganmu, Lu. Kau tak lelah memendam perasaanmu terus menerus? Nanti kalau Sehun melirik yeoja lain, kau juga yang akan merasakan sakitnya."
"Molla. Seharusnya Sehun yang memulai. Kenapa harus aku?"
"Hari minggu ini kalian bertemu, kan? Ya sudah. Kalau ia tidak menembakmu, kau yang harus menembaknya. Tidak peduli kau akan diterima atau tidak. Yang penting, dia sudah tahu bagaimana perasaanmu" Kata Xiumin bijak.
"Akan kupikirkan" Putus Luhan akhirnya.
"Ya sudah kalau begitu. Sekarang, kembali ke rencana awal kita. Xiumin-ah, kau mempunyai baju apa saja? Akan kuseleksi dulu baju-baju yang mungkin layak pakai untuk first datemu" Kata Baekhyun sambil meneliti isi lemari milik Xiumin. Di antara mereka bertiga, Baekhyun memang paling modis. Tak heran jika Baekhyun sering dimintai tolong oleh Xiumin dan Luhan kalau mereka ingin jalan-jalan atau akan kencan seperti yang dialami oleh Xiumin kali ini.
"Apa kalian akan ke Lotte World?" Tanya Baekhyun lagi.
"Ne, kami ke Lotte World. Sebenarnya Chen Oppa mengajakku ke laut, tapi kurasa kalau ke laut akan memakan banyak waktu untuk pergi ke sana. Jadi lebih baik ke Lotte World saja"
"Hmm, baiklah. Lu, menurutmu, mana yang lebih cocok. Yang ini atau yang ini?" Tanya Baekhyun sambil menenteng dua pasang pakaian di tangannya.
Luhan berpikir sejenak, kemudian menjatuhkan pilihannya ke atasan berwarna hijau muda dilapisi blazer berwarna senada serta celana biru malam selutut. Simple namun feminim di saat yang bersamaan.
"Kurasa juga begitu. Kau pakai ini saja Xiumin-ah. Kalau soal make up, pakai make up yang biasa saja. Tidak usah berlebihan. Semoga sukses" Kata Baekhyun sambil memakan cemilan yang dari tadi ia diamkan karena membahas Luhan yang naksir Sehun dan memilihkan pakaian kencan untuk Xiumin.
.
.
.
Minggu pagi. Luhan yang masih bergelut di dunia mimpi harus terbangun ketika eomma membangunkannya.
"Lu, irreona. Kau ada janji dengan Sehun, kan? Sekarang dia menunggumu di bawah. Cepatlah" Kata eommanya sambil menyingkap selimut bergambar rusa yang tengah menutupi tubuhnya.
"Eomma, lima menit lagi" Kata Luhan yang masih menutup matanya sambil menunjukkan angka lima di tangannya.
"Kau ini. Kasihan Sehun kalau ia harus menunggu lama. Ayo,cepat mandi"
"Aish, nappeun eomma" Sungut Luhan sambil bangun dari tidurnya, kemudian mengambil handuk di kapstok pintu kamarnya kemudian menuju kamar mandi.
Eomma Luhan hanya berdecak kesal melihat kelakuan anaknya. Kemudian ia melangkahkan kakinya menuju ruang tamu, tempat di mana Sehun sedang menunggu.
"Sehun-ah, tunggu sebentar. Luhan baru saja bangun dan mandi. Kau tahu, kan kalau anak itu memang sudah kebiasaan dari kecil. Suka bangun siang kalau hari libur. Sebentar lagi ia akan ke sini. Kau sudah sarapan, Sehun-ah?"
"Sudah, eomma" Jawabnya sambil tersenyum.
"Baiklah. Eomma akan ke dapur, menyiapkan sarapan untuk Luhan. Sebentar, ya. Eomma juga akan membuatkan minuman untukmu"
"Baiklah, eomma. Kamsahamnida"
Lima menit berlalu, Sehun merasa bosan. Ia pun mengambil gadgetnya kemudian memainkan game yang ada di gadgetnya.
"Sehun-ah. Kau sudah lama menunggu? Mian, aku terlambat bangun. Hehehe. Ini minuman untukmu. Eomma yang menyuruhku untuk memberikannya padamu" Kata Luhan sambil meletakkan secangkir teh hangat untuk Sehun.
"Tak usah meminta maaf. Aku sudah hafal dengan kebiasaanmu. Ck, dasar" Kata Sehun sambil meminum tehnya.
"Kita mau ke mana, Sehun-ah?"
"Ke mana saja terserah. Cepat bersiap-siap"
"Aku sudah siap"
"Sebentar, aku menghabiskan minumanku dulu. Oke, eomma di mana? Aku ingin pamit" Kata Sehun sambil berdiri setelah ia menghabiskan minumannya.
"Eomma sedang mandi. Aku sudah minta izin tadi. Ayo jalan"
.
.
.
"Kita ke bukit lagi? Kukira kau tidak suka melihat bunga dandelion di sini" Kekeh Luhan sambil melepas seatbeltnya. Ia pun keluar dari mobil dan tersenyum manis.
"Aku suka suasananya. Bukan suka dandelionnya" Kata Sehun sambil keluar dari mobilnya lalu menggamit lengan Luhan kemudian memasuki hutan agar bisa sampai ke kaki bukit.
Lima belas menit berjalan kaki, akhirnya mereka sampai di kaki bukit. Mereka duduk di tempat yang sama ketika mereka pertama kali berkunjung ke kaki bukit.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau mengajakku kemari? Kukira kau akan mengajakku ke mall atau semacamnya" Tanya Luhan sambil berbaring di rerumputan yang sedang ia duduki.
"Kau lupa? Ini kan sudah bulan april. Bulan kelahiran kita. Aku ingin merayakannya lebih dulu denganmu"
"Iya juga ya. Ini sudah bulan april, kan? Tidak ada kue ulang tahun, Sehunnie?" Tanya Luhan sambil melirik Sehun yang masih duduk. Matanya tak bisa berkedip melihat Sehun. Dari tempatnya berbaring, Sehun terlihat lebih tampan dengan wajahnya yang terlihat datar dengan rambutnya yang hitam berterbangan tertiup angin.
"Kue ulang tahunnya nanti saja. Aku sengaja membawamu ke sini, aku ingin menghabiskan hari ini hanya berdua denganmu. Kau tidak suka?" Katanya sambil ikut berbaring di sebelah Luhan.
"Bukan begitu. Maksudmu?" Tanya Luhan ragu. Jantungnya berdegup sangat kencang. Ia menangkap arti lain dari ucapan Sehun barusan.
"Tidak ada apa-apa. Kau ingin hadiah apa dariku? Jangan yang berhubungan dengan rusa lagi! Empat tahun yang lalu, setiap kali kau ulang tahun, kau selalu meminta hadiah yang berhubungan dengan rusa terus. Kau ini" Kata Sehun sambil menjitak kepala Luhan.
"Aish, Sehunnie. Appo" rintih Luhan.
"Cepat katakan. Kau ingin hadiah apa dariku?" Paksa Sehun. Luhan nampak berpikir.
"Hmm, molla. Aku masih belum memikirkan hal itu. Kau bagaimana? Kita kan berselisih delapan hari. Kau lebih dulu berulang tahun dari pada aku. Kau ingin apa?"
"Kau ini bagaimana. Ck, kalau aku sih… bagaimana mengatakannya, ya" Gumam Sehun sambil bangun dari posisi rebahannya. Ia berdecak kesal. Luhan pun ikut bangun juga. Penasaran, apa yang ingin Sehun katakan.
"Apa? Kau ingin mengatakan sesuatu?" Tanya Luhan. Sehun menghela napasnya, raut wajahnya terlihat kesal dan gelisah di saat yang bersamaan.
"Aku tahu ini waktu yang tidak pas. Mengenai kebersamaan kita yang tinggal terasa kurang lebih satu tahun lagi kita bersama di sekolah menengah atas, aku hanya ingin mengatakan sesuatu"
"Sesuatu apa, Sehunnie?"
.
.
.
TBC
.
.
Kira-kira apa yang akan dikatakan oleh Sehun? Ayo tebak :D yang berhasil menjawab dapat ciuman gratis dari member EXO :D.
Ngomong-ngomong, EXO-L kayaknya lagi galau gara-gara persoalan tentang Tao itu, ya? Jangan galau dong '-' kita doakan yang terbaik aja. Mudah-mudahan ada titik terang dari permasalahan ini /Cie elah bahasa gue/. Sebenarnya nggak rela juga sih kalo Tao beneran 'keluar', padahal Tao bias ketiga gue setelah Kris dan Luhan -_-.
Tapi semua terserah Tao aja sih. Semoga dia masih mikirin hal ini baik-baik. Gue kasihan sama Suho harus kehilangan tiga member sekaligus dalam kurun waktu kurang dari setahun. Yang pasti, kita sebagai EXO-L harus yakin apapun keputusan Tao nanti adalah yang terbaik /Oke ini curhat banget/.
Oke, last words for this chapter, jangan lupa review ^^ Sampai jumpa di chapter berikutnya ^^ Annyeong…
