"Cepat katakan. Kau ingin hadiah apa dariku?" Paksa Sehun. Luhan nampak berpikir.

"Hmm, molla. Aku masih belum memikirkan hal itu. Kau bagaimana? Kita kan berselisih delapan hari. Kau lebih dulu berulang tahun dari pada aku. Kau ingin apa?"

"Kau ini bagaimana. Ck, kalau aku sih… bagaimana mengatakannya, ya" Gumam Sehun sambil bangun dari posisi rebahannya. Ia berdecak kesal. Luhan pun ikut bangun juga. Penasaran, apa yang ingin Sehun katakan.

"Apa? Kau ingin mengatakan sesuatu?" Tanya Luhan. Sehun menghela napasnya, raut wajahnya terlihat kesal dan gelisah di saat yang bersamaan.

"Aku tahu ini waktu yang tidak pas. Mengenai kebersamaan kita yang tinggal terasa kurang lebih satu tahun lagi kita bersama di sekolah menengah atas, aku hanya ingin mengatakan sesuatu"

"Sesuatu apa, Sehunnie?"

.

.

.

DANDELION

Genre : Romance, Angst

Rated : T

Main cast : Xi Luhan, Oh Sehun

Other cast : Find it ^^

Length : Chaptered

Disclaimer :

Genderswitch! Pemeran merupakan milik Agensi, Orang tua mereka, dan Tuhan. Aku hanya meminjam nama. FF ini murni buatanku sendiri.

.

.

.

"Kemarin Chanyeol hyung mengatakan sesuatu ketika kami latihan band. Dia bilang, kalau kita sudah berada di kelas dua belas beberapa bulan lagi, kita akan jarang bertemu karena kita akan sibuk menjelang ujian akhir. Pada akhirnya akan sulit bagiku untuk mengungkapkan semua ini. Baiklah... aku akan mengatakannya sekarang juga" Kata Sehun sambil menghela napasnya untuk yang ke sekian kalinya. Oke, sekarang atau tidak sama sekali!

"Luhannie, mengenai kata-kataku beberapa hari yang lalu, aku menariknya. Sebenarnya… aku memerhatikanmu bukan sebagai sahabat. Tapi… sebagai… cinta pertamaku" Sehun mengucapkannya dengan terbata-bata. Tapi setidaknya ia dapat mengakuinya pada Luhan. Seperti kata Chanyeol kemarin, 'ssang namja adalah namja yang berani mengungkapkan apa yang dia rasakan di dasar hatinya'.

"M-mwo? Apa maksudmu?" Luhan terkejut. Apa maksudnya? Hatinya terus berdebar. Ia mengusap-usap telinganya, memastikan kalau ia tidak salah dengar.

"Aku, Oh Sehun mencintaimu Xi Luhan. Aku juga tidak tahu kapan aku mulai menyukaimu. Aku ingin kau jadi kekasihku. Aku takut ketika kita sudah berada di kelas dua belas beberapa bulan lagi, kita akan semakin jauh karena kita akan sibuk mempersiapkan ujian akhir dan pada akhirnya akan lebih susah bagiku untuk mengungkapkan ini. Jadi, bagaimana?" Kata Sehun sambil menggenggam tangan Luhan yang mulai terasa dingin. Ditatapnya mata Luhan dengan dalam. Dapat ia rasakan mimik gelisah dari wajah mungil yang dicintainya itu. Luhan menghembuskan napasnya pelan,

"Ya. Aku mau, Sehunnie" Katanya sambil tersenyum. Sehun diam, wajahnya terlihat datar.

"Apa kau bilang?" Sehun bingung. Luhan hendak tertawa namun ditahannya.

"Ya, aku mau jadi kekasihmu, Sehunnie. Kau belum mengalami gangguan pendengaran, kan?"

"Gomapta, Luhannie. Kau membuatku ingin pingsan sekarang juga mendengar jawabanmu" Kata Sehun sambil memeluk Luhan—yang sekarang statusnya adalah kekasih Sehun.

"Silahkan kalau kau hendak pingsan. Tapi jangan salahkan aku kalau kau kutinggal sendirian di sini"

"Kau tega sekali" Sedih Sehun. Luhan tertawa, "Aku tidak setega itu, Sehunnie. Kau ini bagaimana. Sepertinya aku benar-benar menyukai Dandelion" Kata Luhan sambil tersenyum dan menatap hamparan bunga Dandelion di hadapannya.

"Hmm? Bolehkah kekasih tampanmu ini tahu alasan mengapa kau menyukai Dandelion?" Tanya Sehun menggoda. Luhan tersenyum misterius, kemudian berujar, "Karena… aku mendapatkan seorang pangeran tampan di sini. Sebenarnya ada satu alasan lagi, sih. Tapi sepertinya kau tak perlu tahu"

"Kau mulai main rahasia-rahasiaan, hm? Baiklah" Sehun mempoutkan bibirnya dan mengalihkan pandangannya ke hamparan bunag Dandelion yang menari indah ditiup angin.

"Mwo? Kau merajuk? Alasan yang satu lagi, nanti akan kuberitahu kalau kita sudah dewasa nanti. Kalau kita masih bersama seperti ini" Luhan seketika terdiam. Entah kenapa ia menjadi ragu apakah ia dan Sehun akan tetap bersama seperti ini atau tidak di masa depan.

"Kita akan tetap bersama, Lu. Kau harus tahu itu. Walaupun nanti ada yang menghalangi kita, sebisa mungkin aku akan memperjuangkanmu. Kau harus mengingatnya. Arrasseo?" ucap Sehun serius sambil menangkup kedua pipi Luhan dan menatap sepasang mata rusa di hadapannya. Luhan tersenyum.

"Nde. Aku juga akan berjuang bersamamu jika seandainya ada rintangan apapun yang akan terjadi di masa depan"

.

.

.

Senin pagi, ketika Luhan baru saja memasuki gerbang sekolahnya—setelah diantar oleh supir keluarga, Luhan dihadiahi oleh sapaan selamat pagi yang melengking heboh dari sang diva, Byun Baekhyun.

"Annyeong, Lulu. Apa kabarmu pagi ini?" Pekik Baekhyun sambil meletakkan lengan kanannya ke bahu Luhan. Beberapa murid yang kebetulan berada di koridor tempat Luhan dan Baekhyun berjalan terkejut mendengar lengkingan Baekhyun itu. Luhan menepuk dahinya pelan, merasa malu karena suara sahabatnya yang kelewat heboh.

"Aku baik-baik saja, Baekkie. Ada apa kau berisik pagi-pagi begini?"

"Kau belum tahu, Lu? Xiumin kemarin bilang acara kencannya dengan Chen oppa sukses. Dan dia bilang Chen oppa akan mengajaknya kencan lagi nanti, setelah pengumuman kelulusan minggu depan"

"Sukses, ya? Tumben sekali Chen seonbae akan serius menjalin hubungan dengan yeoja" gumam Luhan.

"Maksudmu? Jadi selama ini Chen oppa itu gay? Omo! Aku harus mengatakan ini pada Xiumin sebelum dia jatuh cinta terlalu dalam pada Chen oppa" Gumam Baekhyun bersemangat sambil menolehkan kepalanya ke arah kiri-kanan-depan-belakang guna mencari Xiumin.

"YA! bukan begitu maksudku! Kau tahu sendiri, kan Chen seonbae selalu usil dengan orang. Dia selalu memberi harapan palsu pada yeoja lain. Nah, sekarang aku bingung mengapa dia begitu mengejar Xiumin. Kau ini, seharusnya kau cari faktanya dulu baru bertindak" Kata Luhan kesal sambil duduk di bangkunya. Baekhyun pun ikut duduk di sebelahnya.

"Oh, begitu. Hehe. Mianhae" Kekeh Baekhyun sambil memasang wajah tanpa dosa.

"Oh iya, kemarin aku menelponmu tapi ternyata nomormu tidak aktif. Kau ke mana saja dengan Sehun?"

"Handphone ku lowbatt. Kami tidak ke mana-mana. Hanya menghabiskan waktu seharian di bukit"

"Hanya itu? Aku tidak yakin"

"Tidak yakin apa, Baekkie? Sudahlah, jangan mengarang cerita"

"Yakin tidak ada apa-apa? Kemarin ketika aku membuka LINE, kulihat status Sehun sedang berbunga-bunga. Kalian sudah jadian?"

"Hmmm. Kalau iya, memang kenapa, Baekkie?" Tanya Luhan dengan wajah yang dibuat seceria mungkin. Berbanding terbalik dengan ekspresinya, jantungnya berdegup kencang, takutnya Baekhyun akan bersikap berlebihan lagi.

"Mwo? K-kau? Benar-benar sudah jadian dengan Sehun? Omo! Akhirnyaaaa" Pekik Baekhyun sambil memeluk Luhan sangat erat. Lagi-lagi Luhan merutuk dirinya. Tuh, kan! Baru saja dipikirkan, Baekhyun langsung heboh.

"Baek, lepaskan. Kau membuatku sesak" Kata Luhan sambil menepuk bahu Baekhyun. Baekhyun pun melepas pelukannya dengan wajah yang tertekuk.

"Kau! Seharusnya kau memberitahuku sesaat setelah kau jadian dengan Sehun! Kenapa baru mengatakannya sekarang? Aku ini sahabatmu atau bukan sih?"

"Bukan begitu. Sudahlah. Jangan membahas itu lagi. Sekarang, pikirkan bagaimana nasib kita. Tiga minggu lagi kita ada ujian kenaikan kelas. Kau mau tinggal kelas karena tidak belajar?"

"Tentu saja tidak! Aish, Lu. Sebentar lagi kelas XII lulus. Ahh, aku akan semakin jarang bertemu dengan Chanyeol oppaku"

"Kalian berpisah hanya satu tahun. Setelah itu kan kalian akan berada di satu universitas nantinya. Itupun kalau kau lulus tes masuk universitasnya. Jangan berlebihan" Kata Luhan sambil mengeluarkan buku-buku pelajaran Fisika—pelajaran pertama hari ini.

"Kau ini… Pangeranmu datang, Lu" nada Baekhyun yang awalnya kesal berubah jadi manis ketika melihat Sehun memasuki kelas.

"Annyeong, Luhannie. Selamat pagi" Sapa Sehun ketika ia sudah berada di samping meja Luhan

"Ya! Kau tak menyapaku? Kau anggap aku apa setelah lima tahun ini huh?" Dengus Baekhyun sebal. Sehun tertawa.

"Selamat pagi Baekhyun" Cengir Sehun yang dibalas dengusan sebal oleh Baekhyun.

"Baekkie, jangan memasang ekspresi begitu. Kau terlihat jelek. Nanti Chanyeol oppa akan menjauh darimu. Kkk~" gemas Luhan sambil mencubit pipi gembul Baekhyun.

"Kau dan Sehun sama-sama menyebalkan. Aish" Sungut Baekhyun yang membuat Luhan dan Sehun tertawa.

.

.

.

Musim ujian kenaikan telah berakhir. Tinggal menunggu hasil agar murid Seoul International High School agar siswa kelas X dan XI bisa naik kelas.

Berbeda dengan suasana kantin yang sangat ramai dipenuhi siswa karena kegiatan belajar mengajar sudah selesai, di atap sekolah itu sangatlah sunyi karena hanya ada dua orang yang berada di sana. Yang satu sedang menggambar di buku sketsanya, dan yang satu lagi sedang mendengarkan musik lewat ipodnya.

Suasana sangat hening saat itu, sampai salah seorang yang sedang mendengarkan musik lewat ipod itu mengeluarkan suaranya dan menatap bosan pada orang yang sedang menggambar.

"Lu, sampai kapan kau mengabaikan aku dan sibuk dengan buku sketsamu itu?" Keluhnya. Yang ditanya hanya bisa memutar kedua bola matanya.

"Kau juga sibuk dengan ipodmu. Jadi jangan salahkan aku kalau aku mengabaikanmu juga. Tsk"

"Kau dulu yang mengabaikanku" balasnya sambil mencubit pipi sang yeoja yang sudah menjadi kekasihnya sebulan ini.

"Kau sedang menggambar apa?" Tanyanya sambil merapatkan tubuhnya mendekat pada sang yeoja. Sang yeoja langsung menutup buku sketsanya.

"Rahasia dong, Sehunnie. Nanti, kalau waktunya pas. Akan aku kasih lihat"

"Lu, kau tega sekali. Itu pasti masih sangat lama" Katanya merajuk. Luhan pun sontak tertawa melihatnya.

"Sehunnie, kau sangat lucu kalau merajuk seperti itu. Cup cup. Itu tidak akan lama. Tenang saja" ucap Luhan sambil menepuk pelan bahu Sehun.

"Kau pasti menggambar namja lain. Kau mulai nakal, hm? Mencoba selingkuh dariku" gumam Sehun cemburu.

"Aniya! Kau kira aku yeoja apa, huh?" Kata Luhan sambil memukulkan buku sketsanya ke kepala Sehun. Setelah beberapa kali kepalanya terbentur buku sketsa Luhan, dengan sigap ia menangkap pergelangan tangan Luhan. Luhan terdiam. Matanya kemudian tertumbuk pada sepasang mata elang yang memancarkan mimik kesakitan. Hening. Dengan hati-hati, Sehun mendekatkan wajahnya ke wajah Luhan. Luhan hanya terdiam, menanti apa yang akan terjadi meskipun pikirannya sudah memikirkan hal itu.

Chu~

Kedua bibir itu saling menempel. Luhan hanya membulatkan matanya terkejut. Sedangkan Sehun memejamkan matanya karena ia sendiri terlalu gugup.

"Ya! Oh Sehun! Xi Luhan! Apa yang kalian lakukan di sini?"

Teriakan Baekhyun sontak membuat keduanya melepaskan tautan bibir mereka.

"A-ada apa, Baek?" Tanya Luhan gugup. Wajahnya mulai merona merah menahan malu. Sedangkan Sehun menjambak rambutnya kesal, momen terindahnya bersama Luhan menjadi rusak gara-gara kehadiran Baekhyun.

"Ini sudah jam pulang. Kim Kyojangnim—kepala Sekolah— menginstruksikannya. Kita akan libur sampai pembagian rapor minggu depan" Kata Baekhyun yang masih shock melihat adegan kissing scene di hadapannya.

"A-ah, keurae. Kau duluan saja, Baek. Terima kasih infonya" Kata Luhan sambil membereskan peralatan menggambarnya yang berserakan.

"Baiklah. Aku pulang dulu. Sehun-ah, Luhan-ah, jangan lupa, besok sore kalian ke rumahku. Hanya pesta kecil-kecilan untuk merayakan ulang tahunku" Kata Baekhyun sambil tersenyum kecil meninggalkan sepasang kekasih yang sedang salah tingkah.

"Kajja kita pulang" Kata Sehun sambil mengambil tasnya kemudian menggamit tangan Luhan untuk segera pulang.

.

.

.

Di rumah Baekhyun, sudah mulai berdatangan sahabat-sahabat Baekhyun. Xiumin yang datang bersama Chen serta Chanyeol—kekasihnya. Karena ini hanya pesta kecil-kecilan, maka yang datang hanya sahabat-sahabat dekat Baekhyun saja.

"Xiuminnie, kau sudah menghubungi Luhan? Aish, Sehun dan Luhan ke mana , sih?" Gerutu Baekhyun pelan. Mereka sedang berada di taman belakang rumah Baekhyun sekarang. Panggangan dan bahan-bahan makanan yang akan dipanggang pun sudah tersedia. Mereka hanya akan pesta barbeque saja.

"Katanya masih di jalan. Sebentar lagi sampai" Jawab Xiumin yang sedang duduk di bangku taman berdua dengan Chen.

"Ya sudah, Baekkie. Tunggu saja" Kata Chanyeol sambil mengusak surai lembut milik Baekhyun. Baekhyun pun tersenyum sambil mengangguk imut.

"Aigoo. Pacarku imut sekali kalau begini" Gombal Chanyeol.

"Cheesy sekali" Baekhyun mempoutkan bibirnya.

"Annyeong. Maaf kami lama. Tadi ada masalah sedikit di jalan. Hehe" Kata Luhan. Di belakangnya ada Sehun.

"Tak apa. Ayo kita mulai pestanya" Kata Baekhyun sambil menuju panggangan. Chanyeol pun menyusul dengan membawakan makanan yang akan mereka panggang.

"Baek, saengil chukkae. Ini kado dariku dan Sehun" Kata Luhan sambil menyerahkan kotak berukuran sedang ke Baekhyun.

"Gomawo, Sehun-ah, Luhan-ah. Kalian memang sahabat terbaikku" Kata Baekhyun sambil memeluk Sehun dan Luhan.

"Aku bukan sahabatmu, Baek? Tega sekali" Sungut Xiumin yang berdiri di belakang Baekhyun. Wajahnya dibuat sok sedih.

"Kau kenapa baru bertemu dengan kami waktu kelas sepuluh, huh? Haha, ayo sini. Kau juga sahabat terbaikku" Kata Baekhyun sambil menarik Xiumin ke dalam pelukannya.

"Baekhyun-ah. Bisakah kita memanggang makanannya sekarang juga? Aku sangat lapar" Celetuk Chen. Baekhyun merengut kesal melihat wajah Chen yang menurutnya tanpa dosa, karena telah merusak momennya bersama sahabatnya.

"Oppa… kau merusak suasana, tahu" Xiumin menonjok pelan lengan Chen. Chen hanya terkekeh pelan sambil mengucapkan kata maaf.

.

.

.

Hari sudah beranjak malam ketika Luhan baru saja sampai di rumahnya dengan di antar oleh Sehun. Ketika ia memasuki ruang tamu, dilihatnya sang ayah sedang duduk angkuh di sofa bersama ibunya.

"Eomma. Aku pulang" Sapa Luhan sambil tersenyum, mengabaikan seorang lelaki yang sudah mulai tua di samping ibunya.

"Kau dari mana saja, Lu? Kau tahu ini jam berapa?" Tanya ayahnya.

"Aku dari rumah temanku. Dia berulang tahun hari ini. Ini jam sembilan malam. Waeyo?" tanya Luhan dengan wajah tak berdosanya.

"Tidak baik anak perempuan pulang malam. Kau pulang dengan siapa? Namja?" tanya ayahnya lagi.

"Ne, memangnya kenapa, appa? Dia kekasihku" Luhan membalas. Ia tahu kalau ia keterlaluan karena selalu membalas pertanyaan ayahnya dengan nada ketus. Tapi rasa kesalnya terhadap ayahnya lebih besar dari pada rasa bersalahnya karena melawan.

"Kau… apa namja itu anak baik-baik? Menjadi kekasihmu saja sudah membuatmu pulang malam. Apalagi ketika dia sudah menjadi suamimu?"

"Kau tidak tahu apa-apa tentang kekasihku, appa! Dia anak baik-baik. Dia tidak pernah mengajakku keluar dan pulang malam. Bukannya kau selalu sibuk dengan perusahaan? Maka dari itu, kau tidak tahu apa-apa tentangnya! Berhentilah berkata buruk kepadanya, appa"

"Jin Ri-ya, lihat! Anakmu sudah berani melawan kata-kataku! Kau selaku eommanya apa kau mengajarinya berkata kasar begitu, eoh?"

Eomma Luhan terdiam. Ia menunduk dalam-dalam. Ia tidak berani melihat wajah geram suaminya yang ditujukan untuknya itu.

"Jangan menyalahkan eomma. Seharusnya kau berkaca, appa. Eomma telah merawatku dengan baik. Apa kau selalu berada di rumah? Apa kau selalu memerhatikan keluargamu? Aku lebih baik hidup miskin tapi punya keluarga yang 'utuh' daripada hidup bergelimangan harta tetapi mempunyai ayah yang buruk sepertimu. Aku kecewa padamu, appa"

"Xi Luhan. Berani-beraninya kau. Kalau begitu, setelah kau lulus sekolah nanti, kau akan kukirim ke Beijing. Kau lebih baik tinggal di sana. Korea membuatmu menjadi anak pembangkang. Dan kau… akan kujodohkan dengan anak dari kolega bisnis appa. Persiapkan dirimu sekarang juga"

.

.

.

TBC

.

.

.

Gimana? Yang kemaren ngejawab Sehun bakal nembak Luhan, selamat ya. Kalian dapat hadiah ciuman dari member EXO~~~~~

Konfliknya udah mulai aku munculin yah. Tuh appanya Luhan mau ngejodohin Luhan dan Luhan bakal pindah ke Beijing :D konfliknya kurang hot ya? Huhuu.. Mian aku nggak bisa bikin konflik yang susah:D Tapi menurutku Luhan dijodohin pas Luhan dan Sehun baru jadian itu sudah masuk konflik kok :v /iyain aja/.

Chapter selanjutnya mungkin bakal mulai banyak nangis-nangisnya (?). Jadi siapin tisu ya kalo mau baca chapter selanjutnya :D

Review juseyo :3