"Kau tidak tahu apa-apa tentang kekasihku, appa! Dia anak baik-baik. Dia tidak pernah mengajakku keluar dan pulang malam. Bukannya kau selalu sibuk dengan perusahaan? Maka dari itu, kau tidak tahu apa-apa tentangnya! Berhentilah berkata buruk kepadanya, appa"

"Jin Ri-ya, lihat! Anakmu sudah berani melawan kata-kataku! Kau selaku eommanya apa kau mengajarinya berkata kasar begitu, eoh?"

Eomma Luhan terdiam. Ia menunduk dalam-dalam. Ia tidak berani melihat wajah geram suaminya yang ditujukan untuknya itu.

"Jangan menyalahkan eomma. Seharusnya kau berkaca, appa. Eomma telah merawatku dengan baik. Apa kau selalu berada di rumah? Apa kau selalu memerhatikan keluargamu? Aku lebih baik hidup miskin tapi punya keluarga yang 'utuh' daripada hidup bergelimangan harta tetapi mempunyai ayah yang buruk sepertimu. Aku kecewa padamu, appa"

"Xi Luhan. Berani-beraninya kau. Kalau begitu, sudah kuputuskan, setelah kau lulus sekolah nanti, kau akan kukirim ke Beijing. Kau lebih baik tinggal di sana. Korea membuatmu menjadi anak pembangkang. Dan kau… akan kujodohkan dengan anak dari kolega bisnis appa. Persiapkan dirimu sekarang juga"

.

.

.

DANDELION

Genre : Romance, Angst

Rated : T

Main cast : Xi Luhan, Oh Sehun

Other cast : Find it ^^

Length : Chaptered

Disclaimer :

Genderswitch! Pemeran merupakan milik Agensi, Orang tua mereka, dan Tuhan. Aku hanya meminjam nama. FF ini murni buatanku sendiri.

.

.

.

"M-mwo? Appa, aku tidak mau! Jangan seperti itu, appa! Kumohon. Aku menyayangi Sehun" isak Luhan. Tangannya terkepal erat. Ia sungguh marah dengan appanya.

"Tidak ada bantahan, Xi Luhan. Sekarang cepat pergi ke kamarmu atau kekasihmu yang bernama Sehun itu akan kubunuh dengan tanganku sendiri"

"Xi Lao Gao. Jangan berteriak seperti itu. Kasihan Luhan" eomma Luhan yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara dan mengusap bahu suaminya pelan. Matanya sembab akibat menangis melihat keadaan keluarganya sekarang.

"Dia sudah berani melawanku, Jin Ri-ya. Aku sudah lelah terus-menerus berada di kantor, bukannya disambut dengan baik oleh Luhan, malah terus bertengkar dengannya. Bagaimana aku tidak emosi?" bentak appa Luhan sambil melirik ke arah istrinya dan anak semata wayangnya.

"Itu salah appa! Mengapa appa jarang pulang ke rumah? Mengapa appa lebih betah berada di apartemen dekat kantor dari pada berada di rumah bersamaku dan eomma? Apakah appa tidak berpikir begitu, eoh? Aku merindukan appaku yang dulu. Bukan appa yang sekarang. Aku membencimu, appa" teriak Luhan sambil berlari kencang menuju kamarnya di lantai dua. Ia mengunci kamarnya dari dalam dan menangis keras di balik bantal bergambar rusa kesayangannya. Ia bahkan tidak peduli lagi sampai jam berapa ia menangis. Hingga akhirnya ketika jam akan menunjukkan pukul tiga pagi, Luhan akhirnya berhenti menangis dan tertidur.

.

.

.

Perjodohan. Aku sungguh membenci kata itu. Keadaan ini mengharuskanku untuk berpisah dengan orang yang kucintai dan menjodohkanku dengan anak rekan bisnis appa. Mungkin untuk keuntungan perusahaan appa dan rekan bisnisnya. Beliau hanya memikirkan materi duniawi. Appa tidak pernah memikirkan apa yang ku mau untuk kebahagiaanku di masa depan. Sehun-ah, aku harus bagaimana? Tolong bantu aku. Aku tak ingin berpisah denganmu. Aku sangat mencintaimu…

Hari-hari Luhan tidak pernah terasa sangat berat seperti sekarang ini. Ketika ia dan Sehun masih dalam tahap friendzone dulu pun tak membuatnya merasa hidupnya tak berarti seperti sekarang ini. Perkataan appanya beberapa hari yang lalu masih terngiang jelas dalam ingatannya. Bagaimana bisa ia akan dipulangkan ke Beijing dan tiba-tiba dijodohkan setelah lulus sekolah nanti? Benar-benar sebuah bencana ketika ia baru bisa merasakan arti bahagia bersama orang yang ia cintai.

"Luhan-ah, bolehkah eomma masuk?" Tanya eomma Luhan di depan pintu kamar Luhan.

"Masuklah, eomma" Luhan mengizinkan. Ia bangun dari posisi tidurnya dan duduk menyandar pada dashboard ranjangnya. Eommanya duduk di sampingnya.

"Ada apa, eomma?" Tanya Luhan.

"Eomma sudah membicarakannya dengan appamu. Eomma sedang berusaha agar kau tidak pergi ke Beijing dan tidak dijodohkan. Eomma tahu kau sangat mencintai Sehun" Kata eomma sambil mengusap pelan rambut anaknya.

"Eomma… kenapa appa seperti itu? Seingatku, ketika aku kecil, appa orang yang hangat, ramah, dan tidak pernah marah. Tapi kenapa ketika appa mulai sibuk dengan perusahaannya, dia mulai berubah? Kenapa appa berubah, eomma? Aku merindukan appa yang dulu. Aku seperti tidak mengenal appaku sendiri. Aku tidak mau dijodohkan. Bahkan aku tidak mengenal namja itu. Bagaimana bisa kami dijodohkan? Apakah namja itu orang yang baik, eomma? Bagaimana reaksi Sehun kalau aku benar-benar dijodohkan?" Luhan menangis di pelukan eommanya. Ia merasakan tangan lembut sang eomma membelai punggungnya menenangkan.

"Nan molla. Jika seandainya itu terjadi, eomma harap namja itu anak yang baik-baik. Berdoa saja agar appamu membatalkan rencananya. Sekarang tidurlah. Ini sudah larut malam. Besok kau masuk sekolah, kan? Mulai besok kau akan mulai sibuk, Luhannie. Belajar yang giat, ya? Semoga kau lulus dengan nilai yang baik. Jalljayo" eomma berdiri kemudian mengecup kening Luhan dengan sayang.

"Jalljayo, eomma. Saranghae" Kata Luhan sambil berbaring dan menarik selimutnya hingga sebatas dada, kemudian tertidur.

.

.

.

Hari pertama di kelas dua belas. Luhan dengan bangga memakai seragamnya. Tidak ada yang berubah sih sebenarnya. Yang membedakannya dari seragam tahun lalu adalah dasinya. Sekarang di dasinya terdapat tiga garis putih yang berarti ia anak kelas tiga.

Setelah selesai dengan seragam dan peralatan sekolahnya, Luhan meletakkan tas di punggungnya kemudian turun ke lantai satu dan menuju dapur.

"Selamat pagi eomma" katanya sambil mencium kedua pipi ibunya.

"Selamat pagi. Ini sarapan spesial untuk anak eomma yang sekarang sudah kelas dua belas" sapa ibunya sambil meletakkan sepiring nasi goreng dan susu vanilla kesukaan Luhan.

"Wah, gomawo eomma. Nasi goreng buatan eomma paling enak sedunia. Eomma jjang" kata Luhan sambil melahap nasi gorengnya. Ibunya hanya tersenyum simpul mendengar ucapan anaknya yang mulai beranjak dewasa ini.

"Appa di mana, eomma?" Tanya Luhan penasaran.

"Biasa. Sudah berangkat bekerja lagi setengah jam yang lalu. Nanti sore beliau berangkat ke Kanada. Perusahaan di sana ada masalah"

"Oh" Sahut Luhan singkat lalu meminum susunya.

TING NONG TING NONG

"Sepertinya Sehun sudah datang, ya? Sebentar, eomma bukakan dulu pintunya"

Tak sampai dua menit, ibu Luhan kembali ke meja makan diiringi dengan Sehun di belakangnya.

"Selamat pagi Lulu" sapa Sehun sambil mencium kening Luhan lalu duduk di samping Luhan.

"Selamat pagi Sehunnie"

"Kau sudah sarapan, Sehun-ah?" Tanya Ibu Luhan sambil menyiapkan minuman untuk Sehun.

"Sudah eomma"

"Ini buatmu Sehun-ah. Minumlah" kata Ibu Luhan sambil menyerahkan segelas susu Vanilla, sama dengan Luhan.

"Kamsahamnida eomma. Maaf merepotkanmu pagi-pagi begini"

"Tak apa. Kau juga anakku, Sehun-ah. Lagi pula kau kekasihnya Luhan, bukan? Jadi tak perlu sungkan dengan eomma" Ibu Luhan tersenyum lebar ketika wajah Luhan yang mulai memerah.

"Kalian… mengingatkan eomma ketika eomma dan appa sedang berpacaran"

"M-mwo?" Luhan bingung.

"Huum, dulu eomma juga berpacaran dengan appa ketika kami masih duduk di sekolah menengah atas. Awal berpacaran juga keadaannya begini, eomma sedang sarapan ketika appamu menjemput eomma ke sekolah"

"Pasti aboeji sangat tampan ketika masih sekolah" Puji Sehun sambil tertawa.

"Kau benar, Sehun-ah. Dulu appa Luhan sangat tampan. Banyak siswa yeoja lain yang mengidolakannya karena appa Luhan dulu sangat populer. Tapi mendadak mereka iri dengan eomma karena eomma berpacaran dengan appa"

"Benarkah? Aku tidak tahu kalau dulu appa sangat populer. Apakah appa dulu sekolah di Korea?"

"Ya. Dia pindah ke Korea ketika kami berada di kelas sebelas. Appamu pindah karena Haraboeji membuka cabang perusahaannya di Korea" Jelas Ibu Luhan bahagia karena mengenang masa-masa indah yang dulu tercipta.

"Aah, eomma. Sepertinya aku dan Luhan harus berangkat sekolah sekarang. Setengah jam lagi bel masuk berbunyi" Kata Sehun sambil melirik arloji di tangan kirinya.

Luhan pun segera menghabiskan sarapannya kemudian mengecup kedua pipi ibunya dan berangkat bersama Sehun.

"Hati-hati di jalan" Kata ibu Luhan sesaat sebelum Luhan dan Sehun masuk ke dalam mobil Sehun.

Di perjalanan, Luhan kembali teringat tentang perkataan appanya tempo hari. Ia mulai merasa pusing. Biasanya appanya selalu serius dengan perkataannya. 'semoga saja tidak terjadi. Appa tidak mungkin mengirimku ke Beijing dan menjodohkanku di sana' Batin Luhan meskipun ia sendiri juga tidak yakin.

"Lu, kau kenapa? Kau tampak tidak bersemangat" Kata Sehun sambil menggenggam erat tangan Luhan. Luhan pun balas menggenggam dan menghembuskan napasnya berat.

"Aniya. Aku hanya bingung setelah lulus nanti akan kuliah di mana" Setidaknya ia setengah berbohong kali ini. Luhan juga mulai pusing akan kuliah di mana setelah lulus nanti.

"Ah, keurae. Bagaimana kalau kita mendaftar di Yonsei University? Dan bisakah kita satu jurusan nantinya?"

"Sebenarnya… appaku mengusulkan agar aku kuliah di Beijing nanti" 'dan akan dijodohkan juga di sana' batin Luhan.

Sehun cukup terkejut dengan pernyataan Luhan tentang kuliah di Beijing barusan. Namun, ia tutupi dengan senyuman manisnya.

"Apa kau menyetujui usulan appamu?" Tanya Sehun. Ia berharap agar Luhan mengatakan tidak. Biarkan ia menjadi egois kali ini. Ia tidak ingin jauh sedikitpun dari kekasih cantiknya ini. Jauh sedikit dari Luhan mungkin bisa membuatnya gila.

"Aku masih memikirkannya, Sehunnie. Ini cukup membingungkan. Jujur, aku tidak ingin berpisah denganmu"

"Kalau kau ingin kuliah di Beijing, tak apa. Kita hanya terpisah selama tiga setengah tahun, bukan? Saat liburan kita masih bisa bertemu. Aku benar, kan?" Kata Sehun mempererat genggamannya. Luhan meringis. Kalau begitu, ia mungkin akan dengan senang hati kuliah di Beijing. Yang jadi masalahnya adalah, Luhan akan dijodohkan. Appanya terlalu serius untuk diajak bercanda.

"Aah, atau begini saja. Aku juga akan mendaftar di universitas yang sama denganmu di Beijing. Jadi, kita akan tetap bersama. Bagaimana?" Tanya Sehun semangat. Luhan mendadak lemas. Kalau sampai terjadi, mungkin akan lebih gawat.

"Aniya. Molla. Aku akan mencoba mengatakan pada appaku kalau aku ingin kuliah di Korea saja" Kata Luhan sambil menghembuskan napas berat.

"Jja. Kita sudah di sekolah. Ayo" kata Sehun keluar dari mobilnya yang diikuti oleh Luhan. Sehun menggamit tangan Luhan lalu berjalan santai memasuki lingkungan sekolah. Selama perjalanan menuju kelas mereka, Sehun dan Luhan dihadiahi tatapan memuja dan iri oleh para hoobae mereka. Banyak dari mereka yang memuja Sehun adalah murid yeoja baru kelas X yang baru pertama kali melihat Sehun.

"Ehhem… sepertinya ada yang akan menjadi seonbae idola" Lirik Luhan pada Sehun. Sehun mengernyitkan dahinya, kemudian tersenyum geli dan mengelus surai lembut kekasihnya itu, "Kau cemburu, hm?"

"Aniyo. Aku tidak cemburu" Balas Luhan cepat. Ia menghindari tatapan dari mata elang tersebut. Jantungnya selalu berdegup kencang kalau menatap mata itu lama-lama. "Yakin tidak cemburu? Kalau begitu, tak apa kan kalau aku mendekati salah satu hoobae baru kita? Tadi ketika di depan ruang musik aku melihat salah satu yeoja. Dia lebih imut darimu, Lu"

"Ya! Mati saja kau, Oh Sehun!" Kesal Luhan. Sehun tertawa lepas kemudian merangkul bahu Luhan. "Aku tidak akan melakukan itu. Aku berjanji! Karena hati dan cintaku hanya untuk Oh Luhan saja" rayu Sehun. Luhan mengerucutkan bibirnya, lalu melepas rangkulan Sehun di bahunya dan berlari kecil menuju kelasnya yang hanya beberapa meter saja dari tempat mereka berdiri tadi.

.

.

.

"Lu, setelah ini kita ke mana?" Kata Sehun ketika jam pelajaran terakhir sudah berakhir. Luhan duduk di depan Sehun, berdua dengan Baekhyun—mereka sekelas lagi di kelas dua belas, sedangkan Xiumin berada di kelas lain karena sistemnya memang diacak—.

"Molla. Bagaimana kalau kita makan siang dulu di kantin? Setelah itu kita ke taman Dandelion di kaki bukit lagi" Cengir Luhan.

"Baiklah. Kajja" Sehun menarik pergelangan tangan Luhan. Luhan pun berdiri dari duduknya kemudian melirik Baekhyun yang masih merapikan buku-bukunya.

"Baek, kami duluan, ya. Kau akan dijemput Chanyeol oppa, kan? Hati-hati di jalan. Annyeong" Kata Luhan sambil keluar dari kelas.

"Tsk, dasar pasangan baru. Aku jadi dilupakan" Sungut Baekhyun yang juga mulai keluar dari kelasnya.

.

.

.

"Sehunnie. Bagaimana kalau kita liburan setelah ujian nanti?" Kata Luhan. Mereka sudah berada di kaki bukit. Menikmati suasana tenang dengan ditemani hamparan bunga dandelion lagi.

"Liburan? Ke mana?" Tanya Sehun.

"Ke mana saja. Hanya berdua. Bagaimana?" Luhan antusias.

"Boleh. Bagaimana kalau kita ke luar negeri?" Usul Sehun.

"Ide bagus! Ayo kita ke Jepang. Aku merindukan Jepang" Sahut Luhan antusias. Sehun menggeleng.

"Bagaimana kalau kita ke Indonesia? Ke Bali, mungkin? Eommaku pernah ke sana. Kata beliau pantai di sana bagus"

"Hmm, boleh. Nanti akan kutanyakan pada eomma. Biar eommaku yang mengurus semuanya. Eomma punya kenalan yang bekerja di bagian travel" jelas Luhan bersemangat.

"Baiklah. Lu…" Kata Sehun pelan. Luhan menoleh, "hmm? Wae, Sehunnie?"

"Aku ingin melamarmu setelah lulus sekolah nanti. Bukankah itu ide bagus?" Kata Sehun sembari bangkit dari posisi rebahannya dan wajahnya berbinar senang. Luhan terkejut.

"M-mwo? Kau bilang apa?" Luhan juga ikut bangkit dan menatap Sehun dengan perasaan gamang.

"Hanya tunangan dulu. Kalau kita sudah lulus kuliah nanti, baru kita menikah. Bagaimana? Aku sungguh menantikan momen itu" Cengir Sehun. Luhan menatapnya dengan sedih.

"Wae? Kau tak suka?" Sehun memasang wajah sedihnya. Luhan menggeleng.

"Bukan begitu, Sehunnie. Aku hanya…"

"Wae?"

"Aniya"

"Kau… ada yang kau sembunyikan dariku, huh? Katakan padaku, Luhannie" kata Sehun sambil menggenggam tangan Luhan. Ditatapnya kekasih cantiknya yang sedang menampilkan wajah gelisahnya.

"Aniya. Ayo kita pulang. Tadi Goo seonsaengnim memberi kita tugas rumah, kan? Aku ingin mengerjakannya"

"Katakan, Lu. Ada apa? Kenapa kau tak mau cerita padaku? Aku bisa kau percaya, Luhannie"

"Tak ada apa-apa. Kau jangan berburuk sangka begitu. Aku hanya ingin pulang. Istirahat. Makan malam. Lalu mengerjakan tugas rumah dan tidur. Aku lelah, Sehunnie" bentak Luhan. Wajahnya memanas. Ia merasa kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa memberitahu yang sebenarnya pada Sehun.

"Baiklah. Kita pulang. Kau harus tahu, Lu. Kalau kau ada masalah, atau apapun. Tolong, cerita padaku. Jangan menyimpannya sendiri. Aku kekasihmu" lirih Sehun. Ia tak mengerti dengan apa yang Luhan sembunyikan dari dirinya. Ia hanya perlu percaya pada Luhan. Luhan mengangguk.

"Ayo kita pulang" Luhan berjalan mendahului Sehun. Sehun menghembuskan napas beratnya kemudian mengikuti Luhan dari belakang.

Di perjalanan pulang, hanya hening yang menyelimuti keduanya. Sehun hendak membuka percakapan, namun urung karena melihat wajah muram yang dipancarkan Luhan.

"Lu, sudah sampai" ucap Sehun sambil mengelus surai lembut milik Luhan. Luhan tersentak.

"Ah. N-ne. Aku masuk dulu. Kau hati-hati di jalan, Sehunnie"

"Belajar yang rajin. Ingat perkataanku ketika kita berada di kaki bukit tadi. Saranghae" Kata Sehun sambil mencium kening Luhan.

"Nado. Hati-hati di jalan, Hunnie" kata Luhan sambil keluar dari mobil Sehun dan membuka pintu pagar. Dilihatnya Sehun sudah pergi. Luhan menghembuskan napasnya kasar.

"Bagaimana jika appa benar-benar menjodohkanku? Aku lebih baik mati saja dari pada harus berpisah dengan Sehun" Lirihnya sambil masuk ke dalam rumahnya.

"Eomma. Aku pulang"

"Eoh? Wasseo? Kau sudah makan malam? Eomma sudah menyiapkan sup ayam kesukaanmu di meja makan. Tinggal kau panaskan saja di oven selama tiga menit" kata Ibu Luhan yang sedang duduk di ruang tamu menonton sebuah drama.

"Kamsahamnida, eomma. Aku ke kamar dulu"

.

.

.

TBC dengan tidak elitnya -_-

Nungguin ya? Haha… mian baru bisa update~~

Ke depannya mungkin aku akan jarang update ya~~ soalnya aku udah mulai sibuk nih. Aku sibuk ngurusin segala macam hal yang bersangkutan dengan kuliah, karena kemaren aku lulus SNMPTN. Jadinya mulai sibuk tes wawancara, tes kesehatan dan ini itu. Aku juga mau debut dance cover dalam waktu dekat (?) jadi mungkin aku akan jarang update~

Tapi akan aku usahakan tetap ngeupdate ffnya kok. Kalau banyak yang suka juga sih~

Reviewnya jangan lupa :3