"Belajar yang rajin. Ingat perkataanku ketika kita berada di kaki bukit tadi. Saranghae" Kata Sehun sambil mencium kening Luhan.
"Nado. Hati-hati di jalan, Hunnie" kata Luhan sambil keluar dari mobil Sehun dan membuka pintu pagar. Dilihatnya Sehun sudah pergi. Luhan menghembuskan napasnya kasar.
"Bagaimana jika appa benar-benar menjodohkanku? Aku lebih baik mati saja dari pada harus berpisah dengan Sehun" Lirihnya sambil masuk ke dalam rumahnya.
"Eomma. Aku pulang"
"Eoh? Wasseo? Kau sudah makan malam? Eomma sudah menyiapkan sup ayam kesukaanmu di meja makan. Tinggal kau panaskan saja di oven selama tiga menit" kata Ibu Luhan yang sedang duduk di ruang tamu menonton sebuah drama.
"Kamsahamnida, eomma. Aku ke kamar dulu"
.
.
.
DANDELION
Genre : Romance, Angst
Rated : T
Main cast : Xi Luhan, Oh Sehun
Other cast : Ibu Luhan, Kyungsoo, Jongin, Xiumin & Baekhyun
Length : Chaptered
Disclaimer :
Genderswitch! Pemeran merupakan milik Agensi, Orang tua mereka, dan Tuhan. Aku hanya meminjam nama. FF ini murni buatanku sendiri. Enjoy this chapter ^^
.
.
.
Ibu Luhan sedang menyiapkan sarapan untuk Luhan. Aneh sekali. Beliau menengok jam dinding di ruang makan. Ini sudah jam 06.45, biasanya Luhan sudah ada di meja makan. Dengan sedikit tergesa, beliau naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamar Luhan yang ternyata tidak dikunci. Dilihatnya Luhan masih bergulung di balik selimut rusanya. Luhan masih tidur? Ia bisa terlambat kalau jam 06.47 masih berada di dunia mimpi.
"Lu, irreona" kata Ibu Luhan pelan sambil menepuk pelan badan Luhan. Tak ada respon. Beliau terus menepuk badan Luhan. Sampai akhirnya beliau merasa ada yang aneh, beliau langsung menyingkap selimut Luhan. Wajah Luhan tertutup rambut panjangnya. Beliau menepikan rambut tersebut, kemudian terkejut ketika dilihatnya Luhan terbaring pucat.
"Lu, gwaenchana? Kau sakit? Mau istirahat di rumah saja? Nanti biar eomma buatkan surat, biar Sehun yang mengambilnya. Mungkin sebentar lagi Sehun sampai" kata beliau sambil mengusap wajah Luhan yang sedang panas tinggi.
"Aku… baik-baik saja, eomma. Sebentar lagi aku akan bangun" lirih Luhan. Matanya tertutup. Merasakan tubuhnya yang terus menggigil kedinginan sejak tengah malam tadi.
"Apanya yang baik-baik saja? Kau istirahatlah di rumah. Tidak masuk sekolah selama satu hari tidak akan membuatmu tidak lulus sekolah. Eomma akan buatkan surat izinmu dan semangkuk bubur. Kau tetaplah berbaring di sini. Arrasseo?"
"Ne. Gomawo, eomma" sahut Luhan pelan.
Ibu Luhan dengan cekatan mengambil selembar kertas dan pulpen di meja belajar Luhan. Kemudian menuliskan surat izin untuk Luhan. Setelah selesai, beliau mendudukkan dirinya di bangku teras rumah. Menunggu kedatangan Sehun.
Beberapa menit menunggu, mobil Sehun berhenti tepat di depan pagar rumah Luhan. Ibu Luhan kemudian berlari membukakan pintu pagar.
"Sehun-ah. Eomma titip surat izin Luhan, ya. Dia demam. Jadi dia tidak bisa masuk sekolah hari ini" Kata Ibu Luhan sambil memberikan surat tersebut kepada Sehun. Sehun menerimanya dengan kernyitan di dahinya.
"Mwo? Bagaimana bisa Luhan sakit, eomma? Bukankah kemarin dia baik-baik saja? Kenapa mendadak jatuh sakit?" tanya Sehun.
"Eomma juga tak tahu. Mungkin ada yang lagi mengganggu pikirannya, makanya dia jatuh sakit"
"Kemarin Luhan bersikap aneh padaku, eomma. Eomma tahu mengapa Luhan mendadak ketus padaku?" tanya Sehun yang teringat kejadian kemarin saat di kaki bukit. Ibu Luhan mendadak bungkam. Ia teringat ancaman suaminya mengenai perjodohan itu. Mungkin itu yang sedang dipikirkan Luhan sampai ia jatuh sakit seperti ini. Beliau segera mengubah wajah berpikirnya menjadi wajah sumringah.
"Soal itu, eomma tak tahu. Nanti akan eomma tanyakan padanya. Kau cepatlah ke sekolah. Nanti kau terlambat" suruh Ibu Luhan. Sehun mengangguk.
"Eomma. Bolehkah saat pulang sekolah nanti aku menjenguk Luhan? Mungkin aku akan mengajak Baekhyun dan Xiumin juga ke sini" tanya Sehun sebelum melangkah memasuki mobilnya.
"Boleh saja. Cepatlah ke sekolah. Sampaikan salam eomma untuk Baekhyun dan Xiumin"
"Ne, eomma. Nanti akan kusampaikan. Aku pergi sekolah dulu. Annyeonghaseyo" katanya sambil membungkukkan badannya, kemudian melangkah masuk ke dalam mobilnya dan beranjak menuju sekolah.
Setelah mobil Sehun menghilang dari pandangannya, Ibu Luhan masuk ke dalam rumah, dan menuju dapur untuk membuatkan Luhan semangkuk bubur. Setelah selesai, beliau mengambil obat penurun demam di kotak P3K, lalu meletakkannya di sebuah nampan, di sebelah mangkuk bubur dan segelas air putih hangat.
"Lu, duduklah. Makan dulu buburnya lalu minum obatnya" Kata beliau sambil mulai menyuapi Luhan. Luhan memakan buburnya dengan pelan karena tenggorokannya sangat susah untuk diajak bekerja sama.
Setelah menghabiskan buburnya, Luhan meneguk sedikit air putihnya, meminum obatnya, dan menghabiskan air putihnya lagi.
"Kenapa kau mendadak sakit, Lu? Kau pasti ada pikiran, bukan? Apa ini masalah perkataan appamu tempo hari?"
"Ne. Tadi malam setelah selesai mengerjakan tugas, aku langsung memikirkan itu sampai jam tiga pagi. Ketika aku baru bangun tidur beberapa jam yang lalu, aku merasa kedinginan, eomma. Makanya aku jadi sakit"
"Jangan memikirkan apa-apa dulu kalau kau ingin sembuh. Baiklah, karena kau sudah minum obat, eomma akan berangkat bekerja. Butik eomma tidak bisa ditinggalkan. Sebentar lagi mungkin Kyungsoo akan ke sini. Oh, iya Lu. Nanti siang setelah pulang sekolah Sehun, Baekhyun dan Xiumin katanya akan menjengukmu" Kata Ibu Luhan sambil membereskan mangkuk dan gelas bekas sarapan Luhan tadi.
"Memangnya Kyungsoo eonni tidak ada jadwal kuliah hari ini?" Tanya Luhan penasaran. Biasanya jurusan seni di kampus Kyungsoo eonni jarang sekali libur atau mempunyai jadwal kosong pada pagi seperti ini.
"Katanya tidak ada. Eomma tinggal ne. Semoga cepat sembuh." Kata Ibu Luhan sambil mengecup kening Luhan.
"Ne, eomma. Hati-hati di jalan"
Hening.
Luhan kembali membaringkan tubuhnya di ranjang. Menatap langit-langit kamarnya. Bingung apa yang akan ia lakukan. Ponsel! Sejak kemarin sore, ia belum menyentuh ponselnya.
Ia meraih ponselnya di nakas samping tempat tidur. Dibukanya locksreen itu. Kemudian ia tersenyum, melihat wallpaper dirinya dengan Sehun, yang diambil ketika hari pertama mereka resmi berpacaran.
"Bogoshipo, Sehunnie…"
Tok tok tok
Pintu kamar Luhan terbuka sedikit, dari sana menyembul sebuah kepala mungil dengan sepasang mata bulat yang bersinar khawatir.
"Luhannie… boleh eonni masuk?" sapanya. Luhan duduk. Kemudian mengangguk.
"Masuklah Kyungie eonni"
"Ini, eonni bawakan buah kesukaanmu. Cepat sembuh, sayang" kata Kyungsoo sambil menaruh keranjang buah yang berisi apel, anggur, dan jeruk. Luhan tersenyum lebar melihatnya. Kyungsoo eonni memang tahu apa yang menjadi favoritnya.
"Wah, gomapta, eonni. Luhannie menyayangi Kyungsoo eonni. Oh iya, di mana bubble tea ku? Aku merindukan bubble teaku" kata Luhan sambil beraegyo. Kyungsoo terkekeh pelan melihatnya. Mendengar pernyataan terakhir Luhan, Kyungsoo langsung menepuk dahinya.
"Ya! Kau masih sakit. Tidak boleh minum bubble tea! Tunggu sampai kau sembuh dulu baru kau bisa meminumnya!" bentak Kyungsoo dengan wajah satansoo nya -_-
"Aish, eonni. Jangan memasang wajah seperti itu. Tadi aku hanya bercanda. Tsk" sungut Luhan sambil mencomot satu apel dari keranjang.
"Kenapa kau jadi sakit, Luhannie? Tidak biasanya kau jadi sakit begini…" tanya Kyungsoo penasaran.
"Aku malu menceritakannya eonni. Nanti eonni jadi heboh sendiri" Luhan mempoutkan bibirnya sambil menatap Kyungsoo kesal. Kyungsoo memang sering menertawakan masalah yang dihadapi Luhan dan mengejeknya di hadapan seluruh keluarga besar ketika sedang berkumpul. Salah satu sifat Kyungsoo yang membuat Luhan ilfil sebenarnya.
"Ya ampun, Luhannie. Eonni janji tidak akan menertawakanmu. Eonni sudah tidak seperti itu lagi" gemas Kyungsoo sambil mencubit pipi adik sepupu tercintanya ini.
"Aku tidak percaya" Sungut Luhan masih ragu-ragu.
"Sungguh? Ya sudah. Eonni pulang saja, ya. Eonni mau menghubungi Jongin oppa dulu agar dia menjemput eonni di rumahmu. Lebih baik eonni jalan-jalan dari pada menemani orang yang tidak mau percaya dengan eonni"
"ANDWAEEEE" teriak Luhan. Kyungsoo menatap Luhan dengan tatapan pura-pura bingungnya.
"Wae? Eonni ingin ke Myeongdong. Kebetulan hari ini eonni ada kencan dengan Jongin ke sana. Kau mau ikut? Tapi kau masih sakit, sih. Lain kali saja, ya" Kyungsoo menahan tawanya melihat raut wajah Luhan sekarang. Memerah antara demam dan amarahnya bercampur jadi satu.
"Eonni tidak boleh ke mana-mana sampai eomma pulang dari butik. Batalkan saja acara kencannya dengan Jongin oppa. Besok kan masih bisa. Ayolah, eonni. Aku merindukan eonni. Sudah lama kita tidak bergosip ria. Ayolah eonni" kata Luhan sambil menggoyang-goyangkan lengan Kyungsoo. Persis seperti seorang anak kecil yang minta dibelikan permen lollipop kepada eommanya.
"Ne, ne. Eonni tidak akan ke mana-mana. Eonni akan menemani Luhan sampai eomma pulang. Jangan bersikap seperti itu. Umurmu sudah delapan belas, Lu. Ck, dasar"
"Eonniiii… Nappeun"
"Mwoya? Siapa yang nappeun, hm?"
"Eonni. Bweekk" kata Luhan sambil menjulurkan lidahnya. Kyungsoo mengambil boneka rusa yang berukuran sedang di samping Luhan dan melemparnya ke wajah Luhan.
"Kau ini…"
"Hehehe. Damai, eonni. Damai" kata Luhan sambil tertawa dan menunjukkan V signnya.
"Ngomong-ngomong, kau sudah minum obat?" kata Kyungsoo yang kembali duduk di sebelah Luhan dan mengusap dahi Luhan. Masih panas.
"Ne, sudah eonni. Eonni, aku bosan" rengek Luhan. Kyungsoo berpikir sejenak.
"Kau ini. Eh, kau ingat drama yang terakhir kali kita tonton itu sudah episode berapa? Eonni lupa"
"Baru sampai episode 10, eonni. Waeyo? Mau menonton?"
"Boleh. Di mana kasetnya? Biar eonni yang memutarkannya"
"Di atas meja belajarku, eonni"
Kyungsoo beranjak menuju meja belajar Luhan, dan mengambil kaset drama yang akan mereka tonton. Setelah itu, ia menuju DVD Player dan menyalakannya bersamaan dengan menyalanya televisi kamar Luhan.
Lima menit setelah drama terputar, suasananya hening. Hanya terdengar suara-suara dari layar televisi. Keduanya terlalu serius menonton. Sampai Kyungsoo teringat akan tujuannya ke sini selain menjenguk Luhan yang sakit.
"Oh, ya Luhannie. Hubunganmu dengan Sehun masih baik-baik saja, kan?" Tanya Kyungsoo. Kyungsoo memang sudah mengetahui hubungan Sehun dan Luhan.
"Ne. Kami masih berpacaran"
"Yang aku dengar dari eommamu, kau akan dijodohkan. Apa benar?"
"Ne, itu benar, eonni. Itu yang membuatku menjadi sakit seperti ini. Memikirkan hal itu" wajah Luhan yang semula sedang serius menonton drama menjadi keruh karena topik perjodohan itu muncul lagi. Kyungsoo menepuk dahinya pelan, merutuki dirinya yang tiba-tiba membahas hal yang bisa membuat mood Luhan memburuk. Dan, ternyata hal itu yang membuat Luhan menjadi sakit seperti ini.
"Eonni ke bawah sebentar. Ingin mengambil cemilan. Perkataan eonni barusan lupakan saja. Jangan sedih seperti itu, Luhannie"
"Aku tidak sedih, eonni" sangkal Luhan. Kyungsoo berdecak.
"Tidak sedih apanya? Wajahmu terlihat kusut begitu. Jangan berbohong. Eonni bisa membaca pikiranmu. Dengar, Lu. Jika seandainya kau benar-benar akan dijodohkan, eonni yakin. Pada akhirnya kau pasti akan kembali kepada Sehun. Eonni yakin itu" kata Kyungsoo sambil menatap mata rusa itu dengan serius.
"Dari mana eonni tahu akhirnya nanti aku akan tetap bersama Sehun atau tidak?" Luhan sarkaptis. Ia ingin percaya, tapi keraguan masih menyelimuti hatinya.
"Perasaan eonni tidak mungkin berbohong. Perasaan eonni selalu benar. Eonni yakin itu. Kau harus percaya dengan eonni. Kau pasti akan bahagia dengan Sehun suatu saat nanti"
"Baiklah. Aku selalu percaya dengan Kyungsoo eonniku" Luhan tersenyum sambil memeluk eonninya. Kyungsoo tersenyum manis.
"Nah, begitu. Itu baru Luhan dongsaeng yang paling eonni sayang. Tunggu sebentar, eonni mengambil cemilan di dapur dulu"
"Nde"
Kyungsoo pun keluar dari kamar Luhan dan turun menuju dapur. Mengambil beberapa potong kue dari dalam kulkas dan membuat minuman. Setelah selesai, ia kembali dengan senampan penuh berisi kue-kue dan minuman.
Kyungsoo membuka pintu kamar Luhan, dan mendapati Luhan sudah tertidur dengan pulasnya. Layar televisi masih menampilkan drama yang mereka tonton. Kyungsoo menghela napasnya, kemudian kembali turun untuk mengembalikan kue-kue dan minuman itu ke kulkas, dan kembali ke kamar Luhan untuk mengambil handphone nya. Ada pesan dari Jonginie-nya.
From: Jonginie nae sarang
Chagiya, eodiya?
To: Jonginie nae sarang
Aku di rumah Luhan. Dia sedang sakit. Makanya pagi ini aku menjenguknya. Wae?
From: Jonginie nae sarang
Oh, pantas saja. Tadi aku ke rumahmu, tapi bibi Cho bilang kalau semua anggota keluarga sudah pergi. Luhan sakit apa? Ya sudah, aku akan ke rumah Luhan. Tunggu aku.
To: Jonginie nae sarang
Dia tiba-tiba saja demam. Kebetulan hari ini kelas seni sedang libur. Jadi kusempatkan saja untuk menjenguk Luhan dulu. Hati-hati, Jonginie. Jangan mengebut.
From: Jonginie nae sarang
Ya, aku tidak akan mengebut. Maukah kau menemaniku sebentar berkeliling Seoul untuk mencari sesuatu? Noonaku tiba-tiba saja mengidam. Kau tahu sendiri, kan noonaku itu kalau marah bagaimana~~
To: Jonginie nae sarang
Baiklah~~ kebetulan Luhan juga sedang tidur. Tapi kuharap sesuatu yang dicari noonamu itu tidak susah dicari. Takutnya Luhan akan takut kalau berada di rumah sendirian ketika ia terbangun nanti.
Kyungsoo pun meletakkan kembali handphone nya ke dalam tas, kemudian meletakkan selimut sebatas dada Luhan. Ia mengambil sebuah buku note dan pulpen lalu menuliskan sesuatu di selembar kertas yang dirobeknya dari buku note tersebut. Setelah selesai, ia menaruhnya di nakas sebelah tempat tidur Luhan. Ia lalu berdiri, dan dikecupnya kening sepupu tersayangnya itu pelan, kemudian mematikan televisi dan melangkah keluar dengan menenteng tasnya dan menunggu Jongin—kekasihnya— di teras depan.
Beberapa menit kemudian, mobil yang Kyungsoo kenali sebagai mobil kekasihnya—Jongin— berhenti tepat di depan pintu pagar rumah Luhan. Kyungsoo berlari pelan dan membukakan pintu pagar. Kai keluar dari mobilnya dengan wajah khawatir.
"Kyungie, apa tidak apa-apa Luhan kita tinggal sebentar?" tanya Kai sambil berdiri di hadapan Kyungsoo.
"Mudahan saja tidak apa-apa. Tadi aku sudah memberikan pesan di kertas kalau aku akan pergi sebentar denganmu. Mudahan saja dia mengerti. Ayo kita pergi. Kalau kita mengobrol di sini, itu akan memperlambat waktu. Kasian noonamu kalau menunggu lama"
"Baiklah. Kajja" kata Kai sambil membukakan pintu penumpang untuk Kyungsoo. Setelah itu, ia pun masuk ke bangku pengemudi dan mengemudikan mobilnya menjauh dari komplek rumah Luhan.
"Ngomong-ngomong, noonamu mengidam apa, Jonginnie?" Kata Kyungsoo membuka percakapan sembari melirik Jongin yang sedang fokus menyetir sambil menatap jalan raya.
"Sebelum berangkat Hae In noona bilang dia ingin hotteok, tapi ketika aku sudah dekat dengan kedai hotteok, dia tiba-tiba ingin makan ramen yang dibuat langsung oleh chef yang berasal dari Jepang. Harus dari Jepang! Menurutmu, apa mungkin kedai ramen sudah buka pagi-pagi begini? Aishh, aku harus bagaimana, Kyungie? Donghyuk hyung sudah berangkat bekerja dua jam yang lalu. Mau tak mau aku yang harus membelikannya" rutuk Kai yang merasa direpotkan oleh noonanya itu.
"Ah, sepertinya aku tahu di mana kedai ramen yang buka 24 jam dan chef nya orang Jepang. Kau bisa menuju arah ke rumahku. Tapi kau tetap lurus saja, ketika ada pertigaan, kau bisa belok kiri. Nanti akan kuberitahu tempatnya" kata Kyungsoo sambil tersenyum manis. Jongin melirik bibir berbentuk hati itu dengan gemas, kemudian mengacak rambut kekasihnya yang sedari tadi terurai.
"Kau memang yang terbaik. Gomawo. Ayo kita ke sana" Kai tersenyum kemudian sedikit melajukan kecepatan mobilnya menuju rute yang sudah disebutkan Kyungsoo-nya tadi.
.
.
.
Luhan terbangun dari tidurnya dan mendapati kamarnya hening. Tidak ada siapa-siapa. Matanya mengerjap imut. Ia melirik jam dinding yang letaknya di dinding sebelah kanan tempat tidurnya. Jam sebelas. Hampir tiga jam ia tertidur.
"Kyungsoo eonni di mana?" Luhan mencoba berdiri dan matanya tak sengaja melihat kertas yang tertindih oleh handphone nya. Ia lalu mengambil dan membacanya.
From: Kyungsoo
Lu, eonni pergi keluar sebentar, ya. Jongin membutuhkan bantuanku. Noonanya Jongin kembali mengidam yang aneh-aneh. Aku harus menemaninya. Eonni janji sebelum jam dua belas eonni akan sampai di rumahmu. Kau istirahat dulu. Jangan terlalu berkeliaran di dalam rumah. Kalau kau ingin minum, minumlah air yang bukan berasal dari dalam kulkas. Kau tidak boleh minum es sebelum sembuh. Oke?
"Aish. Aku haus" gerutu Luhan sambil berjalan pelan menuju dapur. Ia mengambil air dari dispenser ke dalam gelas lalu meminumnya. Setelah minum, ia meraba dahinya. Sudah mulai lebih baik ketimbang tadi pagi. Luhan kembali ke kamarnya lalu bergegas mandi karena ia merasa tubuhnya lengket. Ia menyalakan shower air hangat dan menyiram seluruh tubuhnya.
Beberapa menit kemudian, ia sudah selesai mandi dan berpakaian. Luhan merasa tubuhnya semakin segar sekarang. Ia mengambil handphone nya dan menyalakannya. Ada beberapa pesan dari beberapa teman sekelasnya, termasuk Xiumin dan Baekhyun.
From: Baozi Xiu
Lu, kau demam? Semoga cepat sembuh, rusaku ({}) kalau sudah sembuh, jangan coba-coba untuk sakit lagi. Sekolah terasa sepi tanpamu. Aku dan Baekhyun jadi kekurangan teman untuk bergosip. Kkk~~ cepatlah kembali sekolah ya rusaku ^^
From: Baekhyun
Luhaaaeennn… aku merindukanmuuu kenapa kau mendadak sakit, eoh? Hari ini aku duduk sendirian. Jadi tak bisa bergosip ria denganmu ketika jam kosong. Cepat sembuh, Lu. Aku benar-benar merindukan teman sebangkuku. Tadi Sehun mengajakku dan Xiumin untuk berkunjung ke rumahmu. Tapi sepertinya aku tak bisa. Sepulang sekolah nenekku dari Bucheon akan menginap di rumahku selama dua minggu. Jadi aku harus menjemput beliau di bandara. Tak apa, kan? Maaf tidak bisa menjengukmu. Kalau hari ini kau sudah sembuh, besok harus masuk sekolah, oke?
Luhan tersenyum membaca pesan dari kedua sahabatnya itu. Ia pun membalas pesan kedua sahabatnya itu dan mengatakan kalau dirinya sudah dalam kondisi yang lebih baik dan akan kembali bersekolah besok.
Luhan berjalan keluar dari kamarnya dan menjatuhkan dirinya di sofa ruang tamu. Ia menyalakan televisi ruang tamu dan merebahkan kepalanya di sisi kanan sofa. Ia menggonta-ganti channel yang ada dan tiba-tiba berhenti di salah satu channelnya karena video musik yang sedang terputar.
"Kyaaaa… EXO Comeback? Omoooo" pekik Luhan melihat music video Love Me Right dan langsung fokus menontonnya sampai akhir.
"Ohmaygad… ohmaygad… Oksigen. Aku perlu oksigen. Ya Tuhan, kenapa mereka sangat tampan. Mereka sangat tampan. Omooo" keluh Luhan setelah music video itu selesai dan berganti dengan music video dari BTS. Ia melap keringat yang menetes dari dahinya dengan tatapan memuja pada boygrup kesayangannya itu.
"Aish. Sayang sekali dua membernya sudah pergi dan satunya lagi cedera. Kalau lengkap berdua belas kan pasti lebih seru. Ah, aku harus memberitahu Baekhyun dan Xiumin" Luhan dengan semangatnya memberitahu Xiumin dan Baekhyun lewat LINE dan menyuruh mereka agar menontonnya di Youtube. Ya, mereka bertiga terkadang bisa menjadi fangirl akut kalau ada boygroup yang baru comeback. Apalagi EXO yang comeback, mereka pasti histeris mendekati gila :v
Tak berselang lama, bel di depan rumah berbunyi. Luhan membukakan pintu dan mendapati Kyungsoo sedang berbicara dengan Jongin membelakangi dirinya.
"Kyungsoo eonni. Jongin oppa. Masuklah" kata Luhan sambil membukakan pintu lebih lebar lagi. Kyungsoo dan Jongin pun masuk dan duduk di sofa yang Luhan duduki tadi.
"Ini untukmu, Lu. Tadi kami tak sengaja masuk ke toko musik setelah membeli ramen untuk noonanya Jongin. Lalu kami membelikan album EXO yang terbaru untukmu. Kau fans berat mereka, kan? Ini" kata Kyungsoo sambil menyerahkan satu buah album beserta poster yang ia dapat.
"Omo, eonni. Ini memang album terbarunya EXO. Aku baru ingat kalau mereka hari ini comeback. Eonni, oppa, apakah kalian ikut mengantri?" Tanya Luhan menatap Kyungsoo dan Jongin setelah puas mengobrak-abrik isi album tersebut.
"Ani. Para fans mempersilahkanku untuk mengantri duluan. Mungkin mereka berpikir aku sangat tampan seperti member boygroup kesayanganmu itu, Lu. Ya! Oppa hanya bercanda. Jangan memukul oppa seperti itu" keluh Jongin setelah lengannya dipukul dengan lumayan keras oleh Luhan. Luhan merengut. Percaya diri sekali kekasih kakak sepupunya ini, pikirnya.
"Hey, oppa ini tampan, kau tahu? Kalau oppa tidak tampan, kakak sepupumu ini pasti tidak mau menjadi kekasih oppa. Selain tampan, oppa juga jago ngedance" Jongin menepuk dadanya sambil tersenyum mengejek pada Luhan. Senyum mengejek maksudnya hanya bercanda.
"Kalau soal dance, aku juga jago, oppa. Dulu aku dan Sehun memenangkan juara pertama lomba dance nasional tingkat Junior High School. Oppa jangan berbangga hati dulu. Bwekk" Luhan mengulurkan lidahnya mengejek Jongin yang berpura-pura merasa kalah.
"Oppa tahu, kok kalian yang paling hebat. Kalian memang pasangan paling serasi" Puji Jongin sambil mengusak rambut Luhan yang diikat asal. Luhan mendecik kesal sambil membenahi rambutnya yang berantakan, sedangkan Jongin tertawa melihatnya.
Kyungsoo datang dari dapur sambil membawakan minuman dan cemilan untuk mereka bertiga.
"Ya, Luhan-ah. Kau kan yang mempunyai rumah ini. Kenapa Kyungsoo yang menyiapkan cemilan dan minuman, eoh? Kau ini…" keluh Jongin mencubit pipi Luhan.
"Aku kan masih sakit, oppa. Lagian, rumah ini juga sudah dianggap rumah sendiri oleh Kyungsoo eonni. Jadi tidak ada masalah, kan? Jongin oppa menyebalkan" Luhan mempoutkan bibirnya kesal mendengar ucapan Jongin.
"Oppa bercanda. Kalau kau kesal pada oppa, ya sudah, kembalikan album EXO nya. Lebih baik albumnya untuk tetangga oppa saja"
"Ya! Andwae… ini albumku"
"Baiklah. Itu albummu. Tsk" kesal Jongin sambil mengambil gelas minumannya. Ia meneguknya sebentar, kemudian berbicara pada Kyungsoo, "Kyungie, besok kau kuliah pagi, kan? Mau kujemput?"
"Memangnya kelas tari besok masuk pagi? Kalau aku, terserah kau saja" jawab Kyungsoo sambil melahap kue kering yang baru saja ia ambil dari dapur.
"Aish, kau jangan makan terus, Kyungie. Nanti kau jadi gemuk. Lihat saja Luhan! Semenjak dia berpacaran dengan Sehun, lemaknya mulai menumpuk di kakinya. Mungkin dia disuruh makan melulu oleh Sehun" tunjuk Jongin ke kaki Luhan yang mulai menunjukkan tanda-tanda kesuburan. Luhan yang sedang ber chatting ria dengan Xiumin mendelikkan matanya kesal.
"Ya! Oppa bilang apa? Aku tidak segemuk itu. Aish. Kyungsoo Eonni, Putuskan saja Jongin oppa kalau sikapnya begitu kepadaku" Luhan yang merasa tersindir mengamuk lalu melempar bantal sofa yang sedang ia pakai untuk berbaring. Dengan sigap Jongin menangkap bantal tak berdosa itu dan menertawakan sikap Luhan.
"Kau tersinggung, eoh? Tapi memang benar, Lu. Kau harus menurunkan beberapa kilogram berat badanmu" sungut Jongin dengan wajah yang dibuatnya sok innocent. Kyungsoo terkikik melihatnya.
"Ya, Jongin-ah. Jangan membully Luhan lagi. Kasihan dia. Besok kau jemput aku jam setengah delapan. Jangan terlambat"
"Siap nyonya Kim" balas Jongin singkat. Luhan mendengus kemudian bergumam dan memakan kacang yang berada di depannya, "nyonya Kim. Tsk. Menggelikan"
"Mwo? Luhan kau… aishh" dengus Jongin kesal. Tak lama bel rumah Luhan kembali berbunyi. Kali ini, Luhan yang membukakan pintu. Dengan wajah yang dibuat semalas mungkin, ia membuka pintu. Karena ia sedang menunduk, hal pertama yang ditangkap oleh indera penglihatannya adalah sepasang sepatu dan kain celana hitam yang ia yakini celana sekolahnya. Dan, sepatu itu.. Ia sangat mengenalnya… Ketika Ia mendongakkan kepalanya, matanya langsung bertemu pandang dengan sepasang mata tajam yang sedang tersenyum manis kepadanya..
"Sehun… kenapa kau ke rumahku? Bukankah ini masih jam sekolah? Bukankah sekolah akan berakhir satu setengah jam lagi?" tanya Luhan terkejut.
.
.
.
TBC
.
.
.
Haaaaiiiiiii~~ maafkan author yang baru bisa update dandelion sekarang. Author lupa password ffn nya .-. Maaf yaa~~ ini aku update new chapternya. Karena author lagi nggak ada ide, jadilah chapter ini banyakan komedinya daripada angst nya '-'
Dan, reaksi Luhan waktu nonton Love Me Right itu, itu true story author pas tengah malem, waktu tuh MV baru rilis author ngebom chat di chat grup bbm -_- bhakk :vv
Next? Fast or Slow update?
