"Sehun… kenapa kau ke rumahku? Bukankah ini masih jam sekolah? Bukankah sekolah akan berakhir satu setengah jam lagi?" tanya Luhan terkejut.

.

.

.

DANDELION

Genre : Romance, Angst

Rated : T

Main cast : Xi Luhan, Oh Sehun

Other cast : Baekhyun, Xiumin, Jongin, Kyungsoo, etc

Length : Chaptered

Disclaimer :

Pemeran merupakan milik Agensi, Orang tua mereka, dan Tuhan. Aku hanya meminjam nama. FF ini murni buatanku sendiri.

.

.

.

"Memang. Tapi tadi para guru sedang ada rapat. Makanya murid-murid dipulangkan lebih awal. Wae? Kau tak suka? Baiklah. Aku akan pulang sekarang. Annyeong, Lu" kata Sehun dengan kening berkerut melihat wajah terkejut Luhan. Ia pun berpura-pura merajuk dan membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi. Namun, tak sampai tiga langkah, sepasang lengan kurus menahan pergerakannya. Ia menoleh,

"Kenapa pulang sekarang? Aish, aku hanya bertanya kenapa kau cepat sekali datang ke rumahku. Mana tidak mengabariku terlebih dahulu. Aish, kajja. Di dalam ada Kyungsoo eonni dan Jongin oppa. Xiumin di mana, Hunnie?"

"Tadi dia dijemput Jongdae hyung…"

"Kenapa mereka sibuk masing-masing sih… Baekhyun menjemput neneknya di bandara. Xiumin kencan dengan Jongdae oppa. Ish.." Rajuk Luhan sambil menghempaskan dirinya di sofa yang tadi didudukinya. Disusul oleh Sehun yang duduk di sampingnya.

"Annyeong, Kyungsoo noona, Jongin hyung. Tumben sekali kalian ada di sini" kekehnya pelan.

"Kebetulan kelas kami hari ini libur" jawab Kyungsoo tersenyum.

"Kau masih sakit, Lu?" tanya Sehun sambil mengusap pelan dahi Luhan.

"Aniya. Sudah tak apa. Besok aku sudah bisa masuk sekolah lagi"

"Lu, tadi ada tugas kelompok Biologi dari Lee seonsaengnim. Mau temani aku ke toko buku? Kebetulan kita satu kelompok" tanya Sehun sambil menatap mata rusa yang membuatnya semakin jatuh ke dalam sosok Luhan. Luhan balas menatap. Kemudian tersenyum dan mengangguk.

"Eonni, aku ke toko buku dengan Sehun. Boleh, kan? Boleh ya eonni. Jebal" kata Luhan sambil menangkupkan kedua tangannya memohon.

"Baiklah. Beritahu eommamu kalau kau pergi ke toko buku dengan Sehun. Eonni dan Jongin juga ada keperluan setelah ini"

"Siap. Sehunnie, tunggu sebentar. Aku ganti baju dulu" kata Luhan sambil berlari kecil menuju kamarnya.

.

.

.

"Sehunnie, tugas dari Lee seonsaengnim tentang apa sih? Aku tidak tahu" tanya Luhan sambil menggaruk pelan pipinya ketika mereka baru saja memasuki toko buku di sebuah pusat perbelanjaan.

"Tentang pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan. Lee seonsaengnim menyuruh kita untuk mencari referensi dari buku. Setelah itu, kita akan melakukan penelitian langsung"

"Aish. Penelitian, ya? Kenapa biologi harus melakukan penelitian terus?" gerutu Luhan pelan. Ia menghentakkan kakinya dan mengerucutkan bibirnya.

"Oh Luhan jangan cemberut seperti itu. Nanti cantiknya hilang. Lagipula itu materi pelajaran kita kali ini" goda Sehun sambil mencubit pipi Luhan yang menggembung. Sehun segera berlari untuk menghindari amukan Luhan.

"Ya! Aish. Sehunnie, awas saja kau" maki Luhan sambil mengejar Sehun. Namun, tiba-tiba saja Sehun sudah menghilang di antara rak-rak buku. Luhan kebingungan mencari. Karena ia berjalan tanpa melihat ke sekitar, Luhan menabrak seseorang sampai ia terjatuh. Luhan mengerang sakit pada pantatnya. Ia menoleh, dilihatnya seorang namja tinggi berdiri menatapnya bingung. Wajahnya seperti bukan orang Korea. Apa memang bukan orang Korea, ya? Batin Luhan.

"Uhm, sorry sir. Why you look at me like that?" tanya Luhan dengan bahasa Inggris. Ia berdiri dengan raut wajah tak suka.

"Tidak ada apa-apa. Maaf telah menabrakmu sampai terjatuh. Kau tak apa, kan?" balas namja itu dengan bahasa Korea yang fasih. Luhan menganga. 'Jadi orang ini bisa berbahasa Korea? Kalau seperti itu, mengapa aku repot-repot berbahasa inggris segala. Tsk' batin Luhan lagi.

Luhan menggeleng, kemudian berujar "Tak apa. aku juga tidak melihat jalan tadi"

"Benar tak apa? Uhm, aku duluan ya. Sampai jumpa" pamitnya sambil berlalu dari hadapan Luhan.

"Itu manusia apa bukan sih? Kenapa tinggi badannya tidak bisa dikontrol" gerutu Luhan sambil berjalan pelan mencari keberadaan Sehun. Belum sampai lima langkah, tiba-tiba sepasang tangan menutup penglihatannya. Luhan meraba-raba tangan tersebut.

"Ya! Nuguya?" tanya Luhan penasaran. Tak ada jawaban. Luhan memukul-mukul tangan tersebut sambil terus bertanya.

"Ya! Nuguseyo? Jangan mencoba melawanku. Aku mantan anak bela diri, tahu…" gerutu Luhan pelan. Tiba-tiba saja, sepasang tangan yang menutup mata Luhan terlepas. Mata Luhan mengerjap-ngerjap menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya. Lalu, ia menoleh.

"Benarkah? Setahuku kau tidak pernah ikut bela diri" sanggah orang tersebut.

"Aish. Ternyata kau, Sehunnie. Kukira siapa. Kau bersembunyi di mana tadi, eoh? Aku mencarimu, tahu"

"Aku? Aku bersembunyi di hatimu" jawab Sehun santai dengan wajah innocent, membuat Luhan memutar kedua bola matanya malas. "Cheesy" Jawabnya.

"Ngomong-ngomong, namja yang tadi bersamamu, dia siapa?" tanya Sehun.

"Molla. Tadi aku dan dia tak sengaja bertabrakan"

"Benarkah? Tapi kenapa aku melihat tatapan yang berbeda dari namja itu" terdengar nada kecemburuan dari nada bicara Sehun.

"Kau cemburu? Aish… aku tidak mengenalnya. Kajja, kita mencari bukunya. Setelah ini kita makan siang, ya? Aku belum makan siang" kata Luhan sambil menarik lengan Sehun untuk mencari buku yang ditugaskan oleh Lee seonsaengnim.

"Baiklah. Setelah mencari buku, kita makan siang di restoran seberang" kata Sehun sambil mengacak rambut Luhan dan tersenyum. Sementara, seseorang yang sedari tadi mengintip dan menguping pembicaraan Sehun dan Luhan tersenyum licik lalu beranjak pergi dari tempatnya bersembunyi tadi.

.

.

.

"Eomma. Aku pulang" sapa Luhan ketika ia baru saja memasuki rumahnya bersama Sehun. Ibunya yang sedang duduk di sofa sambil menonton tv menoleh dan tersenyum.

"Eoh? Sudah pulang?"

"Ne, eomma. Tadi aku mengajak Luhannie ke toko buku untuk mencari tugas bersama. Tidak apa kan, eomma tadi aku menculik Luhannie sebentar?" cengir Sehun sambil menggaruk tengkuknya.

"Tak apa. Kalian sudah makan siang?"

"Sudah, eomma"

"Eomma, aku ingin pamit pulang, ne"

"Kenapa cepat sekali? Kau hendak ke mana?"

"Sore ini eomma memintaku untuk mengantarkan beliau ke rumah sakit. Beliau ingin menjenguk temannya yang sedang sakit"

"Hati-hati di jalan ya, Sehun. Titip salam untuk eommamu"

"Ne, eomma. Lu, besok kau kujemput seperti biasa ya" pamit Sehun lalu melangkah keluar dari rumah Luhan.

.

.

.

"Luhaaaaeeennnnn…. Boghosippooooo… Mumumumu" teriak Baekhyun ketika matanya menangkap sosok Luhan memasuki pintu kelas. Ia langsung berdiri dari bangkunya dan memeluk Luhan.

"Baek, lepaskan. Ya! Kau ini. Aish…" Omel Luhan sambil mencoba melepaskan dirinya dari pelukan Baekhyun.

"Aku merindukanmu, Tahuu…" sungut Baekhyun.

"Aku tidak masuk sekolah satu hari saja kau sudah begini. Bagaimana kalau aku tidak masuk sekolah selama satu bulan, hm?"

"Ya! Jangan sampai hal itu terjadi. Aku tidak mau duduk sendirian di kelas lalu tidak punya teman untuk bergosip"

"Kalau aku benar-benar tidak masuk sekolah selama satu bulan, bagaimana?"

"Heum, aku akan membotaki rambutmu sampai Sehun ilfil melihat wajahmu lalu memutuskanmu" Smirk Baekhyun karena mendapatkan ide untuk menjahili sahabatnya yang satu ini.

"Ya! Mana bisa begitu, Baek. Kau tega sekali… Sehunnie, apa kau mendengar perkataan Baekhyun tadi? Dia akan membotaki rambutku sampai kau ilfil melihat wajahku lalu kau memutuskanku. Bagaimana ini?" Luhan mempoutkan bibirnya. Sehun yang baru saja mengambil buku-buku pelajaran Biologi dari dalam tas dan menaruhnya di atas meja menyahut dengan enteng, "Kalau kau mau membotaki rambut Luhan, silahkan saja, Baek. Aku tidak keberatan"

"Benarkah, Sehun-ah? Baiklah. Lu, bersiaplah kalau kau tidak turun sekolah selama sebulan. Kau akan kubotaki" kata Baekhyun sambil tertawa keras. Luhan menatap Sehun dengan tatapan memelas, Sehun balas memandang sambil menjulurkan lidahnya.

"Nappeun…" gumam Luhan sambil melempar wajah Sehun dengan buku biologi milik Sehun yang terletak di atas meja.

"Teman-teman… mohon perhatiannya sebentar. Karena jam pertama kita hari ini adalah Biologi, maka setelah bel berbunyi, kita diinstruksikan Lee seonsaengnim agar langsung memasuki Laboratorium Biologi. Kalian hanya harus membawa alat tulis, buku tugas, dan buku referensi yang kemarin ditugaskan Seonsaengnim untuk kegiatan kelompok. Terima kasih perhatiannya…" Ucap sang ketua kelas, Kim Junmyeon.

"Neeee" Sahut seluruh penghuni kelas. Menyiapkan keperluan-keperluan yang akan mereka bawa ke laboratorium Biologi.

"Kau satu kelompok dengan siapa, Baek?"

"Aku dengan Yixing…" jawab Baekhyun.

"Masih ada waktu lima belas menit. Luhan-ah, temani aku ke kantin. Tadi aku tidak sempat sarapan…" kata Baekhyun sambil menggamit lengan Luhan. Luhan dengan segera mengambil buku tugas dan alat tulisnya dan mengikuti Baekhyun.

"Sehun-ah, aku pinjam Luhan sebentar untuk menemaniku ke kantin" teriak Baekhyun di depan pintu kelas, dan berlari pelan menuju kantin.

"Baek, tidak usah berlari. Masih ada lima belas menit untuk mengganjal perutmu" keluh Luhan karena tangannya masih dipegang erat oleh Baekhyun dan diajak berlari.

"Aku sangat lapaaarrrr…" keluh Baekhyun sambil menatap garang pada Luhan dan mengelus perutnya pelan.

"Memangnya ada apa di rumahmu sampai kau tidak sempat sarapan?"

"Chanyeol oppa terlalu pagi menjemputku sehingga aku tidak sempat sarapan. Hanya sempat meminum satu gelas air putih saja"

"Makan satu roti isi tak apa, kan? Nanti takutnya bel berbunyi kalau makan makanan berat" saran Luhan. Baekhyun mengiyakan dan membeli satu roti isi dan satu gelas coklat hangat lalu makan di kantin.

.

.

.

"Kau ini apa-apaan? Malam-malam begini ke bukit dandelion? Ck… Tugas kita sudah menumpuk, Luhannie. Sebentar lagi ujian akhir. Sebaiknya kau belajar dulu" keluh Sehun ketika ia dan Luhan sedang melakukan video call.

"Tapi, Hunnie. Aku ingin ke sana. Sudah dua minggu kita tidak pergi ke sana" pout Luhan membuat Sehun gemas.

"Nanti kalau tugas kita sudah tidak terlalu banyak lagi, kita pergi ke sana, ya" saran Sehun. Luhan nampak berpikir, kemudian mengangguk, "Baiklah. Kau janji?" kata Luhan sambil memperlihatkan jari kelingkingnya.

"Aku janji" balas Sehun sambil ikut memperlihatkan jari kelingkingnya juga. Luhan tersenyum, membuat Sehun juga tersenyum.

"Hmm, aku menyelesaikan tugasku dulu ya, Hunnie. Sampai jumpa besok" kata Luhan.

"Ne, aku juga akan menyelesaikan tugasku. Selamat malam, Luhannie. Saranghae"

"Nado, Hunnie"

Sambungan video call terputus. Dan Luhan membuka buku tugas Biologi yang tadi pagi tidak sempat selesai karena bel pergantian pelajaran berbunyi. Luhan mengerjakan dengan serius sampai akhirnya sebuah ketukan di pintu menghentikan pekerjaannya.

"Waeyo, eomma? Masuklah" sapa Luhan ketika ibunya membuka sedikit pintu kamarnya. Ibu Luhan kemudian berjalan menghampiri Luhan dan membelai surai kecoklatan milik Luhan.

"Besok malam kau bersiap, ya. Jam delapan kita ada undangan makan malam dengan rekan bisnis appamu. Sekalian ada yang ingin disampaikan appamu, katanya"

"Baiklah"

"Eomma tinggal keluar, ya. Kalau sudah selesai mengerjakan tugasmu, lekaslah tidur"

"Ne, eomma"

Ibu Luhan kemudian keluar dari kamar Luhan, menutup pintunya pelan dan menyandarkan tubuhnya di dinding sebelah pintu kamar Luhan.

"Maafkan eomma, Luhan. Eomma sebenarnya tidak ingin melakukan ini. Tapi ini karena paksaan appamu. Maafkan eomma, Luhan" lirih beliau. Air matanya perlahan turun. Dengan sigap beliau menghapus air matanya dan masuk ke dalam kamar beliau.

.

.

.

"Sehun…" panggil seorang yeoja kepada seseorang yang sedang sibuk membaca buku yang ia pinjam dari perpustakaan. Yeoja itu menghembuskan napasnya berkali-kali karena diabaikan oleh seseorang yang bernama Sehun itu. Ia menatap lapangan basket outdoor dari tempatnya berdiri—atap sekolah.

"Kalau kau tetap mengabaikanku seperti ini, aku tidak akan mau menemuimu lagi, Sehun-ah…" kata yeoja tersebut pelan, namun masih bisa didengar oleh Sehun. Kalau yeoja itu sudah memanggilnya 'Sehun-ah', berarti ia sedang marah dan serius. Sehun menutup bukunya kemudian memeluk yeoja itu dari belakang.

"Luhannie kenapa, heum? Apa kau sedang ada masalah? Mau bercerita?" gumam Sehun sambil mencuri kecupan di pipi kanan Luhan. Luhan menggeleng setelah beberapa saat terdiam.

"Entah kenapa, perasaanku menjadi tidak enak, Hunnie" lirihnya.

"Kenapa?"

"Molla. Tadi malam eomma bilang, kalau nanti malam appa mengajakku dan eomma untuk makan malam bersama rekan bisnis appa…" jelas Luhan yang mulai bercerita tentang hal yang membuatnya tidak nyaman. Sehun dengan setia mendengarkan curhatan dari kekasihnya.

"Lalu?"

"Molla. Aku punya firasat buruk mengenai makan malam itu…"

"Wae? Bukankah wajar appamu mengajakmu dan eommamu menghadiri undangan makan malam? Kenapa kau berfirasat begitu?"

"Memang. Tapi, jika seandainya aku berkata aku tidak jadi mengikuti undangan tersebut, apakah tidak apa-apa? Aku tidak ingin ke sana, Hunnie"

"Itu tidak sopan, sayang. Apa kata rekan bisnis appamu jika kau tidak ikut? Kau pasti dicap negatif oleh rekan bisnis appamu. Tenang saja, jangan berprasangka buruk terlebih dahulu"

"Tapi—"

"Tidak apa-apa. Hanya makan malam saja, Lu. Kau ikut makan malam itu atau setelah ujian nanti kita tidak jadi ke bukit untuk bersantai di taman dandelion" ancam Sehun. Luhan mempoutkan bibirnya, kemudian berpikir.

"Baiklah. Aku akan ke sana karena kau yang memaksanya"

"Kajja, kita ke kelas. Sebentar lagi jam istirahat habis" kata Sehun menggenggam tangan kanan Luhan dan mengajaknya kembali ke kelas.

.

.

.

"Sekian pelajaran hari ini. Dan jangan lupa besok kalian kumpulkan formulir pilihan universitas yang akan kalian pilih selepas SMA nanti. Harap kumpulkan kepada ketua kelas, dan ketua kelas bawa formulir-formulir itu ke ruang guru sebelum jam pertama besok dimulai. Arrasseo?" jelas Yoo seonsaengnim—guru Bahasa Inggris sekaligus wali kelas XII-2, kelas Sehun dan Luhan.

"Ne, seonsaengnim…" jawab seluruh siswa sambil membereskan buku-buku dan alat tulis yang berserakan di atas meja ke dalam tas mereka masing-masing. Beberapa bulan lagi mereka akan menjalani ujian kelulusan, maka dari itu, para guru sibuk mengurus pelajaran tambahan untuk siswa kelas XII dan formulir-formulir pilihan universitas yang akan dipilih mereka untuk menuntut ilmu setelah lulus dari sekolah.

"Aaahhh, lelahnyaaaa… aku ingin mati saja kalau begini" keluh Baekhyun. Luhan dengan sigap memukul kepala Baekhyun dengan kotak pensilnya.

"Ya! Kau ini… Ck… Baru sampai sini saja kau sudah menyerah? Kau harus semangat, Baek. Jangan terlalu sering malas-malasan kalau kau ingin satu universitas dengan Chanyeol oppa nantinya. Chanyeol oppa saja bisa lulus dengan nilai terbaik dan masuk universitas favorit. Kau juga harus bisa, Baek… Fighting, Baekhyunie" ceramah Luhan yang diikuti kedua kepalan tangannya terangkat ke atas untuk menyemangati Baekhyun. Luhan sendiri, ia mulai menambah porsi jam belajarnya di rumah. Dari dulu ia ingin masuk ke Yonsei University, salah satu universitas favorit di Korea Selatan. Dan kalau soal jurusan, Luhan masih belum memikirkan ia akan masuk ke mana.

"Ayo pulang, Baek. Setelah ini aku harus bersiap-siap. Nanti malam aku ada acara makan malam keluargaku dengan rekan bisnis appaku.. Sehunnie, kajja"

"Kajja"

"Baekkie, Luluuuu…." Panggil yeoja berpipi bakpao di depan kelas mereka.

"Xiumin-ah? Wae?" tanya Baekhyun sambil menghampiri Xiumin.

"Kalian sudah memikirkan universitas mana yang akan kalian pilih? Aku masih bingung harus mengisi apa di formulir itu. Aish, besok hari terakhir mengumpulkannya pula" Keluh Xiumin.

"Aku mungkin memilih Yonsei University walaupun masih belum menentukan jurusan. Kau pilih Seoul University saja. Bukankah Chanyeol oppa dan Jongdae oppa kuliah di sana? Baekhyun juga memilih Seoul University" saran Luhan.

"Kau memilih Seoul University, Baek? Baiklah, akan aku pikirkan dulu. Aku pulang duluan, ya. Oppa ku sudah menunggu di depan gerbang. Annyeong" pamit Xiumin sambil berlalu meninggalkan Baekhyun, Luhan dan Sehun.

"Baek, kami juga duluan. Aku harus buru-buru untuk nanti malam. Sampai jumpa besok, Baek" pamit Luhan dan Sehun hampir bersamaan. Baekhyun juga menyusul beberapa meter di belakang Sehun dan Luhan.

.

.

.

"Eomma, apakah makan malamnya di sini?" tanya Luhan sambil turun dari mobil pribadi yang dikemudikan oleh sopirnya. Luhan menatap hotel berbintang lima itu dengan bingung. Ibu Luhan mengangguk.

"Eomma yakin? Apakah appa mengirimkan alamatnya pada eomma?"

"Ne, appa sudah di sini sejak setengah jam yang lalu. Kajja, Lu kita masuk" ajak Ibu Luhan memasuki lobby, dan bertanya kepada resepsionis tempat jamuan makan malam yang akan mereka hadiri. Dengan diantar oleh seorang waitress, mereka sampai di lantai paling atas hotel berbintang lima tersebut.

Terlihat di salah satu meja makan yang terletak di paling ujung, terdapat ayah Luhan sedang berbincang dengan sepasang suami istri yang nampaknya rekan bisnis yang dimaksud ibunya kemarin. Luhan dan ibunya menghampiri meja tersebut.

"Ah, perkenalkan. Ini istriku, Xi Jin Ri dan putriku, Xi Luhan" kata ayah Luhan sambil melirik ibu Luhan dan Luhan agar segera duduk di bangku yang kosong. Luhan dan ibunya menunduk sedikit.

"Aigoo. Putrimu sangat cantik, tuan Xi" puji seorang wanita di depannya. Ayah Luhan tersenyum.

"Terima kasih, nyonya Wu. Ngomong-ngomong, di manakah putra anda? Saya tidak sabar untuk membahas rencana pertunangan kedua anak kita" kata Ayah Luhan dengan nada yang tenang.

"Sebentar lagi dia akan sampai. Nah itu dia orangnya" kata seorang pria yang merupakan suami dari wanita yang dipanggil ayah Luhan nyonya Wu barusan. Semua yang berada di meja itu sontak melihat ke arah pintu masuk, yang baru saja dimasuki oleh seorang namja tinggi dan terlihat tampan dengan setelan jas dan celana hitam, kemeja putih, dan sepatu hitam yang mengkilat.

"Maaf… aku terlambat, ada sedikit urusan yang harus aku selesaikan di kantor" ucap namja itu sambil menunduk minta maaf, kemudian duduk di bangku kosong yang berada di sebelah ayahnya.

Luhan seketika menegang, ia memikirkan ucapan ayahnya tadi tentang membahas pertunangan dirinya dengan anak dari sepasang suami istri yang berada di depannya. Kemudian datang seorang namja yang sepertinya anak dari sepasang suami istri tersebut. ia memandangi namja itu, mengingat-ingat wajahnya yang sepertinya ia pernah melihat wajah itu sebelumnya. Namja itu juga menatap ke arahnya.

"Kau…" gumam Luhan, namun masih bisa di dengar oleh orang tuanya, orang tua dari namja itu, dan namja itu sendiri.

.

.

.

TBC

.

.

.

Annyeong ^.^ akhirnya author bisa update lagiiii yeaaayyyy

Eottokhae? Chapter ini udah mulai ketahuan ya siapa yang bakalan ditunangin sama mbak Lulu :v konfliknya masih ada beberapa yang belum muncul :vv

Next chap, tergantung mood ya. Mudahan bisa fast update ^^