"Maaf… aku terlambat, ada sedikit urusan yang harus aku selesaikan di kantor" ucap namja itu sambil menunduk minta maaf, kemudian duduk di bangku kosong yang berada di sebelah ayahnya.

Luhan seketika menegang, ia memikirkan ucapan ayahnya tadi tentang membahas pertunangan dirinya dengan anak dari sepasang suami istri yang berada di depannya. Kemudian datang seorang namja yang sepertinya anak dari sepasang suami istri tersebut. ia memandangi namja itu, mengingat-ingat wajahnya yang sepertinya ia pernah melihat wajah itu sebelumnya. Namja itu juga menatap ke arahnya.

"Kau…" gumam Luhan, namun masih bisa di dengar oleh orang tuanya, orang tua dari namja itu, dan namja itu sendiri.

.

.

.

DANDELION

Genre : Romance, Angst

Rated : T

Main cast : Xi Luhan, Oh Sehun

Other cast : Baekhyun, Xiumin, Yifan, Ibu dan Ayah Luhan

Length : Chaptered

Disclaimer :

Pemeran merupakan milik Agensi, Orang tua mereka, dan Tuhan. Aku hanya meminjam nama. FF ini murni buatanku sendiri.

.

.

.

"Oh, hai… Kita bertemu lagi" seru namja itu senang. Senyumnya terkembang ketika yeoja di hadapannya masih mengingat pertemuan tak sengaja mereka kemarin.

"Kalian sudah mengenal?" tanya tuan Wu kepada anaknya. Namja itu mengangguk lalu menatap Luhan, "Kemarin tidak sengaja bertemu di toko buku, dad. Tapi, aku belum tahu namamu"

"Aku Luhan"

"Aku Wu Yi Fan. Kau bisa memanggilku Kris kalau kau mau" Kris tersenyum. Luhan balas tersenyum walau agak sedikit terpaksa.

"Baguslah kalau kalian sudah mengenal. Mommy tidak tahu kalau kalian sudah bertemu sebelumnya"

"Setelah makan malam selesai, bisakah kau ajak Luhan jalan-jalan di taman di belakang restoran ini, Yi Fan? Ada hal-hal penting yang harus daddy dan mommy bicarakan dengan orang tua Luhan" tanya ayah Kris. Kris mengangguk mengiyakan.

"Baiklah. Silahkan tuan Xi, nyonya Xi dan Luhan. Maaf kami hanya bisa memesankan hidangan ini untuk makan malam kita" ujar ayah Kris.

"Tak apa. Ini saja sudah lebih dari cukup, tuan Wu"

.

.

.

"Kau nampak kedinginan. Ini, pakailah" kata Kris ketika ia dan Luhan sedang duduk di bangku taman. Dress selutut dan berlengan pendek milik Luhan tentunya membuat Luhan merasa kedinginan. Kris melepas jas hitam miliknya dan meletakkannya di bahu Luhan. Luhan menerimanya dengan senang hati.

"Eum… gomawo, Kris"

"Tak apa. Aku tahu kau pasti kedinginan"

Hening selama beberapa menit. Tak ada yang memulai pembicaraan terlebih dahulu. Luhan ingin berbicara dulu, namun beberapa kali urung ia lakukan.

"Namja yang kemarin bersamamu… dia siapa?" tanya Kris terlebih dahulu.

"Oh Sehun. Dia kekasihku" jawab Luhan pelan. Kris nampak berpikir, kemudian mengalihkan tatapannya ke arah Luhan.

"Ah, dia kekasihmu. Kukira dia hanya temanmu… Lalu, apa kau tahu kita akan dijodohkan?" tanya Kris lagi.

"Ya, aku tahu. Sebenarnya aku menolak. Tapi ayahku memaksa. Ayahku terlalu menyeramkan kalau sedang marah. Jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa" ucap Luhan.

"Aku tebak, kau pasti sangat mencintai kekasihmu… aku benar, kan?"

"Sangat. Kalau aku tidak mencintainya, untuk apa aku menjadi kekasihnya?"

"Benar juga… oh ya, apa besok setelah pulang sekolah kau sibuk? Kalau tidak, bagaimana kalau kita jalan-jalan? Nonton, mungkin?" ajak Kris.

"Akan kupikirkan"

"Baiklah. Aku pinjam ponselmu" titah Kris sambil menadahkan tangannya. Luhan mengernyit bingung.

"Untuk apa?" tanya Luhan

"Berikan saja" paksa Kris. Luhan pun menyerahkan ponselnya. Yang kemudian Kris memencet-mencet sesuatu di tombol ponsel itu.

"Aku sudah menyimpan nomor ponselku di kontak ponselmu. Kalau besok kau tidak sibuk, kau bisa mengirimiku pesan di nomor itu" jelas Kris.

"Baiklah. Nanti aku akan menghubungimu"

"Luhan-ah!" teriak Ibu Luhan dari kejauhan. Luhan dan Kris menoleh.

"Sepertinya orang tuaku dan orang tuamu sudah selesai berdiskusi. Baiklah, aku harus pulang" kata Luhan sambil berdiri dari duduknya kemudian menyerahkan jas milik Kris yang sedari tadi ia pakai untuk menghindari hawa dingin di malam hari.

"Hati-hati di jalan. Sampai di rumah, langsung tidur, ya. Semoga mimpi indah" kata Kris sambil mengusap surai kecokelatan Luhan yang terurai rapi. Luhan tersenyum, "kau juga. Annyeong"

.

.

.

"Appa… ada yang harus aku bicarakan denganmu" Luhan berkata ketika mereka sudah sampai di ruang keluarga. Ayah Luhan langsung duduk di sofa kemudian melemparkan tatapan 'bicara saja'. Luhan menarik napasnya, kemudian menatap ibunya yang menepuk bahunya pelan.

"Bukankah sudah kubilang aku tak akan mau dijodohkan? Kenapa appa tetap memaksa? Bukannya aku membantah appa, tapi aku juga punya pilihan sendiri. Aku tidak suka dengan sikap appa yang seperti ini. Aku sudah memiliki Oh Sehun. Bisakah appa mengerti itu?" jelas Luhan agak lirih namun dapat didengar oleh ke dua orang tuanya.

"Appa tidak suka kau berdekatan dengan Oh Sehun itu" kata ayah Luhan sambil melonggarkan dasinya. Luhan dan ibunya duduk di sofa di hadapan ayahnya.

"Waeyo, appa? Appa bahkan belum bertemu dengan Sehun. Kenapa kau langsung berkata tidak suka terhadapnya? Dia baik, sopan…"

"Appa sudah memutuskan. Kau harus bertunangan dan menikah dengan Wu Yi Fan. Dan kau hanya perlu menurut dengan appa… dan tidak ada bantahan lagi kali ini. Kalau kau tetap mempertahankan Oh Sehun itu, appa yakin orang yang bernama Oh Sehun itu akan mati di tangan appa…"

"Kau… jahat, appa" setitik air mata mengalir dari pelupuk mata Luhan. Ia menghapusnya dengan telapak tangannya lalu pergi dari ruang keluarga menuju kamarnya dan menguncinya dari dalam. Ayahnya benar-benar keterlaluan. Ia benci perjodohan. Ia benci dengan ayahnya. Ia benci dengan keadaan yang mengharuskan dirinya tidak bisa melawan kehendak ayahnya.

Ibu Luhan juga beranjak menuju kamarnya meninggalkan suaminya seorang diri. Ia sebenarnya juga kecewa dengan keputusan sepihak suaminya itu. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia sudah beberapa kali berbicara kepada suaminya, tapi hanya ditanggapi angin lalu. Memang susah kalau berbicara dengan tembok.

"Eonni… bolehkah aku minta tolong?" kata Luhan ketika sambungan telpon ke Kyungsoo tersambung.

"Minta tolong apa, Hannie?" Jawab Kyungsoo bingung karena Luhan menelponnya ketika hari akan beranjak menjadi tengah malam.

"Besok, setelah pulang sekolah… bisakah temani aku ke bukit dandelion? Aku ingin ke sana bersamamu…"

"Wae? Kenapa tak mengajak Sehun saja?"

"Aku hanya ingin ke sana bersamamu eonni. Ada yang ingin aku katakan. Soal perjodohan itu"

"Jadi… kau benar-benar dijodohkan? Astaga…"

"Benar, eonni. Baru saja aku diajak eomma dan appa makan malam dengan keluarga itu. Aku benar-benar kecewa dengan appa. Hiks…"

"Uljima, Hannie. Baiklah. Besok eonni jemput kau ke sekolah. Hubungi eonni kalau kau sudah pulang sekolah, ne. Tenangkan pikiranmu dulu. Lalu kau tidur. Kau harus istirahat. Oke?"

"Ne, eonni. Aku akan tidur sebentar lagi. Terima kasih sudah mau menemaniku ke bukit besok. Sampai jumpa eonni. Maaf mengganggumu malam-malam begini. Annyeong"

"Tak apa. Kapanpun kau ingin bercerita, kau bisa menghubungi eonni kapan saja. Annyeong"

.

.

.

"Maaf… tapi aku akan dijemput Kyungsoo eonni. Dia ingin mengajakku makan siang berdua" sesal Luhan ketika ia dan Sehun sedang berada di depan kelas. Jam pelajaran telah berakhir dan Sehun berencana akan mengajak Luhan ke bukit sebagai kejutan karena tugas sekolah mereka sudah mulai berkurang. "Hanya makan siang? Kan bisa mengajakku, Lu. Kenapa hanya berdua dengan Kyungsoo Noona?"

"Tapi… dia hanya ingin aku yang menemani. Dia sedang ada masalah, Hunnie. Sekali ini saja, ya. Jebal" mohon Luhan dengan tatapan memelas ditambah sedikit aegyonya. Ia harus berbohong kali ini dengan menjadikan kakak sepupu tersayangnya yang seolah-olah sedang ada masalah.

Sehun menghela napas, kemudian tersenyum dan mengangguk. "Baiklah. Setelah makan siang, langsung pulang. Jangan lupa kabari aku kalau kau sudah sampai di rumah". Sehun mengusap surai kecokelatan Luhan lalu mencubit pipi Luhan gemas, membuat pemilik pipi meringis.

"Aish, appo, Sehunnie. Baiklah, kapten. Saranghae" kata Luhan sambil memberi hormat lalu mencium pipi kiri Sehun. Sehun meraih tangan kanan Luhan dan menggenggamnya.

"Nado. Kajja, kita ke parkiran. Mungkin Kyungsoo Noona sudah menunggu"

"Kajja"

Sesampainya di parkiran, mereka melihat mobil yang biasa dikemudikan oleh Kyungsoo ketika sedang kuliah. Kyungsoo keluar dari mobilnya dan melambai ke arah Sehun dan Luhan. Keduanya balas melambai kemudian menghampiri Kyungsoo.

"Noona… kenapa kau mengajak Luhan makan siang mendadak? Setidaknya beritahu aku" rajuk Sehun. Kyungsoo menggaruk tengkuknya pelan sambil melirik Luhan. Luhan balas menatap dengan tatapan memohon.

"Itu… aku ada sedikit masalah pagi tadi. Maka dari itu, aku ingin bercerita dengan Luhan sekalian makan siang. Tak apa, kan? Hanya sekali ini saja. Ya?" dusta Kyungsoo.

"Masalah apa, Noona? Bukan masalah hubunganmu dengan Jongin Hyung, kan?"

"Jelas bukan. Ada masalah lain. Sudahlah, sebaiknya kau pulang"

"Ya! Noona, kau mengusirku?" tanya Sehun sarkastik. Kyungsoo tertawa lepas bersamaan dengan Luhan yang juga tertawa.

"Ani. Hanya menyuruhmu pulang. Aku tidak mengusirmu. Kenapa kau berpikir aku mengusirmu, eoh?"

"Arraseo. Aku pulang sekarang. Lu, nanti kalau sudah sampai rumah, jangan lupa hubungi aku, ne? Saranghae" Sehun mengecup kening Luhan kemudian berlalu menuju mobilnya.

'Nado, Sehunnie… Yeongwonhi' balas Luhan dalam hati memandangi punggung Sehun yang menghampiri mobilnya. Ia menatap Sehun yang sudah berada di dalam mobil sampai mobil Sehun bergegas meninggalkan lingkungan sekolah.

"Kajja, eonni. Kita berangkat sekarang"

.

.

.

Makan malam di kediaman keluarga Xi berlangsung hening. Hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Sebenarnya, jika tidak ada masalah yang membuat kedua anggota keluarga berseteru, bisa saja ruang makan itu terisi oleh pembicaraan ringan seperti keluarga kecil di luar sana. Namun, seperti yang kita ketahui, kedua anggota keluarga itu tengah berselisih. Yang satu memaksakan kehendak, sedang yang satu lagi mau tak mau harus menerima keadaan.

"Setelah ujian negaramu bulan depan selesai, acara tunanganmu dengan Wu Yi Fan akan digelar. Untuk gaun yang akan kau pakai saat acara pertunangan, sudah dipesan. Jadi, kau tinggal pakai saja saat acara berlangsung. Appa harap kau segera memutuskan kekasihmu itu kalau kau tidak ingin appa melakukan sesuatu terhadapnya, Lu" ucap sang kepala keluarga memecah keheningan. Sendok yang tengah dipegang Luhan sontak terlepas dari genggamannya. Ia mengerjap beberapa kali, mencerna apa yang baru saja diucapkan ayahnya. Ia ingin membantah, namun entah mengapa lidahnya serasa kelu. Sangat susah untuk mengucap beberapa kata untuk ayahnya. Dengan sedikit paksaan, akhirnya ia mengangguk pelan dan mengambil kembali sendok yang terlepas tadi. Membuat kepala sang ayah mengangguk dan tersenyum puas.

"Aku sudah kenyang. Aku pamit ke kamar terlebih dahulu. Aku ingin belajar" ucap Luhan pelan.

"Belajar yang baik, anakku. Buat orang tuamu dan calon tunanganmu bangga dengan nilai ujianmu yang bagus" ucap sang ayah tersenyum licik. Luhan dapat melihat senyuman itu. Ia mendengus dalam hati, ayahnya telah berubah semenjak perusahaan miliknya berkembang pesat beberapa tahun belakangan.

"Ne"

.

.

.

"Lu? Ada apa? Kau sakit?" tanya Sehun sambil menggenggam tangan Luhan yang dingin. Angin berhembus menerpa kulit wajah keduanya yang sedang duduk santai di bukit. Yang ditanya hanya diam dan menatap hamparan Dandelion yang tertiup angin.

"Sehunnie…" panggil Luhan tanpa menatap lawan bicaranya.

"Wae?"

"Ani. Gwaenchananeomu saranghae, Oh Sehun" Luhan tersenyum dan memandang wajah kekasihnya. Tangan yang sedari tadi digenggam Sehun bergerak menelusuri wajah Sehun. Merasakan tekstur wajah sang pemilik. Sehun hanya bisa menutup matanya mendapat perlakuan lembut Luhan, yeoja yang sangat dicintainya itu.

"Lu, kau tahu? Akhir-akhir ini kau sangat aneh. Sungguh, kau membuatku bingung. Sebenarnya ada apa? Kau sedang ada masalah, kan? Kau bisa bercerita kepadaku kalau itu bisa membuat hatimu terasa lebih ringan. Kumohon, berceritalah. Aku tahu kau sedang ada masalah" lirih Sehun yang mata tajamnya langsung berhadapan dengan mata rusa milik Luhan. Luhan terdiam, ingin bercerita, namun takut Sehun akan membencinya setelah ini.

"Tidak ada, sungguh… memangnya ada apa sampai kau menganggapku sedang ada masalah, hm?"

"Beberapa hari ini kau terlihat lebih sering melamun. Wajahmu juga terlihat lebih suram. Jarang terlihat bahagia. Kalau sedang bercanda dengan Baekhyun atau Xiumin pun kau juga tidak tertawa lepas seperti biasanya. Aku bisa merasakannya, Lu… tolong, ceritakan padaku, kau kenapa?"

"Aku tidak apa-apa. Aku hanya kelelahan karena belajar terlalu diforsir. Bulan depan kan kita ujian. Dari pada membahas wajahku yang terlihat lebih muram ini, lebih baik kita belajar saja. Di sini suasananya nyaman, Sehunnie. Aku yakin pelajaran akan lebih cepat masuk ke otak" Kata Luhan riang sambil mengeluarkan buku-buku untuk ujian bulan depan. Sehun menghela napasnya pelan.

"Luhannie, dengarkan aku" Sehun menangkup wajah Luhan dengan kedua tangannya. "Kalau kau sedang ada masalah, kau harus menceritakannya padaku secepatnya. Aku akan segera mencarikan jalan keluarnya. Aku ingin kita saling terbuka. Tidak ada satupun yang disembunyikan di antara kita. Atau kalau kau malu bercerita langsung padaku, kau bisa berbicara pada Baekhyun dan Xiumin. Mereka sahabatmu, ingat? Jadi intinya, kalau kau sedang ada masalah, kau harus bercerita. Jangan dipendam sendirian. Aku tidak suka kau memendam masalah sendirian. Ya?"

"Ya, aku mengerti, Sehunnie" Luhan tersenyum. Sehun balas tersenyum dan mengecup kening Luhan lama. Seakan tiada hari esok.

"Sehunnie, saranghae…"

"Nado saranghae, Luhannie…"

.

.

.

Hari terakhir ujian negara sudah selesai beberapa menit yang lalu. Seluruh siswa Seoul International High School berhamburan keluar dari ruang ujian dan bersorak gembira. Beban yang mereka emban selama beberapa bulan belakangan, terangkat sudah. Perjuangan mereka dari pagi hingga menjelang tengah malam terus-terusan belajar, terbayar sudah. Mereka optimis nilai yang akan mereka dapatkan nanti akan bagus.

"Luhaaaeeennnn… chukkae… kita bebas. Let's do some have fun after this" seru Baekhyun ketika ia, Luhan, Sehun, dan Xiumin bertemu di depan ruang ujian Luhan.

"Ayo kita nonton. Hari ini ada film baru. Biar aku yang mentraktir" kata Sehun sembari meletakkan tangan kirinya di pundak Luhan. Luhan menatap Sehun berbinar, "Benarkah?"

"Benar. Apa kalian sibuk setelah ini? Kita langsung saja ke bioskop sekarang"

"KAJJAAA" Seru Xiumin semangat.

"Ahh, kalian tunggu saja di parkiran. Aku ingin ke toilet sebentar" kata Sehun sambil berlalu menuju toilet.

"Jangan lama-lama Sehun-ah. Kami tunggu" teriak Baekhyun.

.

.

.

"Aigoo. Suaraku benar-benar habis sepertinya" keluh Baekhyun. Ia menepuk-nepuk pipinya kasar. Mereka menghabiskan waktu mereka dengan menonton film horror. Yang membuat Baekhyun terus-terusan mengeluarkan teriakan 'diva'nya ketika scene penampakan bermunculan.

"Kau sih, berteriak terus. Padahal hantu-hantunya biasa saja. Tidak terlalu seram" komentar Xiumin. Baekhyun mendelik ke arah Xiumin. "Wae? Memang benar. Kau saja yang terlalu berlebihan menontonnya, Baekkie" gemas Xiumin sambil mencubit pipi Baekhyun.

"Sudahlah. Kenapa kalian bertengkar? Sebaiknya kita makan. Aku lapar" lerai Luhan sambil menyeret Sehun keluar dari gedung bioskop dan mencari restoran cepat saji.

Baru separuh perjalanan, tiba-tiba handphone Luhan berbunyi. Ia mengambil handphone miliknya dari saku jas almameter sekolahnya, dan mengangkat telpon yang ternyata dari ibunya.

"Yeoboseyo? Waeyo, eomma?" sapa Luhan.

"Kau ada di mana? Bisakah kau pulang sekarang?"

"Aku baru saja keluar dari bioskop. Ada apa eomma?"

"Lebih baik kau pulang saja dulu. Ada yang ingin eomma dan appa bicarakan denganmu"

"Appa?"

"Ne. Cepatlah pulang sebelum appamu kembali marah"

"Ne, eomma. Aku akan segera pulang"

Luhan menutup sambungan telponnya lalu menghela napas. 'pasti tentang acara pertunangan itu lagi'.

"Sepertinya kita harus pulang sekarang" desahnya.

"Ada apa?" tanya Sehun yang hampir bersamaan dengan Baekhyun dan Xiumin.

"Molla. Eomma menyuruhku untuk segera pulang. Ada hal penting katanya"

"Oh, begitu. Baiklah. Kau pulang saja dengan Sehun. Kami berdua masih ingin di sini. nanti kami bisa minta Chen oppa dan Chanyeol oppa untuk menjemput kami" kata Xiumin tersenyum. Luhan menggigit bibirnya, "Benar tak apa? Aku merasa jadi tak enak pada kalian, seharusnya kita bersenang-senang hari ini. Tapi tidak jadi gara-gara eommaku menyuruhku untuk pulang"

"Benar tak apa, Lu. Next time kita masih bisa ngumpul bersama lagi, kan? Setelah ini kita punya banyak hari liburnya, kok. Mungkin sesekali saja kita ke sekolah untuk melihat pengumuman kelulusan dan mengurus surat-surat kelulusan. Pulanglah, kasihan eomma kalau harus menunggu lama. Sampaikan salam kami pada eomma, ya" jelas Baekhyun. Kali ini, Luhan tersenyum tipis, "Baiklah. Aku pulang dulu. Next time, kita harus jalan-jalan lagi, ya. Sampai jumpa, Baekhyun, Xiumin"

.

.

.

"Aku pulang" teriak Luhan sambil melepas jas almameter sekolahnya dan meletakkannya di gantungan khusus dekat pintu masuk. Ia melepas sepatunya lalu meletakkannya di rak, lalu berjalan menuju ruang tamu.

"M-mwo? Ada apa ini, eomma?" tanya Luhan speechless. Di meja ruang tamu, ibu dan ayahnya sedang memegang sebuah gaun putih panjang dan beberapa aksesoris penunjangnya. Ibunya menatap Luhan dengan tersenyum sedikit terpaksa, kemudian menghampiri Luhan dengan membawa gaun tersebut.

"Cobalah gaun ini, Lu"

"Ini… untuk acara pertunangan itu?" tanya Luhan ragu walau pada kenyataannya pasti jawabannya adalah 'iya'.

"Benar. Itu untuk acara pertunanganmu yang diselenggarakan tiga hari lagi. Semua undangan sudah appa sebarkan ke rekan appa dan eomma. Apakah kau ingin mengundang sahabat dan kekasih tercintamu itu, Lu? Atau, akan kusebut mantan kekasihmu?" kata ayah Luhan menekankan kata 'kekasih tercintamu' serta menanyakan apakah undangan perlu dibagikan kepada Baekhyun, Xiumin, dan Sehun.

"Andwae! Tidak perlu. Aku tidak ingin dia tahu" lirih Luhan dilema.

"Kenapa? Appa tahu, kau masih belum memutuskan hubunganmu dengan kekasihmu itu, bukan? Tiga hari lagi kau bertunangan dengan Wu Yi Fan, dia tampan, tinggi, anak seorang pengusaha sukses. Apa kekurangannya dia? Dia jelas lebih baik dibandingkan dengan kekasihmu itu, Lu. Kalau kau ingin dia bahagia dan tetap hidup, putuskan hubunganmu dengan dia segera. Appa harap kau memikirkan hal ini baik-baik"

"Aku mencintainya, appa. Sangat. Bisakah kau batalkan pertunangan ini? Aku hanya bahagia dengan Sehun" kata Luhan sambil meraih gaun itu, menatap gaun itu dalam. Membayangkan ia memakai gaun itu, bertukar cincin dengan Sehun yang sangat tampan dan memakai tuxedo berwarna putih yang pas di badannya. Membayangkan hal itu, air matanya membasahi gaun itu. Ia ingin bertunangan dengan namja yang sangat ia cintai, bukan namja yang tidak ia cintai, bahkan ia baru saja mengenalnya kurang lebih sebulan yang lalu. Luhan benar-benar merasa hidupnya akan berakhir dalam tiga hari jika seandainya ia putus dengan Sehun. Bayangan-bayangan Sehun yang mengetahui ia akan bertunangan hinggap di kepalanya membuat ia pusing.

.

.

.

To

Be

Continued

.

.

.

Hallo, I'm back ^^

Chapter ini maksa banget, ya? TT_TT author gabisa buat konflik yang susah banget ~_~ Jadi maafkan ya kalo konfliknya kur :Dang greget (?)

Makasih review-review dan saran dari readers sekalian~~

Untuk chapter ini, reviewnya boleh?