Disclaimer: J.K. Rowling
Pairing: Draco Malfoy x Hermione Granger
Wah, aku gak nyangka ternyata ada yang review fic yang jelek ini-_- Dan review kalian membuat semangatku berlipat-lipat untuk melanjutkan fic ini:D Oke, mungkin di chapter 1 kalian pada bingung kan aku pake POV apaan? Haha, aku memang lemah dlm memakai sudut pandang. Chapter 1 diedit sedikit karena kesalahan POV, dan sebenernya author memakai Draco POV : ) x
Hermione tersenyum. Ada kehangatan disana dan entah kenapa aku merasakannya.
"Terima kasih, Granger"
Ucapan terima kasih pertama kali keluar dari mulutku, seorang Malfoy.
CHAPTER 2
Entah apa yang ada dipikiran seorang Hermione Granger, bisa-bisanya dia mempunyai pikiran untuk membantu seorang Draco Malfoy yang notabenenya adalah rivalnya semenjak masuk Hogwarts. Tetapi hati wanita siapa yang tahu? Pada awalnya dia tak ingin membantu Draco, tetapi hatinya tak bisa berkompromi dengan otak cerdasnya dan pada akhirnya dia disini. Diruang mantan ketua asramanya yang sudah menjadi kepala sekolah menggantikan Prof. Snape yang sudah meninggal, Professor McGonagall.
"Silahkan masuk" ucap Prof. McGonagall setelah Hermione mengetuk pintu beberapa kali. Hermione pun masuk dan dipersilahkan duduk dihadapanya.
"Maaf, Profesor. Saya menganggu waktu anda sebentar. Saya mendengar dari teman-teman seasrama saya bahwa Draco kemarin overdosis akibat meminum fire whiskey dengan jumlah yang banyak. Apa itu benar, Professor?"
"Ya, itu benar, Miss Granger. Mr Malfoy mencoba melakukan aksi bunuh diri tengah malam. Untung saja waktu itu ketua murid kita Mr Nott dan Miss Lovegood sedang patroli malam dan tentu saja mereka melihat Mr Malfoy sedang mabuk dan sudah pingsan lalu membawanya ke Madam Pomfrey. Nafasnya lemah, dan Madam Pomfrey mengatakan dirinya terkena depresi berat. Padhal sahabatnya Mr. Nott dan Mr. Zabini ingin mencoba membantunya dan mendekatinya tetapi tetap saja Mr. Malfoy tak ingin dibantu karena dia merasa tak butuh dikasihani. Dia selalu termenung setiap hari. Tentu kau bisa melihat jika dia sedang dikelas, dia tak pernah memperhatikan. Padahal sebentar lagi NEWT dan kondisinya semakin memburuk. Kuharap ada yang bisa membantu dan mendampinginya melewati masalah yang sedang dia hadapi," jelas Prof. McGonagall panjang lebar.
Entah malaikat apa yang waktu itu terlintas dibenak Hermione, tiba-tiba saja ada perasaan bahwa dia harus menolong Draco Malfoy.
"Aku ingin membantunya, Prof. bisakah kau membantuku menemuinya?" ucap Hermione setengah sadar mengucapkan hal gila itu.
"Baiklah. Ku harap kau bisa membantu, Miss Granger. Aku percaya padamu. Kau adalah murid favoritku. Aku yakin kau pasti bisa membantunya" Prof. McGonagall tersenyum lalu pergi menuju ruang bawah tanah, ruang asrama Slytherin, disusul Hermione Granger yang tak henti-hentinya menggeleng-geleng kepala akibat keputusan gilanya.
Entahlah. Malaikat apa yang sedang merasuk ke dalam tubuh Hermione hingga bisa-bisanya dia diruang asrama Slytherin bersama rivalnya, Draco Malfoy tadi. Menjanjikan untuk membantunya lagi. Dunia sepertinya sudah tua, ya?
Entah kenapa hati kecilnya sedikit bersimpati melihat keadaan Draco yang kacau seperti itu. Seperti anak kehilangan induknya. Tak tahu arah mana yang akan dituju. Dan dengan dorongan hatinya yang terdalam, Hermione berjanji akan membantu Draco dan mengembalikan semangat hidupnya seperti sediakala.
Hermione merasa lega sekaligus senang. Dengan mudahnya Draco memberi akses mengijinkan Hermione membantunya. Berharap ini adalah awal yang baik untuk hubungannya dengan Draco selama 6 tahun ini, mengingat mereka adalah musuh besar sebelumnya. 'Kuharap kau cepat sembuh, Malfoy. Entah kengapa aku rindu kau yang selalu ingin membuatku marah karena sifat-sifat konyolmu itu' batin Hermione.
Disisi lain ternyata Draco sepemikiran dengan Hermione. Entah malaikat apa yang merasuk ke dalam tubuhnya sehingga ia menyetujui ide gila cewek yang telah menjadi rivalnya bertahun-tahun itu. Berharap Hermione bisa membantunya, entah kenapa dari sisi terdalamnya, dia yakin gadis itu bisa membantunya. 'Kuharap kau bisa membantuku, Granger. Entah kenapa aku rindu kau yang selalu membuatku marah karena mulutmu yang tak pernah berhenti kembang-kuncup itu' batin Draco.
Tanpa mereka sadari, mereka tersenyum.
Matahari kini bersembunyi dibalik awan abu-abu, sepertinya malas untuk menampakkan wajahnya karena beberapa minggu ini kota London terguyur hujan deras. Berhibernasi, mungkin? Draco beranjak keluar Hogwarts, menuju Danau Hitam.
Draco duduk dibawah pohon oak dan menyenderkan bahunya ke batang pohon itu. Suasana danau hitam yang tenang membuatnya betah berada disini. Setidaknya begitulah caranya menghabiskan waktu liburnya. Draco pun mengeluarkan sebuah buku dan membacanya. Sebentar lagi NEWT dan dia harus lulus dengan nilai yang baik. Dia tak berharap mendapat terbaik, lagipula dia memang tak pernah menjadi yang terbaik. Dia selalu menjadi yang terburuk.
Draco kembali memfokuskan atensinya ke buku yang sudah dibukanya. Saking fokusnya, sampai tak sadar disampingnya telah duduk seorang gadis berambut ikal coklat.
"Sedang membaca?" Hermione mengiterupsi kegiatan Draco. Entah kenapa Hermione merasa senang Draco belajar untuk NEWT yang akan dilangsungkan beberapa bulan lagi.
"Kau bisa melihat, bukan?" ucap Draco sinis. Aling-aling tanpa mengalihkan pandangannya dari si buku.
Hermione terdiam. Lalu mengalihkan pandangannya kedepan dan…."Hey lihat! Ada pelangi!" ucap Hermione senang sambil menunjuk pelangi yang ada didepannya.
Draco ikut memandang ke arah yang ditunjuk Hermione. Lalu kembali membaca buku yang dipegangnya.
Hermione tersenyum melihat kelakuan Draco.
"Kau tahu, Malfoy. Pelangi adalah sebuah ungkapan agung sang pencipta, dimana ia baru muncul setelah hujan terkadang juga badai, disambut dengan sinar matahari maka akan memantulkan cahaya, pelangi merupakan fenomena optik dan meteorologi yang menghasilkan spektrum cahaya. Begitu rumit bukan cara terbentuknya? Begitu juga kita. Anggap saja masalah seperti hujan atau badai. Dan anggap sinar matahari itu adalah ibumu, kau tak mau ibumu sedih bukan melihatmu seperti ini? Hidup ini selalu memiliki pilihan. Tinggal kau yang memilih mau menjadi seperti apa. Mau melanjutkan hidup atau berhenti sampai disini. Ingat ibumu, Malfoy. Dia sangat membutuhkanmu disituasi getir dalam keluarga kalian".
Draco melirik ke arah sampingnya. Memang benar apa katanya, tetapi teori itu mudah diucapkan dibanding praktek. Tau apa dia tentang diriku? Masalahku? Ibuku? Dasar, nona-sok-tahu yang hanya mengandalkan teori anehnya itu.
"Kau tak tau apa-apa tentangku, Granger. Jangan sok tau dengan masalah orang lain. Jangan kau pikir dengan teori-teori yang ada dikepala besarmu itu bisa menyelesaikan masalah orang lain" ucap Draco, lalu memandang ke depan. Memandang pelangi. 'Indah', batinnya.
Tetapi dunia ini terlalu gelap buat Draco Malfoy. Dihidupnya hanya ada warna hitam yang menghiasi dirinya. Tak seperti pelangi.
Hermione tak menanggapi perkataan Draco yang bisa menyakitkan hatinya. Dia sudah berjanji dengan dirinya sendiri untuk tak membawa perasaan dalam misinya membantu Draco sembuh seperti semula.
"Hidupku hanya terdapat warna hitam. Sepertinya percuma aku hidup. Mom juga lebih menyelamatkan kekayaannya. Walaupun aku tau, dia menganggapku lebih dari segalanya"
"Kau tau dia menganggapmu dari segalanya berarti kau berada ditingkat atas ketimbang kekayaanmu itu"
"Entahlah. Seperti yang kubilang tadi. Hidupku hanya ada warna hitam. Hampa…"
"Kalau begitu izinkan aku menjadi sinarmu, agar warnamu tak lagi hitam"
"Apa maksudmu, Granger?"
"Pelangi terbentuk pada awalnya dari awan yang hitam lalu hujan dan ketika berhenti sinar matahari akan memantulkan cahaya putihnya. Lalu menjadi spektrum cahaya, seperti yang kita lihat saat ini. Ya, berbagai warna dihiasi oleh hitam dan putih" ucap Hermione tersenyum.
"Aku takkan membiarkanmu kesepian. Itulah sebabnya aku disini. Saat ini. Sebenarnya aku tak ingin ke sini, aku lebih memilih tidur dikasurku yang empuk. Tetapi melihatmu kesini, aku mengikutimu. Aku tak mau kau menyendiri lagi"
"Kalau begitu, jadilah sinarku"
Draco dan Hermione saling memandang. Terselip harapan dibalik mata Draco. Mereka tersenyum. Penuh arti.
Tanpa mereka sadari, seseorang sedang mengintip dari belakang pohon lainnya.
"Darimana saja kau, Mione?" tanya Ron tiba-tiba saat Hermione baru keluar dari lukisan Nyonya Gemuk menuju ruang rekreasi Gryffindor.
"Hanya berjalan-jalan saja, Ron" jawab Hermione. Tak mungkin kan dia bilang baru saja dari danau hitam menemani Malfoy? Bisa-bisa Ron mengamuk dan menghancurkan barang-barang sekitarnya.
"Oh ya— ucap Ron sinis. Tak percaya dengan apa yang dikatakan Hermione.
"Kau kenapa sih, Ron? Aku baru saja keluar sebentar dan kau menyambutku dengan wajahmu yang kusut. Apa salahku? Aku ca—
"Cukup, Hermione!" bentak Ron yang lebih menekankan kata 'Hermione'. "Sudah cukup kebohonganmu itu. kau baru saja bertemu dengan kekasih gelapmu itu kan? Darah murni sialan!"
Hermione terkejut bukan kepalang. Bagaimana kekasihnya, Ron bisa tau? Padahal tak ada yang tau upayanya membantu Draco, kecuali Professor McGonagall pastinya. Apa Professor McGonagall memberitahunya? Ah, tidak mungkin. Dia kan sudah berjanji tak akan memberitahu siapapun. Atau jangan-jangan Ron menguntitnya?
"Ya, Hermione. Aku menguntitmu," ucap Ron seolah-olah dapat membaca pikiran Hermione.
"Aku hanya ingin membantunya, Ron. Dia sedang depresi. Seharusnya kau mengerti," ucap Hermione melembut. Dia tau jika Ron dijawab dengan bentakan maka emosinya bisa berkali-kali lipat bertambah. Hermione tak mau perang dengan kekasih yang disayanginya itu.
"Tapi kenapa harus kau, Hermione? Kau tau kan aku—oh, maksudku kita bermusuhan dengannya. Kau sendiri yang mengatakan kepadaku dan Harry untuk jangan ikut campur dengan urusannya. Terus kenapa sekarang kau mengkhianati perkataanmu itu?"
Benar apa yang dikatakan Ron. Sejujurnya dia tak mengerti apa alasannya menolong Draco. Dia hanya mengikuti kata hatinya, walaupun otaknya berlawanan.
"Aku berubah pikiran, Ron. Aku rasa aku setuju dengan Harry untuk jangan memercikkan api permusuhan lagi. Dia sudah berubah dan aku percaya itu"
"Kenapa kau bisa percaya begitu saja, Mione?" Ron kembali memangil Hermione dengan nama kecilnya, Mione. Pertanda emosinya mulai mereda.
"Karna dia tak mengejekku, membentak ataupun mengomentariku lagi. Dia bahkan mengijinkanku membantunya untuk bangkit dari keterpurukannya itu. Dan bagaimanapun juga kita harus membantunya, Ron. Kau tak mau kan dia melancarkan kutukan avada kedavra pada dirinya sendiri. Dia seperti kehilangan semangat hidup. Dia….menakutkan"
"Kalau itu keputusanmu, aku mendukungmu, Mione. Tapi ingat, jangan sekali-kali mengkhianatiku, dear. Karena kau tau kan, aku sangat-sangat mencintaimu. Aku tak mungkin dapat hidup tanpamu. Mungkin aku bisa seperti Malfoy yang setiap hari termenung, menyendiri, kesepian dan mengalami depresi berat jika kau tak ada disisiku"
Hermione bergidik ngeri.
"Akan selalu kuingat kata-katamu, Ron"
Ron tersenyum. "Ayo, Mione. Kita ke aula besar sekarang, aku sudah lapar dan ingin makan yang banyak," ajaknya.
"Dasar. Makanan saja yang kau pikirkan," gerutu Hermione.
"Ah, tidak juga. Kau yang selalu dipikiranku, Mione"
Hermione hanya senyum-senyum mendengar jawaban kekasihnya itu. Lalu pergi melenggang ke aula besar sambil berpegangan tangan erat dengan Ron.
Draco masih menyandarkan bahunya dipohon oak. Tetapi tak membaca buku lagi, malah melihat pelangi yang masih bertengger didepannya. Mengingat kembali percakapannya dengan gadis yang dulunya adalah musuh besarnya. Tunggu. Dulu? Draco hanya tersenyum tak jelas. Tunggu. Tersenyum? "Sepertinya depresiku bertambah berat" ucapnya pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya lalu beranjak dan kembali ke Hogwarts.
Draco menyusuri koridor menuju asrama Slytherinnya, tiba-tiba atensinya menuju ke sosok seorang gadis berambut ikal coklat bersama dengan kekasihnya memasuki aula besar. Entah kenapa perasaan aneh muncul dihatinya. Draco tak ingin menghiraukannya, dikepalkan tangannya lalu menumbuk pilar didekatnya, menghilangkan rasa aneh itu. Dengan langkah gontai pergi berjalan menuju asramanya.
TBC…
Gimana? Sudah lebih baik dari sebelumnya? Review sangat dibutuhkan. Please don't be a silent reader. Yg review semoga mendapat pahala berlipat-lipat, apalagi udah ngebantu aku agar menulis lebih baik lagi. Sebenernya mau update cepat, tapi ada beberapa halangan. Next, mungkin?
Yang punya akun reviewnya udh dibales lewat PM, ya. Dan yg tdk ini balasan reviewnya : ) x
dramionelovers:hihi maaf sdh membuat kamu bingung dgn POV-nya. Ini chapter 2 nyaa:)
Zulfanurrahmani: Ini chapter 2 nya sdh update.. udah dibuat panjang dri sebelumnya, semoga memuaskan:)
Satu lagi! Mau ngucapin 'SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI' buat pecinta Dramione Indonesia yang sedang merayakannya. Belum telat, kan? ^^ Dan juga 'Happy Birthday' utk Bunda Rowling yang sudah membuat cerita yang sangat-sangat spektakuler juga Harry Potter dan Neville Longbottom yang sangat-sangat pemberani.
So, review?
