"Aku mencintainya, appa. Sangat. Bisakah kau batalkan pertunangan ini? Aku hanya bahagia dengan Sehun" kata Luhan sambil meraih gaun itu, menatap gaun itu dalam. Membayangkan ia memakai gaun itu, bertukar cincin dengan Sehun yang sangat tampan dan memakai tuxedo berwarna putih yang pas di badannya. Membayangkan hal itu, air matanya membasahi gaun itu. Ia ingin bertunangan dengan namja yang sangat ia cintai, bukan namja yang tidak ia cintai, bahkan ia baru saja mengenalnya kurang lebih sebulan yang lalu. Luhan benar-benar merasa hidupnya akan berakhir dalam tiga hari jika seandainya ia putus dengan Sehun. Bayangan-bayangan Sehun yang mengetahui ia akan bertunangan hinggap di kepalanya membuat ia pusing.

.

.

.

DANDELION

Genre : Romance, Angst

Rated : T

Main cast : Xi Luhan, Oh Sehun

Other cast : Baekhyun, Xiumin, Wu Yifan

Length : Chaptered

Disclaimer :

Pemeran merupakan milik Agensi, Orang tua mereka, dan Tuhan. Aku hanya meminjam nama. FF ini murni buatanku sendiri.

.

.

.

Ibunya mengusap punggung Luhan. Ia menatap suaminya berang, "Tak bisakah kau tidak egois pada anakmu sendiri, huh? Dia tidak ingin bertunangan dengan Yifan. Dia hanya ingin Sehun. Apa kau tak punya hati?"

"Kau diamlah. Seharusnya kau berpihak padaku. Bukan berpihak padanya. Aku tidak mau tahu, pertunangan itu tetap akan dilaksanakan. Jangan membantah lagi" bentak ayahnya kemudian berlalu melewati ibu dan anak itu dan memasuki kamarnya.

"Lu, yang sabar, ya. Eomma tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk membatalkan pertunangan ini. Appamu sekarang tidak bisa diajak berbicara baik-baik lagi. Padahal eomma juga berharap kau memakai gaun seperti ini dan bertunangan dengan Sehun. Bukan dengan anak rekan bisnis appamu. Eomma sangat merestuimu dengan Sehun"

Luhan memeluk ibunya dengan erat. Ia menghempaskan gaun itu ke lantai dan menangis sebisanya. "Eomma, apa yang harus kulakukan? Aku tidak ingin mengakhirin hubunganku dengan Sehun. Aku sangat mencintainya, eomma. Apa jadinya kalau dia tahu aku akan bertunangan?"

"Ssssttt, uljima, putriku. Kau pasti akan bersama dengan Sehun nantinya. Sang tuan putri pasti akan bersama dengan sang Pangeran. Tapi itu di akhir cerita. Kau pasti ingat dongeng yang sering eomma ceritakan ketika kau masih kecil, kan? Sang putri tidak mungkin bersama dengan orang lain. Takdir sang putri pasti bersama sang pangeran. Kau tentu percaya dengan 'akhir yang bahagia', bukan? Eomma selalu mendukungmu"

"Eomma, malam ini tidur denganku, ne? Ceritakan dongeng-dongeng itu lagi" pinta Luhan dengan wajah sembab penuh air mata. Ibunya menghapus linangan air mata itu, dan tersenyum. "Baiklah. Eomma akan tidur denganmu. Kau mandi dulu, eomma akan menyiapkan makan malam. Kau belum makan malam, kan? Bagaimana ujian terakhirmu tadi siang?"

"Baiklah, aku akan mandi. Ujian terakhirku sukses eomma. Ini juga berkat eomma yang selalu mendoakanku ketika aku akan berangkat ujian"

.

.

.

Pagi yang indah, karena hari ini murid kelas dua belas sudah diizinkan untuk libur, mereka akan hadir ke sekolah kalau sedang mengurus keperluan untuk masuk universitas dan persiapan acara kelulusan.

Mood Luhan masih belum membaik juga sejak kejadian kemarin, ia berharap kejadian kemarin hanya mimpi, ternyata tidak. Kemarin sungguh nyata. Ia bangun dari tidurnya, dan tidak menemukan ibunya di sampingnya. Ia mengernyit bingung.

"Eomma, eodisseoyo?" panggil Luhan. Tak ada jawaban. 'Mungkin di dapur', pikirnya. Ia bangun dari ranjangya, dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Setelah membersihkan diri dan memakai pakaian, Luhan keluar dari kamarnya, menuju dapur di lantai satu. Di sana ia menemukan ibunya sedang menyiapkan sarapan.

"Selamat pagi, eomma" sapa Luhan sambil mencium pipi ibunya. Ibu Luhan tersenyum dan membalas sapaan Luhan, "Selamat pagi. Jja, kita sarapan"

"Eomma banyak sekali membuat sarapan. Siapa yang akan memakannya eomma?" tanya Luhan bingung.

"Tadi ada telepon, Yifan katanya ingin ke sini. Tidak tahu untuk apa. Mungkin ingin mengajakmu jalan-jalan"

"Eomma… kalau aku tunangan dengan Yifan, Sehun bagaimana?" tanya Luhan.

"Menurut eomma, turuti saja dulu kata appamu, kau putuskan dia… tak apa, kan? Ini hanya tunangan, kau tenang saja… sewaktu-waktu bisa dilaksanakan atau dibatalkan. Eomma juga tak ingin kau dengan Yifan. Lihat nantinya saja bagaimana" saran ibu Luhan.

"Bagaimana caranya aku memutuskan hubunganku dengan Sehun, eomma?"

"Tanyakan pada dirimu sendiri, Lu. Kau yang lebih tahu kau harus bagaimana"

"Baiklah… semoga saja tidak terjadi musibah kalau aku menuruti kata appa" Luhan menghembuskan napasnya sambil memakan sarapannya. Tak lama, terdengar bel pintu berbunyi. Refleks Luhan meninggalkan sarapannya dan membukakan pintu.

"Annyeong.." sapa seseorang di balik pintu berwarna putih itu. Luhan tercengang, melihat Yifan berada di pintu depan. Ia mendongak, menatap Yifan.

"Ada apa?" tanya Yifan. Luhan menggeleng pelan, "Kau terlalu tinggi, aku jadi lumayan susah kalau ingin berbicara denganmu. Silahkan masuk"

"Kau yang terlalu pendek. Ah, mian" Nyali Yifan mendadak ciut ketika Luhan menatapnya seperti ingin membunuh ketika ia mengatakan Luhan pendek.

"Aku sedang sarapan. Kau sudah sarapan?"

"Sebenarnya sudah. Tapi tak apa lah kalau aku sarapan dua kali. Ibumu sudah membuatkan sarapan yang lebih, bukan?"

"Untuk apa kau ke sini?" tanya Luhan lagi sambil mengajak Yifan ke ruang makan dan mendudukkan dirinya di kursi tempat ia memakan sarapannya tadi. Yifan duduk di sebelahnya, membungkuk sedikit pada ibu Luhan dan tersenyum tipis, yang dibalas anggukan oleh beliau.

"Aku ingin mengajakmu ke taman pagi ini. Kau tidak sibuk, kan?"

"Um, sepertinya tidak. Nanti siang mungkin aku akan pergi"

"Oh, begitu. Kau tak keberatan kan kalau kuajak ke taman sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan?"

"Aku tidak keberatan. Eomma, sehabis sarapan aku pergi dengan Yifan sebentar, ya?" izin Luhan.

"Kalau tidak lama, tidak masalah, Yifan-ah" kata ibu Luhan sambil meletakkan secangkir teh hangat dan roti panggang ke hadapan Yifan. Yifan menggumamkan terima kasih, lalu melahap sarapan yang diberikan oleh ibu Luhan.

.

.

.

Taman itu terlihat sepi. Ya, karena ini sudah jam kantor dan para pelajar sedang berkutat dengan buku pelajaran di sekolah. Hanya beberapa orang yang terlihat berbincang santai di sana sambil duduk bersama teman-temannya. Mungkin mereka juga kelas dua belas yang sedang refreshing sehabis ujian.

"Kau ingin membicarakan apa sampai kau mengajakku ke sini?" tanya Luhan membuka percakapan. Ia duduk di bangku ayunan yang kosong kemudian berayun pelan. Ia menatap Yifan yang berdiri di sampingnya, kemudian ikut duduk di ayunan sebelah milik Luhan. Hanya berdiam, tidak berayun seperti yang sedang Luhan lakukan.

"Aku menyukaimu…" kata Yifan, spontan. Luhan berhenti berayun. Menatap Yifan ingin tahu.

"Mwo? Apa maksudmu?" tanya Luhan bingung.

"Sebenarnya aku sudah mengenalmu lumayan lama, jauh sebelum kita bertemu pertama kali di toko buku. Aku mengenalmu dari ayahmu yang memberikan fotomu padaku. Beliau bilang padaku, kalau aku sudah menjabat CEO di perusahaan ayahku, maka kau akan segera menjadi pendampingku. Saat melihat fotomu, aku mulai tertarik, dan menyetujui usul ayahmu agar kau ditunangkan terlebih dahulu denganku sampai kau akan lulus kuliah nanti. Dan, ketika pertama kali kita bertemu di toko buku, aku merasa pilihanku untuk menyetujui usul ayahmu, bukan hal yang buruk. Kau cantik, dan juga manis. Aku benar-benar menyukaimu…" jelas Yifan panjang lebar. Luhan menunduk, kemudian menatap Yifan dengan murung.

"Yifan-ah… aku…"

"Kenapa? Aku begitu bersemangat ketika kita akan dijodohkan. Aku… sangat senang" Yifan bertanya sembari menggenggam tangan Luhan.

"Tapi aku tidak…"

"Kenapa?" tanya Yifan lagi. Menatap Luhan yang semakin menundukkan wajahnya.

"Sehun…" ucap Luhan lirih, hampir tidak terdengar. Yifan terdiam sejenak. Dia memang tahu jika Luhan masih belum putus dengan Sehun.

"Aku bisa membatalkan pertunangan ini kalau kau tidak ingin. Aku bisa membicarakannya dengan ayahmu. Aku tidak bisa melihatmu tersiksa kalau kau menjadi tunanganku"

"Ani… tidak perlu. Aku akan membicarakan tentang ini kepada Sehun nanti siang. Aku tak ingin semakin merepotkan orang tua kita jika seandainya kita membatalkan pertunangan ini secara mendadak. Mudahan saja Sehun bisa mengerti" Luhan memandang wajah Yifan dengan senyum terukir di wajahnya. Senyum palsu. Yifan menyeringai tipis, yang tidak dapat dilihat oleh retina Luhan.

"Baiklah. Eum, bagaimana besok malam kita makan malam? Setelah itu aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Bisa?" tanya Yifan sembari berdiri dari ayunan.

"Ya"

"Besok malam kujemput kau jam delapan. Oke? Jja, kita pulang sekarang. Aku takut ibumu akan mengira aku penculik karena terlalu lama membawamu pergi"

"Kau berlebihan. Ibuku tidak mungkin seperti itu…"

"Bisa saja, kan? Dulu aku pernah dikira penculik hanya karena aku ingin membawa seorang anak kecil yang menangis karena tersesat di taman kota"

"Benarkah? Tampangmu memang menyeramkan sih, cocok lah kalau kau disangka penculik. Hey, aku bercanda! Kenapa kau merajuk, huh?"

.

.

.

Dering bel itu berbunyi ketika seseorang membuka pintu kedai. Seorang ahjumma keluar dari dapur dan berdiri di depan kasir.

"Eoseoseyo. Ingin memesan apa?" sapa ahjumma itu ramah. Pemuda itu tersenyum kemudian menyebutkan dua porsi pancake coklat, satu cup bubble tea rasa coklat dan satu cup bubble tea rasa taro.

"Baiklah. Akan kami buatkan. Silahkan duduk" balas ahjumma tersebut sembari membawa catatannya ke dapur. Pemuda itu kemudian duduk di salah satu sudut kedai yang mejanya bersebelahan dengan jendela.

To: Luhannie deer

Aku sudah berada di kedai. Kau ada di mana?

From: Luhannie deer

Aku sedang di jalan. Tunggu aku lima menit. Oke?

To: Luhannie deer

Baiklah. Aku akan selalu menunggumu, deer. Selamanya. Kkk~~

From: Luhannie deer

Jangan menggombal kepadaku. Itu tidak mempan :p Hehe, aku bercanda *peace*

Ia meletakkan handphonenya di atas meja. Menatap ke luar jendela, orang-orang berlalu lalang di jalanan. Tak lama, pesanannya datang. Sehun tersenyum, "Kamsahamnida, ahjumma"

"Ne, selamat menikmati"

Sehun menyeruput Bubble tea nya sedikit, kemudian kembali memperhatikan keadaan di luar jendela. Tiba-tiba, matanya seperti ditutup oleh sesuatu. Ia meraba, kemudian merasakan sepasang tangan kecil yang menutupi matanya. Kemudian, ia bisa merasakan aroma parfum yang sudah familiar ia simpan dalam memori otaknya. Ia tersenyum kemudian menggerutu,

"Lu, tidak usah sok misterius. Aku tahu itu kau"

Terdengar decakan kesal dari Luhan. Ia melepas tangannya yang menutupi pandangan Sehun, kemudian duduk di seberangnya. "Kau kenapa bisa langsung tahu, sih? Pura-pura tidak tahu dulu bisa, kan? Kau merusak moodku"

"Ya! Parfummu itu tidak berubah sejak pertama kali kita bertemu di Junior High School. Kau lupa, eoh?" Sehun terkikik geli sambil memotong pancake di hadapannya. Luhan meminum bubble tea dan pancake miliknya sambil menunduk.

"Jangan merajuk. Aku hanya bercanda. Ya! Lu…"

"Aku tidak merajuk"

"Ekspresimu tidak bisa berbohong… Lihat aku, Lu. Aku minta maaf oke. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Ya?" Sehun mencubit pipi Luhan pelan, yang dibalas pelototan oleh Luhan.

"Bagaimana setelah ini kita ke bukit Dandelion? Sudah hampir dua minggu kan kita tidak ke sana?" tambah Sehun.

"Benarkah? Ayo kita ke sana!" pekik Luhan bersemangat.

"Baiklah. Habiskan pancake dan bubble tea nya. Setelah itu kita pergi ke sana"

.

.

.

"Sehunnie, ayo kita selca!" kata Luhan sambil mengeluarkan handphone miliknya. Ia membuka aplikasi kamera dan mengarahkan tangannya ke depan. Sehun yang jarang selca hanya tersenyum datar ke arah kamera, membuat Luhan berdecak. "Senyummu jangan datar seperti itu. Aku seperti sedang berfoto dengan manusia berwajah papan. Senyum!" Luhan menarik kedua sudut bibir Sehun sehingga terbentuk sebuah senyum manis. Luhan tertawa puas, kemudian kembali mengarahkan tangan kanannya yang sedang memegang handphone ke depan.

"Hanadulset!"

Cklik!

"Sehunnie, foto lagi" cengir Luhan.

"Ini sudah ke berapa puluh kalinya, Lu. Kau ingin membuat album foto? Kau saja foto sendiri. Aku lelah tersenyum terus"Sehun menjauhkan dirinya dari Luhan.

"Sehunnie, aku ingin mengabadikan kita lewat foto. Kau ini tidak narsis sekali"

"Biasanya juga kau jarang berfoto. Ah, sudahlah. Aku mengantuk" Sehun merebahkan dirinya di paha Luhan, kemudian menutup matanya menggunakan langan kanannya. Luhan tersenyum, kemudian menyimpan handphonenya di tas, lalu mengusap rambut hitam pekat milik orang yang paling ia cintai. Yang ia inginkan kehadirannya di sepanjang hidupnya.

"Hun…" panggil Luhan.

"…."

"Hun…"

"…"

"Kau mendengarkanku tidak, sih?"

"…"

"Sehunnie… kau benar-benar tidur?"

"…"

"Sehunnie sayang… sehunnie tampan?" panggil Luhan untuk yang terakhir kalinya. Kalau sampai kali ini tidak dijawab, ia bersumpah akan mengurung Sehun ke dalam kandang harimau.

"Ne, Luluku yang cantik? Ada apa?" Sehun membuka matanya dan langsung menatap ke manic mata Luhan. Luhan mencebikkan mulutnya.

"Tidak jadi"

"Ya! Katakan, ada apa, eoh?"

"Kau dari tadi tidak mendengarkanku"

"Kali ini aku akan mendengarkan. Cepat cerita"

"Itu… aku ingin menanyakan beberapa hal"

"Mwo?"

"Jika… aku tidak bisa bersamamu lagi, bagaimana menurutmu? Kau akan bagaimana?" tanya Luhan gugup. Sehun mengernyitkan alisnya bingung, kemudian ia bangun dan menatap lekat ke arah Luhan yang sedang menunduk.

"Apa maksudmu? Kau ingin kita putus?" tanya Sehun. Luhan menganga dibuatnya.

"Bukan begitu. Aku kan tadi sudah bilang, jika. Seandainya saja, Sehun. Seandainya bukan berarti aku ingin itu menjadi kenyataan"

"Seandainya kita tidak bersama lagi? Mungkin… aku akan hidup sendiri sampai kau kembali padaku"

"Kau kan bisa mencari yeoja lain. Banyak yeoja yang mengagumimu"

"Tapi aku tidak tertarik dengan mereka. Aku hanya tertarik padamu"

"Baiklah… satu pertanyaan lagi. Seandainya ayahku menjodohkanku dengan namja lain, kau akan bagaimana?"

"Hahaha… tidak mungkin, Lu. Kalau kau dijodohkan, kau pasti melawan kehendak ayahmu sampai ayahmu membatalkan rencana perjodohan itu. Kau kan yang paling bisa membuat ayahmu menyerah dengan sifatmu itu. Ibumu sering bercerita kalau ayahmu paling tidak bisa melihatmu marah. Tidak mungkin, kan kalau kau akan dijodohkan? Kau lucu sekali, Lu" Sehun tertawa keras mendengar pertanyaan terakhir Luhan. Sehun hanya beberapa kali bertemu ayah Luhan, itupun hanya sebentar, ketika mereka masih Junior High School.

"Tertawa saja sampai kau tidak bisa tertawa lagi, Oh Sehun" bentak Luhan. Sehun berhenti tertawa, namun masih terkikik geli.

"Mian, aku tidak bermaksud…"

"Tak usah dibahas lagi…"

"Aku ada cerita. Mau mendengarnya?" tawar Sehun. Luhan menatapnya ingin tahu, "Cerita tentang apa?"

"Tentang dandelion, tentu saja" Sehun mengalihkan pandangannya ke hamparan Dandelion di depannya.

"Bagaimana ceritanya?"

"Pada suatu hari, di negeri bunga sedang mengadakan pemberian penghargaan untuk bunga terbaik. Peri bunga yang merupakan ratu dari negeri tersebut mengumpulkan semua bunga-bunga yang ada di negerinya. Mereka semua memiliki keindahan masing-masing. Sambil menunggu peri bunga datang ke tempat acara, mereka semua memamerkan kecantikan dan kelebihan yang mereka miliki…"

"Lalu?"

"Melati berkata, 'lihatlah warnaku yang berwarna putih, aku cantik, wangiku menarik perhatian banyak orang. Pasti aku yang akan mendapat penghargaan itu'. Lalu, mawar membalas, 'belum tentu, akulah yang akan menang karena wangimu tak sebanding denganku. Warna dan bentukku juga indah dan menawan. Aku adalah lambang cinta dan kasih sayang'. Lalu bunga matahari datang dan menyahut, 'kalian semua tak usah berbangga dulu. Semua juga tahu kalau aku adalah bunga lambang keceriaan. Bentukku besar, bulat dan ceria sehingga aku dinamakan bunga matahari'"

"Kemudian, tak lama datang juga bunga kaktus dan dia angkat bicara, 'hei, ratu hanya memberikan penghargaan kepada bunga yang memiliki keistimewaan. Itu sudah pasti aku. Aku memang tak seindah kalian, tapi aku bisa bertahan hidup di daerah yang sangat tandus. Tubuhku dapat menyimpan banyak air'. Semua bunga yang berkumpul sudah angkat bicara tentang keistimewaan mereka. Kecuali satu bunga yang sedari tadi diam. Dia adalah Dandelion"

"'Lihatlah bunga dandelion itu. Dia tidak mampu berbicara karena dia tidak memiliki keistimewaan apa-apa. Dia tidak seindah mawar, dia tak secerah bunga matahari, dia tidak sewangi melati, dan juga dia sangat rapuh, tidak seperti kaktus. Tertiup angin sedikit saja dia langsung terbawa angin. Hahaha' sindir bunga anggrek, yang membuat dandelion tertunduk malu. Dia tidak merespon sindiran bunga lain. Dalam diamnya, dia mencoba untuk menjadi lebih tahu diri dan rendah hati. Dia yakin, dia memiliki kelebihan, meskipun dia sendiri belum mengetahui kelebihan itu"

"Tak berapa lama,peri bunga tiba dan semua yang ada di dalam ruangan langsung terdiam. Lalu, peri bunga memberikan beberapa kata sambutan, dan kemudian memberikan pengumuman nama bunga yang mendapat penghargaan darinya. Semua bunga terkejut karena di luar dugaan mereka, nama dandelion adalah bunga yang mendapat penghargaan. Banyak yang bertanya-tanya dan merasa tak terima. Kau tahu kenapa dandelion bisa terpilih dari banyaknya bunga yang banyak memiliki keistimewaan itu?"

"Memangnya apa?"

"Peri bunga berkata, 'bulan lalu ketika aku melewati sebuah pulau yang tandus dan tak berpenghuni, hanya terdapat tanah kosong dan bebatuan. Lalu, kemarin secara tak sengaja aku melewati pulau itu, dan aku sangat takjub. Pulau itu terlihat lebih hidup, lebih hijau karena dipenuhi oleh bunga-bunga dandelion yang menari indah ditiup oleh angin. Mungkin bunga dandelion tak seindah mawar, tak sewangi melati, tak secerah bunga matahari, dan tak sekuat kaktus. Tapi, dandelion adalah bunga lemah yang suka kebebasan. Dia akan menari dan mengikuti kemana angin membawanya. Sehingga dia bisa terbang jauh ke negeri antah berantah. Dan ketika bibit yang terbawa angin itu terjatuh ke tanah, dan tersiram oleh air, maka dia akan hidup dan terus berkembang. Maka dari itu, dandelion dijuluki bunga kehidupan. Karena di mana ia tumbuh, di sana kehidupan baru muncul'"

"Woah, daebak! Lalu, bagaimana dengan reaksi bunga-bunga yang menyindir dandelion itu?" tanya Luhan penasaran.

"Mendengar penjelasan dari peri bunga itu ya sudah jelas kalau bunga-bunga itu merasa malu. Lalu, mereka mulai tersadar bahwa kelebihan suatu hal itu tak hanya dapat dinilai dari apa yang bisa dilihat, tapi dari apa yang dapat dia lakukan. Bagus ya, ceritanya?" Sehun menggenggam tangan Luhan dan mencium punggung tangannya, membuat pipi Luhan memerah. 'Bagaimana aku akan memutuskan hubunganku dengan Sehun, kalau ia bersikap manis padaku seperti ini. Ya Tuhan, bantu aku' batin Luhan.

"Ya, sangat bagus. Aku sangat menyukai dandelion sekarang. Lebih dari aku menyukai bunga-bunga lain. Mungkin, suatu saat aku akan menanam bunga dandelion di taman belakang rumahku" kata Luhan tersenyum tipis menghindari tatapan dari Sehun.

"Kau mau dandelion di taman belakang rumah? Baiklah. Nanti akan coba kubuatkan. Kau hanya terima beres, tuan putri. Jja, Oh Luhan, apa kau ingin pulang?" kata Sehun yang masih menggenggam tangan Luhan. Luhan menggeleng, "Nanti saja. Aku masih ingin di sini. aku masih ingin menghabiskan hari ini hanya berdua denganmu, Sehunnie…"

'Karena aku yakin, mulai besok, mungkin aku tidak bisa lagi menemuimu, menggenggam tanganmu dan mendengar tawamu'

"Saranghae, Sehunnie…" ucap Luhan sambil mengecup bibir Sehun singkat. Sehun terkejut, kemudian tersenyum dan balas mengecup bibir Luhan, "nado saranghae, Lu… Yeongwonhi"

.

.

.

To

Be

Continued

.

.

.

Yehet! Konfliknya makin kerasa nggak, sih? Nggak, kan? Iya, kan? /digampar/.

Konfliknya masih panjang deh kayaknya '-' Dari masalah Hunhan, Krishan, ditambah sama satu orang rahasia yang bakal jadi crack pair Hunhan, sama kayak Krishan '-'

Makasih yang selama ini ngereview dandelion *bow* ini bakalan happy ending kok~