Disclaimer: J.K. Rowling
Pairing: Draco Malfoy x Hermione Granger
Lagi-lagi telat update. Maafkan sayaaaaaa:'( lagi sibuk-sibuknya daftar ulang kuliah, lulus sbmptn kemaren *senengnyaa* tapi sekarang udah selesai daftarnya dan lagi-lagi ada waktu luang, jadi inilah dia chapter 3, ngebuatnya tengah malem buta._. Enjoy : ) xx
Chapter 3
Diammu memapahkanku ke ujung pertahananku
Pertahanan yang kujaga dan akhirnya terdesak dalam sepi
Dalam diammu, aku mendengar banyak suara
Diammu berkata-kata
Sepanjang perjalanan ke aula besar, dengan genggaman tangan Ron, Hermione berjalan sambil mendalami hatinya sendiri. "Tapi kenapa harus kau, Hermione? Kau tau kan aku—oh, maksudku kita bermusuhan dengannya. Kau sendiri yang mengatakan kepadaku dan Harry untuk jangan ikut campur dengan urusannya. Terus kenapa sekarang kau mengkhianati perkataanmu itu?" Kata-kata Ron terngiang-ngiang dipikirannya. Ron benar. 'Kenapa harus aku? Padahal dia selalu bersikap buruk kepadaku. Kenapa aku harus menolongnya?' batin Hermione bertanya-tanya.
Sesampainya didepan pintu besar aula, Hermione menyipitkan hazel coklatnya. Dirinya melihat Draco sedang menumbuk sebuah pilar didekatnya. Darah? Tangannya berdarah. 'Ah, sudahlah, dia bukan siapa-siapaku. Kenapa aku harus mengkhawatirkannya?', pikir Hermione. Lalu dirinya melangkahkan kakinya menuju aula besar bersama kekasihnya.
Setelah sampai dikamarnya, Draco terus merutuki diri sendiri. Kenapa dia harus menyakiti dirinya hanya karena melihat seorang gadis yang merupakan musuhnya bergandengan tangan dengan kekasihnya? Ini sangat tidak wajar baginya. Draco terus melontarkan kata-kata tak santun semacam nama-nama ejekan seperti kata ugly, red bad-head, snail, white-eyelashes dan sebagainya. Tapi, dari kata-kata ejekan itu tak satupun terlintas ejekan untuk Hermione.
Dirimu
Tak pernah terlintas dalam benak
Nama pun tidak
Sampai ketika pertemuan itu bermula
Hujan deras terus mengguyur kota London termasuk Hogwarts sepanjang hari. Entah kapan hujan ini berhenti. Hermione sedang duduk ditepi jendela sambil menyeruput susu coklat panasnya. Suara musik langit ini sangat mendamaikan hatinya, entah kenapa dia sangat menyukai hujan, mungkin karena mengingatkannya pada seseorang? Atau karena ini perjuangan sang pelangi muncul? Hermione sangat menyukai pelangi!
Draco sangat menyukai hujan. Alasannya sama dengan Hermione. Suara rintik derasnya mendamaikan hatinya. Tak logis? Mungkin. Tapi pernahkah kalian mendengar sebuah pepatah bahwa tiada yang tak mungkin didunia ini?
Pikiran Draco kembali mengingat pertemuannya dengan Hermione dibawah pohon oak. Pelangi, eh? Sepertinya dirinya tertarik untuk melihat pelangi, tak sendiri, tapi bersama gadis itu. Entah kenapa didekatnya, Draco merasakan damai, seperti saat ini, mendengar suara musik hujan kesukaannya sewaktu kecil. Sangat-sangat mendamaikan hatinya yang gundah. Kapan hujan ini reda? Oh, Tak biasa-biasanya Draco menyuruh hujan reda. Gila? Mungkin.
Pelangi. Hermione selalu mengaitkannya dengan kata cinta. Mengapa? Karena keindahannya, warna-warninya, dan perjuangan terbentuknya hampir sama konotasinya dari kata cinta. Dari kecil, Hermione selalu ingin melihat pelangi bersama orang-orang yang dicintainya. Hermione kecil selalu memandang pelangi dari halaman belakang rumah bersama orang tuanya. Draco? Mungkin itu pengecualiaan. Atau mungkin itu kebetulan? Oh, entahlah. Kekasihnya saja belum pernah diajaknya melihat pelangi, fenomena-indah-ciptaan-Tuhan.
Perasaan aneh kini mulai tumbuh dihati keduanya. Bukan perasaan mengasihani dan bukan perasaan meyakini.
Awalnya biasa
Lama-lama terbiasa, bersamamu
Ragu sudah berlalu
Pelangi kini mulai bercerita
Lagi. Hujan reda beberapa hari kemudian, tetapi masih sedikit gerimis. Draco langsung mengambil jaket hitam kesayangannya dan menyambar ke danau hitam, tepatnya dibawah pohon oak.
Benar dugaannya. Instingnya yang kuat mengatakan bahwa gadis yang diharapkannya memang disana.
"Sendirian, eh?", tanya Draco setelah sampai disana.
"Menurutmu?", acuh Hermione, padahal-dalam-hatinya-senang.
"Boleh aku duduk disampingmu?", sambil menujuk tempat duduk disamping Hermione.
Hermione hanya menganggukkan kepalanya.
Draco pun langsung duduk disampingnya.
Mereka hanya diam beberapa jam, memikirkan perasaan aneh dalam hati mereka. Hujan kini benar-benar telah reda. Mereka sedang menunggu suatu fenomena-indah-ciptaan-Tuhan. Dari ufuk barat terlihat kelap-kelip tujuh warna berbeda. Mereka hanya memandang kagum. Pelangi kali ini jauh lebih bersinar. Mungkin sang peri pelangi sedang bergembira. Atau sang peri sedang jatuh cinta? Mereka sama-sama tersenyum, memandang penuh arti, hingga tiba-tiba entah apa yang ada dibenak mereka, tiba-tiba saja mereka mendekatkan wajah. Terbawa perasaan aneh tersebut. Enam senti...empat senti...dua senti..dan...mereka kini saling menautkan bibir. Mencoba meresapi setiap jengkal bibir lawan dan terus merasakan gejolak perasaan yang entah kenapa merasa tenang dan damai. Draco tak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya kecuali pada satu orang, sang ibu. Jantung mereka berdetak kencang, Hermione memejamkan matanya diikuti oleh Draco. Mencoba mendalami dan memahami perasaan aneh itu. Draco menggigit bibir bawah Hermione pertanda meminta akses ke dalam dan seketika Hermione menurutinya. Dibukanya dan mulailah mereka melakukan aksi French kish. Draco menyusuri semua yang ada dimulut Hermione. Hermione mendesah perlahan. Tak disadari mereka sangat dekat. Tak ada celah. Draco memeluk Hermione kencang dan Hermione menjambak rambut pirangnya. Kebutuhan oksigen mulai berkurang. Perlahan mereka melepaskan ciuman mereka tetapi dengan wajah yang masih mendekat. Draco menangkup wajah Hermione. Hermione tersenyum. Dunia serasa milik berdua. Seperti tak ada hari lain, mereka kembali berciuman. Dibawah pelangi yang kini bersinar lebih cerah seakan mengerti situasi saat ini, dan disela-sela ciuman, Draco berkata "Aku mencintaimu…"
TBC...
"Saat aku mencintaimu, akupun memutuskan untuk terluka dan sakit hati." - Chapter 4 coming later!
PARAAAAAAAAHHHHHH! Lagi capek-capeknya daftar ulang, eh tiba-tiba keinget fict ini. Gaada ide tapi pengen lanjutin. Ya gini deh:( Tunggu akunya selesai urusan, baru deh buat fict yang panjaaaaaaaaaaaaaaaanggggggggg :D *promise*
Balasan reviewnya lewat PM aja yaa :)
So, Review? Ya ya? :')
