The Promise
.
.
.
Summary : Ketika berada di daerah konflik, pertikaian yang berujung pertumpahan darah pun dapat terjadi hanya karena sebuah celaan. Ino Yamanaka yang tak ada sangkut-pautnya dengan kedua pihak yang berseteru, tanpa sengaja terjebak dalam pertikaian tersebut. Bahkan aparat yang seharusnya menolong pihak netral seperti dirinya malah berniat membunuhnya! AU. Islamic Content.
Disclaimer : All characters belongs to Masashi Kishimoto. I own nothing except the plot :)
A/N : Bismillahirrahmanirrahiim. Pertama-tama, saya mau mengucapkan banyak terima kasih kepada yang udah berkenan mampir, baca, review, favorite dan follow fic apa adanya ini :') Terima kasih. Jazakumullah khairan katsir :)
Sekali lagi saya tekankan, pihak yang menyerang Palestina saya sebut disini sebagai penjajah/rezim tiranis/aparat penindas/militer opresif. (TIDAK menjurus pada agama tertentu seperti Yahudi, Nasrani atau yang lainnya.) Mari saling menghargai. Kedamaian itu indah :)
Warning: Alur cepet, OOC, gaje, abal, ide cerita mainstream, ngasal dan masih banyak kekurangan disana-sini. Mohon koreksi saya kalau ada kesalahan penulisan fakta atau apapun, Insya Allah akan segera diperbaiki. Jazakumullah khairan katsiran. Enjoy reading minna-san :)
.
.
.
"Urggh! Pegal juga lama-lama!" Ino akhirnya menurunkan ransel berat itu dari pundaknya setelah berjalan beberapa meter memanggul tas kesayangan sahabatnya yang memiliki senyuman aneh.
"Sai-kuuun… Kau bawa apa aja sih di dalam sini?!" Gadis itu lalu membuka retsletingnya dan memeriksa isi ransel yang selalu dibawa pemuda berambut legam itu saat bepergian.
Seperangkat alat memotret seperti kamera dengan berbagai macam lensa, sebuah tablet android, ponsel, topi, jaket, dan sorban. Mata biru Ino berkilat cerah ketika ia menemukan keffiyeh atau sorban putih bermotif kotak-kotak ungu dengan rumbai tipis menghiasi pinggirannya.
"Sai, aku pinjam sorbanmu yaa… Iya, Yamanaka-san, kau pasti ingin memakainya agar wajahmu tidak terbakar kan?! Kau tahu tidak, Yamanaka san? Neraka itu berjuta-juta kali lipat lebih panas dari ini loh." Ino bermonolog ria, berpura-pura menjadi Sai dan meniru gaya bicara pemuda itu seraya mengulurkan tangannya untuk mengambil keffiyeh tersebut.
"Haaaa… Kau itu terlalu berterus terang, Sai. Mestinya kau lebih kalem. Kalau kau bersikap agak misterius seperti Gaara, mungkin aku akan naksir padamu."
Ino lantas mengenakan keffiyeh tersebut di kepalanya, mengalungkan kedua ujungnya hingga menutupi leher agar terlindung dari sinar matahari yang menyengat.
"Alhamdulillah… Aku jadi gak kepanasan lagi," ujarnya riang.
Sai selalu membawa sorban itu dalam tasnya. Dia beralasan kalau hanya menggunakan sorban itu sebagai pengganti sajadah, seandainya pemuda itu terpaksa menunaikan shalat di tempat lain, bukan di masjid atau mushalla.
"Tapi kenapa dia juga membawa sajadah kecil?" Ino bertanya-tanya sendiri ketika suatu hari ia menemukan sajadah mungil berwarna coklat yang terlipat rapi di dalam ranselnya. Kali ini pun sajadah itu masih tersimpan rapi disana.
Alhasil, keffiyeh milik Sai lebih sering dipakai Ino untuk melindungi kepalanya dari terik matahari. Ino sangat menyukai sorban itu karena motif plaidsnya berwarna ungu, warna kesukaan sang gadis Yamanaka.
Ino menghela napas berat. Tenggorokannya kering kerontang lantaran belum meneguk setetes air pun sejak kedatangan mereka ke Old City. Dia agak menyesal karena tidak membeli air minum terlebih dulu.
Seluas mata memandang, ia tak menemukan pedagang yang menjajakan makanan atau minuman di sekitar Masjidil Aqsa. Ada beberapa kios di sekitar Al-Haram Asy-Syarif, tapi hampir semuanya tutup pasca bentrokan yang terjadi beberapa hari lalu.
Tatapan Ino kemudian tertuju pada sekelompok wanita Muslim yang berjaga di sekitar pintu masuk Masjid Al-Aqsa yang dikhususkan untuk jamaah akhwat, yang berjarak tak sampai sepuluh meter dari tempatnya duduk.
Kebanyakan dari kaum akhwat itu usianya berkisar antara empat puluh sampai lima puluh, rata-rata mengenakan abaya hitam longgar khas pakaian Muslimah, serta hijab yang menjulur hingga dada.
Perhatian Ino terfokus pada seorang Muslimah yang menutupi wajahnya dengan niqab hitam, sehingga hanya memperlihatkan bagian matanya.
Wanita itu memakai pakaian serba hitam, dengan hijab yang hampir menyentuh lutut, serta mengenakan sarung tangan yang juga berwarna hitam.
Penampilannya terlihat sangat mencolok dibanding wanita lain yang ikut berjaga di depan pintu masuk masjid karena hanya ia yang menyembunyikan wajahnya.
"Wajah kita tidak termasuk aurat kan?! Aku masih tak mengerti kenapa mereka menutupi wajahnya seperti itu. Bukannya malah akan mengundang kecurigaan sosial?! Banyak orang yang akan menuduh mereka sebagai teroris kan?!" Ino berusaha meresapi dengan logika.
Agaknya pendapat Ino tidak sepenuhnya salah. Belakangan ini, khalayak mulai termakan isu-isu yang sengaja dicuatkan untuk memprovokasi umat Muslim dengan umat beragama yang lain, atau bahkan dengan sesama umat Muslim.
Masih sangat jelas dalam ingatan Ino, tentang simtom kebanyakan orang yang menatap wanita-wanita seperti Muslimah itu dengan sentimen saat ia sedang meliput suatu acara di salah satu taman hiburan di Tokyo.
Ironisnya, mereka malah tak keberatan sama sekali dengan kaum Hawa yang memamerkan pahanya. Ino bukannya ingin menghakimi siapa yang benar dan siapa yang salah atau siapa yang lebih baik. Hanya saja, dia seringkali merasa bete sendiri kalau melihat tindak diskriminasi semacam itu.
Beberapa turis perempuan terlihat mendekati kerumunan jamaah akhwat Al-Aqsa. Dari pakaian mereka, Ino memperkirakan kalau mereka bukan peziarah karena mereka mengenakan pakaian yang bisa dikatakan lebih pantas dipakai saat berlibur ke daerah panas, seperti rok di atas lutut dan dress tanpa lengan.
"Kenapa kami tidak boleh masuk?" Ino bisa mendengar pertanyaan yang diajukan salah satu turis wanita kepada seorang Muslimah paruh baya yang mengenakan hijab berwarna polkadot merah tua.
"Maaf, Nona. Anda tidak diperkenankan masuk. Ini tempat peribadatan, bukan klub malam." Jawaban terang-terangan yang diucapkan wanita Palestina tadi, kontan saja menyulut emosi para turis tersebut.
"Kami kan ingin lihat-lihat saja! Masa tidak boleh?! Pantas saja banyak yang tidak suka pada kalian! Kalian terlalu konservatif!" Salah seorang turis membentak wanita Muslimah tersebut. Hal itu lantas memicu adu mulut di antara mereka.
"Kumohon tenanglah, Ummi Zahra." Wanita berniqab tadi tampak berusaha menenangkan rekannya dan melerai Muslimah lain yang ikut terlibat cekcok dengan para wisatawan yang bersikeras ingin memasuki Masjidil Aqsa.
"Maafkan saya, Nona. Tapi Anda sekalian tidak boleh masuk."
"Kenapa begitu?"
"Ini adalah tempat suci. Bagi kami, masjid ini adalah rumah Tuhan. Tempat kami menyembahNya. Bukankah sudah sepantasnya kita berpakaian dan bersikap santun ketika berkunjung ke rumah Tuhan?!" Wanita bercadar itu memaparkan argumennya dengan lugas namun tegas.
"Kenapa kalian melarang kami masuk? Bukankah sudah ada peraturan dari pemerintah setempat kalau kami boleh berkunjung ke tempat ini?!" Salah seorang turis yang mengenakan mini dress casual berdalih. Mereka tetap ngotot ingin memasuki Masjid Al-Aqsa.
"Maaf, Nona. Kami bukannya melarang kalian masuk. Tapi sebagai umat Muslim yang menjaga tempat ini, kami berhak menegakkan norma dan etika kesopanan agar kesucian Masjidil Aqsa tetap terpelihara." Intonasi wanita bercadar tadi tidak berubah, tetap bersahaja menghadapi para turis yang ngeyel.
"Cih! Masa bodoh dengan sopan santun!" Perkataan salah satu turis tersebut membangkit kemarahan komunitas Muslimah Palestina yang menyatakan diri mereka sebagai penjaga Al-Aqsa.
Non Muslim -tidak mengacu pada agama dan kepercayaan tertentu- memang diperbolehkan mengunjungi Masjid Al-Aqsa dengan tujuan berwisata karena kawasan Masjidil Aqsa dan Kubah Shakhrah merupakan situs peninggalan bersejarah.
Namun, dewan pengurus masjid memberlakukan beberapa peraturan demi menjaga ketertiban umum serta memelihara kesucian masjid yang diyakini umat Muslim sebagai masjid dimana Rasulullah SAW memimpin shalat sebelum beliau melaksanakan Isra Mi'raj.
Beberapa peraturannya antara lain ; wanita yang sedang haid dan nifas tidak diperkenankan masuk ke area mihrab. Serta diharuskan berpakaian santun dan layak ketika memasuki masjid, dengan menutup aurat, meski tidak mengenakan hijab dan melepas alas kaki.
Namun sepertinya, para turis wanita itu kurang memahami peraturan tersebut. Ino pun tak ingin melewatkan perdebatan sengit antara para wisatawan dan kaum Muslimah Al-Aqsa.
Ino lalu mengeluarkan ponselnya dan merekam percekcokan itu. "Akan terlihat seperti video amatir sih. But, it's okay. Daripada gak mendapat berita sama sekali. Gaara pasti akan mengerti."
Perselisihan kian memanas lantaran ada beberapa turis lain yang bergabung. Aksi saling dorong pun tak terhindarkan karena sekonyong-konyong berdatangan massa dari berbagai arah. Ino pun langsung bangkit dari tempat duduknya, begitu melihat kawanan massa yang datang bergelombang.
Ino tak bisa memastikan apakah massa tersebut adalah penduduk Old City atau hanya turis karena mereka tadi tidak berada di sekitar Masjid Al-Aqsa dan tiba-tiba mengerumuni masjid itu hingga para wanita Al-Aqsa membentuk barikade seperti kaum prianya.
Massa juga datang dari arah tempatnya berdiri, pria dan wanita, rata-rata berusia tak lebih dari lima puluh tahun bila dilihat dari tampangnya.
Beberapa dari mereka menatap Ino dengan sinis. Bahkan tak sedikit yang sengaja membenturkan pundaknya ke bahu gadis itu saat mereka berjalan melewatinya hingga ia nyaris terjungkang beberapa kali.
Bentrokan pun akhirnya tak terelakkan lagi ketika salah seorang dari gerombolan massa yang datang, melempar gas air mata ke arah barikade para wanita Palestina, bermaksud untuk mencerai-beraikan mereka agar massa yang belum diketahui asalnya tersebut bisa memasuki Masjidil Aqsa.
Kelompok Muslim Palestina yang tadi bersitegang dengan aparat keamanan bersenjata lantas membantu saudari-saudari mereka, berusaha memblokir massa yang kerap berupaya menerobos masuk ke dalam masjid.
Bukannya melerai, militer opresif malah semakin memperburuk keadaan dengan berulang kali melempar gas air mata ke arah para pelindung Al-Aqsa dan tak segan menodongkan senjata bahkan memukul jika mereka melakukan perlawanan.
Ino menggenggam ponselnya dengan erat. Tak gentar dengan huru-hara yang sedang terjadi di depan matanya, Ino tetap merekam kericuhan itu seraya menghindari kelompok yang saling berseteru dan aparat yang kelihatan jelas mendukung salah satu pihak.
Ini memang pertama kalinya ia terlibat dalam peliputan di daerah konflik. Tapi spirit jurnalismenya yang menggelora tak bisa dikekang begitu saja meski nyawanya sendiri sebagai taruhannya.
Ino Yamanaka adalah jurnalis sejati. Ia tak segan memburu berita dan mengabarkannya pada dunia, membeberkannya pada khalayak secara eksplisit dan apa adanya. Mengungkap semua peritiwa dan kisah-kisah yang dituturkan narasumber dengan integritas tinggi.
Tak heran ia mendapat penghargaan sebagai reporter wanita terbaik selama tiga tahun berturut-turut di usianya yang bahkan belum mencapai tiga puluh tahun.
Lafadz "Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar," serentak dikumandangkan para pembela Baitul Maqdis, beriringan dengan desingan peluru yang dilepaskan aparat penindas secara sporadis ke arah penduduk Palestina yang menjaga Masjid Al-Aqsa.
'Dor! Dor! Dor!' Ino menutup telinga ketika seorang aparat yang berada tak jauh darinya, menembakkan beberapa peluru. Dia berlari menjauh, berusaha menghindar dari aparat yang bersenjata.
Tapi langkah gadis itu terhambat oleh kerumunan massa yang terus mencoba membuka blokade penduduk Palestina. Sekawanan orang mendorongnya, menghimpit tubuhnya, bahkan ada yang menarik kemejanya.
'Dor! Dor! Dor!' Suara peluru terbetik makin dekat dengannya, seakan-akan timah panas itu memang ditujukan untuk sang gadis Yamanaka.
Seketika itu pula, ketakutan menjalari sekujur tubuh Ino. "Astaghfirullahal adziim!" Ino merasakan tubuhnya gemetar saking paniknya.
Ino mengerahkan seluruh tenaganya untuk meninggalkan area kericuhan. Lari secepat mungkin, menghindar sejauh mungkin dari tempat kejadian perkara. Tapi suara peluru itu tetap mengikutinya.
"Ya Allah! Ya Allah! Ya Allah!" Ino berteriak histeris, memanggil nama Tuhannya, merangkai doa dalam hati, memohon perlindungan dari kekejaman aparat bersenjata yang menyerang siapa pun tanpa pandang bulu.
"Apa karena aku memakai hijab? Makanya mereka menganggapku sebagai salah satu dari mereka?! Ya Allah, tolonglah hamba! Tolonglah hamba!"
Tindakan beringas yang dilakukan tentara lalim tersebut spontan menyulut kemurkaan penduduk Palestina yang berada di sekitar Masjid Al-Aqsa.
Mereka tak bisa tinggal diam diperlakukan semena-mena. Kaum laki-laki dan pemuda membalas perlakuan aparat dengan melontarkan batu ke arah mereka.
Pertumpahan darah pun terjadi. Aparat bersenjata tak segan memberondong peluru ke arah para pemuda Palestina yang melempari mereka dengan kerikil.
"Astaghfirullah!" Peristiwa tragis itu terjadi tepat di hadapan Ino. Beberapa wanita Palestina berteriak histeris, mengutuk kebrutalan aparat pendera yang membunuh anak-anak mereka dengan keji, membunuh masa depan Palestina.
Deg! Ino diam terpaku beberapa saat, menyaksikan lebih banyak kebiadaban aparat bersenjata yang juga menembak wanita-wanita Palestina yang melakukan perlawanan. Kardinya seakan berhenti berdetak menyaksikan pemandangan mengenaskan di depan Masjid Al-Aqsa.
Mayat bergelimpangan di sekitar area Masjidil Aqsa. Mayat para syuhada, penjaga Baitul Maqdis, penegak agama Islam, yang mati-matian melindungi rumah Allah.
Suasana kacau balau. Pekarangan dan teras masjid porak-poranda akibat terjangan peluru dan juga granat.
Jeritan histeris meraung dimana-mana. Para wanita Palestina memanggil-manggil keluarganya, tangisan mereka tak terbendung tatkala menemukan sanak saudaranya terbujur kaku atau bersimbah darah.
Sementara kaum prianya tak henti-hentinya meneriakkan nama Allah, menyerukan Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah, agar mereka bisa meregang nyawa dengan tenang seraya melafalkan untaian kalimat indah nan syahdu yang menahbiskan diri mereka sebagai hamba Allah Yang Maha Esa dan pengikut RasulNya.
Kebrutalan aparat bersenjata tak sedikit pun menyurutkan perjuangan mereka membebaskan Masjid Al-Aqsa dari penjajah yang berhasrat menguasai dan menghancurkannya.
"Ya Allah!" Ino mencengkram hijabnya. Lelehan airmata membasahi pipinya. Dadanya terasa amat sesak menyaksikan peristiwa memasygulkan yang akan mampu menggetarkan nurani siapa pun yang melihat dengan mata kepala sendiri, kezaliman rezim penindas terhadap rakyat yang tidak berdaya.
Waktu seakan terhenti bagi Ino Yamanaka. Matanya seolah tak mampu lagi melihat. Telinganya seolah tak lagi berfungsi untuk mendengar. Semuanya terasa hampa. Kosong. Sunyi. Senyap. Sampai suatu ketika…
'DOR!'
.
.
.
to be continued…
A/N : Di chapter sebelumnya, saya lupa menjelaskan tentang pahala shalat di masjid Al-Aqsa seperti yang dituturkan Sai. Akan saya jelaskan disini. Pahala shalat di Masjidil Aqsa dibandingkan di tempat lain menurut hadits adalah : 1000 kali (HR. Ahmad) 500 kali (HR. Ahmad dari Abu Darda) 250 kali (HR. Ath-Thabrani dan Al-Hakim)
Shalat di tiga masjid utama (Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsa) memang punya keutamaan. Soal pahala, Wallahu alam :) Yakin aja kalo matematika Allah jauh lebih canggih dari otaknya Shikamaru :D
Kata guru saya, hendaknya kita shalat di berbagai tempat di belahan dunia (jika mampu) karena tempat kita shalat, Insya Allah akan menjadi saksi kita di hadapan Allah. Masya Allah :')
Peristiwa Isra Mi'raj dalam Al-Qur'an terdapat dalam surat Al-Isra ayat 1. Diterangkan bahwa atas kehendak Allah, Rasulullah SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa pada malam hari.
Tenang aja, Ino gak mati kok *malah dibocorin* XD Dia kan heroine, jadi Insya Allah akan tetap bertahan sampai akhir :) Doakan Ino yaa :D #loh
Keseluruhan chapter ini adalah murni rekaan saya, mengambil referensi dari berbagai sumber. Bukan merupakan kejadian sesungguhnya/kisah nyata.
Belum pernah bikin scene kerusuhan. Maap kalo feelnya kurang greget dan kurang memuaskan :( semoga gak terlalu ngecewain reader sekalian :( Saya masih kudu banyak belajar *sigh* But feel free to critic and review. Thanks anyway :)
Keffiyeh adalah sorban yang dipake orang Arab dari semua kalangan, baik raja maupun petani. Semuanya pake model sorban yang sama :) Dasarnya putih dan biasanya motif kotak-kotaknya warna hitam. Sekarang keffiyeh udah jadi ikon fashion dunia, gak hanya penduduk jazirah Arab :)
Glosarium
Niqab = Cadar
Abaya = Gamis
Mihrab : Tempat shalat
Nifas : Darah setelah melahirkan
Ikhwan (Akhi) : Laki-laki
Akwat (Ukhti) : Perempuan
