The Promise

.

.

.

.

.

Disclaimer : All characters belongs to Masashi Kishimoto. I own nothing except the plot :)

Warning : Idem seperti chapter-chapter sebelumnya (tetiba saya males nulis warning karena fic ini punya banyak banget kekurangan seperti yang nulis T.T *pundung di pojokan*).

Sudah dicantumkan di summary tentang Islamic content yaa :)

Pihak yang menyerang Palestina saya sebut disini sebagai penjajah/rezim tiranis/aparat penindas/militer opresif. Tidak mengacu pada agama/keyakinan tertentu. SAY NO TO SARA. Mari saling menghargai. Kedamaian itu indah :)

Mohon koreksi saya jikalau ada kesalahan penulisan fakta atau yang lainnya. Insya Allah akan segera diperbaiki.

.

.

.

Bismillahirrahmanirrahiim

.

.

.

Waktu seakan terhenti bagi Ino Yamanaka. Matanya seolah tak mampu lagi melihat. Telinganya seolah tak lagi berfungsi untuk mendengar. Semuanya terasa hampa. Kosong. Sunyi. Senyap. Sampai suatu ketika…

'DOR!'

"AWAS!" Seseorang merangkul Ino dan mendorongnya hingga jatuh tertelungkup di tanah.

'Dor! Dor!' Dua butir timah panas kembali dilesatkan dari senjata api seorang aparat yang sejatinya akan mengenai kepala Ino seandainya orang itu tidak menjungkalkannya.

Ino merasakan seseorang memeluk punggungnya, melindungi kepala dan dahinya agar tidak membentur tanah ketika gadis itu terjungkang. Keduanya tak mengubah posisi mereka untuk menghindari rentetan peluru yang masih dilontarkan secara membabi-buta oleh aparat.

Sirine mobil polisi meraung-raung dari kejauhan, jerit histeris dan panik diiringi seruan kalimat takbir masih membahana di komplek Masjid Al-Aqsa.

"Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!" Sungguh hanya Allah Yang Maha Besar, hanya Allah yang dapat menolong mereka.

"Ya Allah… Tolong aku… Ya Allah… Tolonglah kami… Allahu Akbar…" Meringkuk dalam kengerian, bibir yang menggeligis senantiasa melisankan nama Tuhannya Yang Maha Kuasa, Ino melafalkan doa memohon perlindungan untuk semua orang.

"Kau baik-baik saja?"

Ino terkesiap sesaat. Baginya, itu bukanlah kalimat sederhana yang lazim digunakan orang untuk menanyakan keadaan. Katakanlah ia terlalu mendramatisir, tapi bagi Ino, kalimat itu adalah jawaban Tuhan atas doanya.

Gadis itu lantas mengangkat kepalanya, membuka mata dengan segenap keberanian untuk mengetahui sosok sang penyelamat hidup.

"A-a.. Aa-aku baik-baik saja. Te-te-terima ka-kasih." Ino menjawab dengan agak terbata, terkesima oleh keindahan sepasang mata hijau laksana permata zamrud, yang terlihat sangat berkilau di antara rona hitam yang mendominasi hijab dan niqabnya.

"Mungkinkah wanita ini yang ikut terlibat perdebatan tadi?"

Ino tak dapat memastikan hal itu, walaupun gaya berpakaian wanita yang telah menolongnya ini, sama persis dengan wanita Palestina yang berjaga di depan Al-Aqsa sebelum terjadi bentrokan.

Wanita itu kemudian bangkit dan membantu Ino berdiri. "Sebaiknya kau simpan ponselmu, Nona. Didalamnya terdapat berita yang sangat penting bukan?!"

Ino agak terkejut mendengar wanita itu berbicara dalam bahasa Inggris fasih dengan logat asing, bukan logat Arab pada umumnya.

"Eh?" Ino menelengkan kepalanya, tampak bingung dengan perkataan wanita itu.

"Oh!" Gadis itu baru sadar kalau ponselnya tergeletak di tanah. Ino pun cepat-cepat mengambilnya dan menuruti saran wanita itu.

Terbayang wajah Sai dalam benaknya kala Ino melihat ponsel pemuda itu saat hendak menyimpan ponselnya di dalam ransel.

"Bagaimana keadaan Sai dan Shikamaru yaa?!" Kekhawatiran mulai melingkupi batinnya kembali. "Semoga mereka menemukan tempat berlindung di masjid."

"Ya Allah, lindungilah hamba-hambaMu yang sedang berlindung di dalam rumahMu. Aamiin." Sebait doa dilantunkan Ino untuk rekan-rekannya yang masih berada di dalam Masjid Al-Aqsa.

Tiba-tiba saja, Ino teringat peristiwa bencana tsunami terbesar yang melanda wilayah Asia Tenggara beberapa tahun silam.

Ketika orang berbondong-bondong mencari perlindungan ke tempat lain, ada segelintir orang yang berlindung di dalam masjid dan mereka pun selamat dari bencana tersebut atas kehendak Allah SWT.

Atas dasar peristiwa itu lah, muncul secercah keyakinan dalam hati gadis itu, bahwasanya Allah akan melindungi hamba-hambaNya yang mencari perlindungan di dalam rumahNya.

"Ayo kita pergi ke tempat yang aman," kata wanita itu dan dengan sigap merangkul lengan Ino, menjauhkan gadis itu dari keramaian.

.

.

.

"Apa yang harus kita lakukan, Sai? Ino masih di luar! Bagaimana kalau sesuatu terjadi padanya?"

Kepanikan tersirat jelas di wajah Shikamaru saat kedua pemuda itu berlindung di balik salah satu pilar besar di dalam masjid.

Sai menenggak ludah. Sesungguhnya ia pun ingin segera keluar dan mencari Ino, tapi situasinya sedang kacau. Timah panas dilesatkan secara bertubi-tubi, memecahkan kaca-kaca jendela, hingga menyebabkan lubang di dinding masjid.

Kendati tak mengenai jamaah yang berada di dalam masjid, namun peluru-peluru itu merusak sebagian interior masjid, hingga menjatuhkan salah satu lampu kristal yang tergantung dekat mimbar.

Kelompok jamaah yang tadi mengkaji kitab hadits telah meninggalkan masjid untuk membantu saudara-sudara mereka.

Sementara beberapa jamaah lain, yang ternyata bukan warga negara Israel dan Palestina, melainkan hanya turis yang berkunjung, ikut berlindung di balik tiang-tiang marmer yang masih tetap kokoh meski dihujani peluru.

Lampu-lampu neon dan kristal yang menjadi penerangan di dalam masjid, dipadamkan sebagian. Hanya beberapa lampu neon di dekat mihrab Nabi Zakaria (as) dan lampu gantung di mihrab utama yang masih terang benderang.

Namun keadaan di dalam masjid tidak terlalu gelap karena cahaya matahari menelisik melalui sekat-sekat kecil di dinding dan langit-langit.

Keheningan menyelimuti Sai dan Shikamaru serta para turis. Seorang pria keturunan Arab bertubuh agak gemuk yang berlindung di pilar masjid di sebelah Sai dan Shikamaru, tampak menggerakkan bibirnya, melafalkan kalimat tahlil berulang-ulang.

Di sebelahnya, seorang pemuda berambut ikal, bersandar di pilar sambil mendongakkan kepalanya ke langit-langit, tampak komat-kamit, seperti tengah melafalkan sebaris doa.

Sai sempat berbincang-bincang dengan mereka sebelum insiden terjadi. Pria Arab itu bernama Hussein dan dia berasal dari Turki.

Hussein datang ke Masjidil Aqsa untuk memenuhi nazarnya kepada Allah, dimana ia berjanji akan melaksanakan shalat di Masjid Al-Aqsa seandainya Allah mengabulkan permohonannya untuk memiliki anak yang telah didambakannya bertahun-tahun.

Doa Hussein pun akhirnya di-ijabah oleh Allah Subhanahu wa ta'ala.

Sementara pemuda itu dan kedua temannya yang berlindung di pilar sebelahnya adalah mahasiswa berkebangsaan Aljazair yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, Mesir.

Mereka telah bersahabat sejak masih kanak-kanak dan ketiganya memiliki impian yang sama, yakni ingin mengunjungi dan beribadah di tiga masjid utama umat Muslim, untuk meraih keridhaan Allah SWT.

Mereka telah mengunjungi Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Mereka tadinya juga berniat akan mengunjungi Masjid Ibrahim di kota Hebron, tapi terjebak kerusuhan yang terjadi di Masjidil Aqsa.

Sai tersentuh dengan cerita para ikhwan tersebut. Mereka bukanlah orang yang berkecukupan. Pria Turki itu hanya seorang tukang kebun, begitu pula dengan para pemuda Aljazair yang berasal dari keluarga sederhana dan mampu melanjutkan pendidikan ke Mesir karena meraih beasiswa.

Namun latar belakang ekonomi yang pas-pasan tak lantas membuat mereka berkecil hati. Mereka menyandarkan impian dan harapan kepada satu-satunya yang mereka yakini mampu mewujudkan semua hajat mereka, Allah azza wa jalla.

Suasana tiba-tiba terasa mencekam ketika terdengar derap langkah kaki seseorang memasuki mihrab utama.

Tak ada yang berani memastikan siapa yang datang karena bisa saja selongsong peluru menembus batok kepala mereka bila yang datang ternyata aparat bersenjata yang sejak tadi memborbardir masjid dengan peluru-pelurunya.

Tak ada yang ingin mengambil resiko senekat itu. Begitu pula dengan Sai. Bukannya ia menolak berjuang di jalan Allah, tapi Sai memiliki pendapat sendiri tentang jihad.

Terlebih, pemuda itu tak ingin tewas terlebih dahulu sebelum memastikan keadaan Ino. Sai telah berjanji untuk selalu melindungi Ino.

"Aku harus mencari Ino! Aku harus menyelamatkannya! Ya Allah… Tolong tunjukkan jalan kepada hamba untuk menyelamatkan Ino dan Shikamaru," doanya dalam hati.

"Ahmad! Periksa tempat ini!" Orang yang memasuki mihrab tadi berteriak pada rekannya. Ah! Bahu pemuda itu agak bergetar seperti baru dikagetkan seseorang. Sai pun menggerakkan kepalanya, hendak mengintip untuk melihat siapa yang datang.

Shikamaru cepat-cepat menarik lengan pemuda itu dan berbisik padanya,"apa yang kau lakukan, Sai?! Mereka bisa melihatmu!"

Sai hanya tersenyum menanggapinya, lalu meletakkan telunjuknya di depan mulutnya, mengisyaratkan pada Shikamaru kalau dia tak perlu khawatir.

Kemudian pemuda itu menggumamkan nama 'Ahmad', sambil menunjuk ke arah orang yang baru saja datang.

Butuh satu menit bagi Shikamaru untuk menelaah maksud ucapan Sai, sebelum akhirnya pemuda Nara itu mengangguk paham.

"Pemukim di Yerusalem tak hanya orang Arab. Banyak di antara mereka yang menggunakan nama Arab meski bukan pemeluk agama Islam. Jangan heran jika suatu hari kau berjalan-jalan di kota Yerusalem dan bertemu dengan seorang non Muslim yang memiliki nama Arab." Shikamaru teringat perkataan Sai saat mereka sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem.

Tapi… Penduduk non Muslim baik penganut ateisme atau bukan, tak akan menggunakan nama Arab seperti Ahmad dan Muhammad karena nama itu identik dengan Islam. Jadi, dapat dipastikan orang yang memasuki mihrab dan temannya -Ahmad, adalah warga Muslim Palestina.

Sai dan Shikamaru lantas menampakkan diri ketika mengetahui bahwa yang datang adalah para pemuda Muslim Palestina.

Kedua pemuda Palestina itu sontak menodongkan senjata karena reflek, namun lekas diturunkannya ketika menyadari kalau Sai dan Shikamaru tidak bersenjata.

Kedua pemuda itu mengenakan pakaian casual, seperti celana jeans dan t-shirt. Salah satu dari mereka, yang mengalungkan imamah di lehernya memiliki warna rambut seperti Gaara.

Sepintas, wajah dan postur tubuh mereka pun mirip. Hanya saja, ia tak memakai celak hitam seperti Gaara. Mereka tak mungkin memiliki hubungan darah kan?!

'DOR! DOR! DOR!' Selintingan peluru kembali dilesatkan dari luar Masjid Al-Aqsa.

"Semuanya menunduk!" Pemuda yang berambut merah memberi instruksi seraya berlindung di balik pilar marmer yang berdekatan dengan tempat persembunyian Sai dan Shikamaru. Sementara temannya berlindung di belakang mimbar.

"Astaghfirullah… Apa yang kupikirkan?! Aku harus fokus! Ino sedang berada dalam bahaya!" Sai memohon ampun lantaran dirinya lengah karena berpikir yang tidak penting.

"Ka-ka-kami harus keluar dari sini. Teman kami berada di luar sekarang. Kami harus segera menyelamatkannya!" Sai berkata pada pemuda Palestina yang tengah merunduk menghindari deraian peluru.

"Keadaan di luar sangat berbahaya. Aparat opresif bersenjata lengkap. Mereka tidak peduli kau orang Palestina atau bukan. Jika kau bukan salah satu dari antek-antek mereka, kau akan menjadi sasaran mereka," suara pemuda bersurai merah itu terdengar tenang, begitu pula dengan ekspresinya.

Pupil hitam Shikamaru melebar ketika mendengar penuturan pemuda Palestina itu. Pemuda Nara itu terhuyung-huyung ke belakang, kakinya terasa lemas seolah tak mampu lagi menopang tubuhnya.

Napasnya kembang kempis lantaran jantungnya berdegup ratusan kali lebih cepat, seolah dapat meledak sewaktu-waktu.

Ini pertama kalinya Shikamaru terjun langsung untuk meliput suatu peristiwa, dan tak menyangka malah akan berakhir seperti ini. Timnya terjebak dalam aksi kerusuhan dan dirinya tak berbuat apapun untuk melindungi mereka, melindungi sahabatnya.

Walaupun sudah mengetahui resiko meliput berita di daerah konflik, Shikamaru tak memperkirakan kalau keadaannya akan seburuk ini. Dirinya dan Sai terjebak di dalam sini, sementara Ino tak diketahui nasibnya di luar sana.

"Apakah Ino sudah mati? Mungkinkah Ino sudah mati?" Shikamaru mulai meracau. Rentetan imaji tentang peristiwa buruk yang menimpa Ino, menyesaki pikirannya.

Ino yang berteriak-teriak histeris. Tubuhnya bersimbah darah hingga kilasan gadis itu yang terbaring tanpa nyawa dengan mata mendelik ke arahnya.

"INO!" Shikamaru memegang kepalanya, "ti-tidak! Tidak!"

Dahinya berkerut dan matanya terpejam, "ti-tidak!" Berusaha mengenyahkan bayang-bayang mengerikan itu dari benaknya.

"Ya Tuhan! Apa yang harus kukatakan pada Paman Inoichi bila membawa pulang Ino ke Jepang dengan peti mati?!"

"Jangan konyol, Shikamaru! Ino belum mati! Dia tak akan mati! Ino tidak akan mati!" Sai meradang dan nyaris meninju wajah Shikamaru untuk menyadarkan pemuda itu, andai saja pemuda Palestina yang berada di dekatnya tak mencegahnya.

"Tahu apa kau tentang Ino?! Bagaimana kau tahu kalau dia belum mati?! Memangnya kau siapa, hah? Tuhan?" Shikamaru membentak rekan sejawatnya seraya mencengkeram kerah baju Sai.

"Kalian berdua tenanglah dulu!" seru Hussein, berinisiatif melerai pertengkaran Sai dan Shikamaru.

Pria itu membisikkan kalimat istighfar di telinga Shikamaru, berusaha menenangkan pemuda itu sambil membujuknya untuk melepaskan cengkeramannya pada Sai.

Perlahan namun pasti, Shikamaru melonggarkan cengkeramannya –masih mendelik ke arah pemuda itu, kemudian mendorong rekannya hingga nyaris terjungkal jika saja pemuda Palestina itu tidak berada di belakangnya.

Tersentil dengan pertanyaan Shikamaru barusan, Sai pun menyadari kekhilafannya. Dia mengangkat kedua lengannya, mengisyaratkan bahwa dirinya sudah lebih tenang sehingga pemuda Palestina itu bisa melepaskannya.

"Astaghfirullahal adziim… Ya Allah… Apa yang sudah kukatakan barusan?! AstaghfirullahAstaghfirullah…" Sai berlutut memohon ampun pada Rabbnya, karena ia mengatakan sesuatu yang melebihi hakikatnya sebagai seorang manusia.

Hidup dan mati seseorang berada di tangan Allah dan setiap manusia tak berhak mendahului kehendakNya.

Namun… Salahkah jika dirinya ingin Ino baik-baik saja? Salahkah ia jika hati kecilnya mengatakan bahwa di luar sana, Ino tengah meringkuk ketakutan dan menantikan kehadirannya?

"Salahkah jika aku terlalu berharap?"

"Ya Allah… Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari memohon kepadaMu, sesuatu yang tidak aku ketahui hakikatnya," masih dalam posisi berlutut, Sai mengangkat kedua tangannya seraya menengadahkan kepala, melafalkan doa yang pernah diucapkan Nabi Nuh (as).

"Ya Allah… Kepada siapa lagi aku berlindung, jika Kau tidak menegakkanku dari ketergelinciranku? Siapa yang akan mengasihiku, jika Kau tidak mengasihiku? Siapa yang akan menyambutku, jika Kau tidak menyambutku? Kemana aku hendak berlari dan menyandarkan harapanku jika terhempas dari sisiMu?[*]" Rintihannya lambat laun semakin tak terdengar karena isak tangis yang nyaris tak terbendung disertai desing suara peluru yang mencecar.

'DOR! DOR! DOR!'

Semua orang reflek menunduk begitu serentetan peluru ditembakkan kembali ke dalam masjid.

"Jika terus seperti ini…" Hussein yang pertama membuka suara setelah mereka diserang. "Apakah bisa memicu intifadah[1]?" Lalu bertanya kepada Sasori yang berjongkok di depannya.

"Kami tidak akan membiarkan mereka menyentuh masjid kami! Kami akan terus melindungi Al-Aqsa sampai titik darah penghabisan!"

Kalimat-kalimat penggugah jiwa dan pengobar semangat juang disuarakan cukup lantang oleh Sasori, kemudian dilengkapi dengan gema takbir, Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar, oleh temannya dan para mahasiswa Aljazair.

"Insya Allah, kami akan menyelamatkan kalian dari sini," ucapan Sasori menerbitkan asa dan ekspresi kelegaan di wajah semua orang yang berada di sana.

"Kami juga akan membantu mencari teman kalian," katanya pada Sai dan Shikamaru.

"Te-terima kasih… Jazakumullah khairan katsiran… Semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan kebaikan yang lebih banyak lagi."

Sasori hanya tersenyum tipis seraya bergumam, "Aamiin Allahumma Aamiin," menanggapi ucapan Sai.

Sasori memegang bahu Sai, kemudian mengajak semua orang yang ada di sana untuk berdoa bersama-sama. Hussein mengajak Shikamaru untuk bergabung dengan mereka, tapi pemuda Nara itu menolak dan menepis uluran tangan Hussein.

"To-tolong maafkan dia, Tuan." Sai meminta maaf pada Hussein atas sikap Shikamaru.

Pria tua dengan kumis yang sudah memutih itu hanya mengukir senyum. "Tidak apa-apa. Aku mengerti. Perasaannya sedang kalut memikirkan temannya yang terjebak kekacauan di luar sana. Aku pun akan bersikap demikian jika berada di posisinya," jawabnya dengan bijak dan memberikan kesempatan pada Sasori untuk memimpin doa.

Sambil duduk bersimpuh, sementara kedua tangan menengadah ke atas, Sasori pun memulai doanya dengan menyanjung Tuhan Sang Pencipta.

"Bismillahirrahmanirrahiim… Wahai Tuhan kami Yang Maha Besar, Maha Agung, Maha Tinggi, Maha Suci, Maha Benar, Maha Kuasa, Hanya Engkau Yaa Allah, dengan segala sifat dan asmaMu yang indah…[*]"

"Hanya kepadaMu kami beribadah, hanya kepadaMu kami memohon pertolongan dan hanya kepadaMu kami memohon perlindungan. Tiada daya upaya melainkan hanya milikMu, Yaa Rabb… Tidak ada kekuatan dan pertolongan untuk kami yang lemah ini, yang fakir ini, yang miskin ini, melainkan hanya datang dariMu, Yaa Arhamarrahimiin… Sesungguhnya setitik rahmat dariMu adalah segala-galanya bagi kami yang tidak berdaya tanpa belas kasihMu…"

Wajah Sasori berlinangan air mata, kala pemuda itu meneruskan doa dengan mengagungkan kuasa Allah dan menunjukkan betapa lemah dan tidak berdayanya diri mereka di hadapan Allah Yang Memiliki dan Menguasai Segalanya, sehingga hanya kepada Allah, sebaik-baiknya tempat meminta dan berharap.

Sasori juga menyelipkan ayat kursi serta dua ayat terakhir surat Al-Baqarah di sela-sela permohonannya, mengingat keutamaan dari ayat-ayat tersebut sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits Rasulullah, yang selalu diamalkan pemuda itu setiap saat.

Tak lupa, ia melantunkan shalawat serta salam kepada sang utusan mulia, Muhammad Rasulullah, keluarga serta para sahabat beliau.

"Subhana Rabbika Rabbil 'izzati 'amma yasifun… Wa salamun a'laal mursaliin… Wal hamdulillahi Rabbil alaamiin." Sasori pun mengakhiri doanya dengan memuji Tuhannya, mengucapkan salam kepada para utusanNya dan menghaturkan syukur atas karuniaNya yang tak terhingga.

"Aamiin yaa Rabbal alamiin," semua orang serentak mengamini doa Sasori.

.

.

.

TBC


[*]. Penggalan munajat Imam Ali Zainal Abidin (ra).

[1]. Intifadah dalam fic ini maksudnya gelombang perlawanan penduduk Palestina terhadap kependudukan pihak asing yang berusaha meruntuhkan Masjid Al Aqsa.

A/N : Alhamdulillah… chapter ini kelar :) Huaaa, jadi makin syuukaa sama Sai(fuddin) di chapter ini. Mbak Ino, Abang Sai-nya boleh buat saya? :D *peyuk Sasori* /salah hoi/ Hehehe.

Yup! Feel free to critic and review. Terima kasih sudah membaca fic ini. Jazakumullah khairan katsiran :)