The Promise

.

.

.

.

.

Disclaimer : All characters belongs to Masashi Kishimoto. I own nothing except the plot :)

Warning : Idem seperti chapter-chapter sebelumnya (tetiba saya males nulis warning karena fic ini punya banyak banget kekurangan seperti yang nulis T.T *pundung di pojokan*).

Sudah dicantumkan di summary tentang Islamic content yaa :)

Pihak yang menyerang Palestina saya sebut disini sebagai penjajah/rezim tiranis/aparat penindas/militer opresif. Tidak mengacu pada agama/keyakinan tertentu. SAY NO TO SARA. Mari saling menghargai. Kedamaian itu indah :)

Mohon koreksi saya jikalau ada kesalahan penulisan fakta atau yang lainnya. Insya Allah akan segera diperbaiki.

.

.

.

Bismillahirrahmanirrahiim

.

.

.

Ino dan Muslimah Palestina itu berupaya menerobos kerumunan massa yang masih mengepung di beberapa titik. Setelah konsentrasinya kembali terpusat, Ino pun menyadari skema penyelamatan diri warga Palestina yang terdesak massa dan aparat bersenjata.

Saat kaum ikhwan mengecoh perhatian aparat bersenjata dengan aksi balasan, wanita-wanita Palestina lantas bahu-membahu untuk saling menolong saudari-saudarinya serta anak-anak yang hendak menyelamatkan diri.

Tak heran, wanita bercadar yang menolong Ino, membimbing gadis itu menjauhi pihak militer dan menggiringnya ke arah massa yang tak bersenjata untuk menekan resiko terluka parah atau meninggal, dimana Muslimah lainnya telah berjaga-jaga, mengantisipasi apabila massa menyerang mereka.

"Kalian tidak akan bisa melarikan diri!" Tiga orang pemuda lokal, berperawakan tinggi dan berotot, mengepung Ino dan wanita itu.

Salah seorang dari mereka yang berambut hazel, menyeringai sinis dan mengucapkan kata-kata yang tak dimengerti oleh sang jurnalis Suna Daily.

Tapi apapun itu, Ino bisa menebak kalau pemuda itu melontarkan kata-kata yang tidak pantas, sebab ia meludah setelah mengatakannya.

Wanita bercadar itu tak menanggapi ketiga pemuda yang menghadang mereka. Aksi bungkamnya malah mempersulit keadaan dan menyulut kemarahan para pemuda itu.

"Jangan diam saja, Bodoh!" Pemuda yang wajahnya paling tirus menghardik Muslimah bercadar itu sambil melayangkan tinjunya ke arah wanita tersebut, hendak menjatuhkannya –namun usahanya tak membuahkan hasil.

Wanita Palestina itu memiliki reflek yang cukup bagus, sehingga dia bisa mengelak dari serangan si pemuda. Ia menarik lengan pemuda itu ke depan, kemudian menyikut hidungnya hingga berdarah dan mendorongnya hingga terjerembab. Semuanya dilakukan dalam hitungan beberapa detik saja.

Melihat temannya berhasil ditumbangkan, kedua pemuda yang masih berdiri mengelilingi Ino dan Muslimah itu, lantas menyerang mereka bersamaan.

Pemuda yang mengenakan t-shirt putih polos dengan simbol rezim yang sama seperti aparat bersenjata, memeluk wanita Palestina itu dari belakang. Namun lagi-lagi, wanita itu merespon serangan yang ditujukan padanya dengan cepat.

Ia menginjak kaki pemuda sekuat tenaga, hingga pemuda itu meringis kesakitan, kemudian mendaratkan sikutannya ke arah perut si pemuda. Dekapan pemuda itu pun merenggang dan wanita itu bisa meloloskan diri dengan mudah.

Sementara Ino harus berhadapan dengan pemuda bersurai hazel yang hendak menyerangnya dari depan. "Aku tidak akan membiarkanmu kabur," sungutnya, sambil mengeluarkan pisau lipat dari saku celana.

Ino menyelingar panik dan merasa ajalnya hampir tiba saat mata pisau yang berkilau itu diacungkan ke arahnya. Jantungnya berdegup kencang… Ketakutan menghinggapi sekujur tubuhnya… Gadis itu tak tahu harus berbuat apa.

Rasanya ingin berteriak minta tolong, tapi lidahnya kelu dan Ino tak bisa mengalihkan fokusnya dari mata pisau itu, karena takut ditikam oleh si pemuda.

Keadaan semakin memburuk ketika salah satu teman si pemuda menghadangnya di belakang, sementara teman lainnya berhasil membekuk wanita Palestina itu dengan memelintir tangannya ke belakang punggung dan memeganginya kuat-kuat.

"LARI!"

Mudah bagi wanita Palestina itu melontarkan kata 'lari' pada Ino. Tapi, bagaimana bisa lari jika musuh mengelilingimu?!

"Yaa Allah… Tolonglah hamba…" Ino beringsut ke samping seraya memohon pertolongan kepada Tuhan –yang diyakininya sebagai satu-satunya sumber kekuatan semesta alam.

Atensinya difokuskan ke depan dan ke belakang secara bergantian. Gadis itu hampir-hampir tak memperhatikan langkahnya.

Pemuda berambut hazel mulai kehilangan kesabaran. "Arrggh! Enyah kau!" Lalu menyerang Ino tiba-tiba, begitu pula dengan temannya yang berada di belakang Ino. Dan…

"Aaahhh!" Ino roboh lantaran sepatunya tersandung batu. Allah Subhanahu wa ta'alaa mengabulkan doanya.

Tak hanya itu, dua pemuda yang hendak menyerangnya dari sisi yang berlawanan, malah melukai diri masing-masing karena Ino tiba-tiba terjungkal.

"Alhamdulillah… Terima kasih, yaa Allah…" Ino pun mengucap syukur seraya mengatupkan kedua tangannya.

Wanita bercadar itu tak menyia-nyiakan kesempatan yang diluangkan Ino berkat kekuasaan Allah. Dia lantas membenturkan kepalanya ke rahang pemuda yang menawannya saat pemuda itu lengah karena kedua temannya saling menyerang.

"Akkhh!" Erangan tertahan karena wanita itu menanduk persis di jakunnya. Pegangannya pun terlepas.

Wanita itu lalu menghampiri Ino dan membantunya berdiri. "Ayo kita pergi!"

Keduanya pun bergegas angkat kaki dari sana, sebelum pemuda-pemuda itu kembali pulih dan teman-teman mereka datang untuk membantu ketiganya.

.

.

.

"Tu-tu-tunggu! Kita mau kemana?"

Ino menarik lengan wanita Palestina yang membimbingnya semakin jauh dari komplek Masjid Al-Aqsa, mendekati salah satu gerbang batu yang berada di sisi utara Tembok Ratapan.

Keduanya lalu berhenti, berdiri tak jauh dari area konflik. "Tentu saja ke tempat yang aman… Menjauhi kerusuhan," katanya pada Ino.

"Ta-tapi… Teman-temanku masih berada di dalam Al-Aqsa." Pandangan gadis itu mengarah ke kubah masjid Al Aqsa yang warnanya tampak sudah kusam dimakan usia, jika dilihat dari kejauhan.

"Aku harus menemukan mereka!" Ino lekas mengambil langkah sesaat setelah mengatakannya, tapi wanita itu terlanjur meraih lengannya, bermaksud menahan kepergiannya.

"Tunggu! Situasi sedang kacau. Kau tidak akan bisa mendekati Al-Aqsa dengan melewati bentrokan di sana," wanita itu menunjuk aksi huru-hara yang terjadi antara aparat bersenjata dengan pemuda-pemuda –yang hanya bermodalkan batu dan ketapel, di dekat mereka.

"Ta-ta-tapi…" Ino kelihatan setengah hati ingin menuruti wanita yang menggandeng lengannya, membawa gadis itu sejauh mungkin dari aksi aparat dan pemuda yang semakin anarkis.

"Ta-tapi… Shikamaru dan Sai… Me-mereka sedang…" Namun Ino masih tetap tak rela meninggalkan rekan-rekannya di komplek Baitul Maqdis. Tapi, akhirnya dia pun mengikuti wanita Palestina itu, melarikan diri ke tempat yang lebih aman.

"Yaa Allah… Lindungilah Sai dan Shikamaru. Lindungilah semua orang yang berada di dalam masjid bersama mereka!" Ino pun hanya bisa berdoa agar Allah selalu melindungi Sai dan Shikamaru dimanapun mereka berada.

"Temari!" Wanita Palestina itu mendadak menyetop langkahnya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

Samar-samar ia mendengar seseorang memanggil namanya, kendati belum yakin lantaran riuh rendah suasana di sekitar mereka.

"Temari lewat sini!" Wanita itu lantas menoleh ke arah seorang Muslimah lain yang berdiri di antara sebatang pohon palem besar dan tembok kokoh yang memagari Al-Haram Asy-Syarif.

"Jadi, namanya adalah Temari," batin Ino, ketika wanita itu menghampiri Muslimah berjilbab putih polos yang memanggilnya.

Temari melepaskan tangan Ino sejenak, untuk mendekap saudarinya, tapi kemudian ia menggandengnya lagi agar Ino tak bertindak ceroboh dengan berusaha menyelamatkan rekan-rekannya seorang diri.

"Kau baik-baik saja?" Gadis itu terlihat sangat khawatir. Matanya agak memerah dan suaranya terdengar sedikit serak. Ino bisa melihat noda hitam eyeliner dan bercak air mata di sekitar batang hidung gadis itu.

"Alhamdulillah… Allah masih melindungiku, Maki… Dimana yang lainnya?"

Maki berpaling sekilas ke arah Ino sebelum menjawab pertanyaan saudarinya. "Mereka sudah menuju Bab az-Zahra[1]. Situasinya menjadi semakin tak terkendali, Temari! Aparat bersenjata menambah jumlah personelnya! Da-dan… Aku melihat mobil-mobil polisi berdatangan! Yaa Allah! Me-me-mereka akan merobohkan Al-Aqsa!"

Maki mencengkeram hijab di dadanya sambil menangis histeris, seolah dunia akan kiamat besok. Gadis itu nyaris saja ambruk jika Temari tidak merangkul tubuhnya.

Temari menempelkan dahinya di kening Maki, menggumamkan sesuatu untuk menentramkan saudarinya tersebut. Ino yang terenyuh menyaksikan keduanya, turut serta menenangkan Maki dengan memeluk mereka berdua.

"Sasori…" Sebuah nama terucap dari bibir yang dibasahi deraian air mata. Sepasang mata yang sembab itu kini memandang Temari.

"Aku tidak bisa menemukan Sasori…" Kata-kata Maki tersekat oleh isak tangis yang belum reda.

"Ssshhh… Ssshhh… Kau tenang dulu, Sayang…" Temari mengusap-usap punggung Maki dengan lembut, seraya berujar, "Insya Allah, Sasori akan baik-baik saja. Dia tengah berjuang melindungi rumah Allah… Insya Allah… Insya Allah, Dia akan melindunginya. Serahkan semua kepada Allah yaa."

"Ta-ta-tapi…" Kekhawatiran belum sirna dari wajah Maki. Di balik niqabnya, Temari tersenyum.

Dia sangat mengenal saudarinya. Maki tidak akan pernah merasa tenang jika belum melihat sang kakak berdiri di hadapannya dalam keadaan segar bugar, dengan mata kepalanya sendiri.

"Kalau begitu…" Temari merengkuh lengan Ino. "Bawalah gadis ini bersamamu," mengajukan gadis itu pada Maki.

"Kau tak perlu cemas… Aku akan mencari Sasori dan Insya Allah akan membawanya pulang dalam keadaan sehat wal afiat," imbuhnya.

"Kau tadi melarangku pergi ke sana! Sekarang, kau sendiri yang ingin mendatangi Al-Aqsa saat suasana sedang kacau balau seperti ini!" Sekonyong-konyong, Ino pun mengeluarkan kebiasaan mengomel yang kerap kali dilakukannya jika situasi tidak berjalan sesuai keinginannya.

"Aku mengetahui seluk beluk kota Yerusalem lebih baik darimu, Nona… Insya Allah, aku akan baik-baik saja." Temari menjawab kalem.

Jleb! "Benar juga!" Ino tak dapat menyanggah jawaban Temari. Dibandingkan dirinya yang hanya seorang turis, Temari tentu lebih mengenal komplek Al-Aqsa karena dia warga negara Palestina.

Temari membelai lengan bagian atas gadis Yamanaka itu seraya berkata, "Insya Allah, aku juga akan mencari informasi tentang teman-temanmu… Siapa nama mereka tadi, umm… Shikamaru dan Sai? Benar?" Ino menjawab dengan anggukan pelan.

"Sasori tergabung dalam barisan pemuda pelindung Al-Aqsa. Dia pasti berada tak jauh dari masjid. Jika aku bertemu dengannya, aku pasti akan menanyakan keadaan mereka." Janji yang diucapkan Temari bagai angin segar yang menyejukkan hati Ino.

Ino pun mendekap erat Temari. "Te-terima kasih," tangisannya membuncah saat keharuan melingkupi suasana di sekitar mereka.

"Berhati-hatilah, Temari." Maki pun turut memeluk saudarinya.

"Kalian juga berhati-hatilah. Insya Allah kita akan bertemu kembali di rumah."

.

.

.

Ino dan Maki menatap kepergian Temari hingga punggung wanita itu menghilang di tengah lautan massa tak bersenjata.

Lalu keduanya segera meninggalkan tempat itu, menuju ke salah satu gerbang yang terhubung dengan pemukiman umat Muslim, menjauhi komplek Masjid Al Aqsa yang situasinya tengah memanas karena bentrokan yang terjadi.

Sesekali Ino menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti mereka. Lantunan kalimat takbir yang disuarakan dengan lantang, desing suara peluru yang saling bersahutan dan sirine mobil yang meraung-raung, masih dapat didengar sang gadis Yamanaka walau hanya sayup-sayup.

"Ya Allah… Lindungilah mereka… " Ino memejamkan mata, membayangkan hiruk pikuk kekacauan di depan masjid Al-Aqsa.

Aksi aparat yang beringas, menyerang warga Palestina tanpa pandang bulu, memukul para wanita, menodongkan senjata pada anak-anak bahkan tak segan menembak siapa saja yang menghalangi tujuan mereka meruntuhkan Al-Aqsa, terlintas kembali dalam pikiran Ino.

Ino Yamanaka tak pernah membayangkan situasinya separah itu, bahkan mungkin lebih buruk. Ternyata media-media yang memberitakan konflik di Palestina –yang terkesan berlebihan dalam menggambarkan keadaan rakyat Palestina, tidak sepenuhnya salah.

Eksistensi umat Muslim di tanah Palestina kian berkurang. Mereka disudutkan, disakiti, dijajah, bahkan dibantai. Tanah mereka dirampas. Hak mereka tidak dipenuhi, namun dunia tampak menutup mata.

"Hanya Allah pelindung kami. Hanya Allah sebaik-baiknya penolong. Bantulah kami dengan doa kalian, wahai saudara kami, sesama umat Muslim. Bantulah kami dengan doa kalian. Doakanlah kami agar kami mampu menjaga Al-Aqsa, masjid kita, kiblat pertama kita, hingga hari kiamat. Bantulah kami dengan doa, wahai saudara kami nun jauh di sana. Itu sudah lebih dari cukup bagi kami."

Ino mengingat sebuah video seorang mujahid yang terekam media beberapa waktu lalu. Video yang mampu menggugah jiwanya. Sebuah seruan yang mampu memantapkan keputusannya menerima tawaran Gaara untuk meliput konflik yang terjadi Palestina.

"Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah…" Ino memejamkan matanya kala ia bermunajat menyebut nama Tuhannya, memanjatkan doa, merintih dengan segala keterbatasan dan kelemahan yang dimiliki, hanya mampu memohon perlindungan dan pertolongan dari Sang Maha Kuasa.

"Yaa Rabb!" Sekejap saja, Ino membuka mata saat kakinya terantuk dan tubuhnya menabrak punggung Maki yang mendadak berhenti.

"Ada apa?" tanyanya pada Maki.

Gadis itu hanya menempelkan telunjuk di mulut dan menuntun Ino ke sisi belakang sebuah kios yang terbengkalai.

Mereka kini berada di salah satu distrik paling sepi di Old City of Jerusalem. Tidak terlihat orang berlalu-lalang di jalanan sempit dan kumuh yang dilewati Ino dan Maki. Tidak pula ada tanda-tanda kehidupan di sana dan keadaannya berantakan seperti ditinggalkan begitu saja oleh para penghuninya.

"Aahh!" Maki tak sengaja berteriak saat melihat seorang pria berpakaian semi formal –kemeja lengan panjang yang dilipat dan long pants jeans, yang membawa sepucuk senjata laras panjang melintas di persimpangan jalan.

"Ce-cepat pergi!" Maki buru-buru berbalik dan mendorong Ino kembali ke lorong yang mereka lewati sebelumnya, sambil menyuruhnya berlari.

Dengan sigap, Ino mengikuti instruksi Maki. Gadis itu memimpin di depan, berlari kecil menghindari beberapa kardus dan palet kayu tak terpakai yang berserakan menghalangi jalur pelarian mereka. Namun…

'DOR!' Selonsong peluru ditembakkan pria itu, mengarah pada dua wanita muda yang hendak menghindarinya, dan… "Aakkhh!" Tepat mengenai kepala Maki.

"MAKI!"

Beruntung Ino langsung menoleh ke belakang saat mendengar jeritan Maki, sehingga nyawanya masih tertolong karena berhasil menghindari timah panas yang melesat kilat menembus kepala gadis Palestina itu.

Maki masih sempat menggumamkan sesuatu seperti doa, sebelum berkata, "pe-per-gi-lah," pada Ino, kemudian tubuhnya roboh ke tanah yang becek.

Gadis itu mengukir senyum kala menghembuskan napas terakhir, menyambut ajalnya penuh keikhlasan.

'DOR!'

Suara tembakan menghentakkan Ino dari lamunan dan kedukaan mendalam yang dirasakan gadis itu sepeninggal Maki yang berpulang ke sisi Tuhannya dengan damai. Ino pun lekas bangkit dari tempatnya, sebelum ia menjadi korban keganasan pria yang tak dikenal itu.

"Yaa Allah…" Ino kian mempercepat langkahnya, menyusuri gang-gang kecil di perkampungan tak berpenghuni itu.

"Yaa Allah… Selamatkan hamba… Lindungi hamba… Tolonglah hamba…"

Gadis itu tak sekalipun menoleh ke belakang. Ino terus berlari menghindari pria asing yang tengah mengejarnya seperti orang kerasukan.

"Siapa pria itu? Kenapa dia memiliki senjata? Kenapa dia menembak Maki?" Pertanyaan demi pertanyaan bertubi-tubi di pikiran gadis itu saat dia berusaha melarikan diri dari kejaran pria tersebut.

"Jalan buntu! Sial!" Ino menepuk pahanya dengan keras, lalu memegangi pelipisnya sambil mengamati daerah di sekitarnya, mencari jalan keluar.

'Ah!' Gadis itu nyaris memekik, ketika melihat sosok pria yang menembak Maki semakin mendekat ke reruntuhan bangunan di ujung jalan, tempatnya bersembunyi.

Ino berjalan mundur dengan agak membungkuk. Kakinya terasa lemas dan tenaganya mulai terkuras. Ino merasa tak sanggup lagi untuk melarikan diri.

"Yaa Allah… Tolong hamba… Tolonglah hamba…" Ino tak henti-hentinya melafalkan doa, memohon perlindungan, mengharap keajaiban dari Sang Khalik, keajaiban yang mampu menyelamatkannya dari situasi genting yang dihadapi saat ini.

Tanpa disadari oleh Ino, kakinya terbelit tambang yang teronggok di tanah dan ketika Ino semakin mundur ke belakang, tambang itu menahan tumitnya. Kemudian…

'Hmmph!' Teriakannya tertahan karena seseorang membekap mulutnya.

.

.

.

TBC


[1]. Nama salah satu gerbang di Kota Tua Yerusalem.

A/N : Alhamdulillah… chapter ini kelar juga :) Anooo, konfliknya kurang berasa yaa? Kurang mencekam? Feelnya gak dapet? Chemistrynya kurang?

Huaaa… Maap keun, karena belum pernah bikin konflik serunyam ini T.T Maap kalo kurang ngena yaa minna-san T.T But, feel free to critic and review :)

Terima kasih sudah membaca fic ini. Jazakumullah khairan katsiran :)