Alzheimer Disease
Cast : Naruto U, Sasuke U, Kyuubi/Kurama, Itachi U, Tsunade, dll
Genre : Romance, Hurt/Comfort, Drama
Rated : T
Warning : FemNaru. OOC, typo, pasaran, gak jelas, alur maju mundur dll
Summary : Naruto sudah melupakan hari jadinya bersama Sasuke. Akankah... ia lupa pada Sasuke juga?
"NARUTO!" suara teriakan terdengar dari arah pintu depan. Naruto terkesiap kaget, memasukan kembali album foto tersebut ke laci meja rias dan berlari ke arah suara. "Ya?" sahutnya dengan senyum. Namun luntur seketika, mengetahui siapa yang berdiri garang di depan pintu. "KAU BENAR-BENAR! AKU SUDAH MEMENCET BEL DAN MENGETUK PINTU! APA AKU HARUS BERTERIAK?!" si tamu marah-marah di depan pintu. Naruto keluar masih dengan apron terikat di badan.
"Kakak! Jangan keras-keras! Kau benar-benar berisik!" seru Naruto tak suka. Ia menyeret tamu yang ternyata kakaknya itu masuk ke rumah. Dengan ogah-ogahan, Kurama-kakak Naruto melepas sepatu dan memakai sendal rumah. Naruto segera ke dapur, menyiapkan teh dan kue. "Sasuke sedang kerja, Naru?" tanya Kurama membuka pembicaraan. Naruto menyahut dari dapur, "Begitulah, seperti biasa," jawabnya.
Tak lama, jamuan pun siap. Naruto membwa baki berisi sepoci teh, dua gelas dan sepiring kudapan ringan kearah meja makan dimana Kurama duduk. Saat ia meletakkan nampan tersebut, ia menatap Kurama bingung. Seolah, tanda tanya besar bertengger di atas kepalanya kini.
"Kakak..." Naruto memanggilnya. Kurama menoleh. "Apa?". Naruto kembali memajang wajah bingung. "Kakak... Sejak kapan ada disini?" tanya Naruto aneh. Kurama memasang ekspresi kesal. "Apa maksudmu? Kau aneh!" Kurama membalas. Naruto masih terpaku di ujung meja. "Tapi-Kakak kapan datang? Aku tidak ingat," lanjut Naruto horor. Kurama berdecak kesal. "Hah, kau memang! Dasar pelupa! Jelas-jelas kau membukakan pintu untukku. Kau lupa kalau aku berteriak?" tanya Kurama lagi.
Naruto menggeleng, "Seingatku, tadi aku sedang... Eh tunggu, aku sedang apa tadi ya?" Naruto bertanya bodoh. Kurama menepuk jidat. "Dasar Naru!". "Kakak, aku benar-benar lupa. Seingatku aku sendirian sejak tadi. Kakak masuk lewat mana?" tanya Naruto dengan wajah polos-polos bingung. Kurama mengangkat sebelah alis. "Tolong Naruto, jangan bercanda. Aku datang lewat pintu, tentu saja!" jawab Kurama mulai kesal dengan drama adiknya itu.
Kurama pulang dengan wajah merengut saat ia sudah mencapai batasnya. Maksud ingin memberikan hadiah hari jadi adiknya yang kedua, eh adik imut binti manis miliknya malah mempermasalahkan ia masuk dari mana! Sangat tidak penting! Saat di persimpangan jalan hendak menyegat bis untuk pulang, ia berpapasan dengan Sasuke.
"Ku-nii, habis bertemu dengan Naru?" tanya Sasuke basa-basi. "Ya, begitulah. Hei, titip ini untuknya," ia menyerahkan bungkusan tas kertas pada Sasuke. "Apa ini?" tanya Sasuke penasaran. Di intipnya tas kertas tersebut. "Hanya sepotong gaun yang kutemukan di sebuah butik. Berikan padanya," jawab Kurama malas-malasan.
"Kenapa tadi nggak dikasih?" tanya Sasuke. Duh Sasuke banyak tanya deh! "Hah, tadi Naruto sedikit menyebalkan! Aku menggedor pintu rumah dan dia tak kunjung keluar. Aku berteriak, barulah ia keluar. Lalu saat ia menyajikan teh, ia malah bertanya, 'Kau masuk dari mana?' Ada apa dengannya?" Kurama bertanya bingung.
Sasuke mencerna perkataan Kurama. Naruto lupa pada Kurama setelah ia membukakan pintu untuk kakaknya itu? Sasuke kalut. Naruto kenapa sih?
"Baiklah, akan kuberikan ini padanya," Sasuke menyahut dan kemudian berpisah dengan Kurama. Saat ia menekan bel, kemudian Naruto membuka pintu untuknya.
"Ah, okaeri Sasuke-kun," jawab Naruto dengan cengiran khas miliknya. Sasuke memandangi wajah Naruto. Tak ada rasa menyebalkan di wajah Naruto sedikit pun. Sasuke masuk dan kemudian duduk di kursi makan segera setelah mencuci tangan. Naruto membawakan teh untuk suami tercinta. "Bagaimana kerjaanmu?" tanya Naruto. Sasuke meliriknya, kemudian menatap kearah poci teh. "Banyak. Tapi kau tak perlu khawatir," jawab Sasuke kemudian.
Naruto mengulas senyum di bibirnya. Matanya lalu menangkap bungkusan kertas bewarna peach. "Apa itu hadiah dari rekan wanitamu?" tanya Naruto dengan nada datar. Terdengar jelas kalau Naruto tidak suka. Sasuke baru sadar akan titipan Kurama itu. Seringai di wajahnya terukir jelas. Berispa mengerjai Naruto sejenak.
"Iya. Ia memberikannya pada ku," jawab Sasuke dengan pe-de-nya. Reaksi Naruto sesuai dengan apa yang Sasuke inginkan. Cemberut, dan menatap bungkusan itu kesal. "Siapa yang memberikannya?" tanya Naruto kemudian. Sasuke ingin sekali tertawa mendengar pertanyan itu. "Hem... aku tidak bisa bilang," jawab Sasuke-menggoda Naruto. Terlihat Naruto semakin kesal, pipinya sedikit memerah dan bibirnya mengerucut imut.
"Kau cemburu?" tembak Sasuke tepat sasaran. Naruto tersentak. "Ti-Tidak! Siapa bilang!" Naruto memalingkan muka. Sasuke benar-benar ingin tertawa. Naruto manis sekali saat kesal. "Hah, bilang saja kau cemburu, ya kan?" Sasuke kembali memancing. Wajah Naruto merona hebat. "Aku tidak cemburu! Tapi kau seharusnya tidak menerima hadiah itu!" Naruto berseru.
Sasuke mengangkat alis. Berusaha menggoda Naruto lagi. "Oh ya? Memang kenapa aku harus menolaknya? Aku harus menghargai pemberian mereka," jawab Sasuke-lumayan masuk akal. Naruto diam , tapi tidak dengan bibirnya. Bibirnya digerakkan kesana kemari, mengerucut. "Aku ini istrimu, pikirkan perasaanku!" cicit Naruto, melirik kearah lain. Oh my, Naruto seperti merajuk.
Sasuke yang tidak tahan untuk tertawa akhirnya kelepasan. Ngakak di tempat. Naruto heran. "HEI! Kenapa kau tertawa?! Kau tidak terima kalau aku istrimu?" Naruto menunjuk dirinya. Sasuke dengan susah payah mengendalikan tubuhnya supaya normal lagi.
"Aku hanya bercanda! Ya ampun!" Sasuke akhirnya menyudahi acara 'menggoda istri'. Naruto masih memasang wajah pongo. "Hah?". "Ini bukan dari rekan wanitaku, ini dari Ku-nii. Tadi aku bertemu dengan dia di jalan," jelas Sasuke. Naruto tentu, menganga. "Dasar kau! Sialan!" umpat Naruto sambil merengut tidak jelas. "Ku-nii bilang, dia kemari. Namun kau terlihat emnyebalkan jadi ia pulang dan tidak jadi memberika hadiah itu," lanjut Sasuke.
Sasuke ingin tertawa lagi. Namun tertahan karena Naruto mengajukan pertanyaan secara tiba-tiba.
"Tunggu, Ku-nii? Kemari? Kapan?" tanya Naruto. Sasuke menghela nafas. "Pantas dia bilang kau menyebalkan," Sasuke bangkit, melepas dasi dan kemeja-bermaksud untuk mandi. "Sasuke?" Naruto bahkan bingung dengan sikap suaminya itu.
Besoknya, Sasuke kembali pergi ke kantor. Dan Naruto kembali membersihkan rumah-karena kemarin ada yang belum terselesaikan. Menjelang sore, Naruto berniat untuk memasak untuk Sasuke. Saat membuka kulkas, ia baru sadar kalau kotak dingin itu kopong-kosong melompong. "Hah? Sejak kapan mereka semua habis? Haruskah aku membelinya?". Mata Naruto melirik jam. Masih jam 4. Ia punya cukup waktu untuk belanja dan memasak.
Naruto keluar dari rumah dan menguncinya. Laluia berjalan ke mini-market. Membeli beberapa sayuran dan bumbu masak yang ada dalam daftarnya. Setelah ia membayar di kasir dan beranjak keluar toko, ia celingukkan. Ke arah kiri ia berjalan. Belok kanan, belok kiri. Lurus.
Hari semakin gelap. Tapi Naruto belum juga sampai di rumah. "Lho? Rasanya... tadi sudah dekat," ujarnya. Ia membawa satu tentengan plastik di lengan kirinya. Kini ia berada entah di mana. Jalan penuh pohon dan hanya ada jalan juga trotoar. Tak ada rumah.
Singkatnya, ia tersesat. Naruto menoleh ke belakang, ke kiri, ke kanan, berusaha mencari orang untuk bertanya. Tapi tak ada satu orang pun yang berhasil ia jumpai. "Ah ya! Telepon Sasuke!" munculah ide di kepalanya. Di rogohnya saku rok, dan hasilnya tak ada apapun disana.
"Ponselku..." ratapnya. Naruto melihat langit jingga yang siap menggelap. "Sasuke-tolong aku...".
Bersambung...
Halo! Ini saya, AkaiLoveAoi! Kembali dengan Alzheimer...
Gimana ceritanya? kurang berasa? jelek? makin nggak jelas? kecepetan? maksa? gimana-gimana-gimana?
Review aja ya minna, aku terima saran apapun yang membangun. Oke? Jangan takut! Ao nggak gigit kok! *lhoh*
Makasih yang udah baca yaa!
AkaiLoveAoi
