Alzheimer Disease

Cast : Naruto U, Sasuke U, Kyuubi/Kurama, Itachi U, Tsunade, dll

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Drama

Rated : T

Warning : FemNaru. OOC, typo, pasaran, gak jelas, alur maju mundur dll

Summary : Sasuke panik Naruto tak kunjung kembali. Naruto malah menangis karena tidak tahu harus beruat apa. Sampai Naruto ditemukan oleh seorang pria yang asing bagi Naruto...?


Naruto tersesat, itulah keadaannya sekarang. Dikelilingi oleh pohon-pohon yang ia tak tahu namanya dan sejauh mata memandang tak ada rumah atau tempat yang berpenghuni. Tak ada orang untuk ia tanyai. Sungguh sial dia hari ini.

Ponsel tak bawa, dan arah pun lupa. Mengapa ia bisa begitu bodoh? Naruto mengutuk diri dalam hati. Air mata menetes, namun segera dihapusnya. "Menangis takkan mengubah apapun. Aku harus terus berjalan," tekad Naruto.

Langit telah jingga saat ia tersesat. Sekarang malam telah menjemput. Naruto melihat samping kiri dan samping kanan. Benar-benar hanya ada pohon dan jalanan. Sebenarnya, mengapa ia bisa nyasar hingga kemari? Naruto tak mampu menjawabnya. Ia pun tak paham.

Kakinya sudah lelah. Ia memutuskan untuk duduk di bawah salah satu pohon yang kelihatannya cukup nyaman untuk disandari barang sejenak. Dibukanya air mineral yang sengaja ia beli, dengan niat untuk stok di kulkas. Namun apa daya, ia malah terjebak di sini dengan ingatan memutar di kepalanya.

Gelap. Naruto mulai gelisah, dan ia baru ingat kalau ia membenci yang namanya gelap. Badannya menggigil takut. TES. TES. Air mata jatuh dari pelupuk mata. "Sasuke... Aku takut," dengan suara bergetar Naruto berucap. Terdengar jelas isakkan Naruto yang semakin menjadi-jadi, menangisi kebodohannya yang terkesan konyol. Lupa arah rumah sendiri.

Naruto memeluk diri menahan dingin. Menyesal keluar hanya dengan selembar kaus dan rok selutut yang takkan mampu menolak dinginnya malam. Ia tidur meringkuk di samping pohon dan diatas rumpu kering. Tak peduli rambutnya kotor. Kalau pulang nanti ia akan segera keramas. Tak lama kemudian, ia jatuh tertidur saking lelahnya.

KROSAK. Bunyi ranting patah karena terinjak terdengar. Namun tidur Naruto tetap tak terusik. Sosok penginjak ranting itu kemudian menyadari keberadaan seorang wanita pirang yang tidur meringkuk. Dikira mati, ia meletakkan dua jari di depan hidung Naruto. Terasa hembusan nafas hangat di sana. "Kukira mayat," ujarnya dingin.

Ia mengambil beberapa ranting kering di sekitar Naruto, dan memasukkannya ke kantung miliknya. Di lihatnya Naruto yang tertidur dan tampak kedinginan karena terus memeluk diri. Dilepasnya jaket biru gelap dan dipakaikannya ke tubuh Naruto. Setelah kayu di sekitar Naruto diambil, ia beranjak pergi meninggalkan Naruto beserta jaketnya. Tapi belum melangkah genap 2 kali, ia berhenti dan berbalik, menatap Naruto intens.

"Menyusahkan," ia meletakkan kantung kayu bakar miliknya. Diambilnya belanjaan Naruto dan dimasukkannya ke kantung. Ia mengangkat Naruto dan menggendongnya dengan satu tangan. Kuat juga.

Lalu diseretnya kantung kayu bakar itu. Sepertinya ia menuju sebuah pondok kayu kecil yang ada diantara pohon-pohon. Bersama Naruto di punggungnya, ia masuk dan menutup pintu.


Sasuke pulang dari kantor dengan wajah lelah. Bayang-bayang istri menyambutnya dengan segelas kopi hangat telah ada di kepala. Namun nihil. Naruto pun tak membukakan pintu untuknya! Bahkan pintu depan tak terkunci.

"Naru?" panggil Sasuke, mulai menyusuri tiap ruangan. Ruang tamu kosong, begitu pula ruang tivi. Di meja makan tak tersaji teh, kopi maupun kue. Dari dapur tak tercium aroma masakan apapun. Sasuke langsung pergi ke kamar. Mungkin istrinya lelah dan ketiduran? Kamar pun rapi bersih, tak ada tanda-tanda dari Naruto.

Sasuke mulai khawatir. Diambil ponsel di saku dan menelpon nomor istrinya. TRING TRING TRING! Bunyi ponsel Naruto terdengar di ruangan yang sama dengan Sasuke. Sasuke mencari sumber suara, dan ditemukanlah ponsel Naruto tergeletak manis di atas meja rias. Sasuke lantas memutus panggilan.

"Kau ada dimana, Naru?! Naruto! Jangan main-main!" Sasuke berseru ke setiap sudut rumah. Namun Naruto tidak ada dimana-mana. Di kamar mandi, ruang cuci, taman belakang, tak ada bayangnya sama sekali.

Panik namun berusaha tenang. Sasuke akhirnya keluar rumah dan mencoba bertanya pada para tetangga. Beberapa menjawab tidak melihat, namun saat bertanya pada Nyonya Yugito, tetangga di ujung jalan, ia menjawab, "Oh, aku melihat Naruto pergi ke mini market. Tapi itu sudah sejak sore tadi. Sekitar jam 4 lewat,". Sasuke mengangkat alis. Naruto bahkan sudah keluar sejak jam empat? Sekarang sudah pukul 8 malam!

Setelah berterima kasih pada Nyonya Yugito yang memberikan sedikit petunjuk, Sasuke lekas berlari kearah mini market yang dimaksud. Dihiraukannya sapaan kasir di pintu masuk. Ia segera menelusuri setiap rak di toko itu. Tapi lagi-lagi tak ada hasilnya. Tapi Sasuke tak menyerah. Ia akhirnya bertanya pada kasir.

"Apa kau lihat wanita pirang, dijepit rambutnya, bermata biru, dan mempunyai 3 luka di pipi seperti kumis kucing?" tanya Sasuke pada si kasir. Kasir itu tampak bingung dengan hujaman pertanyaan dari Sasuke. "Maaf, tapi saya tidak melihatnya," akhirnya ia menjawab demikian. Sasuke mengumpat kesal. "Apa kau lupa?! Ayolah, sekitar pukul 4 lewat! Seorang wanita pirang bermata biru!" seru Sasuke kesal, mencoba mengingatkan si kasir. "Wah maaf Tuan. Saya shift malam yang baru mulai bekerja sejam yang lalu. Tadi mungkin teman saja yang melihatnya pada shift sore," jawab si kasir dengan rasa menyesal.

Sasuke memuluk meja kasir kesal. Kuso! umpatnya dalam hati. "Siapa teman mu itu?! Dimana rumahnya? Kau tahu nomor ponselnya?!" Sasuke kembali memburunya dengan pertanyan. Mau bagaimana lagi? Ia benar-benar khawatir dengan istrinya itu. "Baiklah, saya akan bertanya dulu pada atasan saya," si kasir menunduk hormat dan beranjak. Sasuke menghela nafas tak sabaran. 5 menit kemudian si kasir kembali. Ini nomor ponsel dan alamatnya. Namanya Shion," si kasir memberikan secarik kertas kecil.

Sasuke segera merebutnya dan mengucap terima kasih. Setelahnya, ia berlari keluar toko. "Naru, kau ada dimana?" dalam hati ia bertanya-tanya. Ditekannya nomor di kertas sambil berjalan secepat yang ia bisa. Sasuke menempelkannya ke telinga, mendengar nada tunggu sangat membuatnya kesal. "Angkatlah!" gumamnya. TREK.

"Moshi-moshi?" terdengar suara dari seberang. Sasuke terkesiap.

"Ya, halo. Maaf mengganggu malam-malam. Saya Uchiha Sasuke. Apakah anda Nona Shion yang bekerja di minimarket di daerah Konoha?" tanya Sasuke langsung.

Terdiam sejenak di seberang. "Ya, saya Shion. Maaf, anda ada urusan apa?" tanyanya.

"Begini, saya hanya ingin bertanya. Apa anda melihat seorang wanita berambut pirang yang dijepit, bermata biru dan mempunyai 3 luka di kedua pipi seperti kumis kucing sekitar pukul 4 lewat?" tanya Sasuke.

"Wanita pirang? Saya tidak yakin," jawab Shion. Dan itu snagat menyebalkan di telinga Sasuke.

"Maaf, tapi bisakah anda mengingatnya lagi?" tanya Sasuke penuh harap.

"Entahlah, tapi tadi ada beberapa wanita pirang. Yang datang pukul 4 lewat ada 2 orang," jawab Shion lagi, makin mempersulit Sasuke.

Dua? Sasuke kini bingung. "Yang dijepit rambutnya!" serunya refleks.

"Saya tak begitu ingat. Yang rambutnya di jepit? Ah ya, yang memakai kaus dan rok, mungkin?" Shion mulai memberikan petunjuk.

Sasuke kembali cerah. "Ya, ya! Anda melihatnya? Ia pergi kearah mana?".

"Saya kurang tahu. Ia terlihat bingung ketika keluar toko. Kalau tidak salah, ia pergi kearah kiri," Shion menjawab ragu. Tapi Sasuke tak peduli itu benar atau salah. Setidaknya, ia mendapat satu pentunjuk lagi.

"Baiklah Shion-san, terimakasih," Sasuke memutus telepon. Memang tak sopan, tapi Naruto lebih utama sekarang.


Naruto membuka mata berat. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, sebelum akhrinya sadar kalau ia berada di atas ranjang yang tak begitu empuk dan berselimutkan kain tipis dan jaket biru gelap yang entah dari mana melekat begitu saja pada dirinya. "A-Aku... dimana?" tanyanya takut. Naruto menolehkan kepala mencari jawaban. Di depannya ada perapian yang sudah hampir padam.

Ia bangkit dari tempat tidur, berjalan mencari tahu. "Kau sudah sadar?" sebuah suara masuk ke telinganya. Segera ia menoleh, terpenjat kaget. Ia mundur beberapa langkah. "Si-Siapa kau...?" Naruto mulai takut. Di tatapnya sosok yang ternyata seorang pria.

"Ku kira kau mati. Tapi ternyata kau masih bernafas, jadi kubawa kemari," jelasnya tanpa menjawab pertanyaan Naruto. Di taruhnya gelas dan mangkuk berisi-entah apa. "Makanlah. Kau pasti lapar," ujarnya. Naruto menggeleng. "Kau orang asing! Seenaknya membawaku! Siapa kau ini?!" Naruto berseru. Sosok itu menghela nafas. "Duduk dan makanlah! Atau kau ingin ku kembalikan ke hutan yang gelap tadi?" ia mencoba mengingatkan Naruto.

"Hutan?" Naruto malah bertanya. "Ini memang di hutan?" lagi, ia bertanya. Sosok itu bangkit dan memaksa Naruto duduk. "Makan," perintahnya. Naruto memandang makanan itu. Kentang rebus, wortel rebus... "Kau yang memasak ini?" tanya Naruto, sambil mencicipi masakan pria itu. "Begitulah," jawabnya ambigu. Mimik Naruto berubah. "ENAK!" serunya. Pada akhirnya, ia menghabiskan makanan itu.

"Terima kasih atas makanannya," ujar Naruto. Pria itu menatap Naruto penasaran. "Siapa namamu?" tanya pria tersebut. Naruto menoleh, kemudian menatapnya. "Naruto, Uchiha Naruto," ia memperkenalkan diri. Sosok tersebut tampak terkejut dengan penuturan Naruto. "Uchiha-Naruto?" ulangnya. Naruto mengangguk-angguk. "Panggil Naruto saja," jelas Naruto.

Pria itu berpikir mengenai pertanyaan selanjutnya. "Berarti kau bagian dari keluarga Uchiha?" tanya pria itu lagi. Naruto mengangguk. "Ya, bisa dibilang. Aku menikah dengan salah satu anggota keluarganya," tutur Naruto. Sebenarnya ia tak perlu menceritakan ini. Tapi Naruto kira, orang di depannya baik jadi, dia rasa tidak apa-apa kalau hanya berbagi.

"Menikah? Dengan siapa?" tanyanya penasaran. "Sasuke," jawabnya.

"Sasuke?" pria itu balik bertanya. "Oh ya, dimana rumahmu?" tanya pria itu, mengalihkan pembicaraan. Naruto mencoba mengingat tapi tak bisa. "Aku lupa jalan. Sepertinya aku mulai buta arah," jawab Naruto dengan nada sendu. Pria itu kemudian berpikir untuk menolong wanita itu. "Dimana ponselmu?" tanya pria itu lagi. Naruto hanya menggeleng, "Sepertinya tertinggal di rumah," jawab Naruto.

"Habiskan makananmu dan tidurlah. Besok pagi-pagi aku akan mengantarmu ke kantor polisi. Kau bisa bertanya pada mereka kan?" tawar pria itu. Naruto terlihat cerah seketika mendengar pria itu mau menolongnya. "Benarkah? Kau akan mengantarku? Huaaa, terima kasih!" jawabnya senang dan penuh suka cita.


Sasuke masih mencari Naruto dalam gelap. Ia sangat cemas karena Naruto sama sekali belum ditemukannya. Masih berbalut kemeja kerja, ia yang hampir habis tenaganya akhirnya memilih mengadu ke polisi.

"Ada yang bisa kami bantu, Pak?" tanya petugas jaga, melihat Sasuke datang padanya. "Aku mencari seorang wanita berambut pirang. Dia hilang," ucap Sasuke. "Anda mencari orang yang hilang, Pak? Maaf, dalam prosedur kami, anda baru bisa melaporkan ini setelah 1 x 24 jam korban menghilang," jelas si petugas.

Sasuke menggebrak mejanya. "AKU TAK PEDULI! ISTRIKU MENGHILANG BEGITU SAJA!" seru Sasuke, membuat beberapa orang menoleh padanya. "Tapi Pak, maaf sekali lagi..." polisi itu melanjutkan tapi Sasuke sudah menyela. "ISTRIKU KEDINGINAN DI LUAR SANA DAN KAU TAK PEDULI?! AKU INGIN DIA DICARI SEKARANG!" Sasuke marah. "Maaf Pak, sekarang sudah malam. Orang bagian pencarian orang hilang sudah pulang semua. Bapak bisa mengisi laporan orang hilang dahulu. Baru besok kembali lagi kemari," jelas si petugas jaga.

Sasuke yang berhasil meredam emosi akhirnya menurut. Ia mengisi laporan tersebut dan kembali ke rumah. Berharap Naruto baik-baik saja dan kembali besok.


Bersambung...


Halo minna, kembali lagi bersama saya AkaiLoveAoi!

Gimana? Ribet, nggak jelas, makin ancur-kah?

Atau membaik? *pede banget aku*

Hehe, pokoknya review yaaa

Sankyuu~

AkaiLoveAoi