Alzheimer Disease

Cast : Naruto U, Sasuke U, Kyuubi/Kurama, Itachi U, Tsunade, dll

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Drama

Rated : T

Warning : FemNaru. OOC, typo, pasaran, gak jelas, alur maju mundur dll

Summary : Pada akhirnya, Sasuke mengetahui apa yang selama ini terjadi pada istri tercinta.

"Ma-Maaf? Apa yang anda bilang barusan?" Sasuke meminta Tsunade mengulang nama asing yang masuk tiba-tiba di kepalanya.

"Alzheimer. Penyakit pikun," jelas Tsunade singkat dan tajam. Apa...? Pikun...?


"Jadi, siapa yang menolongmu semalam? Apa dia juga orang yang memberikan jaket ini?" Sasuke kini bertanya pelan sambil mengacungkan jaket tersebut. Naruto mengerutkan alis. "Aku tidak tahu Sasuke-kun! Aku sudah bilang aku tidak ingat!" seru Naruto kesal.

Ia baru pulang dan dihujami pertanyaan sepele seperti itu. Itu menyebalkan baginya!

"Aku hanya bertanya, siapa yang menolongmu. Apa itu salah?" Sasuke membela diri. Rasanya dobe-chan nya ini makin dobe saja!

Naruto membuang muka. "Tapi aku sudah bilang kalau aku tidak ingat! Aku juga tidak tahu namanya!" balas Naruto. Ia menjauh, keluar dari area meja makan dan masuk ke kamar. Plus, membanting pintunya.

Sasuke menghela nafas, merasa bersalah. "Ck, Naruto itu," keluhnya.

Ia akhirnya mengalah, mengetuk pintu kamar dan membukanya perlahan. Dijumpainya Naruto duduk di ranjang dengan selimut menggulung tubuhnya. "Hei hei, baiklah... Aku minta maaf," ujarnya. Dalam posisi seperti ini, pastilah selalu laki-laki yang (di)salah(kan).

Naruto masih diam dengan bibir mengatup. Sasuke menghampiri. "Naru, maafkan aku. Aku tidak akan bertanya soal orang itu lagi," Sasuke berusaha membujuk sang istri. Naruto hanya melirik mata Sasuke sesaat, ia melirik kearah lain.

"Sasuke-kun menyebalkan," kata Naruto mendadak. Sasuke menahan senyum melihat istrinya merajuk seperti ini. Imut sekali, batinnya. Dielusnya perlahan kepala sang istri.

Kalau diingat-ingat, walau baru kehilangan Naruto semalaman, Sasuke sudah seperti kehilangan berhari-hari. Panik tanya orang sana-sini sampai-sampai pada polisi segala.

"Aku sayang padamu," ucap Sasuke tiba-tiba tepat di telinga Naruto. Tubuh Naruto merinding dan pipinya panas seketika. Begitu kata sakral itu masuk ke indra pendengarannya ia merasa sangat malu.

"Lain kali, kalau kau ingin pergi, kau harus bilang padaku, mengerti?" Sasuke memberikan pilihan. Naruto meliriknya dengan wajah malu. CUP, Sasuke mengecup dahi Naruto sekejap. Tambah malu-lah Naruto. "Sasuke! Berhenti melakukan hal memalukan!" Naruto menutup selimut dan membungkus dirinya rapat-rapat.

"Apanya yang memalukan, Naru?" goda Sasuke. Naruto benar-benar malu. "Aku mau tidur!" seru Naruto dari balik selimut. Sementara Naruto berusaha meredupkan degupan jantung yang mendadak membara, Sasuke tertawa cekikikan dari luar selimut.


Esok paginya, Sasuke masih ingin meliburkan diri dari kerjaannya. Ada yang mau tahu apa kerjaan Sasuke? Hem, itu pun Author tak tahu. Maaf ya, pembaca. Oke lanjut.

Naruto bangun dari tidurnya dan mendapati Sasuke masih tidur di sebelahnya. Niat ingin membangunkan, tapi timbul niat lain. "Aku masak saja," Naruto menjawab sendiri. Ia bangkit, menggulung rambutnya dengan jepit rambut lalu mencuci muka.

Diraihnya apron yang tergantung manis di dinding dapur. Naruto melangkah ringan meraih teko yang ditaruh di rak piring. Diisinya dengan air dan meletakkannya di atas kompor yang sudah ia nyalakan.

Naruto membuka laci untuk mengambil kopi dan teh. Tapi malah, "Hah? Kemana kopinya?" Naruto mendadak bingung. Ia memeriksa seluruh laci di dapur miliknya. Teh hijau serbuk miliknya juga lenyap. "Apa aku lupa taruh ya?" Naruto bertanya pada dirinya. Segera ia menggeleng. "Tapi aku menaruhnya di sini!" ia tetap bersih keras.

Suara ribut di dapur membuat Sasuke terbangun. Bunyi gelas yang bersentuhan bisa membangunkan dirinya yang sensitif akan bunyi. "Ada apa sih? Berisik," ujar Sasuke masih dengan muka bantal.

"Sasuke-kun, apa kau ingat dimana aku menaruh kopi dan teh?" tanya Naruto masih mencari di laci-laci. Sasuke mengangkat alis, bingung dengan pertanyaan sang istri. "Hah?" untuk kali ini dia telmi alias telat mikir. Naruto berhenti mencari. "Kopi dan teh! Aku ingin menyeduhnya. Kau tahu mereka disimpan dimana? Aku tidak menemukannya di sini!" seru Naruto kesal.

Sasuke menghela nafas paham. "Kau ini, lupa kalau kau menaruhnya di sini?" Sasuke lantas membuka kulkas. Dikeluarkannya satu toples teh hijau serbuk dan sebotol kopi bubuk. "Eh, mengapa ada di kulkas?" tanya Naruto bingung dengan ekspresi yang tidak terdefinisi lagi.

Sasuke rasanya ingin menepuk jidat. Namun tentu saja hal itu tak dilakukannya. "Kau yang meletakkannya, dasar! Kau bilang kalau dimasukkan ke kulkas mereka akan lebih awet dan tidak di semutin," jawab Sasuke.

Naruto memasang wajah bingung. "Aku tidak ingat bilang begitu," balas Naruto. Sasuke menatapnya heran. "Aku tahu kau pelupa, tapi mengapa hal seperti ini bisa lupa?" Sasuke bertanya lagi. "Kau melakukan ini setiap hari kan?".

Naruto hanya menatapnya datar, tidak bergeming. Ia melanjutkan menyeduh teh dan kopi dengan air yang telah matang.

Sasuke memandangi Naruto dengan tatapan penuh tanya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Naruto-nya?


Atas bujukan dan rayuan maut Sasuke pada Naruto, akhirnya Naruto mau melakukan medical check-up. Yah, Sasuke hanya ingin memastikan kalau keadaan istrinya itu baik-baik saja-terutama pada masalah pelupanya itu.

Memang sih, sejak SMA Naruto dikenal ceroboh, bodoh dan pelupa. Namun baginya Naruto cukup pintar untuk beberapa hal. Tapi akhir-akhir ini Naruto bersikap aneh. Pelupa Naruto semakin menjadi-jadi dan membuatnya khawatir.

Pertama, hari jadi mereka telah Naruto lupakan.

Kedua, kedatangan Kurama ke rumah. Naruto lupa pada Kurama saat ia bertamu.

Ketiga, Naruto lupa arah pulang ke rumah setelah ia belanja. Ini bukan Naruto yang biasanya. Separah-parahnya Naruto, ia takkan sebegitu bodoh untuk lupa dengan jalan pulang.

Keempat, ia lupa dimana ia menaruh kopi dan teh yang ia seduh tiap hari. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?

"Tuan Uchiha, hasil MCU bisa anda lihat seminggu lagi," kata sang dokter berkacamata, Kabuto-sensei.

Sasuke menunduk hormat dan pergi bersama Naruto kembali ke rumah.


Saat seminggu berlalu, Sasuke pergi ke rumah sakit sendirian. Ia langsung pergi ke sana tanpa pulang terlebih dahulu. Untungnya, Sasuke bisa mengambil hasil MCU istrinya juga. Terdapat beberapa hasil tes yang dibukukan, juga beberapa hasil ronsen. Sasuke sengaja mengambil paket lengkap sampai MRI (Magnetic Resonance Imaging) khusus untuk Naruto. Walau awalnya Naruto menolak mentah-mentah karena takut, tapi Sasuke bilang ini sekali seumur hidup, yah... Entah bujuk rayu apa yang Sasuke umbar sehingga Naruto bersedia melakukannya.

"Apa ada keanehan pada istriku?" tanya Sasuke pada dokter yang sama, Kabuto-sensei. "Sejauh ini, untuk kesehatan biasa seperti organ jantung, tingkat kolestrol dan gula darah normal. Paru-paru masih berfungsi baik. Mata tiada gangguan, gigi masih cantik," ujar Kabuto panjang.

Sasuke bernafas lega. "Tapi sebaiknya, Tuan Uchiha, anda membawa hasil ronsen ini ke bagian radiologi," kata dokter Kabuto, seolah masih ada misteri yang tertinggal. Di sana ada ronsen gigi dan tengkorak. "Maksud anda, ronsen otak ini?" tanya Sasuke menunjuk lembaran hitam besar tersebut. Kabuto mengangguk. "Maaf saja, bukan maksud menakut-nakuti. Dari bentu otak istri anda, saya melihat sesuatu yang aneh. Bentuknya... tidak normal," jawab Kabuto.

Sasuke menahan nafas. Otak istrinya tidak normal, katanya? "Saya bisa buat surat rujukan untuk anda. Ada salah satu dokter ahli otak di rumah sakit ini. Namanya Dokter Tsunade," jawab Kabuto.

Sasuke hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia akan kembali lagi besok.


Setiba di rumah, Naruto menyambut Sasuke namun kali ini tanpa kopi dan teh. Sasuke tidak ingin duduk di meja makan. Tanpa basa-basi dengan istrinya, ia langsung mengurung diri di kamar mandi. "Sasuke-kun? Apa yang terjadi?" tanya Naruto bingung sambil mengetuk pelan pintu kamar mandi.

Sasuke diam saja di kamar mandi, mengunci pintu dan berkaca.

Yang benar saja kata Kabuto-sensei. Apa anehnya otak Naruto? batinnya sambil menerawang hasil ronsen Naruto yang ia bawa ke kamar mandi. Namun pada dasarnya, ia tidak tahu bagaimana bentuk orak pada umumnya. "Apa masalahnya?" Sasuke masih memandangi hasil ronsen tersebut.

"Sasuke?" Naruto masih sabar memanggil dari luar. "Aku akan mandi Naruto," jawab Sasuke pada akhirnya. "Aku ingin kopi," lanjut Sasuke. Naruto berhenti mengetuk pintu. "Baiklah," samar-samar Sasuke mendengar kata itu terucap.

Sasuke benar-benar mandi setelah meletakkan hasil MCU itu di samping wastafel.


Lewat telepon, Sasuke membuat janji dengan Tsunade, dokter rekomendasi Kabuto. Ia baru bisa bertemu dengan dokter itu lusa. Sedangkan Sasuke ingin secepatnya tahu apa yang sebenarnya dimaksud Kabuto.

"Maaf, tapi bisakah anda mengosongkan jadwal anda untuk saya besok malam?" pinta Sasuke.

"Tidak bisa Uchiha-san. Saya mempunyai banyak janji, bukan hanya dengan anda," jawab Tsunade dengan nada sombong.

Sasuke yang notabene juga sombong, membalas.

"Tsunade-san, saya mendapat surat rekomendasi dari Kabuto-sensei soal anda! Jadi, saya ingin segera berkonsultasi!" jelas Sasuke.

"Tidak bisa. Lusa saya baru kosong," Tsunade tetap kukuh.

Tapi Sasuke tak kalah gentar. "Tsunade-san, tolonglah. Saya butuh bantuan anda,".

Helaan nafas terdengar dari seberang. "Pagi. Datang ke rumah sakit bagian radiologi pukul 9. Lewat dari itu, saya takkan melayani anda," ujar Tsunade memberi Sasuke harapan.

Senyum Sasuke merekah. "Baik! Saya akan datang!"


"Ma-Maaf? Apa yang anda bilang barusan?" Sasuke meminta Tsunade mengulang nama asing yang masuk tiba-tiba di kepalanya.

"Alzheimer. Penyakit pikun," jelas Tsunade singkat dan tajam. Apa...? Pikun...?

"Maaf... apa itu Al-Al...?" Sasuke saja masih susah mengucapkannya. Ia benar-benar tak tahu menahu soal penyakit.

"Penyakit Alzheimer. Berdasarkan gejala yang anda ceritakan pada saya, dan hasil ronsen otak yang di dapat dari MCU minggu lalu... Istri anda bisa dinyatakan sebagai salah satu penderitanya," jawab Tsunade, menatap hasil ronsen yang dimasukkan ke kotak neon dan Sasuke bergantian.

Sasuke masih membatu. "Alzheimer adalah penyakit yang menyerang otak, menyebabkan penurunan fungsi otak dan disfungi pada memori dan menyebabkan pikun. Gejala pertamanya adalah sering bingung, lupa sepele sampai lupa pada hal yang rutin. Orang yang telah terdiagnosa menderita Alzheimer akan meninggal kurang dari 10 tahun setelah ketahuan," jelas Tsunade panjang lebar.

Sasuke menatap Tsunade nanar, apalagi setelah mendengar kalimat bagian akhir. "Apa...? Meninggal...?". Lidahnya bahkan kelu untuk sekedar mengucapkannya. Tak terbayangkan bagaimana kalau Naruto akan mati dalam keadaan melupakan dirinya.


Bersambung...


Kembali lagi bersama Ao... Maaf Ao jarang banget update nih

Gimana ceritanya...? Bagus? Jelek? Nyebelin? Jangan lupa review yaa Mas-Mas dan Mbak-Mbak, serta Adek-Adek yang sudah baca...

Ao sangat sibuk #halah. Dan Ao sangat berusaha untuk mengetik fanfic tercinta ini.

Pokoknya makasih yang sudah baca sampai sini~

Sankyuu~~

AkaiLoveAoi