Alzheimer Disease
Cast : Naruto U, Sasuke U, Kyuubi/Kurama, Itachi U, Tsunade, dll
Genre : Romance, Hurt/Comfort, Drama
Rated : T
Warning : FemNaru. OOC, typo, pasaran, gak jelas, alur maju mundur dll
Summary :
"Sasuke-kun, apa yang terjadi?". "Aku takut kau lupa padaku..."
Dengan langkah gontai, Sasuke memasuki rumah bahkan tanpa mengetuk. Sang istri yang masih berada di meja makan-menunggu Sasuke pulang, menghampirinya dengan khawatir.
"Sasuke-kun, apa yang terjadi?" tanya Naruto, menyambutnya. Sasuke mendongak melihat Naruto. Matanya membulat melihat penampilan Naruto yang... aneh?
Untuk apa malam-malam begini memakai kaos longgar yang entah dapat dari mana serta celana model cutbray yang juga entah dari mana Naruto dapat. Untunglah apron manis itu masih melekat di badannya.
"Kau-kenapa memakai pakaian seperti ini?" tanya Sasuke heran. Naruto memandang dirinya sendiri. "Hah? Bukankah aku selalu memakai pakaian seperti ini?" Naruto malah balik bertanya. Sasuke benar-benar heran. Sejak kapan Naruto jadi suka celana cutbray-yang bagi Sasuke menjijikan itu?
Setahunya Naruto akan selalu memakai rok. Entah mini, medium, large -emang minuman? Maksudnya, entah rok pendek, selutut atau pun panjang. Naruto sangat jarang sekali banget memakai celana. Ini lagi cutbray!
Tersentak dalam pikirannya. Perkataan Tsunade tadi pagi.
"Penderita Alzheimer cenderung berubah karakter menjadi semaunya dan tidak bisa mengurus diri. Ia menjadi gampang marah dan gampang senang, juga acak-acakan dalam berpakaian,".
Nah, Sasuke paham. Ditatapnya Naruto lekat. Naruto juga memandang Sasuke balik. "Eung... ada apa?" tanyanya canggung. Plis deh, sudah pasutri untuk apa lagi canggung?!
Pandangan Sasuke berubah sendu. Naruto tidak tahu apa artinya itu. Ia berusaha memahami tapi tidak bisa. Kepalanya berdenyut sakit saat mencoba untuk berpikir.
Apa dia harus bilang pada Sasuke kalau dua hari terakhir ia terus meminum obat sakit kepala karena ia merasa tidak enak dengan rasa sakit yang seolah menggedor-gedor kepalanya? Ia ingin mengadu, tapi takut Sasuke menjadi khawatir berlebihan.
Jadi Naruto memilih bungkam.
Saat Naruto hendak memutus kontak mata dengan suaminya, tiba-tiba Sasuke mengecup bibirnya pelan. Penuh kelembutan dan tanpa paksaan. Naruto terkejut, matanya membuka menatap Sasuke yang menutup mata, berusaha menyampaikan perasaan lewat ciuman tanpa gairah namun penuh kasih.
Dilepasnya kecupan itu, Sasuke lalu memeluk si pirang. Lagi-lagi lembut. Naruto bingung. Kenapa dengan Sasuke?
Di lain sisi, Sasuke berusaha meredam getaran tubuh akibat menahan tangis. Sungguh hancur dirinya mengetahui istri tercintanya yang masih diusia produktif seperti ini sudah terserang penyakit seperti itu.
Di peluknya si pirang dengan hati-hati. Takut-takut jika terlalu erat malah pecah, hancur berhamburan dan hilang tak kembali. Sasuke kemudian melepas dekapannya lalu memasang wajah 'semua baik-baik saja' dan itu berhasil. Ia lolos dari interogasi Naruto malam itu.
Tanpa Naruto tahu, Sasuke sibuk dengan ponselnya mencari tahu. Apa yang sebenarnya telah masuk ke tubuh istrinya itu.
Sasuke tak bisa tidur malam itu. Ia memikirkan apa yang harus ia lakukan. Memberi tahu Naruto perihal penyakitnya sama sekali bukan pilihan yang bagus. Sasuke sama sekali tidak tega. Memberitahu keluarga Naruto? Itu juga bukan pilihan baik. Apalagi kalau Kurama sampai tahu... Entah apa yang akan dihancurkan Kurama setelahnya.
Membawa Naruto ke dokter? Tolong hapus itu dari daftar pertanyaan. Naruto benci segala hal tentang dokter rumah sakit, medis dan apapun yang menyangkut itu.
"Apa penyakit ini bisa disembuhkan, Tsunade-sensei?" tanya Sasuke pada Tsunade kemarin.
"Sayangnya, Tuan Uchiha. Penyakit ini memang tak ada obatnya. Yang hanya ada perawatannya saja. Anda harus merawat Naruto-san dengan baik sekarang," jawabnya.
Sasuke menutup muka saat mengingat rentetan kalimat yang mengerikan itu. Penyakit yang tak ada obatnya. Apa Alzheimer memang tidak bisa disembuhkan?
Pagi-paginya, Sasuke terlambat bangun karena kelelahan berpikir. Naruto membangunkannya, dengan cara lain.
PRANG! Terdengar suara pecahan kaca dari dapur. Sasuke segera bangkit, ia langsung teringat Naruto. Dijumpainya Naruto tengah memunguti pecahan gelas kaca sampai jari-jari itu teriris. Sasuke ngeri sendiri.
"NARUTO!" Ia memekik dan langsung meraih tangan Naruto yang berdarah. Naruto sudah menangis saat itu. "Sasuke... Sasuke..." ia hanya bisa menyebut nama suaminya. Sasuke benar-benar miris melihat istri tercintanya. "Sudah, biarkan saja itu. Aku yang bereskan. Sekarang kita obati lukamu," jawab Sasuke kemudian.
Sasuke mengambil baskom berisi air, kapas kering juga obat merah. Setelah membersihakn luka dan mengobatinya, Sasuke lalu memunguti pecahan gelas yang berserakan. "A-Ano... Sasuke-kun. Aku minta maaf," ucap Naruto sambil menundukkan kepala.
Sasuke kemudian meraih telapak tangan Naruto yang terluka. Mengelusnya lalu mengecupnya pelan. "Itu sama sekali bukan masalah," jawab Sasuke lembut. Naruto malah terisak. "Ta-Tapi..." Naruto hendak berkata. Sasuke memandangnya penuh tanya.
"Gelasmu... gelas kesayanganmu... pecah..." jawab Naruto. Air mata mengalir turun ke pipinya. Sasuke memandangnya sejenak. Ia bahkan baru sadar kalau itu gelas kesayangannya.
"Sudah, jangan menangis," ujar Sasuke, menyeka air mata Naruto dengan jempolnya. "Dari pada gelas itu, aku lebih tidak rela kalau kau terluka seperti ini," Sasuke benar-benar ingin menangis juga.
Biarlah walau semua benda kesayangannya pecah dan hancur... Gelas, piring, tempat tidur, bahkan rumah... Ia tidak peduli. Yang penting Naruto tetap ada. Tidak hancur oleh penyakitnya seperti ini...
Semenjak insiden gelas pecah, Sasuke tak pernah membiarkan Naruto menyentuh gelas beling. Semua gelas dan piring ia ganti dengan berbahan plastik anti pecah. Pertamanya Naruto protes, tapi Sasuke menegaskan kalau itu demi keselamatan dirinya. Yah, Naruto tidak bisa menolak.
Seperti biasa malam itu, Sasuke pulang dari tempat kerja. Ia melepas dasi, menaruh jas di sofa dan duduk di kursi makan. Naruto keluar dari dapur sambil membawa makanan. Dari baunya saja, ia bisa merasakan betapa sedapnya rasa masakan Naruto itu. Ya ampun, benar-benar istri idaman.
"Ini dia Sasuke-kun! Sup tomat!" Naruto membawa panci yang masih menguap. Ditaruhnya di meja beserta nasi dan semangkuk lauk daging. Sasuke benar-benar senang. Ia tersenyum pada Naruto. Sejenak, kekhawatirannya akan Naruto menguap. "Naru... bagaimana kalau malam ini kita melakukannya lagi?" tanya Sasuke dengan nada rendah.
Naruto yang hendak mengambilkan Sasuke nasi terdiam sejenak. "Huh? Melakukan apa?" tanyanya polos. Sasuke memutar bola mata, lalu terpaku pada Naruto. "Apa lagi? Tentu saja hubungan suami-istri," jawabnya ringan. Memerah pipi Naruto mendengarnya. "Ja-Jangan bicara begitu di meja makan, dasar bodoh!" ucap Naruto malu. Ia meletakkan mangkuk nasi Sasuke.
Sasuke benar-benar senang. Ia kemudian menyendoki sup tomat ke mangkuknya. Dicicipnya sedikit. HAH? KOK...? Sasuke bingung dengan indra pengecapnya. "HUWAA! KOK HAMBAR SEKALI?!" Naruto tiba-tiba memekik setelah mencicipi sup buatannya sendiri.
"Kau... tidak menambahkan garam...?" lirih Sasuke, tapi Naruto masih bisa mendengarnya. "Eh-aku... lupa sepertinya," jawab Naruto sambil menggaruk kepala memohon ampun.
Sasuke kembali diliputi rasa takut. Tentu saja ia takut! Istrinya... istrinya bahkan lupa memberi garam pada masakannya sendiri! Memasak sudah menjadi ciri khas Naruto bahkan sejak mereka SMA! Sasuke sangat takut sekarang.
Segera ia bangkit dan menyeret paksa Naruto ke kamar, meninggalkan makan malam mereka.
Dibantingnya Naruto ke tempat tidur. Sedikit kasar, dan Naruto meringis sakit. "Sa-Sasuke?! Ada apa...?" ia bingung dengan perbuatan suaminya. Rasanya tadi suaminya tersenyum senang. Masa... hanya karena supnya tidak enak?
Sasuke membuka kemejanya sendiri, lalu menciumi Naruto dengan ganas dan tanpa aba-aba. "Sa-ngh," bahkan mulut Naruto terkunci, tak bisa mengucap apapun lagi. Naruto menutup mata takut. Biasanya, kalau sudah seperti ini, malam akan berlangsung sangat panjang. Ada apa dengan Sasuke?
Di lain pihak, Sasuke terus menginvasi setiap detil dari bibir istrinya. Ia sama sekali tidak ingin Naruto lupa, lupa bagaimana rasa bibir yang menciumnya. Juga, ia tidak ingin Naruto lupa, bagaimana tingkahnya saat mencoba memberi ciuman ini padanya. Ia tidak ingin Naruto lupa.
"Sasuke! Hentikan!" Naruto memutus ciuman panjang itu setelah mendapat kekuatan entah dari mana. Sasuke tersadar dari tindakan berlebihannya. Dipandangnya Naruto yang masih berpakaian. "Jangan buru-buru. Ada apa denganmu?" tanya Naruto. Sasuke masih menatap Naruto.
BRUGH. Sasuke memeluk Naruto-nya. Ia setengah berlutut, sedangkan Naruto duduk menekuk lutut. Sasuke membenamkan seluruh wajahnya di perpotongan leher Naruto, diantara helaian rambutnya. Ia mengeratkan dekapannya di pinggang Naruto.
"Sa-Sasu...?" Naruto bingung. Hiks... Bisa Naruto dengar dengan jelas dari telinganya, Sasuke tengah menangis. Yang tidak ia tahu... apa alasannya?
"Aku takut..." ucap Sasuke, menjawab pertanyaan di benak Naruto. "Aku takut kau lupa padaku..." lanjut Sasuke lagi. "Huh... Lupa? Mana mungkin?" sergah Naruto. Masih ia dengar di telinga, Sasuke yang menangis.
"Aku takut kau melupakanku, aku takut kau pergi dari ku..." Sasuke kembali berujar. Naruto masih tidak mengerti, tapi ia berusaha menghilangkan kekhawatiran Sasuke-nya.
Direngkuhnya punggung pria itu agar tetap ada di dekatnya. "Aku tidak akan begitu. Aku kan, sudah ada di hatinya Sasuke. Sasuke juga ada di hatiku. Tidak mungkin ada yang lupa, tidak mungkin ada yang pergi," jawab Naruto.
Sasuke membuka mata. Mencerna perkataan Naruto yang tadi. Seandainya bisa begitu... Naru. "Kau harus janji!" Sasuke berucap-masih dalam posisi memeluk. Naruto tersenyum, "Iya, janji," Naruto mengelus punggung yang tidak berbalut apa-apa itu.
Kemudian Naruto melepas pelukan tersebut, dan melanjutkan kembali kegiatan yang tertunda tadi.
Dua hari kemudian...
"Ungg..." Naruto menggumam rancu. Ia tiduran di tempat tidur. Badannya sama sekali tak terasa enak! Pusing, mual, mulas, panas... Pokoknya sangat tidak bisa diajak kompromi.
Mendadak, Naruto ingin muntah lagi. Segera ia menyibak selimut dan masuk ke kamar mandi. Wastafel jadi tujuannya. Dan lagi-lagi sama seperti tadi. Ia tidak memuntahkan apapun. Hanya riak-riak kecil yang keluar. Tapi, rasa mualnya tak kunjung hilang.
Sial... Ia tidak tahu obat apa yang bisa mengobati pusing dan mual secara bersamaan. Dan lagi, Sasuke sudah pergi kerja dari tadi. Setelah ia bersih-bersih, barulah rasa pusing-mual-mulas ini muncul. Kalau menelpon Sasuke, sama saja menambah beban Sasuke! Iie, ia sama sekali tak ingin merepotkan suaminya.
ECK! Terlintas di pikiran Naruto suatu hal gila yang sama ini belum pernah ia bayangkan. Segera ia bongkar lemari di kamar mandi. YES! Ketemu! Alat tes kehamilan!
Naruto langsung mengikuti petunjuk dan mengetesnya. Ia menunggu hasilnya semenit kemudian. Garis 2 untuk positif, garis satu negatif. Ia menanti-nanti, berapa garis yang akan keluar?
Bersambung...
Holaaa minnaaaaa! Lama tidak bertemu! (WOY KEMANE AJE LOOO, UPDATE LAMA BANGET!)
HEHE, maaf ya semua. Saya lama banget meng-update cerita ini, malah publish cerita lain. He, gomen!
Yang penting sekarang, gimana cerita yang tadi? Gak seru? atau menarik? Kurang panjang? Jelek?
Duh, pokoknya ngomong di review aja lah yaaa.
Makasih lho kalian udah baca!
SANKYUU~
AkaiLoveAoi
