Alzheimer Disease

Cast : Naruto U, Sasuke U, Kyuubi/Kurama, Itachi U, Tsunade, dll

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Drama

Rated : T

Warning : FemNaru. OOC, typo, pasaran, gak jelas, alur maju mundur dll

Summary : Saat Naruto tengah menanti berapa garis yang muncul, Naruto mendadak sadar sesuatu.

"Kalau mendapat satu garis, apa artinya?" tanya Sasuke. GLEK. "Aku... hanya mendapat satu garis?".


Dengan cemas, Naruto menunggu berapa garis yang akan muncul di alat tes kehamilan sederhana yang Sasuke belikan untuknya. Cemas?

Huh? "Heh... Ke-Kenapa aku berpikir kalau aku hamil?! Dasar Naruto bodoh!" Naruto berteriak melengking. Dilemparnya alat tes kehamilan itu sembarangan dan akhirnya nyangkut di wastafel. Padahal hasil tes itu sama sekali belum dilihatnya. "Aku hanya muntah dan pusing! Sudah pasti masuk angin kan? Duh, aku berpikir terlalu jauh!" Naruto meninggalkan kamar mandi dan lekas mengorek minyak angin di laci meja.

Ia menggosokkannya ke pelipis juga perut. "Huaa... Hangat," sensasi panas akibat minyak angin begitu nyaman di tubuhnya. Naruto kemudian tertidur pulas saking nyamannya. Hingga Sasuke pulang.

"Tadaima," ucap Sasuke ketika ia sampai di rumah. Naruto kini tak menyambutnya. Bingung melandanya. Tersesat lagi?! Semoga jangan!

Segera, Sasuke mengecek dapur, ruang tamu, ruang makan, kamar mandi. Dan akhirnya, ia menemukan Naruto terbaring begitu manis di ranjang lengkap dengan selimut. Sasuke menghela nafas lega, mengetahui Naruto telah tidur begitu nyenyak. Ia pun duduk di tepi ranjang, melepas dasi dan membuka kemeja. Ia meraih handuk, berniat untuk mandi.

Untuk sekedar informasi, di dalam kamar juga ada kamar mandi. Yang di cek tadi Sasuke adalah kamar mandi untuk tamu. Kalau yang di kamar... ya untuk Sasuke dan Naruto saja.

Sasuke meletakkan handuk di gantungan tembok. Ia memandang dirinya di cermin, di atas wastafel. Sasuke melihat ada benda asing yang nyangkut di sana saat ia hendak mencuci tangan. "Apa ini?" ia mengangkat benda itu dan melihatnya sejenak, berusaha mengingat. Benda putih, panjang sekitar... 10 centi? Dengan garis merah... AH IYA! INI ALAT TES HAMIL DI IKLAN ITU KAN?! Sasuke tersentak. "Na-Naruto... Hamil?" pekiknya. Apa dia benar-benar hamil?

Niat mandinya batal. Ia membawa alat tes itu keluar kamar mandi. Beruntung Naruto sudah bangun. Kebetulan yang sangat bagus untuk bertanya!

"Sa-Sasuke? Kapan kau pulang?" tanya Naruto kaget. Mendapati suami tercinta sudah keluar dari kamar mandi. "Sudah dari tadi. Kau tadi tidur sangat lelap, aku tak tega membangunkanmu," jawab Sasuke tenang. Naruto bangkit berdiri, sekilas ia melihat Sasuke memegang sesuatu. "Apa itu, Suke?" tanya Naruto penasaran.

Sasuke jadi ingat niatnya untuk bertanya. "Ah ya. Aku ingin tanya. Kau... memakai ini?" ia mengacungkan benda (yang Naruto anggap laknat) itu. Tentu saja, Naruto terkejut setengah mati. Seingatnya ia sudah melemparnya!

"He-Hei... Darimana kau dapat itu?!" Naruto berusaha meraih benda itu dan ingin mencoba membuangnya lagi. Sasuke mengangkat benda itu tinggi-tinggi. "Aku tanya apa kau memakainya?" sekali lagi Sasuke bertanya. Kini Naruto diam, wajahnya memerah malu. Skak mat lah dia. Lebih baik jujur saja. "Uuh... Iya, iya aku memakainya!" akhirnya Naruto mengaku. Ho... jadi benar ia memakainya... Kenapa baru sekarang dipakai? "Hari ini aku merasa tidak enak badan. Aku mual sekali, juga pusing. Aku berpikir-mungkin aku hamil. Tapi tidak! Sepertinya tidak begitu! Makanya, buang saja!" Naruto kembali mencoba merebut alat itu.

Sasuke terdiam sejenak, kemudian dia bertanya. "Hei, kalau garis satu, maksudnya apa?" tanya Sasuke kemudian. Naruto diam. Ja-Jangan-jangan... aku hanya mendapat satu garis? batin Naruto berkecamuk. "I-Itu..." Naruto ragu untuk mengatakannya. Ia takut Sasuke kecewa dengan hasil tes itu.

"Berarti... aku negatif hamil," jawab Naruto lemas. Sasuke memandang Naruto yang menunduk. "Oh," sahutnya. Naruto menoleh, dengan rona merah malu di wajahnya. Se-sepertinya... Sasuke-kun kecewa... "Kau mendapat dua garis. Kau hamil, Naru," ujar Sasuke sumringah. Naruto mengerutkan alis, kaget! Ya, ia kaget bukan main!

"HAAH?! TA-TAPI... AKU MELEMPAR ALAT ITU! BISA JADI RUSAK KAN?" Naruto masih tidak siap kalau hamil. Memang, senang rasanya dapat momongan. Tapi, ia sama sekali tidak siap!

"Baiklah, aku akan menelpon dokter kandungan," Sasuke pergi dari sana. "Sasuke-kun tunggu!" Naruto hendak mencegah tapi... Sasuke sudah menelpon.


Dan berakhirlah ia di sini, ruangan 3x4 milik seorang dokter kandungan. "Senangnya, sudah dapat anak, eh?" rupanya, Haruno Sakura-lah yang menjadi dokter kandungannya. Naruto tidak terkejut, karena ia sudah menguping pembicaraan Sasuke dan Sakura kemarin malam.

"Aku tidak tahu! Makanya aku ingin memastikannya disini!" ujar Naruto memasang wajah merengut. Sakura menghela nafas. Kemudian ia mempersilahkan Naruto dan Sasuke untuk duduk. "Kapan terakhir kalian berhubungan suami istri?" tanya Sakura menyiapkan kertas untuk menulis hasil observasi. "Ke-Kenapa kau tanya?" Naruto malu menjawabnya. "Tiga hari yang lalu," jawab Sasuke.

Sakura mengangguk, sementara Naruto-memerah malu. "Lalu, kapan kau merasakan gejala kehamilan, Nyonya Uchiha?" tanya Sakura lagi. "Ung... kemarin," jawab Naruto jujur. "A-Ano... aku merasa mual dan pusing. Aku pikir aku masuk angin. Tapi, aku mengingat adegan drama yang sering aku tonton. Lalu-aku mencari alat tes itu. Aku hanya iseng saja," jawab Naruto menautkan jari.

Sementara Sasuke yang ada di sebelahnya-hanya diam mendengarkan. "Lalu... kau mendapat dua garis dari keisenganmu?" Sakura mengacungkan bukti yang diberikan Sasuke padanya tadi. "Lebih baik aku memeriksamu," Sakura kemudian bangkit. Ia menyuruh Naruto berbaring di ranjang.

"Kalau kau sungguh hamil, usia kandunganmu mungkin baru beberapa hari. Belum ada bentuknya," ujar Sakura, menyesuaikan alat USG di perut Naruto yang masih rata. "Uuh, salahkan saja Sasuke! Dia terlalu bersemangat!" Naruto menunjuk Sasuke-sebagai pelaku utama.

"Apa salahnya periksa? Kalau sungguhan bagaimana?" ucap Sasuke khawatir. Tentu saja khawatir. Naruto begitu ceroboh. Dia sendiri yang bilang, kalau ingin menunda memiliki anak. Tapi... akibat hubungan intim mereka malam itu, Sasuke jadi kelepasan. Dan mungkin dia sedang beruntung, Naruto sedang dalam masa subur. Dan begitulah. Janin pun tumbuh.

"Uchiha-san, aku bisa melihat ada gumpalan daging di rahimmu. Tapi... aku belum bisa melihat jantungnya berdetak atau tidak. Karena itu baru bisa dilihat setelah lewat 2 bulan," jelas Sakura. "Kesimpulannya, aku belum bisa bilang kau hamil. Namun, menurut gejala, kau bisa dibilang positif. Selamat Tuan Uchiha, anda akan menjadi ayah 9 bulan lagi," jawab Sakura, menyalami Sasuke. Ritual formal dokter kandungan pada pasien.

Sasuke tentu saja senang. Senyum bahagia terukir jelas di bibirnya. "Dengar itu, Naru? Aku akan menjadi seorang ayah. Dan kau... ibunya!" ujar Sasuke pada Naruto yang masih terbaring.

Aku... seorang ibu...? Air mata mengalir pelan dari mata Naruto. Ia terharu.

Ia bangun dari tidur dan menghampiri Sasuke. Sasuke merangkulnya pelan sambil tersenyum penuh arti.

Setelah Sakura selesai menulis vitamin yang harus Naruto tebus di bagian farmasi, pasutri itu kemudian keluar dan menunggu di loket obat. Saat sedang menunggu, seseorang menyapa Sasuke yang tengah duduk bersama Naruto.

"Lho, Uchiha-san?" ternyata, Dokter Tsunade yang menghampiri. Sasuke sedikit terkejut, tapi ia berusaha menutupinya. "Ah, Tsunade-sensei. Apa kabar?" tanya Sasuke basa-basi. Tsunade masih mengenakan jas dokter saat itu, maka Naruto berkesimpulan kalau orang yang menyapa Sasuke itu adalah seorang dokter pula. "Baik. Anda sedang apa? Saya rasa kita tidak punya janji," ujar Tsunade.

"Saya habis ke bagian obstetri," jawab Sasuke ringan. Tsunade terkejut, "Wah, untuk apa anda kesana?" tentu saja ia bertanya, itu bagian untuk wanita!

"Saya mengantar istri saya. Oh ya, kenalkan. Ini Naruto," Sasuke menunjukkan sosok Naruto yang mengenakan terusan selutut dan cardigan. Tsunade akhirnya paham. "Oh, Naruto Uchiha? Saya Tsunade, dokter bagian radiologi," tanggap Tsunade ramah. Ia mengulurkan tangan, hendak berjabat dengan Naruto.

Naruto berdiri dari duduknya, kemudian menyapa ramah Tsunade. "Senang berkenalan dengan anda, Tsunade-san," jawab Naruto. Mereka berjabat tangan. "Kalau habis dari bagian obstetri, apa Naruto-san sedang hamil?" tanya Tsunade iseng. Naruto memerah malu. "Ti-Tidak! Aku hanya baru merasakan gejala kehamilan. Sasuke yang terlalu semangat bilang kalau aku hamil!" serunya. "Tapi kau tidak dengar kalau Sakura menyelamati kita? Dia bilang kau positif hamil!" sergah Sasuke.

Tsunade tertawa lepas, "Wajar saja, suami-mu ini sangat menyayangimu dan khawatir tentang mu. Dan itu lumrah, Naruto-san. Selamat ya, sudah mendapatkan bayi," balas Tsunade. Ia kemudian pergi, masuk ke bagian radiologi untuk kembali bekerja.

Bagian farmasi mengantri begitu lama. Naruto memanfaatkan ini untuk bertanya perihal Tsunade. "Suke, siapa Tsunade-san? Mengapa kau mengenalnya?" tanya Naruto bingung. "Oh, aku memeriksa hasil ronsen dari MCU waktu itu. Kebetulan, surat rujuk yang diberikan Kabuto-sensei adalah pada Tsunade-sensei," jawab Sasuke.

Naruto berpikir sejenak. "Hm... ronsen apa?" tanya Naruto-kembali menunjukkan firasat tidak enak. Sasuke menoleh horor. "Waktu kita MCU, nyaris sebulan lalu," jawab Sasuke, berusaha mengembalikan ingatan Naruto. Tidak, jangan lupa lagi!

"MCU? MCU itu apa?" Naruto kembali bertanya dengan wajah polos. Ekspresi Sasuke berubah lesu, mendapati pertanyaan istrinya itu. "Medical Check-up. Kau lupa?". Naruto masih memajang pose berpikir. "Aku tidak ingat pernah melakukannya..." akhirnya ia berujar.

Baru saja kabar kehamilan anak pertamanya sampai di telinga beberapa menit yang lalu. Satu kalimat yang paling tidak Sasuke inginkan malah terlontar dari mulut sang istri tercinta. Pupus sudah harapannya. Kabar gembira akan anaknya seakan tertelan kembali ke bumi sana.

"Uchiha-san!" bagian farmasi memanggil nama keluarga Sasuke. Sasuke akhirnya berdiri dan menghampiri meja. Ia diberikan sebotol vitamin dan suplemen untuk menjaga kehamilan Naruto. Sedang Naruto masih duduk di bangku menunggu Sasuke.

Setelah vitamin itu diambil dan membayar kwitansi, mereka pulang menuju rumah. "Naruto, aku tahu ini terlalu cepat tapi aku ingin memberitahu hal ini pada keluarga mu," Sasuke mendadak berkata selagi mereka di perjalanan pulang.

"Hmm... aku pikir tidak apa-apa. Tentu saja boleh! Bagaimana kalau sekarang saja?" Naruto malah memberi respon positif. Tadinya, Sasuke pikir Naruto akan menolak dengan keras dan ujung-ujungnya ia akan pergi diam-diam ke keluarga Uzumaki nanti malam. Tapi sepertinya, bersama dengan Naruto lebih baik.

"Tentu boleh," Sasuke mengubah haluan. Mereka pergi ke kediaman Uzumaki.

Sesampainya di sana, sang ibu yang tengah menyapu halaman depan langsung membanting sapu dan berlari kearah anak yang kini sudah dewasa. "NARU-CHAAAAAN! KAA-SAN MERINDUKANMU!" Kushina tiada berhenti berteriak pada anak perempuannya tersebut. "Kaa-san! Biarkan aku masuk!" Naruto berusaha lepas dari dekapan maut sang ibu.

Keduanya masuk ke rumah. Kushina menyajikan teh. Minato datang menghampiri Sasuke dan Naruto. "Tou-san, apa kabar?" tanya Naruto. "Baik-baik saja. Kurama menjaga kami dengan baik," jawab Minato. Dan setelah Minato menyebut nama kakak Naruto itu, sosok aslinya muncul dari pintu depan. "Tadai-lho? Naru-chan? Sasuke? Sedang apa?" Kurama terheran-heran melihat adik dan iparnya duduk di ruang tamu.

"Tou-san tidak tahu. Mereka mendadak datang," Minato menjawab. "Kaa-san yakin, Naru-chan mau bicara kan? Ada apa Naru-chan?" Kushina menaruh 5 gelas dan sepoci teh panas. Ia kemudian duduk di samping Minato. Kurama masuk ke dapur dulu untuk cuci tangan.

"Etto... Naru hanya mau bilang..." Naruto ragu untuk mengatakan ini. Sasuke terkekeh melihatnya. "Naru hamil," potong Sasuke cepat. Naruto menoleh kearah Sasuke. Begitu pula dengan semuanya. "HAMIL?!" Kushina, Minato, Kurama kompak menjerit.

Kurama lekas menghampiri Naruto. "Kau?! Kau benar-benar hamil, Naruto?! Perutmu sama sekali tidak buncit!" Kurama menekan-nekan perut Naruto. "Ku-nii apa-apaan sih! Tentu saja tidak buncit! Ini baru beberapa hari!" jelas Naruto sambil memukul tangan kakaknya yang iseng.

Kushina mengelus tangan Naruto. "Syukurlah... Kau akhirnya mendapat bayi. Ahh... Minato, kita akan menjadi kakek dan nenek," Kushina bersandar di bahu Minato. "Haha, aku merasa tua, Kushina," balas Minato geli. "Dan kau jadi paman, Kurama," Kushina menunjuk anak laki-lakinya yang memilih jomblo seumur hidup. Syukurlah, berkat ke-jomblo-annya, Kurama mampu mengurus Kushina dan Minato di usia senja. Kurama merengut dipanggil paman oleh ibunya sendiri.

"Yah, kurasa... Kita perlu mengadakan perayaan. Bagaimana kalau kita memasak bersama Naru?" ajak Kushina bersemangat. Naruto langsung mengangguk. "Ayo, Kaa-san!".

Makan malam sedang dibuat oleh ibu dan anak itu. Sementara para laki-laki menunggu di ruang makan. Sasuke hanya diam. Minato membaca koran sedangkan Kurama main dengan ponsel. "Ano... Ku-nii, Minato-san. Aku ingin memberitahu sesuatu," Sasuke membuka obrolan pria. Minato menutup koran dan memasang posisi serius. "Kau ingin bicara apa, Sasuke? Ayo katakan saja," jawab Minato ramah.

Kurama masih sibuk dengan ponselnya, tapi Sasuke yakin kalau kakak iparnya itu mendengarkan. "Selain hamil, aku juga punya kabar lain," jawab Sasuke. Kurama melirik kearah Sasuke. Tanda kalau ia penasaran dengan kabar lain yang Sasuke bawa.

"Akhir-akhir ini, Naruto selalu kelupaan sesuatu. Ia bahkan pernah tersesat sampai tidak pulang semalaman. Saat aku memutuskan untuk menyuruhnya melakukan MCU dan melihat hasilnya, seorang dokter mengatakan kalau Naruto mengidap penyakit Alzheimer,". Sasuke menjelaskan dengan hati-hati.

Keduanya terpaku. "Aku tidak tahu apa itu Alzheimer. Namun dokter itu menjelaskan, Alzheimer adalah penyakit lupa," Sasuke melanjutkan. Ia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. "Hei, gosip apa yang membawamu kemari? Jangan bercanda!" Kurama memotong.

"Aku juga berharap itu hanyalah gosip dan tidak terjadi. Tapi itulah yang terjadi," jawab Sasuke tegas. Kurama menggebrak meja. "Jangan mengada-ada! Naru mana mungkin sakit seperti itu! Ia terlihat sehat!" Kurama membalas dengan suara keras.

"Memang begitu gejalanya, Ku-nii! Tapi Naru sudah sangat sering kelupaan sesuatu! Ia lupa hari jadi kami, ia lupa kalau kau datang ke rumah, ia tersesat, ia lupa menaruh barang, dan ia lupa menambahkan garam ke dalam sup! Apa kau pikir itu semua kebetulan?" Sasuke berkata panjang lebar.

"Awalnya aku pikir itu hanyalah kebiasaan Naruto yang pelupa. Namun semakin lama ia semakin aneh. Ia juga pernah berpakaian bukan seperti gaya-nya," Sasuke kembali melanjutkan. "Dia memang terkena penyakit itu. Aku berusaha mengelak tapi memang itu kenyataannya," Sasuke terngah-engah menyelesaikan kalimat tersebut.

Minato masih termangu, menatap Sasuke minta penjelasan. Sedangkan Kurama tidak tahu apa yang harus dikatakan. Keduanya tercengang.

PRAANG! Suara mangkuk pecah terdengar tak jauh dari meja makan. Sasuke dan Kurama yang tengah berdiri pasca berdebat, menoleh ke arah suara.

Naruto, berdiri mematung tidak lebih dari dua meter dari mereka bertiga. Di dekat kakinya terdapat ceceran sayuran dan kuah yang tumpah, berikut pecahan mangkuk keramik sebagai wadahnya.

Sontak saja, Sasuke tersadar apa yang telah ia lakukan, dan tentu saja sadar dengan apa yang telah Naruto dengar.

"Aku, a-aku... kenapa... penyakit apa, Sasuke-kun?". Ia bertanya dengan suara bergetar. Sasuke hanya bisa meneguk ludah. Menelan lagi apa yang tadi ingin ia lontarkan pada Kurama-sebelum ada acara mangkuk jatuh di kaki Naruto.

"Naru-chan?! Ada apa?" Kushina menghampiri setelah mendengar mangkuk pecah. Segera ia menghampiri putrinya dan memungut pecahan mangkuk.

Kurama dan Minato menatap panik Naruto mereka. Mata Naruto berkaca siap menangis. "Al-zhei-mer?" suara berubah parau.

Mencicit dan menghilang berikut kesadarannya. Naruto ambruk.


Bersambung...


Holaaaaa minna-san! Akhirnya saya update lagi. (WOY BUSET UPDATE LAMA BENER!)

Maaf ya minna, saya lama update dikarenakan banyak faktor seperti koneksi internet, ide buntu, tiada waktu dan lain-lain (HALAH ALESAN!)

Gomen yaa, mudah-mudahan cerita ini membayar hutang selama ini...

Oh yaa, Selamat Tahun Baru semuanyaaa! (TELAT WOYY TELAT!)

Okey, jangan lupa review cerita Ao yaa, Ao tunggu!

Makasih yang sudah baca sampai sini~

Sankyuu~~

AkaiLoveAoi