Alzheimer Disease

Cast : Naruto U, Sasuke U, Kyuubi/Kurama, Itachi U, Tsunade, dll

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Drama

Rated : T

Warning : FemNaru, pasaran, gak jelas, alur maju mundur dll

Summary : "Sasuke-kun... Kami titip Naru-chan, ya?". "Bangunlah... Jangan tidur begitu... Aku minta maaf,". Siapa itu?


Ini buruk. Ini buruk. Ini buruk. Begitulah batin Sasuke terus berteriak.

Naruto. Terhuyung hilang kesadaran. Kushina panik bukan main. "Naru? Naru-chan?!" ia menggoyang-goyangkan tubuh Naruto agar kembali bangun. Minato bangkit dari kursi makan, niatnya ingin menggendong Naruto. Tapi mengingat umur, sendi pinggang tidak mendukung.

Kurama akhirnya mengambil inisiatif membopong Naruto ke kamar Naruto dulu. Sementara Sasuke masih terpaku di meja makan.

"Sasuke-kun, sebenarnya apa yang terjadi pada Naruto?" Kushina bergelayut di tangan Sasuke, meminta jawaban. Matanya berkaca-kaca nyaris menangis. Seumur-umur, ia sama sekali belum pernah melihat anaknya pingsan.

"Kushina, kita akan bicarakan bersama. Tunggu Kurama turun," Minato menengahi. Sasuke kemudian duduk, mencoba rileks. Di minumnya teh yang masih tersisa di meja. Semenit kemudian, Kurama turun dari kamar Naruto.

"Sasuke-kun..." Kushina kembali memohon kejelasan. Kurama menatapnya benci, tapi Sasuke mengerti kalau itu tatapan brother complex Kurama. Ia paham betul bagaimana perasaan Kurama, berikut Minato yang sedari tadi hanya diam saja.

Sasuke akhirnya menjelaskan dari awal sejak kejadian lupa hari jadi, hingga yang terakhir, lupa kalau pernah melakukan MCU.

Kushina awalnya termangu mendengar penjelasan Sasuke mengenai apa yang menimpa anaknya. Namun pada akhirnya, ia terisak dan berurai air mata.

Kushina menangis mendengarnya. Sama sekali tidak menyangka kalau anaknya akan sakit seperti ini. Minato pun sama. Sama sekali tidak pernah ada dugaan, bahkan nama penyakit itu pun tak pernah terbesit di kepala.

"Kupikir, saat ini sebaiknya... kita sebaiknya menjaga kandungan Naruto saja," Kurama tiba-tiba menawarkan solusi, berbeda dari dia yang biasanya. "Aku tidak tahu apa itu Alzheimer-terang saja. Aku tidak mau imouto -ku menderita, terlebih dia sedang hamil. Makanya, jangan pernah bicara mengenai penyakit itu lagi," ia menatap Sasuke dingin.

Sasuke tahu, insiden Naruto pingsan adalah akibat mulut besarnya yang adu mulut dengan Kurama. Ia tidak sepenuhnya salah. Ia kelepasan akibat Kurama yang terus menyangkal fakta yang ia berikan.

"Aku juga salah. Lain kali aku mau lihat hasil MCU milik Naruto," Kurama mengaku salah-seperti dugaan Sasuke barusan. "Maaf," Sasuke menyela. Terdengar helaan nafas dari mulutnya. "Aku benar-benar minta maaf," lanjut Sasuke. "Kalian semua boleh membenciku, aku baru memberi tahu kalian sekarang," lanjut Sasuke lagi. Minato meraih tangan Sasuke yang tengah terlipat di meja makan.

"Kami mengerti, kau pasti takut," ucap Minato. "Kami tidak membencimu, dan kau tidak perlu takut," lanjut Minato dan kini ia memberikan senyuman sejuk pada Sasuke.

"Kami semua sayang padamu seperti halnya pada Naru-chan. Ini lebih baik dari pada bohong pada kami," Minato menanggapi bijak. Kurama hanya diam, menyetujui ucapan Minato tanpa bicara. "Sasuke-kun... Kami titip Naru-chan, ya?" Minato kembali bertanya.

Sasuke menatap wajah keluarga mertua. Kushina menatapnya dengan mata berkaca dan senyum, Kurama sang ipar memberinya tatapan tenang, sedangkan Minato berkata, "Naru-chan pasti bahagia kalau kau terus ada di sisinya,". Setitik air mata jatuh dari pelupuk mata Sasuke. Keluarga ini bahkan sama sekali tidak memecatnya sebagai menantu karena penyakit yang diderita istrinya.

Rasa takut Sasuke menguap, berganti rasa bahagia dan sedih yang datang bersamaan sehingga ia sama sekali tak bisa mengontrolnya. Sungguh, sangat beruntung-lah dirinya, sudah besan dengan keluarga ini.

"Sasuke, jaga adik-ku," ujar Kurama. "Te-Tentu!".


Sasuke duduk di tepi ranjang Naruto. Dipandangnya wajah Naruto yang tengah memejamkan mata. Selimut menutupi tubuh istrinya hingga sebatas leher.

"Naru..." Dipanggilnya nama sang istri. Sasuke mengangkat tangannya dan mengelus pelan wajah Naruto. Mulai dari poni yang jatuh, kening, kelopak mata, hidung, pipi, bibir, dan berakhir di dagu.

Sasuke meremat selimut Naruto. "Bangunlah... Jangan tidur begitu... Aku minta maaf," Sasuke berkata dengan suara bergetar. Tangannya kini mengelus tangan Naruto pelan. "Bangunlah... Kau harus makan, Naru. Nanti kalau anak kita lapar bagaimana?" Sasuke mengelus perut Naruto dari luar selimut .

"Naru... Bangun...". TES... TES... Air mata menetes, jatuh di atas sprei Naruto. Sasuke terisak, menahan tangis yang mendadak keluar. Rematan tangan Sasuke menguat.

"Ngh..." Samar, terdengar desahan ringan dari sang istri. Sasuke tersadar, langsung ia hapus air mata yang masih tersisa di pipi.

Bisa Sasuke lihat kini kelopak sewarna karamel itu telah menunjukkan bola mata biru yang membuatnya sama sekali tak bisa lepas. "Sasu...?" Naruto bertanya dengan suara lemah karena baru saja bangun tidur.

Sasuke tanpa sadar mengulas senyum tipis. "Naru..." Sasuke hanya mampu bergumam. Naruto mencoba duduk. Sasuke pun membantunya untuk bangun. "Sasu... mengapa aku ada di sini?". Helaan nafas Sasuke terdengar begitu Naruto bertanya.

"Kita..." Sasuke bingung mau jawab apa. "Kita dimana Sasuke...?" Naruto kembali bertanya, matanya memandang sekeliling. Mencoba mengambil tindakan netral sambil menenangkan jantungnya yang tadi berdetak keras karena takut, Sasuke mengelus rambut Naruto lembut.

"Kita di rumah orang tua mu. Ini kamarmu," jawab Sasuke tenang. Sasuke bisa melihat mata istrinya masih ragu akan jawabannya. Sasuke yakin, kalau istrinya akan bertanya lagi. "Rumah orang tua? Untuk apa kita kemari?".

Sasuke menjawab dengan sabar semua pertanyaan yang Naruto lontarkan. Ia tengah berpikir apa sebaiknya ia bertanya tentang hal ini.

"Naru-chan..." Sasuke mulai bertanya. "Hm..?". Diteguk kasar ludah yang yang terkumpul di kerongkongan dengan susah payah. "Apa kau ingat... kita habis dari mana tadi?". Sasuke entah mengapa mengharap jawaban 'tidak' kali ini keluar dari mulut sang istri.

Ia bisa lihat Naruto memasang pose berpikir. "Kukira kita menginap di sini semalaman," jawab Naruto di luar dugaan.

"Lalu... apa kau ingat, sesuatu sebelum kau tidur?" Sasuke kembali bertanya. Naruto menggeleng. "Sepertinya tidak,".

"Aku mengatakan sesuatu. Kau tidak ingat?" pancing Sasuke. Sebenarnya, ia sama sekali ingin Naruto lupa kali ini. Ia tidak mau Naruto ingat perkataannya yang membuat istrinya sampai hilang sadar.

"Memangnya kau bilang apa? Bilang saja sekarang," jawab Naruto. Sasuke memandangnya.

"Aku... bilang...". Diantara jujur atau bohong, Sasuke memilih opsi kedua. Bohong demi kebaikan istri itu, boleh kan?

"Kamu bilang...?" Naruto menggantung kalimatnya seperti Sasuke.

Sasuke menarik nafas untuk mengucapkan kalimat ini.

"Aku cinta kamu,". Tapi yang ini bukan bohong. Hanya jawaban pengganti dari kalimat di waktu sebelumnya.


Di ujung hari, Sasuke dan Naruto pamit untuk kembali ke rumah mereka. Sejuta pesan dari Kushina untuk anak dalam kandungan mengalir saat mereka hendak pulang.

Malam telah datang ketika mereka sampai di rumah. Sasuke memutuskan untuk mandi setelah mengetahui keadaan istrinya sudah membaik. Ia membiarkan istrinya memasak untuk makan malam mereka.

Dari dapur terdengar suara pisau beradu dengan talenan. Naruto tengah memotong sayuran untuk bahan sup.

TOK TOK TOK. Ia bisa mendengar ada seseorang yang datang. "Siapa malam-malam begini?" tanya Naruto pada dirinya sendiri. Masih bebalut apron, ia mendekati pintu dan membukanya.

"Siapa ya?" tanya Naruto ramah. "Apa ini keluarga Uchiha?" tanya sosok tamu itu. Naruto tersenyum, "Benar, ini rumah keluarga Uchiha. Anda ada perlu apa?".

"Ah, sebenarnya saya kemari hanya ingin bertemu dengan anda," ujar sosok itu lagi. Naruto menyiritkan alis, "Hah? Bertemu saya?". Anggukan ia dapatkan dari sosok itu.

"Naru-chan, siapa itu?" mendadak terdengar suara Sasuke dari dalam.

Sasuke melihat istrinya di luar, pintu terbuka dan istrinya tengah bicara dengan seseorang yang terlihat asing di matanya.

Siapa itu?


Bersambung...


Haloooo minna-san! Lama tak jumpa dengan saayaaaa!

Saya mengerti saya apdet sangat lama ya... berbagai faktor ada untuk itu.

Saya minta maaf kalau ada yang nggak menarik dari fic saya, dan kesalahan seperti typo dan lain-lain.

Semoga kalian suka ya, sankyuu yang udah baca sampai sini!

Doain cepet kelar!

AkaiLoveAoi