Alzheimer Disease

Cast : Naruto U, Sasuke U, Kyuubi/Kurama, Itachi U, Tsunade, dll

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Drama

Rated : T

Warning : FemNaru. OOC, typo, pasaran, gak jelas, alur maju mundur dll

Summary : Masalah dari masa lalu Naruto dan Sakura terangkat... Sasuke mendapat surat dari seseorang. Juga, siapa yang memberikan surat pada Sasuke?


Siapa itu? Siapa yang bicara dengan Naruto di luar?

Sasuke lekas berlari ke pintu depan, menemui Naruto yang bicara dengan seseorang.

"Naruto! Kau bicara dengan siapa?" Sasuke menghampirinya dengan panik. Naruto berbalik dan Sasuke segera merangkulnya. Mata elang Sasuke mencari sosok tamu dalam gelap, tapi saat ia datang dia tidak menemukan siapa-siapa. Ya masa, hantu?

"Tadi ada seseorang yang mengantarkan ini," Naruto mengacungkan paket setebal kamus bahasa Inggris yang dibungkus kertas coklat. Sasuke menduga itu berisi buku. "Kau mengenalnya?" tanya Sasuke penuh sidik. Naruto geleng kepala. "Tidak, sepertinya tukang kirim surat biasa. Ah ya, ada surat untukmu,". Naruto mengeluarkan amplop putih dari balik paket.

Tertulis 'Untuk : Uchiha Sasuke'. Sasuke meraih surat itu. Kecurigaannya tiada berkurang, tapi sepertinya kalau mau dikejar tak ada gunanya. "Ya sudah, ayo masuk,".


Untuk Uchiha Sasuke,

Sudah lama sekali aku tidak bicara padamu. Mungkin sejak kau kecil? Kau sekarang sudah punya istri yang cantik.

Aku kaget saat mendengar dia adalah istrimu. Aku sempat melihat istrimu di hutan dan menolongnya, aku tidak menyangka kalau kau bisa menelantarkan wanita secantik itu sampai ditemukan olehku. Tidak perlu berterimakasih, kau harus bisa menjaga istrimu dengan baik.

Aku memberikan buku pada istrimu. Pasti ia bosan menunggu kau pulang kerja kan?

Semoga kalian bahagia,

Itachi

.

"Aku sama sekali tidak tahu kalau Aniki masih ada," Sasuke meremat surat itu dengan perasaan campur aduk.


4 bulan kemudian...

Perut Naruto mulai terlihat buncit saat memasuki minggu ke-16. Ia benar-benar terlihat seperti wanita hamil pada umumnya.

Sasuke boleh bernafas lega, selama 4 bulan kehamilan Naruto, gejala penyakit Alzheimer sama sekali tidak muncul. Tidak ada kejadian lupa yang signifikan semenjak insiden di kediaman Naruto. Istri tercintanya bisa beraktifitas dengan baik.

"Aku belum bisa menduga apa kelamin bayi mu, Uchiha-san," sahut Sakura saat Naruto kontrol ke dokter. Naruto hanya manggut-manggut menatap layar yang merekam kegiatan sang bayi di rahimnya. Ia melihat seonggok daging bernyawa, janin dalam kandungannya.

"Yang pasti, dia sehat kan, Sakura?" tanya Naruto memastikan. Sebentar Sakura menatap teman lamanya ini. Sahabatnya sejak SMA dulu.

Helaan nafas terdengar dari Sakura yang mengenakan jas dokter. "Dia akan selalu sehat selama Sasuke memberikanmu nutrisi yang benar!" jawab Sakura. Nadanya agak sedikit tinggi. Sakura menyudahi pemeriksaan. Ia memberikan Naruto foto USG yang tadi.

Naruto tampak sedikit berpikir mengenai kalimat Sakura barusan. "Sakura..." panggil Naruto pelan. Sakura yang sedang menulis laporan pemeriksaan di meja-nya menyahut tanpa menoleh. "Ya?".

Naruto duduk di depannya. "Sasuke-kun selalu memperhatikan ku. Jangan khawatir," ujar Naruto tiba-tiba. Sakura berhenti menulis. Ia menatap Naruto meminta penjelasan dari kalimat tadi. "Kau... masih marah pada ku?" tanya Naruto lagi.

Sakura mendecih. "Aku sudah bilang padamu jangan pernah membahas masalah itu lagi. Sekarang, kau boleh pulang," Sakura langsung menyudahi pembicaraan terkait Sasuke. Ia menyerahkan kertas yang harus ditebus di farmasi. "Semoga sehat selalu," ujar Sakura saat Naruto menutup pintu ruang praktek-nya.

Setelah sendirian, Sakura duduk di balik meja kerjanya. Ia menutup muka dengan telapak tangan. Lalu menyibak rambut warna merah muda-nya yang saat itu tergelung ke belakang. "Aku tidak marah... aku hanya sebal pada Uchiha yang menikah denganmu..." ia berbisik lirih entah pada siapa.


Dahulu saat SMA, Naruto dan Sakura bersahabat layaknya amplop surat dan perangko. Mereka selalu bersama dan tidak pernah berpisah. Orang tua mereka sudah saling mengenal. Sesekali Naruto menginap di tempat Sakura dan begitu pula sebaliknya.

Naruto adalah gadis yang manis, sementara Sakura adalah gadis yang cantik. Mereka berdua menjadi sepasang gadis yang diincar satu sekolah akibat pesonanya. Naruto pandai dalam hal bicara dan memasak, sementara Sakura berbakat dalam pelajaran dan olahraga.

Saat tahun kedua mereka SMA, Sakura mengaku pada Naruto kalau ia menyukai Sasuke, pemuda yang selalu menduduki peringkat satu di sekolah. Ia selalu ada di atas Sakura saat ujian mingguan. Awalnya Sakura membencinya karena Sasuke sama sekali tidak pernah memberikan posisi satu pada Sakura yang selalu menjadi peringkat dua.

Tapi, makin hari karena ia penasaran dengan Sasuke, Sakura jadi jatuh cinta padanya. Ia selalu bercerita kepada Naruto perihal perasaannya pada Sasuke. Naruto merespon positif.

Ia selalu menyemangati Sakura dan diam-diam selalu mendekatkan Sakura dengan Sasuke dengan berbagai cara. Ia berusaha menjadi mak comblang bagi mereka berdua.

Namun takdir berkata lain. Sasuke malah jatuh cinta pada Naruto, sahabat yang selalu bersama Sakura.

Persahabatan Sakura dan Naruto sedikit renggang, apalagi setelah Sasuke menikahi Naruto. Sakura tidak bisa marah pada Naruto. Naruto sama sekali tidak salah.

Ia sepenuhnya menyalahkan Sasuke yang sama sekali tidak pernah bisa jatuh cinta padanya.

Huh, payah. Aku jadi ingat masalah itu lagi... Sakura membantin sambil menggenggam erat pulpennya.


Naruto duduk di sofa sejenak setelah ia pulang dari kontrol kehamilan. Hari ini ia sendirian tanpa Sasuke. Mendadak Sasuke harus kerja total seminggu ini karena perusahaannya mengalami sedikit kendala.

Ingatannya melayang pada insiden tadi bersama Sakura, (mantan) sahabatnya sejak SMA.

Kalau diingat lagi, perpisahan mereka sangatlah tidak elit karena hanya masalah pria. Hanya karena Sasuke.

Sasuke yang jatuh cinta padanya, dan Sakura yang jatuh cinta pada Sasuke. Ia ingat betul ia sudah berkali-kali menolak cinta pemuda itu dahulu saat SMA.

Tapi Sakura yang muak dengan semuanya, menyuruhnya untuk menerima semua cinta Sasuke.

Hiduplah dengan Sasuke, ambil bagian ku juga.

Ia ingat betul pesan Sakura dulu. Sekarang ia tidak tahu lagi. Ia menikah karena ia mencintai Sasuke juga, bukan hanya faktor mendukung Sakura saja. Dan sekarang ia sudah hamil anak Sasuke.

Apa Sakura masih mau jadi temannya? Ia tidak begitu yakin kalau Sakura memaafkannya karena pada akhirnya ia mengandung anak Sasuke.

TING TONG. Bel berbunyi pertanda ada tamu. Naruto sedikit heran siapa yang bertamu siang bolong begini. Bukankah semua orang bekerja?

"Lho? Sakura-chan?" Naruto bingung mendapati dokter kandungan yang merawatnya bertamu ke rumah.

"Aku datang kemari bukan sebagai dokter, tapi tamu biasa. Aku boleh masuk kan?" tanya Sakura. Naruto tersenyum canggung dan kemudian mempersilakan Sakura untuk masuk.

Setelah teh dan kue disajikan oleh nyonya rumah, Sakura mulai membuka percakapan.

"Aku hanya ingin meluruskan yang tadi," Sakura berujar setelah menaruh gelas teh yang ia minum. "Aku tidak lagi marah padamu. Aku hanya tidak suka pada Sasuke," ujar Sakura kemudian.

Naruto bernafas lega. Ia baru saja memikirkan hal itu tadi dan sekarang, hal itu menguap begitu saja.

"Kau memaafkanku?" Naruto bertanya supaya lebih pasti. "Memangnya kau salah? Yang salah si Uchiha itu. Awas saja kalau ia menyakitimu, aku tak segan menguliti-nya," ujar Sakura kejam. Naruto berkata supaya membatalkan niatnya pada suaminya.

Tapi, ini lebih dari cukup. Hubungannya dengan Sakura mendekati kata baik.


Di pedalaman hutan di dalam sebuah pondok, terdapat sesosok pria yang sedang memasak.

Ia mengenakan jaket dan celana panjang guna menahan dingin. Raut wajahnya datar, tapi kalau dilihat-lihat lagi ada yang lain dari matanya.

Ia memandang sebuah gambar, foto yang hangus setengah bagian.

"Sepertinya Sasuke akan segera mencariku. Atau... dia sudah tidak peduli lagi padaku?" bisa didengar lirihan dari mulutnya.

"Bukannya tak ingin bertemu Sasuke... Aku takut kau lari kalau melihatku," Itachi, kakak Sasuke berujar masih sambil melihat foto dan juga mengaduk panci.


Bersambung...


Halo, kembali lagi di serial yang sama bersama saya, Ao!

Saya kembali dengan cerita seperti ini dengan alur tidak jelas dan typo sana sini!

Duh, pokoknya jangan lupa review yah kalian kaum pembaca!

Sankyuu yang sudah baca sampai sini!

AkaiLoveAoi