The Last Name That I Want
Genre: Romace, Drama, Hurt/Comfort
Rating: T
Lenght: Chapter
Main Cast:
Lu Han
Se Hun
Pairing: Hunhan and other
Warning: Genderswitch,Ooc,Typos,geje,ect
Desclaimer:
Fanfic ini adalah karya asli saya. Saya hanya meminjam nama member EXO dan beberapa karakter serta orang terdekat mereka. Sepenuhnya mereka adalah milik Tuhan YME.
NO BASH, NO FLAME, NO PLAGIAT
Summary:
Cinta itu simpel, hanya ada aku dan kamu. Tapi cinta ini jadi rumit karena ada aku, kamu dan suamimu.
.
.
.
Annyeong...
Chapter 3 datang...
Terimakasih buat yang udah baca, terutama yang udah review...
Selamat membaca n review, ne^_^
- I let u go, if it better for u – WYF ur in my heart forever...
.
.
.
Previous
"Dia sudah menikah" lanjut Sehun.
"Ah, sudah menikah ternyata" kata Jong In.
Hening
"MWO?"
Kelihatannya Jong In baru saja bisa menangkap ucapan Sehun dengan benar.
.
.
.
HanPutri Present©
The Last Name That I Want
.
Chapter 4
.
.
.
AUTHOR POV
"MWO?" pekik Jong In.
"Bisakah kau tidak mengeluarkan suara mengerikan seperti itu?" protes Sehun sambil memegangi telinganya.
"M-mian. Apa kau serius Sehun-ah?" tanya Jong In memastikan. Sehun hanya menjawabnya dengan anggukan.
"Bagaimana bisa?" tanya Jong In lagi.
"Molla. Setelah jalan-jalan aku mengantarkan Luhan ke rumahnya. Ku pikir bisa bertemu orang tuanya. Tapi ternyata Luhan malah memperkenalkan suaminya padaku. Kami juga makan malam bersama" terang Sehun pelan.
"Mwo? Kau makan malam bersama Luhan dan suaminya itu?" tanya Jong In kaget.
"Ne" jawab Sehun singkat. Jong In terbengong mendengar jawaban Sehun barusan. Setelah pembicaraan itu baik Sehun maupun Jong In terdiam. Mereka hanyut dalam pikiran masing-masing.
"Apa yang akan kau lakukan setelah tahu ini semua?" tanya Jong In.
"Molla" jawab Sehun tak bersemangat. Jong In mengangkat sebelah alisnya menanggapi jawaban Sehun.
"Kau akan melupakannya, kan?" tanya Jong In. Dia mulai ragu dengan jalan pikiran sahabat tercintanya itu. Sehun tak merespon pertanyaan Jong In. Dia hanya diam saja. Pandangannya lurus menatap pekatnya langit malam.
"Ya! Oh Sehun! Kenapa kau diam saja?" teriak Jong In karena Sehun diam saja.
"Sudahlah. Kita tidak perlu membahas masalah ini lebih jauh. Aku lelah" akhirnya Sehun buka suara juga. Sehun beranjak dari posisi berdirinya. Dia memilih untuk merebahkan tubuhnya ke ranjang. Jong In hanya memandang sahabatnya itu iba. Dia tahu persis kalau Luhan adalah cinta pertama Sehun. Jadi sulit bagi Sehun untuk melupakan Luhan.
.
AUTHOR POV
SM Internasional High School
Sudah seminggu sejak insiden suami Luhan, Ice Prince SM Internasional High School, Oh Sehun terlihat sangat tidak baik-baik saja. Dia tidak keluar kelas saat jam istirahat, penampilannya kusut, kadang matanya sembab. Dia yang pada dasarnya memang irit bicara, seminggu terakhir ini menjadi SANGAT irit bicara. Bahkan saat Jong In menggodanya, dia hanya diam saja. Padahal biasanya dia akan protes. Hal ini membuat teman-teman sekolahnya terutama para penggemar Sehun menjadi bingung dengan perubahan yang terjadi pada Sehun. Mereka berusaha mencari tahu apa yang membuat Sehun menjadi seperti itu. Banyak dari penggemar Sehun yang sampai berbuat nekat. Mereka bukan hanya menjadi stalker Sehun di sekolah tapi juga di rumah Sehun. Beberapa dari mereka juga mencoba mencari tahu penyebab perubahan Sehun pada Jong In dan orang-orang yang dianggap dekat dengan Sehun. Jong In sebagai sahabat terdekatnya tentu tahu apa yang telah menimpa sahabatnya itu.
Cafetaria of SM Internasional High School
"Chagiya, apa yang sebenarnya terjadi pada Sehun?" tanya yeoja bermata bulat pada namja berkulit tan yang duduk di hadapannya.
"Molla" jawab namja itu singkat. Yeoja bermata bulat tadi memicingkan matanya penuh selidik.
"Aku tidak percaya kalau kamu tidak tahu" kata yeoja itu.
"Kyungie chagi, aku bertahu kamu sekalipun juga tidak ada gunanya" namja tan itu kembali angkat bicara. Yeoja di hadapannya mengerucutkan bibirnya begitu mendengar ucapan namja tan tadi.
"Tapi setidaknya itu bisa membantuku menghilangkan rasa penasaranku" kata yeoja itu dengan tatapan memohon.
"Aigoo~ istriku ini ngotot sekali ternyata" ucap namja tan itu.
"Ya! Aku belum jadi istrimu Kim Jong In!" kata yeoja bermata bulat itu tak terima. Walaupun demikian dalam hati dia mengamini untuk menjadi istri namja bernama Kim Jong In tadi.
"Memang belum. Tapi suatu saat nanti kamu akan jadi istriku, chagi" kata Jong In dengan senyum memikatnya.
"Arraseo. Sekarang ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi pada Sehun" pinta yeoja itu.
"Ceritanya panjang, chagiya" kata Jong In sambil mengunyah ayam goreng favoritnya.
"Dipersingkat saja" pinta yeoja itu lagi.
"Baiklah, aku akan menceritakannya secara singkat. Dengarkan baik-baik karena tidak akan ada siaran ulang" kata Jong In mulai serius.
"Ne" jawab yeoja di hadapannya patuh.
"Beberapa waktu yang lalu Sehun bilang padaku kalau dia terpikat pada seorang yeoja" kata Jong In memulai ceritanya.
"MWO?" mata yeoja di hadapan Jong In yang sudah bulat menjadi semakin bulat.
"Bisakah kamu tidak berteriak chagiya? Aku tahu suaramu bagus" protes Jong In.
"Mian. Teruskan ceritanya" kata yeoja itu.
"Yeoja itu bernama Luhan. Dia seorang guru TK. Sehun menjadi stalker Luhan sejak pertama kali bertemu dengannya" mendengar kata stalker membuat yeoja itu hampir memekik kalau saja Jong In tidak memberi tatapan "jangan berteriak lagi atau aku tidak akan meneruskan ceritanya".
"Dengan sedikit bantuanku akhirnya Sehun bisa berkenalan dengan Luhan. Hubungan mereka semakin dekat. Tepatnya seminggu yang lalu Sehun mengajak Luhan kencan. Kebetulan mobil Sehun sudah kembali. Kencan pertama mereka terbilang sukses. Tapi pada hari itu juga hati Sehun hancur" terang Jong In.
"Hancur? Wae?" tanya yeoja di hadapan Jong In.
"Kalau aku beri tahu kamu harus janji tidak berteriak, ne?" kata Jong In memberi syarat. Yeoja itu mengangguk setuju.
"Huh...Luhan ternyata sudah menikah, dan dengan indahnya Luhan memperkenalkan suaminya pada Sehun" jelas Jong In. Mendengar itu yeoja tadi terdiam. Otaknya masih memproses apa yang baru saja Jong In ucapkan.
"MWO?!" suara melengking yeoja di hadapan Jong In tak terbendung lagi, suaranya membahana memenuhi setiap penjuru cafetaria yang ramai itu.
.
AUTHOR POV
Tampak seorang namja tampan berkulit putih nyaris albino baru saja menginjakkan kakinya di atap sekolah. Penampilannya terlihat menyedihkan, pandangan kosong dan muka kusut. Secara keseluruhan tetap terlihat keren, tapi setiap orang yang melihatnya bisa menilai kalau namja ini seperti telah kehilangan jiwanya.
Namja itu melangkah menuju tengah atap. Dipandangnya langit biru cerah tanpa gumpalan awan yang membentang indah di atas kepalanya. Namja itu masih mendongak memandang langit, tapi mata tajamnya kini terpejam. Sepertinya dia menikmati suasana tenang atap sekolah dan hembusan angin yang menyapa tubuhnya. Untuk beberapa saat posisi namja itu tidak berubah seincipun.
"Huh" terdengar helaan napas namja itu bersamaan dengan terbukanya sepasang iris tajamnya.
Namja itu melangkah lagi menuju tepi atap yang dibatasi dinding pembatas. Matanya yang tajam memandang ke bawah. Tampak beberapa siswa yang ada di halaman sekolah. Jumlah mereka tidak terlalu banyak mengingat jam istirahat hampir berakhir. Namja itu mengeluarkan kedua tangannya yang sedari tadi dimasukkan ke dalam saku celananya. Kedua tangannya menyentuh dinding pembatas yang tingginya sekitar setengah meter. Perlahan namja itu duduk pada dinding pembatas. Kakinya menggantung bebas tanpa pijakan. Pandangannya kosong dan ekspresinya datar. Dengan gerakan lambat namja itu merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel yang ada di dalamnya.
"Klik" dia menekan tombol kamera. Sekarang di layar ponselnya terlihat ada foto halaman sekolah yang difoto dari atas. Dalam foto itu juga tampak kaki namja tadi yang menggantung bebas. Namja itu masih berkutat dengan ponselnya. Entah apa yang sedang ia lakukan. Sepertinya dia mengetik sesuatu dengan ponsel itu.
"Seandainya ini bisa membuatku melupakanmu, maka dengan senang hati aku akan melakukannya, Xiao Lu" begitulah tulisan yang ada di bawah foto tadi. Kelihatannya namja itu berniat mengupload foto tadi di jejaring sosial.
Sebuah senyum tipis terukir di bibir namja itu. Tapi sayangnya senyum itu menyiratkan kekecewaan, kesedihan, keputusasaan dan luka yang dalam.
"Luhan" gumamnya lemah.
Sekali lagi namja itu memandang halaman sekolah yang ada di bawahnya. Senyum tipis tadi lenyap dari bibirnya. Kini wajah namja itu kembali datar.
"Haruskah aku melakukan ini agar kau lenyap dari pikiranku, Lu?" gumam namja tadi dengan suara parau. Dia merubah posisi duduknya menjadi berdiri pada dinding pembatas itu.
Kalau ada orang yang melihat namja itu dari bawah, maka seratus persen akan berpikir kalau namja itu berniat bunuh diri dengan terjun bebas dari atap sekolah berlantai lima tersebut.
"Eomma, appa, jeongmal mianhae" gumam namja itu. Namja itu memejamkan matanya. Dia menikmati hujaman angin yang cukup kencang menerpa tubuhnya. Hanya dengan satu langkah saja maka bayangan Luhan dalam benaknya akan hilang bersamaan dengan tubuhnya yang menghantam tanah nanti.
TBC
Aloha~ bagaimana?
Pendek ya? Mian saya sibuk jadi buatnya pendek-pendek #deep bow
Buat next chapter review, ne ^_^
Gamsahamnida
HanPutri
